Minggu, 15 September 2013

Gunung Papandayan, Sebuah Kerinduan yang tak Berkesudahan


Gunung Papandayan
Pondok Saladah
Pertama kali mengunjungi Gunung Papandayan sekitar tahun 1991 sewaktu masih duduk di bangku kelas 4 SD. Di sana diadakan Jambore Cabang Se-Kabupaten Garut.  Saya dan beberapa teman  menjadi perwakilan dari Ranting Sukaresmi.

Saya langsung takjub dan jatuh cinta pada pandangan pertama ketika menyaksikan gunung itu dari dekat. Jatuh cinta pada semua yang terlihat. Pada pohon-pohon pinus, bebatuan, kawah, tebing-tebing, pohon cantigi, dan kabut yang menyelimuti. Ah semua yang terlihat di situ membuat saya terpaku. Diam-diam rasa suka itu terus merayapi fikiran saya hingga bertahun-tahun lamanya. Sehingga ketika ada kesempatan dan waktu luang saya senantiasa mengunjungi Gunung Papandayan. Entah sekedar nongkrong menyaksikan kawahnya saja, atau bahkan menginap di sana. Apalagi jarak tempuh dari rumah tidak lebih dari 1 jam berkendara.

Suatu waktu saya bersama kakak, sepupu, dan beberapa teman laki-laki dari kampung sebelah berangkat ke Gunung Papandayan dengan berjalan kaki melewati kampung-kampung. Berangkat pagi sekitar jam 7an dan tiba di Gunung Papandayan jam 1 siang. Pulang dari sana sepupu-sepupu saya pada ambruk dan sakit. Bahkan ada yang sampai tak bisa berjalan hingga seminggu karena kakinya bengkak. Hehe Sayalah orang yang paling disalahkan oleh para orang tuanya dalam tragedi itu.

Gunung Papandayan
Pemandangan Gunung Papandayan dari Kampung Saya
Ketika menjadi guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) saya mengajak siswa-siswa untuk kemping di Gunung Papandayan, tepatnya di Pondok Saladah. Walau sebenarnya ide ini ditentang habis oleh Kepala Sekolah. Namun saya berhasil meyakinkannya hingga mendapat izin. Saat itu usia saya masih 18 tahun dan masih imut-imut. Seorang guru imut tapi bawa pasukan seabrek tak ayal mengundang heran para pendaki gunung. Banyak yang nyeletuk "Bu gurunya masih imut banget ya" Duh langsung deh tampang pasang jaim.

Pondok Saladah adalah lapangan rumput yang luas yang dihiasi secara alami oleh bunga-bunga edelweis. Disebut demikian karena di sekitar sana tumbuh sejenis sayuran yang disebut saladah. Tumbuh subur di sungai kecil yang mengalir di sisi kiri lapangan. Pondok Saladah dijadikan camping ground dimana banyak pendaki yang menghabiskan waktu untuk santai berkemah di tempat ini. Pemandangannya pun sangat indah karena berdindingkan tebing-tebing yang hijau dan gundukan puncak-puncak gunung.

Di atas Pondok Saladah ada lagi sebuah lapangan nan luas. Sungguh sangat luas. Namanya Tegal Alun. Di sana Edelweisnya bagai kebun sayur. Tumbuh subur di seluruh penjuru. Kawasan ini benar-benar dilindungi dan menjadi kawasan konservasi. Tidak boleh ada aktifitas kemping atau mendirikan tenda. Kalau ketahuan petugas kita langsung diusirnya.

Gunung Papandayan
Saya dan Sepupu-Sepupu di Pondok Saladah
Di waktu lainnya Saya mengajak kakak, sepupu, keponakan, dan saudara lainnya untuk kemping di Pondok Saladah. Kali ini dengan naik mobil bak terbuka. Kalau berjalan kaki lagi rasanya akan memakan waktu lebih lama karena kami membawa beban tenda dan logistik. Hampir semua saudara belum pernah ke lokasi ini. Jadi mereka  sangat antusias dan begitu terpesona. Ah senangnya melihat mereka cukup menikmati suasana itu. Apalagi kami ngerujak dan membuat sambal dengan lalapan saladah yang langsung dipetik dari lokasi. Seru rasanya.

Menuju Pondok Saladah ditempuh dengan menaiki jalur bebatuan dan melewati kawah-kawah. Terus mengikuti arah jalan menuju Perkebunan Teh Cileuleuy Pangalengan Bandung lalu berbelok ke kiri di sebuah persimpangan. Jadi antara Garut - Bandung tidak melulu harus melewati Nagrek yang terkenal sebagai jalur mudik itu namun bisa juga dengan menembus jalur Gunung Papandayan. Dan banyak penduduk yang melakukan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi jalur ini.

Kurang dari setahun mengajar di MTs, saya mendapat tawaran kerja di Pulau Batam. Sebelum berangkat ke sebrang saya mengunjungi  Gunung Papandayan kembali untuk melepas kangen. Ah duduk berlama-lama  memandang ke arah Pangalengan dari salah satu punggungan gunung teramat menakjubkan bagi saya. Berlari-lari ala Pemain Film India di Tegal Alun juga teramat mengesankan.

Gunung Papandayan
Melompatlah Lebih Tinggi
Rindu itu terus saja terpendam di hati. Setelah beberapa tahun tinggal di Batam lalu pulang kampung, lagi saya mengunjungi Gunung Papandayan. Ah ada yang berubah rupanya. Papandayan telah meletus sebanyak dua kali selama saya di Batam. Karena letusan itu jalan lebar menuju Pondok saladah runtuh. Para pendaki dan penduduk lokal membuat jalan alternatif dengan menuruni jurang memasuki lembah lalu menaiki tebing hingga akhirnya tiba di jalan sebrang yang putus karena longsor.

Mengunjungi Gunung Papandayan, Kemping di Pondok Saladah senantiasa menjadi kerinduan tersendiri bagi saya. Semoga tahun-tahun mendatang bisa mengajak anak saya Chila dan sepupu-sepupunya dari Bandung dan Jakarta untuk bermain di sana.

26 komentar:

  1. uwah cantik ya gunungnya mbk, ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho'oh...cantik apalagi banyak bunga edelweisnya. Sayang fotonya kurang banyak :)

      Hapus
  2. Senengnya lihat pemandangan yang hijau dan segar seperti itu.

    Jadi kangen happy camp nih aku Mbk.

    Kange diklat dan sebagainya.

    Salam lestari dari Jember.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya makanya Mas gak bosan-bosan kalau berkunjung ke gunung itu pengen balik dan balik lagi:D
      Salam Lestari!

      Hapus
  3. Lucu banget itu foto mbak lina denga sepupu-sepupu. masih jaman pake sarung :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini momen paling mengesankan bersama sepupu :D untung fotonya masih ada padahal dah lama banget.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Alhamdulillah iya memang mengasyikan :D

      Hapus
  5. ini blognya bisa khusus blog travelling ya mb...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin bisa juga dikategorikan begitu Mbak, tapi sebenarnya tanpa sengaja postingannya tentang jalan-jalan semua hehe.

      Hapus
  6. aku kok terharu ya baca tulisan ini hikz

    BalasHapus
  7. tetehhh rumah saya di garut lohhhhh hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wooow Teh Hana urang Garut? #Duuuh peyuuuk. seumur-umur ngeblog baru kali ini ketemu blogger sesama orang Garut :D

      Hapus
  8. ga sampe puncak ya teh?? Saya juga ud 2 kali k sana tapi ga tau dimana letak puncaknya hehehe
    #salam lestari dari bekasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak pernah sengaja pergi ke puncaknya walau bolak-balik ke sana terus sedari kecil. Iya ya nanti kalau pulkam mau ke puncaknya ah. Letaknya di sisi sebelah kiri dari Camp David.

      Hapus
  9. Hiks kalau lihat postingan naik gunung cuma bisa iri. Seumur hidup cuma sekali saja, itupun krn semangat yg tidak bisa dijelaskan akibat bareng mantan gebetan yg skrg jd suami. Fisiku nggak kuat, terutama napas.

    BalasHapus
  10. bagussss gunuungnya. btw, oot, kenpa ya aku selalu gagal kalo mau buat foto terbang. Jadi, kita ngejepretnya itu pas baru mau ancang-ancang atau pas dah di udara sih orangnya?

    BalasHapus
  11. Aku baru sekali ke sana. Pemandangannya memang cantik seperti di film Harry Potter yang setting pedesaan.

    BalasHapus
  12. Bulan lalu saya berkunjung ke tempat ini bersama keluarga, kalau ingin menyewa jasa porter dimana ya mbak?

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...