Kamis, 15 November 2012

Buku Tempat Saya Berbagi Tanya


                                                                                                                               May 30, '12 5:13 AM

            "Books are the compasses and telescopes and sextants and charts which other men have prepared to help us navigate the dangerous seas of human life." Jesse Lee Bennett.

      Menurut kamus besar bahasa Indonesia buku adalah lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong sedangkan  menurut  ensiklopedia bebas Wikipedia buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman.

      Dari berbagai sumber yang menguak sejarah tentang buku, buku pertama disebutkan lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas dari daun papyrus. Kertas papyrus yang berisi tulisan ini digulung dan gulungan tersebut merupakan bentuk buku yang pertama. Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak ditemui di tepi sungai Nil Mesir.
  

 
      Pada perkembangan selanjutnya di awal abad pertengahan gulungan papyrus digantikan oleh gulungan kulit domba yang terlipat yang dilindungi oleh gulungan kulit kayu yang keras yang dinamakan codex. Kemudian orang-orang Timur Tengah menggunakan kulit domba yang disamak dan dibentangkan yang disebut perkamen yang mudah dilipat dan dipotong. Dari inilah bentuk awal dari buku yang dijilid.

      Perkembangan buku mengalami kemajuan yang pesat setelah ditemukannya kertas oleh  Ts’ai Lun berkebangsaan Cina yang hidup sekitar tahun 105 Masehi. Hingga sekarang kertas belum tergeser oleh materi lainnya. Makin hari kertas semakin mengalami berbagai penyempurnaan. Sehingga sangat berpengaruh terhadap kualitas buku yang dihasilkan sekarang. Semakin beragam, unik dan menarik.

      Pergilah ke toko buku, maka anda akan temui berbagai macam buku yang menarik memanjakan mata. Semua hal dalam sisi kehidupan rasanya sudah ada dan terwakili oleh buku. Jika anda menginginkan sesuatu bacaan  yang tidak ada maka seharusnya andalah yang menuliskannya. “If there's a book you really want to read but it hasn't been written yet, then you must write it.”  Toni Morrison.

    Bagi para pembacanya, buku laksana obat yang mujarab. Begitu banyak guna dan manfaat yang diterima. Menjadi solusi bagi sebagian besar permasalahan yang ada. Tempat yang nyaman untuk mengintip dunia melalui lembaran-lembarannya. Buku terkadang membuat orang menangis dan tertawa. Buku juga mampu menyihir pembaca untuk melakukan hal-hal yang radikal dalam hidupnya. Helen Exley mengatakan “Books can be dangerous.  The best ones should be labeled this could change your life.”

      Anda juga mungkin sudah merasakan bahwa dengan membaca buku fikiran anda jadi terbuka dan banyak menemukan hal-hal baru yang bahkan anda sendiri tidak tahu sebelumnya. Nah begitulah cara kerja buku. Otak  akan terus dirangsang dan distimulasi dengan input-input yang masuk melalui mata lewat tulisan. Menjadikan otak dan fikiran bekerja sesuai dengan fungsinya. Mengaktifkan dan menghubungkan sel-sel otak sehingga  membuat pembacanya menjadi cerdas dan berilmu.

    Jika Anda stress, susah tidur  atau kurang konsentrasi pada sesuatu maka bacalah sebuah buku. Terutama buku-buku yang mengandung banyak hikmah, motivasi dan tuntunan hidup. Karena keindahan gaya bahasanya sanggup menenangkan fikiran yang galau dan buntu. Begitu juga tutur lembut dalam penulisan kata-katanya akan mampu menyirap anda untuk tidur secepatnya. Jika tidak percaya maka berbaringlah di kasur dan bacalah buku. Maka esok hari  anda baru akan terbangun.
   
      Dengan sering membaca seseorang dapat mengambil banyak manfaat dari pengalaman orang lain, seperti meniru, meneladani kebaikan dan kearifan yang dicontohkan oleh pengarang atau tokoh yang diceritakan oleh buku tersebut.
   
     Membaca buku juga membantu seseorang untuk menguasai berbagai macam kosakata dan tata bahasa sehingga ia dapat mempraktekkannya melalui tulisan. Membaca dan menulis bagai adik dan kakak. Karena dengan rajin membaca cenderung memudahkan seseorang untuk menulis. Jika anda bercita-cita menjadi penulis, maka membacalah terlebih dahulu. Kuasai berbagai susunan kata dan kalimat sehingga tulisan anda kelak dapat mudah dicerna oleh pembaca.

   
      Sebuah nash yang dinisbatkan kepada sahabat Nabi  mengatakan “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Ini menyiratkan betapa ilmu yang diturunkan dari generasi ke generasi akan terikat abadi melalui tulisan atau buku. Di zaman yang sudah melampaui abad milenium ini kita masih bisa membaca karya-karya agung para pemikir  yang lahir  berabad-abad yang lalu bahkan abad sebelum masehi. 

“In books lies the soul of the whole Past Time: the articulate audible voice of the Past, when the body and material substance of it has altogether vanished like a dream.” Thomas Carlyle.

   
    Buah karya manusia sebelum abad masehi bisa dicontohkan melalui buku  filsafat dan teori politik karya filsuf Yunani, Plato, yang berjudul asli Politeia atau diterjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia menjadi Republik. Buku ini ditulis sekitar tahun 360 SM. Walau sudah berabad usianya buku ini masih menjadi rujukan dan menjadi dasar dari ilmu politik di dunia.
   
    Dalam bidang matematika dunia mengenal al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-gabr wa’l-muqabala yang dalam bahasa Inggris  dikenal sebagai The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing. Buku yang menjadi peletak dasar matematika modern dimana istilah aljabar mulai dikenal. Buku monumental karya seorang ilmuwan Muslim yang bernama Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi pada abad ke-9 M.
   
      Begitu juga dalam bidang lainnya seperti kedokteran, ekonomi, sosiologi, astronomi, para ilmuwan menurunkan ilmunya melalui buku. Menyebarkan hikmah, idealisme dan pengetahuan melalui tulisan. Hingga tiba gilirannya kepada kita. Apakah kita juga akan mewariskan hal yang sama kepada generasi selanjutnya? Tergantung Anda.
   
      Bagi Saya sendiri  buku adalah sahabat. Tempat berbagi dan bercerita. Tempat bertanya dan mengadu. Tempat mengeluh dan berharap. Buku adalah alat satu-satunya yang dapat menyelamatkan Saya dari semua kekacauan dan kebingungan dikala Saya mati gaya. Biasanya kalau bepergian Saya membawa satu buah buku untuk dibaca. Entah itu di mobil, saat mengantri di bank, atau pada saat mati lampu di tempat kerja, buku adalah satu-satunya pelarian yang sangat bermanfa’at. Bukulah yang sejak dulu hingga kini setia menemani hari-hari Saya dikala sibuk maupun senggang.


    Bukulah tempat Saya bertanya. Ketika bingung untuk memutuskan segera menikah atau tidak, Saya membaca Menikahlah Maka Engkau Menjadi Kaya buah karya A. Mudjab Mahalli. Di kala sedih Saya segera membaca La Tahzan Dr. Aidh Al Qarni. Dikala gundah Saya membaca Al Qur’an dan terjemahan kitab Al Hikam.
   
    Buku juga pernah membuat hati Saya teriris ketika membaca Totto Chan’s Children Tetsuko Kuroyanagi dimana di situ ditulis 14 juta anak di bawah lima tahun meninggal setiap tahunnya. 1 juta manusia terbunuh di Rwanda karena perang antar suku. 4 ribu orang meninggal dalam perjalanan mengungsi di Sudan. Serta berbagai kisah pilu anak-anak korban perang di negara lainnya.

    Buku membuat Saya merasakan sulitnya bernafas di zona kematian ketika membaca Into Thin Air Karya Jon Krakauer dan Touching The Void -nya Joe Simpson. Buku juga membuat Saya kecewa setelah membaca Sejarah Muhammad karya Karen Amstrong karena dia menganggap wahyu yang diturunkan kepada nabi adalah hasil pergaulan nabi dengan seoran Rabi Yahudi.
   
    Buku membuat Saya melanglang ke India melalui Taj Mahal karya  John Shors, mengunjungi berbagai negara melalui The Naked Traveler-nya Trinity juga merasakan pahit getirnya kehidupan di Palestina melalui Army of Roses Barbara Victor. Mengunjungi Afganistan melalui Selimut Debu juga menelisik negeri-negeri Stan pecahan uni soviet melalui Garis Batasnya Agustinus Wibowo.
   
    Buku membuat Saya menyelami masa kejayaan Majapahit melalui Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Saya jadi mengenal Pulau Belitung melalui Laskar Pelangi, Padang Bulan, dan Cinta di Dalam gelasnya Andrea Hirata.

    Buku jugalah yang membuat perencanaan keuangan Saya menjadi cermat gara-gara Rich Dad Poor Dad  Robert T. Kiyosaki dan Cara Cerdas Berkebun Emasnya Rulli Kusnandar.
   
    Ketika bingung mau masak apa di dapur Saya membaca buku tentang Hidangan Sehari-hari. Ketika ingin menghiasi halaman dengan bunga-bunga maka kami membeli majalah Flora dan Fauna Garden. Bahkan mau mengecat rumah sekali pun Saya dan suami sengaja membeli majalah Rumah.

    Di saat anak Saya lahir Saya kemudian memupuk pengetahuan dengan membeli buku Dahsyatnya Otak Anak Usia Emas oleh Ecka W. Pramita. Ketika bingung membagi waktu antara kerja dan anak maka Saya membaca Saat Berharga Untuk Anak Kita karya Mohammad Fauzil Adhim.

    Lalu baru-baru ini Saya jadi berempati kepada PLN walaupun listrik di rumah sering mati  gara-gara membaca Dua Tangis Ribuan Tawanya Dahlan Iskan.

Buku dan buku. Saya bertanya pada buku. Mencari tahu lewat buku. Dan mengeluhkan sesuatu pada buku pula. Buku membuat fikiran Saya terbuka dan lebih peka. Sekurang-kurangnya Saya jadi tahu apa yang mesti dilakukan ketika menemukan suatu permasalahan yang dihadapi walaupun jauh dari orang tua dan saudara.
   
Akhir kata, Mari hiasi rumah kita dengan buku. Penuhi dan jejali otak kita dengan bacaan-bacaan bermutu melalui buku. Wariskan kepada anak-anak kita kelak buku yang akan menuntun mereka ke kehidupan yang lebih baik. “A house without books is like a room without windows.” Heinrich Mann.


Let books be your dining table,
And you shall be full of delights
Let them be your mattress
And you shall sleep restful nights.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Mozaik Blog Competition

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...