Rabu, 25 September 2013

[DearDaughter] Dalam 4 Tahun Kebersamaan

Saat genap usia 3 tahun
Dear Chila, tanpa terasa waktu terus saja berlalu. Ayah dan Bunda masih saja sering terkaget-kaget menyaksikan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kamu baik secara fisik maupun mental. Perubahan seorang bayi mungil yang tumbuh kembang menjadi seorang anak kecil yang imut, pintar, lincah, dan ceria.

Dulu ayah bunda harap-harap cemas karena hampir 1 tahun lebih setelah pernikahan, belum juga diberi amanah oleh Allah SWT untuk mempunyai momongan. Namun di tahun kedua, Alhamdulillah Bunda hamil. Sungguh, mengetahui kehamilan pertama itu adalah hal yang sangat luar biasa. Berbagai rasa campur aduk di sana. Bahagia, cemas, waswas, takut, excited dan perasaan-perasaan lainnya.

Semenjak dalam kandungan, kamu memang baik sekali. Hanya di trimester pertama usia kehamilan saja yang sedikit membuat bunda mabuk kepayahan. Tapi itu wajar, hampir semua ibu-ibu mengalaminya. Jadi ketika gejala morning sickness datang, bunda menganggap biasa dan menjalaninya dengan ikhlas.

Sesaat setelah lahir, masih berdarah-darah
Di usia kandungan 4 bulan dan seterusnya kamu sungguh baik dan luar biasa kuat. Padahal tak jarang bunda ajak kamu overtime terus. Kamu hampir setiap hari bunda ajak bekerja eight to eight. Masuk kerja jam 8 pagi pulang jam 8 malam. Sungguh kamu memang janin yang tangguh. Tak sedikit pun kamu rewel. Padahal bunda sangat sedikit istirahat. Hampir setiap hari 10,5 jam kita berkeliling berjalan dari ujung ke ujung di perusahaan tempat kerja bunda untuk sekedar mengecek dan memastikan teman-teman bunda bekerja sesuai prosedur. Walau kaki bunda bengkak Alhamdulillah bunda baik-baik saja.

Kamu tahu tidak gara-gara itu bunda malah menjadi ajang percontohan ibu-ibu hamil lainnya di perusahaan. “Coba tuh lihat Teh Lina dia aja gak mengke kayak kalian. Dia juga hamil tapi gak begini gak begitu bla..bla..bla…” Ah makasih ya sayang, bukan bundanya yang kuat tapi memang kamu yang luar biasa. Kata orang kalau hamil malas-malasan itu bawaan bayi. Tapi bunda percaya kalau bundanya selalu mensugesti diri bahwa bunda kuat maka bayi bunda juga nantinya akan kuat. Alhamdulillah itu terbukti. Dan kehamilan bukanlah suatu penghalang untuk produktif kan sayang? Kehamilan olehmu adalah salah satu contohnya.
Sewaktu umur 6 bulan

Oh ya, sewaktu kamu dalam kandungan, ayah dan bunda sering memperdengarkan kamu musik dan murotal Al Qur'an. Musik menurut orang-orang pintar katanya bisa membuat perkembangan otak kamu menjadi lebih pesat lagi. Sedangkan murotal Al Quran, itu karena bunda menginginkan kelak kamu menjadi seorang hafizah. Betapa bangga dan bahagianya bunda jika kamu dapat menghafal Al Quran 30 juz lengkap. Dan usaha untuk itu tentu tidak dimulai dari usia kamu 5 atau 7 tahun tapi semenjak dalam kandungan. Ah semoga saja ya sayang. Usaha bunda itu membuahkan hasil.

Kamu lahir sempurna melalui persalinan normal. Lahir tepat jam 12 siang di hari Selasa tanggal 16 Juni 2009 dengan berat 3,3 kg dan panjang 52 cm. Begitu lahir kamu diletakkan di dada bunda. Betapa hangatnya badan kamu Nak, dan kamu hanya menangis sebentar lalu setelah dibersihkan oleh suster kamu bobo manis dengan tenang. Alhamdulillah sorenya bunda sudah dapat menyusuimu. Sungguh kebahagiaan tak terhingga bisa memberimu ASI di hari pertama kamu lahir. Banyak ibu-ibu yang bahkan ASInya tidak keluar di hari pertama persalinan.

Ayah Bunda memberimu nama Sierra Syadza Savanna. Sierra artinya pegunungan, Syadza artinya wangi sedangkan Savanna adalah padang rumput yang menghampar sejauh mata memandang. Semoga nama-nama itu menjadi perwakilan akan keteguhan tekad dan semangatmu meraih cita-cita juga harapan yang luas sehingga kelak namamu semerbak mewangi. Dikenang orang akan keteladanan dan kebaikan-kebaikan yang terhimpun dalam dirimu. Kamu tahu Nak, Ayah Bunda ini suka sekali mendaki gunung maka memberikan nama tersebut sebagai sebuah kenang-kenangan dan kecintaan akan indahnya pegunungan, tempat dimana bunda pertama kali mengenal ayahmu. Tempat dimana kami menautkan hobby dan menghabiskan sebagian besar waktu berlibur dengan menyusuri lekuk jurang dan punggungan-punggungan gunung.

Semenjak usia 8 bulan sudah menyukai laut :D
Sayaaang, tiga bulan kamu dalam penjagaan bunda setelah itu bunda harus kembali bekerja karena cuti persalinan sudah selesai. Bunda bingung siapa yang akan menjagamu. Untung saja nenek dari Garut bersedia datang ke Batam untuk sementara waktu sebelum bunda menemukan penjaga yang tepat untukmu. Bukan maksud bunda melalaikan tanggung jawab untuk merawatmu tapi demi masa depan kita kelak yang lebih bahagia ya Nak. Maafkan bunda harus tetap bekerja.

Kamu tahu tidak Nak hingga sekarang setiap akan berangkat kerja hati bunda merasa teriris. Tak tega meninggalkanmu dalam penjagaan orang lain. Apalagi kamu selalu ngambek dan bertanya kenapa sih bunda kerja terus, ibu-ibu yang lain kok gak kerja. Masih saja terngiang-ngiang ucapanmu itu. Maafkan bunda ya sayang. Percayalah bunda juga sebenarnya ingin menjagamu di rumah namun tentu saja ada hal lain yang belum bisa kamu mengerti.

Bunda ingat suatu malam ketika usiamu masih 6 bulan kamu menangis histeris tak henti-henti. Ayah bunda sudah bergantian menggendong dan menenangkan kamu dengan berbagai cara. Namun telah satu jam lebih kamu terus saja menangis. Ayah bunda telah kehabisan cara. Harus bagaimana lagi agar kamu tenang. Sungguh kami sangat panik takut kamu kenapa-napa. Entah bagaimana tiba-tiba bunda ingat untuk memperdengarkan murotal Al Qur’an lagi, dan Masya Allah sungguh ayah bunda kaget ketika bacaan murotal Al Qur’an terdengar, kamu mendadak tenang dan diam. Seketika itu juga tangismu reda. Alhamdulillah. Ayah bunda dapat menarik nafas lega. Hanya saling pandang, keheranan ,dan takjub luar biasa. Bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an itu telah menenangkanmu ya Nak.

Mencari kerang
Chila Sayang, sewaktu usia 1,5 bulan ayah bunda mengajakmu jalan-jalan. Putar-putar Pulau Batam hingga Jalan Raya Barelang. Jalan yang menghubungkan Pulau Batam dengan pulau-pulau lainnya di wilayah selatan. Sampai tiba di ujung Jalan Raya Lintas Pulau yakni di Pulau Galang Baru. Dan itu sangat jauh sekali. Kita berkeliling dari pagi hingga malam tiba. Awalnya waswas takut kamu kenapa-napa tapi ternyata kamu memang kuat. Kamu baik-baik saja, tidak masuk angin dan tidak rewel setelah tiba di rumah. Karena itulah setiap bunda bepergian sudah tak khawatir lagi jika mengajakmu ikut serta. Bahkan ke hutan sekali pun bunda sering mengajakmu. Kita bermain-main di air sungai dan menikmati suasana teduhnya hutan. Ah kamu malah senangnya minta ampun. Bahkan kita pun pernah kemping di tepi danau di salah satu kawasan hutan lindung di Batam juga di pulau kosong tanpa penghuni. Dan kamu selalu saja punya cara tersendiri dalam menikmati petualangan itu. Memunguti daun-daun kering, mengamati semut, main pasir, berburu umang-umang, berenang-renang, mengumpulkan cangkang-cangkang kerang dan lainnya.

Sayang bunda bahagia atas kehadiranmu. Hari-hari selalu saja penuh warna. Maafkan bunda yang kadang tak sabar jika kamu bertanya tentang sesuatu. Di usiamu sekarang yang menginjak 4 tahun ini menuntut bunda untuk lebih bersabar dan belajar lagi bagaimana menjadi seorang ibu yang bijak. Kamu sudah kritis dan bertanya macam-macam. Maafkan bunda yang terkadang menjawab pertanyaanmu dengan nada yang keras kalau sedang kesal terhadap sesuatu. Duh padahal bunda ingin selalu mendidikmu dengan penuh kelembutan.

Bunda akan selalu mengaminkan setiap doa-doamu yang kini sudah kamu hafal dengan sendirinya. Kalau setelah belajar sholat, doamu yang terucap seperti ini:
Hafalannya ditingkatkan lagi ya Sayang!
“Ya Allah semoga Chila menjadi seorang hafizah, Amiiin.” Doamu terlantun lembut seraya mengusapkan kedua telapak tangan ke muka. Bunda hanya bisa menatapmu takjub dan membatin Ya Allah kabulkanlah permintaan anak ini, dia telah berdoa kebaikan untuk dirinya sendiri.

Alhamdulillah hafalan surah-surah pendek Al Qur'anmu sudah mulai membaik walau terkadang Bunda lalai tidak berusaha untuk menguatkan hafalan kamu dengan mengulang-ulangnya kembali. Maklum di rumah sibuk juga dengan pekerjaan rumah tangga. Teruslah semangat belajar ya Sayang. Peluk cium dari bunda yang selalu bersyukur atas kehadiranmu ke dunia.

Tulisan ini dalam rangka proyek #DearDaughter di KEB yang diprakarsai oleh makpuh Indah Juli. Saya terima tongkat estafet dari Mbak Ade Anita dan sekarang saya serahkan kepada Jeng Windi Teguh yang sedang berbunga-bunga karena baru saja menjadi seorang ibu :D

Minggu, 15 September 2013

Gunung Papandayan, Sebuah Kerinduan yang tak Berkesudahan


Gunung Papandayan
Pondok Saladah
Pertama kali mengunjungi Gunung Papandayan sekitar tahun 1991 sewaktu masih duduk di bangku kelas 4 SD. Di sana diadakan Jambore Cabang Se-Kabupaten Garut.  Saya dan beberapa teman  menjadi perwakilan dari Ranting Sukaresmi.

Saya langsung takjub dan jatuh cinta pada pandangan pertama ketika menyaksikan gunung itu dari dekat. Jatuh cinta pada semua yang terlihat. Pada pohon-pohon pinus, bebatuan, kawah, tebing-tebing, pohon cantigi, dan kabut yang menyelimuti. Ah semua yang terlihat di situ membuat saya terpaku. Diam-diam rasa suka itu terus merayapi fikiran saya hingga bertahun-tahun lamanya. Sehingga ketika ada kesempatan dan waktu luang saya senantiasa mengunjungi Gunung Papandayan. Entah sekedar nongkrong menyaksikan kawahnya saja, atau bahkan menginap di sana. Apalagi jarak tempuh dari rumah tidak lebih dari 1 jam berkendara.

Suatu waktu saya bersama kakak, sepupu, dan beberapa teman laki-laki dari kampung sebelah berangkat ke Gunung Papandayan dengan berjalan kaki melewati kampung-kampung. Berangkat pagi sekitar jam 7an dan tiba di Gunung Papandayan jam 1 siang. Pulang dari sana sepupu-sepupu saya pada ambruk dan sakit. Bahkan ada yang sampai tak bisa berjalan hingga seminggu karena kakinya bengkak. Hehe Sayalah orang yang paling disalahkan oleh para orang tuanya dalam tragedi itu.

Gunung Papandayan
Pemandangan Gunung Papandayan dari Kampung Saya
Ketika menjadi guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) saya mengajak siswa-siswa untuk kemping di Gunung Papandayan, tepatnya di Pondok Saladah. Walau sebenarnya ide ini ditentang habis oleh Kepala Sekolah. Namun saya berhasil meyakinkannya hingga mendapat izin. Saat itu usia saya masih 18 tahun dan masih imut-imut. Seorang guru imut tapi bawa pasukan seabrek tak ayal mengundang heran para pendaki gunung. Banyak yang nyeletuk "Bu gurunya masih imut banget ya" Duh langsung deh tampang pasang jaim.

Pondok Saladah adalah lapangan rumput yang luas yang dihiasi secara alami oleh bunga-bunga edelweis. Disebut demikian karena di sekitar sana tumbuh sejenis sayuran yang disebut saladah. Tumbuh subur di sungai kecil yang mengalir di sisi kiri lapangan. Pondok Saladah dijadikan camping ground dimana banyak pendaki yang menghabiskan waktu untuk santai berkemah di tempat ini. Pemandangannya pun sangat indah karena berdindingkan tebing-tebing yang hijau dan gundukan puncak-puncak gunung.

Di atas Pondok Saladah ada lagi sebuah lapangan nan luas. Sungguh sangat luas. Namanya Tegal Alun. Di sana Edelweisnya bagai kebun sayur. Tumbuh subur di seluruh penjuru. Kawasan ini benar-benar dilindungi dan menjadi kawasan konservasi. Tidak boleh ada aktifitas kemping atau mendirikan tenda. Kalau ketahuan petugas kita langsung diusirnya.

Gunung Papandayan
Saya dan Sepupu-Sepupu di Pondok Saladah
Di waktu lainnya Saya mengajak kakak, sepupu, keponakan, dan saudara lainnya untuk kemping di Pondok Saladah. Kali ini dengan naik mobil bak terbuka. Kalau berjalan kaki lagi rasanya akan memakan waktu lebih lama karena kami membawa beban tenda dan logistik. Hampir semua saudara belum pernah ke lokasi ini. Jadi mereka  sangat antusias dan begitu terpesona. Ah senangnya melihat mereka cukup menikmati suasana itu. Apalagi kami ngerujak dan membuat sambal dengan lalapan saladah yang langsung dipetik dari lokasi. Seru rasanya.

Menuju Pondok Saladah ditempuh dengan menaiki jalur bebatuan dan melewati kawah-kawah. Terus mengikuti arah jalan menuju Perkebunan Teh Cileuleuy Pangalengan Bandung lalu berbelok ke kiri di sebuah persimpangan. Jadi antara Garut - Bandung tidak melulu harus melewati Nagrek yang terkenal sebagai jalur mudik itu namun bisa juga dengan menembus jalur Gunung Papandayan. Dan banyak penduduk yang melakukan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi jalur ini.

Kurang dari setahun mengajar di MTs, saya mendapat tawaran kerja di Pulau Batam. Sebelum berangkat ke sebrang saya mengunjungi  Gunung Papandayan kembali untuk melepas kangen. Ah duduk berlama-lama  memandang ke arah Pangalengan dari salah satu punggungan gunung teramat menakjubkan bagi saya. Berlari-lari ala Pemain Film India di Tegal Alun juga teramat mengesankan.

Gunung Papandayan
Melompatlah Lebih Tinggi
Rindu itu terus saja terpendam di hati. Setelah beberapa tahun tinggal di Batam lalu pulang kampung, lagi saya mengunjungi Gunung Papandayan. Ah ada yang berubah rupanya. Papandayan telah meletus sebanyak dua kali selama saya di Batam. Karena letusan itu jalan lebar menuju Pondok saladah runtuh. Para pendaki dan penduduk lokal membuat jalan alternatif dengan menuruni jurang memasuki lembah lalu menaiki tebing hingga akhirnya tiba di jalan sebrang yang putus karena longsor.

Mengunjungi Gunung Papandayan, Kemping di Pondok Saladah senantiasa menjadi kerinduan tersendiri bagi saya. Semoga tahun-tahun mendatang bisa mengajak anak saya Chila dan sepupu-sepupunya dari Bandung dan Jakarta untuk bermain di sana.

Kamis, 12 September 2013

Menikmati Kerlap-Kerlip Pohon Lampu di Garden By The Bay

View dari jembatan penyebrangan antara Marina Bay Sands menuju Garden by the Bay
Menjelang malam, setelah menikmati suasana riuh di Teluk Marina (Marina Bay) kami mengunjungi Garden by The Bay yang letaknya tak jauh dari lokasi tersebut. Taman yang baru dibangun dengan luas sekitar 101 hektar ini tak pelak mengundang rasa penasaran saya untuk mampir. Sebagai pendaki gunung, pecinta hutan, penyayang tanaman (halaaah...) juga penikmat suasana hijau, maka tempat ini adalah salah satu tempat yang  wajib saya kunjungi.

Taman ini terdiri atas tiga kebun yang terletak di tepi teluk. Bay South, Bay East, yang dihubungkan oleh Bay Central. Di Bay South — taman pinggir teluk terbesar terdapat pohon lampu yang disebut Supertree yang futuristis. Ini bukan pohon biasa namun kebun vertikal dengan 16 lantai yang membuat lanskap terasa lebih mengejutkan dan nyata. Dari satu Supertree ke lainnya dihubungkan oleh jembatan gantung. Di puncak supertree tertinggi terdapat bar untuk menikmati pemandangan seluruh taman dari atas. Supertree ini bukan sekadar hiasan estetis; konstruksi ini juga berfungsi menampung air hujan, menghasilkan tenaga surya, dan menjadi saluran irigasi untuk konservatori taman tersebut.[1]

View ke Garden by the Bay dari Jembatan Penyebrangan
Conservatories, yang memiliki konsep Cloud Forest dan Flower Dome, adalah salah satu fitur unggulan lainnya, yaitu tempat berteduh dari terik matahari tropis. Flower Dome meniru iklim dingin-kering Mediterania dan kawasan sub-tropis semi arid seperti di Afrika Selatan, dan beberapa bagian Eropa seperti Spanyol dan Italia. Cloud Forest mengadaptasi iklim dingin berembun yang ditemukan di kawasan Tropis Montane pada ketinggian antara 1.000 sampai 3.500 meter dari permukaan laut, seperti Gunung Kinabalu di Sabah, Malaysia, dan dataran tinggi di Amerika Selatan.[1]


Bay East adalah kombinasi unik paviliun-paviliun nan cantik, dataran yang subur, pohon kelapa dan berbagai jenis bunga, sempurna sebagai tujuan jalan-jalan di sore hari atau berpiknik bersama keluarga dan teman-teman. Bay East juga menawarkan pemandangan yang luar biasa dari gedung-gedung pencakar langit di kawasan finansial Marina Bay di sepanjang pinggir teluk sejauh dua kilometer.

Sayang karena waktunya malam kami hanya bisa berkunjung ke Supertree saja. Dengan menembus tower Marina Bay Sands, menaiki eskalator melewati Casino, melewati galery dengan pajangan tas dan jam tangan dari berbagai merk terkenal yang harganya bikin mata melotot,  kami terus berjalan untuk mendapatkan akses ke Garden by the Bay. Setelah tanya sana-sini terutama kepada security dan polisi-polisi yang berjaga di sekitar Marina Bay Sands, tibalah kami di belakang tower. Dan Oh My God ini dia penampakan Supertreenya. Keren dan romantis banget. Duh nongkrong di sini memang adem rasanya. Apalagi buat yang pacaran, gak bakalan mau pulang deh.

SuperTree di Garden by the Bay
Tepat di sekitar SuperTree berada, terdapat Resoran Texas Fried Chicken (TFC) yang harganya lumayan murah. Kami sempat bengong ternyata harganya gak jauh beda ya sama di Indonesia. Kirain karena ia berada di tempat wisata seperti ini harga ayamnya akan melejit naik.  malah justru lebih mahal sewaktu di rumah makan biasa di kawasan Jurong Birdk Park. Nugget beberapa potong saja dihargai hampir 12 dollar. Sedangkan di TFC masih ada yang harganya 3 dollar.

Yang lucu sih sudah susah-susah ngomong bahasa Inggris eh pelayannya tiba-tiba bilang gini "mau pesan apa mbak?" Halah dari tadi kek. Rupanya si mbak pelayannya orang Jawa :D

Hampir satu jam kami nongkrong di SuperTree. Mau explore lebih jauh kayaknya Chila dah kecapekan. Kasihan udah suntuk. Hampir setiap kami menjepretkan kamera Chila ngambek-ngambek terus minta kembali ke hostel. Untung aja gak inta pulang ke Batam, bisa berabe deh.

Melihat dan menyaksikan Garden by The Bay ini saja saya jadi iri. Sangat-sangat iri dengan pembangunan yang terus dipacu Singapura. Di sana pemerintah dan swasta benar-benar bekerja sama dalam pembangunan yang terencana. Visinya jauh berpuluh-piluh tahun ke depan. sehingga dengan sumber daya terbatas uang masih terus mengalir ke sana.



View ke arah Bianglala terbesar, Singapore Flyer

View Marina Bay Sands dari Garden by the Bay

Ini Saya sama Chila

Pintu Masuk ke Supertree


[1]  http://www.yoursingapore.com/content/traveller/id/browse/see-and-do/nature-and-wildlife/stroll-among-trees/gardens-by-the-bay.html

Selasa, 10 September 2013

Aku dan Pohon, Satu yang Tak Terpisahkan



Semasa SD hingga SMP  dulu, aku suka sekali memanjat pohon jambu biji di tepi sawah di depan rumah. Sambil membawa buku-buku pelajaran, Aku merapalkan hafalan dengan mulut komat-kamit. Bersantai duduk manis dengan menjuntaikan kaki di batang pohon yang cukup besar. Sesekali tangan memetik jambu yang sudah matang. Terkadang tahan berjam-jam di atas pohon tanpa rasa takut akan terjatuh. Kedua orang tua, adik, dan kakak-kakakku tidak pernah usil dengan kebiasaanku tersebut. Mereka semua sudah mafhum.

Kalau sudah suntuk belajar di rumah, maka aku segera meluncur ke pohon jambu biji. Belajar di sana sambil menikmati pemandangan sawah yang berundak-undak membentuk teras sering. Sungai Cipanday tampak meliuk-liuk membagi kontur pesawahan menjadi dua bagian. Nun jauh di sebrang, gunung-gunung tegak berdiri memanjang dari sisi barat hingga ke timur. Sesekali angin berhembus. Terkadang menimbulkan kantuk yang teramat sangat. Bahkan aku pernah ketiduran di sana namun syukur Alhamdulillah tak terjatuh. Rupanya Aku ada bakat jadi kalong ya, bisa tidur di atas pohon :D

Aku diantara pepohonan hutan di Batam
Selain di pohon jambu, aku sering memanjat pohon cengkeh di samping rumah nenek. Pohon itu termasuk pohon favoritku karena berdaun lebat, berdahan rindang dengan cabang-cabang yang rendah dan besar-besar. Dari besar batangnya saja tampak usia pohon cengkeh ini sudah tua sekali. 

Aku dan sepupu-sepupuku sering bermain di pohon cengkehnya nenek. Bermain ayunan, masak-masakan, kucing-kucingan, bahkan congklak sekali pun. Ketika pohon tersebut roboh karena terpaan angin kencang kami sangat sedih dan kehilangan. Sedih karena kehilangan kenangan akan masa kecil yang indah dan ceria.

Sewaktu kelas 4 SD, aku berkemping di Gunung Papandayan Garut Jawa Barat beserta teman dan guru-guru. Gunung Papandayan adalah gunung yang tampak terlihat jelas dari kampungku. Namun walaupun cukup dekat, saat itu Aku baru pertama kali menginjakkan kaki di sana. Daaaan... betapa terpukaunya aku melihat pohon-pohon pinus dan cemara gunung yang berjejer rapi, indah dipandang yang memenuhi sepanjang perjalanan. Duuuh aku mendadak jatuh cinta pada pohon itu. Seandainya aku punya keberanian, ingin rasanya membawa pulang beberapa anakannya untuk kutanam di depan halaman rumah.

Semakin tumbuh besar, aku sudah tak bisa dipisahkan dari yang namanya pohon. Maka ketika merantau ke Batam dalam rangka bekerja, aku sangat antusias ketika mendapati bahwa pulau ini masih hijau tertutup hutan. Apalagi di sekeliling dormitory tempatku tinggal masih dikelilingi oleh hutan yang rapat. Dan hanya dalam hitungan seminggu saja begitu aku tiba di Batam, aku sudah kelayapan main ke hutan. Menikmati segarnya hembusan udara dari dedaunan yang membentuk canopy hutan. Yang menguarkan hawa segar yang khas nan alami. 

Aku dan Teman-Teman di hutan
Ya hampir setiap hari Sabtu dan Minggu Aku bermain ke hutan di sekitar dormitory tempat tinggalku. Seringnya berjalan perlahan sambil mengarang puisi galau. Bersahut-sahutan berbalas puisi atau pantun dengan teman-teman. Atau duduk termenung sambil memandang canopy hutan yang begitu lebat. Sesekali menyaksikan sinar matahari yang mengintip diantara dedaunan. Sungguh indah, hening, dan damai. Hilang sudah rasa penat selama seminggu bekerja.

Ketika teman-teman se-dormitory sibuk menghabiskan waktunya ke diskotik dan ke mal-mal untuk belanja, aku malah blusukan keluar masuk hutan. Menyimak simfoni dedaunan beserta gemericik air sungai yang tenang.

Herannya walaupun Pulau Batam bukan pegunungan, kabut sering turun dan mengambang di tengah-tengah hutan, di antara rapatnya pepohonan. Menimbulkan kesan mistis namun romantis. Menyaksikan kabut turun merayapi dedaunan lalu kembali naik ke langit sungguh suatu atraksi alam yang mempesona. Seandainya esok hari seninnya tidak bekerja, aku bahkan ingin selalu berlama-lama di sana.

Aku dan Anakku di antara pohon tumbang di hutan
Pun ketika pindah menempati rumah baru, yang pertama kulakukan bukan mengisinya dengan perabotan atau perkakas rumah tangga melainkan membeli pohon jambu dan mangga untuk ditanam di halaman rumah. Alhamdulillah hingga kini pohon jambunya berdaun lebat dan sudah berbuah walau belum terlalu banyak. Pohon mangga pun perlahan tumbuh tinggi namun belum berbuah karena bibitnya dari biji sehingga harus menunggu sekitar 10 tahunan untuk berbuah.

Sewaktu itu juga Aku aktif di sebuah LSM yang konsen terhadap gerakan penghijauan. Aku selalu ikut bergabung dalam upaya menghijaukan kembali Batam yang semakin hari hutannya semakin tergerus arus pembangunan. Melakukan beberapa kegiatan seperti menanam pohon di sepanjang jalan menuju arah Bandara dan melakukan kampanye menanam sayuran bagi masyarakat pulau-pulau di kawasan  hinterland

Aku selalu ingat sebuah hadist Rasulullah tentang keutamaan menanam pohon:


“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya”. [HR. Al-Bukhoriy] 


Walau sudah berumah tangga dan mempunyai anak bukan halangan bagiku untuk tetap bermain di lebatnya peopohan hutan, malah Aku selalu mengajak suami dan anakku untuk ikut serta bermain-main ke sana.

Semoga saja dengan langkah kecilku yang tak seberapa ini, akan beroleh pahala yang terus mengalir sepanjang hidup hingga aku meninggal dunia.

Tulisan ini diikutsertakan pada "Give Away Aku dan Pohon” yang diselenggarakan oleh Mbak Murtiyarini.






Rabu, 04 September 2013

Jalan-Jalan ke Marina Bay, Singapura

Dari Ki-Ka ArtScience Museum, Singapore Flyer, Marina Bay Sands (dokpri)
Hari ketiga di Singapura, 09 Agustus 2013 Saya, Suami dan Chila mengunjungi Marina Bay (Teluk Marina), sebuah kawasan wisata terpadu yang di dalamnya terdapat beberapa objek wisata terkenal yang dapat dikunjungi sekaligus hanya dengan berjalan kaki mengitari kawasan teluk.

Objek yang seringkali  dijadikan land mark Singapura seperti Esplanade Theatre, Patung Merlion dan Bianglala terbesar di dunia Singapore Flyer, semuanya ada di sini dan tampak jelas dari berbagai sisi.

Kini di kawasan ini telah berdiri pula dengan megahnya tidak tanggung-tanggung 3 tower sekaligus .Tower-tower itu diberi nama Marina Bay Sands. Yang dijadikan pusat hiburan terpadu yang dikembangkan oleh Las Vegas Sands. Perusahaan Resort dan Kasino dari Nevada, Amerika Serikat yang ternyata memenangkan lelang untuk pembangunan kawasan terpadu ini. Mungkin karena itulah diberi nama Marina Bay Sands.

Patung Merlion dan Esplanade Theatre
Marina Bay Sands memiliki tiga tower dengan 2.561 kamar hotel, satu musium (ArtScience), 2 teater, 7 restoran, Pusat belanja termewah (The Shoppes), kasino yang sangat luas, Taman langit (Sky Park), Kolam renang tanpa batas (infinity edge) sepanjang 150 meter yang menggantung di atas ketiga tower, juga ruang pameran dan  pertemuan seluas 120.000 meter persegi.(Berbagai sumber) 

Jalan Menuju Marina Bay Sands
Saat keluar dari Stasiun MRT Marina Bay, ternyata begitu banyak orang yang menuju ke arah yang sama dengan kami. Syukurlah akhirnya tidak perlu susah-susah mencari atau menanyakan jalan lagi.

Setiba di Marina Bay-nya (tepat berhadapan dengan teluk) Banyak polisi berjaga di sana sini. Lautan manusia dengan berbagai warna kulit dan bahasa bak ditumpahkan saja dari langit sana.

Di lapangan hijau diantara gedung-gedung pencakar langit, ribuan orang dengan kostum merah telah ramai dan duduk rapi menggelar acaranya sendiri. Suami yang kebetulan berkaos merah pun tak ketinggalan narsis minta di foto.Mungkin merasa senang ternyata dress code hari itu kebetulan sama :D


Diantara Pengunjung yang Berdesakan
Kami memilih untuk duduk di salah satu sisi pagar yang mengitari teluk seperti yang dilakukan sebagian orang-orang. Bedanya mereka telah siap dengan berbagai perlengkapan. Duduk beralaskan matras, membawa payung, perbekalan makanan dan tak lupa kamera DSLR dengan tripod yang telah ditegakkan. Sedangkan kami modal lesehan sendal saja hehe namanya darurat. Nggak tau kalau ternyata seriweuh ini.
Bersama sebagian yang Merayakan National Day





Duduk sambil memperhatikan sekian ribu orang yang lalu lalang ujung-ujungnya malah membuat saya mual. Namun sejenak ada keasyikan tersendiri saat memperhatikan mereka yang lewat  itu. Terkadang saya bertasbih menyebut Asma Allah. Subhanallah, saya menyaksikan orang-orang dari berbagai ras dan bangsa berkumpul sekaligus di tempat ini. Ada yang berkulit putih, merah, kuning langsat, coklat, sawo matang, hitam, agak hitam hingga benar-benar hitam legam. Tentu dengan ciri-ciri khas genetik lain yang melekat pada mereka. Seperti berambut pirang, bermata sipit, bergigi putih, bermata hijau, biru dan sebagainya. Ini membuat saya bersyukur bahwa saya memiliki fisik yang tidak terlalu mencolok. Hitam tidak putih juga tidak. Tinggi tidak pendek sih iya. hehe.. pokoknya saya tetap bersyukur atas apa yang saya terima dari sisi Allah SWT.

Ternyata hari itu adalah Hari Kemerdekaan Singapura. Beuuh pantesan bendera berkibar dimana-mana.  Dan selang setengah jam kami berputar-putar, upacara peringatan National Day dimulai. Upacara ini dihadiri oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan jajaran kabinetnya. Dimeriahkan juga oleh berbagai atraksi dan parade show dari para tentara. Namun sayang kami berada di posisi sebrang teluk sehingga pemandangan ke arah lokasi acara terbilang jauh. Mendekat pun sia-sia karena begitu berjubelnya dengan lautan manusia.


Iring-iringan Helikopter Membawa Bendera Singapura

Karena di tempat kami duduk mulai sesak dengan lalu lalang, kami berjalan mendekat ke arah gedung informasi. Tiba-tiba di langit terlihat iring-ringan helikopter yang membawa bendera Singapura.
Mengantri di Toilet Portable :D

Sesaat setelah helikopter menghilang, deru pesawat tempur yang sedang melakukan manuver muncul di tengah-tengah langit Marina Bay. Pengunjung seketika bertepuk tangan. Sebagian  lagi menutup telinga karena suaranya yang sangat memekakkan telinga.


Kami memilih putar balik mengelilingi Teluk Marina berlawanan arah jarum jam. Kemudian bertanya-tanya kepada orang-orang dan security tentang arah jalan ke Garden by the Bay. Taman Buatan yang di dalamnya terdapat SuperTree, pohon lampu yang bisa berubah warna-warni dan tampak semakin indah jika malam tiba. 

Ternyata jalan tercepat adalah dengan memasuki Marina Bay Sands, menaiki eskalator dengan melewati ruang kasino dan restoran, kemudian melintasi Galeri yang menjual barang-barang mewah merk terkenal yang waaah.... lalu kami tiba di jembatan penyebrangan yang melintasi jalan raya. Dan sampailah di Garden by the Bay.

View Marina Bay Sands dari Garden by the Bay (dokpri)
Seperti apa sih dalam-dalamannya Marina Bay Sands itu? Wuiiih....kereen! bikin geleng-geleng kepala. Suatu hari pengen banget nginep di hotel ini tapi jangan sampai deh aku yang mengeluarkan uang sendiri. Harus ada yang bayarin atau ada teman atau bos yang nraktir haha. Tiketnya itu loh paling murah sekitar 1,3 juta rupiah per malam. Mendadak bikin kempes dompet deh.  *Hihi otak emak-emak banget :D

Jangan Lupa baca cerita sebelumnya:
Jalan-Jalan ke Jurong Bird Park Singapura



Selasa, 03 September 2013

Kinahrejo, Riwayatmu Kini dan Dulu



“Dan, tempat ini pun pastinya tak selaras dengan napas keindahan yang kau asakan. Ini bukan wahana penenggat penat. Bukan pula sarana rehat. Ini sebuah tempat yang sangat akrab dengan bahaya. Lihatlah puncak gunung yang terbelah, dengan kepulan asap solfatara yang menguar dari celah kawah. Tataplah bebatang pohon yang pekat. Rumah-rumah separoh rencah, perabot nan sisakan kerangka besi atau belukar hangus yang menghamparkan permadani kelam.”  Petikan kalimat dari Cerpen berjudul Attar karya Afifah Afra.
Gunung Merapi. Gambar diambil dari GoIndonesia
Bicara tentang keindahan alam di Indonesia memang tak kan pernah ada habisnya. Uniknya keindahan-keindahan itu sebagian besar diakibatkan oleh bencana alam. Maksud bencana alam di sini adalah “Bencana yang disebabkan oleh kekuatan alam secara alami tanpa campur tangan manusia”.

Alam memang punya cara kerja yang unik. Semakin ia rusak karena ulahnya sendiri maka ia  semakin cantik dan menarik dalam pandangan manusia. Bahkan banyak mendatangkan manfaat dan berdaya guna tinggi bagi kehidupan manusia itu sendiri. Tak percaya? Lihatlah Danau Toba. Keindahan yang tercipta di sana  adalah sebuah karya besar alam tersebab ledakan dahsyat  super volcano Gunung Toba puluhan ribu tahun yang silam. Lihatlah bentangan alam Gunung Rinjani yang berpagarkan tebing dan jurang, dengan kalderanya yang terhampar menaungi Danau Segara Anak dan Gunung Baru Jari dampak letusan yang terjadi tahun 1257. Keduanya indah bukan?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...