Friday, November 22, 2013

Blusukan di Acara Lomba Lintas Bukit Cumfire 2013

Endi, sahabat yang saya kenal semenjak tahun 1999, mengajak saya untuk ikutan acara Lomba Lintas Bukit yang diadakan oleh komunitas Pecinta Alam Cumfire Batam. Dulu kami sering menjadi panitia acara ini. Nah sekarang ketika sudah nggak aktif lagi di komunitas ini rasa-rasanya perlu juga mencoba jadi peserta. Syaratnya hanya membayar uang pendaftaran 60 ribu rupiah per tim dengan anggota tim berjumlah 3 orang. Jadi Endi dan saya pun sibuk mencari siapa orang ketiga yang akan ikut dengan kami.
Endi dan Meri

Syukurnya ada Meri, rekan di tempat kerja saya yang mau bergabung. Dia antusias sekali. Sudah lama anak ini termehek-mehek pengen ikut setiap kali saya kemping atau ada acara outdoor lainnya. Jadi sekali ajak saja dia udah girang minta ampun.

Alhamdulillah suami ngasih izin juga. Rencananya Chila di rumah saja bareng ayahnya. Namun nggak disangka-sangka ternyata suami mendadak harus lembur. Waaah jadi Chila sama siapa dong? Kalau dititip sama si Uwa, yang biasa jaga, kasihan juga. Sementara setiap pagi hari Chila selalu menghitung hari bak Krisdayanti :D
     “Bunda hari ini hari apa? “
     “Senin Nak.”
     “Waah berarti besok Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, daaan Mingguuuu...horeee Bunda libur.”

Hikss...setiap pagi dikala bangun tidur Chila selalu menanyakan ini hari apa. Dan mengulangi ucapan tadi dengan redaksi yang sama. Kasihan banget nih anak. Ketauan kangen banget pengen manja-mnaja di rumah sama bundanya. Jadi ketika tau ayahnya kudu kerja saya hampir ngebatalin rencana ikutan lomba tadi. Tapi pas ngobrol-ngobrol sama Chila ternyata dia juga mau ikut. Horee...!!! Ya sudah deh Chila diajak sekalian. Biar aja kami berempat, toh niatnya bukan untuk menang lomba kok tapi untuk mengenang kembali peristiwa-peristiwa yang biasa saya dan Endi lalui dulu. Ya kami memang lagi kangen hutan.

Chila di Garis Start
Hari Minggu tanggal 10 November 2013 acara Lomba Lintas Bukit yang ke-20 digelar. Seluruh peserta berkumpul di Lapangan Community Centre (CC) Muka Kuning Batam. Walau pagi itu hujan, acara tetap berlangsung meriah. Tak kurang dari 210 tim yang ikut. Berarti ada sekitar 630 peserta dalam event ini. Lumayan ramai. Tapi semasa saya jadi panitia tahun 2002 silam (aaah... sudah lama sekali yaa..) pesertanya hampir seribu orang. itu pun banyak peserta yang mendaftar di hari terakhir ditolak karena panitia sudah kerepotan.

Diantara peserta kami bertemu juga dengan seinior-senior saya Aa Sam dan Aa Rahmat yang sama-sama menjadi peserta. A Sam malah lengkap dengan Istri dan ketiga anaknya. Sedangkan A Rahmat hanya dengan dua naknya. Ninuk istri A Rahmat nggak ikut karena sedang hamil muda.

Keberangkatan peserta diatur per 10 tim tiap 3 menit sekali. Sedangkan kami kena giliran paling akhir. Nyesel juga berangkat belakangan soalnya bawa Chila yang tentu jalannya akan lebih lambat.

Rute dan jalur Lomba Lintas Bukit yang ditempuh memasuki kawasan Hutan Lindung Muka Kuning. Mulai dengan menyusuri jalanan di kawasan Simpang Dam, Perumahan Otorita lalu naik ke Bukit Gundul (begitulah kami menyebutnya :D) lalu baru memasuki hutan. Turun naik bukit berkali-kali. Sementara jalur sangat licin, becek, penuh genangan air serta lumpur. Chila malah enjoy menginjakkan kakinya di lumpur-lumpur hitam sepanjang jalur. Tampaknya dia menikmati sekali berbecek-becek ria. Ah biarkan saja. Sewaktu kecil dulu saya juga sama paling suka sama tempat basah dan becek seperti itu :D Selamat menikmati Chil!

Benar dugaan saya. Kecepatan berjalan kami memang paling lambat di antara seluruh peserta lainnya. Laah terang saja bawa balita. Untungnya sekali-kali saja Chila minta digendong. Kalau lihat jalur becek dia meronta-ronta pengen turun dari gendongan. Lalu menginjakkan sendalnya ke lumpur becek sambil menghentak-hentakkan kakinya. "chila suka deh sama jalan ini" katanya. Tak ayal celana tidur panjang yang dikenakannya sudah berlumuran lumpur sampai ke paha. Hihi...dia emang salah kostum. Gara-gara pagi-pagi sebelum berangkat dia ngambek-ngambek nggak mau pake baju yang lain. Ya sudah daripada nggak jadi pergi, pakaikan aja baju sesuka hati dia. Namanya juga anak-anak.

Selepas Bukit Gundul ternyata banyak peserta yang beristirahat. Chila senangnya minta ampun karena sudah menyusul peserta lain. Dia pun nggak mau beristirahat tetap maju terus. Ayo Chil...semangaaat!

Lama-kelamaan jalur semakin berat. menanjak, menurun, dan licinnya minta ampun. Tak ayal membuat para peserta brak-bruk...gedebak-gedebuk...satu per satu tumbang berjatuhan bagai jatuhnya nangka yang sudah masak di pohon. Setiap ada yang jatuh suasana menjadi riuh rendah, bersahutan saling teriak, tertawa, dan saling mengejek.

Pyuuuh...memang jalurnya luar biasa sodar-sodara. Bikin pinggang terasa fatah-fatah :D saking menantangnya. Hingga satu ketika Chila tampak mulai capek. Namun karena dari awal sudah saya pesan tidak boleh mengeluh dan bilang capek, nih anak benar-benar konsisten memegang janjinya. Tidak sepatah kata pun kata capek keluar dari mulutnya. Karena kasihan saya pun akhirnya bertanya padanya "Chila capek?" lalu dia pun menganggukkan kepalanya ragu-ragu. Duh terharu dan kasihan lihatnya. Saya pun mengajaknya untuk beristirahat sejenak sambil makan camilan coklat dan roti.

Keikutsertaan Chila tak urung mengundang decak kagum peserta lainnya yang hampir semuanya sudah dewasa. Sepanjang perjalanan Chila selalu menjadi objek pembanding bagi mereka yang kelelahan. "Tuh lihat adik kecil aja kuat masa sih kamu nggak kuat." Kata mereka. Alhamdulillah Chila memang luar biasa. Saya awalnya was-was apakah dia bisa atau tidak. Sesekali memang minta gendong namun tetap aja dia juga berjalan berpuluh hingga beratus meter ke depan.

Untungnya sejauh apa pun banyak yang simpati padanya. Seperti seorang Bapak-bapak yang sedari awal sering godain Chila berkali-kali menawarinya untuk digendong. Semula Chila menolak namun setelah saya bujuk-bujuk  akhirnya dia mau juga. Yaiyalaaah... kesempatan saya untuk meringankan beban haha. Alhamdulillah banget beban saya berkurang belasan kilogram :D

Di tanjakan mendekati pos 2 saya dan Chila tengah berdiri sejenak untuk mengatur posisi langkah karena banyak terdapat akar dan ranting yang menghalangi. Tiba-tiba braaak...sebatang kayu jatuh tepat di depan kepala saya dan menyentuh ujung topi yang saya kenakan. Sementara Chila yang berdiri tepat di depan saya mendadak menjerit dan menangis sekencang-kencangnya. Saya syok, kaget. Masya Allah takutnya kayu tadi kena kepala Chila. Saat ditanya Chila bilang kakinya yang kena timpa kayu. Begitu diperiksa kakinya memang berdarah dan Chila tidak bisa berjalan lagi.

Chila pun saya gendong namun ketika hendak menyebrang danau, si Bapak yang tadi menggendong Chila menawari kembali untuk menggendongnya. Melihat jembatan penyebrangan cuma sebatang pohon saja jujur nyali saya langsung ciut. Nggak berani gendong Chila dengan kondisi penyebrangan semacam itu. Dan ketika menyerahkan Chila ke gendongan Bang Ali, nama si Bapak itu, dia tampak gemetaran. Saya semakin panik. Apalagi di danau itu tak ada sedikit pun alat lain sebagai alternatif untuk menyebrang. Duh saya khusuk berdoa. Takut terjadi apa-apa sama Chila. Apalagi ayahnya Chila sudah berpesan "Tanggung jawab ya Bunda kalau kenapa-napa sama Chila." Kalimat itu terus terngiang sepanjang perjalanan membuat saya kurang menikmati karena harus berbagi was-was dengan kekhawatiran akan keselamatan Chila. Beuh...si ayah kenapa harus ngomong begitu jadinya malah berpengaruh sekali sama psikologi bundanya.

Huh, dari semua lintasan cuma penyebrangan di danau ini yang benar-benar membuat saya takut bukan kepalang. Batang yang licin dan lumayan panjang membuat jantung dag dig dug tak karuan. Alhamdulillah Chila berhasil disebrangkan. Duh Bang Ali makasih banyak ya, Saya malah belum berucap terima kasih kepadanya saking khawatirnya.

Ketika mencapai Pos tiga di Pancur Simpang Dam, Chila udah bisa dilepas dari gendongan dan mengobrol dengan panitia sambil lukanya ditetesi betadine. Dia kemudian bertanya apakah lukanya sudah sembuh. Saya jawab sudah, hanya untuk memberinya sugesti supaya dia tidak terlalu kesakitan.Padahal kaki Chila berhari-hari kemudian masih tampak bengkak.

Saat menggendong Chila di penyebrangan terakhir menuju kawasan Simpang Dam, saya sudah tak kuat lagi. Otot-otot paha menegang jari-jari kaki kram luar biasa dan badan hampir roboh.

"Chil boleh nggak Chila jalan, bunda udah nggak kuat lagi nih mau pingsan rasanya." Bujuk saya.
"Iya boleh, bunda-bunda jangan pingsan ya. Bunda harus kuat." Kata Chila sambil turun dari gendongan. Pyuuh...narik nafas lega. Alhamdulillah Chila udah bisa jalan lagi. Walau saya tau sebenarnya kakinya masih berdarah. Makasihya Nak atas pengertiannya.

Sekitar Jam 3 sore kami akhirnya tiba kembali di lapangan CC. Hingar bingar suara music terdengar. Saya dan Chila langsung bersih-bersih dan ganti pakaian.

"Halo, Ayah..ini Chila, Chila udah kembali dengan selamat." Chila antusias menelpon ayahnya yang masih kerja.

Foto-foto menyusul jaringan lemot sekali.


 



Jadi Tour Guide Keluarga ke Singapura

Tanggal 31Oktober sampai  4 November 2013 kemarin, saya mengantar adik dan sepupu dari Bandung jalan-jalan ke Singapura. Sebenarnya agak malas juga sewaktu berangkat itu, tapi rasanya gak tega kalau semisal mereka nyasar-nyasar di negeri orang tanpa tujuan. Saya juga sebenarnya yang harus bertanggung jawab kalau mereka kenapa-kenapa. Toh memang saya yang menjerumuskan mereka untuk berangkat.

Nah sewaktu gencar-gencarnya promo tiket murah Air Asia beberapa bulan lalu, iseng sih hunting tiket mana tau ada destinasi impian yang harganya murah untuk kami sekeluarga. Semua jurusan di klik. namun sayang sayanya belum nemu juga. Nggak sengaja lihat tujuan Bandung – Singapura cuma 189 ribu. Ah lumayan murah segitu mah. Pulang pergi kan jadi RP 378.000. Setelah mikir-mikir kayaknya seru juga kalau booking-in buat adik. Tapi kasihan kalau dia pergi sendiri jadi sekalian deh saya booking-kan untuk dua orang sepupu kami juga. Setelah sms nanya-nanya nama lengkap dan tanggal lahir ketiganya, maka data penumpang pesawat sudah lengkap dan tinggal klik beli (dengan menggunakan Kartu Kredit) maka confirmed pembelian tiket sudah selesai. Itinerary-nya pun tinggal cek di inbox email.

Karena berbagai hal akhirnya yang jadi berangkat hanya 2 orang saja. Adik saya Ahmad Fauzi Ridwan dengan sepupu kami Irfan Ahmad Fauzi. (Laah kok nama keduanya mirip ya malah kebalik-balik :D) sedangkan si Rizal anak paman saya katanya sibuk kuliah. Ya sudahlah berarti tiketnya hangus deh. Duh sayang banget seandainya bisa ganti nama penumpang bisa dialihkan untuk saudara lainnya yang mau. Tapi sayang tiket promo ini gak bisa ganti nama.

Saya berangkat sendiri dari Batam. Bang Ical, Suami saya gak bisa ikut karena kerja. Sedangkan Chila, ah kasihan nanti kecapek-an karena rencananya kami mau muter-muter ke berbagai tempat termasuk ke Pulau Sentosa dan Johor Malaysia. Dan sewaktu ke Singapura Agustus lalu Chila terlihat kelelahan sekali, malamnya mendadak demam walau gak rewel. Jadi biarlah dia ditinggal di Batam sama ayahnya.

Di Singapur saya mengantar keduanya muter-muter ke kawasan Bugis, Little India, Marina Bay, dan Pulau Sentosa. Tak lupa mampir ke Johor juga. Cuma sekedar keren-kerenan aja sih biar mereka senang, numpang cap stempel Malaysia di Passport mereka :D Jadi passportnya sudah di stamp oleh dua negara tetangga Singapur dan Malaysia.

Alhamdulillah senang melihat keduanya begitu bersemangat. Kami tidak sekedar jalan-jalan saja namun juga berdiskusi bagaimana menata lingkungan kita seperti di Singapura yang tertata, rapi, dan bersih. Senang rasanya bisa memasukkan ide-ide dan menyusupkan misi terselubung saya yang sebenarnya. 

Saya percaya, keduanya, adik dan sepupu saya itu adalah calon-calon pemimpin masa depan jadi setidaknya punya gambaran yang real, ideal, tentang tata kota yang nyaman. Hihi muluk banget sih misi saya ini, tapi Alhamdulillah setidaknya mereka punya perbandingan. Apalagi kami berbicara tentang Garut Selatan yang baru saja memekarkan diri menjadi kabupaten tersendiri. Kami mendiskusikan seharusnya ada alat transportasi kereta api serupa MRT yang menghubungkan tiap kecamatan di sana. Kontur alam yang berbukit dan jurang-jurang sebenarnya tidak ideal untuk pembangunan jalan raya, siapa pun yang pernah ke wilayah ini tau bahwa jalan menuju Garut selatan itu berkelok-kelok dan memabukkan. Nah idealnya kan membangun jalur rel kereta api seperti yang pernah dilakukan Belanda dahulu kala di wilayah ini. 

Diskusi terlalu melebar memang, tapi saya senang bisa berbagi pemikiran dengan mereka berdua. Semoga keduanya kelak akan menjadi pemimpin yang diidam-idamkan oleh masyarakat. Pemimpin yang mempunyai visi misi yang kuat untuk membangun ddan memajukan daerahnya.



Berikut foto-foto narsis kami.
Jalan Tempat Hostel Berada
Tempat makan murah di Lavender MRT Station
di Marina Bay
Haha...

Di Pulau Sentosa

Thursday, November 7, 2013

Why? Because it's November!

Hanging Out Bareng Adik
Yes, November sudah tiba walau sebenarnya terlambat posting di tanggal 7 ini :D pengennya posting di awal November sekalian buat give away gitu. Tapi kemaren itu saya lagi kelayapan ke Singapura nemenin adik dan sepupu dari Bandung yang sengaja saya traktir jalan-jalan ke sana. Alhamdulillah bisa nyenengin mereka gara-gara dapat tiket promo Air Asia seharga 180 ribu Bandung-Singapura. Jadi sayang kalau nggak diambil. Tiket segitu terbilang murah lah. Kebetulan juga, ini sih hitung-hitung ucapan selamat buat adikku yang lulus masuk Perguruan Tinggi Negeri di Bandung, yaitu UPI setelah berjibaku ikut berbagai macam tes di PTN lainnya. Untung tidak putus asa padahal sudah 7 kali gagal tes. #salut banget sama perjuangan adikku yang satu ini.

Back to topic. Give away! ya pengen banget ngadain Give Away di bulan November ini. Pasalnya ini adalah bulan kelahiran saya yang sebenarnya. Loh emang ada gitu yang palsu? Iya ada sih.Tanggal lahir saya di KTP tertulis tanggal 16 Juni padahal sebenarnya saya lahir 2 November. Ini sih gara-gara dulu pas masuk SD kudu pas umur 7 tahun, eh jadinya malah umur saya dikorting 5 bulan ke depan.

My Lovely Brother
Berhubung dah terlewat ya sudahlah, give away-nya lain waktu aja kali ya. Namun ketika awal-awal buat blog ini, pertama kali pindah rumah dari Multiply ke Blogspot sini, saya sempet berjanji dalam hati bahwa siapa pun yang jadi follower pertama dan kedua bakal saya kasih kenang-kenangan alias oleh-oleh dari Batam. Bentuknya bisa apa aja deh tergantung pas saya lagi nyari pas dapat. Ya yang penting keren deh kalau untuk ukuran oleh-oleh atau kenang-kenangan mah.

Siapakah Follower pertama dan kedua saya itu? Yang pertama adalah Sindy Shaen (@sinshaen) walau sekarang Sindy ini udah nggak jadi follower saya lagi, entah kenapa hikss...:( dan yang kedua Nduk Ila Rizky Nidiana (@ila_Rizky) Ah taulah semua sama si Nduk imut, baik, pinter dan tidak sombong ini.

Nah jadi kalau Ila sama Sindy bertanya-tanya kenapa? Ya karena hal di atas tadi. Tidak ada alasan lain. Semata-mata karena saya sudah berjanji dalam hati. Nah namanya janji kudu ditepati bukan? Tunggu saja paketannya kurleb 1 minggu ke depan yaaa...paling telat Insya Allah akhir November udah nyampe rumah masing-masing kecuali pake alamat rumah temen kayak Sindy :D


Tuesday, November 5, 2013

Slim Aspire E1, Laptop yang Multifungsi untuk Bekerja dan Bermain Bersama Keluarga

Saya seorang yang mobile dalam bekerja. Tidak melulu duduk manis di depan komputer atau laptop. Terkadang harus ganti ruangan dari ruangan satu ke ruangan lain. Darei satu sub/section ke section lainnya. Bahkan sering pula ganti gedung.

Posisi saya menuntut untuk lebih mengawasi qualitas dan produktivitas para karyawan perusahaan. Setelah itu melaporkannya kepada pihak manajemen secara rutin setiap hari. Namun seringkali laporan yang penuh dengan data, gambar-gambar juga foto kebanyakan tidak terekam dengan baik karena kebanyakan komputer yang digunakan masih pentium 3 dan 4. Dan software yang tertanam di dalamnya sangat terbatas. Sedangkan banyak laporan yang membutuhkan bahan pendukung seperti teknik grafis dengan performa yang tinggi.

Seringkali saya membawa laptop sendiri ke tempat kerja. Syukurnya perusahaan tidak melarang. Namun kerap juga saya mempunyai masalah dengan beberapa tas yang kekecilan. Sedangkan barang-barang yang saya bawa ke tempat kerja ternyata seabrek. Tidak hanya laptop saja namun bekal untuk makan siang, buku, mukena, book note, serta perlengkapan kerja lainnya. Kalau sudah begini seringnya laptop yang mengalah. Seandainya saja laptop saya lebih tipis mungkin tetap masih bisa terbawa ke tepat kerja.

Kadang berandai-andai juga kalau saja saya punya laptop Acer Aspire E1-432 yang lebih tipis 30% dibanding laptop lainnya, mungkin kinerja saya bisa lebih maksimal. Sudah gitu karena ketebalan hanya sekitar 25.3 mm saja maka mudah dibawa kemana-mana. Masuk tas pun tidak membutuhkan banyak ruang. Sedangkan beratnya ya pasti lebih ringan dibanding laptop lain sekelasnya. Hanya sekitar 2,1 kg. Lebih ringan dibanding bayi baru lahir kan? Hehe...

Nah siapa sih yang nggak ingin tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya?Tentu hampir semua dari kita para emak baik yang bekerja di luar maupun di rumah banyak yang menginginkannya. Ah ya para bapak juga tentu malah lebih keren lagi kalau menggunakan notebook slim ini. Lihat deh tampilannya yang elegan menambah percaya diri bagi si pemiliknya.
 
Pilihan warnanya elegan. Foto dari sini

Selain untuk bekerja, notebook Acer Aspire E1-432 juga bisa digunakan untuk bermain game di rumah bersama anggota keluarga.Apalagi si Chila anak saya, suka sekali main game-game tentang merawat bayi. Maklum dia kepengen cepat-cepat punya adik :D 

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan olehKumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...