Wednesday, October 30, 2013

Antara Body Slim dan Notebook Slim


Hei Mak, ngaku deh pasti semuanya pada kepengen punya tubuh yang ideal kaaan? Kalau disuruh nyebutin apa sih ciri-ciri tubuh ideal itu, saya sih haqqul yakin emak-emak bakalan serentak serempak bak paduan suara, salah satunya pasti nyebutin kata  “Langsiiiing…,” kalau di iklan-iklan televisi sih seringnya disebut dengan kata “slim.”

“Slim salabim abrak kadabrak,”  (ini mantra asal loh mak :D) tadaaaa….gara-gara minum teh atau susu maka si model iklan yang emang dari sononya udah slim berubah mendadak langsing bin ramping. Sampe-sampe badannya bisa melewati celah sempit saking langsingnya. Ah mak jangan percaya deh sama iklan-iklan begituan. Swear deh gak bakalan ramping dengan cara instan seperti itu. 

Semenjak punya bayi, berat badan saya malah turun drastis hingga mencapai angka 42 kg seperti sekarang ini. Kurus banget kan ya? Padahal sewaktu kelas 3 SMP berat badan saya segitu juga loh :D. Dan itu bukan gara-gara minum pelangsing loh. Karena kurus itu sampe-sampe saya diledekin suami gini "makanya bunda jangan makan hati terus, tapi makan nasi," hihi... Lah kumaha ieu teh

Jadi tak perlu pusing minum-minum teh atau susu pelangsing ya mak. Menyusui, olahraga teratur, makan makanan yang sehat dan bergizi, serta menjaga pola makan itu juga bisa membuat langsing loh. Tapi jangan sampe kelewat kurus seperti saya, ya ya ya. Laah ini kok malah ngebahas gaya hidup sehat sih :D

Eh mak, ternyata gak body aja loh yang harus slim, buat saya nih yang suka nulis dan kelayapan ke luar buat jalan-jalan atau traveling, punya laptop yang tipis itu kudu dan wajib. Apa gak gempor ya mak kalau setiap jalan barang bawaan kita seabrek ditambah laptop yang tebel dan berat. Hadooh pulang-pulang bisa-bisa pergi ke tukang pijit terus deh.

Oya sekarang Acer produsen laptop terkemuka mengeluarkan Acer seri terbarunya yaitu Acer E1 slim series. salah satunya Acer Aspire E1-432 yang paling tipis di kelasnya. Yang pasti keunggulannya lebih tipis dan mudah dibawa kemana-mana. Praktis tidak perlu tas khusus buat nyimpennya. bisa dimasukin tas ransel atau tas jinjing sekalian. Udah gitu karena tipis maka tidak berebut ruang sama benda lainnya. Mudah dibawa kemana-mana jadi mobile gak takut ribet.

Tertarik kan mak? Yaiyalaah. Apalagi tuh buat emak yang masih punya anak TK atau SD, terus meski nungguin anaknya di sekolah, kan daripada bengong lebih baik nulis atau online pakai laptop E1-432 ini. Praktis. Kalau nulis di handphone atau tablet dijamin gak puas deh. Apalagi yang tulisannya suka panjang dan dikirim buat media. Hadoooh meski ribet pindahin sana-sini pakai bluetooth terus begitu dipindahin meski merubah settingan tulisannya. Font atau sizenya.

Nulis langsung di laptop terus laptopnya juga bisa mobile dibawa kemana-mana itu sungguh keren mak. Tertarik kaaan?

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.







Wednesday, October 23, 2013

Travel Blogger Harus Punya Notebook ini



Saya seorang pecinta traveling. Terutama menyukai aktifitas traveling yang beraroma petualangan alam seperti mendaki gunung, menjelajah hutan, menyebrangi laut, atau mengunjungi pulau-pulau kosong, dan menyusuri pantai, goa, serta kegiatan yang memacu dan memicu adrenalin lainnya. Walau tidak dipungkiri saya juga sebenarnya menyukai traveling ke tempat-tempat wisata umum yang turistik seperti Bali dan Singapura, namun tetap saja kegiatan petualangan ke alam bebas menempati urutan pertama dalam daftar  most wanted activity dalam hidup saya :D

Setiap traveling atau jalan-jalan saya senantiasa mensiasati agar melakukan perjalanan sehemat dan semurah mungkin, baik dari segi transportasi, konsumsi, maupun akomodasi. Namun tetap tidak menghilangkan unsur aman dan nyaman. Ibaratnya sih kalau bisa jalan kaki kenapa harus naik bis. Kalau bisa kemping buka tenda sendiri kenapa harus menginap di hotel. Atau kalau bisa masak sendiri kenapa juga harus makan di restoran.

Barang bawaan pun saya ringkas dengan menggunakan ransel (backpack) saja. Sebisa mungkin saya hanya menggunakan satu ransel yang tinggal digemblok saja di punggung. Ringkas dan tidak ribet. Tidak harus angkat jinjing tas atau dorong-dorong koper. Walau barang bawaan emak-emak tergolong banyak karena harus mengikutsertakan perlengkapan si kecil, namun Alhamdulillah sejauh ini saya mampu mensiasatinya. Orang bilang gaya traveling seperti saya tadi disebut backpacking. Gaya jalan-jalan ala ransel bukan ala koper.

Sebagai seorang backpacker amatiran, saya suka sekali menuangkan kisah perjalanan backpacking saya ke dalam sebuah tulisan. Saya bahkan mengkhususkan blog ini sebagai travel blog yang merekam jejak perjalanan saya selama mengunjungi berbagai tempat yang menarik di wilayah-wilayah Indonesia dan lainnya.

Menuliskan catatan perjalanan dan kemudian mengunggahnya ke dalam blog akan lebih seru dan up to date jika menuliskannya pada saat kegiatan jalan-jalan itu berlangsung. Namun tak jarang ketiadaan laptop atau komputer di lokasi jalan-jalan membuat catatan-catatan perjalanan itu hanya tersimpan dan mengendap di dalam memori otak saja. Padahal banyak hal penting dan momen berharga lainnya yang seharusnya saya langsung tulis saat itu, malah menjadi sia-sia. Terkadang ketika sudah pulang ke rumah malah terlupa untuk menuliskannya sehingga blog pun tidak ter-update dan momen penting itu pun terlewatkan begitu saja.

Pernah suatu ketika akan pergi jalan-jalan, saya ingin membawa laptop. Alasannya biar bisa tetap menulis selama perjalanan dan merekam langsung jejak perjalanan tersebut agar tidak keburu lupa. Dengan membawa laptop, foto-foto yang diambil oleh kamera saku pun dapat segera dipindah dan diedit. Apalagi saat itu semangat menulis saya sedang menggebu-gebu. Namun apa daya ketika hendak memasukkannya ke dalam ransel yang sudah penuh dengan barang-barang lainnya, laptop pun sudah tidak muat lagi. Apalagi isi ransel saya bagai cerminan isi rumah. Di dalam ransel terdapat tenda, perlengkapan masak, pakaian, kebutuhan logistik, P3K, dan lainnya. Saya pun akhirnya harus merelakan si laptop tidak terangkut ransel karena faktor berat dan tidak ketersediaan ruang dalam ransel tadi. Hikss…

Walaupun demikian, dalam perjalanan itu saya berusaha tetap menulis dengan peralatan seadanya. Seperti misalnya menggunakan smart phone. Namun sayang, perangkat ini kurang nyaman dan tidak leluasa. Saya pun beralih menulis di tablet. Yang ada saya malah tambah putus asa karena menulis di tablet ternyata membutuhkan waktu yang lama. Layarnya yang sensitif membuat hurufnya berlari-lari ke sana kemari. Huruf-huruf itu seakan berloncatan. Memencet A berubah menjadi S, mengetik U berubah I, memencet N berubah jadi M. Duh apa jari-jari saya memang jempol semua ya? *Mata saya nanar menatap jari-jemari.

Ah seandainya si laptop itu terbawa. Maka akan banyak cerita yang dapat saya bagi secara live. Namun sayang ia harus berbagi ruang dengan barang lain. Seandainya si Latifeh laptop itu bisa mengecil sedikiiit saja mungkin bisa nyelip-nyelip dalam salah satu bagian pouch (kantong) ransel. Nah sebab itu  yang saya butuhkan adalah laptop yang lebih tipis sehingga mudah menyimpannya dalam backpack sekalipun bacpack ukuran kecil. Saya yakin seluruh travel blogger akan sangat menginginkan jenis laptop seperti ini.

Ketika browsing dan membuka website Acer, saya terkejut senang karena ternyata Acer mengeluarkan produk terbarunya yakni Aspire E1-432 yang tipis 30% dibanding notebook keluaran Acer lainnya. Waaah ini mah muat banget untuk diselip-selipin di ransel saya. Apalagi ketebalannya hanya sekitar 25,3 mm saja.

Gambar diambil dari sini
Tidak hanya tipis notebook  Aspire E1-432 juga dilengkapi dengan fitur penting yang terdapat pada laptop secara umum. Dengan DVD-RW, 3 buah port USB, VGA port HDMI port, webcam HD, dan juga port LAN untuk terhubung dengan jaringan hotspot.

Ah walaupun belum punya rasa-rasanya kudu punya nih laptop Aspire E1-432 ini selain keunggulan fitur-fitur di atas tadi produk ini menggunakan prosesor Intel Celeron 2955U yang efisien.

Jadi seandainya saya jalan-jalan dan menulis, maka laptop ini menjadi pilihan utama saya.
.
Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh KumpulanEmak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

Tuesday, October 8, 2013

Khatib, Mengunjungi Sisi Lain Singapura

Tak disangka ketika  jalan-jalan ke Singapura saya mendapat bonus bertemu teman yang lebih dari 13 tahun kehilangan kontak. Teman satu rekrutan dari Garut dan Tasikmalaya pada perusahaan tempat saya bekerja sekarang.


Menuju Rumah Ronida
Endah dan Ronida. Mereka adalah dua orang teman yang saya maksud. Mereka telah lama bermukim di Singapura mengikuti jejak para suami yang orang asli sana. Endah tinggal di Toa Payoh sedangkan Ronida di Khatib. Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk mengunjungi kedua lokasi tersebut maka saya dan Endah sepakat untuk bersama-sama bertemu di rumah Ronida.


Bertemu dengan mereka adalah hal yang paling membuat saya bersemangat pagi itu. Maka setelah sarapan, saya bersama suami dan Chila meninggalkan hostel dengan menaiki bis menuju Stasiun MRT City Hall. Dari stasiun ini kami menaiki MRT yang berada di jalur merah dengan kode jalur NS (North South). Jalur ini menghubungkan wilayah-wilayah Singapura dari utara ke selatan.

Di stasiun Toa Payoh kami turun untuk menunggu Endah.10 menit kemudian Endah muncul beserta anaknya, Lingling yang berwajah oriental. Saya cukup terkejut karena sedikit pun si Lingling ini tidak mirip emaknya. Gen Bapaknya sepertinya tumpah ruah sangat dominan menguasai 99,99 persen tubuhnya.Tak lama setelah pertemuan itu kami melanjutkan naik MRT menuju ke kawasan Khatib. Tidak perlu berganti jalur karena Khatib berada di jalur yang sama dengan Toa Payoh. 
Perumahan tempat tinggal Ronida

Tempat Ronida ternyata tak begitu jauh dari Stasiun Khatib. Hanya berjalan sekitar 10 menit kami sudah tiba di rumahnya. Eh jangan dikira rumah di Singapura seperti rata-rata bentuk rumah di Indonesia yang beratap genting dengan bangunan bertingkat satu atau dua.Tidak. Rumah tinggal di sini ternyata mirip apartemen atau memang sebenarnya apartemen. Kata Endah, hanya orang kaya yang luar biasa kaya saja yang mampu mempunyai rumah sendiri tanpa diembel-embeli bangunan lain. Ya maklumlah karena Singapura termasuk negara kecil jadi pembangunan perumahan, mal dan lainnya sangat menghemat lahan. Pembangunan banyak dilakukan dengan cara membangun ke atas bukan ke samping. Hehe jadi berasa iklan susu remaja "Tumbuh itu ke atas bukan ke samping :D"
Kami bertiga dan para krucil

Saat itu saya masih berasa seperti mimpi. Duh 13 tahun tidak bertemu membuat kerinduan itu seperti meledak seketika itu juga. Alhasil kami bertiga bak anak kecil. Ketawa-ketiwi, ngalor-ngidul membicarakan segala hal tentang masa lalu sampai-sampai suami dan anak-anak pun kami cuekin. Untung saja mereka mafhum. Suami saya hanya duduk sambil baca-baca sedangkan anak-anak sibuk bermain walau sekali-kali Sammy dan Sasa anak-anaknya Ronida mengadu tentang kenakalan Lingling yang teramat usil dan "very-very Naughty" katanya. Sedangkan suami Ronida idak ada di rumah karena bekerja di Dubai Uni Emirat Arab.

Bayangkan begitu banyak cerita yang tak pernah kami rumpikan selama 13 tahun ini. Ah bahagianya bertemu teman lama. Mengalahkan bahagianya bisa jalan-jalan kemana pun.

Siangnya kami mengajak anak-anak bermain di taman air di Seletar Reservoir yang tak jauh dari situ. Taman air yang khusus disediakan bagi anak-anak. Ada kolam-kolam air yang dangkal, air mancur yang bisa disetting besar kecilnya juga pancuran serta shower air yang mirip payung. Asyiknya lagi semua itu gratis. Anak bayi yang sudah bisa duduk usia 7-8 bulan saja sudah dapat menggunakan fasilitas ini. Tentunya dengan didampingi orang tuanya. Dan serunya lagi fasilitas publik semacam ini tersebar di seluruh kompleks perumahan dan pusat perbelanjaan di Singapura.

Chila dan Sasa



Salut sekali. Pembangunan di negara ini ternyata sangat pro kepada anak-anak. Ah gimana nggak pro, laah... bayi yang baru dilahirkan saja mendapat tunjangan langsung kurang lebih 2000 dollar Sing Woow. Dan melahirkan anak kedua serta ketiga tunjangannya lebih besar lagi dibandingkan anak pertama. Ini terbukti pada Ronida. Dia bilang anak ketiganya mendapat tunjangan lebih besar dibanding Sammy dan Sasa kakak-kakaknya.

Wah bayangkan kalau tunjangan itu berlaku di negara kita ya? :D Apa nggak berlomba-lomba kita ingin punya anak banyak.

Sorenya kami pamit, seandainya cukup waktu tentu saja ingin berlama-lama di sana. Namun masih banyak tempat lainnya yang ingin kami kunjungi termasuk Pulau Sentosa.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...