Minggu, 26 Mei 2013

[Seandainya Saya tidak Ngeblog] Kemana Saya Harus Curhat?

        Awal perkenalan saya dengan blog adalah sekitar Maret 2005. Sebelumnya saya adalah gadis galau yang sering lupa waktu karena keranjingan main internet baik itu di warnet atau numpang di tempat kerja.

      Yang dilakukan sebelum ngeblog hanya sebatas baca berita, baca email, ikutan aktif di milis pendaki gunung dan para penggiat alam bebas di Yahoogroups, atau sesekali chatting via MiRC (hehe yang ini jadul banget). Namun setelah ada Yahoo Messenger barulah chatting berubah dan bergeser  ke platform yang lumayan keren dan aktraktif dengan tampilan berbagai emoticon.


      Semenjak tahun 2001, ketika membuka internet dan membaca-baca setiap berita, timbul keinginan untuk mempunyai blog sendiri. Namun saya harus mulai darimana? Bingung apa yang harus pertama kali dilakukan. Hanya takjub membaca situs-situs orang lain yang dengan senangnya membagi setiap sisi kehidupan yang dijalaninya.

      Suatu waktu, tak sengaja saya chatting dengan seorang kenalan yang bekerja di Batam Pos, salah satu media cetak lokal di Batam. Dia memberikan link ke blognya. Saat itu ia menggunakan platform blog di Multiply. Ketika membuka blognya saya membaca bahwa ngeblog  di sana itu gratis. Wuiih mata saya langsung ijo. Langsung deh otak-atik buat baru dan Alhadulillah lahirlah blog pertama saya dengan akun www.mozank3roet.multiply.com.  



Rumah Saya di Multiply dulu
      Punya rumah baru di dunia maya itu serasa mempunyai ruang kebebasan yang tiada tara. Semenjak itu rasa galau, sedih, dan cemas mulai saya tulis di blog. Sangat plong dan sangat membantu bagi saya untuk move on dari keterpurukan karena patah hati yang pada saat bersamaan ternyata dapat pengganti. Cieeee.

      Minimal seminggu sekali saya ngeblog. Itu pun gara-gara waktu yang saya punya cuma 1 hari saja. Hari minggu saat libur kerja. Kalau bisa mah tiap hari nongkrong depan komputer di warnet. Hiks maklum belum ada komputer sendiri, laptop masih barang langka dan belum ada modem yang dijual bebas lagi murah meriah seperti sekarang-sekarang ini.

      Ah, rasanya kalap banget punya blog itu. Apa saja pengen ditulis apa saja pengen dibagi. Apalagi di Multiply bisa upload album foto. Kesenangan saya akan jeprat-jepret objek foto lumayan dapat apresiasi dari pengunjung blog. Terlebih postingan foto lebih sering dikomentari para pengunjung daripada postingan tulisan. Dari situ saya belajar banyak tentang dunia fotografi juga.

      Dari ngeblog pula saya menemukan orang-orang satu hobby. Yakni hobby mendaki gunung. Dari merekalah mulai mengetahui penampakan berbagai wajah-wajah gunung di Indonesia. Mulai dari desa pertama dan pos pertama pendakian, jalur-jalur yang terlewati, hamparan savanna atau hutan belantara hingga penampakan puncak gunung bersama lautan awan. Walaupun belum pernah menyambanginya, saya malah mengenal secara tidak langsung gunung-gunung tersebut hanya dengan melihat foto-fotonya. Saya jadi tau darimana memulai jalur dan seperti apa perubahan vegetasi yang akan terlewati di sepanjang jalur. 
       
      Rasanya hati cenderung merasa lebih tertarik untuk mengenal dan mencari orang-orang yang mempunyai hobby yang sama ketika ngeblog. Seiring dengan waktu, salah satu blogger yang mempunyai hobby yang sama itu malah kini menjadi suami saya. Walau perkenalan pertama dengannya bertemu di gunung namun karena berjauhan yang kami lakukan adalah saling setia untuk mengunjungi dan mengomentari blog masing-masing. Cihuy.

      Bayangkan seandainya saya tidak ngeblog maka saya tidak akan punya ruang untuk berekspresi. Tidak ada tempat curhat, dan tidak ada tempat memajang foto-foto hasil jepretan. Jika tidak ngeblog mungkin ada salah satu sisi gelap yang tetap membekas di dalam hidup yang tidak pernah terungkap ke permukaan melalui tulisan. Karena menulis di buku diary sungguh telah merupakan terapi yang telah lama ditinggalkan, maka ngeblog adalah diary lain yang teramat berharga dan menyenangkan.

      Ngeblog juga merupakan rekaman jejak perjalanan saya mulai dari gadis, menikah hingga mempunyai anak. Ruang untuk mengungkapkan seluruh rasa yang teriring di dalamnya. Seandainya tidak menemukan blog, sekali lagi tidak ada tempat saya untuk menyimpan segala ekspresi sedih atau bahagia itu. Maka ketika pertengahan tahun tahun 2012 CEO Multiply mengumumkan akan menggusur dan menutup Multiply karena akan memperbesar pangsa pasar di bidang  penjualan online atau menjadi salah satu situs e-commerce di Indonesia, Saya tentu saja bersama jutaan orang pengguna Multiply lainnya sangat sangat amat amat dan amat meradang. Dan kami merasa teraniaya dengan salah satu keegoisan CEO-nya tersebut. Gak kebayang gimana kalau nggak punya blog lagi. Mungkin hidup saya terasa monoton dan tidak menarik sama sekali.

      Akhirnya dengan terpaksa harus migrasi ke tempat lain dan memindahkan sebagian isi tulisan blog ke blogspot. sedangkan foto-foto rencananya akan dipindahkan ke Wordpress namun karena gaptek hingga saat ini belum tergarap sama sekali. Yang ada malah malas untuk melanjutkan.

      Entah apa karena doa orang teraniaya cepat diijabah dan dikabulkan ya, maka tidak lama berselang pada 6 Mei 2013 kemarin tidak sampai setahun umurnya, Situs e-commerce Multiply diumumkan ditutup di Indonesia. Dan per 31 Mei bulan ini seluruh aktifitas pembayaran terakhir dilakukan. Itu artinya situs Multiply akan tutup sama sekali. Kasihan juga sih namun ya sudahlah Saya akan mulai menata kehidupan ngeblog di sini saja. Semoga banyak teman banyak saudara, juga banyak ilmu yang akan didapat dengan ngeblog di Blogspot ini.
   
 

Sabtu, 25 Mei 2013

Burger Pertama Chila

Entahlah tau darimana mulanya, tiba-tiba saja suatu pagi Chila minta dibelikan burger. 

"Bunda, bunda Chila mau Burger." Katanya.

"Apa? Burger Chil? Masih kecil pun masih umur 4 tahun dah minta burger. Bunda aja baru ngerasain burger pertama kali tuh pas SMA Chil." Mata Saya menatap heran sambil geleng-geleng kepala. Namun melihat keseriusan dalam mimik wajahnya, sorot matanya, begitu lugu dan polos, duh luluhlah hati ini. Daripada kasihan akhirnya Saya sekalian ajak aja Chila makan siang di KFC yang baru buka di dekat kawasan Sentosa Plaza (SP) Batu Aji.

"Yaudah deh Chil, kita berangkat ke KFC aja".  
"Horeeee....." Kata Chila sambil melonjak-lonjak gembira lalu memeluk Saya dan mengucapkan kata terima kasih. Hohoho... rayuanmu Nak memang mujarab. Bunda mendengar kata terima kasih itu walaupun belum berangkat rasanya sudah terharu banget.

Sekitar jam 10an Saya dan Chila berangkat. di Jalan ketemu dengan anak pengasuhnya Chila, Namanya Salma yang lagi main sepedaan. Sekalian deh kita ajak ya Chil biar seru.

Ini nih penampakan Burger Chila Perdana. Pertama dalam hidupnya memakan burger. 



Selamat Merayakan Makan Burger ya Sayang :)

Sepulang dari KFC kami menunggu bis atau taksi yang mengarah ke rumah. Namun karena hari jum'at jadi agak-agak susah. Terpaksa memilih angkutan yang lewat ke simpang terdekat dengan perumahan. Simpang Yamaha di dekat pasar Sagulung. Berharap agar ada ojek yang sedang menunggu di sana. Namun ternyata tak satu pun ojek terlihat. Yah terpaksa deh jalan kaki. Untung Chila dan Salma mau diajak jalan kaki melewati kantor lurah dan rumah-rumah liar (ruli) yang halamannya dipenuhi oleh pohon-pohon nangka. 

Ketika melewati jalan setapak di antara ruli-ruli itu kami melewati satu pohon yang sangat tinggiiiii... sekali. Sampai-sampai untuk mem-fotonya pun Saya harus tiarap :D 

Alhamdulillah sampe rumah jam satu lewat. Rapi-rapi sebentar, sholat, dan langsung ngelonin Chila buat tidur siang.

Semoga mimpi makan burger lagi ya Sayang :D

Sabtu, 18 Mei 2013

Permainan Pasang-Pasangan


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.


“Pengumuman! Untuk semuanya, sampai hitungan ke-sepuluh harus sudah menemukan pasangannya masing-masing. Ayo diperiksa lagi tulisannya. Jangan malu untuk bertanya biar saling kenal. Kakak hitung sampai sepuluh ya.  Satuu….duaa…tigaaa…”



Dug, jantungku serasa mau copot. Suara panitia yang mulai menghitung angka itu membuatku gugup dan gemetaran. Aku takut dihukum sementara Aku belum menemukan seorang pun yang akan menjadi pasanganku. Sementara teman-teman yang lain yang telah menemukan pasangannya, mereka telah berkumpul di tepi lapangan  dengan wajah cerah dan sumringah. Mereka riang dan gembira karena akan lolos dari  hukuman  Kakak-kakak  Pembina.



Telah puluhan kali Aku bolak-balik melintasi lapangan, menembus keriuhan di antara teriak-teriakan panik para pencari pasangan. Malah tak heran bahkan ada yang saling dorong saking penasaran dan nggak sabaran. Namun tak jua kutemukan si pasangan itu.


     “Bulan…..bulan….bulan…” Teriak seseorang.


     “Sendok..sendooook…. sendoooook…” seseorang berteriak lebih kencang lagi.



     "Langit...langit...langiiittt...."     

     “Empaaaat…” Kakak Pembina berteriak menambahkan lagi hitungannya melalui megaphone.



Aku menatap lemas pada  tulisan yang ada di kertasku. Di sana tertulis kata “Kaos Kaki”.  Duh dimanakah pasangan kaos kaki berada? Eit, apa pasangan kaos kaki ya? Ya jelas sepatu lah *Pletaaak! 


     “Teh..teh… pasanganana matahari naon nya?” Seseorang menanyaiku. Laaah masa sih gak tau. Aku melotot, hampir deh mengeluarkan biji mata saking gemesnya.   

 “Matahari pasangannya bulanlah!” Jawabku yakin.


      “Bukannya bintang ya Teh?” dia menatapku ragu. Eh iya ya mungkin juga. Aku malah jadi bengong bingung. 

         
     “Nggak tau ya, bingung, hihi..” Kabur Ah. Aku segera menghindar dan berlari mencari dimanakah soulmate-ku berada. *Ceilaah.


            “Limaaaa…..”


            “Lima setengaaaah….” Suara Kakak Pembina makin menambah panik suasana. Duh dimanakah pasanganku. 
             
            "Kaos kakiiii..." Aku berteriak sekencang-kencangnya. Duh nggak ada yang dengar. Semua sibuk dengan kertasnya masing-masing.



            Aku menatap seseorang sedikit ragu. Namun dalam hati sibuk berbicara sendiri.

     "Iidiiiih gak bakalan deh Aku  nanya sama dia. Nanti kegeeran." Fikirku. Pokoknya Aku nggak bakalan menegur dia sedikit pun. Entah kontak batin atau apa, lelaki itu pun tiba-tiba melirikku. Terlihat kesungkanan yang sama dalam tatapnya.  ia pun segera berlalu, menjauh masuk ke dalam kerumunan. Sebentar kemudian ia tampak keluar berpindah ke tempat lain. Namun tak ada satu patah katapun yang terucap. Heran deh gimana mau dapat pasangan coba kalau nggak agresif. Gimana mau menemukan jodohnya jika yang ia lakukan cuma bisik-bisk.

             
         Teriakan dan jeritan teman-teman yang sudah menemukan pasangannya  malah membuat para pencari semakin panik. Berpencar dan entah apa yang ditanyakan mereka dalam keriuhan.



        Kerumunan makin mengecil, tiba-tiba Aku berselisihan jalan dengannya, dan dalam sepersekian detik keberanian itu tiba-tiba saja muncul. Yah sudahlah Aku harus mengalah daripada malu kalau Aku dihukum nanti. Lebih baik Aku yang menanyainya. Aku menatapnya ragu. Dan ia pun sepertinya sama mendekat ke arahku lalu saling memperlihatkan isi kertas masing-masing.

        
       “Sepatu” Kata itu tertulis jelas di kertasnya. Ya Tuhaaan…. Sebuah kebetulankah ini, atau memang skenario terindah dari-Mu? *hihi…kedip-kedip.

           
       “Ayoooo!” Dia menganggukkan kepala mengajakku masuk ke barisan para pasangan. Wajahnya dingin namun menghanyutkan. Sambil menundukkan kepala Aku pun mengikutinya dari belakang. Dalam hati berkata duh bakalan cilaka nih, malu sama teman-teman satu sekolahan. Siap-siap saja gosip akan segera menyebar ke seantero SD negeri ini kalau saja Aku berpasangan dengan si Ajang sang ketua kelas yang ganteng itu. *Hihi... jadi ngikik ketawa deh kalau ingat itu.

           

*Alkisah, begitulah awal mula ceritanya Aku mengenal bahwa di dunia ini ada dua sisi. Berpasang-pasangan. Ketika Sekolah Dasar kelas 4, saat mengikuti Jambore Ranting yang diadakan se-Kecamatan. Untuk lebih memperkenalkan satu sama lain, Kakak-kakak pembina menyuruh kami berkenalan dengan memasangkan tulisan-tulisan di kertas yang dibagi-bagikannya ke semua peserta jambore. Trik itu cukup berhasil karena hampir semua mendapatkan pasangan dari SD yang berlainan mungkin pengecualikan buat Aku yang mendapatkan pasangan satu kelas.

Aku malah rada-rada bete sama sang ketua kelas gara-gara hampir satu kelas telah menjodoh-jodohkan Aku dengannya. perjodohan kami seperti sudah diatur sedemikian rupa.  Dan weww...Aku terkadang gugup dibuatnya. Qiqiqi...kelas 4 SD gitu loh. Masih ijo royo-royo....bau kencur cecungur dibalur sayur :) Mungkin itu yang disebut Cinta Onyet ya friends? :D

 “Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri”

 

Kamis, 16 Mei 2013

[Catatan Perjalanan] @Pulau Lampu Part-3

Tadaaaa..... I'm back! I'm back! Senangnya bisa nulis kelanjutan bagian ini walau sebenarnya riweuh alias rempong sama urusan rumah, deadline nulis, kerjaan, setrikaan, hihihi... alasan basi. Cukuplah basa-basinya, mari kita lanjutkan catper kita kali ini, sepertinya gak tamat di seri ini tapi masih bersambung ke part-4 kawan mengingat emak yang nulis ini sedikit lola kalau harus nulis di blog. *Pakai mikir sih :)

Ini dia kelanjutannya : Kapal motor yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan penuh. Mesin tempel 40 PK yang berjejer sebanyak tiga unit di buritan kapal bekerja maksimal dengan mengeluarkan suara bising yang memekakkan telinga. Obrolan para penumpang tampak tidak nyaman karena harus berteriak-teriak untuk mengimbangi suara bising mesin.
Pulau Lampu Karas




Nun jauh di sebelah kanan tampak dua pulau bersisian. Pulau Mubut Darat dan Pulau Mubut Laut. Salah satu pulau itu tidak berpenghuni dan pernah dijadikan tempat kemping oleh Saya dan beberapa teman pada tahun 2006 lampau.


Celoteh riang tampak dari wajah-wajah kami. Manusia-manusia yang haus akan serunya petualangan ke alam bebas . Walau langit sedikit mendung dan awan hitam masih menggantung, keceriaan itu tetap ada di wajah kami.



Setengah jam kemudian, kami tiba di pelabuhan Pulau Karas. Sebagian besar penumpang naik ke dermaga dan menyisakan rombongan kami ber-15 orang. Kami tidak ikut naik ke darat karena kapal Sri Galang ini akan melanjutkan perjalanan eh pelayarannya ke Pulau Lampu.



Ombak terlihat tenang, dari kejauhan tampak beberapa nelayan di atas sampan-sampan kecilnya sedang tekun melempar pancing dan menunggui ikan-ikan menyambut mata kailnya. Kapal kami mendekat, sang Tekong perlahan menghengtikan kapal lalu bertanya kepada nelayan apakah sudah mendapatkan ikan atau belum. Ia hanya menggeleng. Sudah 2 nelayan yang kami temui hanya menggelengkan kepala seperti itu. Yaaah mungkin belum rejeki mereka cepat-cepat mendapatkan pembeli, atau memang belum rejeki kami yang berencana makan malam dengan ikan bakar. Ya sudahlah setidaknya masih ada harapan sore nanti kami bisa mendapatkan ikan dari hasil pancingan sendiri. Kalau gak dapat juga itu namanya sudah nasib.


Kakek Sang Nelayan itu

Lamat-lamat tampak dari jauh sebuah pulau yang kecil mungil, berpasir putih, dan berhiaskan pohon kelapa. Kami seperti histeris dibuatnya, tak sabar ingin segera sampai. Sebagian langsung deh mengeluarkan kamera. Jeprat-jepret memotret pulau Lampu dari berbagai sudut. Sudut kapal tentunya :)


Gozi yang duduk di depan nampaknya sudah tak sabaran lagi, iapun segera berdiri di haluan kapal, gayanya mirip si Jack (Leonardo DiCaprio) dalam film Titanic. Maaf ya cuma gayanya doang, kalau orangnya sih angkat tangan beuuuh... Jauuuuuh! Gozi meski mandi madu dulu buat memutihkan badan hingga seperti si Jack Leonardo itu. sekali lagi entah ini ucapan yang ke berapa kali kalau Gozi tuh sebenarnya lebih mirip si Jack Sparrow Sang Kapten di Film Pirate from Carribean. Iiih dia lagi nih yang dibahas. Kalau Gozi mendadak terkenal tentu dia hutang budi sama Saya. Perlu pasang tarif nih :). 

Baiklah kita lanjutkan petualangan ini.



Yes, air laut masih pasang jadi  kapal bisa merapat tepat di tepi pasir. Perlahan kami turun sambil kerja bakti nurunin barang bawaan yang Astagfirullah layaknya orang mau pindah rumah. Hehe biar kata jauh dari peradaban juga tetap pengen terasa nyaman. Jadi barang bawaanlah yang sebenarnya begitu berperan membuat kemping di Pulau ini berasa piknik ke Ancol. Jauh dari kata survival yang selalu diagung-agungkan anak pecinta alam. Pecinta? No no no big no, kami malu dibilang begitu katakanlah kami hanya penikmat alam agar pundak ini tidak terlalu terbebani oleh gelar dan sebutan Pencinta Alam yang jauh dari perilaku dan tindak-tanduk kami dalm memperlakukan alam sekitar  layaknya seorang Pecinta terhadap yang dicinta. Ealaaah :)


Pulau Lampu Batam
Pulau Lampu, si mungil yang berkilau

Pyaaar...pasir putih terjejaki, rombongan berjalan menyusuri tepi pulau, sedangkan Chila krucil Saya yang imut itu sejak langkah pertama menginjakkan kaki di pasir dia sudah kabur duluan. Asyik dengan dunianya sendiri,berlarian meng-explore sekitaran dengan penuh antusias. Ia tampak sedang mengamati pasir dan cangkang-cangkang kerang yang terserak ketika Saya mengajaknya untuk berjalan lagi ke arah pesisir pulau. Sungguh senang bisa mengajaknya ke tempat-tempat seperti ini. Dia akan menikmati semuanya. Bermain pasir, mandi air laut, mengumpulkan cangkang kerang, dan bermain umang-umang.


Pulau Lampu Batam


Karena lapar melanda, rombongan berhenti dan menggelar fly sheet sebagai karpet darurat, lalu digelarlah hidangan makanan yang woooow.... mewah banget kalau buat ukuran survivor mah.

Terima kasih kepada Pitri, Kus dan yang lainnya yang sudah bersusah-susah payah memasak untuk bekal perjalanan ini. Masakannya lumayanlah bisa buat modal catering-an kalau udah nggak kerja di Muka Kuning lagi:)

Nah kalau perut udah terisi penuh, tenang deh mau ngapa-ngapain selanjutnya juga :)

Menu mewah kami
Setelah acara makan-makan selesai, rombongan mulai deh hilang satu per satu termasuk  Ayahnya Chila. Padahal tenda belum dipasang sementara langit mulai tampak gelap. Angin menderu semakin kencang membawa segumpalan awan hitam yang sepertinya akan menurunkan titik-titik hujan. Ya rintik-rintik hujan pun mulai jatuh ke pasir. Sempat panik namun tiba-tiba saja mata melihat sesuatu yang sangat luar biasa. Ketika angin menderu dan membawa gumpalan awan hitam di atas langit, laut bergerak ke arah kiri, berombak mengikuti arah angin namun airnya berwarna hijau tosca. Warna air lautnya "Hijau" bukan biru atau abu-abu teman. Unik banget. Subhanallah indah deh.

Rintik-rintik hujan yang dibawa awan gelap mulai menderas kami semua panik lalu dengan buru-buru mendirikan tenda. Aduh dimana tenda yang dibawa si Ayah ya? Saya sibuk ngomel-ngomel sendiri.

"Uuuuh suami mana suami?" Halaah yang lain pun belum datang juga hanya beberapa orang teman perempuan dan Doedy saja yang masih tertinggal di lokasi. Akhirnya mereka pun segera mendirikan tenda secepatnya.

Setelah mengobrak-abrik kerilnya si Ayah Alhamdulillah tendanya ketemu juga. Langsung pakai jurus seribu bayangan ciaaat....sret..sret...ngeluarin tenda nyusun tiang-tiang fiber dan baru setengah jadi Si Ayah akhirnya datang. 

"Iiiih...Ayah nih darimana sih?" Bibir Saya masih maju bersenti-senti. Biasalah para emak ini kalau ditinggal suami kan worried mulu bawaannya gituuuuh :) *Hehe worry apa ngiri?

15 menit kemudian 3 buah tenda telah berdiri manis di lapangan rumput di antara pohon-pohon kelapa. Untung saja agak berjarak dengan pohonnya, walau sebetulnya agak ngeri juga ketimpa pelepahnya yang sudah berkali-kali jatuh terbawa angin.

Pulau Lampu Batam
Barisan Tenda Kami
Hujan  yang kami takutkan tidak sempat membesar hanya rintik-rintik saja. Sore itu kami menikmati senja dengan berenang, mancing, dan mengumpulkan ranting-ranting untuk membuat api unggun. Sementara Riki menjadi pemanjat pohon kelapa satu-satunya yang berhasil memetik sekitar 7 hingga 10 biji buah kelapa. Ketika mencoba meminumnya wuiiih segernya. Fresh from nature. Tapi ngomong-ngomong ini pohon kelapa ada yang punya ngak ya? Aduuh jadi kefikiran. Apa air kelapa yang masuk ke perut ini halal atau haram ya?

Bersambung...

Jangan lupa baca cerita sebelumnya :



Rabu, 15 Mei 2013

Indosat Super Wi-Fi Blog Competition

Kompetisi Blog Indosat Super Wi-Fi adalah kompetisi menulis antar blogger se-Indonesia dengan tema "Pengalamanku menggunakan Indosat Super Wi-Fi." Peserta membuat tulisan di blog masing-masing dengan sebaik dan sebanyak mungkin agar dapat memenangkan beragam hadiah super keren.

Step 1:
Daftarkan dirimu dan blog pribadimu


Step 2:
Pasang badge/widget Indosat Super Wi-Fi dengan menyalin (copas) kode HTML badge/widget di page Badge-ku ke dalam blog-mu


Step 3:
Buat blog post berisi pengalamanmu saat menggunakan Indosat Super Wi-Fi. Kamu boleh membuat blog post lebih dari 1 (satu), maksimal 3 (tiga) blog post.


Step 4:
Salin-tempel (copas) URL blog post tersebut di page Badge-ku


Step 5:
Perbanyak Experience by Location pada badge-mu dengan memberi komentar untuk hotspot Indosat Super WiFi yang pernah kamu datangi di sini


Step 6:
Semakin menarik blog post yang kamu buat dan semakin banyak Experience by Location-mu, semakin besar juga kesempatanmu untuk menang!

Syarat & ketentuan
  1. Kompetisi blog Indosat Super Wi-Fi berlangsung dari tanggal 25 Maret – 31 Mei 2013.
  2. Tema kompetisi adalah Pengalamanku menggunakan Indosat Super Wi-Fi.
  3. Peserta kompetisi adalah pria dan wanita Warga Negara Indonesia, memiliki blog pribadi dan nomor Indosat yang aktif.
  4. Setiap peserta harus terlebih dahulu terdaftar di www.murahituim3.com/superwifi
  5. Nomor Indosat yang didaftarkan peserta haruslah dalam status aktif dan merupakan nomor pribadi peserta (bukan nomor orang lain). Jika saat peserta dinyatakan menang, nomor tersebut terbukti tidak aktif maka kemenangannya dapat langsung dibatalkan dan dialihkan ke peserta lain.
  6. Peserta harus mencantumkan data diri yang benar di form registrasi, serta URL blog yang didaftarkan haruslah blog pribadi peserta.
  7. Setelah dinyatakan terdaftar, peserta harus membuat tulisan/blog post di blog pribadinya sesuai tema dan memasang widget/badge Indosat Super Wi-Fi di blognya
  8. Tulisan/blog post peserta yang berisi pernyataan SARA, dan atau merugikan pihak Indosat/ pihak lain akan secara otomatis didiskualifikasi dari kompetisi
  9. Pemenang ditentukan berdasarkan kualifikasi sbb: (a) jumlah "Experience by Location", dan (b) kualitas tulisan.
  10. Penentuan pemenang akan dilakukan oleh dewan juri. Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
  11. Terdapat 4 kategori pemenang dalam kompetisi ini, sbb:
    • Juara 1 : Macbook Pro 13"
    • Juara 2 : Samsung Galaxy Note II
    • Juara 3 : Samsung Galaxy Tab 10.1
    • Hadiah Hiburan : 10 Pemenang @ Voucher Indosat 100K + Staterpack Mentari
  12. Seluruh nama pemenang akan diumumkan di www.murahituim3.com/superwifi pada pertengahan bulan Juni 2013. Pemenang akan dihubungi oleh pihak Indosat melalui e-mail dan telepon untuk konfirmasi.
  13. Setiap pemenang hanya berhak memenangkan satu hadiah.
  14. Jika peserta terbukti melakukan kecurangan saat melakukan update "Experience by Location", maka update tersebut tidak akan diperhitungkan.
  15. Jika peserta tidak dapat dihubungi, peserta diberi tenggat waktu 1 (satu) minggu untuk konfirmasi dan untuk menerima hadiah. Jika lewat tenggat waktu tersebut pemenang tidak melakukan konfirmasi, hadiah pemenang akan dinyatakan hangus.
  16. Peserta yang dinyatakan menang namun kemudian terbukti melakukan pelanggaran terhadap satu atau lebih ketentuan dari Syarat dan Ketentuan kompetisi ini, kemenangannya dapat langsung dibatalkan dan hadiah akan dialihkan ke peserta lain.
  17. Pajak hadiah ditanggung Indosat. Pemenang tidak akan dipungut biaya apapun dan diharapkan untuk berhati-hati terhadap penipuan yang mengatasnamakan Indosat.
  18. Keputusan dewan juri adalah SAH dan tidak dapat diganggu gugat.
  19. Syarat dan ketentuan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Sumber : http://superwifi.murahituim3.com/

Sabtu, 11 Mei 2013

My First Love, My Everlasting Love!


Gadis kecil mungil itu terduduk di tepi kebun yang berbatasan dengan sawah. Kakinya yang terjuntai lemah, terpantul-pantul ke tanah. Walau marah meluncur dari bibir seseorang di dalam kebun Sang Ayah, ia sudah mengalah tak mau menghiraukannya. Kini ia punya keasyikan tersendiri “Merenung dan melamun” di tepi kebun.

Ia selalu memikirkan mengapa langit itu biru, mengapa awan-awan terus berjalan, Mengapa bintang-bintang bertaburan, mengapa bulan terkadang bulat terkadang juga sabit menyempit? Mengapa angin tidak kelihatan, mengapa terjadi siang dan mengapa harus ada malam? Semua belum tuntas terjawab. Pertanyaan-pertanyaan itu, sejuta tanya “mengapa” itu masih berkelindan bermain-main dalam fikirannya.

Lautan Awan. Foto : Pribadi
Mata Gadis itu menerawang jauh ke depan. Namun pandangannya tiba-tiba tertumbuk pada sesosok wajah yang begitu rupawan. Berdiri tegap, tepat di hadapan. Tinggi dan kokoh. Dalam diamnya sosok itu begitu menggetarkan. Menyemai benih-benih rasa yang selama ini belum pernah ia rasakan. Menelusupkan rasa cinta yang selama ini  belum pernah ia lukiskan dalam lembar khayalan.

Si Gadis begitu terpesona. Ini bukan cinta pada pandangan pertama, karena sebelumnya ia pun pernah melihat sosoknya. Entah mengapa saat itu, dikala sepi menyendiri mengisi pergantian hari, dikala senja senyap merayap menuju gelap, dikala ia menatapnya lekat-lekat, dikala sosok itu berdiri dengan tegak, sebongkah asa dan rindu berpadu di dalam kalbu.
 
That's It, Sosok yang Mengagumkan itu! Foto : Pribadi
Matanya masih awas memandangi sosok itu. Seperti sedang mengukur berapa tingginya, ia menyapukan pandangan ke arah lekuk-lekuk yang membentuk indah wujud kokohnya. Lekukan yang membayang oleh sinar mentari yang tak ganas lagi. Terkadang ada terang di wajahnya, terkadang jua meredup tertutup kabut. Ah kabut semoga saja cepat berlalu.
         
          “Pernahkah Kau sibak sendiri kabut di wajahmu itu, Ciinta?”

Seperti monolog tentang rasa, dia hanya terdiam tanpa kata tanpa bahasa. Padahal gemuruh dalam dada sang pemuja begitu menggelora. Bagaimana? Bagaimana mengatakannya? Dengan cara apa dia mengungkapkannya?

Wahai alam berpihaklah kepadanya, biarkan kemegahannya, keteguhannya mengalirkan rasa yang berbalas! Sejenak saja melalui mimpi-mimpinya.

 Namun bagaimana rasa itu tersampaikan jika menulis saja si Gadis belum lancar. Jika keluar rumah saja harus selalu ada yang menemani. Jika ke kebun untuk menyiram sayuran dan pohon-pohon jeruknya harus bersama saudara-saudaranya?

“Ayo Pulang, sudah hampir maghrib!” Suara itu mengenyahkan keasyikannya. Si Gadis terperanjat, lalu berdiri.

          “Esok, Aku akan kembali menatapmu di sini.”

Ia berlari mengejar kedua kakaknya  yang telah jauh pergi. Hanya sebuah asa yang terus-terusan ia pelihara, berharap dewi fortuna akan memihaknya di lain masa.

          “Tunggulah saatnya Aku dewasa! Jika kelak tiba waktunya, Aku akan ke sana . Tidak semata menatapmu, namun mencumbui hutan-hutanmu, menapaki curam jurang-jurangmu. Aku akan menari dalam deras hujan, berlari-lari di lereng bebatuan, menyanyikan syair-syair kerinduan dalam pelukan alam.”

Bukan sesuatu yang mustahil sementara kisah perjalanan jauh itu selalu tersampaikan dikala menjelang isya. Ketika nenek bercerita. Mengalur mengikuti isu zaman. Alkisah dari negeri para ambiya. Seperti kisah Musa sang pendaki pertama. Tegar merayapi bebatuan demi bertemu Tuhan seru sekalian alam di satu puncak tertinggi sebuah negeri.

Tersebutlah berulang-ulang dalam Al Qur’an. Semenjak Dia Sang pencipta menancapkannya sebagai pasak hingga kelak melayang beterbangan bagai debu yang tertiup bayu. Membaca itu Si Gadis makin terharu, betapa rasa cinta itu semakin bertambah besar dan liar.

Gadis kecil tumbuh menjadi Aku, yang tergetar jika melihat sosoknya yang mengagumkan. Megah tiada terbantah, agung tanpa terbendung, menjulang menembus batas-batas tingginya awan.

Aku Yang tercerahkan hari-harinya jika senantiasa dapat bermain-main dalam pelukannya. Dalam barisan pinus dan cemaranya, di rerimbunan cantigi dan hamparan edelweis. Menyesap hawa sejuk yang menghembuskan segala kepenatan jiwa.

Di sana Tersimpan Kenangan itu. Foto : Pribadi
Dan kini walau hidup di kelilingi oleh lautan namun sosok itu senantiasa datang, merayapi mimpi-mimpi, seakan memanggil-manggil diri ini untuk segera kembali.

Bilakah waktu memanggilku pada dekapanmu? Aku bertanya! Tolong jawablah agar rasa ini tetap bermuara pada tempatnya.


Memory di Kebun Jeruk (Bukan di Jakarta tapi di kebun jeruk betulan :D)
Kampung Papandayan Sukaresmi  Garut, 1986 atau 1987 entahlah sudah lupa!


Jumat, 10 Mei 2013

Ayo, Ikut Gerakan Anti Miras & Selamatkan Anak-Anak Kita dari Pengaruh Alkohol

Ketika SMP kelas 2 (sekitar tahun 1993), Saya satu kelas dengan seorang teman sebut saja namanya Asep (Maaf ya buat yang namanya Asep, namanya Saya pinjam dulu :D). Awalnya dia seorang yang kritis, cerdas, dan pintar. Namun setelah beberapa bulan kegiatan belajar berlangsung, dia berubah menjadi pemalas dan jarang masuk kelas. Kalau pun ia masuk kelas, matanya merah seperti kurang tidur. Jika diajak bicara seringnya tidak nyambung. Sensitif dan hiperaktif. Perlahan rankingnya di kelas turun drastis ke urutan paling belakang.

Suatu hari Asep ngoceh tak jelas. Apa yang saya tanya sepertinya nggak connect dengan otaknya. Di sela-sela ocehannya, dengan bangga Asep berkata kalau dia habis minum whisky. Bayangkan, saat itu Si Asep masih unyu sekali, masih kelas 2 SMP. Bisa dibilang dia bau kencur bahkan bau jahe :D, namun sudah berani-beraninya nenggak miras. Saya yakin haqqul yakin Si Asep menurun tingkat kecerdasannya, konsentrasinya, dan semangat belajarnya, gara-gara minuman alkohol bernama whisky tersebut.

Badan kesehatan dunia WHO memperkirakan terdapat sekitar 2 milyar orang di seluruh penjuru dunia yang mengkonsumsi minuman beralkohol. 76,3 juta diantaranya didiagnosa memiliki gangguan yang disebabkan oleh alkohol tersebut. Terdapat hubungan kausal antara mengkonsumsi alkohol dengan 60 jenis penyakit dan kecelakaan. Alkohol diperkirakan telah menyebabkan kira-kira 20-30% kanker esofagus, kanker hati, sirosis (pengerasan hati), epilepsi, pembunuhan, dan kecelakaan kendaraan bermotor di seluruh dunia. (Global Status Report on Alcohol, WHO, 2004).

Di negara kita sendiri, belum ada undang-undang yang mengatur secara tegas pengendalian minuman keras (miras) dan minuman beralkohol (minol). Padahal dampaknya sangat mengkhawatirkan masyarakat. Tahun 1993 saja di kota kelahiran Saya di Garut, di kala minimarket dan supermarket jauh dari tempat tinggal, sudah ada anak-anak di bawah umur yang mengkonsumsi alkohol, seperti Si Asep tadi. Terlebih sekarang dimana miras begitu mudah didapat di minimarket–minimarket yang tersebar di setiap tempat.

Saya, dan ibu-ibu tetangga lainnya terkadang menyuruh anak-anak untuk pergi membeli sesuatu ke warung/minimarket di sekitar perumahan. Mereka malah sangat senang jika disuruh seperti itu karena biasanya mendapatkan upah jajan. Namun melihat kondisi sekarang dimana miras dan minol dijual bebas, terkadang bercampur dengan minuman lainnya di kulkas penyimpanan. Sepertinya kami tidak berani lagi melepas anak-anak belanja sendirian ke warung. Tak terbayangkan seandainya anak-anak itu mencoba membeli miras di warung/minimarket tempat mereka jajan. Jika tidak ada payung hukum yang tegas yang menindak siapa saja yang memperjualbelikan miras kepada anak-anak di bawah umur (sebagian menetapkan batas usia 18 tahun & 21 tahun) maka alangkah suramnya masa depan anak-anak kita kelak.

Beberapa Pemerintah Daerah memang telah banyak berinisiatif membuat Peraturan (PERDA) tentang pengaturan, pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol. Contohnya Pemerintah Kota Batam. Melalui Perda No. 19 Tahun 2001 pasal 9 menyebutkan minuman beralkohol hanya dapat dijual langsung untuk diminum di tempat-tempat seperti Hotel, Restorant, Pub, Diskotik, Life Music, Karaoke dan Klab Malam; Dilarang menjual, mengecer dan meminum, minuman beralkohol golongan A (kadar etanol 1-5%) golongan B (5-20%) dan golongan C (20-55%) di tempat seperti Warung dan Kios, Gelanggang Olah Raga, Gelanggang Remaja, Kantin, Rumah Billiard, Gelanggang Permainan dan Ketangkasan, Panti Pijat, Kaki Lima, Terminal, Stasiun, Balai Remaja, Bumi Perkemahan, Penginapan dan Wisma; Berdekatan dengan Tempat Ibadah, Sekolah, Rumah Sakit dan Kawasan Pemukiman;

Namun apa yang terjadi sebaliknya di lapangan? Di warung-warung, di minimarket di pasar-pasar, di mal-mal besar para pedagang seakan berlomba menjajakan barang haram ini. Bahkan di pangkalan ojek dan di pengecer bensin di pinggir jalan sekali pun ikut pula dijajakan miras. Malahan menurut salah satu media di Batam kini miras dengan kadar lebih dari 20% dari berbagai negara, dijadikan oleh-oleh khas Batam. Ironi sekali sementara Kota Batam tengah menunjuk dirinya sebagai Bandar Madani Dunia.

Melihat ketimpangan itu, maka kontrol dan pengawasan dari masyarakat sangat diperlukan. Jika daerah seakan menampar pipi sendiri dengan kondisi ini, maka mari dukung gerakan yang lebih besar lagi. Gerakan untuk mensyahkan Undang-Undang Anti Miras yang tingkat legalitas hukumnya lebih tinggi dibanding Perda atau PP.

Saya mengapresiasi dengan sangat bahwa kini ada gerakan mengkampanyekan bahayanya miras seperti yang dilakukan oleh teman-teman di twitter dan antimiras.com. Semoga saja gerakan ini semakin menyadarkan masyrakat akan bahayanya miras bagi generasi penerus bangsa. Walau ada sebagian orang menganggap gerakan ini sebagai histeria yang lebay. Sungguh pernyataan di luar nalar Saya yang bodoh ini. Gerakan yang murni untuk menyelamatkan anak-anak kita dari bahaya miras, disebut lebay. Namun tetaplah berjuang kawan, karena harus ada sebagian dari golongan umat manusia ini yang menyeru kepada kebenaran walau penuh duri dan rintangan.

Sebagai masyarakat awam apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah anak-anak kita tercemar barang haram tersebut?
  1. Didik anak-anak dengan pendidikan agama dan pengetahuan tentang kesehatan yang cukup.
  2. Yuk ikut serta dalam mengkampanyekan gerakan anti miras ini di sosial media seperti twitter dan face book.
  3. Ikut menyumbangkan dukungan Gerakan Anti Miras seperti menandatangani petisi anti miras di change.org
  4. Memperhatikan lingkungan sekitar dan melaporkan kepada yang berwenang tentang pelanggaran yang terjadi.   

Sabtu, 04 Mei 2013

Antara Ungu dan Pink


Tulisan ini diikutkan pada 8 MingguNgeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat dengan tema "Warna".

Entah latah atau karena memang benar-benar suka, semasa SMA dulu Saya dan teman-teman  perempuan sekelas lainnya sewaktu kelas 1, kelas 2, maupun kelas 3 hampir semuanya menyukai warna ungu. Entahlah apa yang membuat kami kalap dengan warna itu. Walau terkadang harus berhadapan dengan ledekan teman-teman cowok yang mengatakan kami janda. Halah apa hubungannya coba?  Kami tetap histeris jika melihat suatu benda apapun yang berwarna ungu.

Kesukaan akan warna ungu ini mulai tampak pada warna-warna perlengkapan sekolah seperti pada tas, buku, tempat pensil, bolpen, hingga serutan pensil. Begitu juga dengan aksesoris yang dikenakan saat berangkat ke sekolah seperti ikat rambut, bando, pita, jepit rambut pasti ada unsur keungu-unguannya. Hanya baju seragam dan sepatu saja yang tidak ungu, itu pun karena terikat peraturan sekolah, kalau tidak maka kelas kami sudah gelap oleh warna ungu yang dikenakan para siswa perempuan.

Cat di dalam rumah pun ungu dan pink :)
Kebiasaan keungu-unguan sewaktu SMA dulu, ternyata berdampak pada kehidupan Saya selanjutnya. Semasa lajang maupun sudah menikah. Saya jadi teringat dahulu ketika ada cowok yang naksir, dia bertanya tentang warna kesukaan Saya. Tanpa ragu  Saya jawab ungu. Lalu dia bertanya lagi selain ungu suka warna apalagi?  Saya langsung menjawab warna pink. Ya, selain ungu Saya memang sangat menyukai warna pink. Tanpa alasan dan penjabaran apa pun. Entahlah yang jelas Saya sangat menyukai kedua warna ini. Tak menghabiskan waktu lama, si dia mengirimkan paketan berisi dua buah jilbab berwarna ungu dan pink. Huhuhu…Saya terharu biru. Berterima kasih kepada kerudungnya namun tidak dengan lamarannya. Tapi bukan berarti Saya cewek  matre looh :D  
 
Gamis dan jilbab pink

Kedua warna ini tanpa sengaja ternyata begitu dominan dalam mewarnai hidup Saya sekarang ini. Sebut saja ketika suami bingung mau memilih warna apa untuk tembok rumah kami,  spontan saja Saya memilih warna ungu dan pink.  Untungnya dia mengerti dan membolehkan kami membeli cat dengan warna-warna tersebut.

Kadang sejak dulu sering diledekin oleh teman bahkan sekarang oleh suami, kalau warna ungu itu warna janda. Ketika SMA dulu Saya selalu geram jika dibilang janda lalu membalas dengan jawaban "Iya memang Gue janda terus mau lo apa?" Melotot pasang tampang galak hehe... dan si teman kalau sudah digituin maka dia akan diam seribu bahasa. Skak mat.

Menurut beberapa pendapat, orang yang menyukai warna ungu memiliki jiwa spiritualitas, menyenangi kemewahan, sangat berambisi, namun sangat mudah berempati. Misterius, terkesan angkuh dan arogan namun ia juga sangat sensitif. Hehe...beberapa sih memang ada yang mirip dengan kepribadian Saya namun kebanyakan malah tidak sama sekali.

Saya orangnya tidak begitu ngoyo atau berambisi untuk memperoleh sesuatu, jika kadarnya merasa tak sanggup ya sudahlah relakan saja. Jika dibilang mudah berempati iya juga sih, melihat anak tikus merah yang cari-cari induknya saja Saya sampai nangis-nangis apalagi melihat anak orang yang disia-siakan. Gampang menangis jika mendengar cerita sedih.

Selain ungu, Saya juga menyukai warna pink. Dan sekarang malah menurun kepada anak Saya. Kesukaan terhadap warna pink ini pun tampak ketika Saya membelikan pakaian-pakain untuknya. Dari mulai baju sehari-hari hingga baju untuk ulang tahun selalu ada unsur pink-nya.  Anak Saya akan berteriak histeris meminta apa pun yang warna pink yang menarik perhatiannya.
Baju Ulang Tahun Berwarna Pink


Sesuai karakter pink yang girly, kewanitaan alias feminim, Saya dan anak Saya memang cocok menyukai warna ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...