Minggu, 11 November 2012

Guru dari Sebrang Danau


Dam Duriangkang
Langit masih tampak putih pagi itu. Sedangkan matahari tak menampakkan diri sedari tadi. Dua buah sampan dikayuh perlahan menyusuri danau yang nyatanya adalah waduk atau dam buatan seluas 23,4 kilometer persegi yang dibendung sekitar tahun 1999 guna mensuplai kebutuhan air warga Pulau Batam. Pohon-pohon tinggi seperti sedang berkaca, berdiri tegak bejejeran di tepi danau dan memantulkan refleksi yang sempurna. Eceng gondok tumbuh subur di sepanjang tepian danau. 2 orang penduduk terlihat asyik mencari ikan dengan menggunakan jaring. Di tengah danau 3 orang anak sedang bemain-main sambil mengayuh perlahan sampannya, meliuk-liukan sampan seperti sedang membuat manuver-manuver kapal perang.

Anak-anak Bermain Sampan
“Ayo belajar….” Teriak Bu Angel kepada 3 orang anak dalam sampan. Anak-anak itu cuma tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sampan yang ditumpangi Bu Angel terus melaju menuju sebuah pulau di tengah danau. Pulau yang berpenghuni sekitar 20 KK dengan  minim fasilitas apa pun.

Sampan yang ditumpangi Bu Angel dikayuh oleh seorang ibu-ibu penduduk pulau yang terlihat lincah dan cekatan. Beberapa kali sampan kandas tak bisa bergerak. Si Ibu pun harus rela turun ke danau mendorong sampan kemudian mengayuh kembali dayungnya. Semakin hari air danau semakin menyusut sehingga tak jarang di tengah-tengah danau sekali pun sampan kandas menabrak lumpur. Terlebih sampan itu sarat muatan.

View dari Pulau ke Arah Sebrang
Setibanya di Pulau, Bu Angel segera turun kemudian  membantu menurunkan barang bawaan yang lumayan banyak. Wajahnya terlihat bahagia karena hari itu ia akan membagikan hadiah kepada murid-muridnya di pulau. Hadiah berupa tas dan peralatan tulis yang masih baru sumbangan dari beberapa karyawan sebuah perusahaan di Batamindo Industrial Park Muka Kuning, sebuah kawasan industri yang tepat berhadapan dengan danau ini. Jaraknya hanya terpisahkan oleh dua buah jalur  jalan raya. Namun antara keduanya bagai dua alam yang berbeda, tak pernah saling bersentuhan. Berjalan sendiri-sendiri melalui alur waktu yang terus bergulir.

Rombongan Bu Angel kemudian menyusuri jalan setapak melewati semak belukar, kebun-kebun dan rumah-rumah penduduk yang tampak mengenaskan. Sebagian besar rumah-rumah tersebut hanya terbuat dari papan triplek dan beratap alang-alang.Guru yang ramah tersebut menebar salam dan senyum kepada setiap orang yang dilewatinya sambil tak henti-henti mengajak anak-anak yang ditemuinya untuk ikut bersama ke mushola tempat selama ini ia mengajar.
           
Bu Angel dan Anak Didiknya
“Ada hadiah dari ibu lho.... Ayo ikut yuk!” Ajaknya lagi kepada setiap anak-anak yang ditemuinya. Tak ayal anak-anak yang sedang di atas pohon pun lekas turun demi dilihat ibu guru kesayangan mereka datang.

Kawasan ini adalah wilayah konservasi dan hutan lindung yang dibuat sebagai wilayah resapan air jadi sebetulnya keberadaan penduduk di pulau ini adalah ilegal. Namun pindah dari wilayah ini pun sebuah dilema. Kemana? Sedangkan di luar sana, disebrang danau tak ada tempat tinggal yang gratis. Sementara pemerintah kota pun masih menutup mata terhadap kondisi mereka.

Anak-anak pulau ini pun kondisinya sangat memilukan. Hampir 90% tidak sekolah atau lebih tepatnya tidak disekolahkan oleh kedua orangtuanya. Penyebab utamanya adalah keterbatasan kondisi ekonomi karena mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Terkadang untuk makan nasi saja sangat susah.

Anak-anak sedang Berkumpul di Mushola
Hari itu anak-anak duduk melingkar di sebuah mushola yang baru dibangun. Bu Angel dengan penuh kasih sayang menyapa mereka lalu bersama-sama menyanyikan lagu anak-anak Islami sebagai penyemangat pertemuan saat itu. Kurang lebih ada sekitar 30 anak yang datang. Satu per satu mereka mengantri memperoleh tas dan alat tulis yang baru. Wajah mereka polos ceria. Khas anak-anak. Tentu saja tak pernah mereka bayangkan 10 atau 20 tahun ke depan apa yang akan terjadi pada masib mereka jika mereka tetap tidak bersekolah. Yang mereka tahu selalu saja ada seorang perempuan anggun berjilbab datang ke pulau itu lalu mengajarkan baca dan tulis.


Atas jasa Ibu Angel, dengan bantuannya menggalang dana dari donatur akhirnya ada beberapa anak yang disekolahkan ke sebrang  danau yakni ke daerah Tanjung Piayu. Namun itu baru satu dua orang anak saja, masih banyak anak-anak lainnya menanti untuk dibantu. Dan ia sendiri terus berjuang memutus rantai kebodohan itu dengan datang ke pulau dua hari dalam seminggu. Mengajarkan huruf-huruf abjad, angka-angka, dan merangkaikannya menjadi sebuah tulisan. Hal itu dilakukannya tanpa paksaan dan tanpa bayaran. Semuanya hanya bermodalkan tulus dan ikhlas. Niatnya hanya satu menyambung asa anak-anak yang tak sekolah itu, setidaknya mereka bisa membaca dan menulis walau tidak sekolah sama sekali. Jangan sampai mereka buta huruf hingga buta dalam membaca alur kehidupan ke depan.


Sambunglah asa mereka, karena mereka juga punya hak untuk sekolah walau hanya Sekolah Dasar!

1 komentar:

  1. Semoga Bu Angel tetap sehat dan semangat menjalani profesi mulia ini.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...