Sabtu, 31 Agustus 2013

Kopi Instan & Cappuccino Good Day, Kopi Gaul Paling Enak




Saya minum kopi semenjak kecil. Seingatan saya, dulu hanya sekedar ngikut-ngikut kebiasaan orang tua yang setiap pagi dan petang menyeduh kopi. Biasanya kopi dihidangkan disertai penganan tradisional seperti singkong bakar, tape goreng dan ubi rebus. Lama-kelamaan karena kebiasaan orang Sunda begitu, maka walaupun tanpa kopi di sisinya, jika menawarkan penganan kepada tamu yang terucap adalah "Sok atuh ngopi heula!" (Silahkan ngopi dulu!) padahal kopinya tidak ada. Wkkk… singkong kok dibilang kopi!

Karena penasaran, biasanya saya sekedar menyicip sesendok dua sendok saja. Ah biasa saja, gak terlalu suka karena ada ampasnya. Namun setelah bekerja, suatu waktu saya mengantuk dan ditawarin teman untuk mencoba Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak. 

Waaaks… mata saya langsung jreng sodara-sodara. Rasanya pun enak dan gak bikin jantung deg-degan. Namun yang terpenting bagi saya yang sering kerja shift malam, kopi gaul ini membuat mata  melek dan cling bening. Duh menyesal kenapa gak dari awal bekerja ya tahu tentang kopi gaul yang satu ini.

Selasa, 27 Agustus 2013

Pulau Komodo, Keajaiban Dunia yang Sesungguhnya

      Pernahkah satu ketika anda membayangkan terlempar ke masa lampau? Ke suatu masa di zaman purba dimana di sekitar anda masih berkeliaran hewan-hewan sebangsa dinosaurus seperti di film Jurassic Park? Kalau saya pernah, bahkan berandai-andai dapat menyaksikan salah satu hewan ajaib itu melalui mata kepala sendiri.

      Bukankah keajaiban namanya jika sampai saat ini masih terdapat hewan purba yang bertahan hidup? Yang Survive di muka bumi melalui berbagai proses seleksi alam yang sarat bencana seperti letusan gunung berapi, kekeringan, kebakaran, badai, banjir, bahkan tsunami. Ini membuktikan betapa kuat dan gigihnya perjuangan hewan tersebut menghadapi berbagai kondisi alam yang ekstrim yang senantiasa berubah dari waktu ke waktu.


Komodo, The Real Dragon!

      Sang survivor, hewan purba yang masih bertahan itu salah satunya adalah komodo. Species kadal raksasa dengan panjang kurang lebih 3 meter serta berat mencapai 70 Kilogram ini adalah hewan pemakan daging atau karnivora. Ia menjadi predator di habitatnya sehingga menempati puncak rantai makanan. Tak heran jika berat tubuhnya ada yang mencapai lebih dari 150 Kilogram.
Komodo Dragon. Gambar dari www.komodo.travel
      Komodo yang punya nama latin Varanus komodoensis adalah spesies luar biasa yang berhasil survive melampaui rentang waktu yang sangat panjang semenjak jutaan tahun silam. Uniknya ia hanya terdapat di satu wilayah saja di muka bumi ini, yakni di kawasan Taman Nasional Komodo Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Terutama di Pulau Rinca dan Pulau Komodo.

      Jika kerinduan anda sama dengan saya, dimana keinginan berada di masa silam itu perlahan mengusik, anda tak perlu mengkhayal akan terciptanya mesin waktu untuk kembali ke masa itu. Cukup datanglah ke Taman Nasional Komodo. Tidak diperlukan passpor apalagi visa turis. Yup, tentu saja karena ia masih dalam bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Jika anda telah melanglang buana berkunjung ke berbagai negara lain di dunia, rasa-rasanya teramat “Ter-laa-lu…” jika ke tempat yang dekat ini saja belum pernah mengunjunginya. Sst..sst..sst..sebenarnya saya  menulis ini sambil menepuk dahi dan menunjuk diri sendiri :D. Ya, saya memang belum pernah ke Pulau Komodo apalagi melanglang buana keliling dunia. Namun berkunjung ke sana suatu saat kelak, adalah sebuah mimpi besar bagi saya. Mimpi yang telah lama terpatri di hati.

      Adalah suatu keajaiban tersendiri bagi kita semua bisa berada di Jurassic Park sesungguhnya. Bukan sekedar menonton film saja namun kita benar-benar sedang Live berada di dalamnya. Suatu anugerah alam yang sejatinya kita syukuri karena telah membiarkan bukti keajaiban itu melenggang sendirian melalui lorong waktu yang teramat panjang.

      Saya yakin keunikan, keeksotisan Pulau Komodo dan sekitarnya tidak kalah dengan pesona alam Afrika. Bentangan alam yang berbukit-bukit dengan hamparan savananya yang menghijau saat musim penghujan dan menguning di saat musim kemarau tiba, akan mampu memukau siapa pun yang mengunjunginya. Ditambah lagi dengan pesona baharinya yang beranekaragam. Jika wisatawan manca negara saja rela datang dari kejauhan demi menuju tempat ini, maka tidakkah dengan anda sekeluarga?

Pink Beach. Gambar diambil dari rileks.com
       Di samping melihat komodo sebagai daya tarik utama, masih ada sisi lain dari pulau ini yang perlu dan wajib anda kunjungi. Yaitu Pantai Merah atau lebih dikenal dengan sebutan Pink Beach. Pantai berwarna merah muda ini sedemikian unik dan menarik karena lain dengan yang lain. Sebagaimana kita tahu bahwa pantai biasanya berpasir putih, abu-abu, atau hitam. Namun Pink Beach adalah pengecualian.

      Di samping trekking ke bukit-bukit atau lying on the beach, anda juga dapat melakukan snorkeling atau sekalian diving diantara liukan manta ray (ikan pari) dan ratusan spesies ikan khas fauna garis wallace yang unik-unik. Di lokasi ini begitu banyak spot diving dengan terumbu karang dan ikan yang melimpah.

      Jika anda berkunjung ke sana dalam waktu dekat ini, maka anda sangat beruntung karena bertepatan dengan serangkaian acara Sail Komodo yang kini masih digelar hingga pertengahan September 2013. Para wisatawan dapat menyaksikan berbagai pagelaran budaya dan lomba. Diantaranya ada lomba lari 10 K, lomba selam masal, turnamen mancing hingga menikmati pameran berbagai kerajinan masyarakat lokal.

      Untuk menuju Pulau Komodo anda bisa menaiki pesawat terbang dari Bali menuju Labuan Bajo yang terletak di Tepi Barat Pulau Flores. Di Labuah Bajo ada begitu banyak kapal sewa seperti Speed Boat yang dapat anda gunakan menuju Pulau Komodo, Pulau Rinca dan sekitarnya dengan harga yang lumayan murah. Anda bahkan bisa ber-sharing cost dengan sesama traveler/wisatawan yang sama-sama akan berangkat ke sana. 

Dari informasi yang saya dapat, biaya sewa kapal secara sharing untuk 2 hari 1 malam kira-kira sekitar 600 atau 700 ribu rupiah per orang. Sudah termasuk makan dan minum yang disediakan awak kapal. Jika ingin menginap di kapal atau lebih dikenal dengan istilah Live on Board maka jangan sungkan-sungkan bertanya dan meminta bantuan kepada para operator tour wisata yang baik dan ramah-ramah di sekitar Labuan Bajo.

Usaha-usaha Pelestarian Komodo
      Sejatinya usaha-usaha pelestarian komodo telah dilakukan oleh berbagai pihak semenjak dahulu. Misalnya saja pada tahun 1980 Pemerintah Indonesia menetapkan berdirinya Taman Nasional Komodo guna melindungi hewan langka ini beserta habitatnya. Kemudian  pada tahun 1986 Badan khusus dunia untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan, UNESCO menetapkan Pulau Komodo sebagai Situs Warisan Dunia. Dengan begitu, bukan hanya Indonesia saja yang berkepentingan untuk melestarikan keberlangsungan hidup komodo, namun dunia juga. Selain itu pada tahun 2011, Organisasi New7Wonders (dengan segala kontroversinya) mendaulat Pulau Komodo sebagai New7Wonders of Nature, yakni sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang terbentuk secara alami.
Komodo National Park Board. Picture taken from duniacyber.com
      Namun yang patut kita hargai dan beri apresiasi adalah budaya dari masyarakat lokal Pulau Komodo itu sendiri yang menganggap perbuatan  tabu bahkan terlarang jika membunuh dan melukai komodo. Ada sebuah mitos yang berkembang bahwa komodo atau yang mereka sebut dengan Ora adalah sebagai saudara nenek moyangnya sendiri. Kearifan lokal seperti inilah yang kemudian menjadi benteng pertahanan manusia untuk tetap menjaga keberlangsungan hidup mereka. Sehingga di kemudian hari komodo dikenal dan diperlihatkan kepada masyarakat dunia untuk menjadi sebuah warisan yang tak ternilai harganya. Jika budaya dan kearifan lokal tersebut tidak ada mungkin nasib komodo tak jauh laiknya Harimau Jawa yang telah punah dan tinggal cerita. Yang menjadi dongeng pengantar tidur dikala anak-anak mengantuk.
       Sebagai warga negara Indonesia yang baik dan partisipatif, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan semenjak sekarang demi menjaga kelestarian komodo ini. Berikut beberapa kegiatan yang bisa kita lakukan dari hal-hal kecil dan sederhana namun sedikit banyak akan berdampak positif: 
  1. Senantiasa mengkampanyekan gerakan pelestarian komodo melalui berbagai media yang paling dekat dengan jangkauan anda, semisal pada jejaring sosial facebook dan twitter. Dengan ini akan semakin banyak orang terpengaruh untuk berbuat hal yang sama.
  2. Memperkenalkan kepada anak-anak atau adik-adik kita pengetahuan tentang komodo sebagaimana halnya kita bercerita tentang si kancil dan buaya atau si gajah dan si semut. Menanamkan kebiasaan kepada mereka agar komodo tetap dikenal dan dicintai di negerinya sendiri.
  3. Berkarya dengan berbagai hal yang mengandung filosofi atau gambar-gambar komodo. Semisal membuat boneka atau film kartun yang bertokoh komodo sehingga anak-anak akan mengenalnya semakin dekat lebih dari tokoh kartun Sponge Bob, Barney, Micky Mouse, atau Ipin dan Upin.
  4. Sekali dalam hidup anda berkunjunglah ke Taman Nasional Komodo. Saksikan keajaiban dunia yang sesungguhnya itu dengan mata kepala sendiri.
  5. Banyaknya kunjungan wisatawan menyebabkan dilema terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan laut di sana. Terutama yang disebabkan oleh sampah. Jadi bijaklah dalam membuang sampah. Jangan membuangnya ke laut. Sebisa mungkin sampah anda bawa pulang ke daratan karena sampah akan merusak ekosistem laut yang rentan terhadap perubahan. Sesungguhnya laut bukanlah tempat pembuangan sampah raksasa.
      Karena membludaknya kunjungan turis akhir-akhir ini dan mungkin pada masa yang akan datang sedikit banyak mengganggu pola hidup alami komodo dan hewan lainnya, maka pembatasan kunjungan dan penutupan kawasan sekali-kali tetap diperlukan demi pengembalian ekosistem seperti semula. 

      Sejalan dengan tujuan pembentukan Taman Nasional Komodo yang tiada lain demi menjamin kelangsungan hidup Komodo dalam jangka panjang dan juga menjaga mutu habitat alaminya, maka alangkah bijaknya jika kita tetap mengikuti setiap peraturan yang diberlakukan oleh Pihak Taman Nasional jika suatu saat berkunjung ke sana.

      Di balik semua itu yang terpenting adalah bagaimana kadal raksasa ini tetap lestari hingga ke anak cucu kita. Ketika hewan-hewan langka di dunia semakin punah maka kita masih dapat berbangga hati dengan keberadaan mereka yang tetap terjaga lestari di habitat aslinya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jelajah 7 keajaiban Nusantara Terios 7-wonders yang diselenggarakan oleh VIVAlog dan Daihatsu.

Senin, 19 Agustus 2013

Lebaran Pertama: Mengunjungi Jurong Bird Park Singapura


Berpose dulu dengan Patung-Patung Burung di Pintu Masuk
Lebaran tidak pulang kampung rasanya ada yang kurang. Nah karena bingung mau kemana libur lebaran ini kami memutuskan  untuk mengajak Chila main-main ke Singapura. Kebetulan Passport baru saja diperpanjang. Liburan selama 4 hari 3 malam rasa-rasanya cukup untuk mendatangi beberapa tempat menarik di sana. 
Titik awal mulai dari sini

Dengan tiket Ferry seharga kurang lebih 350 ribu per orang, pulang pergi Batam Singapura (sudah termasuk seaport tax di kedua-dua pelabuhan) kami akhirnya cukup terhibur bisa berlibur di sana walau pulang-pulang pada tumbang karena kecapekan.

Karena tidak ada sanak famili yang harus dikunjungi untuk bersilaturahmi, semenjak di Batam kami sudah menyusun itinerary kalau selesai sholat Ied akan langsung menuju Jurong Bird Park. Sebuah taman burung yang terletak di bagian barat Singapura. Jarak tempuh kurang lebih satu jam dari hostel tempat menginap. Lumayan jauh juga dari pusat kota  namun dengan menaiki MRT segalanya menjadi cepat dan mudah. 

Chila yang baru pertama kali naik MRT begitu senang dan antusias. Laah boro-boro anak-anak saya saja suka dengan moda transportasi yang satu ini. Selalu berkhayal kapan ya Jakarta atau Batam punya kereta cepat yang nyaman seperti ini.

Karena stasiun terdekat dengan penginapan kami adalah Bugis Station, maka kami berangkat dari sana dan langsung menuju Boon Lay Station. Stasiun MRT terdekat dengan Jurong Bird Park. Dari Boon Lay kami menaiki bis nomor 194 dan meminta sopirnya untuk menurunkan kami di Jurong Bird Park.
Suka banget sama Anggrek Ungu


Ketika sampai di pintu masuk kami langsung disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Bunga-bunga anggrek berwarna-warni menarik perhatian saya dan pengunjung lainnya untuk berpose, bernarsis-narsis, berfoto-ria. Chila bahkan sudah kesal dan bertanya kenapa sih harus foto-foto terus :D Ah Bunda lupa Chil kalau ke sini niatnya lihat burung bukan bunga hehe.

Di bagian ticketing kami mengantri dan membayar tiket masuk seharga 53 dollar. Dengan rincian saya dan suami masing-masing 20 dollar dan Chila karena masih anak-anak hanya membayar 13 dollar. Kalau dirupiahkan kira-kira sekitar 429 ribu rupiah. Cukup mahal namun segitu memang harga wajar di sini. Kalau tiap pergi hitung-hitungan terus aduh bikin mules dompet deh :D

Yang pertama kami kunjungi adalah Penguin Coast yang terletak di sebelah kanan pintu masuk. Melihat dan mengamati para Penguin di dalam ruang kaca. Kasihan sebenarnya apalagi anakan sama induknya dipisah. Selanjutnya kami memasuki ruangan khusus untuk burung-burung malam World of Darkness yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Berbagai macam burung hantu mulai dari yang kecil hingga besar ditempatkan di ruang-ruang yang temaram.
Scarlet Ibis

Keluar dari dunia burung kegelapan :D kami mengitari taman burung ini searah jarum jam. Burung warna-warni yang menyegarkan penglihatan terlihat di sana-sini. Mulai
Bird Kissing
dari Spoonbill,  Scarlet Ibis (Ibis merah), Royal Rumble, Hornbill (burung Enggang atau Rangkong), Toucan (Tukan), Parrot (Nuri atau beo), Pelican (Undan), Pelican, Flamingo, Shoebill, Kasuari, dan banyak lagi.

Kami juga mengunjungi Bird Discovery yang menceritakan awal mula penemuan burung serta asal muasal wilayah penyebarannya lengkap dengan display yang memajang berbagai gambar burung yang interaktif.  Ditampilkan juga proses pembiakannya dari telur menetas hingga menjadi seekor burung. Film-film tentang burung juga diputar terus-menerus.  

Menonton Film Burung di Bird Discovery Centre

Lumayan capek juga mengitari taman burung ini. Dan yang paling membuat saya heran ternyata Chila tidak minta gendong sepanjang perjalanan. Duh kebayang deh pegel-pegelnya kaki dia. Mungkin karena di awal perjalanan Chila sudah kami bilangin untuk tidak rewel dan harus bersikap manis. Maka dengan sekuat tenaga tampaknya ia ingin membuktikannya dengan tidak minta gendong :D walaupun cerewetnya tetap keluar. Apalagi kalau saya dan suami menyuruhnya berpose untuk difoto Chila merepek tak karuan :)
Keriuhan Pengunjung di Amphitheatre
Amphitheatre ketika masih kosong
Selesai berkeliling-keliling kami mendengar keriuhan di bagian tengah taman. Ternyata sedang diadakan pertunjukkan di sebuah tempat yang disebut Pools Amphitheatre. Orang-orang sudah berkumpul dan duduk rapi di barisan kursi melingkar yang telah disediakan untuk menonton pertunjukkan burung-burung yang beraksi sesuai perintah pelatih.

Seekor burung Parrot atau Beo mengucapkan kata "Singapura" dengan jelas. Tak ayal membuat penonton riuh tertawa dan bertepuk tangan. Kemudian beberapa penonton diminta berdiri dengan jarak tertentu sambil memegang sebuah lingkaran. Selanjutnya burung-burung itu terbang memasuki lingkaran. Woow deh. Jadi mendadak pengen memelihara burung hehe. 

Di akhir acara ada parade show burung-burung. Heran mereka begitu anggun dan menurut sekali. Apalagi Burung Flamingo duh anggun sekali, gemes banget pengen meluk rasanya. Pun ketika acara foto bersama burung (halaah kayak foto bareng artis aja :D) mereka hanya berdiri diam menunggui kami untuk berpose narsis. 

Usai menonton pertunjukkan, kami meminta izin kepada petugas untuk keluar makan. Ada sebuah cafe di dekat gerbang masuk yang menjual makanan. Namun sayang tidak ada nasi. Namanya orang Indonesia ya namanya makan berarti harus makan nasi. Karena khawatir Chila kelaparan jadilah kami memesan french fries dan nugget. Segitu aja ternyata harus mengeluarkan uang 12 dollar setara dengan 97 ribu rupiah. Waak...otak emak-emak saya emang gak bisa menerima ini. Tapi tak apalah yang penting Chila bisa makan.

Oh My God, beberapa saat selesai  makan baru teringat kalau saya lupa mengecek halal tidaknya makanan tadi. Ah Laahaula semoga memang halal adanya.

Selesai makan kami menghantar Chila untuk bermain-main di taman air. Ada perosotan, seluncuran, kincir air dan air mancur dengan hiasan patung-patung burung di atasnya. Membuat Chila gak sabaran untuk segera turun.

Selesai menunggui Chila main air, Saya sibuk mencari tempat sholat. Haduuuh bingung mau sholat dimana. Secara lahan seluas ini gak ada musholanya. Tiba-tiba saja suami menyuruh agar saya membuatkan susu untuk Chila, katanya ada dispenser di ruangan dekat toilet. Begitu saya cek ternyata benar. Di ruangan itu tidak hanya dispenser saja ternyata ada ruangan untuk menyusui juga. Ah saya ada ide, lalu menggendong Chila ke ruangan itu dan mendudukannya di kursi.

Sehabis ambil air wudhu saya sholat di ruangan menyusui setelah sebelumnya mengunci pintu terlebih dahulu. Alhamdulillah bisa sholat. Sekaligus dijama dzuhur dan ashar. Setelah itu gantian suami juga sholat di sana. Chila tetap saya suruh stand bye untuk ngedot di kursi. hehe modus memang tapi kalau tidak begitu takutnya kami gak bisa sholat. 

Selesai sholat kami berkemas untuk kembali ke hostel. Tak lupa berfoto dulu dengan burung-burung yang cantik yang seakan mengerti kebutuhan kami untuk bernarsis ria bersamanya. Mreka hanya diam bertengger di dahan tanpa di perintah. Herannya kok gak pada kabur gitu ya padahal gak diikat atau dikandangin.

Dari Bird Park, kami menyebrang jalan dan menunggui bis yang lewat. Setelah cukup lama bis  yang mengarah ke Boon Lay station pun datang. Namun kami menaiki nomor bis yang berbeda dengan yang semula. Kali ini bis nomor 251. Sepertinya bis nomor 194 tidak melayani arah sebaliknya karena selama 15 menit menunggu tak satu pun bis nomor itu yang lewat.

Begitu tiba di Boon Lay kami mendapati rumah makan yang menjual nasi lemak seharga 1,2 dollar dengan tulisan halal besar-besar. Ah kapan lagi nemu tempat makan halal dengan harga semurah ini. Yang ini sih wajib mampir. Jadilah kami hari itu ketemu makan nasi :D dan tak lupa bungkus bawa pulang.

Menjelang maghrib kami pun meluncur menaiki MRT dari Boon Lay menuju ke Bugis Station. Lalu kembali ke Penginapan dengan berjalan kaki. 







 


 
  

Kamis, 01 Agustus 2013

Mengurus Perpanjangan Paspor

Paspor Saya dan suami sudah expired sejak November tahun 2012 lalu. Sebenarnya sudah mau mengurus perpanjangan pada bulan tersebut namun mengingat kesibukan kerja dan waktu yang belum memungkinkan maka semakin hari semakin terlupakan. Belum lagi kalau mengingat pengalaman dulu saat mengajukan paspor, sepertinya malas sekali kalau harus menunggu lama-lama untuk antri. Duh antriannya itu bak ular naga apa ular piton gitu. Pokoknya panjaaaang dan lama.

Beberapa waktu lalu si bos di tempat kerja menelpon dan menanyakan apakah saya sudah punya paspor atau belum. Saya jawab sudah tapi sayang sudah expired. Begitu balik tanya kenapa dan ada apa, si bos bilang saya harus berangkat ke Philipine besok harinya. Oh My God... jantung rasanya mau copot mendengar berita itu. Duh nyeselnya gak ketulungan. Coba paspor sudah diurus sejak akhir tahun lalu. Hiksss... gak rejeki deh bisa jalan-jalan gratis ke Philipine. Ya sudah deh mencoba ikhlas walau rasanya pengen jedotin kepala ke tembok :D. Walaupun urusan kerja yang namanya pergi ke tempat lain dengan gratis siapa juga yang mau nolak. Terlebih ke luar negeri. Sesuatu banget :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...