Sabtu, 29 Desember 2012

Menjaga Sumber Air, Menjaga Bumi Bagi Anak Cucu Kita


Bulan Maret 2012 Saya diajak oleh seorang teman (Angel),  seorang sukarelawan, mengunjungi anak didiknya di sebuah lokasi di kawasan Dam Duriangkang Batam. Masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Dam” karena tempat ini merupakan danau buatan yang membendung Teluk Duriangkang sehingga terpisah dari laut. Memang lebih tepatnya disebut bendungan, waduk, atau dam. Danau buatan seluas 23,4 kilometer persegi ini pada akhirnya berair tawar dan menjadi sumber air bersih utama bagi warga Pulau Batam di samping 6 dam lainnya. Yakni Sei Ladi, Sei Harapan, Muka Kuning, Sei Baloi, Tanjung Piayu dan Nongsa.

Untuk mengunjungi anak didik Angel, Kami harus menyebrang menaiki perahu kecil yang didayung selama kurang lebih 10 menit. Angel menyebut lokasi ini dengan sebutan Pulau karena letaknya berada di tengah-tengah dam. Saya pun sempat terheran-heran karena selama 14 tahun menetap di Pulau Batam baru pertama kali itu mengetahui ada pulau di tengah dam. Pulau di tengah pulau. Namun pulau ini tanpa nama.

Menuju Pulau di Tengah Dam Duriangkang
Foto : Koleksi Probadi
Pulau tersebut dihuni oleh lebih kurang 25 Kepala Keluarga yang hampir semuanya berada di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar anak-anak di sana tidak sekolah atau tepatnya tidak disekolahkan oleh kedua orangtuanya. Karena itulah dengan suka rela Angel mengajari anak-anak Pulau agar dapat membaca dan menulis.

Sebagian besar penduduk Pulau bermata pencaharian sebagai petambak ikan dengan membuka lahan-lahan tambak di kawasan sekitar dam. Sebagian lagi ada yang bercocok tanam sayuran. Warga yang tinggal secara ilegal di kawasan hutan lindung ini bahkan ada yang sudah bermukim selama 15 tahun. Sepanjang rentang waktu 15 tahun itu ternyata warga bebas melakukan apa saja di kawasan hutan lindung termasuk melakukan berbagai kegiatan MCK (Mandi Cuci Kakus) yang jelas-jelas akan mencemari air dam dan menurunkan standar baku mutu air. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan warga ini jelas-jelas merupakan sebuah pelanggaran.

Penggusuran pemukiman warga di sekitar dam tentu akan memberikan dampak positif bagi kelestarian hutan namun jika melakukan penggusuran saja tanpa relokasi ke wilayah lain tentu warga pun akan enggan pindah. Mereka tentu bertanya mau pindah kemana, sementara biaya perumahan di Batam sangatlah tidak terjangkau untuk ukuran kantong warga miskin ini. Belum ada tindakan tegas terhadap permasalahan ini sehingga dari tahun ke tahun kawasan hutan lindung di sekitar Dam Duriangkang mulai rusak. 400 hektar dari 1000 hektar luas hutan Dam Duriangkang telah digarap oleh warga, padahal seharusnya hutan sekitar dam tersebut berfungsi sebagai daerah resapan air yang akan menangkap air hujan sehingga menjaga debit air dam dalam kondisi stabil.

Menurut pasal 78 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999  tentang kehutanan, barangsiapa yang melakukan kegiatan ilegal di daerah hutan lindung, dapat dikenakan hukuman penjara paling lama 10 tahun serta denda sebanyak-banyaknya Rp 5 Milyar. Uuh… rasanya Saya langsung ciut saja kalau membaca ancaman hukumannya ini, namun berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi di lapangan. Warga seakan tak perduli dan bahkan tak tahu menahu dengan pasal dari Undang-Undang Kehutanan ini.

Dam Muka Kuning
Foto : Koleksi Pribadi
Lain lagi dengan kondisi Dam Muka Kuning. Saya melihat ada komitmen yang jelas dari pihak pengelola dam khususnya PT. Aditya Tirta Batam (ATB) sebagai pemegang konsesi pengelolaan air bersih di Pulau Batam untuk menjaga dam ini dalam kondisi yang terjaga. Pada setiap tepi dam dipagari dengan kawat berduri agar tidak ada warga yang seenaknya melakukan kegiatan-kegiatan yang dikhawatirkan akan merusak air dam. Selanjutnya bukit sekitar dam menuju arah Batu Aji yang dulu gundul telah ditanami pohon sehingga telah menjadi hijau dan asri. Begitu pun akses masuk ke dalam hutan di jaga oleh security. Walau pada akhir pekan banyak pengunjung terutama para pelajar yang berkunjung ke hutan karena tertarik dengan air terjun (warga menyebutnya Pancur) di dalam kawasan hutan ini, namun Saya melihat sepanjang jalur menuju Pancur, hutan begitu terjaga dan sungai-sungai di hutan pun mengalir dengan deras walau tidak dalam kondisi musim hujan. Karena mungkin ada penjagaan maka di lokasi ini tidak ada pembukaan lahan hutan oleh warga. Ini menjadi satu bukti bahwa pemeliharaan hutan sekitar dam Muka Kuning berhasil.

Dengan pembangunan berbagai dam di Batam pasokan air bersih hingga kini dapat dijaga namun tidak berarti akan terus selamat jika saja masyarakat, pengelola, dan pemerintah tidak bersama-sama bersinergi menjaga kelestarian sumber air bersih di Pulau ini. Kondisi yang menguntungkan adalah bahwa di Batam tidak dikenal namanya musim kemarau. Hujan datang kapan saja sehingga pasokan air ke dam-dam tetap tersedia. Namun hal ini harus dibarengi juga dengan pemeliharaan hutan sekitar dam dengan terus menggalakkan penghijauan (reboisasi) dan penjagaan hutan dari para penebang liar.

Lain lagi fakta yang terjadi di kampung Saya di daerah Garut Jawa Barat. Walaupun lokasinya di kelilingi oleh gunung-gunung namun tetap saja jika memasuki musim kemarau terjadi kesulitan air bersih di beberapa kampung dan kecamatan. Sumur-sumur yang selama ini menjadi sumber utama warga untuk mandi, mencuci dan memasak banyak yang mengering. Seperti yang terjadi di rumah Paman dan Bibi Saya yang berada di kampung atas, sumurnya mengering dan harus pergi ke rumah orang tua Saya di yang letaknya lebih rendah di pinggir kampung untuk meminta air bersih dari sumur.
Warga sedang Mencuci di Sungai yang Mengering
di Garut Jawa Barat (Foto koleksi pribadi)

Sebagian warga yang tidak mempunyai sumur dan yang sumurnya mengering, mereka beramai-ramai pergi ke sungai. Menampung dan mengendapkan air sungai dalam kolam-kolam kecil lalu mengalirkannya menjadi pancuran-pancuran. Setidaknya untuk mandi dan mencuci pakaian.Tindakan ini telah menolong warga sehingga tidak kehabisan air sama sekali. Kalau untuk memasak dan minum warga tetap memilih air sumur yang masih bisa dipakai.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di wilayah-wilayah pesisir yang jauh dari gunung dan hutan. Wilayah kampung kami yang dikelilingi oleh gunung –gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, dan Gunung Galunggung saja masih mengalami kesulitan air bersih bagaimana lagi dengan warga kota, pesisir atau yang jauh dari hutan dan gunung. Tentu saja semakin tergantung dengan pasokan air dari perusahaan-perusahaan penyedia air bersih.

Saya mengamati kenapa di kampung akhir-akhir ini terjadi kesulitan air adalah padatnya kampung dengan perumahan penduduk sehingga mengurangi ruang terbuka hijau untuk menyerap air hujan masuk ke tanah. Begitu juga pepohonan di sekitar kampung sudah sangat jarang. Tumbuhan yang ditanam warga di depan rumahnya hanyalah bunga-bunga di pot bukan pohon-pohon yang akarnya menancap ke tanah. Ini tentu akan berpengaruh terhadap volume air tanah. Jika musim penghujan saja tidak ada air yang merembes masuk ke tanah maka dipastikan musim kemarau air tanah akan sangat jarang ditemukan.
Pancuran yang Dibangun Warga Kampung
Foto : Koleksi Pribadi

Di samping itu, areal hutan di tepi-tepi gunung telah banyak dibuka warga untuk lahan pertanian. Bahkan untuk Gunung Cikuray jika dilihat keseluruhan bentuk gunungnya maka tiga perempatnya sudah menjadi ladang penduduk. Hutan lebat hanyalah di sekitar areal mendekati puncak  gunung saja.

Di Pulau Batam tidak ada gunung sebagai penyangga ketersediaan air, namun pemerintah dan pihak swasta  telah berusaha mencukupi kebutuhan warga dengan membangun 7 waduk (dam) yang akan menangkap dan menjaga air hujan supaya tertampung dan dialirkan menjadi air bersih ke rumah-rumah warga di berbagai perumahan yang giat dibangun di berbagai lokasi di Batam. Selain itu menjaga kelestarian hutan di sekitar dam adalah hal mutlak yang diperlukan guna menjaga supply air dam tetap terjaga.

Di Pulau Buluh, Pulau yang letaknya sebelah Barat Daya Pulau Batam dan hanya berjarak tempuh 5 menit mengendarai perahu motor, warganya kebanyakan membeli air ke Pulau Batam. Harga per kubiknya sekitar Rp 45.000. Warga membelinya dengan menggunakan drum-drum dan diangkut oleh perahu ke Pulau Buluh. Sebagian penduduk menggali air sumur, namun kualitasnya semakin hari semakin menurun. Terlebih Pulau Buluh telah dipadati oleh penduduk dan nyaris hanya sedikit lahan yang tersedia untuk menjadi daerah resapan air hujan. Oleh karena itu maka Pemerintah Kota Batam bekerja sama dengan PT.ATB tahun 2012 ini telah menyalurkan air bersih dari Pulau Batam ke Pulau Buluh dengan membangun jaringan pipa-pipa bawah laut sepanjang 1,5 km. Warga Pulau Buluh pun kini bisa menikmati air bersih yang lebih murah. Harganya sekitar Rp 9.000 per kubiknya.
Penampungan Air Bersih di Pulau Buluh Batam
Foto : Koleksi Pribadi

Di Pulau-pulau kawasan hinterland  Batam bahkan ketersediaan air semakin mengkhawatirkan. Untuk itu perlu beberapa solusi untuk menjaga agar sumber air tetap tersedia. Di antaranya dengan tetap menjaga kelestarian hutan yang ada di sekitar pulau. Menanam pohon-pohon di halaman rumah dan di tepi-tepi jalan. Sedangkan untuk rumah padat penduduk  maka dengan membuat lubang-lubang biopori. Yakni lubang silindris yang dibuat vertikal ke dalam tanah dengan diamater 10 cm dan kedalaman 100 cm yang diisi oleh sampak organik untuk memicu terbentuknya pori-pori tanah hasil dari aktifitas hewan tanah dan akar tanaman. Lubang biopori ini berfungsi menangkap air hujan sehingga ketersediaan air tanah tetap terjaga.


Setiap keluarga tentunya menginginkan kondisi setiap anggota keluarganya sehat. Untuk itu maka pemeliharaan kesehatan adalah mutlak harus dijaga. Salah satunya dengan menjaga asupan makanan dan minuman ke dalam tubuh kita. Apalagi 60% tubuh manusia terdiri dari air. Kekurangan cairan tubuh akan mengakibatkan dehidrasi sehingga organ-organ tubuh tidak maksimal dalam menjalankan fungsinya. Oleh karena itu minum air bersih, sehat, dan bebas kuman adalah hal penting yang harus dilakukan oleh setiap orang.

Gambar dari sini
Untuk itu diperlukan sebuah teknologi dimana air minum yang dikonsumsi aman dari berbagai kuman dan penyakit. Salah satu produk yang layak dipilih adalah produk Pureit produksi Unilever. Pureit merupakan teknologi untuk menghasilkan air minum tanpa dimasak oleh karena itu sangat praktis karena menghemat gas, listrik, dan tentu saja hemat uang. Kemurnian air terlindungi dari berbagai kuman berbahaya penyebab penyakit dengan menggunakan standar terketat EPA (Environmental Protection Agency) USA yang menghilangkan berbagai bakteri, virus, dan parasit.

Pureit bekerja dengan teknologi canggih 4 tahap pemurnian air (water purifier) dengan teknologi "Germkill" yang menghasilkan air yang aman dan terhindar sepenuhnya dari bakteri, virus, dan parasit. Ada 4 tahap cara kerja pemurnian air yakni :

Tahap 1 : Saringat serat mikro yang akan menghilangkan semua kotoran yang terlihat.
Tahap 2 : Filter Karbon Aktif yang menghilangkan pestisida dan parasit berbahaya.
Tahap 3 : Prosesor Pembunuh Kuman yang menghilangkan bakteri & virus
Tahap 4 : Penjernihan air yang akan menghasilkan air jenrih yang tidak berbau dan rasanya alami.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh BlogDetik yang bekerja sama dengan Pureit


Sumber :
1. http://bocahbatam.blogspot.com/2011/10/sejarah-dam-duriangkang-batam.html
2. http://batamkota.go.id/bisnis.php?sub_module=44&klp_jenis=345
3. http://www.biopori.com/resapan_biopori.php
4. http://www.unilever.co.id/id/brand/homecarebrands/pureit/index.aspx




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...