Sabtu, 27 April 2013

Nenek Pemulung itulah Perempuan Inspiratifku


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Siapa sosok perempuan yang paling menginspirasimu? Untuk menjawab pertanyaan itu Saya sempat semedi dulu hehe... Jujur Saya benar-benar merenung dan berfikir berulang-kali. Hampir 3 hari Saya mencari-cari siapa sosok perempuan inspiratif yang akan Saya tulis. Apakah tokoh wanita yang mumpuni dalam ilmu pengetahuan? Perempuan yang sukses mengelola bisnis dan rumah tangganya? Ibu-ibu pejabat? Artis? Penulis? Duuh sepertinya otak Saya mandek. Saya jadi bingung siapa? Siapa? Siapa? Belum ada tokoh perempuan yang benar-benar telah menginspirasi Saya seperti mereka telah menginspirasi beberapa teman Saya. Seperti apa yang telah Saya baca di blog-blog mereka.

Hampir nyerah, dan tiba-tiba ketika mencuci piring, (yaelaaah...munculnya gak tau waktu nih :D) hati kecil Saya berkata bahwa seseorang itu adalah perempuan yang harus dan telah membuat Saya berubah dalam melakukan sesuatu hal menuju kebaikan. 

"Tiiing", bagai ada nyala lampu di kepala,  mendadak ingatan itu muncul. Ingatan kepada seseorang yang telah merubah cara pandang Saya dalam melakukan sesuatu. Mengajari  secara tak langsung arti ikhlas dalam melakukan perbuatan amal. Menasihati secara halus untuk pasrah dalam ketaatan beribadah. Dan merubah paradigma dalam memandang  masa depan dan tujuan hidup Saya. Seseorang yang hampir 6 bulan belakangan ini gencar diberitakan media-media.

Mak Yati. Sumber foto : Merdeka.com
Mak Yati, ya Anda tahu kan? Nenek-nenek pemulung yang 26 Oktober 2012 lalu mengurbankan dua ekor kambing dari penghasilannya sebagai pemulung yang ditabungnya selama 3 tahun. Itulah perempuan yang benar-benar telah menginspirasi Saya belakangan ini. Dan tidak hanya Saya saja, ternyata begitu banyak orang di negri ini terinspirasi dengan niat tulusnya, dengan kebajikan yang telah diperbuatnya.

Ketika pertama kali membaca pemberitaan tentang Mak Yati di media Oktober tahun lalu, Saya tercenung, beristighfar memohon ampun kepada Allah. Betapa Saya ini adalah manusia yang lalai akan perintah-Nya. Membaca kisah Mak Yati Saya seperti tertampar dan baru tersadarkan diri. Saya menangis  malu kepada Allah. Malu dan sungguh malu. Saya yang selama ini hidup cukup, selama lebih dari 15 tahun bekerja dengan gaji rutin tiap bulannya, belum pernah sekali pun berqurban. Saya selalu merasa tak punya uang, rezeki untuk qurban belum cukup, belum saatnya, dan beribu alasan lainnya yang melalaikan Saya dari amalan yang satu itu. Padahal dalam rentang waktu 15 tahun itu Saya pernah jalan-jalan ke luar negeri, keliling Sumatera, berlibur ke Lombok dan Bali. Bahkan mendaki gunung ke tempat-tempat yang jauh berkali-kali.

Membandingkan perekonomian Mak Yati yang berpenghasilan kira-kira 25 ribu per hari atau cuma sekitar 600-750 ribu per bulannya dengan gaji Saya yang berkali-kali lipat di atasnya sungguh menyadarkan Saya. Bahwa nominal dalam beramal bukanlah sekedar hitung-hitungan angka seperti matematika. Sesungguhnya yang dibutuhkan adalah niat, tekad, dan perbuatan. Seandainya kita merasa tak cukup maka selamanya takkan tercukupi. Jika selalu merasa kurang akan apa yang kita miliki, maka selamanya kita akan kekurangan. 

Saya masih bersedih, namun semenjak itu bertekad dalam hati untuk mulai menabung perlahan-lahan seperti yang Mak Yati lakukan. Kalau ia bisa menabung dalam 3 tahun Insya Allah belum genap setahun maka Saya akan bisa melakukannya. Alhamdulillah sejak Akhir tahun 2012 Saya selalu menyisihkan beberapa ratus ribu rupiah tiap bulannya untuk berqurban. Ketika dihitung-hitung ternyata tabungan tersebut sudah bisa dibelikan seekor kambing. Masya Allah, Saya semakin tercekat. Kemana saja Saya selama ini? Padahal dengan menyisihkan uang segitu Saya tidak merasa terbebani sama sekali. Tiap bulan masih bisa bayar air, bayar listrik, beli susu untuk anak, belanja ke pasar atau ke warung, makan di luar, beli baju, dan perilaku konsumtif lainnya. 

Mak Yati, alangkah terpujinya perbuatanmu Mak  sehingga Allah langsung membalasnya  di dunia. Salah satunya Emak kini sudah punya rumah sendiri di kampung halaman. Terima kasih Mak sudah mengajarkan Saya arti ikhlas itu. Arti memelihara niat itu, arti sungguh-sungguh itu. Semoga Mak senantiasa diberikan Allah SWT keberkahan hidup hingga akhir. Lalu kelak dikumpulkan dengan Rasulullah sebagaimana sabdanya dalam hadist bahwa Beliau dan orang miskin bagai kedua jari, begitu dekat, sangat dekat.

Tahun ini Mak dikabarkan akan naik haji karena uluran tangan ribuan orang yang tersentuh dengan kebaikan hatimu. InsyaAllah Mak kami doakan selalu semoga terlaksana. Dan Insya Allah Saya juga akan berqurban untuk pertama kalinya. 

Semoga bermanfaat teman. (Usap air mata)

Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri 

10 komentar:

  1. aminnn....
    maluuu sama mak yati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Jiah Saya yang malu banget :(

      Hapus
  2. Rumahnya mak yati tuh tepat di depan sekolah Hawna. Di lapak pemulung tebet deket jalur hijau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooooh di Tebet ya Mbak, berarti setiap saat bau sampahnya bebas masuk ke sekolah Hawna dong yah? Kasihan anak2.

      Hapus
  3. Subhanallah.....benar-benar menginspirasi

    BalasHapus
  4. Betul2 nenek yang menginspirasi yah,,
    salam saya yah,,,
    jangan lupa mampir dimari yah hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah mampir Mas, maaf telat nih balasnya maklum emak rempong :) Iya Saya mampir deh ada roti atau kue2 nggak di rumahnya :D?

      Hapus
  5. Subhanallah, saya baru tahu berita mak yati loh mbak. terima kasih. Sangat menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Mak Yati ini sangat-sangat menampar Saya dari kejauhan. Alhamdulillah semoga keberkahan menyertainya.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...