Sabtu, 29 Juni 2013

Trekking ke Hutan Simpang Dam, Muka Kuning, Batam

Minggu, 23 Juni 2013

Pagi itu saya masih nyuci, tapi suami sudah ngeburu-buru untuk segera berangkat. Hari itu kami memang berencana untuk trekking ke Pancur Simpang Dam dimana terdapat air terjun serta telaga yang lumayan cantik. Iya sih memang agak telat nyucinya secara bangun tidurnya juga telat. Jadinya setelah selesai dicuci, itu cucian masih tetap saja nongkrong di mesin cuci, gak sempat lagi untuk dijemur.

"Bunda cepaaat...", kata Chila. Duh ini lagi. Chila terus saja minta cepat-cepat berangkat. Ya sudahlah, saya yang sudah rapi, langsung pake sepatu, kunci pintu, dan "let's go" kita berangkaaaat...

Di salah satu perumahan yang kami lewati, kami mampir dulu untuk membeli snack dan air mineral. Namun betapa kagetnya saya ternyata di samping air mineral terdapat sederetan minuman keras dan minuman beralkohol. Naaah nah! Sementara anak-anak cowok seliweran depan jalan perumahan. Beuh miris banget deh bukankah peredaran miras dan minol ini dilarang untuk wilayah-wilayah seperti perumahan-perumahan penduduk, dekat dengan tempat ibadah (mesjid), sekolah, dan gelanggang remaja? Ah orang-orang ini, para penjual miras dan minol ini, cuma mau untungnya saja tidak berfikir panjang bagaimana jika anak-anak di bawah umur yang membeli cairan haram ini. Sepertinya Saya harus membuat tulisan khusus tentang ini. 

Tak berapa lama, motor yang kami tumpangi melaju mengarah ke kawasan Muka Kuning Batam. 25  menit kemudian akhirnya tiba dan memarkir kendaraan di parkiran Plaza Batamindo yang berada tepat di depan Kawasan Industri Batamindo, Muka Kuning. 

Tak berapa lama menunggu di depan plaza, Endi, sahabat saya sejak 14 tahun yang lalu, datang bersama suami dan Dika anaknya. Seminggu sebelumnya Saya dan Endi memang telah sepakat untuk melakukan trekking bersama. Hitung-hitung mengajarkan kepada anak-anak kami tentang hutan dan apa-apa yang ada di dalamnya.

Beberapa menit kemudian kami berjalan menyebrang Jalan Raya Letjen Suprapto yang lumayan ramai dan memasuki kawasan Simpang Dam, sebuah persimpangan menuju ke Dam (danau buatan) Muka Kuning, dimana terdapat perusahaan pengolahan air bersih yang mensuplay kebutuhan air bersih dikawasan Muka Kuning dan Batu Aji. Dan Dam Muka Kuning ini adalah sumber air baku bagi perusahaan tersebut.

Kami menyusuri jalanan yang ramai oleh pedagang kaki lima, juga warung-warung makan, serta toko kelontong. 10 menit kemudian tiba di pintu masuk menuju hutan yang melingkupi keberadaan dam. Memberi pasokan air yang melimpah sehingga debitnya tetap terjaga. Dulu, sekitar tahun 2000 saya pernah kemping di lapangan rumput yang sekarang malah telah tertutup air dan menjadi bagian dari dam tersebut. Ini membuktikan bahwa usaha beberapa pihak mengembalikan hutan ini ke fungsi awalnya demikian efektif. Lihatlah debit air tetap terjaga walau hujan tidak turun selama beberapa minggu.
Menuju Pancur


15 menit berlalu, kami menapaki jalanan aspal yang lengang yang di kanan kirinya ditanami pohon-pohon tinggi. Chila dan ayahnya begitu antusias ketika seekor monyet didapati sedang nagkring di sebuah pohon. Bahkan Chila berteriak kepada saya kalau ia berhasil melihat  "monkey".

Kami tiba di gerbang pintu masuk kawasan hutan. Sejenak berfoto-foto dahulu di sebuah papan peringatan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalanan tanah yang berwarna coklat terang. Pada sisi ini harus ekstra hati-hati karena melewati pagar berduri yang terpasang di sepanjang jalur masuk menuju hutan.

Alhamdulillah Chila, anak saya yang bulan Juni ini genap berusia 4 tahun, tidak mau digendong. Ia maunya berjalan kaki menyusuri jalur tanah yang naik turun serta penuh dengan dedaunan kering. Asyiiik, lumayan deh mengurangi beban ayah bundanya :D
Pintu masuk ke hutan

"Bunda kenapa sih jalannya banyak daun?" tanya Chila.
"Ya karena daunnya jatuh dari pohon Nak." jawab saya.
"Kenapa di hutan banyak pohon?" tanyanya lagi. Ia akan bertanya terus dan terus hingga puas. Ya seusia dia, semua yang ada di hadapannya adalah sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Jadi siap-siap deh emaknya menerangkan segala hal dengan penuh kesabaran. Kalau sudah mentok paling-paling saya jawab begini, bunda juga gak tau kenapa ya. Hehe itu jawaban yang paling tidak disukai olehnya lalu disusul pertanyaan pamungkas kenapa bunda gak tau, harusnya bunda taulah bunda kan sudah besar. Haduh Chila, maafkanlah masih banyak hal di muka bumi ini yang tidak semua bisa bunda jelaskan kepadamu Nak.

Kami berjalan beriringan di jalur yang saat ini tepat berada di samping danau. Samar terlihat hutan disebrang danau yang lebat. Namun sayang langit masih berkabut asap kiriman dari provinsi Riau yang hutannya dibakar sengaja oleh para pengusaha atau mungkin penduduknya. Asap yang menyebar hingga ke negeri tetangga. Bahkan jauh mencapai radius ratusan kilometer karena terbawa angin. Tindakan yang biadab menurut saya. Menebarkan polusi hanya demi kepentingan pribadi dengan mengabaikan keselaman nyawa dan kesehatan orang banyak.
Saya dan Chila di jalur yang terdapat pohon tumbang


Alhamdulillah memang tak separah hari kemarinnya. Asap di sini terlihat melintas di atas canopy hutan. Subhananllah, di sini udara terasa sejuk dan segar. Mungkin efek dari begitu banyaknya pohon yang mengalirkan oksigen ke udara.

Di jalur, banyak terdapat pohon-pohon tumbang yang kami lewati. Sekali-kali kami melintasi liukan danau melalui jembatan yang terbuat dari batang-batang pohon. Namun jalur masih terlihat jelas dan tidak ada cabang sehingga kami tidak tersesat walau pun tidak begitu hafal betul dengan jalur menuju Pancur.
Menyebrangi Jembatan Pohon

Sayangnya, Dika tidak mau digendong oleh mamanya. Ia begitu lengket tak terpisahkan dengan papanya. Padahal Mas Bejo, papanya Dika terlihat berkeringat dan kelelahan. Maklum belasan tahun baru kali ini ia masuk ke hutan dan menggendong bayi pula. Beberapa kali Endi mencoba membujuk untuk menggendong Dika. Namun Dika meronta dan menangis histeris. Aneh deh, mungkin selama ini Dika bosan di rumah sama mamanya terus, jadi ketika ada papanya ia pun tak mau lepas.


Beberapa rombongan anak-anak remaja melintas mendahului kami. Kebanyakan anak-anak laki-laki seusia anak SMP dan SMA. Biasanya mereka ke pancur untuk berenang dan bersenang-senang.

Ketika tiba di sebuah ujung tanjakan, sejenak kami berenam beristirahat. Alhamdulillah Chila sejauh ini masih kuat. Tiba-tiba suami saya bertanya dimana kamera. setelah dicari-cari kameranya ternyata tidak ada pada saya. Haduh dimana dong? Apa mungkin tertinggal di tempat sebelumnya dimana kami juga beristirahat di sana ya.Ya ampun sepertinya iya. Saya mendadak merasa lemas. Gimana dong? Ya sudahlah saya cek dulu ke jalur sebelumnya.

Namun seketika di belakang kami terdengar percakapan beberapa orang. Begitu terlihat, ternyata serombongan anak-anak remaja. Saya langsung bertanya kepada mereka apakah menemukan kamera poket saya. 
Ana-anak SMA 3 yang menemukan kamera saya


"Merknya apa Bu?" Seorang anak laki-laki yang berjalan paling depan bertanya kepada saya.
"Samsung!" Jawab saya. 
"Oh betul ini Bu! Katanya. 

Alhamdulillah ya Allah. Memang masih rejeki saya. ketika ditanya mereka darimana, mereka menjawab dari SMA 3. Anak-anak yang jujur. Padahal bisa saja mereka bilang tidak menemukannya.

Setelah melintasi 4 jembatan penyebrangan, tersalip 4 rombongan remaja, terpeleset, dan terjatuh-jatuh, 2 jam kemudian kami baru tiba di tempat tujuan. biasanya butuh waktu 1 sampai 1,5 jam saja untuk kecepatan orang dewasa. Namun ini kan perjalanan dengan kecepatan berjalannya Chila anak umur 4 tahun, jadi sangat spesial dan luar biasa bagi kami para orang tua. Walau sekitar 1 hingga 3 menit minta digendong ia segera turun dan berjalan lagi. "Kan Chila anak hebat." katanya penuh semangat. Berati sudah bisa nih Chila naik gunung :)

Langsung main air
Para anak remaja sedang terjun melompat ke air
Tiba di pancur Chila dan Dika langsung menuju ke sungai yang berair jerih dan mengalir tenang melalui batu-batu besar dan sedang. Sungai ini bermuara ke dam Muka Kuning yang kami lewati di awal perjalanan tadi. Beberapa meter dari tempat kami duduk-duduk air itu mengalir turun vertikal menjadi sebuah air terjun setinggi kurang lebih 4 meter. Di bagian bawah sana di tempat air jatuh, terdapat telaga yang cukup luas. Air telaganya berwana bening kehijauan. Sepertinya mulai ada ganggang yang menghuni telaga ini. Sedikit agak keruh karena beberapa anak remaja berenang dan mungkin membuat lumpur di bawah naik ke permukaan.

Setahu saya tahun 1999 air di sini hanya sepetak kolam ikan saja dan tidak dalam. Namun sekarang karena air dam di hilir debitnya meninggi maka aliran air sungai di hulu termasuk di tempat ini juga ikut-ikutan meninggi dan hampir tidak mengalir. Lihat saja Telaga di bawah air terjun itu kini meluas dan meluber ke tepian di sekelilingnya.


Sementara para bapak asyik bermain dengan anak-anaknya, Saya dan Endi menyusuri sungai ke bagian hulu. Di kanan kiri sungai ditumbuhi sejenis pandan hutan yang berdaun runcing. Namun terlihat seperti bunga-bunga yang indah untuk dipandang. Semakin ke hulu semakin indah dan teduh suasana membuat saya dan Endi ingin berlama-lama di sana. Namun mana tega para ibu ini membiarkan anak-anaknya lama-lama, jadi setelah puas narsis berfoto-foto dengan berbagai pose kami pun segera cabut dari tempat itu. 

Sayang sampah mulai terlihat di berbagai titik. Kurangnya kesadaran para pengunjung untuk membawa pulang kembali sampahnya, membuat suasana terlihat kurang sedap dipandang. Terlintas di fikiran, seandainya saya jadi relawan yang mengkampanyekan secara verbal kepada setiap rombongan pengunjung terutama di hari-hari libur seperti ini untuk menjaga kebersihan dan membawa kembali sampah-sampahnya agar tidak mengotori hutan yang menjadi sumber kehidupan kami sebagai warga Batam.
Saya, sungai, dan hutan


Setelah makan siang, dengan berat hati kami akhirnya pulang. Sewaktu melewati areal yang biasa dijadikan tempat beristirahat ketika para pengunjung datang, kami mendapati seorang bapak-bapak yang berjualan mie instant plus air panas yang dibuatnya di sana. Duh mulai deh para pengawas kecolongan. (Eh saya juga mikir ada nggak ya yang mengawasi hutan ini?) Kalau tidak dijaga ketat, bahkan daerah ini dahulu pernah ada yang menguasai. Saat itu saya dan rombongan datang, lalu ada yang meminta bayaran uang kebersihan kepada kami. Halaah. Orang-orang oportunis yang selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengambil keuntungan saja. Untunglah sekarang tidak ada lagi.
View dari jalur datang dan pulang


Kami terburu-buru pulang karena suami saya ditunggu di kantornya. Hadeuuh orang mah pada libur ini masih saja berurusan dengan kantor. Jadi sayang tidak panjang waktu untuk menikmati suasana pancurnya. Karena sudah mepet waktunya suami cabut duluan dan langsung menuju parkiran motor Plaza Batamindo mengambil motornya lalu berangkat ke kantornya. Saya sebenarnya disuruh menunggu, namun rasanya kelamaan kalau harus nunggu suami pulang. Ya sudah naik angkutan umum saja deh biar cepet sampe rumah. 

Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat.

Sabtu, 22 Juni 2013

Lari Pagi di Lapangan Gokart Marina Batam [16 Juni 2013]

Minggu pagi tanggal 16 Juni 2013 kemarin, kami menyempatkan waktu untuk lari pagi. Suami sengaja memilih tempat lari pagi di bekas circuit gokart di kawasan Pantai Marina Batam.  

Morning Sunshine!
Entah sudah berapa tahun yang lalu saya tidak lagi membiasakan diri untuk lari pagi. Yang jelas sudah lama sekali. Terbukti baru 10 menit pertama saja sudah ngos-ngosan luar biasa. Dada langsung sesak dan jantung seperti bertalu-talu. Namun tetap masih semangat menyelesaikan putaran lari dengan mengikuti liukan circuit yang mengular.





Ketika ada sms masuk baru nyadar ternyata hari itu hari Ulang tahunnya Chila yang ke-empat. Padahal dari hari-hari sebelumnya kami menunggu-nunggu. Namun karena tidak ada rencana perayaan apa pun jadinya malah pagi itu sempat lupa. Langsung deh peluk cium kami daratan ke pipinya Chila. Dia hanya senyum mesem-mesem. Senang mendapat ucapan dari ayah dan bundanya.


Ternyata di lapangan kami tidak sendiri, banyak juga anak-anak muda yang berlari, nongkrong, dan baring-baring di sana. Sepertinya bekas circuit ini sudah menjadi tempat nongkrong yang biasa bagi mereka soalnya setiap lewat ke tempat ini selalu saja terdapat segerombolan anak-anak muda yang berlalu lalang dan duduk-duduk.


Menyaksikan Chila dan ayahnya balapan lari dilatari hutan hijau dan sinar mentari adalah pemandangan yang menyejukkan mata. Mereka terlihat mengobrol sambil berlari. Sekali-kali ayahnya berlari mundur demi mengimbangi larinya Chila yang walaupun cepat tetap saja belum sebanding.


Ketika kami duduk-duduk di jalan, terlihat beberapa anak remaja tanggung yang membawa motornya ke circuit lalu melakukan balapan. Saya yang duduk di di tepi jalan langsung mengingatkan ayahnya Chila yang duduk santai di tengah jalan. Khawatir keserempet motor yang balapan itu. Namun dia tetap tenang dan santai tak beranjak sedikit pun. "Biar saja toh ini bukan tempat lari pagi kok". Katanya.


Rupanya baru saja menyelesaikan satu putaran circuit, security sudah datang, lalu mengacung-acungkan kayu pemukul ke arah anak-anak muda itu. Tak pelak lagi mereka langsung kabur berlarian belingsatan menghindari kejaran dua orang security. Salah seorang pembalapnya malah motornya terjatuh ke parit yang membatasi antara jalan dengan circuit. Hehehe...saya jadi tertawa, lucu juga melihat mereka tunggang-langgang menghindari kejaran security.


Walaupun seperti terabaikan dan tidak terawat, ternyata circuit gokart ini tetap dijaga dari maraknya balapan liar. Duh, sayang sekali aset yang berharga ini tidak dipergunakan, padahal jika dikelola kembali sepertinya akan ramai juga asal ya harganya terjangkau oleh masyarakat.

Sekitar satu jam-an saja kami berada di circuit, lain kali mungkin akan berlari pagi lagi di sana.
 

Selasa, 11 Juni 2013

Catatan Perjalanan Gunung Sinabung 15-17 Agustus 2004 Bagian kedua



Areal Puncak Sebelah Timur

16 Agustus 2004

Waktu menunjukkan jam sepuluh kurang beberapa menit saja ketika kami tiba di shelter 1. Setelah beberapa saat istirahat, Aku dan Lastri melanjutkan perjalanan.

Serombongan cowok seumuran anak-anak SMA yang beberapa di antaranya telah mengenal Lastri di Lau Kawar mengikuti kami dan beberapa diantaranya main balap-balapan untuk duluan sampai di puncak. Sebagian lagi masih setia mengikuti kami. Walaupun begitu tampaknya tidak ada yang bersedia dijadikan porter padahal mereka mendaki dengan berlenggang saja tanpa membawa apa-apa. Semua hanya menyemangati kami yang kelelahan dengan beban di punggung.

Pukul sebelas kami sampai di shelter 2. Sepanjang perjalanan tadi jalurnya lumayan bersih. Dan hampir-hampir tidak ada sampah. Cuaca pun sangat bersahabat. Tidak panas tidak pula mendung. Aku sangat menikmati perjalanan tadi kecuali kebisingan anak-anak cowok yang menyertai kami. Aku cepat-cepat beranjak lagi dan menapaki jalur sendirian. Aku begitu tidak menyukai keramaian jadi sebisa mungkin aku terus menyendiri dan sesekali berhenti untuk memastikan Lastri tetap di belakangku.
 

Perjalanan ke shelter 3 kami tempuh dalam waktu 50 menit. Hutan Sumatera beserta rangkaian bukit barisan mulai tampak sedikit-demi sedikit. Lau Kawar beserta perkampungannya  semakin jelas terlihat. Di shelter ini kami bertemu dengan seorang turis asal Belgia yang ditemani seorang guide. Kami berbincang-bincang sebentar. Aku melihat bahwa ia begitu antusias dan senang sekali berada di di Pulau Sumatera. Dia bilang negeri ini begitu indah sekali. Suaranya menggebu-gebu dan sesekali menggeleng-gelengkan kepala ketika menceritakan kesenangannya berada di Bukit Lawang. Aku menjadi penasaran dengan Bukit Lawang setelah mendengar cerita dia.
Areal Puncak Sebelah Barat

 

Pukul 13:30 kami tiba di shelter 4. beberapa saat beristirahat sebelum melewati tanjakan patah hati. Sidik, teman Lastri pernah bercerita tentang asal-usul pemberian nama tanjakan Patah Hati. Ceritanya membuat kami tertawa terkekeh-kekeh. Namun aku jadi ingat bahwa Bang Harley High Camp memberi julukan lain untuk tanjakan ini. Tanjakan patah-patah. Tapi memang benar, membuat pinggang rasanya patah-patah. Apalagi ditambah dengan beban yang kami bawa. Bukan patah-patah lagi malahan serasa potong-potong. (apa bedanya coba?). 

Menurut Perkiraan, satu jam saja melewati tanjakan ini maka kami sudah bisa mencapai puncak. Tapi kenyataan berkata lain. Tanjakan ini begitu panjang sekali atau mungkin karena gaya kura-kura menjadi pilihan kami sehingga dua jam setelah itu kami baru sampai di puncak. Dan rombongan anak-anak cowok yang sedari tadi mengikuti kami masih tetap menyemangati ketika kami banyak berhenti di bebatuan.


Tanjakan Patah Hati. Tanjakan itu begitu terjal, kering dan terbuka, kalau meleng sedikit bisa saja menyebabkan patah-patah yang lainnya. Patah tulang, patah kaki dan yang pasti patah semangat.

 

Segera setelah mencapai area sekitar puncak, kami mendirikan tenda dibantu oleh beberapa orang yang tanpa diminta berdatangan menawarkan bantuan. Setelah tenda berdiri kami langsung masuk dan tanpa menawari orang-orang disekitar yang berkeliaran juga para tetangga di tenda sebelah, kami makan siang dengan nasi bungkus yang telah dibeli di sebuah warung di Lau Kawar.
 

Menjelang senja, setengah berlari-lari aku dan beberapa tetangga naik ke puncak untuk mengabadikan sunset. Namun kabut tebal dan angin kencang  menghalangi mentari yang hendak pergi. Setengah jam aku menungguinya namun tetap saja kabut terlalu tebal untuk menampakkan kepergian mentari. Yaaah gagal melihat sunset.



Malam pun menjelang. Beberapa orang berinisiatif untuk membuat api unggun gabungan karena begitu banyak tenda yang hendak menyalakan api unggun sendiri-sendiri. Dan api unggun pun menyala. Kami tetap saja di tenda. Entah kenapa aku merasa enggan berada di luar. Lastri pun mungkin berfikiran begitu karena setelah beberapa saat berada di dekat api unggun ia kembali ke tenda.



Puncak Flash Gordon Sebelum Letusan
Beberapa orang yang masih penasaran dengan kami akhirnya berkunjung ke dalam tenda. Selain beralasan meminta obat karena masuk angin beberapa diantaranya beralasan karena di tendanya teman-teman mereka sedang bermain judi. Mereka meminta aku bercerita tentang beberapa alasan mengapa kami suka mendaki gunung. Satu orang diantaranya tampak sangat antusias sekali. Kata Lastri ia berminat besar dengan hobby ini. Tanpa upacara pengukuhan, Lastri langsung mengangkatnya menjadi adik angkat hehe.



Karena aku malas dan enggan bercerita tentang diriku sendiri, akhirnya aku mencari-cari cerita yang berhubungan dengan pendakian gunung. Aku menceritakan tentang buku Into Thin Air saja ke mereka. Walaupun begitu tampaknya mereka begitu terpukau dengan cerita di balik tragedi pendakian ke Gunung Everest itu.


Setelah lelah bercerita, akhirnya kami keluar dari tenda, suara gitar dan nyanyian di sekitar api unggun cukup menarik untuk diikuti. Mereka begitu senang dengan kehadiran kami karena sedari tadi mereka terus memanggil-manggil kami untuk keluar tenda. Sebenarnya rada geer juga sih, serasa jadi artis “Most Wanted” gitu loh J. Aku langsung request lagu-lagu kesukaanku. Dari mulai lagu-lagu Padi, Slank, Dewa, dan Iwan Fals. Sangat menyenangkan melihat mereka menyanyi begitu baik dan fasih. Cocok kalau dibuat sebuah grup band baru rasanya bukan cuman tampang tapi suara mereka memang sangat luar biasa.

Setelah sekitar pukul sebelas malam aku langsung cabut duluan dan masuk tenda. Mengenakan syal, sarung tangan, kaos kaki, membungkus diri dengan sleeping bag, lalu mendekap si Pinky boneka kesayanganku untuk akhirnya tertidur pulas. Sedang Lastri masih asyik dengan lagu-lagu request-nya yang belum kelar.


Puncak dan Lautan Awan
17 Agustus 2004

Pagi itu ketika kubuka pintu tenda, Aku terpukau beberapa saat. Subhanallah Ya
Allah, gumamku lirih. Langit tepat berada di hadapanku. Bintang-bintangnya
bertaburan bagai rangkaian mutiara alam raya. Aku beberapa kali menarik nafas.
Mengamati bintang itu satu-satu dan mencari-cari dimanakah bintang yang selalu
aku tandai tiap bulan Agustus tiba.



Bintang….

Berbisik padamu di pagi ini
Bahwa aku di puncak ini
Sejati di hati kepada langit beserta isi
Serengkuh hasrat untuk mencoba merasakan
Sebentuk jiwa yang mencari dan kehausan
Damaimu dan segala keindahanmu

Terima kasihku kepada kabut
Telah memberimu ruang untuk kupandang
Walau sebentar saja sebelum ia kembali membungkus puncak ini
Karena hadirmu begitu menyejukkan ruang hatiku

Bintang terang di langit yang sebentar lagi terang

Hihi…ini puisis ngaco yang sempat langsung terekam dalam notes kecil bersampul barbie yang saat itu kubawa-bawa.

 
Berpayung di Sinabung

Turun dari Puncak kami bertemu dengan Alex dan Bang Sulman Tumanggor yang saat itu telah lama menunggu di Lau Kawar. 

Sore harinya kami segera menuju ke desa di kaki gunung Sibayak dengan dihantar oleh Bang Sulman. Rencananya keesokan harinya baru akan mendaki gunung Sibayak berdua saja seperti ke Sinabung. Alex dan Bang Sulman tidak bisa menemani berhubunga kerjaan mereka yang tidak bisa ditinggalkan.

Kami disewakan sebuah villa oleh Bang Sulman. Duh sebenarnya malu karena telah merepotkannya.Namun karena ia pun tampak senang melakukannya, kami pun sangat berterima kasih kepadanya.

Setelah dirasa selesai Bang Sulman pun pulang. Sementara Aku dan Lastri segera meluncur ke kolam renang air panas dan puas berendam di sana. Kolam renang yang berisi air belerang yang langsung dialirkan dari Gunung Sibayak.  

Sejenak bisa beristirahat sambil mengobati segala pegal dan nyeri-nyeri karena habis turun gunung dengan berendam di air panas. Alhamdulillah malamnya bisa tidur pulas ditambah hawa pegunungan yang dinginnya minta ampun membuat kami semakin menarik selimut rapat-rapat. Duh nyamannya :)


Jangan Lupa baca cerita sebelumnya :

[Buku Antologi] Ziarah Hati


TELAH TERBIT!
Judul: Ziarah Hati

Penyunting: Trisnawan HB
Desain Sampul: Supriyanto
Penerbit : Citra Risalah
Tebal: 200 halaman

KONTRIBUTOR :

Fika Faila Sufa, Sophia Kanur Dinata, Sulistyorini, Siska Oktapianti, Wawan Hariyanto, Wahyu Ameer, Yuliana, Hartanto, Bilif Abduh, Muh. Muslih, Joko Susanto, Abdul Rosyid, Nisa Yustisia, Alief SM, Era Sofiyah, Eko Hartanto, Arinil Musfirah, Mulhusna, Nini Subini Susilo, Nenny Makmun, Nasta'in Achmad, Roma Dwi Purwati, Rizqi Shaomi, Lina W. Sasmita, Dewi Wulansari, Aniq Husniyah, Setyo Pamuji, Saidah, Paramita Nilam Sari.


SINOPSIS:
 
Dalam buku ini, Anda (selaku pembaca) akan mendapati kisah-kisah yang tertutur impresif. Pengisahan yang terpapar pun minim "bunga-bunga kata". Cukup lugas, namun gamblang. Ini tentu menjadikan antologi cerita--yang berangkat dari fakta--dalam buku ini memiliki pesan dan kesan khusus di hati pembaca: mengeratkan jarak "Teks" dan "konteks", serta mengartikan hidup di atas kehidupan. Semoga. 

[Buku Antologi] Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan


Suka traveling? Jangan lewatkan buku ini

Judul: Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan
Penyusun: Dee An & Lalu Abdul Fatah Penyunting: Lalu Abdul Fatah
Desain Kover: Dee An
Harga: Rp45.000
Tebal: 234 halaman

KONTRIBUTOR :

Dian Onasis, Dinar Okti Noor Satitah, Dr. Prita Kusumaningsih, SpOG, Gita Lovusa, Helene Koloway, Icho Ahmad, Ihwan Hariyanto, Katerina, Lina W. Sasmita, San Yasdi Pandia, Silvani Habibah, Suga Adiswara, Takedi Yaya, Ulil Lala, Mudhalifana Haruddin, Yudith Fabiola


SINOPSIS :

Dalam tiap perjalanan, tak jarang kita menemukan 'cinta'. Entah itu cinta lokasi dengan seseorang atau tiba-tiba jatuh cinta pada suatu hal. Hal tersebut bisa berupa alam yang elok, budaya yang unik, masyarakat yang ramah, atau kuliner yang lezat.

Love Journey merekam jejak perjalanan berbalut cinta yang ditulis 18 narablog. Pembaca akan diajak berkelana ke berbagai penjuru bumi: dari Malinau, Kendari, Flores, Guangzhou, India, hingga Gaza. Dari kedalaman laut Pulau Dewata hingga ketinggian Gunung Kerinci. Bersama orang-orang yang luar biasa: kekasih, orangtua, anak, teman, juga sahabat.

Sungguh, masih banyak tempat dan cerita di muka bumi yang layak disinggahi dan diangkat dalam untaian aksara. Sebagai oleh-oleh dari perjalanan untuk para pembaca. Sekaligus memantik bara semangat agar kita terus berjalan dan menemukan cinta.
Selamat menyelami isi buku ini.


KATA MEREKA TENTANG "LOVE JOURNEY"

"Melakukan perjalanan ibarat mencari sesuatu yang telah lama hilang, yaitu: cinta. Di ‘Love Journey’ ini kita banyak menemukan arti cinta; cinta terhadap alam, cinta kepada sesama, cinta kepada yang disayangi dan cinta kepada Sang Pencipta. Semoga spirit ‘cinta’ di buku ini menyebar dan berhasil kita tangkap maknanya." [Gol A Gong - Travel writer]

“Memadukan cinta dan perjalanan dalam sebuah untaian kisah yang memikat, sungguh sebuah tantangan tersendiri. Romantisme cinta dan gemuruh rasa bahagia menikmati perjalanan kerap kali menjadi dua hal yang dominan dan menghadirkan impresi ketika ingin menuangkannya lewat tulisan. Buku ini menyajikan bagaimana para penulisnya menaklukkan ‘tantangan’ tersebut melalui ramuan cerita yang menawan dan sarat makna. Upaya memahami cinta dari beragam perspektif dengan latar perjalanan yang mengasyikkan serta ‘dihidangkan’ dalam rangkaian kata yang indah, bersahaja dan penuh kesan membuat buku ini layak menjadi pilihan bacaan terbaik untuk Anda.” [Amril Taufik Gobel - narablog (www.daengbattala.com), Penulis, tinggal di Cikarang]

“Setelah selesai membaca cinta yang universal dalam Love Journey di ayunan kayu di Pulau Mansuar, Papua, saya hanya bisa termenung, merasakan hangat cerita-ceritanya, membiarkan kopi di meja berhenti mengepul. Buku ini kaya dengan energi cinta. Juara!” [Andrei Budiman - Penulis Travellous]

Senin, 10 Juni 2013

Catatan Perjalanan Gunung Sinabung 15-17 Agustus 2004



Tulisan ini pernah diposting di Milis Highcamp pada tanggal 25 Agustus 2004 dan diedit seperlunya. Niatnya mendokumentasikan catatan-catatan perjalanan yang tercecer di berbagai media untuk dikumpulkan di blog ini.

Siang itu ba’da sholat dzuhur Aku dan Lastri duduk-duduk di teras mushola pelabuhan Belawan Medan, setelah hampir 20 jam terombang ambing mengarungi Selat Malaka dengan menaiki kapal penumpang Kelud. Rasanya senang sekali bisa melewati selat yang sangat terkenal itu. Selat yang menjadi salah satu saksi sejarah peradaban barat memasuki kawasan Asia Tenggara. Perjalanan lewat laut ini kami pilih karena beberapa alasan, selain karena lebih ekonomis juga karena begitu banyak hal akan kami saksikan lewat perjalanan laut dan darat. Hematku begitu banyak hal yang kusaksikan maka akan begitu banyak hal yang kurasakan. Lebih banyak melihat berarti lebih banyak tahu. Lebih banyak menyaksikan berarti lebih banyak juga kita akan mengerti dan mungkin akan lebih banyak mengambil manfaatnya. Ternyata benar, perjalanan laut ternyata begitu sangat menyenangkan.

Sedari tadi kami sibuk sekali dengan benda yang namanya handphone. Selain sms-an dengan Alex dan Bang Sulman (Teman komunitas High Camp yang tinggal di Medan), kami juga sedang menunggu teman Lastri yang akan menjemput dan mengantarkan kami ke Brastagi. Bang Sulman baru saja telpon dan tampaknya masih kebingungan antara pekerjaannya yang super sibuk dengan memilih waktu yang tepat untuk bertemu kami. Beberapa menit kemudian Alex telpon ia juga masih ragu menentukan tempat bertemu. Pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Akhirnya ia menyepakati untuk menyusul dan bertemu di Puncak Gunung Sinabung malam tujuh belasan nanti. Namun beberapa saat kemudian Lastri menjerit… wah ternyata pulsanya jadi anjlok kena roaming. He..he…he. kufikir kenapa-napa.

Sidik teman Lastri yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Ia datang bersama teman kostnya yang bernama Ucok. Singkat cerita setelah berputar-putar keliling kota Medan, mobil yang kami tumpangi akhirnya melaju ke arah Brastagi. Sidik dan Ucok akhirnya setuju mengantarkan kami sampai Lau Kawar. Desa terakhir yang menjadi titik awal pendakian ke Gunung Sinabung.


Camp Lau Kawar
Bak seorang guide, tanpa diminta Sidik menerangkan tempat-tempat yang kami lewati, seperti daerah Sibolangit, Bandar Baru, Taman Hutan Raya (Tahura), Pabrik Aqua sampai akhirnya dia berkisah tentang legenda terbentuknya Danau di Lau Kawar.

Aku dan Lastri
Alkisah hiduplah seorang nenek yang tinggal di puncak gunung Sinabung. Nenek tidak begitu menyukai keramaian. Makanya ia mengasingkan diri di gunung. Ia mempunyai sebuah keluarga di kaki gunung yaitu anak dan beberapa orang cucu. Pada suatu waktu keluarganya mengadakan kenduri. Lalu keluarga itu mengutus seorang cucu untuk mengantarkan makanan ke nenek yang ada di puncak gunung. Di tengah jalan cucu tersebut kelaparan lalu memakan makanan dan ikan yang hendak ia berikan ke neneknya. Dan betapa murkanya nenek setelah melihat bahwa ikan yang dikirimkan keluarga untuknya hanya tinggal tulangnya saja. Tanpa basa-basi nenek menampar cucunya. Karena tamparan itu maka terbentuklah danau Lau Kawar yang kalau dilihat dari atas gunung, danau itu berbentuk telapak tangan yang ujung-ujungnya menjari. “Jadi itu Teh, asal-usulnya Lau Kawar menurut masyarakat sekitar." Sidik mengakhiri ceritanya. Aku hanya berfikir betapa kuatnya ya nenek itu bisa tinggal sendirian di puncak Sinabung. Dan betapa saktinya sampai-sampai tamparannya membentuk sebuah danau. Ah namanya saja Legenda. Boleh percaya boleh tidak. Tapi kalau benar hal tersebut terjadi berarti pendakian gunung itu dipelopori oleh nenek tadi. Wah hebat ya. Rupanya Sidik tahu juga kalau Aku menyukai hal-hal yang berbau cerita Legenda makanya ia semangat sekali bercerita.

Jam setengah delapan malam mobil yang kami tumpangi akhirnya tiba di Lau Kawar. Dan betapa terkejutnya aku. Lebih dari seratus tenda berdiri di daerah situ. Begitu gegap gempita. Ketika kami datang tidak ada pemeriksaan kedatangan, tidak ada pencatatan dan tidak ada pungutan. Rupanya petugas sedang keliling sehingga lupa masih begitu banyak rombongan yang lolos dari penjagaanya. Kamipun langsung memasuki area camp-camp yang begitu sesak. Mencari celah sedikit diantara ratusan tenda untuk mencoba mendirikan tempat berteduh nanti. Baru saja tenda berdiri, hujan deras mengguyur daerah sekitar Lau Kawar. Sidik dan Ucok segera pamit. Mereka tidak bisa menemani kami karena harus mengikuti perkuliahan esok harinya.Tinggallah kami berdua. Serasa menjadi anak hilang Lastri pun segera meluncur ke tetangga. Berhangat-hangat ria di api unggun dan sekaligus bersilaturahmi (maksudnya sih berkenalan). 

 
Si Pinky Berpose di Lau Kawar

Aku hanya menikmati kesendirian di tenda. Di antara riuh rendahnya suara gitar, suara orang menyanyi, tertawa, bercerita dan bahkan berteriak-teriak. Menyepi di keramaian, merangkai bait-bait do'a dan puisi yang entah apa judulnya. Tapi sayup kudengar sebuah lagu diiringi gitar dengan begitu sendu dan khidmat. Air mataku tanpa terasa menetes. Lagu itu lagu yang telah begitu lama tak terdengar dan tak pernah dinyanyikan. Ya seingatku hanya dinyanyikan sewaktu upacara bendera saja. Sebuah nyanyian tentang “Lagu Syukur”. 

Nenek Pengumpul Sampah
Di sudut lain sebuah suara menyentuhku lagi, walaupun terkesan asal-asalan namun begitu dalam terasa, “Proklamasi kami putra-putri Indonesia bersumpah akan menjaga kelestarian alam ini demi masa depan anak dan cucu kami….. " Akhirnya aku tertidur pulas setelah beberapa saat memikirkan ternyata masih ada rasa cinta negri di hati para anak-anak remaja yang memenuhi Lau Kawar.

Esok paginya setelah mandi dan sholat, aku keliling ke area perkemahan mencari pemandangan yang bagus untuk diambil fotonya sambil terus berhitung. Rasanya capek sekali sudah seratus satu lebih tenda-tenda itu aku hitung ternyata masih banyak lagi yang belum terhitung. Akhirnya Aku nyerah.

Beberapa orang yang berkenalan dengan Lastri tadi malam mendekati dan menyapaku ramah. Tampaknya mereka begitu heran karena kami berasal dari tempat yang jauh dan hanya pergi mendaki berdua saja. “Kok berani sih cuman berdua?” pertanyaan itu yang selalu muncul dalam setiap perbincangan.

Aku menangkap objek yang bagus untuk aku ambil gambarnya. Seorang nenek yang sedang mengais botol-botol bekas minuman di sela-sela tenda-tenda. Rupanya kehadiranku diketahuinya ia langsung menitipkan sekarung botol-botol minuman itu kepadaku. Aku terbengong-bengong. "Bu...bu..." Aku memanggilnya, ia tetap berlalu pergi. Dan aku masih saja terbengong-bengong dengan sekarung botol-botol minuman di hadapanku.

Bersama anak-anak SMA yang akan mendaki
Setelah sarapan dan packing ulang sekitar pukul 9 pagi kami memulai pendakian ke Gunung ini. Setiap orang yang kami lewati menatap kami dengan penuh keheranan. Orang hilir mudik hanya bersandal jepit, berbaju T-Shirt dan celana jeans tanpa ransel tanpa makanan dan hanya sedikit saja bekal minum. Aku dan Lastri hanya geleng-geleng kepala saja ketika segerombolan cowok-cowok yang menuntun cewek-cewek mendahului kami. Bukan apa-apa, hanya saja kami fikir terlalu menganggap mudah sekali naik gunung dengan berstyle seperti itu. Hasilnya ternyata mudah ditebak begitu banyak yang tumbang di tengah jalan dan akhirnya mengundurkan diri dari pendakian. Terutama para cewek-cewek yang dituntun cowok-cowok tadi. Ternyata kami dan mereka saling berprasangka. Mereka juga sangat heran dengan dandanan kami terutama dengan bawaan kami di punggung ini.



Bersambung ke sini:
Catatan Perjalanan Gunung Sinabung Bagian dua


Buku-Buku Antologi Saya

Inilah beberapa buku antologi yang pernah terbit yang di dalamnya tertulis beberapa lembar karya saya. Ada fiksi maupun non fiksi. Mudah-mudahan ini sebagai awal agar karya saya lebih melejit lagi ke depannya. Syukur-syukur jika dapat menelorkan buku solo. Uuuh mimpi banget ini. Tapi  semoga saja segala usaha dan upaya menuju ke sana dilancarkan dan dimudahkan. Klik gambar untuk mengetahui lebih detailnya.

1. Judul Buku : Inspiring Teacher
    Penerbit     : Nulisbuku.com
    Tahun Terbit : 2012


2. Judul Buku   : Love Journey, Ada Cinta di Tiap Perjalanan
    Penerbit        : Mozaik Indie Publisher
   Tahun Terbit  : 2012


    3. Judul Buku : Ziarah Hati
    Penerbit       : Citra Risalah
    Tahun Terbit : 2012

4. Judul Buku   : SMA 3
    Penerbit        : Penerbit Harfeey
    Tahun Terbit : 2013


5. Judul Buku    : Kepada Ayah
    Penerbit         : Penerbit Harfeey
    Tahun Terbit : 2013




6. Judul Buku   : Moment Indahnya Kebersamaan
    Penerbit         : Penerbit Soega
    Tahun Terbit : 2013



7. Judul Buku   : Think Green, Go Green
   Penerbit         : Pustaka Jingga
   Tahun Terbit  : 2013


8. Judul Buku   : Traveling Note Competition
   Penerbit         : Diva Press
   Tahun Terbit  : 2013






Dan ada beberapa buku lagi yang hingga saat ini masih dalam tahap editing dan naik cetak di penerbit, mudah-mudahan bisa terbit secepatnya.

Minggu, 09 Juni 2013

[Catatan Perjalanan] Kemping @Pulau Lampu - Batam Part-4 (habis)

Hujan rintik-rintik pun telah reda.  Chila bersiap-siap dengan kostum baju renangnya. Ia dan Saya mulai menceburkan diri ke air laut yang ternyata "hangat" sodara-sodara. Sebenarnya Saya gak akan berenang tapi karena Chila itu tipe anak jail,  saya didorongnya hingga terjerembab masuk ke air laut. Byuuur basah. Nah kalau udah begitu jadinya terlanjur basah. *Sambil Nyanyi lagu Meggi Z Terlanjur basah ya sudah mandi sajalah.... :D

Sementara pasukan yang lain asyik memancing. Doedy, Gozi, Mas Walid, Riki dan Doni serius menunggu ikan-ikan menyambut pancingannya. Para kru cewek  setia menemani para pemancing sambil menempatkan ikan-ikan yang lumayan banyak ke tempat yang lebih besar lagi. Yihaaa...jadi deh bakar-bakar ikannya.

Pulau Lampu
Saya dan Chila Berendam :D

Hampir satu jam setengah berenang dan bermain-main pasir. Bibir Chila sudah membiru seperti abis ditabokin. Ealah tuh anak nggak mau naik juga. Tetep betah berendam di air laut. Duh Chil kalau kita ini ikan, bukan manusia, udah bunda suruh deh kamu berenang ke dasar lautan :D Hayo naik-naik udah maghrib! Sambil malas-malasan karena tidak rela, akhirnya Chila bersedia pulang ke tenda.

Maghrib menjelang, setelah sholat bergantian sebagian menyalakan api unggun untuk membakar ikan dan merebus gonggong (siput khas wilayah Kepri). Si Ayah memasak air di Trangianya sambil mempersiapkan mie, teh, dan kopi.

Setelah makan malam, kami semua berangkat lagi ke arah pantai. sebagian melanjutkan mancingnya, sebagian tidur-tiduran di terpal yang digelar di pantai. Sedangkan Chila ditemani Tri dan Dinda asyik berburu umang-umang yang mulai berkeliaran.  Wow...ternyata dunia malam di pantai ini begitu hidup.  Puluhan bahkan ratusan umang-umang serta binatang lainnya mulai keluar dari peraduan mereka. Mencoba mengisi malam dengan mencari makan atau hanya sekedar berpindah-pindah cangkang seperti yang dilakukan sebagian besar umang-umang
Chila asyik berceloteh, walau agak-agak takut untuk memegang umang-umang namun ia sangat antusias memperhatikan hewan-hewan mungil itu merayap di pasir putih.

Menjelang jam 10 kami semua kembali ke tenda. Kami kemudian mengobrol ngalor-ngidul di depan tenda sambil ngemil gonggong serta snack lainnya. Namun menjelang tengah malam hujan mulai membesar kami segera masuk ke tenda masing-masing. Segera berbaring berharap mata akan segera terpejam. Namun hujan yang makin membesar malah membuat tenda para cowok kebanjiran. Dan mereka tidur dalam genangan air. Hehe...seandainya mereka ikan tentu tidak masalah tidur dalam genangan itu namun mereka adalah makhluk-makhluk omnivora yang ternyata setelah lewat tengah malam mulai terkena hawa dingin sehingga pada kelaparan. Jadilah gozi dan kawan-kawan sepertinya terdengar sedang sahur dadakan.

Sementara di dalam tenda mungil keluarga kami, Chila mulai resah dan gelisah karena tenda perlahan basah sah sah :) Chila mulai menyebutkan satu persatu keluhannya. Rambut gatal lah, sempit lah, berisik hujan lah. Daaan... yang paling menggelikan serta gak masuk dalam perhitungan saya saat berangkat adalah Chila mendadak minta guling. Huhuhu....mau kemana nyari guling  di pulau kosong tanpa penghuni seperti ini. Hikss Chila Chila maafkan emakmu ini Nak. Bunda gak tau kalau ternyata Chila gak bisa tidur gara-gara gak ada guling.

Puncaknya, menjelang dini hari dari sekian keluhan-keluhannya itu Chila menangis minta pulang. Hwaaa...padahal ini sudah kami wanti-wanti semenjak dari rumah, dan akhirnya terucap jualah. Mungkin telah berjam-jam kata itu Chila simpan supaya tak terucap namun karena semakin dirasakannya semakin tak kuat saja kata-kata "Pulang" meluncur jua dari mulutnya.

Berkat bujuk rayu serta berbagai trik Ayah Bundanya Alhamdulillah akhirnya Chila gak rewel lagi. Dia gak minta pulang lagi. Umang-umanglah yang berjasa mendiamkan Chila karena setelah obrolan tentang umang-umang, Chila pun tidur pulas bahkan hingga lewat dari jam 7 pagi. *Love umang-umang.

Pagi hari setelah sholat subuh, Saya, Dinda, dan Selvi berjalan ke arah tengah-tengah pulau untuk mencari keberadaan mercu suar. Seharian kemarin Bang Ical, Doedy, serta yang lainnya telah memutari pulau namun tak ada tanda-tanda mercu suar di pulau ini. Namun karena keyakinan akan keberadaannya maka kami memberanikan diri menyusuri jalan setapak di antara rimbun semak-semak untuk menelisik keberadaan mercu suar ini.

Jalanan Menuju Mercu Suar
Tak berapa lama jalan lengang dan lebar pun telah nampak dan di ujung jalan itu terlihat tangga dengan batu-batu berwarna hitam tersusun rapi. Persis seperti susunan dinding-dinding batu rumah-rumah jaman Belanda.

Perlahan kami pun tiba di ujung tangga, ternyata di atas sana terdapat mercu suar yang lumayan tinggi.  bertuliskan kalimat dalam bahasa Belanda yang berbunyi :

FABRIEK VOOR DE MARINE EN HET STOOMWEZEN 1886

yang kira-kira artinya Mercu Suar ini dibuat untuk kepentingan kelautan.

1886? Waaks... kami terkejut semua. Uuuh lamanyaaaa. 

Saya memandang sekeliling. Beberapa bangunan dengan paralon dan pipa-pipa air berjejer rapi di sekitar mercu suar. Rupanya berfungsi sebagai penampung air hujan yang dijadikan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari para penunggu mercu suar.

Membayangkan bagaimana mercu suar ini dibangun pada masa itu tentu butuh waktu yang sangat lama untuk menyelesaikannya. Bagaimana mengangkut bahan-bahan bangunan dengan kapal dan perahu-perahu tradisional ke tempat jauh dan terpencil seperti ini.

Karena takut Chila terbangun dan kecarian, akhirnya Saya putuskan untuk cepat-cepat kembali ke tenda. Namun begitu tiba di tenda, ya ampun Chila masih bobo manis dan pulasnya, luar biasa! sampai bunyi apapun di sekitarnya tak jua mengganggunya dalam lelap. Ya sudahlah Chil Bunda tinggal ngelayap dulu deh :)

Karena takut kesiangan akhirnya setelah pulang berburu cangkang kerang, Chila Saya bangunkan, dan dengan baju tidurnya dirangkap dengan life jacket dia meluncur ke tepi laut, langsung nyebur. sesekali memaksa saya untuk menemaninya berenang, namun karena tak ada lagi pakaian kering saya tetap bergeming untuk tidak nyemplung ke laut. Dengan wajah cemberut dan merengek-rengek Chila terus mengajak saya berenang. Namun akhirnya dia pun menyerah Chila terpaksa berenang ditemani tante-tante yang baik hati, bergantian menemaninya berenang. Kus, Lia, Dinda, dan Tri siapa saja yang didekatnya saat itu tak sungkan Chila memanggil dan meminta ditemani untuk bermain-main dalam ombak. Saya hanya memperhatikannya dari tepi sambil mempersiapkan sarapan.

Sambil main pasir Chila saya suapi bubur instan. gak nyangka ternyata makannya lahap sekali. Mungkin efek berenang yang menguras energi dan cepat membuat perut kosong hingga tak terasa hampir habis buburnya Chila makan sendiri. Tersisa sedikit saja dan seperti biasanya bundanya menyelesaikan tugas akhir yakni membersihkan makanan hingga tuntas habis dengan cara memindahkannya ke perut sendiri :).

Si Ayah berserta yang lainnya ternyata penasaran juga dengan foto-foto sebagai bukti otentik keberadaan mercu suar, walau pada awalnya ngenyek, tak percaya namun setelah wujud mercu suar tampak di dalam foto barulah pasukan cowok-cowok meluncur ke sana. Hmmm...puas rasanya karena kami para perempuan telah lebih dulu menginjakkan kaki di mercu suar. Yihaaa.

Saya masuk ke tenda untuk mengambil handuk dan pakaian Chila yang kering namun betapa kagetnya begitu si ayah yang baru pulang dari mercu suar memanggil dan dan mengatakan ada missed call hingga berkali-kali. Begitu dicek dilayar hp tampak tulisan Kapal Sri Galang 7 kali missed call.  Hadoooh kenapa sepagi ini sih Pak. 

Baru saja mau beranjak ke pantai, tiba-tiba hp berbunyi. Tekong Sri Galang itu rupanya yang menelpon. Dia bilang sedang akan menuju ke tempat kami. Yaaaah masih betah sudah mau pulang juga. Sayang sekali. Gak puas rasanya menikmati pulau kosong yang permai ini.

Benar saja tak lebih dari 15 menit kemudian bunyi mesin kapal mulai memenuhi ruang dengar kami. dan tiba-tiba hening karena Sang Tekong sudah mematikan mesinnya. Pasukan akhirnya pontang-panting segera packing dan menyelesaikan urusan yang belum selesai seperti bersih-bersih dan ganti baju. Waduh serba buru-buru begini. Gak enak banget deh kalau ditungguin begitu.

Jam 9 lewat seperempat akhirnya kami meluncur meninggalkan Pulau Lampu. Tak lupa bersih-bersih sampah dan membawanya pulang. Alhamdulillah teman-teman sudah sadar akan kebersihan walau tetap saja Aku yang cerewet buat ngumpulin sampahnya hihi. sekali-kali jadi senior agak tegas dikit walau gak semua teman-teman bergerak untuk opsih ngambilin sampah.

Sebelum menuju Sembulang kami mampir dulu ke Pulau Karas, setidaknya teman-teman pernah singgah dan menginjakkan kaki di tanah Melayu yang satu ini. Saya, suami, dan Chila menyempatkan sekalian mampir ke rumah Pak Jamil, mertuanya tetangga sebelah rumah di Batam. Namun sayang nenek sama Kakek Jamil lagi tak ada di rumah, hanya ada dokter Anggit saja, dokter magang yang ditugaskan di Pulau Karas.

Oya, pada kunjungan pertama saya ke Pulau Karas saya memfoto sebuah rumah unik. Ketika suami melihat foto tersebut ia begitu penasaran sehingga saat itu waktu digunakan untuk mengunjungi rumah unik tersebut. 

Kurang dari setengah jam kami kembali ke kapal dan langsung menuju Sembulang. Kabar dari Tekong kapal Sri Galang bahwa kami sengaja dijemput pulang jam segitu karena mengejar Damri yang jam 11, namun begitu tiba di Sembulang hingga jam 1 siang Damri tak jua datang. Hwaaaa... kami terdampar di Sembulang. 

Akhirnya Saya coba menelpon sopir damri, dia bilang  masih di Pasar Jodoh yang jaraknya kurleb 2 jam perjalanan dari Sembulang, dia masih muter-muter nyari solar yang gak dapat-dapat. Udah gitu damri yang satunya lagi masih belum beroperasi. Yaaah... kami mendadak lemas. Namun apa daya ya sudahlah daripada bete lebih baik mengisi waktu dengan makan siang di warung yang terletak di pelantar Sembulang. Namanya .... Alhamdulillah masakannya enak dan nendang di perut.
Selesai makan siang kami segera meluncur ke mesjid Sembulang untuk menunaikan sholat dzuhur lalu kembali lagi ke tempat  semula. Sebagian menghabiskan waktu dengan cara tidur-tiduran, sebagian narsis berfoto ria sebagian lagi jalan-jalan mengukur jalan, ada juga yang ngobrol namun sudah tak tentu arah,  sedangkan Saya cukuplah bermain-main dengan Chila yang hari ini cukup ceria berlari-lari ke sana kemari.

Jam tiga lewat beberapa menit Damri yang ditunggu akhirnya tiba. Kami serempak berteriak, dan langsung merangsek masuk. Alhamdulillah di dalam bis bangku-bangku masih kosong. Tak menunggu berapa lama, Saya dan Chila yang duduk berdampingan sudah pulas tertidur hingga jembatan I. Mendekati kawasan Tembesi baru tersadar ketika ada yang membangunkan. Alhamdulillah terasa nikmatnya tidur di bis dalam keadaan capek begini. Duh rasanya masih pengen melipat lagi bulu mata, apa daya lampu merah Simpang Tembesi sduah terlihat. Akhirnya Saya dan Chila turun. Tri juga ternyata ikut turun di sana karena rumahnya tidak di dormitory seperti kebanyakan teman-teman Cumfire lainnya, melainkan di Batu Aji juga.

Si Ayah yang kembali ke Batam dengan mengendarai motor ternyata telah stand bye di pinggir jalan menyambut kami dengan senyuman kecil. Makasih semuanya ya sampai ketemu di even lainnya. Saya melanbaikan tangan ke arah teman-teman dalam bis.

Motor yang kami tumpangi meluncur menuju kawasan Batu Aji menyusuri Jalan Raya Letjen Suprapto yang padat oleh kendaraan. Ketika medekati daerah Merapi Subur ada 2 motor beriringan tepat di depan kami, dan tiba-tiba saja braaaak.... motor yang ada di depan kami terjatuh karena menghindari motor lainnya yang akan berbelok ke sebelah kanan. Spion, pecahan penutup ban, serta material lainnya beterbangan di depan kami. Karena motor yang laju kami tidak sempat menyaksikan kondisi si pengendara itu bagaimana. Kami juga tak mungkin menolong sementara di belakang kendaraan melaju dengan berbagai kecepatan. Innalillahi.... kami bergidik. Alhamdulillah masih terlindungi, seandainya Si Ayah tak dapat mengendalikan kendaraannya nyaris saja kami bisa menabrak motor yang terjatuh tadi.

Alhamdulillah masih dilindungi oleh-Nya.

"Makanya Bunda Aku nggak ngijinin naik motor ke Sembulang, ya kayak gitu, bahaya. " Si Ayah nyeletuk di sela-sela konsentrasinya mengendalikan laju motornya.


Tamat.

Jangan lupa baca postingan sebelumnya ya di Catatan Perjalanan Pulau Lampu Part-3








Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...