Selasa, 18 September 2012

(FLP KEPRI) Basic Training Writer


                                                                                                      May 8, '06 9:13 PM
File MP for everyone

Pelatihan Menulis Sehari

Hari Minggu, 7 Mei 2006 kemarin FLP Kepulauan Riau sukses menggelar acara pelatihan menulis di Wisma Batamindo Muka Kuning Batam. Peserta pelatihan dibatasi hanya 200 orang saja mengingat kapasitas ruangan yang terbatas. Padahal sampai pada hari H nya masih banyak yang ngantri daftar. Dengan memasang wajah sedih Saya dan rekan-rekan FLP pun terpaksa bilang "Maaf Mba, Maaf Mas sudah tidak bisa lagi".

Acara pelatihan ini Insya Allah akan digelar secara berkelanjutan oleh FLP Kepri sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang diemban organisasi ini dalam rangka mencerdaskan kehidupan masyarakat. Setidaknya itulah yang sempat terfikir oleh saya selaku salah satu Pengurus Wilayah FLP Kepri. Mungkin ada hal lain yang lebih mulia lagi yang diemban oleh Mba Nurul F Huda selaku Ketua umum FLP Kepri serta teman-teman pengurus FLP lainnya. Namun untuk saya sendiri, gabung ke FLP adalah sebuah anugerah. Betapa tidak karenanya saya berubah. Karenanya saya mendapatkan banyak ilmu, hikmah, dan daya ubah. Ya saya berubah. Tanpa merasa digurui atau dicekoki. Terima kasih Mba Helvi, Mba Asma, dan Uni Mutmainnah. Semoga kehadiran FLP di dunia menjadikan barakah bagi semua. Khususnya bagi bangsa Indonesia yang sedang terpuruk. Semoga saja kehadiran FLP bisa menjadikan bangsa yang sedang sakit ini menjadi bangsa yang cerdas. Ya cerdas karena banyak membaca, cerdas karena banyak mendengar, melihat, mengamati dan tentu saja Me...nu..lis.

Apa sih hubungannya gemar menulis dengan kecerdasan? Ya ini mah sekedar pendapat saya aja sih. Tentu saja gemar menulis dengan kecerdasan ada kaitannya. Seorang penulis, seperti yang dituturkan oleh Mba Nurul, ia akan menggunakan kedalaman hati dalam menulis. Dengan kata lain ia tentu saja tidak sembarangan menulis. Perlu pemahaman yang mendalam tentang alam sekitar, tentang lingkungan, tentang masyarakat, dan tentang apapun yang akan dia tulis. Ya, dalam menulis tentu saja perlu kedalaman pemahaman. Sehingga wajar saja para penulis itu rata-rata cerdas.

Apa sih resep jitu untuk menulis? Gampang saja pakailah rumus 3M. Sekilas mirip tips dari Aa Gym ya atau mungkin mirip iklan pemberantasan sarang nyamuk DBD). Tapi 3M ini tentu saja bukan keduanya, 3M yang dimaksud di sini adalah tiada lain tiada bukan kecuali Menulis, Menulis, dan Menulis. Ya menulislah terus. Itupun yang pernah dipraktekkan oleh Joni Ariadinata. Seorang Joni, menulis 600 buah cerpen yang kemudian dikirimkan secara terus-menerus ke Kompas namun semuanya ditolak. Baru pada cerpen yang ke-601 cerpennya dimuat. Sekaligus menjadi yang terbaik dalam Antologi Cerpen Kompas saat itu. Kalau saja kita, mungkin baru 2 atau 5 cerpen yang ditolak alamat nggak bakalan lagi menulis alias kapok bin jera saudaranya malas bin jemu serta frustasi dan sepupu-sepupu lainnya.

Resep selanjutnya, tentu saja MEMBACA. Membaca akan terus menambah wawasan sekaligus mengasah ketajaman berfikir. Menambah kosa kata, dan memperkaya cakrawala pandangan kita. Dengan membaca ternyata membuat segalanya akan menjadi mudah bagi kita.

Resep Lainnya, banyaklah jalan-jalan melihat keragaman kehidupan. Naik gunung, berlayar, tamasya ke tempat rekreasi, bersilaturahmi dengan teman-teman di luar daerah, atau kemana saja tempat yang ingin kamu kunjungi. Dan tentu saja harus menulis. Tulislah apa yang kamu lihat, kamu dengar, dan kamu rasakan. Tulislah dengan kedalaman hati. Tulislah dengan kedalaman berfikir. Ya mulailah menulis. banyak-banyaklah berteman dari kalangan manapun. Dan terakhir banyak-banyaklah menulis. Ya menulis lagi-menulis lagi.
Mungkin selalu itu yang selalu dipesankan oleh penulis-penulis senior kita. Mba Helvi Tiana Rosa, Mba Asma Nadia, Teh Pipiet Senja, bahkan Alm. Pramudya Ananta Toer.

Ya gara-gara pelatihan ini pun saya jadi semangat sekali untuk menulis. Begitu banyak peristiwa-peristiwa dulu yang masih terkenang yang belum sempat saya tulis. Masih banyak sekali cerita seru yang belum tertulis. Gunung, Laut, Desa, Kota, teman, keluarga, dan lainnya satu per satu bermunculan menjadi ide. Begitu banyak ide. Tapi penaku cuman satu. Waktuku hanya sisa-sisa. Sisa kerja, sisa overtime, sisa tidur, dan sisa malas.
Memang, menulis tidak mudah. Dibutuhkan komitmen dan harus konsisten. Janji sama diri sendiri tentu saja harus ditepati. Yap... Lina!! mulailah menulis. Menulis. Dan Menulis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...