Minggu, 11 November 2012

Catatan Perjalanan Gunung Pusuk Buhit 3 (Tamat)

        
Menuju Titik Daki

        15 menit kemudian Kami diturunkan di pemandian air panas Siogung-ogung. Dari pemandian ini  pendakian ke Gunung Pusuk Buhit bermula. Walau sempat dikagetkan oleh gonggongan dua ekor anjing yang bersahutan dan sangat berisik, Kami tetap berusaha naik, mencari alternatif jalan yang aman. 

            “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.” Bisik Saya kepada Lastri. Dalam hati dag dig dug tak karuan. Aduh, nggak kebayang deh anjing-anjing ganas itu tiba-tiba menerkam Kami dari belakang. Betapa malunya Kami seandainya pulang ke Batam bukannya membawa oleh-oleh tapi membawa luka di kaki karena gigitan anjing. Jauh-jauh pergi jalan-jalan kok malah sial digigit anjing :D

            Walau sudah menghindar agak jauh, anjing-anjing itu terus mengejar dan membuntuti Kami. Hingga akhirnya Saya dan Lastri harus mengibarkan bendera putih, menyerah tanpa syarat dengan menjerit-jerit memanggil si empunya anjing. Duh rasanya malu banget dandanan sudah seperti preman dengan menggemblok ransel besar di punggung namun menjerit-jerit takut anjing.

Di antara Batu Cadas

            Setelah sekian lama Kami digonggong anjing, sang pemilik rumah baru keluar. Ajaib, hanya dengan satu teriakan saja anjing-anjing itu langsung terdiam, beringsut pelan lalu duduk manis memperhatikan kepergian Kami. Huh, akhirnya bisa terbebas. Rasanya Saya ingin menjulurkan lidah kepada anjing-anjing itu. Weeeew! Nyaho Loe!

            Yes, the journey begin. Kami mendaki menaiki batu-batu cadas terjal nan rapuh diselingi sungai-sungai kecil berair hangat yang mengandung belerang. Sesekali melompat menghindari asap yang mengepul dari rongga-rongga cadas. Waahh… baru tahu ternyata gunung ini termasuk gunung berapi juga.

            Hampir 2 jam naik turun bukit yang sangat terjal dan terbuka, Kami sampai di batas vegetasi. Di hadapan terhampar luas padang savanna, terbentang bak permadani hijau yang menutupi seluruh kontur perbukitan yang mengelilingi puncak gunung. Fikiranku melayang ke masa kecil dulu, membayangkan Saya bermain berlari-larian bersama Laura di film Little house on the Praire.

Bukit Savanna

            Di sebrang punggungan bukit terlihat tanah dan pohon-pohon menghitam. Bekas terjadinya kebakaran. Sangat disayangkan. Ulah manusiakah itu? Semoga saja bukan. Cuaca yang kering di sini bisa saja memicu terjadinya kebakaran. Saya dan Lastri saja sudah kelimpungan menahan sengatan panas yang menembus ubun-ubun. Syukurlah Saya tidak lupa membawa payung sehingga bisa sedikit mengurangi sengatan panas.


Jatuh di Jurang

            Kami terhenti di suatu tepi jurang. Tak ada jalan lain lagi untuk sampai ke puncak gunung selain menuruni jurang tersebut lalu menaiki bukit lainnya disebrang. Karena tetap buntu, akhirnya Kami nekat menuruninya. Keril (Ransel) Kami lempar terlebih dahulu ke bawah kemudian Saya merayap pelan-pelan menyisir tepi jurang. Sementara Lastri masih di atas menunggu giliran turun.

            Setelah menemukan pijakan yang cukup untuk berdiri,  Saya berhenti di tengah-tengah jurang lalu memberi aba-aba kepada Lastri untuk menyusul ke bawah. Tiba-tiba Lastri terpeleset dan hilang keseimbangan. Ia meluncur terjun bebas. Sementara di bawah, batu-batu terjal menunggu. Kami berdua menjerit. Dengan refleks tangan Saya meraih badan Lastri yang melesat tepat di samping Saya.

            Beberapa saat Kami terpaku. Gemetaran lalu menarik nafas dalam-dalam. Seandainya Lastri terus meluncur ke bawah bagaimana? Kami bergidik membayangkannya. Ya Allah, terima kasih hal itu tak terjadi. Kalau sampai Lastri kecelakaan, waduh Saya yang kurus kering begini rasanya tak akan sanggup membopong bahkan memapah badannya yang tinggi besar. Siapa juga yang akan berkeliaran di daerah antah berantah seperti ini kecuali orang-orang sableng seperti Kami. Ya, tentu saja akan sangat sulit mendapatkan pertolongan orang lain karena tempat ini jauh dari keramaian. Syukurlah Lastri masih bisa berjalan walau tampak kesakitan. Perjalanan menuju puncak masih dapat Kami lanjutkan.

            Vegetasi mulai berubah. Kini di sekeliling hanya ditumbuhi ilalang dan pakis setinggi dua meter sehingga susah mendapatkan orientasi ke puncak gunung. Sementara jalur pun tak ada, Kami hanya menerabas masuk ke rimbunnya ilalang. Sesekali menemui kotoran babi dan lorong panjang bekas celeng-celeng itu berlari.

            Di beberapa titik, pohon cemara tumbuh satu-satu. Lumayan sebagai penanda saat Kami kehilangan arah. Terkadang cemara itu menjadi tempat berteduh dari teriknya matahari yang membakar ubun-ubun. Sungguh perjalanan yang menguras energi namun melatih kesabaran.

Apakah itu Kebun Ganja?

            Tiba-tiba Kami melewati satu bukit, dibaliknya terlihat sebuah gubuk. Di sekelilingnya terhampar tanaman yang asing dan aneh. Tersusun rapi membentuk garis-garis lurus. Sayuran bukan palawija juga bukan. Jadi tanaman apakah itu?

            “Jangan-jangan.... “ Saya dan Lastri saling pandang.
            “Gaaan...jaaa?” Kami berdua serempak menyebutnya. Oooh tidaaaakkk!!!
            “Waduh gimana dong?” Saya menatap Lastri yang kebingungan.
            “Iya Teh kayaknya mirip deh.” Kata Lastri setengah berbisik.

            Semua keraguan berkecamuk dalam hati dan fikiran. Kami tidak yakin dengan kesimpulan sendiri. Lahan di bukit-bukit paling bawah saja masih kosong belum tergarap. Kalau berladang kenapa juga sampai jauh-jauh di balik bukit. Lagi, kenapa cuma itu saja satu-satunya ladang, tak ada yang lainnya. Tersembunyi dari peradaban manusia. Jauh masuk ke dalam badan gunung berjam-jam berjalan kaki dari desa terakhir Kami berangkat. Tempat ini sepertinya dirahasiakan. Huuh... tidak masuk akal sekali. Saya mendadak pusing mencari-cari jawaban yang tepat untuk sebuah alasan dari pertanyaan “Kenapa ladang ini bisa berada di sini?”

            Kami mengendap-ngendap menghindari lokasi itu. Ya, Kami tetap harus waspada. Ini di gunung Bung! Siapa juga yang akan menolong Kami jika dari dalam gubuk itu muncul para lelaki yang bersenjata dan merasa terancam oleh kehadiran dua kurcaci nekat ini, lalu tiba-tiba menawan atau menembak Kami. Dor! Habis sudah, tamatlah riwayat Kami.

            Setelah dirasa cukup aman, Kami beristirahat sejenak di bawah pohon cemara gunung. Matahari semakin terik. Wajah Kami mulai memerah persis udang goreng. Kepala mulai terasa puyeng nyut-nyutan, mungkin kena gejala dehidrasi dan overheat  karena otak mulai mendidih terbakar matahari.

             Kami berjalan susul menyusul. Namun lama kelamaan Lastri tertinggal jauh di belakang. Sesekali Saya berhenti dan menghadap ke belakang. Tepat di bawah sana pemandangan sungguh spektakuler. Kondisi yang terlihat kontras, sementara gunungnya hanya ditumbuhi ilalang dan pakis, nun jauh di lembah-lembah sana terlihat petak-petak sawah dan ladang sayur-mayur yang tumbuh subur. Danau Toba pun terhampar biru menggantikan tugas langit yang hari itu memutih tertutup awan.

Sebuah Lembah

            Lastri tiba di samping Saya, angin mulai menerpa kencang. Menampar-nampar wajah yang sudah berlumur peluh, membawa serbuk-serbuk pakis yang kering yang menyusupkan pedih di mata.

            "Teh, sebenarnya Aku  sudah nggak kuat lagi namun dari bawah Aku lihatin Teteh naik terus, jadi Aku  tetap semangat buat nyusul. Masa Teteh yang badan kecil gitu saja bisa, Aku yang besar gini nggak bisa." Kata Lastri. Mendengar itu Saya jadi terharu, betapa Lastri mempunyai semangat yang kuat, secara dia sudah jatuh di jurang tadi. Dan Saya yakin ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya, karena sebelum tertangkap tangan, badannya sempat tergesek bebatuan di jurang.

            Perjalanan dilanjutkan. Perkiraan Kami, waktu tempuh pendakian hingga ke puncak sekitar 2 jam-an. Dan ternyata telah meleset jauh. Bahkan perjalanan sudah menempuh waktu 4 jam, puncak gunung belum juga tergapai. Padahal dari awal pendakian, Puncak gunung Pusuk Buhit selalu terlihat dan sepertinya sudah dekat. Namun berjam-jam berlalu puncak makin terasa menjauh.

Menggapai Puncak

            Saya terus melangkah, rasa linglung dan sakit kepala mulai menyerang. Sepertinya Saya dis-orientasi. Percakapan-percakapan dengan para penumpang mobil Sampri  terngiang lagi. Begitu juga dengan ucapan bapak-bapak dan penduduk lokal lainnya yang Saya temui di hotel Wisata di Pangururan . Semua menyarankan agar Kami berhati-hati karena gunung ini masih berbau mistis. Dari sinilah asal muasalnya suku Batak. Penduduk sekitar gunung ini pun masih banyak yang menganut aliran-aliran kepercayaan animisme dengan memuja roh-roh dan pepohonan.

Kawasan Puncak

            Jalur semakin tinggi dan curam, di suatu sadel perbatasan bukit dengan bukit lainnya Saya mulai memperhatikan sesuatu yang samar-samar. Di tebing bukit sebelah kiri jalur, terdapat sebuah batu besar yang kalau diperhatikan dengan detail mirip sekali dengan pahatan kepala manusia, menyerupai pahatan patung-patung raksasa kepala Presiden Amerika Serikat di Gunung Rushmore Dakota Selatan Amerika.

            Semakin mendekat, Saya semakin takut. Berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Saya memang salah lihat. Tak mungkin pahatan batu sebesar ini tak ada orang yang tahu. seharusnya jika  mata Saya benar, tempat ini sudah ramai dengan turis. Minimal ada sedikit pemberitaan di media. Biarlah mata Saya yang berhalusinasi dan Saya tetap menyimpannya rapat-rapat dalam memori. Membidikkan kamera saja sungguh Saya tak berani. Rasanya baru kali inilah merasa benar-benar takut di siang bolong.

            Beberapa saat kemudian Saya tiba di puncak. Suasana sepi  namun mencekam. Hanya suara angin yang menderu menghempas pohon-pohon pinus di areal puncak yang datar. Saya menanti Lastri dengan harap-harap cemas.

View ke Arah Danau Toba

            Titik triangulasi ditandai oleh sebuah monumen bercat putih. Di atasnya terdapat cawan-cawan yang berisi pecahan botol bekas minuman beralkohol. Beberapa puluh meter ke bawah samar-samar terlihat areal yang bersih dan membentuk lingkaran serta liuk-liuk jalur yang mengarah ke lingkaran itu. Mungkin ladang penduduk, fikirku.

            Lastri akhirnya tiba. Kami berpelukan dan saling mengucapkan selamat. Pemandangan ke arah bawah sungguh luar biasa indahnya. Seandainya Kami cukup nyali, ingin rasanya berlama-lama di situ. Namun perasaan aneh menyelimuti fikiran. Ada rasa takut yang kemudian menjalar mempengaruhi nyali Kami. Cukup setengah jam saja Saya dan Lastri menikmati puncak lalu cepat-cepat mengambil foto hanya untuk dokumentasi. Setelah berfoto Kami langsung menuruni areal puncak namun memilih jalur yang berbeda dengan jalur yang dinaiki semula.

Lastri di Titik Triangulasi

            Entah apa yang ditakuti. Kami merasa ada yang terus mengawasi dan memperhatikan Kami. Walau berdoa sekuat hati meminta perlindungan kepada Allah SWT, Kami tetap merasa was-was. Kami hanyalah jiwa-jiwa perempuan yang lemah yang nekat entah oleh obsesi ataukah sekedar hobby. Sesuatu yang sulit untuk dijabarkan dengan arti dan kata-kata. Entahlah. Walau jauh di lubuk hati berbisik pernahkah si Poltak Ruhut Sitompul atau si cantik Nadya Hutagalung, atau bahkan Choky Sitohang berkunjung ke gunung nenek moyangnya ini?  

       Kami kemudian melewati  areal yang melingkar-lingkar di bawah punggungan puncak yang kalau diperhatikan dengan seksama persis seperti bekas lokasi turunnya UFO di film-film. Dengan ilalang-ilalang yang rebah membentuk pola-pola tertentu.

Altar Persembahan

            Kami menuruni puncak sekitar pukul 14.30. Tidak kembali ke jalur semula namun sengaja mengikuti jalur yang mengarah ke ladang yang membentuk lingkaran tadi. Semakin mendekat semakin jelas ternyata tidak ada ladang di situ hanya sebuah batu besar yang rata yang dikelilingi oleh tembok rendah. Tanah sekitarnya sudah diplester semen. Membentuk arah-arah menyilang seperti mengandung makna tertentu.

            Kami terpaku sesaat. Menyadari bahwa ini sesuatu yang penuh pertanyaan. Untuk apa batu ini? Mungkinkah ini batu pemujaan, sebagai altar, semacam menhir atau sarkofagus tempat persembahan seperti zaman-zaman dahulu kala? Bulu kuduk Saya langsung merinding, membayangkan seseorang terlentang di atas batu untuk dipersembahkan kepada roh-roh halus. Atau tiba-tiba dari balik bukit dan semak-semak mendadak berloncatan orang-orang yang melesatkan anak panah ke arah Kami. Lalu Sayalah yang terbaring di atas batu itu. Hiiiy, keadaan semakin spooky dan horror karena deru angin kian menjadi-jadi. Pepohonan di atas bukit pun berderak-derak bergesekan. Sementara ilalang di tanah lapang pun beradu berdesah-desahan.

Menuju Altar?

            Dengan langkah seribu, Saya dan Lastri segera cabut dari lokasi itu. Setengah berlari menjauh secepat mungkin. Takut terjadi hal yang tidak-tidak. Kami menuruni gunung dengan cara menerabas ilalang, tersaruk-saruk, dan bahkan terantuk batu. Kadang jatuh, kadang tersandung. Terasa begitu lama dan jauh untuk sampai di kampung terdekat. Setelah dua jam lebih, barulah Kami sampai di ladang penduduk.

            Masih bertanya-tanya dalam hati, untuk apa lokasi di atas tadi. Hhh… biarlah rasa penasaran itu mengendap dalam fikiran. Saya tidak berusaha bertanya kepada para petani yang sedang berladang. Rasa lelah dan capek mengalahkan segalanya.

            Setelah adu tawar, Kami menaiki motor petani yang sedang mengurusi sayurannya. Kebetulan mereka bersedia mengantarkan Kami dengan biaya yang cukup mahal. Tak apalah asal bisa secepatnya tiba di pemandian tempat Kami mendaki pertama kali.

            Jalan yang dilewati mengular menyusuri punggungan gunung. Tebing-tebing sangat curam. Kerikil-kerikil berhamburan tergilas ban motor. Plak…plak… menimbulkan gema di tepi jurang. Ngeri campur seru. Motor yang Kami tumpangi melaju kencang di jalan yang meliuk-liuk bak ular raksasa.

            Setelah ladang dan jurang-jurang, Kami melewati bangunan bernama Sianjur mula-mula. Bangunan yang dijadikan tempat peringatan asal-usul suku Batak. Pukul 17.30 sampailah di pemandian air panas Desa Siogung-ogung Pangururan. Mandi gratis dan pulang ke Hotel tempat menginap.

            Setibanya di hotel, Lastri merebahkan tubuhnya di kasur. Lalu telungkup. Ketika kuperiksa, punggungnya merah-merah persis seperti habis kerokan. Ia pun meringis kesakitan. Rupanya punggungnya tergesek bebatuan saat meluncur terjatuh di jurang tadi siang. Kasihan sekali.

            Dengan membawa sejuta kenangan dan keseruan perjalanan, keesokan harinya Kami meninggalkan Pulau Samosir dengan menyebrangi Danau Toba menggunakan kapal Ferry menuju Kota Prapat. Lalu melanjutkan perjalanan dengan bis menuju Pematang Siantar. Dari sana Kami mengendarai bis menuju Dumai hingga akhirnya menaiki kapal Ferry untuk kembali ke Pulau Batam.

Saran :

1. Dilarang keras karena membaca tulisan ini lalu meniru perbuatan Saya yang ngebolang hanya berdua saja apalagi sendirian ke tempat-tepat sepi seperti hutan dan gunung :)

2. Selalu katakan kepada orang rumah kemana tepatnya Anda pergi. Jika sesuatu yang fatal terjadi tim SAR akan mudah mencari.

3. Di zaman yang serba canggih ini Anda bisa up date terus posisi dimana Anda berada melalui google MAP, setidaknya menandai dimana Anda terakhir kontak dengan peradaban :)

4. Tetaplah bijak dalam memahami alam. Segala sesuatu di luar plan A, Plan B, atau Plan C, bisa saja terjadi kepada Anda. Berdoa terus semoga Anda diselamatkan dalam setiap perjalanan.

5. Happy mountaineering and Keep Writing!

Tulisan ini dapat dibaca juga di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...