Sunday, December 1, 2013

Menjajal Wall Climbing di Singapura

Wall  Climbing Carnaval Mall (Sudah gak ada)
Seumur hidup saya yang paling membuat degdegan saking excited dan semangat sehingga menderasnya adrenalin ke sekujur tubuh adalah saat mendaki gunung, manjat wall climbing, belajar main gitar, dan pada akhirnya bertemu mantan pacar yang sekarang sudah jadi suami :D

Tahun 2002 pertama kali menginjakkan kaki di negeri Singa, saya melewati sebuah wall climbing yang keren. Beberapa pemanjat sedang asyik beraksi di wall itu. Asli bikin jantung dag dig dug saking senangnya. Hasrat manjat meledak-ledak tapi sayang waktu saya di sana sangat sempit. Saya harus pulang hari itu juga karena tidak ada rencana menginap. Hanya sekilas menonton saja.


Tahun 2003 Saya sedang main-main ke Batam Centre, dan di samping sebuah mall yang sekarang sudah tutup, Carnaval Mall, berdiri sebuah wall climbing setinggi kurang lebih 15 meter. Wuaah... langsung excited gak mau pulang. Menonton sampai malam menjelang.

Tiba-tiba seseorang menawari saya untuk mencobanya. Hah? Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa ragu langsung mengiyakan. Hmm...dan sensasinya setelah itu luar biasa. Saat tidur yang terbayang papan panjat. Saat makan, tangan nggak bisa berhenti bergerak-gerak ke udara kayak lagi pantomim membayangkan saat jemari menggapai poin demi poin. Tidur pun tak nyenyak membayangkan ingin segera esok tiba untuk kembali merayap di wall climbing lagi. Yeah... bener-bener deh saat itu saya lagi jatuh cinta. Jatuh cinta sama papan panjat :D

Googling Lokasi.
Saat wall mulai aus dan memakan korban jatuh dari ketinggian 15 meter, wall climbing dibiarkan tak terurus dan hancur dengan sendirinya. Sedih rasanya tak ada lagi tempat melepas butiran keringat ini.

Seiring dengan berlalunya waktu setelah menikah dan punya bayi, hasrat memanjat itu bak api dalam sekam. Atau ibarat beruang yang lagi berhibernasi. Ia tetap ada namun tak muncul ke permukaan.


Nah kemarin pas jalan-jalan lagi ke Singapura nganter adik, saya seperti diingatkan kembali akan bara yang masih tetap menyala itu. Yang akhirnya tak bisa lagi dipendam lama-lama. Setelah googling nyari wall climbing terdekat dengan hostel, tempat kami menginap, Alhamdulillah kurang lebih 20 menit jalan kaki dan hanya 5 menit naik bis nomor 145 saya tiba di Climbing Asia di Tessensohn Road.

The Civil Service Club, tempat dimana Climbing Asia Berada.
Seorang Manager Climbing Asia menyambut kedatangan kami dengan ramah. Namun sayang saya datang terlalu pagi. Hari libur, hari minggu itu Climbing Asia baru buka jam 10 pagi waktu Singapura. Akhirnya pulang dulu ke hostel sarapan untuk kedua kalinya dan nyuruh adik juga sepupu saya untuk mandi. Kalau saya nanti saja mandinya sehabis manjat.Sayang air kan kalau harus mandi pagi dua kali? hehe.


Jam 10 pagi kami sudah kembali lagi ke Climbing Asia. Disuruh mengisi formulir dan membayar sejumlah uang. Lupa deh berapa-berapanya. Waktu manjat bebas sampe bosan atau sampe capek. Sampe tempat itu tutup jam 10 malam juga masih dibolehkan.

Outdoor Wall Climbing
Saya ditanya apakah bawa orang untuk belay. Haduh saya fikir belayer sudah stand by ada terus, ternyata harus booking dulu. Telpon dulu. Kalau nyuruh adik atau sepupu buat belay nggak dulu deh. Bahaya. Mereka belum mengerti bagaimana menjadi belayer. Ditanya kata belay aja nggak mengerti. Haduuh.Salah-salah nyawa taruhannya.  

Belayer yang ada ternyata sudah di-booking orang lain hingga jam 12 siang. Sementara siang itu juga saya harus pulang dan nganter adik ke Bandara Changi.

Si petugas menawarkan alternatif untuk manjat di papan bouldering saja. Ia menunjukkan beberapa ruangan yang biasa dipakai untuk bouldering di lantai 3 dan 4. Begitu melihat beberapa ruang yang seluruh dindingnya berubah jadi wall climbing dengan warna-warni yang cool saya hampir melompat saking senangnya. Yes, di sini saja. saya menjawab mantap.

Dan dengan disaksikan adik serta sepupu, saya mulai menjajal wall climbing. Saking semangatnya lupa nggak pemanasan dulu. Alhasil baru beberapa menit mencoba kaki sudah kram. Dan otot sudah tegang.
Indoor Wall Climbing
Haduh...kenapa lupa. Jadinya pemanasan dulu deh terus manjat lagi. Cuma bertahan 1 jam nafas udah ngos-ngosan. Kaki semakin kram. Ya sudah deh segitu aja. Lumayanlah walau belum puas banget yang penting udah mencoba. Lain waktu ke sini lagi. Masih penasaran sama yang wall outdoornya.



Posisi Sulit nih. Tapi Menantang.

Anak-Anak Bule lagi Latihan

Sepatu Manjat Dijual
Mulai Lelah


AUDISI BACKPACKER WANNABE



Backpacker, sebutan yang belakangan ini begitu populer, seksi dan menjual semenjak bermunculannya buku-buku bertema travelling hingga disusul kemudian selebriti di dunia travelling seperti Trinity, Agustinus Wibowo, Takdis dan masih banyak lagi lainnya.
Yaa, saat ini dunia travelling memang tengah menjadi sorotan sehingga banyak orang yang kemudian latah melakukan perjalanan dan kemudian dengan bangga menyebut dirinya backpacker.
Saya sendiri memendam impian untuk menjadi seorang backpacker namun karena satu dua kendala sehingga belum bisa mewujudkan impian tersebut. Saya pernah melakukan beberapa travelling baik sendiri maupun rombongan namun saya merasa belum pantas menyebut diri ini sebagai backpacker. Namun keinginan untuk berbagi pengalaman dalam perjalanan saya itu terus-menerus mendorong saya untuk suatu saat menerbitkan buku bertema travelling.

Nah, saya merasa sekarang ini saatnya yang tepat bagi saya untuk mewujudkan impian tersebut. Karena saya merasa belum pantas disebut backpacker namun buku ini nanti bertema travelling maka saya memberi proyek antologi saya kali ini:

AUDISI BACKPACKER WANNABE

Bagi kamu yang merasa sebagai Backpacker Wannabe saya mengajakmu untuk ikut berpartisipasi dalam proyek antologi ini. Beberapa sub tema yang bisa kamu tulis dalam antologi ini antara lain:
  1. Backpacker pertama kali. Ceritain perjalanan pertamamu, mulai dari persiapannya yang heboh hingga hal-hal tak terduga yang terjadi dikarenakan persiapan dan pengetahuanmu yang masih minim.
  2. Backpacker Terkonyol/Terseru. Ceritain perjalananmu yang konyol atau seru banget sehingga masih kamu ingat sampai sekarang. Karena ini pengalaman yang konyol dan seru maka tulis pengalamanmu itu dengan selucu mungkin.
  3. Backpacker Ternekat. Ceritain perjalananmu yang terasa begitu nekat, entah karena lokasinya yang sangat jauh, persiapan atau budget yang sangat minim. Jangan lupa ceritain juga cara kamu mengatasi semua masalah yang terjadi karena kenekatanmu itu.
Untuk mengikuti audisi menulis BACKPACKER WANNABE  syaratnya mudah sekali.
Syarat Peserta:
  1. Pria atau Wanita berumur minimal 13 tahun.
  2. Berteman dengan Mozaik Indie Publisher dan Ihwan Hariyanto di FB.
  3. Like Fanpage Mozaik Indie Publisher atau follow twitter kami: @mozaikindie.
  4. Sebarluaskan info event ini melalui dua cara yang bisa kamu pilih:
Jika lewat note FB, maka kamu harus mentag minimal 20 teman dan akun FB Mozaik Indie Publisher dan Ihwan Hariyanto.

Jika lewat blog, maka kamu harus publish blogmu di twitter dengan format: Lomba #BackpackerWannabe [link blogmu] mention: @mozaikindie dan minim 5 orang temanmu.

Lalu untuk ketentuan naskahnya sebagai berikut:
  1. Naskah harus pengalamanmu sendiri, jadi ini audisi menulis NON FIKSI.
  2. Naskah ditulis dengan gaya yang popular dan menarik.
  3. Belum pernah dipublikasikan di media apapun, baik online maupun offline.
  4. Panjang naskah antara 4-6 halaman. Diketik di kertas A4, huruf TNR 12, spasi 1,5 dan margin 3 cm tiap sisinya. Kirim naskah ke: audisibackpackerwannabe@yahoo.com dengan judul email: BW-Judul Naskah
  5. Kamu boleh menambahkan foto bacpackermu yang narsis, lucu dan unyu. Maksimal 2 saja ya he3
Jangan lupa sertakan juga biodata naratif Anda maksimal 100 kata di akhir naskah. Semua berkas tersebut dilampirkan di attachment, jangan di badan email.
Naskah diterima paling lambat 04 Desember 2013.

Meskipun ini hanya audisi namun kami menyediakan gift bagi 3 naskah terbaik:
Naskah Terbaik 1: IC Safety Belt dan Multifunction Pocket
Naskah Terbaik 2: Multifunction Pocket dan Tissue Pocket
Naskah Terbaik 3: Multifunction Pocket
Lalu untuk 25 naskah terbaik akan dibukukan dengan naskah Ihwan Hariyanto.  Karena ini diterbitkan secara indie, maka kontributor tidak akan diberikan royalti namun akan mendapatkan diskon 20 persen jika membeli bukunya sendiri.

Jika naskah-naskah yang terpilih mempunyai nilai jual yang tinggi maka akan kami coba ajukan ke investor untuk diterbitkan secara major dan tentunya semua kontributor akan mendapatkan royalti. Oleh karena itu keluarkan kemampuan terbaikmu yaa!!

Please, feel free to copy paste and share to everyone!

Salam Travelling
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...