Monday, July 16, 2007

Tentangku dan Calon Suamiku


                                                                                                                    Jul 17, '07 4:28 AM
                                                                                                                   for everyone
Kriteria, Katanya sihh....

Dalam sebuah obrolan ditelepon, kami (Aku dan calon suamiku) sempat saling menanyakan tentang alasan memilih satu sama lain. Katanya sih dia memilihku karena agamaku. Alhamdulillah, setidaknya itulah pilihan terbaik yang dianjurkan Rasulullah dalam memilih calon istri. Walau aku sendiri merasa sungguh masih sangat jauh dari tuntunan agama, namun mendengar alasannya itu membuat aku terpacu untuk  terus belajar mendalami ajaran agama. Bukankah seseorang mempunyai beberapa alasan dalam memilih calon istri? apakah itu karena kecantikannya, karena nasab keturunannya, karena harta, atau karena agamanya.

“Kalau kamu memilih aku karena apa?”  Tanyanya padaku. Aku pun terdiam namun sambil malu-malu dan mengulum senyuman aku pun akhirnya menjawab “Mmmm apa yah, Aku tuh ngelihat kamu aja udah seneng…… tapi sama sih seperti kamu, ya karena alasan agama juga.” Jawabku. Ya, aku memilih dia karena agamanya, namun tentu itu bukan alasan satu-satunya namun yang pasti alangkah indahnya jika kelak kami hidup bersama  saling menyayangi dan saling mencintai karena Allah. Karena aku percaya ia mengenal Allah.

Saat curhat, seorang teman pernah menanyaiku begini, 

"Memangnya kenapa Lina nggak milih orang itu padahal dia kan pendaki gunung juga?"
"Karena dia nggak sholat". Jawabku. 
"Trus kenapa Lina milih Ical?" 
"Ya karena dia sholat". Jawabku lagi. 
"Iya sih Ical memang gua lihat juga rajin sholat". Kata temanku itu mengiyakan. Aku tersenyum, ah ternyata orang lain juga berkata seperti itu. Dan karena alasan itu jugalah waktu awal-awal mengenalnya dulu aku mulai menyukainya. 

"Jarang ya Teh pendaki gunung yang rajin sholat?" Kata Lastri seorang teman yang menemaniku mendaki gunung saat itu. Aku pun mengiyakan namun Wallahualam, hanya Allah saja yang tahu.

Persis, entah keinginan bawah sadarku sejak dulu, bahwa aku pernah menginginkan seseorang yang akan menjadi bagian hidupku itu adalah seseorang yang kutemui di gunung, seorang pendaki gunung, pada moment pendakian. Ternyata kini hal itu hampir terjadi, aku hanya berucap syukur keinginan itu ternyata dikabulkan Allah. 

Episode yang mengawali pertemuanku dengannya pun begitu indah yakni di sebuah tempat yang menjadi taman bermain hati dan fikiran kami, sebuah tempat yang selalu menjadi tujuan liburan kami, suatu tempat yang membina kepribadian kami, di suatu tempat dimana kami bisa menikmati ciptaan-Nya, ia adalah gunung.

Kini hanya doa-doa yang selalu kubisikkan tiap saat, semoga menembus pintu langit hingga Dia yang bertahta di atas sana mengabulkan setiap doa-doa yang kulantunkan. Sebaris sms di pagi buta kukirimkan kepadanya,

“Calon suamiku, bangun dan sholatlah jangan lupa do’akan agar calon istrimu ini kelak menjadi istri yang taat dan solehah”. Duh aku sempat terharu, semoga saja dia bangun dan berdo’a untukku, untuk kami, untuk rumah tangga kami.

Semoga saja aku bukan dari golongan perempuan yang disebut Rasulullah sebagai perempuan-perempuan yang durhaka kepada suami dimana kebanyakan dari mereka tidak bersyukur kepada suami hingga menjadi penghuni neraka. Naudzubillahimindzalik.

Ya Allah berkahilah pernikahan kami. Amien!

Sunday, March 4, 2007

Pulau Penyengat, Mahar Pernikahan dari Sang Raja


                                                                                                                           Mar 5, '07 5:50 AM
                                                                                                                         File MP for everyone
Keadaan Pulau        

Pulau penyengat terletak di sebelah barat kota Tanjung Pinang sejauh lebih kurang 1,5 km. Luasnya tidak lebih dari 3,5 km. Tanahnya berbukit-bukit terdiri dari pasir bercampur kerikil, sementara pantainya umumnya landai, sebagian berumput, sebagian lagi berbatu karang.

Status Pulau, Penduduk, dan Mata Pencaharian

Terdiri dari beberapa buah kampung yang tergabung dalam suatu desa atau kepenghuluan. Jumlah penduduk 2224 jiwa (2004), sebagian besar suku melayu dan sehari-hari berbahasa melayu, melayu Riau. Mata pencaharian penduduk teruatama menjadi nelayan, buruh lepas, pegawai negeri dan swasta.

Riwayat Pulau Penyengat

Menurut cerita nama penyengat diberikan kepada pulau itu, karena dulu pelaut-pelaut yang sedang mengambil air bersih di tempat itu diserang oleh semacam lebah (insect) yang dipanggil “penyengat” hingga membawa korban. Sejak itu pulau ini lebih dikenal dengan sebutan pulau penyengat. Kemudian ketika pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di pulau itu ia diresmikan dengan nama “Pulau Penyengat Indera Sakti”.

Pada saat penjajahan Belanda, Pulau Penyengat telah berkali-kali menjadi medan pertempuran. Pada perang Riau dengan Belanda tahun 1782-1784, pulau ini telah dijadikan pusat pertahan utama. Benteng-benteng dengan gaya portugis telah dikembangkan di pulau ini yang sisa-sisanya masih dapat disaksikan hingga sekarang.

Pada tahun 1808 pulau penyengat telah dibina dari pusat pertahanan menjadi sebuah negeri, dan pada tahun 1900 menjadi pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga.

                   Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

                   Apabila banyak mencela orang
                   Itulah tanda dirinya kurang

Mesjid Pulau Penyengat

Mesjid yang dibangun pada tanggal 1 syawal 1249 H (1832 M) atas prakarsa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman (Marhum Kampung Bulang) ini  memiliki panjang 19,8 meter dan lebar 18 meter di dalamnya ditopang oleh 4 buah tiang beton, dengan tiap penjuru dibangun menara tempat bilal menyeru adzan. Selain menara terdapat 13 buah kubah dan 4 persegi, sehingga jumlahnya 17 buah melambangkan banyaknya rakaat sholat sehari semalam.

Mesjid ini dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat  bahkan selama 7 malam berturut-turut kaum wanita turut mengerjakan amal jariyah, bersama-sama menyumbang tenaga membangun mesjid.

Riwayat lain menceritakan karena terlalu banyaknya bantuan termasuk bahan makanan seperti telur maka putih telur dipergunakan menjadi campuran kapur untuk memperkuat beton kubah.

Engku Puteri
Engku Puteri nama sebenarnya  Raja Hamidah. Ia adalah puteri Raja Haji (Marhum Teluk Ketapang) yang terkenal dalam sejarah Riau Lingga, Johor dan Pahang. Raja Hamidah kemudian menjadi permaisuri Sultan Mahmud (Marhum Masjid Lingga) dan Pulau Penyengat dibangun menjadi Negeri oleh Sultan untuk dihadiahkan kepadanya sebagai mahar pernikahan mereka.


Raja Ali Haji

Pujangga kerajaan yang terkenal, beliau telah menyusun kaedah-kaedah tata bahasa, ejaan perkamusan. Menjadikan bahasa Melayu Riau layak dipakai sebagai bahasa surat-menyurat, bahasa buku , dan bahasa kesusateraan, hingga berkembang menjadi bahasa Indonesia seperti sekarang ini.


Simpanan yang indah
Ialah ilmu yang memberi berfaedah

Mengumpat memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...