Sabtu, 22 September 2012

Kaum Pria Masuk Gua, Kaum Wanita Berbicara


                                                                                                                            Dec 10, '06 6:56 AM
                                                                                                                            File MP untuk semuanya
Salah satu perbedaan paling besar antara pria dengan wanita adalah cara mereka menghadapi stress. Pria jadi semakin memusatkan perhatian dan menarik diri, sementara wanita semakin bingung dan terlibat secara emosional. Pada saat-saat seperti ini, kebutuhan pria akan rasa nyaman berbeda dengan kebutuhan wanita. Pria akan merasa lebih baik dengan memecahkan persoalan, sementara wanita akan  merasa lebih baik dengan membicarakan persoalan-persoalan itu. Tidak memahami dan menerima perbedaan-perbedaan ini akan menciptakan gesekan yang tidak perlu dalam hubungan–hubungan kita.

Dalam bukunya yang laris manis "Men are from Mars Women are from Venus" John Gray memberikan gambaran yang jelas tentang sisi-sisi yang harus disikapi jika pria dan wanita dalam keadaan marah atau stress.

Bila sedang marah penduduk Mars (Kaum Adam) tidak pernah membicarakan  apa yang merisaukan hatinya. Ia tak pernah membebani rekannya  dengan masalah-masalahnya, kecuali jika bantuan sahabatnya itu diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebagai gantinya, ia jadi sangat pendiam dan pergi ke gua pribadinya untuk merenungkan masalahnya, mengunyahnya terus-menerus untuk mencari penyelesaian. Setelah menemukan penyelesaian, ia merasa jauh lebih enak dan keluar dari guanya.

Bila mengalami  ketegangan, pria akan menarik diri ke gua pikirannya dan memusatkan perhatiannya untuk memecahkan persoalan. Biasanya ia akan memilih persoalan yang paling mendesak atau yang paling sulit. Perhatiannya jadi begitu terpusat pada pemecahan masalah itu, sehingga untuk sementara ia kehilangan kesadarannya tentang hal-hal lain. Masalah-masalah dan tanggung jawab lainnya surut ke latar belakang.

Pada saat-saat demikian, ia jadi semakin menjauh, pelupa, tidak tanggap, dan terkungkung dalam hubungan-hubungannya. Misalnya ketika bercakap-cakap dengan dia di rumah, tampaknya hanya 5%  pikirannya tersedia untuk hubungan tersebut, sementara yang 95% masih terpusat pada persoalan.

Kesadaran penuhnya tidak hadir karena ia sedang mencerna kesulitannya, berharap bisa menemukan penyelesaian. Semakin tegang, semakin tercekam ia oleh kesulitan itu. Pada saat-saat semacam itu, ia tak sanggup memberi perhatian dan perasaan yang biasanya diterima oleh si wanita dan tentu saja layak baginya. Pikiran pria itu penuh sesak, dan ia tak berdaya untuk melepaskannya. Namun setelah menemukan penyelesaian, dengan segera ia merasa jauh lebih baik. Ia akan muncul dari guanya, dan tiba-tiba bisa menjalin hubungan lagi.

Jika tak dapat menemukan pemecahan, pria itu akan terkungkung di guanya. Ia melakukan hal-hal kecil untuk melupakan kesulitan-kesulitannya, misalnya membaca surat kabar, menonton televisi, mengemudi mobil, berolahraga, menonton pertandingan bola, bermain basket, dan seterusnya.. Dengan melepaskan pikiran dari masalah-masalah hari itu, lambat laun ia dapat beristirahat. Bila ketegangannya sangat besar, ia perlu melakukan sesuatu yang lebih menantang, seperti balap mobil, ikut pertandingan, atau mendaki gunung. (Nah lho...yang naik gunung kesebut juga tuh!!! hati-hati bukan lagi marah atau stress kan?) Hari berikutnya ia dapat mrngarahkan kembali pusat perhatiannya kepada masalahnya dengan lebih berhasil.

Yah begitulah kata Abang John, Makacihhh ya Bang jadi tau gimana harus menyikapi kaum Bapak kalau lagi marah atau stress. Hehehe....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...