Rabu, 09 Januari 2013

GA Ya Allah Beri Aku Kekuatan



Hand phone Saya berbunyi, telpon masuk. Sebuah nama tertera di layarnya. Ah, rupanya dari seseorang yang sudah Saya anggap adik sendiri. Sebut saja namanya Wiwin. Ada apa dirinya menelpon Saya pagi-pagi begini? Saya pun langsung mengangkatnya.

“Teh…hiks, hiks, hiks…..” Suara ditelpon itu terdengar menangis sesenggukan. Saya langsung kaget. Ini pasti ada permasalahan serius sehingga dia menelpon Saya sambil menangis begitu.

“Mas Adi selingkuh Teh!” Tadi malam Aku mergokin dia di kamar kos  cewek.” Kata Wiwin. Haaaah? Saya hanya sanggup melongo. Bukankah sekarang Wiwin sedang hamil besar 9 bulan? Tega sekali si Adi itu selingkuh sementara istrinya tengah bersusah payah mengandung anak pertama mereka. Sungguh keterlaluan.

“Saya jambak aja rambut si cewek itu, Saya cakar-cakar dia, untung temannya Mas Adi yang ngantar Saya cepat-cepat melerai.” Lanjut Wiwin lagi. Duuuh… Apa yang salah dengan Wiwin? Seorang perempuan baik hati, ulet, rajin, sabar, berjilbab dan rajin ibadah. Teman-teman kerja Saya yang mengenalnya, biasanya akan menjadi teman baiknya juga. Kalau Wiwin tidak berkunjung ke rumah kos-an mereka,  selalu saja menanyakan kabarnya kepada Saya. Katanya kangen kepada Wiwin.

Kalau mengingat-ingat segala kebaikan Wiwin itu Saya makin marah kepada Adi. Sungguh suami yang tidak bersyukur. Apalagi Adi seorang pengangguran, tidak bekerja. Kehidupan rumah tangga mereka pun ditopang oleh pekerjaan Wiwin sebagai operator produksi di salah satu perusahaan Jepang di Kawasan Industri Batamindo Batam.

Perempuan selingkuhan itu menurut Wiwin tidak cantik. Masih kalah dibanding dirinya. Mereka juga tidak mungkin menikah karena beda agama. Si perempuan itu pun sebenarnya sudah tahu kalau Adi sudah nikah namun tetap saja melayaninya. Sepertinya perempuan ini sudah mati rasa karena tidak bisa meraba perasaan kaumnya.

Awalnya Wiwin tidak curiga sama sekali, namun hampir setiap malam suaminya pulang larut malam. Wiwin hanya menunggu dan menunggu. Sesekali menanyakan kepada teman-teman nongkrong suaminya yang biasa berkumpul di pangkalan ojek. Namun mereka selalu bilang tidak tahu walaupun mungkin sebagian sudah ada yang mengetahui tentang gelagat selingkuh Adi selama ini.

Lama kelamaan teman-teman Adi banyak yang bersimpati dan merasa kasihan melihat kondisi Wiwin yang hamil besar. Suatu hari, salah satu teman suaminya mengantarkan Wiwin ke tempat perempuan selingkuhannya Adi. Dan terjadilah perang besar, Wiwin mengamuk, menjambak rambut dan mencakar-cakar perempuan itu.

Saya sendiri sangat khawatir dengan kondisi janin yang dikandung Wiwin saat itu. Bukankah kondisi stres, marah, dan kecewa, seorang ibu hamil dapat berpengaruh terhadap janin?

Beberapa hari kemudian, Bayi yang dikandung Wiwin lahir dengan selamat. Ia lalu mengambil cuti melahirkan dan tidak bekerja selama tiga bulan. sementara suaminya masih menganggur. Ketika menjenguknya Saya merasa prihatin sekali. Seharusnya ibu menyusui itu banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi sehingga ASInya  terjaga lancar sebagai asupan gizi bagi bayi. Seharusnya selain nasi ia juga makan makanan seperti sayuran dan buah-buahan yang mengandung banyak protein dan vitamin namun karena keadaan ekonomi pas-pasan Wiwin malah hanya mengkonsumsi mie dan mie.

Di rumah dengan bayi yang baru lahir ia pun dihadapkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Mencuci baju, mencuci piring, memasak, merapikan rumah dan lainnya sementara suaminya hanya menonton televisi. Haduh seandainya Saya yang dibegitukan mungkin remote televisi sudah melayang ke wajahnya. Ciaaat….. braaaak dan berharap mukanya mendadak bengkak bonyok-bonyok seperti habis kena sengat lebah :)

5 Bulan setelah lahiran, Saya mengunjunginya kembali dan betapa terkejutnya ketika Wiwin mengabarkan ia sedang hamil lagi. Saya menanyakan kenapa ia tidak KB? Kasihan anaknya yang pertama yang masih membutuhkan ASI dan perhatian yang lebih dari ibunya. Dia bilang sudah mendatangi bidan untuk ber-KB namun disuruh menunggu hingga haid pertama setelah masa nifasnya selesai dan ternyata malah tidak haid-haid. Langsung positif hamil lagi.

Sewaktu kehamilan keduanya menginjak 6 bulan, Saya dikejutkan kembali dengan kabar darinya bahwa perempuan selingkuhan suaminya itu sudah melahirkan bayi. Dan Adi pun meminta izin Wiwin untuk menikahi selingkuhannya atau membawa bayinya hidup bersama mereka. Wiwin menolak mentah-mentah kedua permintaan suaminya tersebut ia memilih untuk bercerai saja daripada dimadu. Akhirnya perempuan itu tidak dinikahi Adi dan kabarnya pulang kampung ke Sumatera.

Sekitar 1 tahun setelah bayi keduanya lahir, Wiwin pulang kampung ke Pulau Jawa untuk beberapa bulan saja mengingat ia telah lama tidak bertemu dengan orang tuanya. Selain itu dia pun sudah tidak bekerja lagi karena tidak diperpanjang masa kontraknya oleh perusahaan. Untungnya saat itu Adi telah mendapat pekerjaan. Namun ketika kembali lagi ke Batam Wiwin dikagetkan dengan kabar dari rekan kerja suaminya yang menyatakan suaminya selingkuh lagi. Wiwin begitu shock. Saat berbicara dengan Saya ditelpon ia ternyata begitu putus Asa.

“Teh, Kalau Aku enggak ingat sama Allah rasanya ingin bunuh diri saja. Tapi Aku masih sadar itu perbuatan dosa besar. Aku benar-benar putus asa ingin mati. Tapi ya itu tadi Aku masih ingat Allah Teh.” Katanya. Saya langsung tercekat kaget. Masya Allah sampai di situ ternyata fikiran Wiwin. Sungguh ia dihadapkan dengan permasalahan rumah tangga yang rumit. Saya tidak bisa berbuat banyak hanya ikut menangis dan menasehatinya. Saya khawatir ia berbuat nekat seperti kasus perempuan di kelurahan sebelah. Ia membunuh anak-anaknya karena tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya.

Berhari-hari di rumah Saya hanya bisa menangis dan menangis. Lalu menumpahkan segala kesedihan kepada suami Saya.

“Ayah, memangnya laki-laki itu enggak bisa ya menahan sahwatnya? Menahan nafsu sex-nya? Kenapa perbuatannya seperti binatang? Bukannkah laki-laki itu manusia? Manusia itu bukan binatang yang sembarangan menyet*b*h* sana-sini. Tusuk sana tusuk sini.” Tanya Saya kepada suami sambil menangis penuh amarah.
Beberapa bulan berlalu, Wiwin menelpon Saya lagi mengabarkan perempuan teman kerja suaminya, teman selingkuhnya sudah hamil besar dan meminta pertanggungjawaban. Kasus itu pun dibawa ke pihak manajemen perusahaan, akhirnya keduanya dikeluarkan dari pekerjaannya. Karena kasihan terhadap Wiwin dan anak-anaknya, perusahaan masih berbaik hati dengan memberi pesangon kepada suaminya.

Waktu berlalu, kondisi ekonomi makin sulit. Apalagi Adi sekarang hanya pengangguran. Anak-anak butuh susu. Melamar pekerjaan kemana-mana pun belum ada panggilan. Akhirnya Wiwin dan suaminya memutuskan untuk meninggalkan Batam selamanya. Terlalu berat untuk menghadapi kondisi ekonomi di kota ini. Apa-apa serba mahal dan harus beli. Apalagi perempuan selingkuhan itu meneror terus meminta pertanggungjawaban Adi untuk menikahinya.

Kira-kira dua tahun setelah kepulangannya ke Jawa, Saya dikabarkan Wiwin dengan kelahiran anaknya yang ketiga. Ia pun bercerita kalau suaminya selingkuh lagi dengan janda kaya di kampungnya. Ia sempat marah dan kabur dari rumah dengan membawa ketiga bayinya. Namun kali ini marahnya tidak meledak-ledak, ia masih bisa berfikir positif. Ia lantas kabur ke rumah Abang iparnya, seorang tentara dan disegani serta dituakan di keluarga suaminya. Mengetahui permasalahan tersebut Abang iparWiwin marah besar dan mengancam akan membunuh adiknya jika saja masih tetap tidak bisa berubah.Ia juga menyuruh Adi untuk meminta maaf kepada Wiwin.

Sejenak kemudian rumah tangganya perlahan membaik walaupun Wiwin sering mendapat bentakan, sindiran, serta cercaan dari suaminya. Demi anak-anak. Sekali lagi demi anak-anak ia rela menahan sakit hati. Sungguh mengurus ketiga balitanya membutuhkan energi yang luar biasa. Waktu, tenaga, kesabaran, dan ketelatenan. Sempat mengeluh kepada Saya bahwa ia sakit hati karena selalu dihina suaminya karena hal-hal sepele saja. Sering dibilang tidak becus mengurus rumah tanggalah, dan sebagainya. Lagi-lagi Saya cuma menangis dan berdo'a semoga kebaikan dan kesabaran senantiasa dilimpahkan kepadanya.

Telah bertahun-tahun lamanya waktu ia korbankan. Telah habis air mata untuk menangis, dan lelah telah sampai di puncaknya namun ternyata masih ada kesabaran dan cinta yang tersisa bagi anak-anaknya. Sungguh menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang tidak mudah.

Semoga Engkau senantiasa dilimpahi Allah SWT kesabaran yang tiada batas, ketulusan tak berujung dan cinta yang seluas jagat raya, wahai adikku.

4 komentar:

  1. Ya ampun kenapa ndak pisah saja Wiiiin? masih balik lagi, balik lagi dengan laki2 itu? *duh, jadi emosi*
    Sy kenal dengan orang yang kisahnya mirip ini. Alhamdulillah ia memilih berpisah selamanya meski laki2 itu (ustadz lagi) memintanya kembali. Alhamdulillah anaknya cuma satu, cantik lagi ... Si Wiwin, anaknya 3 ... duh Wiiiiin .. mudah2an Allah menolongmu ....

    BalasHapus
  2. Iya Mbak semoga kemelut rumah tangganya segera sirna. Ini sdh warning kalau msh begitu jg talak cerai segera dilayangkan

    BalasHapus
  3. Innalillah...musibah mba Lin punya suami doyan selingkuh. kalo sering begitu biasanya tabiat..tapi kok wiwin bertahan ya..kasian :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demi anak-anak Mbak dia msh bertahan. Sebenarnya sdh mau pulang ke rmh ortunya tapi mungkin masih lihat2 dl apakah suaminya trsbt jadi tobat atau tidak.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...