Sabtu, 29 Desember 2012

Menjaga Sumber Air, Menjaga Bumi Bagi Anak Cucu Kita


Bulan Maret 2012 Saya diajak oleh seorang teman (Angel),  seorang sukarelawan, mengunjungi anak didiknya di sebuah lokasi di kawasan Dam Duriangkang Batam. Masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Dam” karena tempat ini merupakan danau buatan yang membendung Teluk Duriangkang sehingga terpisah dari laut. Memang lebih tepatnya disebut bendungan, waduk, atau dam. Danau buatan seluas 23,4 kilometer persegi ini pada akhirnya berair tawar dan menjadi sumber air bersih utama bagi warga Pulau Batam di samping 6 dam lainnya. Yakni Sei Ladi, Sei Harapan, Muka Kuning, Sei Baloi, Tanjung Piayu dan Nongsa.

Untuk mengunjungi anak didik Angel, Kami harus menyebrang menaiki perahu kecil yang didayung selama kurang lebih 10 menit. Angel menyebut lokasi ini dengan sebutan Pulau karena letaknya berada di tengah-tengah dam. Saya pun sempat terheran-heran karena selama 14 tahun menetap di Pulau Batam baru pertama kali itu mengetahui ada pulau di tengah dam. Pulau di tengah pulau. Namun pulau ini tanpa nama.

Menuju Pulau di Tengah Dam Duriangkang
Foto : Koleksi Probadi
Pulau tersebut dihuni oleh lebih kurang 25 Kepala Keluarga yang hampir semuanya berada di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar anak-anak di sana tidak sekolah atau tepatnya tidak disekolahkan oleh kedua orangtuanya. Karena itulah dengan suka rela Angel mengajari anak-anak Pulau agar dapat membaca dan menulis.

Sebagian besar penduduk Pulau bermata pencaharian sebagai petambak ikan dengan membuka lahan-lahan tambak di kawasan sekitar dam. Sebagian lagi ada yang bercocok tanam sayuran. Warga yang tinggal secara ilegal di kawasan hutan lindung ini bahkan ada yang sudah bermukim selama 15 tahun. Sepanjang rentang waktu 15 tahun itu ternyata warga bebas melakukan apa saja di kawasan hutan lindung termasuk melakukan berbagai kegiatan MCK (Mandi Cuci Kakus) yang jelas-jelas akan mencemari air dam dan menurunkan standar baku mutu air. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan warga ini jelas-jelas merupakan sebuah pelanggaran.

Penggusuran pemukiman warga di sekitar dam tentu akan memberikan dampak positif bagi kelestarian hutan namun jika melakukan penggusuran saja tanpa relokasi ke wilayah lain tentu warga pun akan enggan pindah. Mereka tentu bertanya mau pindah kemana, sementara biaya perumahan di Batam sangatlah tidak terjangkau untuk ukuran kantong warga miskin ini. Belum ada tindakan tegas terhadap permasalahan ini sehingga dari tahun ke tahun kawasan hutan lindung di sekitar Dam Duriangkang mulai rusak. 400 hektar dari 1000 hektar luas hutan Dam Duriangkang telah digarap oleh warga, padahal seharusnya hutan sekitar dam tersebut berfungsi sebagai daerah resapan air yang akan menangkap air hujan sehingga menjaga debit air dam dalam kondisi stabil.

Menurut pasal 78 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999  tentang kehutanan, barangsiapa yang melakukan kegiatan ilegal di daerah hutan lindung, dapat dikenakan hukuman penjara paling lama 10 tahun serta denda sebanyak-banyaknya Rp 5 Milyar. Uuh… rasanya Saya langsung ciut saja kalau membaca ancaman hukumannya ini, namun berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi di lapangan. Warga seakan tak perduli dan bahkan tak tahu menahu dengan pasal dari Undang-Undang Kehutanan ini.

Dam Muka Kuning
Foto : Koleksi Pribadi
Lain lagi dengan kondisi Dam Muka Kuning. Saya melihat ada komitmen yang jelas dari pihak pengelola dam khususnya PT. Aditya Tirta Batam (ATB) sebagai pemegang konsesi pengelolaan air bersih di Pulau Batam untuk menjaga dam ini dalam kondisi yang terjaga. Pada setiap tepi dam dipagari dengan kawat berduri agar tidak ada warga yang seenaknya melakukan kegiatan-kegiatan yang dikhawatirkan akan merusak air dam. Selanjutnya bukit sekitar dam menuju arah Batu Aji yang dulu gundul telah ditanami pohon sehingga telah menjadi hijau dan asri. Begitu pun akses masuk ke dalam hutan di jaga oleh security. Walau pada akhir pekan banyak pengunjung terutama para pelajar yang berkunjung ke hutan karena tertarik dengan air terjun (warga menyebutnya Pancur) di dalam kawasan hutan ini, namun Saya melihat sepanjang jalur menuju Pancur, hutan begitu terjaga dan sungai-sungai di hutan pun mengalir dengan deras walau tidak dalam kondisi musim hujan. Karena mungkin ada penjagaan maka di lokasi ini tidak ada pembukaan lahan hutan oleh warga. Ini menjadi satu bukti bahwa pemeliharaan hutan sekitar dam Muka Kuning berhasil.

Dengan pembangunan berbagai dam di Batam pasokan air bersih hingga kini dapat dijaga namun tidak berarti akan terus selamat jika saja masyarakat, pengelola, dan pemerintah tidak bersama-sama bersinergi menjaga kelestarian sumber air bersih di Pulau ini. Kondisi yang menguntungkan adalah bahwa di Batam tidak dikenal namanya musim kemarau. Hujan datang kapan saja sehingga pasokan air ke dam-dam tetap tersedia. Namun hal ini harus dibarengi juga dengan pemeliharaan hutan sekitar dam dengan terus menggalakkan penghijauan (reboisasi) dan penjagaan hutan dari para penebang liar.

Lain lagi fakta yang terjadi di kampung Saya di daerah Garut Jawa Barat. Walaupun lokasinya di kelilingi oleh gunung-gunung namun tetap saja jika memasuki musim kemarau terjadi kesulitan air bersih di beberapa kampung dan kecamatan. Sumur-sumur yang selama ini menjadi sumber utama warga untuk mandi, mencuci dan memasak banyak yang mengering. Seperti yang terjadi di rumah Paman dan Bibi Saya yang berada di kampung atas, sumurnya mengering dan harus pergi ke rumah orang tua Saya di yang letaknya lebih rendah di pinggir kampung untuk meminta air bersih dari sumur.
Warga sedang Mencuci di Sungai yang Mengering
di Garut Jawa Barat (Foto koleksi pribadi)

Sebagian warga yang tidak mempunyai sumur dan yang sumurnya mengering, mereka beramai-ramai pergi ke sungai. Menampung dan mengendapkan air sungai dalam kolam-kolam kecil lalu mengalirkannya menjadi pancuran-pancuran. Setidaknya untuk mandi dan mencuci pakaian.Tindakan ini telah menolong warga sehingga tidak kehabisan air sama sekali. Kalau untuk memasak dan minum warga tetap memilih air sumur yang masih bisa dipakai.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di wilayah-wilayah pesisir yang jauh dari gunung dan hutan. Wilayah kampung kami yang dikelilingi oleh gunung –gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, dan Gunung Galunggung saja masih mengalami kesulitan air bersih bagaimana lagi dengan warga kota, pesisir atau yang jauh dari hutan dan gunung. Tentu saja semakin tergantung dengan pasokan air dari perusahaan-perusahaan penyedia air bersih.

Saya mengamati kenapa di kampung akhir-akhir ini terjadi kesulitan air adalah padatnya kampung dengan perumahan penduduk sehingga mengurangi ruang terbuka hijau untuk menyerap air hujan masuk ke tanah. Begitu juga pepohonan di sekitar kampung sudah sangat jarang. Tumbuhan yang ditanam warga di depan rumahnya hanyalah bunga-bunga di pot bukan pohon-pohon yang akarnya menancap ke tanah. Ini tentu akan berpengaruh terhadap volume air tanah. Jika musim penghujan saja tidak ada air yang merembes masuk ke tanah maka dipastikan musim kemarau air tanah akan sangat jarang ditemukan.
Pancuran yang Dibangun Warga Kampung
Foto : Koleksi Pribadi

Di samping itu, areal hutan di tepi-tepi gunung telah banyak dibuka warga untuk lahan pertanian. Bahkan untuk Gunung Cikuray jika dilihat keseluruhan bentuk gunungnya maka tiga perempatnya sudah menjadi ladang penduduk. Hutan lebat hanyalah di sekitar areal mendekati puncak  gunung saja.

Di Pulau Batam tidak ada gunung sebagai penyangga ketersediaan air, namun pemerintah dan pihak swasta  telah berusaha mencukupi kebutuhan warga dengan membangun 7 waduk (dam) yang akan menangkap dan menjaga air hujan supaya tertampung dan dialirkan menjadi air bersih ke rumah-rumah warga di berbagai perumahan yang giat dibangun di berbagai lokasi di Batam. Selain itu menjaga kelestarian hutan di sekitar dam adalah hal mutlak yang diperlukan guna menjaga supply air dam tetap terjaga.

Di Pulau Buluh, Pulau yang letaknya sebelah Barat Daya Pulau Batam dan hanya berjarak tempuh 5 menit mengendarai perahu motor, warganya kebanyakan membeli air ke Pulau Batam. Harga per kubiknya sekitar Rp 45.000. Warga membelinya dengan menggunakan drum-drum dan diangkut oleh perahu ke Pulau Buluh. Sebagian penduduk menggali air sumur, namun kualitasnya semakin hari semakin menurun. Terlebih Pulau Buluh telah dipadati oleh penduduk dan nyaris hanya sedikit lahan yang tersedia untuk menjadi daerah resapan air hujan. Oleh karena itu maka Pemerintah Kota Batam bekerja sama dengan PT.ATB tahun 2012 ini telah menyalurkan air bersih dari Pulau Batam ke Pulau Buluh dengan membangun jaringan pipa-pipa bawah laut sepanjang 1,5 km. Warga Pulau Buluh pun kini bisa menikmati air bersih yang lebih murah. Harganya sekitar Rp 9.000 per kubiknya.
Penampungan Air Bersih di Pulau Buluh Batam
Foto : Koleksi Pribadi

Di Pulau-pulau kawasan hinterland  Batam bahkan ketersediaan air semakin mengkhawatirkan. Untuk itu perlu beberapa solusi untuk menjaga agar sumber air tetap tersedia. Di antaranya dengan tetap menjaga kelestarian hutan yang ada di sekitar pulau. Menanam pohon-pohon di halaman rumah dan di tepi-tepi jalan. Sedangkan untuk rumah padat penduduk  maka dengan membuat lubang-lubang biopori. Yakni lubang silindris yang dibuat vertikal ke dalam tanah dengan diamater 10 cm dan kedalaman 100 cm yang diisi oleh sampak organik untuk memicu terbentuknya pori-pori tanah hasil dari aktifitas hewan tanah dan akar tanaman. Lubang biopori ini berfungsi menangkap air hujan sehingga ketersediaan air tanah tetap terjaga.


Setiap keluarga tentunya menginginkan kondisi setiap anggota keluarganya sehat. Untuk itu maka pemeliharaan kesehatan adalah mutlak harus dijaga. Salah satunya dengan menjaga asupan makanan dan minuman ke dalam tubuh kita. Apalagi 60% tubuh manusia terdiri dari air. Kekurangan cairan tubuh akan mengakibatkan dehidrasi sehingga organ-organ tubuh tidak maksimal dalam menjalankan fungsinya. Oleh karena itu minum air bersih, sehat, dan bebas kuman adalah hal penting yang harus dilakukan oleh setiap orang.

Gambar dari sini
Untuk itu diperlukan sebuah teknologi dimana air minum yang dikonsumsi aman dari berbagai kuman dan penyakit. Salah satu produk yang layak dipilih adalah produk Pureit produksi Unilever. Pureit merupakan teknologi untuk menghasilkan air minum tanpa dimasak oleh karena itu sangat praktis karena menghemat gas, listrik, dan tentu saja hemat uang. Kemurnian air terlindungi dari berbagai kuman berbahaya penyebab penyakit dengan menggunakan standar terketat EPA (Environmental Protection Agency) USA yang menghilangkan berbagai bakteri, virus, dan parasit.

Pureit bekerja dengan teknologi canggih 4 tahap pemurnian air (water purifier) dengan teknologi "Germkill" yang menghasilkan air yang aman dan terhindar sepenuhnya dari bakteri, virus, dan parasit. Ada 4 tahap cara kerja pemurnian air yakni :

Tahap 1 : Saringat serat mikro yang akan menghilangkan semua kotoran yang terlihat.
Tahap 2 : Filter Karbon Aktif yang menghilangkan pestisida dan parasit berbahaya.
Tahap 3 : Prosesor Pembunuh Kuman yang menghilangkan bakteri & virus
Tahap 4 : Penjernihan air yang akan menghasilkan air jenrih yang tidak berbau dan rasanya alami.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh BlogDetik yang bekerja sama dengan Pureit


Sumber :
1. http://bocahbatam.blogspot.com/2011/10/sejarah-dam-duriangkang-batam.html
2. http://batamkota.go.id/bisnis.php?sub_module=44&klp_jenis=345
3. http://www.biopori.com/resapan_biopori.php
4. http://www.unilever.co.id/id/brand/homecarebrands/pureit/index.aspx




Rabu, 19 Desember 2012

Menggenggam Harapan dari Tahun ke Tahun



Tahun terus bergulir dan berputar tanpa henti meninggalkan siapa-siapa yang hanya stagnant berdiam diri dalam kebimbangan. Apakah melangkah terus atau berhenti? Maju terus atau tergilas roda masa? Perputaran waktu yang mengarah ke depan satu arah saja dan tak pernah sedikit pun surut ke belakang.
             
Adalah Aku yang sempat berhenti di salah satu putaran roda itu. Tertatih tertinggal oleh harapan dan pencapaian orang-orang, teman, rekan, kerabat dan sahabat. Aku terpaku di satu waktu yang hanya sebatas rutinitas antara bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Jadilah hidup terasa hambar dan membosankan. Seakan ada jeda.

Setelah kejedaan itu Aku pun berkaca kembali kepada masa lalu, sehingga mulai mengerti bahwa Aku harus terus melaju, berkembang, dan berkarya. Mengasah otak dan fikiranku dengan berbagai prestasi dan keberhasilan. Berlomba terus dalam hal ketaatan dan kebaikan. Inilah passion yang mulai mencerahkan. 

Dalam hal jenjang karier di perusahaan tempatku bekerja, Aku tak berharap menemui sebuah pencapaian yang prestisius karena berbagai hal dan faktor yang berkenaan dengan manajemen. Maka pencapaian di tempat kerja tak begitu Aku harapkan. Aku merasa posisiku sekarang berada di level cukup aman dan seandainya menginginkan yang lebih dari itu maka terlalu banyak gesekan dan benturan yang bahkan mengancam posisiku sekarang. Sudahlah Aku memilih melaju dalam hal lain saja.

Awal tahun 2012 yang lalu, Aku sangat mendambakan bisa menempuh kuliah S2. Namun rupanya belum berjodoh sehingga rencana ini harus Aku tabung untuk tahun 2013 atau kalau masih enggak bisa juga ya tahun depannya lagi. Semoga masih ada umur. 

Di awal 2012 kemarin juga, Aku berharap sebuah pencapaian prestisius dimana Aku dapat melahirkan satu buah buku solo bukuku sendiri, dan juga membukukan beberapa buah karya antologi cerpen. Minimal setiap satu bulan sekali Aku melahirkan karya sehingga dalam setahun ini akan lahirlah 12 buku antologiku.

Resolusi-resolusi tahun 2012 tersebut ternyata tidak semuanya berhasil. Banyak gangguan dan benturan sehingga pencapaiannya tergolong parah. Aku baru bisa membukukan 3 antologi dan minus buku solo. Pyuuh usap peluh, rupanya diperlukan sebuah keuletan dan kedisiplinan tingkat tinggi untuk mewujudkan semua itu. #Bertekad bulat-bulat, janji dalam hati! Ah tak sabar rasanya ingin segera tahun 2012 ini bergulir dan memulai mengawali 2013 dengan resolusi-resolusi tertundaku.

Yup, tahun 2013 I'm coming Aku berharap bisa melanjutkan resolusi-resolusi tahun 2012 yang terbengkalai, selain itu di tahun 2013 berharap lebih banyak bersedekah dan berbuat kebaikan kepada sesama yakni salah satunya dengan mengambil anak asuh bersama teman-teman kumpulan arisan pengajian sehingga ada seorang anak manusia yang merasa terbantu dan begitu memaknai hadirnya Kami di dunia sebagai perantara yang menolong kesusahannya.
 
Di tahun 2013 ke depan, Aku berharap sesuatu keajaiban datang untuk Chila buah hatiku yang kini sudah menginjak 3,5 tahun. Usianya yang kini sedang dalam masa Golden Age sedang menyerap, merekam, dan memuat, berbagai informasi apapun ke dalam otaknya sehingga Aku harus bisa memanfaatkan momen ini dengan mendukungnya sepenuh hati. Memberikan pembelajaran yang baik salah satunya dengan menargetkan ia hafal juz 30 di tahun depan. Alhamdulillah tahun ini Chila telah hafal 6 surah dari juz 30 tersebut. Dan perjuangan Ayah Bunda untuk terus mendidiknya hafal Al Qur'an.

Satu lagi yang tak luput dari angan-anganku adalah tahun depan dapat mendaki ke salah satu gunung di Indonesia atau luar Indonesia. Entah gunung apa atau dimana yang jelas Aku rindu sekali menyusuri jejak jalan setapak, menggemblok ransel besar sambil menatap bentangan alam dengan kontur yang beragam. Menyaksikan awan yang berarak-arak dari jarak dekat atau terlentang di tengah malam yang dingin di sela-sela tebing di ketinggian sambil menatap milyaran bintang dengan kilatan-kilatan cahaya bintang jatuh. Make A Wish! Semoga!

Tulisan ini sebenarnya Aku buat untuk mengikuti GA-nya Jeng Windi Teguh yang Januari 2013 bulan depan usianya genap memasuki 30 tahun. Ah ternyata lebih tuaan Aku 3 tahun. Aku jadi bingung meski manggil dia apa karena pertama kali mengenalnya udah manggil mbak-mbak gitu.  Bagaimana kalau Aku panggil Jeng Windi saja deh ya!

Oya, Aku mengenal Jeng Windi di tahun 2012 ini di sebuah grup kepenulisan bernama Be A Writer (BAW). Duh dia ini ternyata seorang bankir. Jujur, keren deh pas lihat di wall Fb-nya ia mengenakan seragam kantor. Ia terlihat anggun dan cantik walau tetap jilbaban. Aku orang ke berapa ya yang memuji Jeng Windi ini? Tolong dijawab di komen aja ya Jeng! :D

Ia juga tak pelit membagi informasi mengenai lomba-lomba atau quis yang sedang happening. Bahkan pernah nulis langsung di wall Fbku untuk memberitahu kalau ada quis dari sebuah produk sabun. Ah, salut dengan semangat hidupnya yang terus mengikuti lomba-lomba dan hampir kebanyakan menang terus. Aku jadi belajar darinya untuk terus semangat dan ikut berlomba mengejar sebuah keinginan. Minimal Aku jadi tetap fokus terhadap apa yang ingin Aku capai. Alhamdulillah kehadiran Jeng Windi dalam hidup Aku ternyata membawa sesuatu yang bermakna dan bermanfaat.

Ini Resolusiku, Share dong Resolusimu”


Senin, 03 Desember 2012

Saat Chila ngambek

Waktu usia 10 bulan Chila kalau ngambek dan gregetan ya gayanya seperti ini, lucu giginya masih belum tumbuh



Terus pas sudah bisa jalan katanya mau ikut bunda ke warung eh malah ngambek deh di tengah jalan, awas Nak ada mobil!





Foto-foto ini diikutsertakan dalam kontes foto Angry Baby, Angry Kid yang diadakan di sini buat dapetin buku keren ini nih


Kamis, 15 November 2012

Jalan Rasamala


Di tepi jalan itu.....


Di sepotong senja yang damai, di sebuah bangku permanen yang diplester semen, kita duduk berhadap-hadapan menceritakan tentang jati diri kita masing-masing. Berbicara tentang masa lalu dan berandai-andai tentang masa depan sambil menikmati semilir angin yang dibawa lalu oleh satu dua kendaraan yang lewat.


Jalan itu begitu lengang, sepi dan bersih. Bunga bogenvil yang menghiasi tepi jalan telah mekar sedari kemarin. Seludangnya menarik perhatian dengan memantulkan warna ungu, oranye dan merah cerah. Pohon-pohon rindang berdahan rendah tumbuh di kedua sisi jalan. Ranting dan daunnya saling bertautan di atas seperti sedang bergandeng tangan dan berangkulan.

Semenjak pagi hingga malam hari, jalan ini senantiasa dikunjungi dan dilewati sekedar untuk menghabiskan waktu. Keteduhan selalu menaungi sepanjang jalan yang tak lebih dari 500 meter ini. Jalan tempat melepas lelah para pekerja, pencari kerja, dan yang pulang belanja.

Sebuah lapangan yang ditumbuhi rumput gajah terhampar dan dibiarkan terbuka di sebuah sisi jalannya, diapit oleh dua bangunan bernama Wisma Batamindo dan Plaza Batamindo. Beberapa orang duduk berkelompok dan berbaring-baring di atasnya. Entah berdiskusi atau mungkin sekedar melepas kepenatan. Namun menatap langit sore yang biru sambil terlentang di lapangan rumput sungguh pemandangan yang sangat menggoda.


Seiring perputaran zaman dan roda masa yang terus melaju. Bertahun-tahun berlalu semenjak kenangan itu, dan kini kukembali melaluinya, menyusuri jalan ini. Berjalan perlahan sambil mengumpulkan pecahan kenangan yang tersebar di setiap sudut-sudutnya. Menyesak jejak-jeka yang terserak. Ah, ternyata ….. tidak bersama dia saja. Aku pernah melaluinya bersama puluhan bahkan ratusan teman, dulu, dahulu. Sepulang bekerja, atau sepulang bermain-main dari hutan. Sehabis mencari jajanan di Pujasera atau mengurus berbagai hal dengan masalah pekerjaan.


Kembali duduk di sana, merenungi perjalanan waktu yang terus berlalu, seperti berlalunya kendaraan yang melesat setiap saat. Tak kembali dan tak meninggalkan jejak. Denyut kehidupan tetap berdetak di jalan ini. Para penganggur, pekerja, pengojek, dan pasangan muda-mudi, terduduk di bangku-bangku di sepanjang jalan ini. Mewarnai damainya hari di Jalan Rasamala yang teduh ini.



# Sebuah kenangan akan jalan Rasamala Batamindo Industrial Park Muka Kuning – Batam.

Selamat Tahun Baru 1434 Hijriyah

Alhamdulillah, tahun baru telah tiba. Tahun yang seharusnya menjadi awal hijrahnya kami sekeluarga menjadi yang lebih baik lagi.

Hari ini kami tidak kemana-mana. Hanya menikmati waktu liburan di rumah. Bermain dan bercanda bersama Chila. Pagi-pagi hanya mengajaknya sepedaan keliling komplek perumahan. Tak terasa 1 harian pun terlalui. Kini waktu sudah bergulir malam. Si Ayah sudah tidur dan Cila mulai terkantuk-kantuk. Alhamdulillah puas istirahat di rumah. Semoga esok dapat suntikan semangat untuk bekerja lebih baik lagi.

Yuk Kita Galakan Penggalangan Dana Online dengan Marimembantu .org

                                                                                                                   Oct 2, '12 1:42 PM
for everyone

Sudah hampir 3 tahun Putri (11 tahun) dan David (9 tahun) anak-anak dari tetangga saya tidak menikmati bangku Sekolah Dasar. Orangtua mereka bukan tidak ingin menyekolahkan anak-anaknya, namun mereka terbentur berbagai kendala terutama masalah keuangan.

Selama ini yang kita tahu dan sering diperbicangkan adalah bahwa pendidikan dasar 9 tahun itu gratis tidak dipungut biaya. Namun ternyata ada yang terlupa dan tidak tampak ke permukaan umum bahwa untuk anak-anak yang pindahan yang terpaksa ikut orang tuanya pindah pulau atau wilayah karena berbagai hal maka tetap dikenakan biaya masuk. Biayanya tidak sedikit antara 2 hingga 3 juta rupiah per anaknya. Dan kejadian itulah yang kini menimpa kedua anak ini.

One for All : Kabel Ekstension Klik-iT Solusi untuk Kabel Berantakan



                                                                                                                         Aug 29, '12 10:01 AM

Sudah sekitar 8 tahun rumah yang kami tempati masih seperti wujud aslinya. Belum ada renovasi apa-apa kecuali di beberapa bagian seperti dinding yang dicat baru dan jendela yang dipasang teralis. Begitu juga dengan instalasi listrik, colokan-colokan dan stop kontak  masih terpasang seperti awal rumah tersebut dibangun.

Semakin bertambah lama kami menempati rumah, semakin
banyak perangkat elektronik yang dibeli dan mulai memenuhi berbagai ruangan sedangkan kondisi colokan listrik masih tetap segitu-gitu saja jumlahnya. Rata-rata hanya  1 colokan tiap ruangnya.

Kondisi ini menyebabkan ruangan-ruangan menjadi tidak indah lagi dipandang mata. Bagaimana tidak, di ruang tengah saja colokan televisi harus menggelosor ke lantai memakai kabel ekstension yang memanjang melewati pintu keluar masuk rumah. Ketika anak-anak sedang bermain dan melewati ekstension ini kami disibukkan oleh teriakan dan larangan agar anak-anak tidak menginjak kabel. Belum lagi ketakutan jika ekstension kabel ketendang  waduh bisa-bisa anak-anak kesetrum. Wuuaaahh... hampir saja membuat jantung copot.  Berbahaya sekali.

Di kamar tidak jauh beda, colokan listrik hanya satu. Colokan ini pun harus berbagi untuk semua perangkat elektronik yang ada di ruangan ini. Komputer, laptop, charger hand phone, lampu emergency, raket anti nyamuk, dan lain sebagainya.

Begitu pun di dapur, kulkas & dispenser harus bergantian berbagi colokan dengan mesin cuci. Hadooh…repotnya! Tiap kali menyalakan mesin cuci maka colokan kulkas segera dicabut. Untung saja colokan rice cooker terpisah sendiri, kalau colokannya sama bisa-bisa kami kelaparan karena belum masak nasi sementara colokan listriknya sedang dipakai untuk mesin cuci.

Bukan tidak ada niat untuk memperbaiki instalasi listrik yang ada di rumah, namun karena niat perbaikan dan penambahan instalasi listrik ini direncanakan berbarengan dengan renovasi rumah suatu saat nanti, maka walaupun rada stress menghadapi kabel-kabel yang semrawut dan berantakan, kami tetap bertahan dan bersabar menghadapinya. Hehe... emangnya ujian!

Sehari-hari jika beres-beres pun rasanya tetap tidak rapi, laaah... bagaimana mau rapi kalau kabelnya berantakan sana-sini dan yang lebih menderitanya lagi si kabel itu tidak bisa dicabut sembarangan soalnya kalau jadwal beres-beres rumahnya bersamaan dengan jadwal anak saya nonton film kartun di televisi atau komputer maka tidak boleh tidak harus berhenti. Titik! Dan lagi, Ayah dan Bundanya harus hadir menemani. Jadi kalau pun Saya sedang beres-beres ketika anak Saya mengabsen dengan satu teriakan "Bundaaaaa..." maka Saya segera berlari sambil berkata "Iya Naak hadiiir" hehe!  lalu duduk manis di sampingnya sambil megang-megang sapu atau alat pel. Halaah.... ujung-ujungnya pekerjaan rumah tidak selesai-selesai deh.Tidak ayal jadi terbengkalai. Namun demi si kecil maka kami pun rela menemaninya walau mulut hampir  berbusa menerangkan apa yang ditonton kepada anak saya. Waduh sepertinya harus ada selingan minum dulu.


Lelah dengan ketegangan urusan kabel, sepertinya Saya harus mempunyai cara yang "smart" guna mengatasi permasalahan-permasalahan di atas tadi. Secara tidak sengaja seorang teman online di jejaring sosial facebook membawa saya mengunjungi situs ini dimana di laman ini diterangkan bahwa ada inovasi baru pengganti colokan listrik atau kabel gulung biasa (roll) dimana stop kontaknya dapat dipasang di berbagai tempat, untuk segala ruangan. Setelah mengunjungi laman tersebut saya semakin tertarik dan berharap ke depan dapat mengganti semua kabel gulung yang ada di rumah dengan kabel ekstension fleksibel Klik-iT.Yang lebih membuat saya sangat tertarik karena kabel ini bisa ditempel dimana saja termasuk di dinding sehingga tidak akan terinjak oleh anak-anak . Dan saya pun tidak perlu was-was lagi atau berteriak-teriak mengingatkan anak-anak akan bahayanya menginjak kabel ekstension.

Satu set Klik-iT terdiri dari kabel sepanjang 10 meter, 4 stop kontak, 18 kabel holder, releasable cable ties dan kertas manual.
Adapun kabel Klik-iT terbuat dari tembaga murni yang sudah
RoHS Free atau bebas dari bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungannya. Stop kontaknya terbuat dari bahan plastik ABS yang tidak mudah leleh dan dilengkapi dengan switch on/off. Cable holder-nya dibuat dari bahan transparan agar dapat menyembunyikan fisiknya sehingga membaur dengan interior ruangan. Sedangkan releasable cable ties berguna untuk merapikan kabel yang tidak terpakai dan dapat dilepas serta dipasang kembali.

Adapun Klik-iT memiliki kekuatan daya yang besar hingga 1500 watt per rangkaian kabel dikarenakan kabel klik-iT terbuat dari tebaga murni 2 x 0.5 mm sebanyak 20 lembar. Yang lebih meyakinkan lagi Klik-iT ini sudah bersertifikasi SNI.

Saya kira dengan satu set Klik-iT saja cukup membuat ruangan di rumah saya menjadi rapi, nyaman dan bebas teriakan .

Mari kita lihat beberapa ruangan yang telah beralih menggunakan kabel Klik-iT seperti di dapur dan meja komputer, maka anda akan melihatnya begitu rapi dan nyaman.




[5th Wedding Anniversary] Tepat 5 Tahun Kebersamaan


                                                                                                                            Jul 20, '12 5:48 AM
 
Bukan sebuah kebetulan jika hari ini, pertengahan Juli 2012 adalah awal Bulan puasa 1433H  bertepatan dengan 5 tahun pernikahanku dengan dirimu. Sebuah kesempatan untuk kita merenung, berfikir, dan muhasabah, tentang hakikat kehidupan. Bulan untuk berlomba-lomba memupuk amal ibadah dan kebaikan. Bulan untuk menyambut maghfiroh dan keberkahan.

Di tanggal ini pulalah aku dan dirimu mulai mengikat janji
setia menjadi pasangan suami istri. 5 tahun lalu tepat 21 Juli 2007  Kamu berikrar untuk menikahiku di depan penghulu, para saksi, dan saudara-saudara dari dua keluarga besar. Ada haru, ada bahagia yang tak terkatakan. Setelah berbagai rintangan dan cobaan yang sebelumnya hampir menggagalkan hubungan itu. Menemukanmu kembali adalah berkah bagiku.


Pernah suatu saat dulu, kita menyusuri hutan dalam lebatnya hujan dan terpaan angin kencang. Merayapi jurang-jurang dan bebatuan. Dan, kita berhasil melaluinya. Pun kini dan nanti sejatinya kita dapat melalui rintangan dan cobaan kehidupan yang lebih dari itu semua.


Bersama kita melalui kabut  dan badai, memutari gigiran kawah terjal berliku, dan menerabas rimbunnya cantigi yang memerah di puncak Gunung Ciremai,  mencumbui kuntum dan putik-putik edelweis di lembah kasih Mandalawangi - Gunung Pangrango, mengagumi lembayung senja  di alun-alun Surya Kencana - Gunung Gede. Menapaki jalur menanjak dan curam di Gunung Cikuray. Merenung dan menyimak belaian angin di hamparan rumput tepi danau kawah - Gunung Galunggung, menyesap secangkir teh hangat di pagi yang indah di Pondok Saladah Gunung Papandayan, dan mengobarkan nasionalisme dengan mengibarkan sang merah putih di puncak Gunung Ledang Johor Malaysia.Kini, di hari ini tepat 5 tahun kita menjalani hidup bersama, aku berharap Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya terus-menerus untuk kita agar tetap menjalani hubungan ini dengan penuh kesadaran, kebijaksanaan, kasih sayang dan tetap berpegang teguh pada syariat.

Tak ada yang sama setiap hari. Setiap bangun tidur dan menjelang tidur kembali kita selalu menemukan hal-hal yang baru dalam diri masing-masing untuk terus dibagi bersama. Maafkan aku jika selama ini belum menjadi istri yang solihah seperti yang didamba-dambakan oleh semua para suami. Namun yang pasti aku akan terus berusaha ke arah itu. 

Seorang anak manis, pintar, dan menggemaskan kini telah pula lahir dan melengkapi kehidupan kita. Keberadaannya telah mampu menjadi penengah dikala kita berselisih, di saat kita tak menemukan titik temu ketika permasalahan mulai bermunculan. Menjadi penawar dikala hati gundah dan resah, menjadi penyejuk bagi kobaran api dari keegoisan kita masing-masing.

Semoga ia kelak menjadi anak solihah yang berbakti kepada orang tuanya, menjadi anak yang cerdas yang bermanfaat bagi sesamanya, dan menjadi anak yang berprestasi yang menjadi pembela buat agama dan negaranya. Amin.

Love you as always. 

Hadiah Lomba Love Journey



                                                                                                                             Jul 18, '12 12:43 PM

Setelah lebih dari 2 minggu menunggu hadiah lomba Love Journey yang diselenggarakan oleh Mas Fatah sama Mbak Dee An, Akhirnya kemarin sore hadiah itu sampai juga ke rumah setelah beberapa menit mampir dulu di rumah tetangga (mamanya si kembar Sasa dan Lala) karena pas paket dihantar Mas Anang (Suami Mbak Dee An) Aku lagi beli pulsa ke warung ujung. jadinya nggak ketemu langsung sama Mas Anang. Maksih ya Mas sudah repot-repot nganter sendiri.

Begitu dibuka jreng...jreng... 3 buah buku yang manis-manis membuatku tak tahan ingin segera membacanya. satu foto Aku dan suami yang begitu manis hasil editan juri (entah siapa nih yang buat) membuatku terharu biru. Tak lupa souvenir kaos Lombok yang ada gambar cabe lomboknya. Begitu melihat buku TraveLove, Chila anakku langsung ngaku-ngaku "Ini buku Chila Bunda" demi dilihatnya ada gambar pesawat dan bentuk hati (Love) di cover depannya. "Halah enak saja, itu punya Bunda." Gerutuku sambil merengut. Bahaya kalau sudah diaku-aku sama Chila alamat barang-barang itu nggak boleh kita pegang sama sekali.

Btw, Makasih ya Mbak Dian dan Mas fatah, sering-sering ngadain lomba lagi :)

[Lomba Senyumku untuk Berbagi] Duka dari Anak Tetangga


                                                                                                                                 Jul 17, '12 12:19 PM

Tiap kali Aku melewati rumah itu, yang hanya 2 rumah jaraknya dari rumahku, Seorang gadis kecil selalu menatapku dengan tatapan yang tajam. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh tatapannya itu.  Ia dan keluarganya baru saja menempati rumah tetanggaku itu.

Karena kami sering berpapasan, suatu saat ia berani menyapaku.
"Tanteeee..." Sapanya ramah.
"Eh, baru pindah rumah ya." Tanyaku pada gadis kecil itu. Ia cuma mengangguk pelan.
"Namanya siapa?" Tanyaku lagi.
"Puteri, Tante!" Jawabnya.
"Loh Putri kok nggak sekolah." Aku menatapnya heran. Hari itu Putri dan ketiga adiknya hanya bermain-main di halaman rumah.
"Putri nggak sekolah Tante. Mama nggak punya biaya buat nyekolahin kami." katanya polos.

Manfaat Ponsel Pintar untuk Keseharianku


                                                                                                                              Jun 29, '12 12:45 PM

Suatu malam, ketika anak saya Chila berusia 9 bulan, ia menangis tak henti-henti lebih dari 3 jam. Kami begitu khawatir dan takut terjadi apa-apa dengannya karena hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Selain itu kami juga khawatir tangisan Chila  dapat mengganggu tidur tetangga karena malam sudah semakin larut.

Saya dan suami bergilir secara bergantian menggendongnya karena Chila tak mau lepas sama sekali dari kami. Melakukan ini salah melakukan itu salah. Mainan, makanan, dan apapun yang pernah Chila sukai telah kami berikan namun ia tetap histeris.
Saya dan suami telah kehabisan segala cara untuk menenangkannya.Chila masih tetap menangis dan menjerit sekencang-kencangnya. Kasihan sekali.

Tiba-tiba mata saya tertuju kepada ponsel pintar (Smartphone) Nokia yang tergeletak di meja. Saya bilang kepada suami bagaimana kalau  bayi kami diperdengarkan suara musik atau mengaji. Ia pun
mengiyakan. Ia menyarankan lebih baik Chila diperdengarkan ngaji saja. Saya kemudian memilih bacaan murotal Al Qur’an dari ponsel tersebut dan meletakkannya di genggaman tangan Chila yang mengepal dan menegang karena terlalu lama menangis. Aneh bin ajaib, tiba-tiba tangisan Chila mereda. Ia kemudian ketawa-ketawa seperti menemukan mainan yang hilang. Pelan-pelan Chila Saya baringkan. Ia tetap tenang sambil terus memegang ponsel, fokusnya kini tertuju kepada suara mengaji. Matanya yang sembab mengerjap-ngerjap menahan kantuk. Perlahan-lahan matanya mulai terpejam. Alhamdulillah akhirnya Chila tertidur sambil mendengarkan bacaan murotal itu. Saya dan suami hanya saling pandang, merasa heran dan aneh dengan kejadian itu, namun senang karena tertolong oleh ponsel pintar tersebut.

Bukan itu saja, kemampuan ponsel pintar merekam gambar dan vidio juga mengandung manfaat yang luar biasa bagi keluarga kecil kami. Saya yang mempunyai bayi yang sedang lucu-lucunya dapat langsung merekam kejadian-kejadian penting yang spontan terjadi kepada bayi Saya (Chila) dengan menggunakan ponsel pintar ini. Misalnya saat Chila pertama kali bisa berjalan dan terjatuh-jatuh, saat Chila bisa menyanyikan lagu anak-anak dengan lancar walau pelafalannya masih cedal, saat Chila bermain bersama teman-temannya, saat ia pertama kali berenang dan bermain pasir serta kejadian-kejadian seru lainnya. Saya dan suami masih dapat menikmati momen sejarah itu dengan melihat rekaman gambar & vidio yang tersimpan baik di ponsel pintar Nokia E63.

Menginjak usia 1 tahun hingga sekarang, Chila sangat menyukai lagu anak-anak, Tak heran, karena itu adalah dunianya. Untuk mengembangkan daya  hafalnya, Ayah Chila men-download puluhan lagu anak-anak  dan menyimpannya di ponsel pintar. Lagu-lagu seperti bintang kecil, pelangi-pelangi, lihat kebunku, menanam jagung, selamat ulang tahun, bahkan twinkle-twinkle little star telah dihafal Chila dengan baik. Chila pun sering kali menirukan adegan penyanyi-penyanyi cilik dengan tangan kanan memegang sendok atau garpu seraya didekatkan ke depan mulut dan badan yang lenggak-lenggok menari sambil menyanyi. Dengan suara khas anak-anak, ia begitu lucu dan penuh ekspresif.

Ketika ada pagelaran fashion show anak-anak di Mega Mall Batam Centre, Si Ayah tak lupa merekam pagelaran itu dengan menggunakan Ponsel Pintar. Ketika sampai di rumah dengan antusias Chila menonton rekaman fashion show tersebut, lalu mempraktekkannya sendiri. Ia dengan semangat menirukan gaya foto model-foto model cilik yang dilihat di rekaman vidio. Chila lalu berjalan melenggang dari kamar ke pintu luar lalu balik lagi berkali-kali.

“Bunda, bunda, tengok Chila lagi pesensow.” Kata Chila sambil meliuk-liukan badannya. Saya langsung ngakak ketawa.


Di ponsel pintar ini pun kami rekamkan vidio Ipin Upin. Film yang sangat Chila senangi. Karena film ini tergolong baik untuk anak-anak maka Saya membolehkannya menonton. Saya pun bisa meninggalkan Chila sendirian di kamar atau ruang tengah untuk mencuci dan memasak di dapur. Sesekali menengoknya. Namun seringnya Chila masih asyik dengan film upin-ipinnya. Sesekali ia tertawa-tawa terkekeh-kekeh ketika melihat adegan yang lucu.

Suatu saat Chila bertanya kepada Saya,



“Bunda, nama Ayah Ismail ya?” Tanya Chila.


“Iya, emang kenapa kok Chila tanya itu?” Saya balik tanya. Tumben dia membahas nama lengkap Ayahnya, biasanya kalau ditanya orang Chila biasa menjawab dengan sebutan Ayah Ical saja.


 “Dua singgit, dua singgit” Kata Chila. Aku mengerutkan dahi. Baru sadar kalau Chila ngelawak, saya lalu tertawa ngakak.  Rupanya Chila menirukan kata-kata si Mail dalam film Upin Ipin yang sering ditontonnya. Mail yang tukang jualan itu sering kali berkata dua seringgit, dua seringgit.


Selain itu ponsel pintar saya  mempunyai fasilitas quickoffice sehingga bisa membuat dokumen atau menulis tulisan panjang. Kebetulan akhir-akhir ini telah bergabung dengan beberapa komunitas penulis sehingga waktu luang sering saya gunakan untuk  menulis dan menulis. Dimana pun, kapan pun, saya bisa langsung menulis. Di jalan, saat menunggu bis jemputan, di tempat kerja, saat mengantri di bank, saat mengajak Chila main sepeda. Ketika ide itu muncul tiba-tiba, dengan sigap saya langsung menuliskannya di ponsel pintar ini. Setelah ada waktu luang lalu memindahkannya ke laptop dengan menggunakan fasilitas bluetooth. Tak terbayang kalau tidak punya ponsel pintar ini mungkin ide itu telah menguap entah kemana.


Semakin hari manfaat ponsel pintar semakin terasa. Namanya sudah emak-emak yang mesti pintar membagi waktu antara kerja dan keluarga. Terkadang sering menghabiskan waktu selain dua hal itu untuk keperluan lainnya seperti mengantri di bank untuk melakukan pembayaran KPR , air, listrik atau mengirim uang ke kampung halaman yang beda bank.. Namun dengan layanan M-Banking yang kini tertanam di ponsel pintar, Alhamdulillah waktu Saya yang terbuang percuma berjam-jam lamanya dapat dipangkas hanya dengan beberapa detik saja.

Fasilitas lain yang paling saya gemari dari ponsel pintar saya adalah bisa
internetan. Kebetulan Saya menggunakan IM3 yang memberlakukan tarif murah Indosat. Apalagi terdapat layanan terbaru paket unlimited dan kuota dengan speed hingga 2 Mbps. Wuih benar-benar memanjakan Saya sehingga tidak harus pergi ke warnet atau bawa-bawa laptop untuk sekedar Online. Cukup pencet-pencet si merah ponsel pintar saya.

Karena ingin lebih mengetahui lagi fasilitas lainnya maka saya pun membuka layanan Indosat di Internet dan ternyata saya baru tahu kalau
Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita. Waduh itu mah Saya banget. Gratis selama 30 hari lagi. Bikin kantong emak ini tidak gampang menipis hehe...

Alhamdulillah, ternyata semakin hari persoalan-persoalan yang dulu dianggap sulit bagi saya ternyata menjadi mudah salah satunya dengan adanya ponsel pintar di tengah-tengah kehidupan keluarga kami.
Hari berganti, bulan berubah, dan tahun makin beranjak, namun ponsel pintar masih menemani. Telah beratus-ratus gambar terekam di dalamnya. Telah berpuluh-puluh judul tulisan yang Saya hasilkan. Peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika perubahan dan perkembangan anak Saya semenjak awal-awal kelahiran hingga kini menginjak usia 3 tahun begitu manis tersimpan indah di dalamnya. Menjadi kenangan berharga yang menyertai perjalanan kehidupan keluarga kecil kami.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Ponsel Pintar untuk Perempuan Indonesia” yang diselenggarakan oleh EmakBlogger

Mengenal Sekilas Keragaman Indonesia

                                                                                                                           Jun 27, '12 11:10 PM

Secara etimologi kata Indonesia berasal dari dua suku kata yaitu Indus (bahasa Latin) yang berarti Hindia dan Nesos (BahasaYunani) yang berarti kepulauan. Dengan gabungan dua suku kata di atas, Indonesia dimaknai sebagai kepulauan yang terletak di Hindia. Berdasarkan definisi tersebut, maka Saya akan memulai tulisan ini.

Semenjak kelas 4 Sekolah Dasar, Saya sangat menyenangi sebuah buku yang hampir setiap saat Saya pelajari. Bahkan menjelang tidur pun tak luput Saya baca-baca. Buku tersebut adalah atlas, yakni buku yang berisi peta suatu wilayah atau tempat. Saat itu, Saya begitu bersemangat menghafal seluruh isi atlas termasuk pulau demi pulau yang berjajar menjadi gugusan yang membentuk sebuah negara bernama Indonesia. Saya kagum dan terheran-heran betapa luas dan banyaknya pulau-pulau yang berada di wilayah negara Indonesia itu.

Ketika mengamati kepulauan di Indonesia yang satu warna, benak Saya mengatakan seharusnya pada peta ini terbentuk sebaran pola warna yang berbeda yang menyatakan perbedaan negara. Seperti halnya jika kita melihat perbedaan warna peta pada negara-negara di benua Eropa, Amerika,  Afrika dan Asia Tengah.

Memandang peta tersebut, rasanya tidak mungkin ada sebuah negara yang terbentang dari timur ke barat dengan belasan ribu pulau di dalamnya. Terentang dengan jarak sejauh 5000 km melintasi 3 zona waktu yang berbeda yang didiami oleh lebih dari 300 etnis yang berbeda pula. Lalu dijejali dengan jumlah penduduk yang lebih dari 230 juta jiwa. Sungguh sesuatu yang mustahil dan luar biasa.

Namun, tidaklah demikian kenyataannya. Sejarah telah membuktikan bahwa para pendiri bangsa ini telah meletakkan dasar-dasar yang sangat jelas bahwa daratan yang pada faktanya terpisah-pisah membentuk pulau-pulau adalah merupakan satu kesatuan dengan lautan. Bukan merupakan suatu penghalang.  Laut tidak diartikan sebagai pemisah pulau-pulau namun senantiasa dimaknai dengan kalimat “Pulau-pulau dihubungkan oleh lautan”. Maka dikenallah istilah wawasan nusantara. Sebuah konsep bagi wawasan kebangsaan yang cukup mapan. Dengan wawasan itu pula para pendiri negara ini menyatakan dengan bulat bahwa bentuk negara ini adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”.  Bagi Saya, kalimat itu terus terang terdengar gagah, menggugah, dan membuat hati kecil ini begitu  bangga.

Hingga di sini Saya baru mempunyai kesimpulan sementara bahwa jawabannya yang memungkinkan untuk sesuatu yang Paling Indonesia adalah seperti isi dari sebuah lagu nasional yang sering kita nyanyikan dahulu ketika bersekolah, yaitu “Dari Sabang sampai Merauke.”

    Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau
    Sambung-menyambung menjadi satu itulah Indonesia
    Indonesia tanah airku aku berjanji padamu
    Menjunjung tanah airku tanah airku Indonesia

Jajaran, gugusan pulau-pulau yang terbentang dari timur hingga barat, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke itulah yang menurut otak saya yang Paling Indonesia. Bagaimana tidak,  Indonesia adalah nomor satu sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Mengalahkan negara kepulauan apapun di belahan benua manapun.

Rasanya belum puas, Saya masih ingin menemukan hal lainnya yang lebih layak lagi disebut Paling Indonesia. Saya masih ingin mengatakan bahwa dari 6 derajat Lintang Utara yang kemudian melintasi Khatulistiwa hingga melewati 11 derajat Lintang Selatan, dari rimbunnya hutan hujan Sumatera dan Kalimantan hingga luasnya padang sabana & steppa di kedua Nusa Tenggara, dari kedalaman Laut Banda hingga ketinggian Pegunungan Jaya Wijaya, dan dari barat yang bercirikan zoogeografis Asia hingga ke timur yang bercorak zoogeografis Australasia,
dimana Garis Wallace-Weber di antara keduanya, dari jajaran pulau-pulau tersebut terdapat berbagai macam flora dan fauna, tersebar keanekaragaman hayati yang berlimpah ruah yang patut kita syukuri.

Katakanlah si belang Harimau Sumatera yang kini populasinya kurang dari 500 ekor saja, lalu Badak Bercula Satu yang  hanya muncul satu-satu, Orangutan yang habitatnya semakin terkungkung oleh kebun sawit, Burung Maleo yang unik karena memiliki telur lima kali lebih besar dari ukuran telur ayam yang kemudian jika menetas sudah bisa langsung terbang. Ada si totol Hiu Paus (Rhincodon typus) atau Gurano Bintang yang selalu bermain-main di bagan-bagan nelayan di teluk Cendrawasih. Atau sang survivor si Komodo yang baru didaulat menjadi salah satu dari The New 7 Wonder of Nature. Betapa fauna-fauna tersebut telah memperkaya negara karena keunikannya masing-masing. Dan semua fauna itu layak dicap sebagai Paling Indonesia.

Adapun dari 300 etnis yang mendiami sebaran pulau-pulau di Indonesia, dengan menggunakan lebih dari 700 bahasa daerah sungguh merupakan hal yang rumit dan tidak mudah dalam berkomunikasi. Namun lagi-lagi semua kerumitan itu dipermudah dengan adanya satu bahasa yakni bahasa Indonesia. Ketiga kalinya Saya ingin mengatakan bahasa Indonesia adalah yang Paling Indonesia.

Namun, lagi-lagi semakin Saya mencari, menggali, mengidentifikasi, dan bahkan mulai mengenali sesuatu yang Paling Indonesia maka hati yang paling dalam semakin mempertanyakan, benarkah? sehingga semakin tidak menemukan jawaban. Batin Saya semakin berkata “ketika kamu menemukan jawaban yang satu maka  akan semakin memarginkan hal lainnya yang sebenarnya patut menjadi yang Paling Indonesia”.

Dari paparan di atas, kemudian Saya mengais-ngais ingatan, memeras otak dan menarik kesimpulan mengenai apa yang “Paling Indonesia”. Dengan interpretasi dan persepsi masing-masing, alangkah damainya jika sesuatu yang Paling Indonesia tersebut tetap menjadi keragaman dalam tataran fikiran kita masing-masing. Tentu  tidak sebatas batik, komodo, burung maleo, reog ponorogo. Atau bahkan angklung, kapal pinisi, candi borobudur, upacara ngaben, Pulau Dewata atau lainnya. Semua yang unik dan yang menarik dari negeri in tentu bagian dari yang Paling Indonesia.

Huh, akhirnya dengan lega Saya bisa berkata bahwa yang Paling Indonesia itu tiada lain adalah Bhineka Tunggal Ika.

Menyiapkan Dana Pendidikan bagi Si Kecil


                                                                                                                               Jun 13, '12 3:58 PM


      Ketika lulus SMA tahun 1998, Saya mengurung diri di kamar berhari-hari. Langit sepertinya akan runtuh mengingat cita-cita Saya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi pupus sudah. Bukan karena Saya bodoh atau tidak lulus seleksi ujian namun karena  ketidakmampuan ekonomi keluarga kamilah penyebab utamanya.

      Yang paling menyesakkan hati Saya adalah ketika Bapak meminta maaf karena tidak bisa menyekolahkan Saya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan berurai air mata Bapak berkata,
     
      "Lin, Bapak minta ma’af  karena tidak sanggup menyekolahkan Kamu."
      
      Saya menangis pedih. Hati siapa yang tidak terenyuh dan tersentuh mendengar seorang bapak meminta maaf kepada anaknya gara-gara tidak bisa menyekolahkan. Saya ingat betul nenek selalu bercerita bahwa dulu Bapak adalah anak yang pintar namun karena kondisi ekonomi kakek yang tergolong tidak mampu, akhirnya Bapak tidak melanjutkan sekolahnya. Saking ingin sekolah, Bapak pernah kabur ke luar kota berkali-kali. Namun itu tak merubah kondisi. Keinginannya tetap tidak terpenuhi.

[Catatan Harian] Terdampar di Nagoya

                                                                                                              Jun 8, '12 12:33 PM
for everyone
Kamis, 08 Juni 2012

Baiklah, untuk menghapus persepsi keren tentang saya (karena sudah ke Nagoya), sebelumnya saya jelaskan dahulu. Nagoya yang satu ini bukan Nagoya di Jepang melainkan Nagoya di Pulau Batam. Sebuah lokasi yang menjadi pusat bisnis di pulau ini. Demikian maklumat ini agar menjadi maklum.

Dengan perasaan malas-malasan akhirnya kemarin maghrib saya pergi juga ke klinik yang terletak di Perumahan Genta I Batu Aji untuk berobat. Sebenarnya sih nggak sakit-sakit amat cuma lha kok lama-lama, dirasa-rasa, ternyata yang satu ini  sangat menggangu juga.

Nggak seberapa sakit sih, hanya jari tengah tangan sebelah kiri sering kram dan kesakitan setiap selesai memegang sesuatu. Apalagi jika mengangkat benda-benda yang berat, si jari tengah langsung protes dengan cara menegang kaku hingga tidak bisa diluruskan. Belum lagi ditambah rasa sakit dan ngilu di sendi buku-bukunya.

Namanya jari tangan yang di-setting dari sononya untuk bekerja sama menjadi teamwork, so begitu si jangkung sakit teman-temannya seperti si jempol, telunjuk, jari manis dan si bungsu kelingking jadi ikut-ikutan mogok tidak bisa bekerja karena sakit juga. Beuuh...repot deh nih urusan.

Suami bilang kalau nggak asam urat berarti salah urat. Pokoknya ada urusannya sama urat deh. Iddiiih....sakit kok nggak keren banget sih. Setahu saya penderita asam urat itu ibu-ibu dan bapak-bapak di kampung yang tiap hari pulang pergi ke sawah untuk membajak dan tandur. Itupun kebanyakan menyerang kaki bukan tangan seperti saya. Sebutlah penderitanya seperti Mak Inah, Mak Amah, Bi Idoh, Mang Warja, Aki Ojo, dan lain-lain.

"Berarti Bunda nggak bisa manjat wall lagi. Sudah saatnya gantung sepatu." Kata suami suatu saat.
"Hah gantung sepatu? ooh tidaaaak...." Itu berarti saya nggak bisa manjat tebing, wall climbing, atau dinding tetangga lagi dong.
"Huhuhu...tidaaaakkk oh jariku kenapa kamu setega itu? Kenapa kamu tak sekuat dulu lagi? Saat jari-jari kasarmu mencengkeram poin demi poin menggapai top." Saya meradang.


Walaupun sudah lama saya absen dari dunia panjat memanjat namun bukan berarti mundur dari dunia ini, karena suatu waktu entah di suatu tempat Saya akan butuh kemahiran itu lagi.

"Ibu Apa keluhannya?" Suster di klinik itu bertanya. lalu melilitkan alat tensi ke lengan kanan saya.
"Darahnya rendah Bu, cuma 80 biasanya disertai pusing-pusing Bu."
"Tapi Saya nggak pusing Sus!"
"Harusnya Ibu pusing." Katanya lagi.
Idih kok maksa sih, kalau Gue nggak pusing emang kenapa?

Setelah dicek suster, saya ngeloyor ke ruang praktek dokter. Nanya ini sama itu. Ia melihat di buku berobat bahwa tensi darah saya cuma 80. Kata pak dokter aku Hipotensi. Upss awas salah baca ya bukan impotensi lho.

Hipotensi adalah bahasa kerennya dari kurang darah. Kebalikannya yakni hipertensi. Kata dokter yang normal tuh tensinya 90 sampai 120. Dibawah 90 berarti hipotensi di atas 120 berarti hipertensi.

"Jadi kemungkinan sakit saya ini apa Dok?"

"Kemungkinannya asam urat, Jadi Ibu harus menjauhi makanan kacang-kacangan, makanan bersantan, dan berminyak." Kata Dokter.

"Tapi untuk memastikannya Ibu harus di cek darah dulu, ini Saya buat rujukan untuk ke Kimia Farma".

Laah dia bilang saya asam urat juga. Iddihh... Pak Dokter nggak keren banget deh. Namun karena nggak yakin dengan vonisnya sendiri dia menyuruh untuk tes darah di lab Kimia Farma di Kampung utama di Nagoya. Hehe..dokter kok nggak pede.


Jum'at 09 Juni 2012

Pagi ini, sepulang kerja malam, saya ke lab Kimia Farma yang letaknya bersebelahan dengan klinik tempat rujukan Saya selanjutnya di Kampung utama Nagoya. Lalu disuntik untuk diambil sampel darah. Waduh, saat suster menarik jarum suntik baru deh berasa seperti digigit semut rangrang yang merah.

Beberapa saat menunggu, Si suster datang memanggil saya.
 "Hasilnya bagus kok Bu, Nggak asam urat" Kata Suster.
Alhamdulillah, Yes, Kata Gue juga Apa. Dokter, dokter!!!

Selesai tes darah di lab dan mengantongi hasilnya, saya kemudian masuk ke klinik di sbelahnya. Yang jaga bilang saya disuruh ke Rumah Sakit Permata Hati di Baloi. Ya udah deh gak apa-apa lagian tempatnya sudah dekat dari situ.

Tiba di RS Permata Hati lalu menunggu dan mengantri. dapat nomor antrian 20. Saat itu antrian sampai di nomor 15 berarti sebentar lagi.

Dokter bertanya ini itu. Kata dia mungkin gara-gara Saya dulu manjat hingga jari-jari jadi begini. Lha nggak ada alasan lain apa? Dia pun ragu lalu Saya dirujuk ke dokter Spesialis Penyakit Dalam yang letaknya di klinik Kampung Utama. Waah balik lagi deh. Sabar, sabar!

Saya balik lagi ke Klinik di Kampung Utama, hari hujan semakin menambah pusing dan puyeng karena belum tidur semalaman. Perut mana laper lagi. Ya udah deh sarapan dulu.

Saya berjalan ke arah belakang klinik di sana terdapat sebuah warung makan yang lumayan ramai! Bingung milih menu akhirnya memilih menu yang lumayan jarang nemu di Batam. Semur jengkol. Dah lama nggak makan makanan yang satu ini.

Tidak berapa lama, sepiring nasi dengan lauk ikan dan jengkol ludes. Sukses pindah ke dalam perut.

Meminjam istilah Mbak Riawani Elyta,  perut Saya rasanya seperti melihara anak anconda saja. Saya  belum kenyang. Dengan menahan rasa malu akhirnya Saya minta nambah lagi. Tak perduli orang-orang ngelihatin. Mungkin mereka bilang ihh cewek kurus gitu kok makannya banyak sih. Haha..mana ada urus kalau Gue laper mau kata apa coba?

Menunggu di Klinik hampir buluk, Si dokter SpPD belum juga datang. Katanya datang jam dua siang. Haduh mati gaya lagi deh Gue! Untung suami, si Ayah Sierra  langsung datang buat menemani.

Jam 3 lewat dokter datang. Ia tampak sudah tua dan berwibawa. Lalu memeriksa Saya. dengan seksama. Memeriksa tekanan darah, detak jantung dan lainnya. Tanpa sedikitpun memegang jari Saya yang sakit.

     "Saya rujuk lagi ke dokter spesialis bedah ya Bu"
     "Di mana dok?"
     "Di Rumah Sakit Permata Hati."
     "Kapan?"
     "Besok"
Alamaak...balik lagi. Huh...hanya demi kesembuhan si jangkung jari tengah rela berhari-hari bolak-balik dokter.


     "Ibu kerja ya, mau istirahat dulu hari ini?" Suster menawariku MC.
     "Boleh Sus." Jawabku.

Seandainya nggak dapat MC dokter, waah gawat bisa-bisa nanti malam tumbang di ruang produksi karena ngantuk berat level 10.

Kunjungan ke dokter Sabtu kemaren Saya divonis Arthalgia. Ketika search di Mbah Google yang keluar ini  "Arthralgia is the medical term for pain in the joints. There are many possible causes of pain in a joint."
Artinya Arthalgia adalah istilah medis untuk nyeri pada sendi. Ada banyak kemungkinan penyebab nyeri pada sendi.


Lhaa jadi sebab nyeri sendi saya apa dong?

Buku Tempat Saya Berbagi Tanya


                                                                                                                               May 30, '12 5:13 AM

            "Books are the compasses and telescopes and sextants and charts which other men have prepared to help us navigate the dangerous seas of human life." Jesse Lee Bennett.

      Menurut kamus besar bahasa Indonesia buku adalah lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong sedangkan  menurut  ensiklopedia bebas Wikipedia buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman.

      Dari berbagai sumber yang menguak sejarah tentang buku, buku pertama disebutkan lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas dari daun papyrus. Kertas papyrus yang berisi tulisan ini digulung dan gulungan tersebut merupakan bentuk buku yang pertama. Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak ditemui di tepi sungai Nil Mesir.
  

[Love Journey] Cintaku Tertaut di Gunung


                                                                                                                               May 23, '12 5:42 AM


Gunung Kerinci, Maret 2001  

Bermilyar-milyar bintang berkelap-kelip di langit gelap. Gelap yang sempurna sehingga sekecil apapun bintangnya begitu jelas menampakkan keberadaannya. Bergugusan membentuk apa pun yang kita imajikan.

Di sini di hamparan batu-batu cadas yang membeku Aku terbaring terpaku. Menatap kilatan-kilatan bintang jatuh yang kian melaju. Tak perduli pada hembusan angin yang menderu-deru mataku menatap ke langit gelap sambil membisikkan do'a-do'a dan harapan. Make A wish.

"Ya Allah, hadirkanlah ia di hidupku, seseorang yang mencintai gunung, mencintaiku, juga mencintai-Mu. Entah siapa, entah dimana. Mungkin di sebrang sana ia juga sedang menatap langit yang sama dan merasakan kehampaan yang sama. Jika pun tidak sekarang, mungkin esok atau lusa. Hadirkanlah ia ya Rabb, hadirkanlah di sisiku." Batinku berbisik.

"Minta Krisdayanti dooong!" Teriak beberapa pendaki di luar tenda bagian ujung. Meniru adegan iklan produk rokok di televisi ketika ada bintang jatuh melintas. Halaah... suasana romantis pun berubah jadi humoris. Aku jadi tertawa sendiri lalu membungkus tubuh dengan jaket berlapis-lapis dan sleeping bag.

Brrr....angin berhembus lagi semakin kencang, mengalirkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku tetap bertahan begadang hingga pagi men jelang, terlentang di luar tenda sambil menatap kerlap-kerlip bintang. Subhanallah alangkah nikmatnya. Tak henti-henti kuucap syukur atas semuanya.

Jelas sudah, betapa aku mencintai perjalanan ke gunung ini. Gunung Kerinci. Gunung berapi tertinggi di negri ini. Dalam liku jalan setapak, rimbunnya semak-semak, di jalur menanjak, akar-akar  yang melingkar, pepohonan yang tinggi menjulang hingga menggapai awan yang berarak-arak. Dan pada cantigi yang semakin merah berseri.  Semua, Semuanya menyatu membungkus hatiku dalam kesyahduan perjalanan. Menyemaikan benih-benih syukur  dalam lantunan do'a di sholat subuhku saat itu di puncak Kerinci.


Gunung Rinjani, Desember 2002


Hujan angin yang menampar-nampar membuat perjalanan melewati tanjakan bukit Sembilan terasa makin memberatkan. ingin rasanya berhenti dan berteduh, namun dimana? sedangkan satu depa saja tak ada tanah untuk sekedar meluruskan kaki. Adapun satu dua pohon cemara yang ditemui telah penuh oleh para pendaki yang berteduh lebih dahulu.

Akhirnya, aku berjalan bersama hujan. Meresapi tiap tetes yang menyejukkan, yang membasuh keringat hingga dingin menelusup menembus tulang. Aku menyatukan nafas dalam deru angin yang menghempaskan, yang melipir melingkari jurang-jurang.

Tubuhku mencoba menyatu dengan alam. Mengimbangi dingin angin menyamai rintik hujan. Merayapi pelan tanjakan demi tanjakan hingga berjam-jam tanpa henti hingga Plawangan Sembalun.

Mataku berkaca-kaca, melihat ratusan tenda menyambutku dengan meriah. Dengan warna-warni yang cerah dalam balutan kabut di senja itu. Ingin rasanya berteriak bahwa aku telah di sini, di sini, di pelukan damai gunung Rinjani.

Kabut perlahan memudar menyingkap tabir yang menghalangi pemandangan ke Danau Segara Anakan. Aku berkemul dalam tenda, merenungi arti perjalanan yang menguras banyak energi. Betapa kesabaran teruji hingga di sini.

Rinjani, batin ini bergemuruh dengan rasa cinta. Cinta kepada romansa yang tercipta di panjangnya perjalanan ini. Ribuan mil telah kutempuh, melewati tiga lautan yang berbeda, melalui empat daratan yang berbeda pula. Dari jauh aku telah merindukanmu siang dan malam. Dan aku sangat mencintai, mencintai perjalanan menujumu. Setiap langkah, setiap depa. Setiap jarak yang tercipta. Maka sambutlah Aku dalam dekapmu, wahai Rinjani.


Gunung Ciremai, Maret 2004

Aku melaju pelan bersama seseorang secara kebetulan. Seseorang yang kutemui dalam perjalanan. Kami berjalan menyusuri jalur setapak menuju puncak. Berbagi tanya, berbagi canda, menceritakan berbagai hal tentang perjalanan. Tentang harapan dan keinginan.

Ah, entah kenapa dia begitu mempesona. Butiran tasbih di tangannya semakin meyakinkan hati untuk memilih. Hatiku lirih berkata iya, walau masih menyisakan ribuan tanya di dada, diakah sesungguhnya? Dialah yang membuat perjalanan kini begitu berbeda. Menjadi lebih berwarna. Sepertinya setiap pohon-pohon di jalur linggar jati yang terlewati mendadak mekar berbunga. Diakah Ya Allah? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Seperti kabut yang menyelimuti kawah Ciremai, teka-teki ini begitu penuh misteri. Perjalanan kali ini menyisakan tanya begitu lama. Menanti tanpa pasti sebuah harapan. Apakah sesungguhnya dia juga merasakan hal yang sama?


Gunung Pangrango, Juli 2007

Tiba di suatu hari, akhirnya semua terjawab sudah. Dia memilihku menjadi pendampingnya. Untuk mengarungi hidup bersama dalam bahtera rumah tangga. Menjadi teman dalam susah dan senangnya. Bersama berjalan menapaki masa depan menapaki jalur-jalur kehidupan, dan… bersama berjalan di suatu pagi yang dingin di hutan Pangrango.


Kami, Aku dan dia berjalan bersusulan. Menyusuri jalur setapak menuju puncak Pangrango. Hati bahagia penuh dengan rasa syukur. Kini dia menjadi bagian dalam hidupku. Seseorang itu, kini telah datang dan mengisi hari-hariku. Do'aku di Kerinci telah terkabulkan. Salah satu bintang yang melaju itu, kini hadir di sisiku.

Dan seperti perjalanan ke tempat lainnya. Kali ini Aku lebih merasakan cinta yang lebih besar. Energi itu mengalir kepada setiap apa pun yang kutemui. Terutama kepada dia, teman seperjalananku. Menatap bersama hutan Pangrango yang rimbun, menapaki jalur menanjak yang curam, hingga kami tiba di lembah kasih lembah Mandalawangi. Lalu tertegun di hamparan bunga edelweis yang bermekaran.

Mandalawangi – Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
"Terimalah dan hadapilah."
Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup


    Di lembah Mandalawangi, Hatiku hanyut dalam puisi-puisinya Soe Hok Gie. Membayangkan sepercik debu jasadnya yang ditabur di lembah ini. Seperti Soe Hok Gie dalam puisinya itu, Aku juga cinta padamu Pangrango. Karena aku cinta pada perjalanan hidup. Perjalanan saat menuju ke dalam dekapan damai hutan-hutanmu. Ke dalam belaian lembut padang edelweismu.
     
Batam, 22 Mei 2012


    Masih terngiang puisi Soe Hok Gie lainnya, yang sama menyisakan sebuah tanya. Untukku, untuk hari-hariku ke depan dan seterusnya.

    “Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. Apakah kau masih berbicara selembut dahulu, memintaku minum susu dan tidur yang lelap? Sambil membenarkan letak leher kemejaku.
    Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi. Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin.
    Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu? Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat. Apakah kau masih akan berkata kudengar detak jantungmu? kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta.”

    Aku menatapnya dalam tidur lelap. Seperti itu, seperti tanya itu yang berkelindan dalam fikiranku. Lagi, batinku hanya sanggup berkata

"Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti hujan kepada awan, seperti daun kepada ranting, seperti ombak kepada lautan, dan…seperti pohon kepada hutan."

Tulisan di atas pernah menang di Lomba Love Journey yang diselenggarakan Blogger-blogger Multiply dan Alhamdulillah telah dibukukan.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...