Sunday, December 1, 2013

Menjajal Wall Climbing di Singapura

Wall  Climbing Carnaval Mall (Sudah gak ada)
Seumur hidup saya yang paling membuat degdegan saking excited dan semangat sehingga menderasnya adrenalin ke sekujur tubuh adalah saat mendaki gunung, manjat wall climbing, belajar main gitar, dan pada akhirnya bertemu mantan pacar yang sekarang sudah jadi suami :D

Tahun 2002 pertama kali menginjakkan kaki di negeri Singa, saya melewati sebuah wall climbing yang keren. Beberapa pemanjat sedang asyik beraksi di wall itu. Asli bikin jantung dag dig dug saking senangnya. Hasrat manjat meledak-ledak tapi sayang waktu saya di sana sangat sempit. Saya harus pulang hari itu juga karena tidak ada rencana menginap. Hanya sekilas menonton saja.


Tahun 2003 Saya sedang main-main ke Batam Centre, dan di samping sebuah mall yang sekarang sudah tutup, Carnaval Mall, berdiri sebuah wall climbing setinggi kurang lebih 15 meter. Wuaah... langsung excited gak mau pulang. Menonton sampai malam menjelang.

Tiba-tiba seseorang menawari saya untuk mencobanya. Hah? Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa ragu langsung mengiyakan. Hmm...dan sensasinya setelah itu luar biasa. Saat tidur yang terbayang papan panjat. Saat makan, tangan nggak bisa berhenti bergerak-gerak ke udara kayak lagi pantomim membayangkan saat jemari menggapai poin demi poin. Tidur pun tak nyenyak membayangkan ingin segera esok tiba untuk kembali merayap di wall climbing lagi. Yeah... bener-bener deh saat itu saya lagi jatuh cinta. Jatuh cinta sama papan panjat :D

Googling Lokasi.
Saat wall mulai aus dan memakan korban jatuh dari ketinggian 15 meter, wall climbing dibiarkan tak terurus dan hancur dengan sendirinya. Sedih rasanya tak ada lagi tempat melepas butiran keringat ini.

Seiring dengan berlalunya waktu setelah menikah dan punya bayi, hasrat memanjat itu bak api dalam sekam. Atau ibarat beruang yang lagi berhibernasi. Ia tetap ada namun tak muncul ke permukaan.


Nah kemarin pas jalan-jalan lagi ke Singapura nganter adik, saya seperti diingatkan kembali akan bara yang masih tetap menyala itu. Yang akhirnya tak bisa lagi dipendam lama-lama. Setelah googling nyari wall climbing terdekat dengan hostel, tempat kami menginap, Alhamdulillah kurang lebih 20 menit jalan kaki dan hanya 5 menit naik bis nomor 145 saya tiba di Climbing Asia di Tessensohn Road.

The Civil Service Club, tempat dimana Climbing Asia Berada.
Seorang Manager Climbing Asia menyambut kedatangan kami dengan ramah. Namun sayang saya datang terlalu pagi. Hari libur, hari minggu itu Climbing Asia baru buka jam 10 pagi waktu Singapura. Akhirnya pulang dulu ke hostel sarapan untuk kedua kalinya dan nyuruh adik juga sepupu saya untuk mandi. Kalau saya nanti saja mandinya sehabis manjat.Sayang air kan kalau harus mandi pagi dua kali? hehe.


Jam 10 pagi kami sudah kembali lagi ke Climbing Asia. Disuruh mengisi formulir dan membayar sejumlah uang. Lupa deh berapa-berapanya. Waktu manjat bebas sampe bosan atau sampe capek. Sampe tempat itu tutup jam 10 malam juga masih dibolehkan.

Outdoor Wall Climbing
Saya ditanya apakah bawa orang untuk belay. Haduh saya fikir belayer sudah stand by ada terus, ternyata harus booking dulu. Telpon dulu. Kalau nyuruh adik atau sepupu buat belay nggak dulu deh. Bahaya. Mereka belum mengerti bagaimana menjadi belayer. Ditanya kata belay aja nggak mengerti. Haduuh.Salah-salah nyawa taruhannya.  

Belayer yang ada ternyata sudah di-booking orang lain hingga jam 12 siang. Sementara siang itu juga saya harus pulang dan nganter adik ke Bandara Changi.

Si petugas menawarkan alternatif untuk manjat di papan bouldering saja. Ia menunjukkan beberapa ruangan yang biasa dipakai untuk bouldering di lantai 3 dan 4. Begitu melihat beberapa ruang yang seluruh dindingnya berubah jadi wall climbing dengan warna-warni yang cool saya hampir melompat saking senangnya. Yes, di sini saja. saya menjawab mantap.

Dan dengan disaksikan adik serta sepupu, saya mulai menjajal wall climbing. Saking semangatnya lupa nggak pemanasan dulu. Alhasil baru beberapa menit mencoba kaki sudah kram. Dan otot sudah tegang.
Indoor Wall Climbing
Haduh...kenapa lupa. Jadinya pemanasan dulu deh terus manjat lagi. Cuma bertahan 1 jam nafas udah ngos-ngosan. Kaki semakin kram. Ya sudah deh segitu aja. Lumayanlah walau belum puas banget yang penting udah mencoba. Lain waktu ke sini lagi. Masih penasaran sama yang wall outdoornya.



Posisi Sulit nih. Tapi Menantang.

Anak-Anak Bule lagi Latihan

Sepatu Manjat Dijual
Mulai Lelah


AUDISI BACKPACKER WANNABE



Backpacker, sebutan yang belakangan ini begitu populer, seksi dan menjual semenjak bermunculannya buku-buku bertema travelling hingga disusul kemudian selebriti di dunia travelling seperti Trinity, Agustinus Wibowo, Takdis dan masih banyak lagi lainnya.
Yaa, saat ini dunia travelling memang tengah menjadi sorotan sehingga banyak orang yang kemudian latah melakukan perjalanan dan kemudian dengan bangga menyebut dirinya backpacker.
Saya sendiri memendam impian untuk menjadi seorang backpacker namun karena satu dua kendala sehingga belum bisa mewujudkan impian tersebut. Saya pernah melakukan beberapa travelling baik sendiri maupun rombongan namun saya merasa belum pantas menyebut diri ini sebagai backpacker. Namun keinginan untuk berbagi pengalaman dalam perjalanan saya itu terus-menerus mendorong saya untuk suatu saat menerbitkan buku bertema travelling.

Nah, saya merasa sekarang ini saatnya yang tepat bagi saya untuk mewujudkan impian tersebut. Karena saya merasa belum pantas disebut backpacker namun buku ini nanti bertema travelling maka saya memberi proyek antologi saya kali ini:

AUDISI BACKPACKER WANNABE

Bagi kamu yang merasa sebagai Backpacker Wannabe saya mengajakmu untuk ikut berpartisipasi dalam proyek antologi ini. Beberapa sub tema yang bisa kamu tulis dalam antologi ini antara lain:
  1. Backpacker pertama kali. Ceritain perjalanan pertamamu, mulai dari persiapannya yang heboh hingga hal-hal tak terduga yang terjadi dikarenakan persiapan dan pengetahuanmu yang masih minim.
  2. Backpacker Terkonyol/Terseru. Ceritain perjalananmu yang konyol atau seru banget sehingga masih kamu ingat sampai sekarang. Karena ini pengalaman yang konyol dan seru maka tulis pengalamanmu itu dengan selucu mungkin.
  3. Backpacker Ternekat. Ceritain perjalananmu yang terasa begitu nekat, entah karena lokasinya yang sangat jauh, persiapan atau budget yang sangat minim. Jangan lupa ceritain juga cara kamu mengatasi semua masalah yang terjadi karena kenekatanmu itu.
Untuk mengikuti audisi menulis BACKPACKER WANNABE  syaratnya mudah sekali.
Syarat Peserta:
  1. Pria atau Wanita berumur minimal 13 tahun.
  2. Berteman dengan Mozaik Indie Publisher dan Ihwan Hariyanto di FB.
  3. Like Fanpage Mozaik Indie Publisher atau follow twitter kami: @mozaikindie.
  4. Sebarluaskan info event ini melalui dua cara yang bisa kamu pilih:
Jika lewat note FB, maka kamu harus mentag minimal 20 teman dan akun FB Mozaik Indie Publisher dan Ihwan Hariyanto.

Jika lewat blog, maka kamu harus publish blogmu di twitter dengan format: Lomba #BackpackerWannabe [link blogmu] mention: @mozaikindie dan minim 5 orang temanmu.

Lalu untuk ketentuan naskahnya sebagai berikut:
  1. Naskah harus pengalamanmu sendiri, jadi ini audisi menulis NON FIKSI.
  2. Naskah ditulis dengan gaya yang popular dan menarik.
  3. Belum pernah dipublikasikan di media apapun, baik online maupun offline.
  4. Panjang naskah antara 4-6 halaman. Diketik di kertas A4, huruf TNR 12, spasi 1,5 dan margin 3 cm tiap sisinya. Kirim naskah ke: audisibackpackerwannabe@yahoo.com dengan judul email: BW-Judul Naskah
  5. Kamu boleh menambahkan foto bacpackermu yang narsis, lucu dan unyu. Maksimal 2 saja ya he3
Jangan lupa sertakan juga biodata naratif Anda maksimal 100 kata di akhir naskah. Semua berkas tersebut dilampirkan di attachment, jangan di badan email.
Naskah diterima paling lambat 04 Desember 2013.

Meskipun ini hanya audisi namun kami menyediakan gift bagi 3 naskah terbaik:
Naskah Terbaik 1: IC Safety Belt dan Multifunction Pocket
Naskah Terbaik 2: Multifunction Pocket dan Tissue Pocket
Naskah Terbaik 3: Multifunction Pocket
Lalu untuk 25 naskah terbaik akan dibukukan dengan naskah Ihwan Hariyanto.  Karena ini diterbitkan secara indie, maka kontributor tidak akan diberikan royalti namun akan mendapatkan diskon 20 persen jika membeli bukunya sendiri.

Jika naskah-naskah yang terpilih mempunyai nilai jual yang tinggi maka akan kami coba ajukan ke investor untuk diterbitkan secara major dan tentunya semua kontributor akan mendapatkan royalti. Oleh karena itu keluarkan kemampuan terbaikmu yaa!!

Please, feel free to copy paste and share to everyone!

Salam Travelling

Friday, November 22, 2013

Blusukan di Acara Lomba Lintas Bukit Cumfire 2013

Endi, sahabat yang saya kenal semenjak tahun 1999, mengajak saya untuk ikutan acara Lomba Lintas Bukit yang diadakan oleh komunitas Pecinta Alam Cumfire Batam. Dulu kami sering menjadi panitia acara ini. Nah sekarang ketika sudah nggak aktif lagi di komunitas ini rasa-rasanya perlu juga mencoba jadi peserta. Syaratnya hanya membayar uang pendaftaran 60 ribu rupiah per tim dengan anggota tim berjumlah 3 orang. Jadi Endi dan saya pun sibuk mencari siapa orang ketiga yang akan ikut dengan kami.
Endi dan Meri

Syukurnya ada Meri, rekan di tempat kerja saya yang mau bergabung. Dia antusias sekali. Sudah lama anak ini termehek-mehek pengen ikut setiap kali saya kemping atau ada acara outdoor lainnya. Jadi sekali ajak saja dia udah girang minta ampun.

Alhamdulillah suami ngasih izin juga. Rencananya Chila di rumah saja bareng ayahnya. Namun nggak disangka-sangka ternyata suami mendadak harus lembur. Waaah jadi Chila sama siapa dong? Kalau dititip sama si Uwa, yang biasa jaga, kasihan juga. Sementara setiap pagi hari Chila selalu menghitung hari bak Krisdayanti :D
     “Bunda hari ini hari apa? “
     “Senin Nak.”
     “Waah berarti besok Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, daaan Mingguuuu...horeee Bunda libur.”

Hikss...setiap pagi dikala bangun tidur Chila selalu menanyakan ini hari apa. Dan mengulangi ucapan tadi dengan redaksi yang sama. Kasihan banget nih anak. Ketauan kangen banget pengen manja-mnaja di rumah sama bundanya. Jadi ketika tau ayahnya kudu kerja saya hampir ngebatalin rencana ikutan lomba tadi. Tapi pas ngobrol-ngobrol sama Chila ternyata dia juga mau ikut. Horee...!!! Ya sudah deh Chila diajak sekalian. Biar aja kami berempat, toh niatnya bukan untuk menang lomba kok tapi untuk mengenang kembali peristiwa-peristiwa yang biasa saya dan Endi lalui dulu. Ya kami memang lagi kangen hutan.

Chila di Garis Start
Hari Minggu tanggal 10 November 2013 acara Lomba Lintas Bukit yang ke-20 digelar. Seluruh peserta berkumpul di Lapangan Community Centre (CC) Muka Kuning Batam. Walau pagi itu hujan, acara tetap berlangsung meriah. Tak kurang dari 210 tim yang ikut. Berarti ada sekitar 630 peserta dalam event ini. Lumayan ramai. Tapi semasa saya jadi panitia tahun 2002 silam (aaah... sudah lama sekali yaa..) pesertanya hampir seribu orang. itu pun banyak peserta yang mendaftar di hari terakhir ditolak karena panitia sudah kerepotan.

Diantara peserta kami bertemu juga dengan seinior-senior saya Aa Sam dan Aa Rahmat yang sama-sama menjadi peserta. A Sam malah lengkap dengan Istri dan ketiga anaknya. Sedangkan A Rahmat hanya dengan dua naknya. Ninuk istri A Rahmat nggak ikut karena sedang hamil muda.

Keberangkatan peserta diatur per 10 tim tiap 3 menit sekali. Sedangkan kami kena giliran paling akhir. Nyesel juga berangkat belakangan soalnya bawa Chila yang tentu jalannya akan lebih lambat.

Rute dan jalur Lomba Lintas Bukit yang ditempuh memasuki kawasan Hutan Lindung Muka Kuning. Mulai dengan menyusuri jalanan di kawasan Simpang Dam, Perumahan Otorita lalu naik ke Bukit Gundul (begitulah kami menyebutnya :D) lalu baru memasuki hutan. Turun naik bukit berkali-kali. Sementara jalur sangat licin, becek, penuh genangan air serta lumpur. Chila malah enjoy menginjakkan kakinya di lumpur-lumpur hitam sepanjang jalur. Tampaknya dia menikmati sekali berbecek-becek ria. Ah biarkan saja. Sewaktu kecil dulu saya juga sama paling suka sama tempat basah dan becek seperti itu :D Selamat menikmati Chil!

Benar dugaan saya. Kecepatan berjalan kami memang paling lambat di antara seluruh peserta lainnya. Laah terang saja bawa balita. Untungnya sekali-kali saja Chila minta digendong. Kalau lihat jalur becek dia meronta-ronta pengen turun dari gendongan. Lalu menginjakkan sendalnya ke lumpur becek sambil menghentak-hentakkan kakinya. "chila suka deh sama jalan ini" katanya. Tak ayal celana tidur panjang yang dikenakannya sudah berlumuran lumpur sampai ke paha. Hihi...dia emang salah kostum. Gara-gara pagi-pagi sebelum berangkat dia ngambek-ngambek nggak mau pake baju yang lain. Ya sudah daripada nggak jadi pergi, pakaikan aja baju sesuka hati dia. Namanya juga anak-anak.

Selepas Bukit Gundul ternyata banyak peserta yang beristirahat. Chila senangnya minta ampun karena sudah menyusul peserta lain. Dia pun nggak mau beristirahat tetap maju terus. Ayo Chil...semangaaat!

Lama-kelamaan jalur semakin berat. menanjak, menurun, dan licinnya minta ampun. Tak ayal membuat para peserta brak-bruk...gedebak-gedebuk...satu per satu tumbang berjatuhan bagai jatuhnya nangka yang sudah masak di pohon. Setiap ada yang jatuh suasana menjadi riuh rendah, bersahutan saling teriak, tertawa, dan saling mengejek.

Pyuuuh...memang jalurnya luar biasa sodar-sodara. Bikin pinggang terasa fatah-fatah :D saking menantangnya. Hingga satu ketika Chila tampak mulai capek. Namun karena dari awal sudah saya pesan tidak boleh mengeluh dan bilang capek, nih anak benar-benar konsisten memegang janjinya. Tidak sepatah kata pun kata capek keluar dari mulutnya. Karena kasihan saya pun akhirnya bertanya padanya "Chila capek?" lalu dia pun menganggukkan kepalanya ragu-ragu. Duh terharu dan kasihan lihatnya. Saya pun mengajaknya untuk beristirahat sejenak sambil makan camilan coklat dan roti.

Keikutsertaan Chila tak urung mengundang decak kagum peserta lainnya yang hampir semuanya sudah dewasa. Sepanjang perjalanan Chila selalu menjadi objek pembanding bagi mereka yang kelelahan. "Tuh lihat adik kecil aja kuat masa sih kamu nggak kuat." Kata mereka. Alhamdulillah Chila memang luar biasa. Saya awalnya was-was apakah dia bisa atau tidak. Sesekali memang minta gendong namun tetap aja dia juga berjalan berpuluh hingga beratus meter ke depan.

Untungnya sejauh apa pun banyak yang simpati padanya. Seperti seorang Bapak-bapak yang sedari awal sering godain Chila berkali-kali menawarinya untuk digendong. Semula Chila menolak namun setelah saya bujuk-bujuk  akhirnya dia mau juga. Yaiyalaaah... kesempatan saya untuk meringankan beban haha. Alhamdulillah banget beban saya berkurang belasan kilogram :D

Di tanjakan mendekati pos 2 saya dan Chila tengah berdiri sejenak untuk mengatur posisi langkah karena banyak terdapat akar dan ranting yang menghalangi. Tiba-tiba braaak...sebatang kayu jatuh tepat di depan kepala saya dan menyentuh ujung topi yang saya kenakan. Sementara Chila yang berdiri tepat di depan saya mendadak menjerit dan menangis sekencang-kencangnya. Saya syok, kaget. Masya Allah takutnya kayu tadi kena kepala Chila. Saat ditanya Chila bilang kakinya yang kena timpa kayu. Begitu diperiksa kakinya memang berdarah dan Chila tidak bisa berjalan lagi.

Chila pun saya gendong namun ketika hendak menyebrang danau, si Bapak yang tadi menggendong Chila menawari kembali untuk menggendongnya. Melihat jembatan penyebrangan cuma sebatang pohon saja jujur nyali saya langsung ciut. Nggak berani gendong Chila dengan kondisi penyebrangan semacam itu. Dan ketika menyerahkan Chila ke gendongan Bang Ali, nama si Bapak itu, dia tampak gemetaran. Saya semakin panik. Apalagi di danau itu tak ada sedikit pun alat lain sebagai alternatif untuk menyebrang. Duh saya khusuk berdoa. Takut terjadi apa-apa sama Chila. Apalagi ayahnya Chila sudah berpesan "Tanggung jawab ya Bunda kalau kenapa-napa sama Chila." Kalimat itu terus terngiang sepanjang perjalanan membuat saya kurang menikmati karena harus berbagi was-was dengan kekhawatiran akan keselamatan Chila. Beuh...si ayah kenapa harus ngomong begitu jadinya malah berpengaruh sekali sama psikologi bundanya.

Huh, dari semua lintasan cuma penyebrangan di danau ini yang benar-benar membuat saya takut bukan kepalang. Batang yang licin dan lumayan panjang membuat jantung dag dig dug tak karuan. Alhamdulillah Chila berhasil disebrangkan. Duh Bang Ali makasih banyak ya, Saya malah belum berucap terima kasih kepadanya saking khawatirnya.

Ketika mencapai Pos tiga di Pancur Simpang Dam, Chila udah bisa dilepas dari gendongan dan mengobrol dengan panitia sambil lukanya ditetesi betadine. Dia kemudian bertanya apakah lukanya sudah sembuh. Saya jawab sudah, hanya untuk memberinya sugesti supaya dia tidak terlalu kesakitan.Padahal kaki Chila berhari-hari kemudian masih tampak bengkak.

Saat menggendong Chila di penyebrangan terakhir menuju kawasan Simpang Dam, saya sudah tak kuat lagi. Otot-otot paha menegang jari-jari kaki kram luar biasa dan badan hampir roboh.

"Chil boleh nggak Chila jalan, bunda udah nggak kuat lagi nih mau pingsan rasanya." Bujuk saya.
"Iya boleh, bunda-bunda jangan pingsan ya. Bunda harus kuat." Kata Chila sambil turun dari gendongan. Pyuuh...narik nafas lega. Alhamdulillah Chila udah bisa jalan lagi. Walau saya tau sebenarnya kakinya masih berdarah. Makasihya Nak atas pengertiannya.

Sekitar Jam 3 sore kami akhirnya tiba kembali di lapangan CC. Hingar bingar suara music terdengar. Saya dan Chila langsung bersih-bersih dan ganti pakaian.

"Halo, Ayah..ini Chila, Chila udah kembali dengan selamat." Chila antusias menelpon ayahnya yang masih kerja.

Foto-foto menyusul jaringan lemot sekali.


 



Jadi Tour Guide Keluarga ke Singapura

Tanggal 31Oktober sampai  4 November 2013 kemarin, saya mengantar adik dan sepupu dari Bandung jalan-jalan ke Singapura. Sebenarnya agak malas juga sewaktu berangkat itu, tapi rasanya gak tega kalau semisal mereka nyasar-nyasar di negeri orang tanpa tujuan. Saya juga sebenarnya yang harus bertanggung jawab kalau mereka kenapa-kenapa. Toh memang saya yang menjerumuskan mereka untuk berangkat.

Nah sewaktu gencar-gencarnya promo tiket murah Air Asia beberapa bulan lalu, iseng sih hunting tiket mana tau ada destinasi impian yang harganya murah untuk kami sekeluarga. Semua jurusan di klik. namun sayang sayanya belum nemu juga. Nggak sengaja lihat tujuan Bandung – Singapura cuma 189 ribu. Ah lumayan murah segitu mah. Pulang pergi kan jadi RP 378.000. Setelah mikir-mikir kayaknya seru juga kalau booking-in buat adik. Tapi kasihan kalau dia pergi sendiri jadi sekalian deh saya booking-kan untuk dua orang sepupu kami juga. Setelah sms nanya-nanya nama lengkap dan tanggal lahir ketiganya, maka data penumpang pesawat sudah lengkap dan tinggal klik beli (dengan menggunakan Kartu Kredit) maka confirmed pembelian tiket sudah selesai. Itinerary-nya pun tinggal cek di inbox email.

Karena berbagai hal akhirnya yang jadi berangkat hanya 2 orang saja. Adik saya Ahmad Fauzi Ridwan dengan sepupu kami Irfan Ahmad Fauzi. (Laah kok nama keduanya mirip ya malah kebalik-balik :D) sedangkan si Rizal anak paman saya katanya sibuk kuliah. Ya sudahlah berarti tiketnya hangus deh. Duh sayang banget seandainya bisa ganti nama penumpang bisa dialihkan untuk saudara lainnya yang mau. Tapi sayang tiket promo ini gak bisa ganti nama.

Saya berangkat sendiri dari Batam. Bang Ical, Suami saya gak bisa ikut karena kerja. Sedangkan Chila, ah kasihan nanti kecapek-an karena rencananya kami mau muter-muter ke berbagai tempat termasuk ke Pulau Sentosa dan Johor Malaysia. Dan sewaktu ke Singapura Agustus lalu Chila terlihat kelelahan sekali, malamnya mendadak demam walau gak rewel. Jadi biarlah dia ditinggal di Batam sama ayahnya.

Di Singapur saya mengantar keduanya muter-muter ke kawasan Bugis, Little India, Marina Bay, dan Pulau Sentosa. Tak lupa mampir ke Johor juga. Cuma sekedar keren-kerenan aja sih biar mereka senang, numpang cap stempel Malaysia di Passport mereka :D Jadi passportnya sudah di stamp oleh dua negara tetangga Singapur dan Malaysia.

Alhamdulillah senang melihat keduanya begitu bersemangat. Kami tidak sekedar jalan-jalan saja namun juga berdiskusi bagaimana menata lingkungan kita seperti di Singapura yang tertata, rapi, dan bersih. Senang rasanya bisa memasukkan ide-ide dan menyusupkan misi terselubung saya yang sebenarnya. 

Saya percaya, keduanya, adik dan sepupu saya itu adalah calon-calon pemimpin masa depan jadi setidaknya punya gambaran yang real, ideal, tentang tata kota yang nyaman. Hihi muluk banget sih misi saya ini, tapi Alhamdulillah setidaknya mereka punya perbandingan. Apalagi kami berbicara tentang Garut Selatan yang baru saja memekarkan diri menjadi kabupaten tersendiri. Kami mendiskusikan seharusnya ada alat transportasi kereta api serupa MRT yang menghubungkan tiap kecamatan di sana. Kontur alam yang berbukit dan jurang-jurang sebenarnya tidak ideal untuk pembangunan jalan raya, siapa pun yang pernah ke wilayah ini tau bahwa jalan menuju Garut selatan itu berkelok-kelok dan memabukkan. Nah idealnya kan membangun jalur rel kereta api seperti yang pernah dilakukan Belanda dahulu kala di wilayah ini. 

Diskusi terlalu melebar memang, tapi saya senang bisa berbagi pemikiran dengan mereka berdua. Semoga keduanya kelak akan menjadi pemimpin yang diidam-idamkan oleh masyarakat. Pemimpin yang mempunyai visi misi yang kuat untuk membangun ddan memajukan daerahnya.



Berikut foto-foto narsis kami.
Jalan Tempat Hostel Berada
Tempat makan murah di Lavender MRT Station
di Marina Bay
Haha...

Di Pulau Sentosa

Thursday, November 7, 2013

Why? Because it's November!

Hanging Out Bareng Adik
Yes, November sudah tiba walau sebenarnya terlambat posting di tanggal 7 ini :D pengennya posting di awal November sekalian buat give away gitu. Tapi kemaren itu saya lagi kelayapan ke Singapura nemenin adik dan sepupu dari Bandung yang sengaja saya traktir jalan-jalan ke sana. Alhamdulillah bisa nyenengin mereka gara-gara dapat tiket promo Air Asia seharga 180 ribu Bandung-Singapura. Jadi sayang kalau nggak diambil. Tiket segitu terbilang murah lah. Kebetulan juga, ini sih hitung-hitung ucapan selamat buat adikku yang lulus masuk Perguruan Tinggi Negeri di Bandung, yaitu UPI setelah berjibaku ikut berbagai macam tes di PTN lainnya. Untung tidak putus asa padahal sudah 7 kali gagal tes. #salut banget sama perjuangan adikku yang satu ini.

Back to topic. Give away! ya pengen banget ngadain Give Away di bulan November ini. Pasalnya ini adalah bulan kelahiran saya yang sebenarnya. Loh emang ada gitu yang palsu? Iya ada sih.Tanggal lahir saya di KTP tertulis tanggal 16 Juni padahal sebenarnya saya lahir 2 November. Ini sih gara-gara dulu pas masuk SD kudu pas umur 7 tahun, eh jadinya malah umur saya dikorting 5 bulan ke depan.

My Lovely Brother
Berhubung dah terlewat ya sudahlah, give away-nya lain waktu aja kali ya. Namun ketika awal-awal buat blog ini, pertama kali pindah rumah dari Multiply ke Blogspot sini, saya sempet berjanji dalam hati bahwa siapa pun yang jadi follower pertama dan kedua bakal saya kasih kenang-kenangan alias oleh-oleh dari Batam. Bentuknya bisa apa aja deh tergantung pas saya lagi nyari pas dapat. Ya yang penting keren deh kalau untuk ukuran oleh-oleh atau kenang-kenangan mah.

Siapakah Follower pertama dan kedua saya itu? Yang pertama adalah Sindy Shaen (@sinshaen) walau sekarang Sindy ini udah nggak jadi follower saya lagi, entah kenapa hikss...:( dan yang kedua Nduk Ila Rizky Nidiana (@ila_Rizky) Ah taulah semua sama si Nduk imut, baik, pinter dan tidak sombong ini.

Nah jadi kalau Ila sama Sindy bertanya-tanya kenapa? Ya karena hal di atas tadi. Tidak ada alasan lain. Semata-mata karena saya sudah berjanji dalam hati. Nah namanya janji kudu ditepati bukan? Tunggu saja paketannya kurleb 1 minggu ke depan yaaa...paling telat Insya Allah akhir November udah nyampe rumah masing-masing kecuali pake alamat rumah temen kayak Sindy :D


Tuesday, November 5, 2013

Slim Aspire E1, Laptop yang Multifungsi untuk Bekerja dan Bermain Bersama Keluarga

Saya seorang yang mobile dalam bekerja. Tidak melulu duduk manis di depan komputer atau laptop. Terkadang harus ganti ruangan dari ruangan satu ke ruangan lain. Darei satu sub/section ke section lainnya. Bahkan sering pula ganti gedung.

Posisi saya menuntut untuk lebih mengawasi qualitas dan produktivitas para karyawan perusahaan. Setelah itu melaporkannya kepada pihak manajemen secara rutin setiap hari. Namun seringkali laporan yang penuh dengan data, gambar-gambar juga foto kebanyakan tidak terekam dengan baik karena kebanyakan komputer yang digunakan masih pentium 3 dan 4. Dan software yang tertanam di dalamnya sangat terbatas. Sedangkan banyak laporan yang membutuhkan bahan pendukung seperti teknik grafis dengan performa yang tinggi.

Seringkali saya membawa laptop sendiri ke tempat kerja. Syukurnya perusahaan tidak melarang. Namun kerap juga saya mempunyai masalah dengan beberapa tas yang kekecilan. Sedangkan barang-barang yang saya bawa ke tempat kerja ternyata seabrek. Tidak hanya laptop saja namun bekal untuk makan siang, buku, mukena, book note, serta perlengkapan kerja lainnya. Kalau sudah begini seringnya laptop yang mengalah. Seandainya saja laptop saya lebih tipis mungkin tetap masih bisa terbawa ke tepat kerja.

Kadang berandai-andai juga kalau saja saya punya laptop Acer Aspire E1-432 yang lebih tipis 30% dibanding laptop lainnya, mungkin kinerja saya bisa lebih maksimal. Sudah gitu karena ketebalan hanya sekitar 25.3 mm saja maka mudah dibawa kemana-mana. Masuk tas pun tidak membutuhkan banyak ruang. Sedangkan beratnya ya pasti lebih ringan dibanding laptop lain sekelasnya. Hanya sekitar 2,1 kg. Lebih ringan dibanding bayi baru lahir kan? Hehe...

Nah siapa sih yang nggak ingin tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya?Tentu hampir semua dari kita para emak baik yang bekerja di luar maupun di rumah banyak yang menginginkannya. Ah ya para bapak juga tentu malah lebih keren lagi kalau menggunakan notebook slim ini. Lihat deh tampilannya yang elegan menambah percaya diri bagi si pemiliknya.
 
Pilihan warnanya elegan. Foto dari sini

Selain untuk bekerja, notebook Acer Aspire E1-432 juga bisa digunakan untuk bermain game di rumah bersama anggota keluarga.Apalagi si Chila anak saya, suka sekali main game-game tentang merawat bayi. Maklum dia kepengen cepat-cepat punya adik :D 

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan olehKumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

Wednesday, October 30, 2013

Antara Body Slim dan Notebook Slim


Hei Mak, ngaku deh pasti semuanya pada kepengen punya tubuh yang ideal kaaan? Kalau disuruh nyebutin apa sih ciri-ciri tubuh ideal itu, saya sih haqqul yakin emak-emak bakalan serentak serempak bak paduan suara, salah satunya pasti nyebutin kata  “Langsiiiing…,” kalau di iklan-iklan televisi sih seringnya disebut dengan kata “slim.”

“Slim salabim abrak kadabrak,”  (ini mantra asal loh mak :D) tadaaaa….gara-gara minum teh atau susu maka si model iklan yang emang dari sononya udah slim berubah mendadak langsing bin ramping. Sampe-sampe badannya bisa melewati celah sempit saking langsingnya. Ah mak jangan percaya deh sama iklan-iklan begituan. Swear deh gak bakalan ramping dengan cara instan seperti itu. 

Semenjak punya bayi, berat badan saya malah turun drastis hingga mencapai angka 42 kg seperti sekarang ini. Kurus banget kan ya? Padahal sewaktu kelas 3 SMP berat badan saya segitu juga loh :D. Dan itu bukan gara-gara minum pelangsing loh. Karena kurus itu sampe-sampe saya diledekin suami gini "makanya bunda jangan makan hati terus, tapi makan nasi," hihi... Lah kumaha ieu teh

Jadi tak perlu pusing minum-minum teh atau susu pelangsing ya mak. Menyusui, olahraga teratur, makan makanan yang sehat dan bergizi, serta menjaga pola makan itu juga bisa membuat langsing loh. Tapi jangan sampe kelewat kurus seperti saya, ya ya ya. Laah ini kok malah ngebahas gaya hidup sehat sih :D

Eh mak, ternyata gak body aja loh yang harus slim, buat saya nih yang suka nulis dan kelayapan ke luar buat jalan-jalan atau traveling, punya laptop yang tipis itu kudu dan wajib. Apa gak gempor ya mak kalau setiap jalan barang bawaan kita seabrek ditambah laptop yang tebel dan berat. Hadooh pulang-pulang bisa-bisa pergi ke tukang pijit terus deh.

Oya sekarang Acer produsen laptop terkemuka mengeluarkan Acer seri terbarunya yaitu Acer E1 slim series. salah satunya Acer Aspire E1-432 yang paling tipis di kelasnya. Yang pasti keunggulannya lebih tipis dan mudah dibawa kemana-mana. Praktis tidak perlu tas khusus buat nyimpennya. bisa dimasukin tas ransel atau tas jinjing sekalian. Udah gitu karena tipis maka tidak berebut ruang sama benda lainnya. Mudah dibawa kemana-mana jadi mobile gak takut ribet.

Tertarik kan mak? Yaiyalaah. Apalagi tuh buat emak yang masih punya anak TK atau SD, terus meski nungguin anaknya di sekolah, kan daripada bengong lebih baik nulis atau online pakai laptop E1-432 ini. Praktis. Kalau nulis di handphone atau tablet dijamin gak puas deh. Apalagi yang tulisannya suka panjang dan dikirim buat media. Hadoooh meski ribet pindahin sana-sini pakai bluetooth terus begitu dipindahin meski merubah settingan tulisannya. Font atau sizenya.

Nulis langsung di laptop terus laptopnya juga bisa mobile dibawa kemana-mana itu sungguh keren mak. Tertarik kaaan?

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.







Wednesday, October 23, 2013

Travel Blogger Harus Punya Notebook ini



Saya seorang pecinta traveling. Terutama menyukai aktifitas traveling yang beraroma petualangan alam seperti mendaki gunung, menjelajah hutan, menyebrangi laut, atau mengunjungi pulau-pulau kosong, dan menyusuri pantai, goa, serta kegiatan yang memacu dan memicu adrenalin lainnya. Walau tidak dipungkiri saya juga sebenarnya menyukai traveling ke tempat-tempat wisata umum yang turistik seperti Bali dan Singapura, namun tetap saja kegiatan petualangan ke alam bebas menempati urutan pertama dalam daftar  most wanted activity dalam hidup saya :D

Setiap traveling atau jalan-jalan saya senantiasa mensiasati agar melakukan perjalanan sehemat dan semurah mungkin, baik dari segi transportasi, konsumsi, maupun akomodasi. Namun tetap tidak menghilangkan unsur aman dan nyaman. Ibaratnya sih kalau bisa jalan kaki kenapa harus naik bis. Kalau bisa kemping buka tenda sendiri kenapa harus menginap di hotel. Atau kalau bisa masak sendiri kenapa juga harus makan di restoran.

Barang bawaan pun saya ringkas dengan menggunakan ransel (backpack) saja. Sebisa mungkin saya hanya menggunakan satu ransel yang tinggal digemblok saja di punggung. Ringkas dan tidak ribet. Tidak harus angkat jinjing tas atau dorong-dorong koper. Walau barang bawaan emak-emak tergolong banyak karena harus mengikutsertakan perlengkapan si kecil, namun Alhamdulillah sejauh ini saya mampu mensiasatinya. Orang bilang gaya traveling seperti saya tadi disebut backpacking. Gaya jalan-jalan ala ransel bukan ala koper.

Sebagai seorang backpacker amatiran, saya suka sekali menuangkan kisah perjalanan backpacking saya ke dalam sebuah tulisan. Saya bahkan mengkhususkan blog ini sebagai travel blog yang merekam jejak perjalanan saya selama mengunjungi berbagai tempat yang menarik di wilayah-wilayah Indonesia dan lainnya.

Menuliskan catatan perjalanan dan kemudian mengunggahnya ke dalam blog akan lebih seru dan up to date jika menuliskannya pada saat kegiatan jalan-jalan itu berlangsung. Namun tak jarang ketiadaan laptop atau komputer di lokasi jalan-jalan membuat catatan-catatan perjalanan itu hanya tersimpan dan mengendap di dalam memori otak saja. Padahal banyak hal penting dan momen berharga lainnya yang seharusnya saya langsung tulis saat itu, malah menjadi sia-sia. Terkadang ketika sudah pulang ke rumah malah terlupa untuk menuliskannya sehingga blog pun tidak ter-update dan momen penting itu pun terlewatkan begitu saja.

Pernah suatu ketika akan pergi jalan-jalan, saya ingin membawa laptop. Alasannya biar bisa tetap menulis selama perjalanan dan merekam langsung jejak perjalanan tersebut agar tidak keburu lupa. Dengan membawa laptop, foto-foto yang diambil oleh kamera saku pun dapat segera dipindah dan diedit. Apalagi saat itu semangat menulis saya sedang menggebu-gebu. Namun apa daya ketika hendak memasukkannya ke dalam ransel yang sudah penuh dengan barang-barang lainnya, laptop pun sudah tidak muat lagi. Apalagi isi ransel saya bagai cerminan isi rumah. Di dalam ransel terdapat tenda, perlengkapan masak, pakaian, kebutuhan logistik, P3K, dan lainnya. Saya pun akhirnya harus merelakan si laptop tidak terangkut ransel karena faktor berat dan tidak ketersediaan ruang dalam ransel tadi. Hikss…

Walaupun demikian, dalam perjalanan itu saya berusaha tetap menulis dengan peralatan seadanya. Seperti misalnya menggunakan smart phone. Namun sayang, perangkat ini kurang nyaman dan tidak leluasa. Saya pun beralih menulis di tablet. Yang ada saya malah tambah putus asa karena menulis di tablet ternyata membutuhkan waktu yang lama. Layarnya yang sensitif membuat hurufnya berlari-lari ke sana kemari. Huruf-huruf itu seakan berloncatan. Memencet A berubah menjadi S, mengetik U berubah I, memencet N berubah jadi M. Duh apa jari-jari saya memang jempol semua ya? *Mata saya nanar menatap jari-jemari.

Ah seandainya si laptop itu terbawa. Maka akan banyak cerita yang dapat saya bagi secara live. Namun sayang ia harus berbagi ruang dengan barang lain. Seandainya si Latifeh laptop itu bisa mengecil sedikiiit saja mungkin bisa nyelip-nyelip dalam salah satu bagian pouch (kantong) ransel. Nah sebab itu  yang saya butuhkan adalah laptop yang lebih tipis sehingga mudah menyimpannya dalam backpack sekalipun bacpack ukuran kecil. Saya yakin seluruh travel blogger akan sangat menginginkan jenis laptop seperti ini.

Ketika browsing dan membuka website Acer, saya terkejut senang karena ternyata Acer mengeluarkan produk terbarunya yakni Aspire E1-432 yang tipis 30% dibanding notebook keluaran Acer lainnya. Waaah ini mah muat banget untuk diselip-selipin di ransel saya. Apalagi ketebalannya hanya sekitar 25,3 mm saja.

Gambar diambil dari sini
Tidak hanya tipis notebook  Aspire E1-432 juga dilengkapi dengan fitur penting yang terdapat pada laptop secara umum. Dengan DVD-RW, 3 buah port USB, VGA port HDMI port, webcam HD, dan juga port LAN untuk terhubung dengan jaringan hotspot.

Ah walaupun belum punya rasa-rasanya kudu punya nih laptop Aspire E1-432 ini selain keunggulan fitur-fitur di atas tadi produk ini menggunakan prosesor Intel Celeron 2955U yang efisien.

Jadi seandainya saya jalan-jalan dan menulis, maka laptop ini menjadi pilihan utama saya.
.
Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh KumpulanEmak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

Tuesday, October 8, 2013

Khatib, Mengunjungi Sisi Lain Singapura

Tak disangka ketika  jalan-jalan ke Singapura saya mendapat bonus bertemu teman yang lebih dari 13 tahun kehilangan kontak. Teman satu rekrutan dari Garut dan Tasikmalaya pada perusahaan tempat saya bekerja sekarang.


Menuju Rumah Ronida
Endah dan Ronida. Mereka adalah dua orang teman yang saya maksud. Mereka telah lama bermukim di Singapura mengikuti jejak para suami yang orang asli sana. Endah tinggal di Toa Payoh sedangkan Ronida di Khatib. Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk mengunjungi kedua lokasi tersebut maka saya dan Endah sepakat untuk bersama-sama bertemu di rumah Ronida.


Bertemu dengan mereka adalah hal yang paling membuat saya bersemangat pagi itu. Maka setelah sarapan, saya bersama suami dan Chila meninggalkan hostel dengan menaiki bis menuju Stasiun MRT City Hall. Dari stasiun ini kami menaiki MRT yang berada di jalur merah dengan kode jalur NS (North South). Jalur ini menghubungkan wilayah-wilayah Singapura dari utara ke selatan.

Di stasiun Toa Payoh kami turun untuk menunggu Endah.10 menit kemudian Endah muncul beserta anaknya, Lingling yang berwajah oriental. Saya cukup terkejut karena sedikit pun si Lingling ini tidak mirip emaknya. Gen Bapaknya sepertinya tumpah ruah sangat dominan menguasai 99,99 persen tubuhnya.Tak lama setelah pertemuan itu kami melanjutkan naik MRT menuju ke kawasan Khatib. Tidak perlu berganti jalur karena Khatib berada di jalur yang sama dengan Toa Payoh. 
Perumahan tempat tinggal Ronida

Tempat Ronida ternyata tak begitu jauh dari Stasiun Khatib. Hanya berjalan sekitar 10 menit kami sudah tiba di rumahnya. Eh jangan dikira rumah di Singapura seperti rata-rata bentuk rumah di Indonesia yang beratap genting dengan bangunan bertingkat satu atau dua.Tidak. Rumah tinggal di sini ternyata mirip apartemen atau memang sebenarnya apartemen. Kata Endah, hanya orang kaya yang luar biasa kaya saja yang mampu mempunyai rumah sendiri tanpa diembel-embeli bangunan lain. Ya maklumlah karena Singapura termasuk negara kecil jadi pembangunan perumahan, mal dan lainnya sangat menghemat lahan. Pembangunan banyak dilakukan dengan cara membangun ke atas bukan ke samping. Hehe jadi berasa iklan susu remaja "Tumbuh itu ke atas bukan ke samping :D"
Kami bertiga dan para krucil

Saat itu saya masih berasa seperti mimpi. Duh 13 tahun tidak bertemu membuat kerinduan itu seperti meledak seketika itu juga. Alhasil kami bertiga bak anak kecil. Ketawa-ketiwi, ngalor-ngidul membicarakan segala hal tentang masa lalu sampai-sampai suami dan anak-anak pun kami cuekin. Untung saja mereka mafhum. Suami saya hanya duduk sambil baca-baca sedangkan anak-anak sibuk bermain walau sekali-kali Sammy dan Sasa anak-anaknya Ronida mengadu tentang kenakalan Lingling yang teramat usil dan "very-very Naughty" katanya. Sedangkan suami Ronida idak ada di rumah karena bekerja di Dubai Uni Emirat Arab.

Bayangkan begitu banyak cerita yang tak pernah kami rumpikan selama 13 tahun ini. Ah bahagianya bertemu teman lama. Mengalahkan bahagianya bisa jalan-jalan kemana pun.

Siangnya kami mengajak anak-anak bermain di taman air di Seletar Reservoir yang tak jauh dari situ. Taman air yang khusus disediakan bagi anak-anak. Ada kolam-kolam air yang dangkal, air mancur yang bisa disetting besar kecilnya juga pancuran serta shower air yang mirip payung. Asyiknya lagi semua itu gratis. Anak bayi yang sudah bisa duduk usia 7-8 bulan saja sudah dapat menggunakan fasilitas ini. Tentunya dengan didampingi orang tuanya. Dan serunya lagi fasilitas publik semacam ini tersebar di seluruh kompleks perumahan dan pusat perbelanjaan di Singapura.

Chila dan Sasa



Salut sekali. Pembangunan di negara ini ternyata sangat pro kepada anak-anak. Ah gimana nggak pro, laah... bayi yang baru dilahirkan saja mendapat tunjangan langsung kurang lebih 2000 dollar Sing Woow. Dan melahirkan anak kedua serta ketiga tunjangannya lebih besar lagi dibandingkan anak pertama. Ini terbukti pada Ronida. Dia bilang anak ketiganya mendapat tunjangan lebih besar dibanding Sammy dan Sasa kakak-kakaknya.

Wah bayangkan kalau tunjangan itu berlaku di negara kita ya? :D Apa nggak berlomba-lomba kita ingin punya anak banyak.

Sorenya kami pamit, seandainya cukup waktu tentu saja ingin berlama-lama di sana. Namun masih banyak tempat lainnya yang ingin kami kunjungi termasuk Pulau Sentosa.

Wednesday, September 25, 2013

[DearDaughter] Dalam 4 Tahun Kebersamaan

Saat genap usia 3 tahun
Dear Chila, tanpa terasa waktu terus saja berlalu. Ayah dan Bunda masih saja sering terkaget-kaget menyaksikan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kamu baik secara fisik maupun mental. Perubahan seorang bayi mungil yang tumbuh kembang menjadi seorang anak kecil yang imut, pintar, lincah, dan ceria.

Dulu ayah bunda harap-harap cemas karena hampir 1 tahun lebih setelah pernikahan, belum juga diberi amanah oleh Allah SWT untuk mempunyai momongan. Namun di tahun kedua, Alhamdulillah Bunda hamil. Sungguh, mengetahui kehamilan pertama itu adalah hal yang sangat luar biasa. Berbagai rasa campur aduk di sana. Bahagia, cemas, waswas, takut, excited dan perasaan-perasaan lainnya.

Semenjak dalam kandungan, kamu memang baik sekali. Hanya di trimester pertama usia kehamilan saja yang sedikit membuat bunda mabuk kepayahan. Tapi itu wajar, hampir semua ibu-ibu mengalaminya. Jadi ketika gejala morning sickness datang, bunda menganggap biasa dan menjalaninya dengan ikhlas.

Sesaat setelah lahir, masih berdarah-darah
Di usia kandungan 4 bulan dan seterusnya kamu sungguh baik dan luar biasa kuat. Padahal tak jarang bunda ajak kamu overtime terus. Kamu hampir setiap hari bunda ajak bekerja eight to eight. Masuk kerja jam 8 pagi pulang jam 8 malam. Sungguh kamu memang janin yang tangguh. Tak sedikit pun kamu rewel. Padahal bunda sangat sedikit istirahat. Hampir setiap hari 10,5 jam kita berkeliling berjalan dari ujung ke ujung di perusahaan tempat kerja bunda untuk sekedar mengecek dan memastikan teman-teman bunda bekerja sesuai prosedur. Walau kaki bunda bengkak Alhamdulillah bunda baik-baik saja.

Kamu tahu tidak gara-gara itu bunda malah menjadi ajang percontohan ibu-ibu hamil lainnya di perusahaan. “Coba tuh lihat Teh Lina dia aja gak mengke kayak kalian. Dia juga hamil tapi gak begini gak begitu bla..bla..bla…” Ah makasih ya sayang, bukan bundanya yang kuat tapi memang kamu yang luar biasa. Kata orang kalau hamil malas-malasan itu bawaan bayi. Tapi bunda percaya kalau bundanya selalu mensugesti diri bahwa bunda kuat maka bayi bunda juga nantinya akan kuat. Alhamdulillah itu terbukti. Dan kehamilan bukanlah suatu penghalang untuk produktif kan sayang? Kehamilan olehmu adalah salah satu contohnya.
Sewaktu umur 6 bulan

Oh ya, sewaktu kamu dalam kandungan, ayah dan bunda sering memperdengarkan kamu musik dan murotal Al Qur'an. Musik menurut orang-orang pintar katanya bisa membuat perkembangan otak kamu menjadi lebih pesat lagi. Sedangkan murotal Al Quran, itu karena bunda menginginkan kelak kamu menjadi seorang hafizah. Betapa bangga dan bahagianya bunda jika kamu dapat menghafal Al Quran 30 juz lengkap. Dan usaha untuk itu tentu tidak dimulai dari usia kamu 5 atau 7 tahun tapi semenjak dalam kandungan. Ah semoga saja ya sayang. Usaha bunda itu membuahkan hasil.

Kamu lahir sempurna melalui persalinan normal. Lahir tepat jam 12 siang di hari Selasa tanggal 16 Juni 2009 dengan berat 3,3 kg dan panjang 52 cm. Begitu lahir kamu diletakkan di dada bunda. Betapa hangatnya badan kamu Nak, dan kamu hanya menangis sebentar lalu setelah dibersihkan oleh suster kamu bobo manis dengan tenang. Alhamdulillah sorenya bunda sudah dapat menyusuimu. Sungguh kebahagiaan tak terhingga bisa memberimu ASI di hari pertama kamu lahir. Banyak ibu-ibu yang bahkan ASInya tidak keluar di hari pertama persalinan.

Ayah Bunda memberimu nama Sierra Syadza Savanna. Sierra artinya pegunungan, Syadza artinya wangi sedangkan Savanna adalah padang rumput yang menghampar sejauh mata memandang. Semoga nama-nama itu menjadi perwakilan akan keteguhan tekad dan semangatmu meraih cita-cita juga harapan yang luas sehingga kelak namamu semerbak mewangi. Dikenang orang akan keteladanan dan kebaikan-kebaikan yang terhimpun dalam dirimu. Kamu tahu Nak, Ayah Bunda ini suka sekali mendaki gunung maka memberikan nama tersebut sebagai sebuah kenang-kenangan dan kecintaan akan indahnya pegunungan, tempat dimana bunda pertama kali mengenal ayahmu. Tempat dimana kami menautkan hobby dan menghabiskan sebagian besar waktu berlibur dengan menyusuri lekuk jurang dan punggungan-punggungan gunung.

Semenjak usia 8 bulan sudah menyukai laut :D
Sayaaang, tiga bulan kamu dalam penjagaan bunda setelah itu bunda harus kembali bekerja karena cuti persalinan sudah selesai. Bunda bingung siapa yang akan menjagamu. Untung saja nenek dari Garut bersedia datang ke Batam untuk sementara waktu sebelum bunda menemukan penjaga yang tepat untukmu. Bukan maksud bunda melalaikan tanggung jawab untuk merawatmu tapi demi masa depan kita kelak yang lebih bahagia ya Nak. Maafkan bunda harus tetap bekerja.

Kamu tahu tidak Nak hingga sekarang setiap akan berangkat kerja hati bunda merasa teriris. Tak tega meninggalkanmu dalam penjagaan orang lain. Apalagi kamu selalu ngambek dan bertanya kenapa sih bunda kerja terus, ibu-ibu yang lain kok gak kerja. Masih saja terngiang-ngiang ucapanmu itu. Maafkan bunda ya sayang. Percayalah bunda juga sebenarnya ingin menjagamu di rumah namun tentu saja ada hal lain yang belum bisa kamu mengerti.

Bunda ingat suatu malam ketika usiamu masih 6 bulan kamu menangis histeris tak henti-henti. Ayah bunda sudah bergantian menggendong dan menenangkan kamu dengan berbagai cara. Namun telah satu jam lebih kamu terus saja menangis. Ayah bunda telah kehabisan cara. Harus bagaimana lagi agar kamu tenang. Sungguh kami sangat panik takut kamu kenapa-napa. Entah bagaimana tiba-tiba bunda ingat untuk memperdengarkan murotal Al Qur’an lagi, dan Masya Allah sungguh ayah bunda kaget ketika bacaan murotal Al Qur’an terdengar, kamu mendadak tenang dan diam. Seketika itu juga tangismu reda. Alhamdulillah. Ayah bunda dapat menarik nafas lega. Hanya saling pandang, keheranan ,dan takjub luar biasa. Bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an itu telah menenangkanmu ya Nak.

Mencari kerang
Chila Sayang, sewaktu usia 1,5 bulan ayah bunda mengajakmu jalan-jalan. Putar-putar Pulau Batam hingga Jalan Raya Barelang. Jalan yang menghubungkan Pulau Batam dengan pulau-pulau lainnya di wilayah selatan. Sampai tiba di ujung Jalan Raya Lintas Pulau yakni di Pulau Galang Baru. Dan itu sangat jauh sekali. Kita berkeliling dari pagi hingga malam tiba. Awalnya waswas takut kamu kenapa-napa tapi ternyata kamu memang kuat. Kamu baik-baik saja, tidak masuk angin dan tidak rewel setelah tiba di rumah. Karena itulah setiap bunda bepergian sudah tak khawatir lagi jika mengajakmu ikut serta. Bahkan ke hutan sekali pun bunda sering mengajakmu. Kita bermain-main di air sungai dan menikmati suasana teduhnya hutan. Ah kamu malah senangnya minta ampun. Bahkan kita pun pernah kemping di tepi danau di salah satu kawasan hutan lindung di Batam juga di pulau kosong tanpa penghuni. Dan kamu selalu saja punya cara tersendiri dalam menikmati petualangan itu. Memunguti daun-daun kering, mengamati semut, main pasir, berburu umang-umang, berenang-renang, mengumpulkan cangkang-cangkang kerang dan lainnya.

Sayang bunda bahagia atas kehadiranmu. Hari-hari selalu saja penuh warna. Maafkan bunda yang kadang tak sabar jika kamu bertanya tentang sesuatu. Di usiamu sekarang yang menginjak 4 tahun ini menuntut bunda untuk lebih bersabar dan belajar lagi bagaimana menjadi seorang ibu yang bijak. Kamu sudah kritis dan bertanya macam-macam. Maafkan bunda yang terkadang menjawab pertanyaanmu dengan nada yang keras kalau sedang kesal terhadap sesuatu. Duh padahal bunda ingin selalu mendidikmu dengan penuh kelembutan.

Bunda akan selalu mengaminkan setiap doa-doamu yang kini sudah kamu hafal dengan sendirinya. Kalau setelah belajar sholat, doamu yang terucap seperti ini:
Hafalannya ditingkatkan lagi ya Sayang!
“Ya Allah semoga Chila menjadi seorang hafizah, Amiiin.” Doamu terlantun lembut seraya mengusapkan kedua telapak tangan ke muka. Bunda hanya bisa menatapmu takjub dan membatin Ya Allah kabulkanlah permintaan anak ini, dia telah berdoa kebaikan untuk dirinya sendiri.

Alhamdulillah hafalan surah-surah pendek Al Qur'anmu sudah mulai membaik walau terkadang Bunda lalai tidak berusaha untuk menguatkan hafalan kamu dengan mengulang-ulangnya kembali. Maklum di rumah sibuk juga dengan pekerjaan rumah tangga. Teruslah semangat belajar ya Sayang. Peluk cium dari bunda yang selalu bersyukur atas kehadiranmu ke dunia.

Tulisan ini dalam rangka proyek #DearDaughter di KEB yang diprakarsai oleh makpuh Indah Juli. Saya terima tongkat estafet dari Mbak Ade Anita dan sekarang saya serahkan kepada Jeng Windi Teguh yang sedang berbunga-bunga karena baru saja menjadi seorang ibu :D

Saturday, September 14, 2013

Gunung Papandayan, Sebuah Kerinduan yang tak Berkesudahan


Gunung Papandayan
Pondok Saladah
Pertama kali mengunjungi Gunung Papandayan sekitar tahun 1991 sewaktu masih duduk di bangku kelas 4 SD. Di sana diadakan Jambore Cabang Se-Kabupaten Garut.  Saya dan beberapa teman  menjadi perwakilan dari Ranting Sukaresmi.

Saya langsung takjub dan jatuh cinta pada pandangan pertama ketika menyaksikan gunung itu dari dekat. Jatuh cinta pada semua yang terlihat. Pada pohon-pohon pinus, bebatuan, kawah, tebing-tebing, pohon cantigi, dan kabut yang menyelimuti. Ah semua yang terlihat di situ membuat saya terpaku. Diam-diam rasa suka itu terus merayapi fikiran saya hingga bertahun-tahun lamanya. Sehingga ketika ada kesempatan dan waktu luang saya senantiasa mengunjungi Gunung Papandayan. Entah sekedar nongkrong menyaksikan kawahnya saja, atau bahkan menginap di sana. Apalagi jarak tempuh dari rumah tidak lebih dari 1 jam berkendara.

Suatu waktu saya bersama kakak, sepupu, dan beberapa teman laki-laki dari kampung sebelah berangkat ke Gunung Papandayan dengan berjalan kaki melewati kampung-kampung. Berangkat pagi sekitar jam 7an dan tiba di Gunung Papandayan jam 1 siang. Pulang dari sana sepupu-sepupu saya pada ambruk dan sakit. Bahkan ada yang sampai tak bisa berjalan hingga seminggu karena kakinya bengkak. Hehe Sayalah orang yang paling disalahkan oleh para orang tuanya dalam tragedi itu.

Gunung Papandayan
Pemandangan Gunung Papandayan dari Kampung Saya
Ketika menjadi guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) saya mengajak siswa-siswa untuk kemping di Gunung Papandayan, tepatnya di Pondok Saladah. Walau sebenarnya ide ini ditentang habis oleh Kepala Sekolah. Namun saya berhasil meyakinkannya hingga mendapat izin. Saat itu usia saya masih 18 tahun dan masih imut-imut. Seorang guru imut tapi bawa pasukan seabrek tak ayal mengundang heran para pendaki gunung. Banyak yang nyeletuk "Bu gurunya masih imut banget ya" Duh langsung deh tampang pasang jaim.

Pondok Saladah adalah lapangan rumput yang luas yang dihiasi secara alami oleh bunga-bunga edelweis. Disebut demikian karena di sekitar sana tumbuh sejenis sayuran yang disebut saladah. Tumbuh subur di sungai kecil yang mengalir di sisi kiri lapangan. Pondok Saladah dijadikan camping ground dimana banyak pendaki yang menghabiskan waktu untuk santai berkemah di tempat ini. Pemandangannya pun sangat indah karena berdindingkan tebing-tebing yang hijau dan gundukan puncak-puncak gunung.

Di atas Pondok Saladah ada lagi sebuah lapangan nan luas. Sungguh sangat luas. Namanya Tegal Alun. Di sana Edelweisnya bagai kebun sayur. Tumbuh subur di seluruh penjuru. Kawasan ini benar-benar dilindungi dan menjadi kawasan konservasi. Tidak boleh ada aktifitas kemping atau mendirikan tenda. Kalau ketahuan petugas kita langsung diusirnya.

Gunung Papandayan
Saya dan Sepupu-Sepupu di Pondok Saladah
Di waktu lainnya Saya mengajak kakak, sepupu, keponakan, dan saudara lainnya untuk kemping di Pondok Saladah. Kali ini dengan naik mobil bak terbuka. Kalau berjalan kaki lagi rasanya akan memakan waktu lebih lama karena kami membawa beban tenda dan logistik. Hampir semua saudara belum pernah ke lokasi ini. Jadi mereka  sangat antusias dan begitu terpesona. Ah senangnya melihat mereka cukup menikmati suasana itu. Apalagi kami ngerujak dan membuat sambal dengan lalapan saladah yang langsung dipetik dari lokasi. Seru rasanya.

Menuju Pondok Saladah ditempuh dengan menaiki jalur bebatuan dan melewati kawah-kawah. Terus mengikuti arah jalan menuju Perkebunan Teh Cileuleuy Pangalengan Bandung lalu berbelok ke kiri di sebuah persimpangan. Jadi antara Garut - Bandung tidak melulu harus melewati Nagrek yang terkenal sebagai jalur mudik itu namun bisa juga dengan menembus jalur Gunung Papandayan. Dan banyak penduduk yang melakukan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi jalur ini.

Kurang dari setahun mengajar di MTs, saya mendapat tawaran kerja di Pulau Batam. Sebelum berangkat ke sebrang saya mengunjungi  Gunung Papandayan kembali untuk melepas kangen. Ah duduk berlama-lama  memandang ke arah Pangalengan dari salah satu punggungan gunung teramat menakjubkan bagi saya. Berlari-lari ala Pemain Film India di Tegal Alun juga teramat mengesankan.

Gunung Papandayan
Melompatlah Lebih Tinggi
Rindu itu terus saja terpendam di hati. Setelah beberapa tahun tinggal di Batam lalu pulang kampung, lagi saya mengunjungi Gunung Papandayan. Ah ada yang berubah rupanya. Papandayan telah meletus sebanyak dua kali selama saya di Batam. Karena letusan itu jalan lebar menuju Pondok saladah runtuh. Para pendaki dan penduduk lokal membuat jalan alternatif dengan menuruni jurang memasuki lembah lalu menaiki tebing hingga akhirnya tiba di jalan sebrang yang putus karena longsor.

Mengunjungi Gunung Papandayan, Kemping di Pondok Saladah senantiasa menjadi kerinduan tersendiri bagi saya. Semoga tahun-tahun mendatang bisa mengajak anak saya Chila dan sepupu-sepupunya dari Bandung dan Jakarta untuk bermain di sana.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...