Kamis, 08 November 2012

Catatan tentang Seorang Kawan Bagian 4 (Habis)


Surat Lastri yang pertama datang di awal tahun 2006

Ia mengabarkan bahwa ia trekking ke Taman Nasional Gunung Leuseur sendirian. Ia disangka dan terus disangka mahasiswa oleh petugas TNGL di sana. Walau sudah mati-matian menjelaskan bukan mahasisiwa. Ia tetap dituduh Mahasisiwa atau dosen yang rendah hati. Secara yang ke sana hanyalah para peneliti luar negeri dan para akademisi. Semua orang tidak percaya bahwa ia hanyalah orang biasa-biasa. Ia bercerita tentang gunung Kemiri dan Bandahara di sekitar TNGL. Tak lupa menyelipkan foto salah satu gunung itu sebagai bukti.Saya Cuma ngiler baca tulisannya dan salut atas keberaniannya menjelajah sendirian. Gunung Leuseur adalah rencana petualangan kami lainnya yang tertunda.


Surat kedua Maret 2006
Ia mengabarkan sedang merintis usaha sendiri di rumahnya. Lastri juga marah karena pada balasan surat yang pertama Saya mengabarkan bahwa Agustus 2006 Saya akan mendaki Gunung Daik di Pulau Lingga. Serius nih mau ke Daik? Kenapa nggak dari dulu waktu Aku masih di Batam Teh? Curang nih Teteh.” Tulisnya di surat itu. Ia juga mengabarkan bahwa akan melakukan trip ke Gunung Kerinci dan Gunung Dempo. Ia pun membeli Atlas dan setiap menjelang tidur ia membaca dan memandangi petanya. Haha…mungkin sekalian berharap mimpi mendaki gunung-gunung di Indonesia kale ya. Wah kalau Saya mimpi naik gunung? males rasanya. walau hanya mimpi tetep saja badan terasa capek.


Surat ketiga, Desember 2006

Tadinya sich emang marah berat, soalnya Teteh udah lupa ngebalas suratnya. Tapi sekarang gak jadi dech. Trus kapan mau wedding partynya Teh? Oya kalau misalnya jadi sama Bang Ical honeymoonnnya ke gunung mana teh?” Glekk….itu dia yang bikin pusing. Urusan sama si dia di tahun ini tambah runyam. Rencana ke Daik kan udah dari dulu jamannya Aku masih di Batam, tapi kenapa baru naik sekarang? Teteh curang nih”. Seperti suratnya yang terdahulu Ia pun masih tetap nggak terima kalau Saya naik ke Gunung Daik tanpanya.


Surat keempat, Januari 2007

Jadi sekarang ceritanya Teteh lagi badmood gara-gara Bang Ical nunda-nunda gitu? Sabar aja Teh, mungkin Bang Ical pengen benar-benar siap lahir batin kalau nanti hidup berumah tangga. Jangan diburu-buru ntar Bang Icalnya malah kabur lagi”. Haha….panjang lebar Lastri nyeramahin tentang kekecewaanku sama si dia. Dan ia pun bercerita masih penasaran sekali dengan Gunung Sibuatan. Dimanakah berada? Waduh sebuah keinginan yang belakangan malah berubah jadi obsesi. Katanya ia akan berangkat untuk survey Gunung Sibuatan.


Surat Kelima, April 2007

Ia bercerita telah melakukan solo tarveling dalam pencarian mengenai letak gunung Sibuatan. Ia memulainya dari daerah bernama Tongging di sisi danau Toba Aku melihat sederetan gunung-gunung yang mengelilingi danau dan yang menarik perhatianku, ada satu gunung yang kelihatan lebih tinggi dari gunung-gunung di sekitarnya. Waktu kutanya ke salah satu pekerja penginapan, katanya itu hanyalah gunung biasa seperti gunung lainnya”. Sampai di sini, pencarian panjangnya belum membuahkan hasil. Wahai Gunung Sibuatan, Dapatkah kau mendengar suara hatinya? Seseorang telah merindukanmu bertahun-tahun lamanya?


***
Juli 2007 Saya menikah dengan seeorang yang pernah diceritakan sebelumnya. Lastri yang memang jauh di Kisaran Sumatera Utara hanya mengirimkan sms ucapan selamat, namun begitu mengharukan bagi Saya. Bahagia banget jadi teteh dapat soulmate impian sama-sama pendaki. Honeymoon ke gunung Teh? , pastinya Aku mo ngucapin Congratulation buat teteh dan Bang Ical, semoga bahagia sampai aki dan nini”. Aku hanya terpekur membaca smsnya. Iya, Aku harus bersyukur bahwa skenario-Nya sesuai harapanku dulu. Seseorang itu adalah lelaki yang menyukai gunung.


Surat keenam, Maret 2008

Ia mengisahkan perjalanannya ke daerah Mandailing Natal dimana di sana terdapat Gunung Sorik Marapi. Dengan ketinggian 2.145 mdpl.Namun karena ia hanya sendiri, perempuan pula, penduduk setempat tidak mengijinkannya untuk mendaki gunung. Ia diterima baik oleh kepala Desa dan warga, yang cuma mengijinkannya trekking di sekitar kaki gunung saja. Gunung ini sempat menjadi optionterakhir kami saat gagal mendaki Sibuatan, namun karena akses ke sana belum kami ketahui, akhirnya kami skip dulu. Mungkin suatu saat nanti. Dan Lastri sendiri melanjutkan rencana itu.


Surat ketujuh, Agustus 2008

Ini hasil survey mencari keberadaan gunung Sibuatan dan info dari beberapa teman di Medan yang udah pernah kesana. Simak ya :
Hari sabtu tepatnya tanggal 16 Agustus pukul 06.30 pagi Aku berangkat menuju Silalahi. (karena menurut peta atlasku Silalahi adalah yang terdekat dengan Sibuatan). Dingin, ngantuk (karena bangun pagi), sendiri, dan sedikit khawatir menemani perjalananku kali ini. Sampai di Silalahi pukul 15.30 setelah menempuh perjalanan 7 jam dengan beberapa kali ganti angkutan, Aku lewat Siantar) Walau Aku bawa peralatan namun karena gak ada lokasi camping ground akhirnya cari penginapan, dapat yang 70.000 per malam.
Setelah istirahat sebentar di penginapan, Aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar PLTA yang baru beroperasi + 2 tahun. Tetapi di sepanjang pinggiran danau Toba tidak terlihat ada gunung yang tinggi. Akhirnya Aku telpon temanku di Medan yang udah pernah ke sana. Menurut dia walau tidak mengatakan secara jelas dia naik ke sebuah tempat tinggi, dingin, tertutup, sakral, dan sering diadakan ritual. Di sana dia melihat begitu banyak edelweis yang bertaburan bagai padang rumput. Ia menyebutnya “Surga Dunia” karena pesona keindahannya. Ia juga bilang siapapun yang pernah ke sana DILARANG memberitahukan kepada orang lain. Itu sudah seperti perjanjian tidak tertulis (Berbeda dengan catatan anak Mapala lainnya yang memperbolehkan tempat itu dikunjungi siapa pun. Nah loh mana yang benar?
Waktu di daerah Merek Aku melihat sebuah gunung di kejauhan posisinya di sebelah kanan jalan seperti kata temanku. Sepertinya Aku tahu jalan masuknya. Temanku bilang gunung itu memang sakral, misterius, dan luar biasa indahnya. So, apa Teh Lina dan Bang Ical masih niat untuk menuntaskan “S” yang ketiga?
Sepulang dari sana Aku semakin penasaran dan bertekad harus ke sana lagi. Tapi untuk sendirian ke sana kayaknya gak mungkin banget. So, Aku tunggu janji Teteh dan Bang Ical untuk sama-sama mengunjungi Sibuatan dan membuktikan semua yang mereka katakan.”


Panjang lebar cerita di suratnya Lastri. Dan itulah surat terakhirnya, karena sepanjang 2009 – 2011 tak ada lagi surat-suratnya yang datang. Ia sesekali hanya berkirim sms dan telpon. Di tahun 2009 ini pun ia berkelana lagi sendirian menyambangi gunung Kerinci di Jambi untuk kedua kalinya.

Tahun 2010 saat ia sedang dalam perjalanan petualangannya, ia berkenalan dengan seorang lelaki. Walau lelaki tersebut bukan sesama pendaki gunung seperti yang selama ini didambakannya, Lastri menerima pinangan lelaki tersebut untuk menikahinya.
Betapa bahagianya Saya mendengar kabar tersebut. Lastri Menikah! Ya....Akhirnya penantian panjang itu berakhir juga.

Pertengahan tahun 2011 ia mengabarkan bahwa ia sedang hamil. Dan sedang menanti kehadiran sang buah hati. Saya ber-azzam akan membuat surprise untuk mengunjunginya kelak kalau ia sudah melahirkan bayinya.

10 Oktober 2011 Aku megirim sms kepadanya.Gimana kabarnya, sudah lahiran belum?”Balasan smsnya sungguh mengagetkanku.Sudah Teh dua malam yang lalu, tapi anakku meninggal pas lahir. Perempuan cantik Teh…..” ada rona kepedihan dalam tulisan sms-nya. 

Meninggal? Innalillahi…Kalau boleh tahu meninggalnya karena apa? Siapa tahu bisa jadi pelajaran buat ibu-ibu hamil lainnya” Dengan bahasa sehalus mungkin Aku mengirim sms lagi. Khawatir ia akan terusik. Tak lama balasannya sampai.Tenaga yang Aku keluarin cuma nyangkut di leher gak sampe perut, jadi pas mau keluar kepala anakku lama sangkut di lubang, tambah lagi pas keluar lehernya kelilit tali ari-ari sampe 3. Dari 6 bulan posisi anakku sering sungsang di perut teh, lahirnya normal.”

Berhari-hari Aku masih mengingat dan mengkhawatirkan Lastri. Sungguh cobaan yang sangat berat. Betapa sedih dan terpukulnya dia. Seorang calon ibu yang dengan susah payah selama 9 bulan menanti kelahiran bayinya. Makan, tidur, berjalan, dan segala aktivitasnya selama 9 bulan hanya tercurah untuk menjaga bayi dalam kandungannya dalam posisi nyaman lalu….begitu si jabang bayi lahir ia menyaksikan bahwa bayinya meninggal. Segala perjuangannya berakhir dengan kekecewaan. Aku pun sempat meneteskan air mata, tak kuasa menahan sedih. Pyuuhh... bagaimana dengan Lastri? seperti apa hancur hatinya.
Akhirnya kukirim lagi sms kepadanya Semoga Allah segera menggantinya dengan anak yang lebih cantik lagi”. Yah…Semoga Lastri segera mendapatkan penggantinya agar ia tidak terlalu merasa kehilangan. Tak berani membayangkan seandainya apa yang terjadi kepada Lastri terjadi kepada Saya juga, Saya segera bangkit dan memeluk putri Saya yang tengah asyik bermain. Menghujaninya dengan pelukan dan ciuman. "Ya Allah panjangkanlah usia anakku, beri ia kesehatan dan keberkahan dalam hidupnya." 



Selesai.

Awal dari tulisan-tulisan tentang seri "Catatan Tentang Seorang Kawan"  ini dibuat setelah Saya menerima sms Lastri tentang anaknya yang meninggal. Menyelesaikannya hampir 3 bulan. Sebuah prestasi menulis yang luar biasa "malasnya". Namun akhirnya karena takut keburu pergantian tahun diantara kesibukan kerja yang luar biasa repotnya yang terkadang mencuri-curi waktu kerja demi menulis, dengan susah payah selesai juga. LEGAAAA...
Semoga Lastri Senantiasa Berbahagia di Kisaran sana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...