Saturday, April 27, 2013

Gunung, No More Than Words


Berikut adalah List gunung-gunung yang pernah Saya daki. Bukan untuk gaya-gayaan (duuuh sudah tua gak pantes lagi bergaya :P) atau bermaksud menghitung jumlah seberapa banyak gunung yang pernah didaki (laah memang iya kan? :D) namun Saya hanya ingin menulis dan menulis. Saya ingin merapikan tulisan-tulisan tentang catatan perjalanan ke gunung-gunung tersebut yang terserak di komputer, di buku diary, di notes-notes, untuk menjadi sebuah tulisan yang rapi dan dapat dikenang kelak jika Saya semakin menua dan tidak dapat mendaki gunung lagi. Takutnya Saya lupa dan tidak tahu telah seberapa jauh langkah ini, telah seberapa lama perjalanan hidup ini, dan terutama takut kalau Saya kurang bersyukur akan segala nikmat-Nya.

Syukur-syukur nantinya catatan perjalanan ini bisa bermanfaat bagi orang lain. Hiksss… belum apa-apa udah sedih deh. Nggak terbayang kalau seandainya Saya nggak naik-naik gunung lagi. entah kenapa mereka (baca :Gunung) selalu hadir dalam mimpi-mimpi Saya seakan mengingatkan terus agar Saya segera mengunjungi mereka. Jangan tanyakan kenapa Aku melakukannya, karena ia mengalir bagai aliran darah di dalam tubuh :) *Candu

  1. Gunung Papandayan, Jawa Barat
  2. Gunung Cikuray,  Jawa Barat
  3. Gunung Ciremai,  Jawa Barat
  4. Gunung Gede, Jawa Barat
  5. Gunung Pangrango, Jawa Barat
  6. Gunung Galunggung, Jawa Barat
  7. Gunung Kerinci,  Jambi
  8. Gunung Marapi, Sumatera Barat
  9. Gunung Singgalang, Sumatera Barat
  10. Gunung Sinabung, Sumatera Utara
  11. Gunung Sibayak, Sumatera Utara
  12. Gunung Pusuk Buhit, Sumatera Utara
  13. Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat
  14. Gunung Ledang, Johor Malaysia
  15. Gunung Kinabalu, Sabah Malaysia
  16. Gunung Ranai, Natuna Kepulauan Riau
  17. Gunung Daik, Lingga Kepulauan Riau

Nenek Pemulung itulah Perempuan Inspiratifku


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Siapa sosok perempuan yang paling menginspirasimu? Untuk menjawab pertanyaan itu Saya sempat semedi dulu hehe... Jujur Saya benar-benar merenung dan berfikir berulang-kali. Hampir 3 hari Saya mencari-cari siapa sosok perempuan inspiratif yang akan Saya tulis. Apakah tokoh wanita yang mumpuni dalam ilmu pengetahuan? Perempuan yang sukses mengelola bisnis dan rumah tangganya? Ibu-ibu pejabat? Artis? Penulis? Duuh sepertinya otak Saya mandek. Saya jadi bingung siapa? Siapa? Siapa? Belum ada tokoh perempuan yang benar-benar telah menginspirasi Saya seperti mereka telah menginspirasi beberapa teman Saya. Seperti apa yang telah Saya baca di blog-blog mereka.

Hampir nyerah, dan tiba-tiba ketika mencuci piring, (yaelaaah...munculnya gak tau waktu nih :D) hati kecil Saya berkata bahwa seseorang itu adalah perempuan yang harus dan telah membuat Saya berubah dalam melakukan sesuatu hal menuju kebaikan. 

"Tiiing", bagai ada nyala lampu di kepala,  mendadak ingatan itu muncul. Ingatan kepada seseorang yang telah merubah cara pandang Saya dalam melakukan sesuatu. Mengajari  secara tak langsung arti ikhlas dalam melakukan perbuatan amal. Menasihati secara halus untuk pasrah dalam ketaatan beribadah. Dan merubah paradigma dalam memandang  masa depan dan tujuan hidup Saya. Seseorang yang hampir 6 bulan belakangan ini gencar diberitakan media-media.

Mak Yati. Sumber foto : Merdeka.com
Mak Yati, ya Anda tahu kan? Nenek-nenek pemulung yang 26 Oktober 2012 lalu mengurbankan dua ekor kambing dari penghasilannya sebagai pemulung yang ditabungnya selama 3 tahun. Itulah perempuan yang benar-benar telah menginspirasi Saya belakangan ini. Dan tidak hanya Saya saja, ternyata begitu banyak orang di negri ini terinspirasi dengan niat tulusnya, dengan kebajikan yang telah diperbuatnya.

Ketika pertama kali membaca pemberitaan tentang Mak Yati di media Oktober tahun lalu, Saya tercenung, beristighfar memohon ampun kepada Allah. Betapa Saya ini adalah manusia yang lalai akan perintah-Nya. Membaca kisah Mak Yati Saya seperti tertampar dan baru tersadarkan diri. Saya menangis  malu kepada Allah. Malu dan sungguh malu. Saya yang selama ini hidup cukup, selama lebih dari 15 tahun bekerja dengan gaji rutin tiap bulannya, belum pernah sekali pun berqurban. Saya selalu merasa tak punya uang, rezeki untuk qurban belum cukup, belum saatnya, dan beribu alasan lainnya yang melalaikan Saya dari amalan yang satu itu. Padahal dalam rentang waktu 15 tahun itu Saya pernah jalan-jalan ke luar negeri, keliling Sumatera, berlibur ke Lombok dan Bali. Bahkan mendaki gunung ke tempat-tempat yang jauh berkali-kali.

Membandingkan perekonomian Mak Yati yang berpenghasilan kira-kira 25 ribu per hari atau cuma sekitar 600-750 ribu per bulannya dengan gaji Saya yang berkali-kali lipat di atasnya sungguh menyadarkan Saya. Bahwa nominal dalam beramal bukanlah sekedar hitung-hitungan angka seperti matematika. Sesungguhnya yang dibutuhkan adalah niat, tekad, dan perbuatan. Seandainya kita merasa tak cukup maka selamanya takkan tercukupi. Jika selalu merasa kurang akan apa yang kita miliki, maka selamanya kita akan kekurangan. 

Saya masih bersedih, namun semenjak itu bertekad dalam hati untuk mulai menabung perlahan-lahan seperti yang Mak Yati lakukan. Kalau ia bisa menabung dalam 3 tahun Insya Allah belum genap setahun maka Saya akan bisa melakukannya. Alhamdulillah sejak Akhir tahun 2012 Saya selalu menyisihkan beberapa ratus ribu rupiah tiap bulannya untuk berqurban. Ketika dihitung-hitung ternyata tabungan tersebut sudah bisa dibelikan seekor kambing. Masya Allah, Saya semakin tercekat. Kemana saja Saya selama ini? Padahal dengan menyisihkan uang segitu Saya tidak merasa terbebani sama sekali. Tiap bulan masih bisa bayar air, bayar listrik, beli susu untuk anak, belanja ke pasar atau ke warung, makan di luar, beli baju, dan perilaku konsumtif lainnya. 

Mak Yati, alangkah terpujinya perbuatanmu Mak  sehingga Allah langsung membalasnya  di dunia. Salah satunya Emak kini sudah punya rumah sendiri di kampung halaman. Terima kasih Mak sudah mengajarkan Saya arti ikhlas itu. Arti memelihara niat itu, arti sungguh-sungguh itu. Semoga Mak senantiasa diberikan Allah SWT keberkahan hidup hingga akhir. Lalu kelak dikumpulkan dengan Rasulullah sebagaimana sabdanya dalam hadist bahwa Beliau dan orang miskin bagai kedua jari, begitu dekat, sangat dekat.

Tahun ini Mak dikabarkan akan naik haji karena uluran tangan ribuan orang yang tersentuh dengan kebaikan hatimu. InsyaAllah Mak kami doakan selalu semoga terlaksana. Dan Insya Allah Saya juga akan berqurban untuk pertama kalinya. 

Semoga bermanfaat teman. (Usap air mata)

Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri 

Wednesday, April 24, 2013

Kemping di Pulau Lampu Batam [Bagian 2]

Sekitar jam 9 pagi lewat beberapa menit, Kami sudah berkumpul di Simpang Barelang setelah sebelumnya terpisah karena Doedy dan rombongan berhenti di ujung deretan para pedagang yang memenuhi simpang tersebut dari ujung ke ujung. Diturunkan oleh mobil yang membawa mereka dari Kawasan Industri Batamindo (Muka Kuning) beberapa puluh meter dari tempat bis damri biasa berhenti.

15 menit berlalu, damri tak kunjung datang. Tiba-tiba saja Saya teringat bahwa  Saya pernah mencatat nomor hand ph0ne supir damri.  

“Halo Pak, Saya Lina dari Batu Aji, Bapak posisi dimana sekarang, kami mau ikut bisnya ke Sembulang?” 

“Posisi ibu dimana?” 

“Kami di Simpang Barelang Pak.”

“Oooh, Sekarang Saya masih di Jodoh, mungkin sampai Simpang Barelang jam 11-an tunggu saja ya Bu.” Lanjut sopir damri itu kalem. Jodoh adalah sebuah tempat yang jaraknya hampir 1,5 jam dari Simpang Barelang. Bis damri ini melayani rute Jodoh - Sembulang setiap harinya.

“Jam sebelaaaas?” Gubraaaksss…*Duh rasanya pengen garuk-garuk aspal :D Wuaah lama banget berarti masih 2 jam lagi kita berbengong-bengong ria di sini. *Pyuh usap peluh. OK deh pasukan, Damri datang jam 11 jadi jika ada yang mau dibeli sebelum berangkat, belilah sekarang!

Karena belum beli air minum, dan menurut perkiraan kami di Pulau Lampu tidak ada sumber air bersih, maka Doedy dan Gozi berangkat untuk beli minum dulu ke pasar SP (Sentosa Plaza) menggunakan motor Bang Ical. Rencananya suamiku mau membawa motor kesayangannya itu hingga Sembulang sendiri. Sedangkan kami yang lainnya naik damri.

Menunggu itu adalah hal ter-bete dalam hidup Saya. Tapi entah kenapa saat menunggu rame-rame begini malah tak begitu terasa. Masih sempat foto-foto narsis, upload foto ke face book dan ngerjain Chila yang ujung-ujungnya malah bilang  Bundaaaa… gendooong! Ishh… Chila ini, ya sudahlah, mari Bunda Gendong!

Berkali-kali tekong kapal Sri Galang yang akan membawa kami ke Pulau Lampu menelpon. Menanyakan dimana posisi kami sesungguhnya. Namun ketika Saya menjawab masih menunggu damri tiba, ia cukup mengerti karena setiap harinya ia pun mengangkut penumpang yang berasal dari bis damri ke Pulau Karas. Jadi kalau damri belum datang ia juga belum berangkat.

Jam 11 lewat 20 menit damri akhirnya tiba. Namun begitu akan masuk, ya ampuuuun… di dalamnya sudah penuh sesak bahkan untuk mencari pijakan naik saja susahnya minta ampun. Sempat bingung, apakah kami tetap naik atau menunggu damri berikutnya.  Namun begitu diberi tahu tak ada damri lainnya lagi, hanya ini damri satu-satunya yang beroperasi hari itu, akhirnya kami terus merangsek masuk. Sayangnya hanya beberapa orang  saja yang bisa masuk sedangkan yang lainnya masih bingung mau diletakkan dimana. *Appaaa...diletakkan? Hehe memangnya barang!

Tak kehabisan ide tiba-tiba saja teman-teman cowok rombongan Doedy, Gozi, Riki, Doni dan Walid sudah naik ke atap bis. Hey…betapa  nekatnya kalian? Tapi benar-benar ide yang cerdas walau  mengandung resiko yang besar. Titip jempol deh buat yang ngasih ide itu. Ciyus deh kita jadi terangkut semua. Tadaaaa….Berangkaaaat!

Pada perhentian berikutnya, tak mau kalah ternyata rombongan teman-teman cewek juga ikut-ikutan naik ke atap bis. Pak sopir hanya tersenyum saja, sementara penumpang lainnya terheran-heran. Sungguh perbuatan di luar dugaan kalau di Batam. Kalau di daerah lainya sih udah biasa. Begitulah kata kondektur bis.

Di dalam bis, Chila Saya dudukkan di sandaran kursi. Sebelumnya diberi pengertian dulu kalau dia harus sabar tidak boleh mengeluh dan tidak boleh cerewet. Alhamdulillah dia mau ngerti, walau sempat mengeluh gerah. Sabar ya Sayang. *Tuh kan Pitri, Chila aja diajarin Bundanya bersabar dan tidak boleh mengeluh :D kalau ada keluhan, malu dong sama Chila yang baru 4 tahun mengecap pahit manisnya hidup :P

Di daerah Kertang Pulau Rempang bis berhenti. Saya yang berdiri tiba-tiba menyenggol seorang ibu yang memangku bayi yang sedang terlelap tidur.
           
“Aduh, maaf ya Bu!” Saya mencondongkan badan ke arah si ibu itu sambil meminta maaf. Dia hanya diam saja. Seorang laki-laki yang berdiri di dekat saya kemudian mengambil bayi yang digendong ibu tadi dan mengucapkan terima kasih. Wajah si ibu tetap lurus tanpa ekspresi. Oooh ternyata dia dititipin bayi oleh bapak-bapak  yang berdiri di dekat pintu. Saya fikir malah dia itu suaminya. Hehe... pantas si ibu itu judes banget. Hey, kemana ibunya bayi itu? Sungguh mengejutkan ada laki-laki bepergian jauh dengan bayinya tanpa ditemani istri. Halaah abaikan!

Hujan mulai rintik-rintik. Bis melaju perlahan. Pak sopir mengerti bahwa di atas sana teman-teman Saya sedang mengalami petualangan seru naik atap bis yang mungkin akan dikenang mereka seumur hidup, diceritakan kepada anak-anaknya kelak, dan menjadi kisah pengantar tidur para cucu-cucunya. Jadi Pak sopir begitu hati-hati agar kisah ini tidak berakhir tragis :) Tidak akan ada salah satu dari penumpang atap bis yang jatuh terpeleset atau terbanting ke aspal atauuuu tersangkut di pohon mangga hag hag hag... Upss ada yang melotot. #Lupakan!


Hand phone bergetar, Dian meng-sms Saya, ia mengabarkan akan menyusul menggunakan taksi. Sipp...waswas namun tetap berharap ia benar-benar menyusul.

Sepanjang perjalanan, kontur alam berubah-ubah. Laut yang membentang di sisi kanan kiri jalan, jembatan-jembatan antar pulau yang kokoh, hijau dan rimbunnya pohon bakau yang memenuhi pesisir pulau, perkebunan mangga, nanas, sayur-mayur, buah naga, semak belukar, bukit-bukit yang menghijau tak akan bosan untuk dipandang dan diperhatikan.



Satu jam berlalu, akhirnya bis merapat di daerah Sembulang. Alhamdulillah akhirnya sampai di setengah perjalanan juga. Kurang dari satu jam ke depan kami baru akan sampai di Pulau Lampu.  *Perjalanan masih berlanjut kawan, siapkan fisik dan mental kita akan mengarungi laut yang berombak. Come on Semangaaaat!

Chila yang tampak bete akhirnya senang bisa turun dari bis. Dan langsung merengek ingin segera naik kapal. Saya celingukan cari si Ayah. Alhamdulillah ketemu, dia sebenarnya sudah cukup lama menunggu dan sedang mencari-cari tempat untuk menitipkan motornya ke rumah penduduk.

Tak menunggu lama rombongan segera menuju pelantar yang menghubungkan daratan dengan pelabuhan. Di sana Kapal Sri Galang yang ternyata gratis sodara-sodara, menunggu kami untuk membawanya ke Pulau Karas dan melanjutkannya ke Pulau Lampu.





Kapal Sri Galang ini melayani rute Pulau Karas - Sembulang pulang pergi gratis setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Kapal ini disubsidi Pemerintah Kota Batam yang menurut Saya ternyata sangat memperhatikan masyarakat hinterland yang tersebar di pulau-pulau sekitar Batam. Ah semoga saja ini di contoh oleh wilayah-wilayah lainnya di pelosok tanah air. 

Cukup segini dulu yaaah, bersambung...


Jangan lupa baca yang ini juga kisah sebelumnya tentang tim kemping ceria ke pulau Lampu

Sunday, April 21, 2013

[Local Flavour] Batam, The Archipelagic City

Apa yang terlintas pertama kali di fikiran rekan-rekan jika mendengar kata Batam? Hmm... Saya jadi penasaran seperti apa sih tanggapan rekan-rekan terhadap kota yang telah Saya tinggali selama kurun waktu 15 tahun ini? Kota yang telah membesarkan Saya hingga dapat mandiri menghidupi diri sendiri semenjak lulus SMA dan bahkan hingga sekarang berumah tangga. Kota yang telah Saya anggap sebagai kampung halaman kedua setelah tempat kelahiran Saya di Garut, Jawa Barat.

Baiklah, mari kita mengenal Batam lebih dekat lagi. Dekat dalam artian mengenal kota ini dalam standar kedekatan menurut pandangan dan pengetahuan Saya sebagai salah seorang warganya.

Dahulu, tahun 1999 sewaktu Pesawat Bouraq Airline yang Saya tumpangi terbang rendah dan akan mendarat di Batam, hampir seluruh permukaan pulau ini tertutupi oleh  hijau dan lebatnya hutan. Perasaan Saya begitu campur aduk, antara seram namun juga senang. Seram jika seandainya Saya dan teman-teman satu angkatan ditempatkan di tepi hutan oleh perusahaan yang merekrut kami untuk bekerja. 

Thursday, April 18, 2013

Menemukan Mutiara dalam Riuhnya Belantara Face Book

Pertama kali mengenal Face book, terus terang Saya kurang tertarik. Apalagi yang Saya lihat dan amati, Face book hanyalah berisi status-status geje dan narsis para penghuninya. Idiiih kurang kerjaan banget sih fikir Saya waktu ituNaaah saat itu bukan berarti Saya kurang pergaulan di dunia maya melainkan ingin membatasi waktu yang semakin sempit dari perbuatan yang sia-sia. Terlebih dengan bertambahnya tanggung jawab Saya sebagai seorang ibu. Rasa-rasanya mengurus blog dan mengikuti perkembangan milis (mailing list) di yahoogroups saja Saya sudah tidak punya waktu apalagi ditambah dengan membuat akun baru di Face book.


Namun setelah didesak dan terus diberi pencerahan tentang manfaat Face book oleh suami Saya, akhirnya Saya mengizinkannya untuk membuatkan akun di sana. (Hi..hi..hi..ini saking malesnya loooh akhirnya suami yang membuatkan.

"Ya udah Ayah aja deh yang buatin nanti passwordnya Aku ganti." Sesekali nyuruh suami boleh kaan cuma urusan gini mah :D

Ketika mulai membuka Fb, awalnya Saya bingung mau buat status apa. Dan stuck, mandeg pada bulan-bulan berikutnya. Namun ketika Saya menemukan bahwa begitu banyak teman SMP, SMA, dan teman kuliah yang perlahan-lahan bermunculan lalu meng-add, Saya sangat bersyukur telah menemukan Face book. Update status, komen, like, upload foto, me-tag foto, dst dst. Hanya itu ternyata  kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan ketika  membuka face book. Lama-lama ada kejenuhan yang sangat luar biasa. Ada sesuatu yang aneh rasanya dan terkadang mual ketika terus-menerus mengikuti perkembangan status teman-teman di Face book. Nyaris tak ada lagi privasi yang seharusnya dijaga di wilayah-wilayah pribadi.

Karena kejenuhan tersebut dan kerinduan akan sesuatu yang dulu sempat membuat Saya terbiasa, yakni menulis, maka Saya mulai membuat beberapa catatan dan berbagai cerita tentang sehari-hari di note Face book. Beberapa teman kemudian membaca tulisan Saya dan salah satunya menjebloskan Saya ke dalam sebuah grup para penulis bernama Be A Writer.

Masuk ke dalamnya Saya terbengong-bengong dan bingung akan melakukan apa. Hanya menyimak dan mengamati. Mau ikut nimbrung pun takut salah dan dibilang sok-sokan padahal ada beberapa topik menarik yang ingin Saya bahas dan komentari.


Lina dan Dwi
Beberapa hari cukup mengamati. Namun alangkah gembiranya Saya ketika ada satu orang anggota grup (Mbak Dwi Rahmawati) yang kemudian menyebut Kota Batam dalam komennya. Batam adalah Kota dimana Saya tinggal sekarang dan sepertinya ini menjadi celah bagi Saya untuk masuk dan larut dalam obrolan di dalam grup. Perlahan Saya pun  ikut mengetikkan komen untuk beberapa postingan member lainnya di grup. Alhamdulillah akhirnyaaaa :D

Masuk ke dalam Grup BAW Saya berasa seperti dibawa ke sebuah rumah mewah yang di dalamnya begitu banyak benda-benda antik dan berharga. Bayangkan, hanya dari status up date saja Saya bisa belajar begitu banyak dari para anggota grup yang kebanyakan mempunyai passion yang sama dalam dunia tulis-menulis. Ah, inilah saatnya Saya belajar lebih giat lagi. Bukankah sewaktu kecil Saya mempunyai keinginan untuk menjadi penulis? Bukankah berlembar-lembar buku diary sewaktu SMA dan SMP telah Saya habiskan untuk menuliskan suatu hal yang mengganjal di hati dan ketika ganjalan itu berubah menjadi rangkaian kata dan kalimat maka perasaan lega pun mulai terasa. Sungguh menulis itu menghilangkan stress dan penat bagi Saya. (Tapi kalau kelamaan nulis juga bikin penat kok Bu hehe).

Mengenal BAW adalah anugerah bagi Saya, keanggotaan yang sedikit namun aktif membuat Saya perlahan mudah mengenali para anggota lainnya. Yang aktif maupun yang pasif. Namun dari perkenalan dengan merekalah Saya mulai mengetahui bahwa dunia Fb ini begitu luas. Bahwa ada Fb-nya para penerbit di sana sehingga kita bisa mengikuti berbagai even menulis yang diselenggarakan oleh mereka. Ada Fb perusahaan-perusahaan besar yang biasa mengadakan lomba-lomba blog, quis, dan even lainnya. Melalui grup yang jumlah anggotanya tidak lebih dari 120 orang ini Saya telah banyak mengenal berbagai manfaat Fb terutama bagi Saya yang suka menulis dan ingin membuahkan karya berupa buku.

Ketika Mbak Leyla Hana, Pendiri Grup Be A Writer mengadakan even berupa lomba mengarang cerpen untuk beberapa tema, dengan sotoynya Saya mulai menulis. Berulang-ulang kali diedit dan diperbaiki , bahkan untuk 10 lembar tulisan cerpen saja Saya menghabiskan waktu hampir 14 hari. Duh betapa susahnya membuat cerpen itu. Namun dorongan semangat positif yang selalu tertularkan di komen-komen di grup membuat Saya terlecut untuk memperbaiki, mengedit, dan akhirnya berani mengirimkan tulisan ke Penanggung jawab naskah. Degdegan karena ini naskah pertama Saya yang ceritanya akan diajukan ke penerbit. Wooow...mendengar kata penerbit Saya langsung bangga. Jiaaah...belum tentu naskah Saya menarik kaan. Tapi biarlah Saya tetap larut dalam degdegan dan rasa waswas.

Ketika Mbak Leyla mengumumkan naskah chicklit Saya lolos (dengan beberapa pesan perbaikan tentunya) Saya luar biasa bahagianya. Serasa pecah bisul walau pun belum bersih sama sekali. Walaupun naskah Saya masih baru akan diajukan, namun mendapat apresiasi dari seorang Leyla Imtichanah seorang penulis keren membuat Saya berasa mendadak jadi penulis. Kyaaaa...

Alhamdulillah hingga saat ini Saya masih betah dan akan selalu betah menyimak berbagai info yang seliweran di grup. Ada berita bahagia, ada berita duka, ada info lomba-lomba, ada yang sedang review buku dan film yang sering membuat Saya melongo karena sesungguhnya Saya ingin bisa namun apa daya belum bisa (Insya Allah bisa kalau dipaksa :D). Merdeka! Kadang terkagum-kagum pada rekan di grup yang baru launching novel dan buku sejenisnya. Hadoooh kapan giliran Saya?

Semenjak itu akhir pertengahan tahun lalu, Saya mulai membulatkan tekad untuk mulai menulis sedikit demi sedikit dan mulai membidik lomba-lomba antologi cerpen. Siapa tahu dengan seringnya latihan ini semakin meningkatkan ketajaman kuku dan jari saya dalam mengetik. Duh menulis itu gak cuma modal jari tapi otak tentunya.

Saya pun mulai berkunjung ke blognya BAW di bawindonesia.blogspot.com untuk membaca kembali berbagai tips menulis dari para suhu. Membaca cerpen, catatan-catatan curhat, review, dan lainnya. Begitu melimpahnya ilmu kepenulisan yang bisa dipetik gratis dari blog ini.

Sekali lagi hanya berucap syukur Alhamdulillah bahwa Saya mengenal BAW di usia Saya yang tidak muda lagi ini. Artinya Saya bisa memanfaatkan usia Saya ini dengan lebih produktif lagi untuk menulis.

Bravo.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away Launching Blog BAW di sini



Tim Kemping Ceria di Pulau Lampu Batam

Sabtu pagi itu tanggal 6 April 2013 hujan baru saja reda. Langit masih memutih menyisakan awan-awan yang saling menumpuk bertindihan menutupi sinar mentari. Saya sempat was-was apakah perjalanan yang akan dilalui hari ini akan diiringi hujan seperti yang terjadi subuh tadi, atau cukup teduh dipayungi mendungnya awan. Dalam hati berharap ada limpahan cahaya matahari sehingga perjalanan kali ini bisa dilalui dengan menikmati perpaduan biru antara langit dan laut. Ah, Semoga! Cemunguuud :D

Pelantar Pelabuhan Pulau Karas
Berawal dari postingan foto Pelantar Pulau Karas di jejaring sosial Face Book, banyak teman yang merespon dan berminat untuk pergi ke sana. Saya pun teringat obrolan dengan dokter Anggit, salah seorang dokter magang di Pulau Karas yang bilang kalau sebenarnya nanggung dan hanya capek di jalan saja jika berkunjung ke Karas bolak-balik dalam sehari. Jadi mikir ada baiknya kemping nih. 


What? Kemping? Huh... malah degdegan. Mengingat kata kemping, mendadak adrenalin mengalir deras memicu frekuensi detak jantung. Wohooo... tak disangka rupanya Saya ini sudah kena virus Adrenalin Junkie. Sejak jaman ingusan sudah menyukai petualangan-petualangan alam luar nan liar, menyenangi kegiatan-kegiatan  outdoor yang bersifat adventure yang ujung-ujungnya memompa berderas-deras hormon endorfin ke seluruh jaringan tubuh. Duuh bahagianya. 

Jadi ketika thread memanjang dan mulai ramai membicarakan Pulau Karas, muncullah ide untuk kemping di sana. Sebuah pesan dari Mbak Emma senior di FPTI Batam bilang jangan sampai kempingnya mengganggu kenyamanan masyarakat Pulau Karas. Naaah kalau begitu bagaimana kalau kempingnya di Pulau Lampu saja? Soalnya di sana itu pulaunya kan kosong!


Pulau Lampu
Pulau Lampu
Dimanakah Pulau Lampu itu? Biasanya Saya selalu jawab begini. Tanya saja sama Mbah google. Namun untuk pertanyaan kali ini Saya jamin deh si Mbah gak bakalan tau kalaupun tau si Mbah bakalan ngasih jawaban yang salah. Kita akan dibawanya ke Pulau Lampu yang ada di Lombok, Bangka atau bahkan di Sidoarjo. Mbah, Mbah, mau tanya Pulau Lampu yang di Batam Mbah sebelah mana ya? Xixixi...


Yakin deh gak tau walaupun, meskipun, biarpun, Si Mbah lahir jauuuuh... sebelum kita dibrojolin emak kita ke dunia. Lah kok bisa? Itu dia asyiknya berpetualang di Kepulauan Riau, pulau-pulaunya belum banyak dikenal masyarakat luas. Belum tersentuh dunia luar, dan suasananya masih alami semula jadi. Kita serasa dibawa kembali ke zaman baheula, zaman nenek moyang kita berpetualang mengarungi ganasnya lautan. *Jiaah jadi pengen menyanyikan lagu nenek moyangku seorang pelaut :D

Mari kita urai pertanyaan dimana Pulau Lampu ini dengan pelan-pelan. Pulau Lampu adalah sebuah Pulau kosong yang berada tepat di ujung tenggara Pulau Karas. Kira-kira 10 menit mengendarai pompong (perahu motor) dari pelabuhan Pulau Karas. Saya tahu pulau ini pun dari obrolan dengan  Pak Karim, seorang penduduk Pulau Langkang. Dimana pula itu Pulau Langkang? Entahlah. Jangan tanya saya lagi. Jujur Saya juga belum ke sana dan yakin haqqul yakin kalau si Mbah Google juga belum tau. *Horeee...plan for next trip. Cess...nyalain kompor! 

Karena perjalanan kali ini buat having fun saja, sekedar memperkenalkan  dunia pulau, dunia pesisir, beserta ekosistemnya kepada Chila, anak saya yang masih balita, jadinya terfikirkan buat ngajak lebih ramai lagi teman-teman untuk ikut. Terutama orang-orang yang komen di thread Face book saya. Yang paling seneng banget sih ketika teman-teman dari Kelompok pecinta alam Cumfire yang bermarkas di Kawasan Industri Muka Kuning Batam banyak yang ikut. Horee...sekalian bisa reunian nih. 

Alhamdulillah ternyata ada sekitar 19 orang positif ikut termasuk dua balita. Namun pada detik-detik terakhir beberapa orang mengundurkan diri karena tidak diberi cuti oleh atasannya. *Haiyaaa...kesian...kesian..kesian. Begitu juga Dian salah satu teman yang tukang ngebolang ke pulau-pulau yang rencananya akan berangkat menyusul siang hari dengan suami serta anaknya batal ikut gegara hujan mendadak turun deras di Batam. *Hikss. Kalau ini memang benar waktu yang tidak mengizinkan ya Dee.

Mercu Suar Pulau Lampu
Dan, jadilah hari itu Kami berangkat hanya ber-15 orang termasuk Krucil saya, Chila (4 tahun). Berangkat dengan senang dan gembira ke Pulau Lampu. Pulau yang bahkan sejak tahun 1886 sudah dikenal oleh Belanda sebagai penanda kapal-kapal. (Waduh nenek saya saja belum lahir :D) Terbukti dengan adanya sebuah mercu suar yang berplakat Bahasa Belanda dan bertuliskan tahun 1886 Masehi. Waaksss... sudah 14 tahun tinggal di Batam sedikit pun saya belum pernah mendengar tentang ini. *What's wrong? Mercu suar ini pun seperti tenggelam ke dalam zaman, tak pernah sedikit pun muncul di media-media lokal Kota Batam dan sekitarnya. Atau apa saya saja yang kuper ya nggak pernah baca koran? *Tepok jidat berkali-kali. Qiqiqi...

Sebelum tulisannya dilanjutkan panjang lebar, ada baiknya saya perkenalkan teman-teman seperjuangan yang selama dua hari berbagi suka dan duka dalam perjalanan (piknik) kali ini. Dengan bangga saya perkenalkan kepada rekan-rekan semua inilah mereka: *Jreng...jreng..jreng... (diiringi sound track film Si Unyil) :D 


Bang Ical, My hubby, suami tercinta. Sejak awal rencana ini mengemuka, ia berencana untuk tidak ikut, namun ternyata berubah di dua hari terakhir menjelang keberangkatan. Mungkin kasihan dan tidak tega melepas anak dan istrinya keluyuran ke pulau kosong bareng orang lain.




Chila, My Lovely Daughter, My Precious Princess. Kemping kali ini adalah kemping kedua kalinya. Sebelumnya Chila pernah diajak kemping di tepi hutan Dam Sei Ladi. Chila sangat menyukai laut dan pantai walau pada kenyataannya agak takut sama ombak. Belum bisa berenang, suka main pasir, dan takut sama ubur-ubur.


Doedy Taufan.  Naah... ini dia Sang Whistle Blower, penabuh genderang perang, sang korlap merangkap ketua rombongan tanpa ditunjuk, tanpa upacara pengukuhan. Low Profile, rajin sholat, gemar menabung #eh.. :D dan katanya lagi nyari jodoh sesama anak Cumfire #eeaa  Hohoho.. Siapa yang mau daftar?

Gozi Abdullah. Gayanya yang nyentrik membuat Saya teringatkepada Kapten Jack Sparrow  dalam film Pirate from Carribean. Kocak, humoris, dan katanya ia sedang menanti sesuatu. Ap..paan tuh? *Ting! *Ngedipin Sebelah Mata Pakai Gaya Jaja Miharja.  


Riki, baru ketemu saat kemping ini aja. Tapi gayanya yang cair membuat kebekuan komunikasi saya dengannya mengalir seperti kopi hangat. Awalnya pahit namun berakhir manis. *Ceilee... Dialah sang pemanjat pohon kelapa yang ulung. Tak kurang dari 10 buah kelapa dia petik sendiri. Wooow... koprol.



Doni, Body-nya yang subur dan ndut membuat saya ngebayangin kalau pas punya anak berpipi tembem seperti dia. Duh gemes bakal saya cubitin tiap hari :D  *Dipentung Doni deh :D sekarang Doni aktif di FPTI Batam.

Walid, baru pertama kali ketemu juga, agak cuek, tipe cowok cool and calm, seringnya ngelihat dia ngalungin kamera DSLRnya, dan bersantai pakai sarung. Hampir sepanjang perjalanan Walidlah yang nggak banyak komunikasi dengan Saya. Laah gimana mau komunikasi banyak sama dia, sementara yg lain masih ngobrol ngalor-ngidul, doi malah anteng bobo pules di tenda. Padahal petir udah jedar-jeder di udara. So that's why I can't describe himself clearly.


Tri Yulianti, wajahnya imut dan “Cantik” apalagi dia berjilbab, tambah kelihatan aura kecantiknya. Upss...jangan memerah gitu dong Tri. Sering ketemu dan melihatnya kalau ada even-even Cumfire. Kenal orangnya tapi swear gak tau namanya. *Plaaak...ditampar Tri. 



Kus Hartini, beberapa kali ketemu doi saat ada event di Cumfire juga. Sama kayak dengan Tri,  kenal orangnya tapi nggak tau nama. *Plaaak...  Jiah pipi gue merah deh kanan kiri ditamparin. Kulitnya hitam manis semanis saya. Uhuk. Mendadak batuk dahak :D




Lyatemannya Kus orangnya kalem dan imut. Paling pendiam dan sepertinya nggak pernah ngobrol deh sama saya. Tapi Kata Doedy, saya mirip sama dia kalau urusan umur. Asyiik berarti masih dianggap muda menggoda. Hag hag hag. #PecahinKaca. 



Pitri, very humble, sang bendahara acara merangkap tukang belanja dan juru masak. Dengan olahan tangannyalah maka ia telah menyelamatkan kami semua dari sindrom K3 alias Kelaparan, Kelaparan dan Kelaparan. Hehe.  Pitri dan konconya membawakan kami masakan ala dormitory Muka Kuning. Yummy...tepuk tangan prok..prok..prok.. *Menyematkan bros ke Pitri.

Dinda, Anggota Cumfire Angkatan tahun 2012 baru ketemu saat itu aja di lokasi. Badannya kekar berisi cukup bisa diandalkan menjadi bodyguard Chila saat Bundanya ngelayap kemana-mana. Xixixi...*Plaaak! Idihh kenapa sih gue ditampar-tamparin mulu.
Selvi, Anggota Cumfire Angkatan 2012, sering ketuker-tuker terus sama Winda, padahal Saya aja gak tau yang mana Winda. Untung dia gak protes. Dan yang paling nempel diingatan sodara-sodara Selvi ini hampir nyangkut tertinggal di pohon mangga sewaktu naik atap bis damri. Untungnya ada Riki sang juru selamat sehingga tak jadilah ia tertinggal di pohon mangga. Hanya saja jaketnya itu jadi sobek. Kasihan kaaan? *Duh ngebayangi Selvi ngegantung di pohon mangga... Hag hag hag... bikin ngakak ketawa guling-guling 7 meter. *Plaaak...ditampar Selvi. "Teteh nih embeeeer, udah dibilang Selvi malu, jangan bilang-bilang!"

Mukti, Anggota Cumfire Angkatan tahun 2012 juga, paling sering dicengin oleh teman-temannya. Duh sampe desperate pengen nyemplung ke laut. Ah enggak ding. Tapi e tapi sepertinya Mukti lagi deket si someone deh. Cihuy ciapa ceeeh? Ciyus? Miapah? Hehe...Ciyus lagi ciyus lagi. 

Naah..itulah pasukan pom-pom yang rame dan kocak. Perpaduan berbagai ras dan keturunan. Ada orang Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa, Sunda, Sumbawa, dll.  Eit karena tulisan di blog gak boleh panjang-panjang jadi segitu dulu deh catper part 1, nanti disambung lagi. Mudah-mudahan bisa melanjutkan secepatnya di lain waktu.  Dadah!

Ini Kisah selanjutnya tentang Catatan Perjalanan Kemping di Pulau Lampu Batam.

Sunday, April 14, 2013

[Di Sekitar Rumahku] Kematian yang Merenggut



Postingan ini disertakan dalam tantangan #8MingguNgeblog Anging Mammiri minggu pertama.

Setiap pulang kerja atau dari dan akan ke tempat lainnya, Aku seringkali melewati rumah Bu Susi yang letaknya hanya selang satu rumah saja dari rumahku. Ia adalah salah satu tetangga yang paling ramah. Selalu saja menyapa dan tersenyum ketika Aku melewatinya sehingga tak sungkan Aku pun mampir dan ngobrol sebentar dengannya.  

Biasanya kalau sore tiba, ia duduk-duduk di teras dengan suaminya yang baru pulang kerja. Ngobrol berdua begitu mesranya, tersenyum, bercanda, lalu tertawa-tawa bahagia. Padahal anak-anaknya sudah 3 orang dan sudah besar-besar. Memangnya kalau sudah punya anak banyak nggak boleh mesra gitu? Ah, enggak juga sih hanya saja Aku sering melihat semakin lama suatu pernikahan jarang sekali mendapati suami istri yang masih mesra seperti mereka.

Berhari-hari kemudian Aku tak pernah mendapati mereka duduk-duduk di teras lagi. Anak-anaknya pun hanya tampak sesekali saja. Karena penasaran Aku pun bertanya kepada tetangga yang lainnya. Tanpa disangka mereka menjawab kalau Bu Susi sakit parah terkena kanker rahim. Aku tersentak kaget, ternyata telah lebih dari seminggu ia dirawat di rumah sakit sedangkan Aku tetangga dekatnya yang hanya terpisah jarak beberapa langkah saja tidak tahu sama sekali. Duh tetangga macam apa Aku ini? *Nonjok kepala sendiri.

Ah wajar saja, Aku kan pergi pagi pulang malam hari. Jadi tak pernah tahu akan perkembangan yang terjadi di sekitar rumahku. Batinku mulai membela diri. Tidak! Tetap saja ada pilu dan rasa bersalah yang menyudutkan posisiku. Ah Aku memang kebangetan.

Sore itu juga Aku hendak menjenguk Bu Susi ke Rumah Sakit, namun sayang suami ternyata pulang malam dan Aku punya bayi yang nggak bisa ditinggal atau dibawa-bawa saat maghrib-maghrib. Pamali kata orang Sunda. Dan memang Aku sangat riskan kalau mengajak anak keluar rumah saat maghrib tiba. Jadilah rencana menjenguk hari itu batal. Mungkin besok hari saja.

Subuh-subuh saat Aku terbangun dari tempat tidur terdengar suara berisik di luar. Begitu kuintip ternyata ramai orang di halaman rumah Bu Susi. Masya Allah, Aku mendadak lemas. Firasatku mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu. Seketika Aku langsung membangunkan suami dan menceritakan kekhawatiranku. Setelah sholat subuh, Ia  segera keluar dan bergabung dengan keramaian di luar.

Ketika Ia masuk kembali ke rumah ia menceritakan kalau Bu Susi sudah meninggal. Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Tak terasa sudut-sudut mataku mulai menggenang siap menumpahkan derai-derai air mata. Aku pun perlahan mulai menangis.  Penyesalan itu mulai merasuki relung hati. Rasa bersalah mulai hinggap dan tak pernah hilang hingga saat ini. Aku memang tetangga yang keterlaluan.

    "Ya Allah terimalah ia di sisi-Mu, Aku bersaksi bahwa Bu Susi adalah orang yang baik. Maka terimalah segala kebaikannya."

Saat jenazah disemayamkan di rumah duka, Aku duduk di halaman beserta ibu-ibu dan anak-anak. Menunggu saat keberangkatan jenazah ke Taman Pemakaman Umum Sei Temiang yang letaknya tak jauh dari Perumahan tempat Kami tinggal. Yona (7 tahun) anak Almarhumah yang bungsu terlihat begitu sedih dan berurai air mata. Aku menatapnya iba. Mengusap rambutnya yang panjang dan mengucapkan kata-kata agar dia tabah. Tiba-tiba saja Yuni, anak Pak RT yang usianya tak jauh dengan Yona berbisik kepadaku.

     "Tante, Tante...Yuni takut kalau Mama Yuni nanti seperti mamanya Yona." Kata Yuni polos. Aku tersentak kaget mendengar ucapan bocah tersebut.

     "Yuni tidak boleh bicara seperti itu ya, yang ada Yuni doain aja agar mama Yuni sehat dan panjang umurnya." Jawabku. Yuni hanya terdiam sambil mengangguk.
Beberapa bulan kemudian, Aku dikagetkan dengan kabar bahwa Bu RT, Mamanya Yuni, pulang kampung karena akan berobat. Kabarnya dia terkena kangker payudara. Sebulan kemudian tetangga ramai mengabarkan bahwa Mama Yuni meninggal dunia di kampungnya di Rantau Prapat Sumatera Utara. Dan dikebumikan di sana.

     Innalillahi wainnailaihi roojiun, Ya Allah Terimalah amal perbuatan mama Yuni sebaik-baik Engkau menghadirkannya ke muka bumi ini.

Hujan mengguyur pada malam meninggalnya Mama Yuni, seakan mengabarkan kedukaan pada seluruh warga perumahan tempat dimana Kami tinggal. Langit dan alam seperti bermuram kelam melepas nyawa seorang ibu yang telah meninggalkan seorang anak kecil yang teramat membutuhkan kehadirannya. 

Aku jadi teringat dengan ucapan Yuni saat meninggalnya Bu Susi. Seakan anak kecil itu telah mencium firasat bahwa ibunya pun akan mengalami hal yang serupa. Yuni, dimanakah kamu? Aku hanya ingin memeluknya lalu membiarkan bajuku basah oleh air matanya. Aku pun menangis. Seperti beberapa bulan yang lalu. Menangisi kepedihan yang dirasakan oleh anak-anak kecil mereka. Betapa berat cobaan yang dialami dua gadis kecil yang biasa menyambangi rumahku untuk sekedar bermain dan mendengar cerita-ceritaku. Yona dan Yuni semoga kalian menjadi anak-anak yang tegar.

Tak berapa lama, setelah meninggalnya Bu RT, Aku dikagetkan kembali dengan kabar meninggalnya bayi tetangga di blok sebrang rumah. Entah apa penyebabnya karena begitu dilahirkan bayinya sudah tidak bernafas lagi. Padahal bayi tersebut adalah anak pertama yang begitu ditunggu dan diharap-harapkan. 

Berhari-hari Aku terus memikirkan peristiwa ini. Sembilan bulan lamanya penantian sang ibu disertai berbagai perasaan tak menentu. Tidur tak nyaman karena harus menyesuaikan dengan perut yang mulai membuncit, melakukan berbagai hal dengan perlahan dan berhati-hati demi menjaga si jabang bayi selalu aman dan nyaman dalam kandungan, namun begitu ia dilahirkan dengan berdarah-darah dan sakit yang luar biasa, sang ibu harus rela melepas permata berharga itu kembali ke haribaan-Nya.  Bayinya lahir namun untuk meninggal.

Selang beberapa bulan kemudian, Aku tersentak oleh kabar bahwa anak tetanggaku yang masih bayi, berumur 4 bulan, meninggal karena diare. Padahal sudah dirawat di Rumah Sakit terkemuka di Kota Batam selama 4 hari. Mendengar itu Aku segera berlari menuju rumah dan menciumi putriku yang usianya tak jauh dari bayi yang meninggal tersebut. Kali ini Aku benar-benar menangis pilu. Aku merasakan sekali betapa sakitnya kehilangan bayi mungil yang lucu dan menggemaskan. Aku memeluk dan menciumi putriku lagi. Berurai air mata, tak kuasa membayangkan jika aku akan kehilangan bayiku seperti tetanggaku yang kehilangan bayinya.


Kematian adalah sebuah keniscayaan. Dan kini, lagi-lagi kematian tersebut merenggut orang-orang di sekitarku. Ibu-ibu bahkan balita sekali pun. Yang tua dan yang muda sekali pun. Pepatah mengatakan bahwa kematian itu ibarat pohon atau buah kelapa. Biar itu bunganya, pelepahnya, daunnya, buah yang muda, atau buah yang tua tetap akan jatuh juga. Tak kan pernah diduga apa yang akan terlebih dahulu jatuh ke tanah. Serupa itu pula kematian. Yang tua, yang muda, entah siapa jua akan satu persatu direnggutnya.

Satu tahun itu kematian berturut-turut mendatangi orang-orang di perumahan tempat kami tinggal. Tidak saja di blok sekitar rumahku namun seperti bergilir diblok-blok lainnya. Apakah kematian seperti efek domino atau peristiwa acak yang tetap misteri? Wallahualam. Hanya saja jika kematian tidak bisa ditebak dan kepastian akan datangnya tidak pernah kita ketahui maka setiap saat itu pulalah kita semestinya telah siap untuk menghadapinya kapan pun dimana pun.

Duka masih tampak menggantung di udara. Dan orang-orang yang ditinggalkan  oleh kematian di sekitar rumahku mulai bangkit untuk meneruskan hidupnya hingga kematian itu datang tanpa diundang.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...