Senin, 02 Desember 2013

Menjajal Wall Climbing di Singapura

Wall  Climbing Carnaval Mall (Sudah gak ada)
Seumur hidup saya yang paling membuat degdegan saking excited dan semangat sehingga menderasnya adrenalin ke sekujur tubuh adalah saat mendaki gunung, manjat wall climbing, belajar main gitar, dan pada akhirnya bertemu mantan pacar yang sekarang sudah jadi suami :D

Tahun 2002 pertama kali menginjakkan kaki di negeri Singa, saya melewati sebuah wall climbing yang keren. Beberapa pemanjat sedang asyik beraksi di wall itu. Asli bikin jantung dag dig dug saking senangnya. Hasrat manjat meledak-ledak tapi sayang waktu saya di sana sangat sempit. Saya harus pulang hari itu juga karena tidak ada rencana menginap. Hanya sekilas menonton saja.


Tahun 2003 Saya sedang main-main ke Batam Centre, dan di samping sebuah mall yang sekarang sudah tutup, Carnaval Mall, berdiri sebuah wall climbing setinggi kurang lebih 15 meter. Wuaah... langsung excited gak mau pulang. Menonton sampai malam menjelang.

Tiba-tiba seseorang menawari saya untuk mencobanya. Hah? Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa ragu langsung mengiyakan. Hmm...dan sensasinya setelah itu luar biasa. Saat tidur yang terbayang papan panjat. Saat makan, tangan nggak bisa berhenti bergerak-gerak ke udara kayak lagi pantomim membayangkan saat jemari menggapai poin demi poin. Tidur pun tak nyenyak membayangkan ingin segera esok tiba untuk kembali merayap di wall climbing lagi. Yeah... bener-bener deh saat itu saya lagi jatuh cinta. Jatuh cinta sama papan panjat :D

Googling Lokasi.
Saat wall mulai aus dan memakan korban jatuh dari ketinggian 15 meter, wall climbing dibiarkan tak terurus dan hancur dengan sendirinya. Sedih rasanya tak ada lagi tempat melepas butiran keringat ini.

Seiring dengan berlalunya waktu setelah menikah dan punya bayi, hasrat memanjat itu bak api dalam sekam. Atau ibarat beruang yang lagi berhibernasi. Ia tetap ada namun tak muncul ke permukaan.


Nah kemarin pas jalan-jalan lagi ke Singapura nganter adik, saya seperti diingatkan kembali akan bara yang masih tetap menyala itu. Yang akhirnya tak bisa lagi dipendam lama-lama. Setelah googling nyari wall climbing terdekat dengan hostel, tempat kami menginap, Alhamdulillah kurang lebih 20 menit jalan kaki dan hanya 5 menit naik bis nomor 145 saya tiba di Climbing Asia di Tessensohn Road.

The Civil Service Club, tempat dimana Climbing Asia Berada.
Seorang Manager Climbing Asia menyambut kedatangan kami dengan ramah. Namun sayang saya datang terlalu pagi. Hari libur, hari minggu itu Climbing Asia baru buka jam 10 pagi waktu Singapura. Akhirnya pulang dulu ke hostel sarapan untuk kedua kalinya dan nyuruh adik juga sepupu saya untuk mandi. Kalau saya nanti saja mandinya sehabis manjat.Sayang air kan kalau harus mandi pagi dua kali? hehe.


Jam 10 pagi kami sudah kembali lagi ke Climbing Asia. Disuruh mengisi formulir dan membayar sejumlah uang. Lupa deh berapa-berapanya. Waktu manjat bebas sampe bosan atau sampe capek. Sampe tempat itu tutup jam 10 malam juga masih dibolehkan.

Outdoor Wall Climbing
Saya ditanya apakah bawa orang untuk belay. Haduh saya fikir belayer sudah stand by ada terus, ternyata harus booking dulu. Telpon dulu. Kalau nyuruh adik atau sepupu buat belay nggak dulu deh. Bahaya. Mereka belum mengerti bagaimana menjadi belayer. Ditanya kata belay aja nggak mengerti. Haduuh.Salah-salah nyawa taruhannya.  

Belayer yang ada ternyata sudah di-booking orang lain hingga jam 12 siang. Sementara siang itu juga saya harus pulang dan nganter adik ke Bandara Changi.

Si petugas menawarkan alternatif untuk manjat di papan bouldering saja. Ia menunjukkan beberapa ruangan yang biasa dipakai untuk bouldering di lantai 3 dan 4. Begitu melihat beberapa ruang yang seluruh dindingnya berubah jadi wall climbing dengan warna-warni yang cool saya hampir melompat saking senangnya. Yes, di sini saja. saya menjawab mantap.

Dan dengan disaksikan adik serta sepupu, saya mulai menjajal wall climbing. Saking semangatnya lupa nggak pemanasan dulu. Alhasil baru beberapa menit mencoba kaki sudah kram. Dan otot sudah tegang.
Indoor Wall Climbing
Haduh...kenapa lupa. Jadinya pemanasan dulu deh terus manjat lagi. Cuma bertahan 1 jam nafas udah ngos-ngosan. Kaki semakin kram. Ya sudah deh segitu aja. Lumayanlah walau belum puas banget yang penting udah mencoba. Lain waktu ke sini lagi. Masih penasaran sama yang wall outdoornya.



Posisi Sulit nih. Tapi Menantang.

Anak-Anak Bule lagi Latihan

Sepatu Manjat Dijual
Mulai Lelah


11 komentar:

  1. wall climbing.....
    seru dan menantang....

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Pingin manjat juga Mbak Hanna? Hayulah :D

      Hapus
  3. Mak! Jagoan bangett hahaha.. Saya wall climbing ga kuat banget hihihi, tapi kok ya jadi malah penasaran pengen nyoba kapan2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi...aku cewek loh buka jago, emak-emak pula :D ayo kapan2 kita latihan bareng.

      Hapus
  4. wuih seru & menantang..
    selain pemanasan, hrs latihan rutin dl ga sih?

    BalasHapus
  5. wuih seru & menantang..
    selain pemanasan, hrs latihan rutin dl ga sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak juga mbak yang penting sebenarnya pemanasan pas mau manjat. Lah saya langsung tegang urat2 karena gak pemanasan.

      Hapus
  6. Assalamu'alaikum ... salam kenal, neng Lina. Trims yang sudah mampir.
    Baca disini asik, liat dikau "gugulantungan" hehe ...
    cantik ya wall climbingnya warna-warni. Ohya, saya juga gak ngerti (ngacung) apa itu belay?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nuhun oge parantos mampir Teh Ani :D

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...