Senin, 20 Agustus 2012

Apakah Arti Kasih sayang Bagimu?

                                                                                                                    
Sep 7, '05 1:17 AM

File MP7


APAKAH ARTI KASIH SAYANG BAGIMU????                                 
 
Bagiku 'rasa kasih sayang itu bagaikan "Sinaran Bintang-Bintang". Matahari pun salah satu dari milyaran bintang-bintang itu. Sinarnya abadi. The Eternal flame. Sampai hari kiamat pun sinar itu akan tetap ada. Masih ingat cerita bahwa di alam mahsyar  nanti ada sepuluh matahari yang jaraknya sangat dekat seperti ada di langit-langit rumah saja? Ahh mungkin itu gambaran yang terlalu berlebihan. Tapi mungkin akan membuatmu percaya bahwa sinar bintang itu abadi.Forever. Kalau Kataku “Dunia Akhirat”.

Mungkin jelasnya begini, kasih sayang layaknya sinaran bintang, ia sangat terang manakala ia berdekatan dengan kita, semua serba terlihat terdengar dan terasakan. Begitu menghangatkan.Ia adalah sinar matahari. Sang bintang di tengah hari. Lalu sinarnya juga akan  memdamaikan dalam kelabunya langit dan dalam gulitanya malam hari. Sendunya selalu syahdu. Taburan bintang-bintang itu akan menyemai berjuta rasa dan tetap akan bercahaya  walau disana ada pekat kepahitan dan tangis kesedihan, ada hujan airmata yang tercurahkan awan gemawan, ada kabut duka menggelantung di cakrawala, ada badai  luka tergoreskan di sana. Tapi ia tetap bintang yang akan tetap bersinar walau hujan walau badai walaupun langit tertutup tebalnya awan. Bahkan sang rembulan pun berterimakasih padanya karena  sinarnya pula membuat ia ikut bercahaya. Ia bintang-bintang di malam hari. Dan itulah sinar kasih sayang, ada yang terasa dan ada yang terhalang sinarnya sehingga bumi tak dapat menerimanya. Mungkin bumi terlalu angkuh atau bumi tidak memerlukannya. Tapi ia tetap bersinar diminta dan atau tanpa diminta.   Mungkin terlalu puitis atau romantis. Tapi itulah sesungguhnya  kasih sayang. Kasih sayangmu mungkin adalah sinar itu dan bumi bisa saja adalah orang yang dicintaimu. Maka biarkanlah bumi mengetahuinya bahwa kamu adalah sinar sejatinya.


Pernahkan kamu menikmati malam yang bertaburan bintang? Dari 365 hari dalam setahunmu dari 4380 jam waktu malam dalam setahunmu? Sempatkanlah suatu waktu duduk termenung menatap  ke langit  yang bertaburan bintang-bintang itu, amati satu demi satu, lalu rangkai menjadi apapun yang kamu mau!!! 30 menit? 20 menit? Ahh 15 atau 10 menit pun selesai kalau kamu sungguh-sungguh menikmatinya. Mengagumkan bukan? Kesibukan kadang membuat kita lupa keindahan alam yang satu itu, kesibukan membuat kita tidak peka lagi terhadap hal-hal sekecil itu. Lalu apakah kamu menganggap semua pemandangan alam itu biasa-biasa saja atau sudah seharusnya begitu? Betapa banyak keindahan yang kita lewatkan begitu saja.



Malam adalah milik kita. Apa yang ada di dalamnya kita harus mengetahuinya. Pernahkah kamu bertanya kenapa bintang itu berkedip? Yang manakah planet yang manakah bintang? Rasi bintang apa saja yang muncul di Bulan ini? Orion? Waluku? Atau scorpion? Atau lainnya? Kenapa bulan mempunyai lingkaran besar yang mengelilinginya dikala purnama? Andai bisa berbagi tentu kamu berbagi dengannya. Nikmati semua itu berdua.Dengannya!!!


Dari semua itu apa yang kamu simpulkan? Apapun kamu bisa menilai. Namun satu  dari dulu sampai sekarang hidup adalah untuk memperbaiki diri. Menjadi lebih baik? Itu harus dan itu pasti. Dan jangan berhenti bersinar karena Aku yakin kamu adalah bintang itu. Kita hanyalah diri yang lagi belajar berbesar hati karena sesungguhnya dengan itu akan ditemukan cinta sejati dan kasih sayang abadi. Untuk siapa? Siapa saja yang akan menjadi belahan hati nanti. Jika kita berbesar hati maka hidup akan luaaasss seluas alam semesta seluas jagat raya dan isinya. Seluas apapun yang kita minta.


Dan  The hardest thing to do is watch the one you love, love somebody else. So keep him/her deep inside  you. Don’t make him/her dissappointed. Semoga kamu  menjadi yang terakhir untuknya. Bukankah setiap wanita yang mencintai seorang lelaki selalu ingin menjadi yang terakhir untuk laki-laki itu?? Andai kamu benar-benar menginginkannya Jadilah bintang baginya. Yang memberi tak harap kembali.  (Lien!!mmm....lagi romantis dikit...)

Surat Kepada Kangjeng Nabi


Sep 5, '05 11:10 AM
File MP 6

Surat Kepada Kangjeng Nabi



……………………………………..

Ah, Muhammad, Muhammad. Betapa kami mencintaimu. Betapa hidupmu bertaburan emas permata kemuliaan, sehingga luapan cinta kami tak bisa dibendung oleh apa pun. Dan jika seandainya cinta kami ini sungguh-sungguh, betapa tak bisa dibandingkan, karena hanya satu tingkat belaka di bawah mesranya cinta kita bersama kepada Allah.

Akan tetapi tampaknya cinta kami tidaklah sebesar itu kepadamu. Cinta kami tidaklah seindah yang bisa kami ungkapkan dengan kata, kalimat, rebana, dan kasidah-kasidah.Dalam sehari-hari kehidupan kami, kami lebih tertarik kepada hal-hal yang lain.

Kami tentu akan datang ke acara peringatan kelahiranmu di kampung kami masing-masing, namun pada saat itu nanti wajah kami tidaklah seceria seperti tatkala kami datang ke toko-toko serba ada, ke bioskop, ke pasar malam, ke tempat-tempat rekreasi.

Kami mengirim shalawat kepadamu seperti yang dianjurkan oleh Allah karena Ia sendiri beserta para malaikat-Nya juga memberikan shalawat kepadamu. Namun pada umumnya itu hanya karena kami membutuhkan keselamatan diri kami sendiri.

Seperti juga kalau kami bersembahyang sujud kepada Allah, kebanyakan dari kami melakukannya karena kewajiban, tidak karena kebutuhan kerinduan, atau cinta yang meluap-luap. Kalau kami berdoa, doa kami berfokus pada kepentingan pribadi kami masing-masing.

Sesungguhnya kami belum mencapai mutu kepribadian yang mencukupi untuk disebut sebagai sahabatmu, Muhammad. Kami mencintaimu, namun kami belum benar-benar mengikutimu. Kami masih takut dan terus menerus tergantung pada kekuasaan-kekuasaan kecil di sekitar kami. Kami kecut pada atasan. Kami menunduk pada benda-benda. Kami bersujud kepada uang, dan begitu banyak hal-hal yang picisan.

Setiap tahun kami memperingati hari kelahiranmu. Telah beribu-ribu kali umatmu melakukan peringatan itu, dan masing-masing kami rata-rata memperingati kelahiranmu tiga puluh kali. Tetapi lihatlah : kami jalan di tempat. Tidak cukup ada peningkatan penghayatan. Tidak terlihat output personal maupun sosial dari proses permenungan tentang kekonsistenan. Acara peningkatan maulidmu pada kami mengalami involusi, bahkan mungkin degradasi dan distorsi.

Negarawan Agung


Zaman telah mengubah kami, kami telah mengubah zaman, namun kualitas percintaan kami kepadamu tidak kunjung meningkat. Kami telah lalui berbagai era, perkembangan dan kemajuan. Ilmu, pengetahuan, dan teknologi kami semakin dahsyat, namun tak diikuti dahsyatnya perwujudan cinta kami kepadamu.

Kami semakin pandai, namun kami tidak semakin bersujud. Kami semakin pintar, namun kami tidak semakin berislam. Kami semakin maju, namun kami tidak semakin beriman. Kami semakin beriman, namun kami tidak semakin berihsan. Sel-sel memuai. Dedaunan memuai. Pohon-pohon memuai. Namun kesadaran kami tidak. Cinta dan internalisasi ketuhanan kami tidak.

Kami masih primitif dalam hal akhlak---substansi utama ajaranmu. Padahal kami tak usah belajar soal akhlak karena tidak menjadi naluri manusia; berbeda dengan saudara kami kaum Jin yang ilmu tak usah belajar namun akhlak harus belajar. Akhlak kaum jin banyak yang lebih bagus dari kami.

Sebab kami masih bisa menjual iman dengan harga beberapa ribu rupiah. Kami bisa menggadaikan Islam seharga emblem nama dan segumpal kekuasaan. Kami bisa memperdagangkan nilai Tuhan seharga jabatan kecil yang masa berlakunya sangat sementara. Kami bisa memukul saudara kami sendiri, bisa menipu, meliciki, mencurangi, menindas, dan mengisap, hanya untuk beberapa lembar uang.

Padahal kami mengaku sebagai pengikutmu, Ya Muhammad. Padahal engkau adalah pekerja  amat keras dibanding kepemalasan kami. Padahal engkau adalah negarawan agung dibanding ketikusan politik kami. Padahal engkau adalah ilmuwan ulung dibanding kepandaian semu kami. Padahal engkau adalah seniman anggun dibanding vulgar-nya kebudayaan kami.

Padahal engkau adalah pendekar mumpuni dibanding kepengecutan kami. Padahal engkau adalah strateg dahsyat dibanding berulang-ulangnya keterjebakan kami oleh sistem Abu Jahal kontemporer.

Padahal engkau adalah mujahid yang tak mengenal putus asa dibanding deretan kekalahan-kekalahan kami. Padahal engkau adalah pejuang yang sedemikian gagah perkasa terhadap godaan benda emas dibanding kekaguman tolol kami terhadap hal yang sama.

Padahal engkau adalah moralis kelas utama dibanding kemunafikan kami. Padahal engkau adalah panglima kehidupan yang tak terbandingkan dibanding keprajuritan dan keseradaduan kepribadian kami. Padahal engkau adalah pembebas kemanusiaan.

Padahal engkau adalah pembimbing kemuliaan. Padahal engkau adalah penyelamat kemanusiaan. Padahal engkau adalah organisator dan manajer yang penuh keunggulan dibanding ketidaktertataan keumatan kami.

Padahal engkau adalah manusia yang sukses menjadi nabi dan nabi yang sukses menjadi manusia, di hadapan kami. Padahal engkau adalah liberator budak-budak, sementara kami adalah budak-budak yang tak pernah merasa ,menyadari, dan tak pernah mengakui, bahwa kami adalah budak-budak.

Sementara kami adalah budak-budak---dalam sangat banyak konteks yang sudah berbincang tentang perbudakan, segera mencari kalimat-kalimat, retorika, dan nada yang sedemikian indahnya sehingga bisa membuat kami tidak lagi menyimpulkan bahwa kami adalah budak-budak.

Di negara kami ini, umatmu berjumlah terbanyak dari penduduknya. Di negeri ini, kami punya Muhammadiyah, punya NU, Persis, punya ulama-ulama dan MUI, ICMI, punya bank, punya HMI, PMII, IMM, Ashor, Pemuda Muhammadiyah, IPM, PII, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok studi Islam intensif, yaysan-yayasan, mubalig-mubalig, budayawan, dan seniman, cendekiawan, dan apa saja.

Yang kami tak punya hanyalah kesediaan, keberanian, dan kerelaan yang sungguh-sungguh untuk mengikuti jejakmu. (Emha Ainun Nadjib)

Sabtu, 18 Agustus 2012

  Kumpulan Puisi karya Ilham Malayu, File pindahan dr MP. Agustus 2005


SPRING ON THE CALENDAR AUTUMN IN MY HEART
Atau
Hanya Bayang-Bayang

SETELAH PENJARA

Apa yang tersisa seteah hujan reda?
Setelah pelangi menipis dan sirna?
Setelah nafsu melampaui puncaknya?
Setelah amarah reda?
Setelah revolusi rakyat berakhir?
Setelah es batu mencair?
Setelah gempa bumi?
Setelah sengsara mampir dan pergi lagi?
Setelah tiupan angin topan yang ganas berlalu?
Setelah siaran berita di TV dan radio?
Setelah burung-burung pagi berhenti berkicau?
Setelah fikiran melewati
Gurun frustasi?
Setelah luka menjadi kebal?
Setelah terobeknya sukma?
Setelah penjara?
Setelah terlalu lama di penjara?
Setelah hidup sengsara di penjara?
Setelah kebingungan dalam penantian di penjara?
Setelah mengenal sabar dan menahan segala nafsu di penjara?
Setelah  mimpi-mimpi menjadi keringat dingin di  penjara?
Setelah penjara?
Setelah di penjara?
Setelah penjara?


IN YOUR EYES I SEE LOVE

In your eyes I see my eyes
Between your finger I se mine
In your eyes I see my eyes
A crystal glass of wine

On high mountains I see faces
On great lake I see mist
On high mountain I see faces
Meditation with bliss

In your soul I see my soul
A thousand nights with trilions of star
In your soul I see my soul
Deam forms without scars

In the night I always yearn
I always long for the sunrise
In the night I always yearn
Succumbing to little white lies

In yours eyes I see my eyes
Between your lips I feel mine
In your eyes I see my eyes
Honey sweet with thyme..


I WANT YOU

In the darkness I see light
In light, I’m alone
Alone I feel sad
In sadness I feel lonely
This kind of loneliness I don’t like
What I like I don’t have
What I’ve had I don’t like
In what I have I don’t see
Where you are I don’t know
In what I know people don’t see
In what they see I see illusion
What I want is very simple
Truth & nothing but the truth
I doubt you
I am still in doubt
As there should be only
One in million, in this distracting sea of life,
To be met, to be found & to be loved forever

In doubt,
In this emptiness of solitude,
I want you


ATAUKAH HANYA BAYANG-BAYANG

Rindu
Rindu kepada air yang berkerikil
Yang jernih
Yang mengalir cetek di punggung gunung tinggi
Di puncak pangrango aku memandang mata
Tangan menyentuh tangan
Sekarang,
Teriakanku terdengar di telinga-telinga
Menggetar
Aku terdiam
Senyap, hanya mata yang masih memandang
Ke depan
Ke kaki langit yang kembali menerang
Engkaukah yang sedang menunggu di sana
Ataukah hanya bayang-bayang?


JANJI

Ingat padaku
Bila mata berair
Ingat padaku
Bila salju di luar mencair
Di lembah musimku ini
Aku masih tetap menunggu
Tetap berharap
Tetap menengok ke belakang
Walau sampai nanti
Sampai fajar berhenti menyingsing
Aku akan kembali menunggumu
Di sana
Di seberang sunyi....

OVER THE GRASS LAND OF TIME

.....................

In my prayers
I also pray to pass away in peace
To fly over the grassland of time, in peace
Lovingly I hove
You would drop a tear
Of remembrance....

[Puisi] Saat Hampa


                                                                                                                                   Mar 27, '05 2:44 AM
                                                                                                                                   Catatan MP 3



Saat Hampa


Kuhabiskan hari-hariku dengan kesabaran yang sakit
Mulut penuh udara memekikkan kehilangan pada ratusan maghrib
Kucoba untuk pahami apa arti kisah itu

Sebelum ini...
Diriku yang sekarang kurasa tak kauhiraukan 
Bisa saja aku terima akhirnya
Wajahmu yang indah dan bermoral, kutermenung memikirkannya

Kisah selama hampa terus namun aku tak mengingatnya
Luka hati hanya sementara tak mungkin selamanya
Inikah yang sebelumnya harapan?

Aku hanyalah insan biasa


***
Puisi pemberian seorang teman saat Aku terpuruk. Terima Kasih Temanku Atem, puisi ini dulu menenangkanku, membuatku bertahan hingga kini.

[Puisi] Hasrat Itu

 Tanpa Judul

Hanya ingin berdiri di sisimu sampai kurasa pahitnya luka
Kerap kucoba bertahan dalam badai dingin 
Dengan sisa keyakinan yang meletihkan
Karena keinginan sederhana selalu mengikuti
Mengintai di antara lembah pinus
dan misteri kabut

Hasrat itu kubisikkan untuk puncak tertinggi 
Ungkapan sepi seorang pemimpi di musim ini 

Kutitipkan buku harian pada batu-batu
Dengan serakan jiwa yang kujalin menjadi tarian hidup
Diiringi alunan pemain violin

Aku tak ingin terbang sendiri
Dalam sebentuk dongeng pengantar tidur
Sebelum syair-syair usang
Dalam satu keputusasaan yang panjang   

Puisi ini kudapat dari seorang teman pemanjat, Saat Aku curhat kepadanya. Dia bilang dia punya puisi yg cocok buat Aku. Thanks Inggit. Miss You. Aku suka sekali dengan puisinya.

Kamis, 09 Agustus 2012

Pendatang Baru

Setelah berfikir berhari-hari akhirnya Aku memutuskan untuk memindahkan laman Multiplyku ke Blogspot. Mudah-mudahan pindah rumah ke sini lebih nyaman tambah banyak teman dan nggak bakalan digusur lagi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...