Minggu, 02 Juni 2013

[Komunitas Ideal] Bergabung dengan Komunitas Pencinta Alam



       Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan. 
            
       Sewaktu kecil saya pernah punya keinginan untuk hidup di hutan dan mempunyai rumah pohon dengan sebuah telaga berhiaskan bunga-bunga indah di bawahnya. Saya juga punya keinginan aneh lainnya yaitu ingin menjadi burung agar bisa terbang mencapai puncak gunung. Wkwkwk…Dasar anak-anak menghayalnya memang tingkat tinggi.
 
            Seiring dengan berjalannya waktu ternyata keinginan tersebut tetap tersimpan rapi di alam bawah sadar saya hingga tanpa terasa telah mengarahkan jalan hidup saya menuju atau minimal mendekati kepada keinginan-keinginan di masa kecil itu.

            Tahun 1999 ketika saya pertama kali merantau ke Batam untuk bekerja, saya membaca pengumuman yang tertera di mading dormitory (asrama untuk karyawan) yang mengumumkan bahwa sebuah Kelompok Pecinta Alam (KPA) bernama Cumfire yang biasa mengadakan kegiatan-kegiatan petualangan ke alam seperti ke hutan, sungai, bukit, dan pulau-pulau kosong, sedang mengadakan penerimaan anggota baru. Bagai kejatuhan durian, saya gembiranya luar biasa. Saat menyambangi sekretariat Cumfire saja jantung saya dag dig dug tak karuan saking antusias yang meletup-letup. Serasa ada gemuruh air bah memenuhi seluruh rongga dada.
Lambang KPA Cumfire. Foto by Cumfire Face Book
            Dan, semenjak resmi bergabung ikut nimbrung dengan Cumfire ini, saya merasa telah menemukan sebuah komunitas yang ideal dan cocok  dengan kerinduan yang telah lama terpatri di alam bawah sadar, nyaris semenjak kanak-kanak. Keinginan di masa kecil untuk berkumpul dengan kelompok orang-orang yang sevisi, sejiwa, se-hobby dalam memandang alam dan sekitarnya. Bertemu dengan orang-orang yang dapat menampung dan mewadahi kesukaan saya akan dunia petualangan. Maka hanya dalam tempo kurang dari satu bulan saja semenjak bergabung, saya sudah ikut-ikutan kemping dan blusukan keluar masuk hutan bersama senior dan teman-teman satu angkatan. Walau terkadang badan ringsek dan pegal-pegal gara-gara terjatuh, terjerembab dalam hutan, namun terasa belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kepuasan yang didapat.

            Rasanya salah satu keinginan di masa lalu itu telah terbayar sudah. Walau tanpa rumah pohon, saya masih bisa mendirikan tenda bersama “rumah sementara saya” di depan telaga yang dihiasi bunga-bunga pandan di tepiannya, di dalam hutan rimba belantara. Atau saya masih bisa merenung menatap ikan-ikan kecil yang berseliweran di air tenang nan bening sambil meresapi suara desahan lembut dedaunan. Juga menyimak kicauan burung yang bersahut-sahutan dari balik rimbunnya pepohonan dengan tetap menjadi manusia, dan tidak lagi bercita-cita menjadi seekor burung demi puncak gunung. Hehe.
 
            Bergabung dengan Cumfire saya merasa terikat oleh tali imaginer. Tali persaudaraan yang tiba-tiba terikat kuat begitu saja dengan teman-teman saya walau tanpa titisan darah atau ikatan keluarga. Kesamaan visi, misi, dan mungkin kesamaan nasib sebagai “Para Perantau” yang sama-sama tercetak di dahi kami masing-masing membuat pertemanan di Cumfire menjadi lebih kompleks dan unik. Kompleks karena lintas suku dan asal muasal. Unik karena ikatan itu tak jarang menjadi ajang perjodohan sesama anggota hingga mencapai jenjang pernikahan.

            Dulu, hampir setiap malam sabtu dan minggu kami berkumpul sekedar nongkrong, nyanyi-nyanyi, gitaran, diskusi, atau makan-makan gorengan. Kalau ada yang ulang tahun maka tak jarang menerima traktiran makan nasi plus lauk tentunya :D di pujasera (Pusat Jajanan, biasanya terdapat beberapa warung makan). Nih momen yang begini kalau tanggal tua teramat sangat dinanti-nantikan. “Makan gratis” hehe.. Sekretariat pun sekan kebanjiran makanan, tak pernah habis-habisnya makanan selalu saja mengalir ke sana,  entah itu kiriman si A, si B, atau si C.

            Menjelang atau terkadang sehabis tengah malam, kami biasanya melanjutkan kegiatan dengan beriringan masuk ke hutan yang memang terletak tak jauh dari kawasan tempat kami tinggal. Ramai-ramai sekitar 10 hingga 20 orang. Kadang nafas tersengal-sengal karena menaiki bukit, merayapi tebing-tebing, bahkan berbasah-basah ria karena menyusuri aliran sungai. Namun semua dijalani dengan senang dan bahagia. Biasanya tiba di tujuan hampir subuh, mendirikan tenda, tidur sebentar dan bangun pagi untuk sholat dan sarapan. Setelah itu byuuuur…dengan pakain lengkap berenang-renang di telaga yang terbentuk dari aliran air sungai yang terhalang balokan kayu atau susunan bebatuan. Sejenak kami menikmati berenang layaknya masa kanak-kanak kurang bahagia :D

            Terkadang orang-orang bertanya untuk apa sebenarnya capek-capek bersusah payah berjalan berjam-jam untuk masuk hutan bahkan malam-malam pula. Entahlah! Berada di hutan di antara rimbun pepohonan teramat saya dambakan dibanding harus terdampar berjam-jam di mal untuk membeli barang-barang. Ada jiwa saya yang tersimpan di hutan. Mungkin di batang-batang pohon itu, mungkin di riak air telaga itu, mungkin di jalur setapak itu. Entahlah, semuanya adalah padu dan menyublim dalam jiwa saya hingga saat ini.

            Menjadi bagian dari komunitas ini walau sudah tidak aktif berperan dan sama sekali tidak mempunyai andil dan peran apa-apa dalam membesarkan serta memelihara nama besarnya, Saya tetap bahagia pernah berada di dalamnya.

            Jadi menurut saya komunitas yang ideal itu adalah komunitas yang dapat mengakomodir keinginan, minat, hobby, para anggotanya serta mampu mengembangkan ide-ide serta bakat para anggota itu sendiri sehingga dapat melejitkan potensi-potensi yang ada pada seluruh Sumber Daya Manusianya. Sebagaimana Cumfire telah menampung jiwa-jiwa kami yang haus akan berbagai petualangan yang menantang. Hal lainnya Cumfire juga pernah mewadahi divisi seni dimana teman-teman saya yang punya minat di bidang seni dapat tersalurkan secara positif dengan membentuk grup band sendiri sehingga dapat berprestasi ke tingkat provinsi.
Anggota Cumfire Angkatan 2013.  Foto by Doedy Taufan @Cumfire
            Komunitas ideal adalah komunitas yang survive dan tetap bertahan dalam kurun waktu yang lama dengan kuantitas dan kualitas anggotanya yang semakin meningkat. Yup, seperti Cumfire yang hingga saat ini usianya hampir mencapai 20 tahun. Usia yang sangat mapan bagi sebuah komunitas yang beranggotakan para muda-mudi yang notabene masih mengalami fase-fase krisis identitas dengan tingkat keegoisan yang sangat tingi. Namun komunitas ini terbilang mampu meredam setiap gejolak hingga pergantian kepengurusan dan penerimaan anggota komunitas (organisasi) tetap kontinyu berkesinambungan. Pun kegiatan-kegiatan rutin tahunan seperti Lomba Lintas Bukit yang tak pernah sepi peminatnya tetap dapat terlaksana dengan baik. Bravo Cumfire!








7 komentar:

  1. Si mbak ternyata mama2 rimba, bkan mama2 Mal hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Qiqiqi...Mama Rimba? Jiaaah punya julukan baru :D

      Hapus
  2. Mba ikut cumfire ada diksarnya juga gak? Thx ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada Mas Iqra, eh nanya-nanya gitu mau nyumbang ilmunya ya? Waaah boleh banget ntar sy sampekan ke tmn2. Hihi langsung nodong.

      Hapus
  3. wahhh pengen ikut, lama gak masuk hutan. ada batasan usia gak mbak?

    BalasHapus
  4. Kalau mau gabung gmna caranya mbak?

    BalasHapus
  5. Kalau mau gabung gmna caranya mbak?

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...