Sabtu, 29 Juni 2013

Trekking ke Hutan Simpang Dam, Muka Kuning, Batam

Minggu, 23 Juni 2013

Pagi itu saya masih nyuci, tapi suami sudah ngeburu-buru untuk segera berangkat. Hari itu kami memang berencana untuk trekking ke Pancur Simpang Dam dimana terdapat air terjun serta telaga yang lumayan cantik. Iya sih memang agak telat nyucinya secara bangun tidurnya juga telat. Jadinya setelah selesai dicuci, itu cucian masih tetap saja nongkrong di mesin cuci, gak sempat lagi untuk dijemur.

"Bunda cepaaat...", kata Chila. Duh ini lagi. Chila terus saja minta cepat-cepat berangkat. Ya sudahlah, saya yang sudah rapi, langsung pake sepatu, kunci pintu, dan "let's go" kita berangkaaaat...

Di salah satu perumahan yang kami lewati, kami mampir dulu untuk membeli snack dan air mineral. Namun betapa kagetnya saya ternyata di samping air mineral terdapat sederetan minuman keras dan minuman beralkohol. Naaah nah! Sementara anak-anak cowok seliweran depan jalan perumahan. Beuh miris banget deh bukankah peredaran miras dan minol ini dilarang untuk wilayah-wilayah seperti perumahan-perumahan penduduk, dekat dengan tempat ibadah (mesjid), sekolah, dan gelanggang remaja? Ah orang-orang ini, para penjual miras dan minol ini, cuma mau untungnya saja tidak berfikir panjang bagaimana jika anak-anak di bawah umur yang membeli cairan haram ini. Sepertinya Saya harus membuat tulisan khusus tentang ini. 

Tak berapa lama, motor yang kami tumpangi melaju mengarah ke kawasan Muka Kuning Batam. 25  menit kemudian akhirnya tiba dan memarkir kendaraan di parkiran Plaza Batamindo yang berada tepat di depan Kawasan Industri Batamindo, Muka Kuning. 

Tak berapa lama menunggu di depan plaza, Endi, sahabat saya sejak 14 tahun yang lalu, datang bersama suami dan Dika anaknya. Seminggu sebelumnya Saya dan Endi memang telah sepakat untuk melakukan trekking bersama. Hitung-hitung mengajarkan kepada anak-anak kami tentang hutan dan apa-apa yang ada di dalamnya.

Beberapa menit kemudian kami berjalan menyebrang Jalan Raya Letjen Suprapto yang lumayan ramai dan memasuki kawasan Simpang Dam, sebuah persimpangan menuju ke Dam (danau buatan) Muka Kuning, dimana terdapat perusahaan pengolahan air bersih yang mensuplay kebutuhan air bersih dikawasan Muka Kuning dan Batu Aji. Dan Dam Muka Kuning ini adalah sumber air baku bagi perusahaan tersebut.

Kami menyusuri jalanan yang ramai oleh pedagang kaki lima, juga warung-warung makan, serta toko kelontong. 10 menit kemudian tiba di pintu masuk menuju hutan yang melingkupi keberadaan dam. Memberi pasokan air yang melimpah sehingga debitnya tetap terjaga. Dulu, sekitar tahun 2000 saya pernah kemping di lapangan rumput yang sekarang malah telah tertutup air dan menjadi bagian dari dam tersebut. Ini membuktikan bahwa usaha beberapa pihak mengembalikan hutan ini ke fungsi awalnya demikian efektif. Lihatlah debit air tetap terjaga walau hujan tidak turun selama beberapa minggu.
Menuju Pancur


15 menit berlalu, kami menapaki jalanan aspal yang lengang yang di kanan kirinya ditanami pohon-pohon tinggi. Chila dan ayahnya begitu antusias ketika seekor monyet didapati sedang nagkring di sebuah pohon. Bahkan Chila berteriak kepada saya kalau ia berhasil melihat  "monkey".

Kami tiba di gerbang pintu masuk kawasan hutan. Sejenak berfoto-foto dahulu di sebuah papan peringatan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalanan tanah yang berwarna coklat terang. Pada sisi ini harus ekstra hati-hati karena melewati pagar berduri yang terpasang di sepanjang jalur masuk menuju hutan.

Alhamdulillah Chila, anak saya yang bulan Juni ini genap berusia 4 tahun, tidak mau digendong. Ia maunya berjalan kaki menyusuri jalur tanah yang naik turun serta penuh dengan dedaunan kering. Asyiiik, lumayan deh mengurangi beban ayah bundanya :D
Pintu masuk ke hutan

"Bunda kenapa sih jalannya banyak daun?" tanya Chila.
"Ya karena daunnya jatuh dari pohon Nak." jawab saya.
"Kenapa di hutan banyak pohon?" tanyanya lagi. Ia akan bertanya terus dan terus hingga puas. Ya seusia dia, semua yang ada di hadapannya adalah sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Jadi siap-siap deh emaknya menerangkan segala hal dengan penuh kesabaran. Kalau sudah mentok paling-paling saya jawab begini, bunda juga gak tau kenapa ya. Hehe itu jawaban yang paling tidak disukai olehnya lalu disusul pertanyaan pamungkas kenapa bunda gak tau, harusnya bunda taulah bunda kan sudah besar. Haduh Chila, maafkanlah masih banyak hal di muka bumi ini yang tidak semua bisa bunda jelaskan kepadamu Nak.

Kami berjalan beriringan di jalur yang saat ini tepat berada di samping danau. Samar terlihat hutan disebrang danau yang lebat. Namun sayang langit masih berkabut asap kiriman dari provinsi Riau yang hutannya dibakar sengaja oleh para pengusaha atau mungkin penduduknya. Asap yang menyebar hingga ke negeri tetangga. Bahkan jauh mencapai radius ratusan kilometer karena terbawa angin. Tindakan yang biadab menurut saya. Menebarkan polusi hanya demi kepentingan pribadi dengan mengabaikan keselaman nyawa dan kesehatan orang banyak.
Saya dan Chila di jalur yang terdapat pohon tumbang


Alhamdulillah memang tak separah hari kemarinnya. Asap di sini terlihat melintas di atas canopy hutan. Subhananllah, di sini udara terasa sejuk dan segar. Mungkin efek dari begitu banyaknya pohon yang mengalirkan oksigen ke udara.

Di jalur, banyak terdapat pohon-pohon tumbang yang kami lewati. Sekali-kali kami melintasi liukan danau melalui jembatan yang terbuat dari batang-batang pohon. Namun jalur masih terlihat jelas dan tidak ada cabang sehingga kami tidak tersesat walau pun tidak begitu hafal betul dengan jalur menuju Pancur.
Menyebrangi Jembatan Pohon

Sayangnya, Dika tidak mau digendong oleh mamanya. Ia begitu lengket tak terpisahkan dengan papanya. Padahal Mas Bejo, papanya Dika terlihat berkeringat dan kelelahan. Maklum belasan tahun baru kali ini ia masuk ke hutan dan menggendong bayi pula. Beberapa kali Endi mencoba membujuk untuk menggendong Dika. Namun Dika meronta dan menangis histeris. Aneh deh, mungkin selama ini Dika bosan di rumah sama mamanya terus, jadi ketika ada papanya ia pun tak mau lepas.


Beberapa rombongan anak-anak remaja melintas mendahului kami. Kebanyakan anak-anak laki-laki seusia anak SMP dan SMA. Biasanya mereka ke pancur untuk berenang dan bersenang-senang.

Ketika tiba di sebuah ujung tanjakan, sejenak kami berenam beristirahat. Alhamdulillah Chila sejauh ini masih kuat. Tiba-tiba suami saya bertanya dimana kamera. setelah dicari-cari kameranya ternyata tidak ada pada saya. Haduh dimana dong? Apa mungkin tertinggal di tempat sebelumnya dimana kami juga beristirahat di sana ya.Ya ampun sepertinya iya. Saya mendadak merasa lemas. Gimana dong? Ya sudahlah saya cek dulu ke jalur sebelumnya.

Namun seketika di belakang kami terdengar percakapan beberapa orang. Begitu terlihat, ternyata serombongan anak-anak remaja. Saya langsung bertanya kepada mereka apakah menemukan kamera poket saya. 
Ana-anak SMA 3 yang menemukan kamera saya


"Merknya apa Bu?" Seorang anak laki-laki yang berjalan paling depan bertanya kepada saya.
"Samsung!" Jawab saya. 
"Oh betul ini Bu! Katanya. 

Alhamdulillah ya Allah. Memang masih rejeki saya. ketika ditanya mereka darimana, mereka menjawab dari SMA 3. Anak-anak yang jujur. Padahal bisa saja mereka bilang tidak menemukannya.

Setelah melintasi 4 jembatan penyebrangan, tersalip 4 rombongan remaja, terpeleset, dan terjatuh-jatuh, 2 jam kemudian kami baru tiba di tempat tujuan. biasanya butuh waktu 1 sampai 1,5 jam saja untuk kecepatan orang dewasa. Namun ini kan perjalanan dengan kecepatan berjalannya Chila anak umur 4 tahun, jadi sangat spesial dan luar biasa bagi kami para orang tua. Walau sekitar 1 hingga 3 menit minta digendong ia segera turun dan berjalan lagi. "Kan Chila anak hebat." katanya penuh semangat. Berati sudah bisa nih Chila naik gunung :)

Langsung main air
Para anak remaja sedang terjun melompat ke air
Tiba di pancur Chila dan Dika langsung menuju ke sungai yang berair jerih dan mengalir tenang melalui batu-batu besar dan sedang. Sungai ini bermuara ke dam Muka Kuning yang kami lewati di awal perjalanan tadi. Beberapa meter dari tempat kami duduk-duduk air itu mengalir turun vertikal menjadi sebuah air terjun setinggi kurang lebih 4 meter. Di bagian bawah sana di tempat air jatuh, terdapat telaga yang cukup luas. Air telaganya berwana bening kehijauan. Sepertinya mulai ada ganggang yang menghuni telaga ini. Sedikit agak keruh karena beberapa anak remaja berenang dan mungkin membuat lumpur di bawah naik ke permukaan.

Setahu saya tahun 1999 air di sini hanya sepetak kolam ikan saja dan tidak dalam. Namun sekarang karena air dam di hilir debitnya meninggi maka aliran air sungai di hulu termasuk di tempat ini juga ikut-ikutan meninggi dan hampir tidak mengalir. Lihat saja Telaga di bawah air terjun itu kini meluas dan meluber ke tepian di sekelilingnya.


Sementara para bapak asyik bermain dengan anak-anaknya, Saya dan Endi menyusuri sungai ke bagian hulu. Di kanan kiri sungai ditumbuhi sejenis pandan hutan yang berdaun runcing. Namun terlihat seperti bunga-bunga yang indah untuk dipandang. Semakin ke hulu semakin indah dan teduh suasana membuat saya dan Endi ingin berlama-lama di sana. Namun mana tega para ibu ini membiarkan anak-anaknya lama-lama, jadi setelah puas narsis berfoto-foto dengan berbagai pose kami pun segera cabut dari tempat itu. 

Sayang sampah mulai terlihat di berbagai titik. Kurangnya kesadaran para pengunjung untuk membawa pulang kembali sampahnya, membuat suasana terlihat kurang sedap dipandang. Terlintas di fikiran, seandainya saya jadi relawan yang mengkampanyekan secara verbal kepada setiap rombongan pengunjung terutama di hari-hari libur seperti ini untuk menjaga kebersihan dan membawa kembali sampah-sampahnya agar tidak mengotori hutan yang menjadi sumber kehidupan kami sebagai warga Batam.
Saya, sungai, dan hutan


Setelah makan siang, dengan berat hati kami akhirnya pulang. Sewaktu melewati areal yang biasa dijadikan tempat beristirahat ketika para pengunjung datang, kami mendapati seorang bapak-bapak yang berjualan mie instant plus air panas yang dibuatnya di sana. Duh mulai deh para pengawas kecolongan. (Eh saya juga mikir ada nggak ya yang mengawasi hutan ini?) Kalau tidak dijaga ketat, bahkan daerah ini dahulu pernah ada yang menguasai. Saat itu saya dan rombongan datang, lalu ada yang meminta bayaran uang kebersihan kepada kami. Halaah. Orang-orang oportunis yang selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengambil keuntungan saja. Untunglah sekarang tidak ada lagi.
View dari jalur datang dan pulang


Kami terburu-buru pulang karena suami saya ditunggu di kantornya. Hadeuuh orang mah pada libur ini masih saja berurusan dengan kantor. Jadi sayang tidak panjang waktu untuk menikmati suasana pancurnya. Karena sudah mepet waktunya suami cabut duluan dan langsung menuju parkiran motor Plaza Batamindo mengambil motornya lalu berangkat ke kantornya. Saya sebenarnya disuruh menunggu, namun rasanya kelamaan kalau harus nunggu suami pulang. Ya sudah naik angkutan umum saja deh biar cepet sampe rumah. 

Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat.

20 komentar:

  1. Keliatan airnya agak lebih surut ya teh..?

    BalasHapus
  2. Nggak bisa bedain Dee, sepertinya sama kayak kita sewaktu dulu kita ke sana.

    BalasHapus
  3. Bunda gak tahu lah Chila, bunda kan bukan yang maha tahu :D

    Btw, kenapa gak diikutkan lomba blog Zalora mbak? SAya liat ada postingan liburan impian dan ternyata lomba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah masa sih mbak? ada ya? gak tahu malah sayanya. Coba ah.

      Hapus
  4. wow aku pengen juga berpetualang.... subhanallah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Ella hayu atuh seru loh berpetualang ke hutan itu :)

      Hapus
  5. Untung jaman sekarang ini masih banyak anak muda yang jujur ya, Mba. Dan memang bener kata Mba, masih ada rejeki dan jodoh dg camera itu. Jadi bisa ketemu lagi dan hasilkan foto2 apik dalam agenda treking yang begitu mengasyikkan. Pengen deh bisa ikutan menikmati alam yang begitu sejuk, gemericik airnya yang dingin dan jernih.

    Saya sudah lama banget ga hiking. Jadi kangen kampung halaman. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Aceh kalau hiking nggak nanggung-nanggung bisa ke gunung Leuseur sekalian Mbak Al, Haduuh itu mimpi saya banget ke sana.

      Hapus
  6. aku baca postingan ini dah agak lama nih, sejak lina promo di KEb tapi belum sempat nulis komen karena sibuk. selalu suka dengan kisah perjalananmu ngebolang. dan kali ini dnegan cilla yang luar biasa. btw, cilla perginya masih dengan boneka pinknya ya... hahaha.. lucu banget. boneka itu gak lepas dari tangannya pas ngebolang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak sudah mampir, boneka pink itulah kalau pergi kemana-mana selalu dibawa :) persis saya dulu kalau naik gunung jg bawa boneka pink :)

      Hapus
    2. walah.... itu mainan sejak bayi ya... hehehe.. lucu.. anak2ku gak ada yang pegang boneka kemana-mana karena pada punya ashma jadi takut bulu2 bonekanya kena debu lalu terserang ashma deh. lucu juga ya...

      Hapus
    3. Iya Mbak, itu boneka sejak Chila berumur 8 bulan. Dia sayang sekali sama boneka2nya terutama yang pink ini. Duh sayang banget ya Hawna gak punya mainan boneka :(

      Hapus
  7. uwaaaa seru bangetttt mbk,boleh masuk ya ternyata di situ mbk??smg kapan2 bisa maenlah ke situ :D
    wah,nular nih mbolangnya ke chla hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih dibolehkan Mbak, dulu sempet ditutup tapi ya gitu deh orang2 datang trs, jadi ya akhirnya dibolehkan juga. Iya nih kapan ke Batam lagi? Kita main sepuasnya ke sini :)

      Hapus
  8. boleh nanya perjalanan trekking nya brp jam mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada di tulisan di atas, maaf belum baca ya? :D waktu tempuhnya 1 - 2 jam tergantung kecepatan jalan kita.

      Hapus
    2. haha maaf, cuma baca sekilas kemaren, hehe.. nanya mba di batam ada group natural ga sih? bosan klu ke batam cuma makan jj doank hahaa..soalna klu di bintan aq bisa naik gunung bintan

      Hapus
    3. Maksudnya klub atau Kelompok Pecinta Alam gitu? Adaaa. Tempatnya di Dormitory Muka Kuning Blok A5 No.14 nama klubnya Cumfire :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...