Minggu, 28 Desember 2014

Island Hopping ke Pulau Panjang



Jembatan Satu Barelang 

Sewaktu ribut demo buruh tentang kenaikan UMK kemarin-kemarin, kebetulan (eh kok kebetulan sih, kesannya mengharap banget gitu :D) iya kebetulan, tempat kerja saya di sweeping para pendemo. Karyawan disuruh pulang semua. Nah daripada pulang ke rumah bengong cuma nonton TV mendingan jalan-jalan ke pulau sendirian.

Untung saja dari rumah udah disiapin pakaian buat pergi. Hehe. Kabar sweeping kan udah merebak sejak seminggu sebelumnya, tapi tetep saja si bos keukeuh nyuruh semua orang masuk kerja sementara perusahaan lain di Kawasan Bintang Industri Batam tutup semua. Jadi ini malah memancing pendemo marah. Kenapa juga masih pada kerja. Naaah, karena sudah tahu akan di sweeping  saya udah siapin baju ganti untuk langsung cabut ke pulau.

Jembatan Dua Barelang
Saat sweeping terjadi saya mah nyantai ganti baju. Orang-orang kocar-kacir berlarian keluar kita sih selow aja. Begitu ganti baju teman-teman  terkejut melihat penampilan saya yang mendadak anggun. Dengan rok menjuntai dan kerudung lebar. Si bos Jepang pun mendelik bengong, kaget sambil berkata "Lina San kah? I can not recognize you."  Hehe Bos, tidak apa-apa bukan dikau saja yang kaget.

Sebenarnya sebel juga sweeping hari itu terlalu pagi, coba agak siangan dikit gitu biar gak di-replace. Nah ini sweeping-nya jam 9 pagi, jadilah manajemen memutuskan hari itu akan di-replace ke hari sabtu di minggu berikutnya. Hadeuuh....ngabis-ngabisin resourch ini mah. Pemborosan banget. Coba bayangkan hanya demi satu jam kerja itu saja berapa liter air dihabiskan untuk mandi. Berapa liter bensin yang dikeluarkan karyawan untuk berangkat kerja,  dan yang pasti rugi sehari karena harus di-replace. Minggu sebelumnya juga demo tapi gak ada replace. Ah sudahlah gondok emang gak ada habisnya. Marilah saatnya bersenang-senang sendirian.

Pulau Bali Barelang yang Terlewati
Dari tempat kerja saya dihantar mobil jemputan hingga Simpang Tembesi. Jam 10 lewat 38 menit saya mencegat Damri yang cuma satu-satunya melalui rute Barelang. Tidak sampai sepuluh menit kemudian minta diturunkan di Jembatan Dua Barelang. Padahal saya nunggu Damrinya saja hampir satu jam. Dari ujung jembatan lalu turun ke sebelah kanan jalan menuju pelabuhan tadisional. Di sana beberapa perahu nelayan yang biasa kami sebut pompong atau pancung berjejer rapi menunggu penumpang.

Pulau Panjang
Setelah adu tawar dengan seorang tekong, saya segera menaiki pompong. Begitu mesin dinyalakan, dan pompong mulai beranjak menjauh dari dermaga, rasa rindu pada laut mulai memekat pada kata cinta. Bau amis laut yang menguar di udara, gundukan-gundukan pulau yang muncul di tengah-tengah lautan, warna biru laut dan langit yang berpadu di batas cakrawala, serta buih ombak yang terhempas oleh laju pompong, mulai menambah kadar rindu itu menjadi getar-getar halus yang mampu mengantarkan hati berbicara "Betapa kini aku jatuh cinta pada laut."

Laju pompong yang tenang memutar kembali memori bertahun-tahun dahulu. Saat berempat bersama Erni, Melan, dan Ipung. Ketiga teman jalan yang kerap menyertai perjalanan Island Hopping ini. Kini, saya sendiri (abaikan tekong yang berada di buritan :D) menelusuri perairan yang biasa kami lalui. Melow sendiri. Sedih sendiri. Hikss… I miss you Ladies.

Kambing pun Ikut Sekolah
Tak sampai 15 menit pompong sudah menepi. Deru angin menyambut kedatangan saya. Rumah-rumah di tepi pulau dengan nyiur melambai di belakangnya tampak mewarnai pemandangan pertama Pulau Panjang, pulau yang saya tuju. Sebuah pelantar kayu dengan lebar lima papan menghubungkan dermaga dengan pulau. Saat membalikkan badan, pemandangan Jembatan Satu Barelang terlihat anggun di balik Pulau Tonton di sebrang sana.

Saya ingat 15 tahun lalu teman-teman dari komunitas Pecinta Alam Cumfire, Muka Kuning Batam pernah kemping dan bakti sosial di pulau ini. Namun saya tidak ikut karena belum punya cuti. Padahal acaranya seru banget. Jadi, kunjungan ke pulau ini seperti aksi balas demdam atau aksi bayar hutang yang terkatung-katung selama 15 tahun terakhir :D

Pak Daud, Sang tekong  pompong bersedia menunggui saya kembali. Namun karena ia pun tak punya kegiatan lain selain menunggu maka ia segera menyusul dan menemani saya menyusuri jalan di Pulau Panjang. Jangan tanya seperti apa jalannya, hanya kecil layaknya gang-gang sempit di perkotaan. Dan tidak ada satu pun kendaraan yang lewat karena memang tidak ada.

Jalanan pulau yang disemen selebar dua meter yang saya lalui tampak masih baru. Ini terlihat dari papan proyek yang masih berdiri tegak di muka jalan. Beberapa ekor kambing berkeliaran di jalanan. Tampak hidup liar seperti halnya kucing atau anjing di Pulau Batam. Padahal semua kambing-kambing itu ada tuannya namun karena pulaunya kecil dan tidak memungkinkan kawanan kambing melarikan diri, jadi mereka pun dilepas dan berkeliaran begitu saja. Lucunya lagi kambing pun bebas berkeliaran di  halaman sekolah. Mereka memenuhi teras sekolah SMP Negeri 14 Batam yang sudah lengang ditinggalkan siswanya.

Rengkam yang sedang dijemur
Di beberapa halaman rumah penduduk tergelar tumpukan rengkam, sejenis rumput laut yang berdaun panjang dan berwarna  hijau yang sedang dikeringkan. Kata Pak Daud rengkam ini akan dijadikan pupuk dan dijual per kilogramnya seharga 1.300 rupiah. Dijualnya ke luar negeri dan ada penampungnya sendiri.

Pulau Panjang terbagi menjadi dua bagian yaitu Pulau Panjang bagian barat dan timur. Saat laut pasang keduanya terpisah oleh air laut. Sedangkan saat laut surut kedua bagian pulau ini menyatu dan dapat dilalui dengan berjalan kaki melalui pasir dan lumpur. Namun saat itu laut sedang pasang dan kami pun berjalan menyusuri pelantar yang menghubungkan kedua bagian pulau.

Para ibu yang sedang duduk-duduk di teras rumah menyambut saya dengan senyuman. Dengan ramah mereka bertanya apa maksud kedatangan saya ke sana. Saya jawab hanya jalan-jalan biasa saja. Hanya rasa penasaran ingin tahu seperti apa Pulau Panjang yang 15 tahun lalu pernah dikunjungi oleh teman-teman saya.

Rumah dengan Panel Surya
Rumah-rumah di Pulau Panjang kini sudah memiliki panel surya sendiri. Listrik kini bukan lagi masalah bagi penduduk. Kabarnya pemerintah yang punya peranan dalam hal ini. Kini hanya tinggal satu permasalah besar lagi yang dikeluhkan penduduk pulau. Air bersih. Kemarau lalu saya sempat membaca di Batam Pos kalau warga Pulau  Panjang sempat kekurangan air.

Obrolan dengan Pak Daud menerangkan bahwa telah ada survey-survey yang akan membuat proyek pengaliran air bersih dari Batam ke Pulau Panjang. Semoga saja akan segera terlaksana. Mungkin konsepnya seperti ke Pulau Buluh dimana air dari Pulau Batam dialirkan melalui pipa-pipa bawah laut dan ditampung di sebuah reservoir lalu dialirkan ke rumah-rumah penduduk.

Di sudut-sudut pulau tampak anak-anak sedang asyik bermain. Dunia mereka tetap indah dan seru. Dua orang anak laki-laki tertawa malu-malu saat saya  membidikkan kamera ke arah mereka yang bermain sepeda sambil berbasah-basahan air laut.

Di dekat pelantar yang menghubungkan Pulau Panjang bagian barat dan timur saya berjumpa dan mengobrol banyak dengan Pak Ahmad. Pemilik dapur arang. Ada satu tungku arang yang kini sedang ditungguinya. Kalau arang tidak ditungguinya maka bisa hancur karena terlalu matang dan  ia akan gagal panen. Dalam 20 hari ia bisa menghasilkan berton-ton arang hanya dari satu dapur arang ini saja. Keuntungannya juga lumayan. 1 ton ia bisa jual seharga 3 juta rupiah untuk kualitas arang yang paling bagus.
Pemandangan ke luar pulau

Tak terasa adzan zuhur sudah berkumandang. 1 jam lebih saya berkeliling Pulau Panjang. Waktunya pulang sebelum hujan kembali mengguyur wilayah Batam dan sekitarnya.

Angin pun masih berhembus walau tak sekencang saat saya tiba tadi. Udara bersih dan langit semakin membiru. Jembatan dua barelang sudah tampak di depan mata.Laut tampak tenang walau sedikit bergelombang. Anak-anak kecil berlarian di dermaga, mereka melompat dan menceburkan diri ke air laut. Lagi-lagi dunia bermain sungguh indah bagi mereka.

Setelah sholat dzuhur di mesjid dekat jembatan dua, saya menunggu tumpangan apa saja yang lewat sambil membaca buku. Kurang lebih setengah jam kemudian sebuah taksi berhenti dan menawari. Karena asyik membaca buku, tanpa bertanya ini itu saya langsung masuk. Baru sadar setelah beberapa menit taksi berjalan. Ya ampuuun… saya lupa menanyakan berapa ongkosnya. Duh alamat kena tembak nih. Dan betul saja saat turun di Simpang Tembesi saya diminta ongkos 15 ribu rupiah.  Padahal naik damri saja hanya membayar 5 ribu rupiah.Oya taksi di Batam memang seperti angkutan umum lainnya bisa nego harga saat kita akan menaikinya.

Waktunya Pulang

Berikut rincian biaya ke Pulau Panjang:

Simpang Tembesi - Jembatan dua Barelang, naik damri : Rp. 5.000
Jembatan Dua - Pulau Panjang, naik pompong PP : Rp. 60.000
Jembatan Dua - Simpang Tembesi, naik taksi : Rp 15.000
Simpang Tembesi - Pasar Sagulung, naik Angkutan umum minibus (Bimbar)  : Rp. 4000
Pasar Sagulung - Rumah,  naik ojek: Rp. 6.000
Total biaya keseluruhan Rp. 90.000

Kamis, 11 Desember 2014

Hari Gunung Internasional 2014

Tanggal 11 Desember 2014 yang bertepatan dengan hari ini adalah hari yang diperingati sebagai International Mountain Day atau Hari Gunung Internasional. Tiap tahun tema International Mountain Day (IMD) selalu berbeda-beda. Untuk tahun ini IMD bertema "Farming" atau dalam google terjemahan berarti "Pertanian".

Menurut badan PBB yang menangani masalah pangan dan pertanian, FAO (Food and Agricultural Organization) IMD adalah kesempatan untuk menciptakan kesadaran tentang pentingnya pegunungan bagi kehidupan, untuk menyoroti peluang dan kendala dalam pengembangan pegunungan dan untuk membangun kemitraan yang akan membawa perubahan positif pada pegunungan-pegunungan dan dataran-dataran tinggi di dunia.

Luas pegunungan mencakup seperempat permukaan dunia dan merupakan rumah bagi 12% populasi manusia. Gunung adalah menara air dunia dimana ia menyediakan air tawar untuk setidaknya setengah dari penduduk dunia.
Gunung dan Pertanian (foto dok. pribadi)

Namun, walaupun demikian gunung juga merupakan wilayah yang beresiko tinggi. Berbagai bencana alam kerap terjadi di sini. Longsoran, letusan gunung berapi, banjir, gempa bumi, dan kebakaran hutan. Semua itu tentu saja akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitar pegunungan.

Setelah sebelumnya pada tahun 2013 IMD bertema Key to a Suistainable Future atau Kunci untuk Masa Depan yang Berkelanjutan, maka tahun 2014 ini FAO menyoroti masalah Mountain Farming. Bagaimana pertanian di daerah-daerah pegunungan mengalami tranformasi yang cepat karena pertumbuhan penduduk, globalisasi ekonomi, dan urbanisasi kaum laki-laki ke daerah perkotaan.

Namun globalisasi memberikan kesempatan bagi para produsen produk-produk pertanian untuk memasarkan barang-barang pertanian gunung yang berkualitas tinggi. Seperti kopi, kakau, madu, tumbuhan herbal, palawija, dan kerajinan-kerajinan tangan.
Pertanian di Lereng Gunung Semeru (foto Dok.Pribadi)

Selain itu sambil mengelola pertaniannya, masyarakat di pegunungan juga bisa mendapatkan penghasilan lebih dengan adanya kegiatan pariwisata yang kini semakin digalakkan. Menjadi pemandu wisata, pembawa barang (porter), menyediakan jasa transportasi, atau menjual makanan dan buah tangan bagi para pendatang, turis, dan pendaki gunung.

Sama halnya dengan di negara-negara lainnya di dunia, masyarakat pegunungan cenderung termarjinalkan baik dalam masalah politik, ekonomi, kesehatan, maupun sosial kemasyarakatan. Untuk itulah penting bagi kita menjadikan hari ini sebagai titik awal kepedulian kita kepada masyarakat  pegunungan.
Pertanian di Desa sekitar Gunung Guntur (Foto Dok. Pribadi)

Salah satu contoh kongkrit kecil yang bisa kita lakukan sebagai pendaki gunung adalah dengan membeli sayur atau buah-buahan yang ditanam oleh penduduk gunung yang kita singgahi. Atau membeli kerajinan tangan yang dibuat oleh mereka. Hal lainnya yang amat berpengaruh adalah ikut bersama-sama organisasi-organisasi non profit atau NGO dalam mengembangkan dan memajukan desa-desa di sekitar pegunungan. Bergabung dengan oraganisasi yang menyoroti masalah kesehatan lingkungan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat gunung bagaimana hidup sehat. Organisasi-organisasi pencinta lingkungan yang menggalakkan pemeliharaan hutan agar menjadi sumber daya yang berkelanjutan dan tidak rusak oleh ilegal logging, atau organisasi yang peduli terhadap nasib anak-anak gunung yang putus sekolah dengan mengajari mereka supaya melek baca dan tulis.

Anak Suku Tengger Berjualan Boneka Bunga (foto: dok.Pri)
Banyak ha-hal kecil yang kita anggap remeh-temeh yang sebenarnya berpengaruh besar bagi orang lain atau bahkan bagi kehidupan masyarakat banyak. Contohnya saja anda memberitahu dan menanamkan pemahaman kepada seorang anak-anak di daerah gunung bahwa menjaga kelestarian hutan adalah hal yang penting bagi keberlangsungan kehidupan di wilayahnya. Kelestarian hutan berkontribusi bagi menjaga perubahan iklim di muka bumi. Dan seterusnya dan seterusnya. Maka si anak akan memberitahu teman-temannya atau saudaranya atau setidaknya dia sendiri yang akan tersadar dan melakukan hal-hal kecil seperti mulai menanam pohon. Ingat dengan sebatang pohon saja ia menghasilkan 1/2 kg oksigen per hari dan menyerap karbondioksida 14 kg per tahun. Bagaimana jika dua pohon? tiga pohon? sepuluh pohon? dan seratus pohon?

Selamat Hari Gunung Internasional Para Pendaki! Salam 20 jari :D 10 jari untuk menyertai pendakian dan 10 jari lagi untuk mengangkat beban. Beban di punggung dan juga beban di pundak. Namun alangkah lebih bijak lagi jika 20 jari tadi diigunakan untuk bertindak. Demi masyarakat banyak, demi gunung-gunung yang kita daki, dan demi bumi yang kita cintai.



Referensi:

1. http://www.fao.org/forestry/internationalmountainday/en/
2. http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2013/09/badan-badan-khusus-pbb.html
3. http://www.mountainpartnership.org/our-work/focusareas/mountain-products/en/
4. http://informasiterlengkap.blogspot.com/2011/12/manfaat-satu-pohon-untuk-kehidupan-dan.html

Senin, 08 Desember 2014

Menyepi di Taman Buru Masigit Kareumbi



Rumah Pohon di Taman Buru Masigit Kareumbi
Bis Primajasa jurusan bandara Sukarno Hatta – Bandung perlahan memasuki kawasan Batu Nunggal. Kawasan yang semenjak Mei 2012 silam, menjadi lokasi untuk menurunkan dan menaikkan penumpang dari dan ke Bandara Sukarno Hatta. Meskipun Bandung sudah mempunyai bandara sendiri, tetap saja jumlah calon penumpang pesawat dari Bandung menuju Jakarta sangat tinggi. Begitu pun arah sebaliknya, yang menuju Bandung dari bandara Sukarno Hatta tak kalah banyak. Ini bisa dilihat dari interval keberangkatan bis Primajasa setiap setengah jam sekali yang selalu penuh dengan penumpang.

Sms dari Bapak yang sudah menunggu di depan Kompleks Batu Nunggal berkali-kali datang. Beliau menanyakan posisi saya dimana. Katanya tidak bisa masuk ke dalam karena jalannya cukup jauh. Ia akan menunggu mobil yang akan saya carter yang sebentar lagi datang.

Rabu, 03 Desember 2014

Kampung Naga, Keseimbangan Alam yang Terjaga

Kampung Naga
Pagi-pagi buta, tepat jam 4 dini hari saya dan keluarga telah berkendaraan menuju Bandara Husen Sastra Negara, Bandung. A Ahmad, sepupu saya yang mengemudikan kendaraan, memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Ngebutnya minta ampun. Ngeri-ngeri sedap deh. Bikin sport jantung.  Untung saja kanan kiri jalan belum terlihat apa-apa. Hanya gelap-gulita. Sesekali bayangan pohon-pohon tinggi berkelebatan seperti lesatan ninja. Syukurnya lagi jalan yang dilalui begitu mulus sehingga tidak begitu banyak guncangan yang terasa. Namun rasa-rasanya jalan yang kami lalui bukan jalan biasa yang ditempuh kebanyakan orang kalau hendak bepergian ke Bandung. Saya sempat terheran-heran karena tidak hafal dengan jalan tersebut.

Satu jam kemudian, saat fajar di ufuk mulai terlihat, dan kehidupan mulai berdetak, perlahan saya mulai mengenali lokasi yang kami lintasi. Ternyata kami menempuh jalur alternatif Garut - Bandung melalui pegunungan di sekitar Kawah Kamojang. Jalan yang tembus hingga Kecamatan Majalaya lanjut ke Kecamatan Ibun,  lalu Kecamatan Bale Endah, Bandung. Dari Bale Endah saya tidak menghafal lagi jalan. Hati sudah tenang karena tiba di Bandung masih pagi-pagi sekali. Berarti waktu untuk check in belum dibuka.

Setelah berpisah di Bandara dengan suami dan anak tercinta, saya berniat  mengunjungi Kampung Naga di Tasikmalaya. Kebetulan suami juga sudah mengizinkan. Sedangkan A Ahmad sudah cabut kembali ke Garut sejak kami tiba di bandara tadi. Jadi, saya ke Bandung ini hanya mengantar Bang Ical dan Chila saja ke bandara, karena kalau saya sendiri masih punya cuti beberapa hari lagi dan pesawat yang akan saya naiki pun bukan dari Bandung tapi dari Jakarta. Begini enaknya gak enaknya dapat tiket pesawat gratis. Enak bisa jalan-jalan dan pulang kampung gratis, nggak enaknya cuma dapat gratis sendirian gak sekeluarga :D *Kemaruk.
Dua warga Kampung Naga

Sudah hampir setengah jam saya berdiri di tepi jalan di dekat Terminal Cicaheum Bandung demi menunggu bis jurusan Tasikmalaya, tapi tak satu pun yang lewat. Kebanyakan bis jurusan Bungbulang dan Pameungpeuk Garut. Padahal hari sudah terik dan perut mulai keroncongan minta diisi. Sambil menunggu bis, mata saya melirik kanan-kiri mana tau ada rumah makan atau warteg di sekitar situ. Namun sayang yang ada hanyalah penjual buah-buahan. Duuuh...mana panas minta ampun. Kemarau bulan Oktober yang seharusnya sudah memasuki musim penghujan masih saja garang.


    "Kamana Bu?" seorang kondektur turun dari sebuah bis.
    "Ka Tasik." Jawab saya.
    "Ka Garut yuk!"
    "Alim ah, ka Tasik wae,"
    "Ka Garut wae atuh,"
    "Laah saya kan dari Garut, masa balik lagi ke Garut," idiiih maksa banget sih. Saya cemberut. Belum tau dia kalau saya ini juteknya minta ampun kalau lagi bete gitu.

15 menit kemudian muncullah bis jurusan Tasikmalaya.

"Tasik ya? Lewat ke Kampung Naga nggak?" agak ragu saya bertanya. Ragu karena jalur ke Tasik dari Bandung ada dua, nah saya tidak tahu jalur yang dipakai  menuju Kampung Naga yang sebelah mana. Lagian lupa googling sebelum berangkat tadi.

Si kondektur bis langsung mengiyakan dan memaksa saya naik. Saat di dalam bis saya mendekati sopir lalu bertanya apa betul bis tersebut melewati Kampung Naga. Ia menjawab tidak dan menyarankan saya naik bis yang jurusan Singaparna. Laaah? Tadi si kondekturnya bilang.... Arghrrrr....tega banget ya dia bohongin orang demi uang yang nggak seberapa.

Saya minta diturunkan di situ juga. Si kondektur ngotot menahan saya.Urusan turun mah gampang katanya. Dia nanya lagi saya mau kemana. Padahal udah jelas mau ke Kampung Naga. Eh dia malah menyarankan saya ikut ke Tasik dulu lalu dari Tasik balik lagi ke kampung Naga. Ih...enak di elo gak enak di gua dong. Rugi waktu. Setelah bersitegang akhirnya si kondektur memberi jalan yang sedari tadi ia halangi. Saya pun melompat keluar bis. Syukurlah belum jauh-jauh amat. 

Plang Penunjuk Kampung Naga
Bis Diana menuju Singaparna  datang. Setelah memastikan bis tersebut melewati Kampung Naga, saya duduk di salah satu bangkunya dan mencoba untuk tidur. Namun tetap tidak bisa. Kondektur bis mendekat dan menagih ongkos sebesar 35 ribu rupiah. Kepadanya saya berpesan untuk diturunkan di Kampung Naga. 

Bis melaju dan memasuki daerah Garut, bukan menuju Tasikmalaya. Laaah..kok bisa? Walau sedikit bingung saya tetap berprasangka baik. Tetap tenang dan memilih untuk membaca buku. Bis pun melaju memasuki kawasan Terminal Guntur Garut. Berhenti sekitar satu jam setengah menunggu tambahan penumpang. Ya ampuuun, bisa kering di dalam bis saya. Namun tetap mencoba bersabar walau lapar. SMS dari Bapak berdatangan menanyakan dimana posisi sekarang. Duh bingung jawabnya. Masa harus jawab di Terminal Guntur Garut. Ngapain? Ngetem? Mending pulang aja ke rumah sekalian. Ah saya balas saja sedang di jalan menuju Tasikmalaya.


Saat menunggu bis penuh,  tukang batagor di pinggir jalan menawarkan jualannya. Saya langsung pesan satu porsi. Lumayan buat ganjal perut. Hilir-mudik pedagang asongan dan peminta-minta menghiasi pemandangan dalam bis. Gambaran khas kehidupan ekonomi masyarakat garis bawah sekilas terekam di sini. Bagaimana seorang bapak bertahan berjualan air mineral dan tissue demi keluarganya. Bagaimana seorang pengamen dengan suara pas-pasan meraup koin dan recehan demi mendapat penghasilan. Bagaimana si pincang dan si buta menengadah meminta sedekah. Rupa-rupa wajah yang terus tercerna dalam benak dan ingatan.

Jam setengah empat sore bis mulai melaju. Memasuki  kecamatan Cilawu, masih di Kabupaten Garut. Jalan ini searah dengan jalur transportasi menuju pendakian ke Gunung Cikuray menggunakan jalur Dayeuh Manggung. Selepas Cilawu bis memasuki Kecamatan Salawu, Tasikmalaya. Pemandangan di sebelah kiri jalan semakin memanjakan mata. Aliran sungai Ciwulan begitu tenang menyusuri kelokan lembah-lembah di antara perbukitan yang dihiasi pesawahan.

Gerbang Masuk ke Kampung Naga

Kampung Naga

Sekitar jam setengah lima sore itu, saya diturunkan di sebuah gerbang tanpa tulisan apa pun.Kata kondektur bis, kami sudah sampai di perhentian menuju Kampung Naga. Tinggal jalan kaki ke bawah sekitar 15 menit maka sudah tiba di kampung adat tersebut. Sebuah tiang bertuliskan "Kampung Naga" terlihat di sebrang jalan. Plang yang sama yang saya lihat 15 tahun lalu saat bolak-balik interview dan medical check up di Tasikmalaya untuk keberangkatan perdana saya ke Batam.

Saya memasuki area lapangan parkir. Suasana sepi dan lengang begitu terasa. Hanya ada beberapa orang yang sedang berjalan menuju ke arah berlawanan dengan saya. Di tepi parkiran terdapat tugu Kujang, senjata khas suku sunda, setinggi kurang lebih 5 meter. Di dekat tugu tampak seorang bule sedang bersalaman dengan seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan iket, topi khas orang sunda. Sambil menyalami lelaki tadi, bule tersebut menyelipkan sejumlah uang ke telapak tangannya. Saat berpamitan, ia mengucapkan kata terima kasih dalam bahasa Indonesia yang nyaring dan jelas.

Saya mendekati laki-laki paruh baya tadi. Menanyakan apakah ia warga kampung Naga atau bukan, karena saya akan memintanya untuk menemani berkeliling. Ia pun memperkenalkan diri sebagai pemandu tamu. Namanya Mang Ajen. Ia dan beberapa warga Kampung Naga memang telah ditunjuk dan disiapkan untuk menjadi pemandu. Jadi tak heran jika ia langsung cair kepada setiap tamunya.
Mesjid di kampung Naga

Setelah perkenalan singkat kami, Mang Ajen mengajak saya menyusuri jalan kecil yang sudah conblok. Menyebrangi selokan kecil yang berair jernih namun deras, lalu menuruni sengked, tangga batu kali yang meliuk-liuk unik mengikuti kontur jalan. Dari jalanan yang bertangga ini Kampung Naga sudah mulai tampak. Hati saya langsung jatuh cinta. Melihat atap-atap rumah dari ijuk yang berbaris rapi. Pemandangan yang padu dengan undakan pesawahan dan liukan sungai Ciwulan. Memandangnya di kejauhan saja membuat saya sangat antusias.

Kampung Naga terletak di sebuah lembah. Berada tepat di daerah aliran Sungai Ciwulan yang hulunya berada di Gunung Cikuray. Wilayah Kampung Naga dibatasi oleh hutan larangan, sungai, sawah dan selokan kecil. Jadi tidak boleh mendirikan lagi bangunan di luar garis wilayah yang sudah ditentukan. Pamali katanya.

Jalan antara rumah penduduk
Kampung Naga terdapat 113 bangunan berupa rumah, mesjid, balai adat, lumbung, lisung (tempat menumbuk padi). Penduduknya terdiri dari 108 kepala keluarga dan atau 314 jiwa. Kampung Naga dipimpin oleh seorang ketua adat yang disebut Puhun. Dalam menjalankan aktifitas kemasyarakatannya Puhun dibantu oleh dua orang. Satu orang yang bertanggung jawab mengurusi masalah administrasi pemerintahan, seperti dalam hal pembuatan KTP atau lainnya sedangkan satu lagi, Lebe, berfungsi sebagai tokoh agama, peminpin upacara-upacara keagamaan dan doa-doa yang digelar oleh penduduk.

Sesekali saya berhenti untuk mengambil foto. Pemandangan barisan rumah-rumah beratap ijuk diantara hamparan pesawahan membuat hati terasa damai dan nyaman. Ingatan saya kembali menerawang ke masa kecil dulu, saat masyarakat di kampung saya di Garut masih memiliki rumah panggung seperti ini. Rumah  khas sunda, peninggalan adat istiadat yang kini telah tergantikan dengan rumah-rumah gedong berdinding semen dan batu bata.

Perlahan namun pasti rumah-rumah panggung telah berganti. Tembang dan kesenian degung malah telah lebih awal menghilang dari budaya kami. Yang tersisa dari adat peninggalan karuhun hanyalah bahasa sunda itu sendiri. Bahasa yang juga mulai terancam kelestariannya karena semakin sedikit digunakan. Sedih.

Saya dan Mang Ajen berbicara akrab dalam bahasa sunda. Rasanya seperti sudah kenal lama saja dengannya. Begitu pun saat saya diajak berkeliling menyusuri sudut-sudut Kampung Naga saya bertemu dan berkali-kali berbincang dengan warga.

Di sebuah rumah, yang beralas palupuh saya disambut dengan sajian rengginang dan teh pahit hangat. Si ibu pemilik rumah yang ternyata kakak kandung Mang Ajen menyambut saya dengan segala ramah-tamahnya.

Dilihat dari kebersihan kampungnya, saya menilai bahwa penduduk Kampung Naga sudah sadar betul akan potensi yang dimiliki oleh kampung mereka. Terlihat dari halaman setiap rumah yang bersih dan terawat. Tidak tampak sampah sedikit pun.

Berbagai Kerajinan Penduduk
Di golodog (teras rumah dari bambu) beberapa rumah terdapat berbagai macam kerajinan tangan untuk dijual. Seperti cobek, ulekan, hiasan gantungan, lonceng, yang terbuat dari kayu. Ada juga peralatan dapur seperti bakul, hihid (kipas), dan lainnya.

Tak lupa saya juga menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh khas Kampung Naga yaitu Gula merah yang dibungkus daun aren. Harganya 20 ribu rupiah per bungkus. Selain itu saya juga membeli mainan untuk Chila berupa perlengkapan dapur mini yang terbuat dari anyaman bambu. Seperti bakul-bakulan dan kipas-kipasan. Sayang mainannya ketingal di Garut, tidak terbawa ke Batam.

Anak-anak bermain badminton
Senja mulai tiba. Anak-anak Kampung Naga asyik bermain badminton di halaman mesjid. Sebagian anak lagi duduk-duduk di tepi sungai Ciwulan. Bermain rumput dan wayang-wayangan. Masa kecil yang murni, indah, dan bermakna. Tidak terganggu oleh arus zaman dan modernisasi. Tidak ada gadget atau televisi yang akan memalingkan wajah mereka dari alam. Terlebih di sini tidak ada listrik. Bukannya pemerintah tidak peduli, namun sebagian besar masyarakatnya menolak untuk dialiri listrik. Mang Ajen bilang takut kebakaran karena seluruh bangunan terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar.

 Setelah mengisi daftartamu saya kemudian berpamitan kepada Mang Ajen. Semoga suatu waktu nanti saya dapat berkunjung kembali ke sini. Karena sepertinya saya begitu berat meninggalkan kampung Naga. Ada separuh raga yang terasa tertinggal di sana. Lebay :D













Selasa, 11 November 2014

Membingkai Matahari

Menyaksikan matahari terbit dari timur di sebalik pohon-pohon pinus dan membingkainya dalam bidikan kamera adalah hal yang luar biasa bagi saya. Ada syukur yang tak terucap, ada haru yang meresap dalam kalbu. 

Do'a-do'a terlantun pelan, seiring pergerakan mentari yang merayap perlahan-lahan. Merah, jingga, dan keemasan. Sungguh pagi yang sangat menakjubkan.

Tak sia-sia kami berdesakan berhimpitan di Puncak Penanjakan. Selamat datang di negeri ini.

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke-52 yang diselenggarakan oleh Depz.


 

Selasa, 04 November 2014

Gunung Papandayan, Sebuah Monolog Cinta Pertama

Sebuah Monolog
Ketika cinta tumbuh dalam diam, aku kerap menatapmu teramat dalam
Sedalam kawah-kawahmu, sedalam jurang-jurangmu, dan sedalam lembah-lembahmu yang gelap itu
Ketika cinta berpadu dengan waktu, aku kerap berbaring dalam pelukmu
Peluk yang gigil, yang menyublim dalam beku, dalam selimut kabut dan rona jingga lembayungmu

Diantara kuncup-kuncup edelweis yang kian mekar dan ligar
Diantara rimbun cantigi yang bertajuk pucuk dan mengakar jalar
Diantara batang-batang hutan mati yang menghitam karena terbakar
Dan diantara untaian galaksi bima sakti yang menyala berpendar-pendar

Aku tegak, menyesap udara lembab
Menengadah dan berserah di Pondok Saladah
Aku tegak, menyimak belaian angin yang dingin 
Yang mengalun di Tegal Alun
Suatu senja, 25 tahun yang silam, seorang gadis kecil duduk termenung di tepi kebun sambil menatap lekat pada sebuah sosok tinggi nun jauh di depan sana. Lembayung terlihat jingga di balik awan. Matanya berkilat-kilat oleh semangat. Bergumul akan rasa yang entah apa namanya. Hanya saja rongga dadanya terasa sesak. Sesak yang menyimpan rindu dendam. Rindu yang kian hari kian memburu. Seperti luapan sungai yang membuncah. Seperti gelembung balon yang akan pecah. Rindu yang bertalu padu pada puncak-puncak berbatu.

Kemarau dan Sirnanya Langit Biru 

Kemarau panjang, kebakaran hutan, dan polusi kendaraan bermotor, membuat warna langit akhir-akhir ini selalu pucat pasi. Pemandangan ke sekitaran pun tampak hazy.



Seperti pada penerbangan Batam – Jakarta awal Oktober 2014 lalu, aku menyaksikan betapa langit tak seindah penerbangan-penerbangan di bulan dan tahun sebelumnya. Padahal sesungguhnya aku teramat merindukan birunya langit dan jernihnya udara diantara gumpalan mega-mega.

Sudah lima hari aku berada di tempat kelahiranku di Garut. Tempat bertautnya segala kenangan dan rindu. Rindu pada masa kecil dulu. Pada puncak-puncak berbatu dan langit yang kerap berwarna biru. Yang bertudungkan helaian awan cirrus yang berlapis titik-titik beku.

Pada batas pandang, hanya gunung dan gunung yang saling bertautan, saling bersambungan. Gunung Guntur, Cikuray, dan Papandayan. Kini, perlahan semua berubah. Kemarau membuat hutan-hutan terbakar musnah. Mengotori udara, menjadikan langit tak sejernih dan sebiru dahulu.

Di hari keenam aku berada di kampung halaman, semesta seakan mendukung gerak langkah kaki dan keinginanku. Langit membiru dan udara tampak cerah, secerah hatiku saat menatap ke arah barat daya. Sosok Gunung Papandayan begitu indah memanjang. Yang bertaut bergandengan dengan Gunung Puntang.

Menuju Sang Kekasih 

Selepas berpamitan kepada kedua orang tuaku, aku menaiki ojek menuju Pasar Simpang, Bayongbong. Tak berselang 20 menit aku sudah tiba di pertigaan Pasar Simpang. Dari pertigaan ini aku menaiki angkutan kota (angkot) jurusan Cikajang. Kurang dari 15 menit kemudian, aku diturunkan di sebuah pertigaan lagi. Tapi kali ini di Cisurupan.

Pertigaan yang menjadi gerbang masuk menuju Kawasan Gunung Papandayan. Sebuah Gapura bertuliskan "Selamat Datang di Kawah Papandayan" terpampang di mulut jalan. Deretan ojek motor berjejer rapi di samping jalan. Beberapa mobil bak terbuka juga terparkir di sana. Siap sedia mengantarkan rombongan yang hendak berwisata ke kawah Papandayan.

Pertigaan Cisurupan dilalui oleh berbagai angkutan seperti angkutan pedesaan (angped), angkot, elf dan minibus. Kendaraan-kendaraan yang datang dari kecamatan sekitar, juga angkutan umum yang berasal dari Garut Kota dan Bandung. Tak heran lokasi ini sangatlah ramai karena mudah terjangkau.

Saat melangkahkan kaki memasuki pertigaan, seorang tukang ojek menyapaku. Ia menawarkan jasa ojeknya dengan ongkos 40 ribu rupiah. Duh ini sih kemahalan. Aku lantas menawarnya menjadi 30 ribu rupiah. Deal, ia pun sepakat dengan harga yang aku tawar.

“Kalau naik mobil colt bak, sewanya 200 ribu rupiah Teh.” Kata tukang ojek menerangkan.
 “Kok sendirian Teh?” tanyanya.
 “Gak apa-apa, sudah biasa kok A.” Jawabku pura-pura agar tak menimbulkan efek negatif di fikirannya. Padahal sudah 4 tahun lalu aku terakhir kali ke sini. Jadi kurang tepat kalau dibilang sudah biasa.
 “Udah sering ya kesini?” tanyanya lagi.
“Udah, mungkin belasan kali,” Jawabku.

Kali ini aku menjawab jujur. Semenjak kelas 4 SD hampir tiap tahun aku bertandang ke Papandayan. Entah sekedar trekking biasa, bermain-main di kawah, atau kemping bersama adik, kakak, dan sepupu-sepupuku. Namun semenjak merantau ke Batam intensitas pertemuanku dengan Papandayan semakin berkurang.

Ojek pun melaju di jalanan aspal yang agak rusak. Beberapa puluh meter kemudian jalanan berubah berupa bebatuan kerikil. Jalan aspal ini sedang dalam perbaikan. Beberapa bagian dicor karena tanahnya tidak stabil. Aku bersyukur dalam hati. Akhirnya jalan yang rusak parah ini diperbaiki juga. Rupanya pemerintah daerah Garut mulai memberi perhatian kepada sarana publik yang satu ini. Terlebih Gunung Papandayan merupakan lokasi wisata yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Ojek berhenti di pintu masuk lapangan parkir.

Tepat di sebelah kiri portal parkiran, terdapat pos jaga. Aku memasuki pos dan membeli karcis seharga 5.000 rupiah. Pada sabtu – minggu tarif masuk menjadi 7.500 rupiah. Harga yang masih terbilang murah untuk kantong pelajar, mahasiswa dan backpacker. Tak heran jika sabtu minggu gunung ini ramai oleh pendaki-pendaki muda asal Jakarta, Bekasi,dan Bandung. Petugas pos jaga menanyaiku kenapa datang sendiri. Aku sendiri bingung menjawabnya. Sebenarnya memang tidak ada kawan yang bisa diajak.

Belasan tahun hidup di perantauan, aku sudah tidak mempunyai teman main lagi. Apalagi teman mendaki gunung. Teman-temanku rata-rata sudah menjadi ibu rumah tangga semua. Sudah tidak tertarik lagi akan hal-hal seperti ini. Sedangkan aku sendiri walaupun sudah berkeluarga masih sangat beruntung karena bersuamikan sesama penyuka gunung. Ia selalu mendukung dan menemaniku jika aku mendaki ke gunung mana pun. Sayangnya, kali ini suami dan anak semata wayangku yang kerap menjadi parner mendaki, sudah lebih dulu pulang ke Batam karena urusan kerja dan sekolah.




Camp David, 10 Oktober 2014 

Aku melangkahkan kaki dengan semangat. Birunya langit dan jernihnya udara pagi seakan ucapan selamat datang dari Papandayan untukku. Kuhela nafas dalam-dalam seraya menatap tebing cadas yang menjadi pemandangan utama gunung ini dari kejauhan. Aroma khas Papandayan yang telah kukenali, membangkitkan syaraf-syaraf memori yang tersimpan rapi dalam ingatan. Bau belerang bercampur getas pohon-pohon cantigi yang mengitari, seakan diorama yang terputar kembali ke masa lalu.

Papandayan bagaikan magnet yang terus menerus menarikku untuk datang dan datang lagi. Hingga akhirnya kudaulat ia menjadi kekasih pertama. Kekasih yang memancarkan cinta. Dan cinta yang pertama kali menggetarkan dada. Membuat jantung berdegup lebih kencang dan fikiran melayang tak tenang, Cinta itu telah menjalin ulir ketakjuban dan kerinduan jauh di dalam nurani. Dan harus kuakui, cinta itu tak pernah melemah hingga hari ini. Cinta pertama yang akan tetap bersemi di sanubari.

Matahari mulai meninggi, namun sinarnya belum terlalu garang. Aku melangkah dengan tenang. Menyusuri jalur berbatu di area kawah seorang diri. Asap yang terus menerus keluar dari kepundan, belerang serupa bedak bayi yang kuning-kemuning, anak-anak sungai yang mengalirkan air hangat, satu per satu tertangkap retina dan terputar kembali dalam memori. Menyatu menjadi gambar kolase dan melengkapi rekaman data dalam ingatan.

Suara deru sepeda motor membuatku menjauh, menepi dari jalur. Seorang penduduk desa di sekitar Gunung Papandayan melintas menggunakan sepeda motornya. Dua karung hasil bumi berupa kentang ia angkut di depan dan belakang jok. Dengan penuh waspada ia mengendalikan laju kendaraan di jalur kawah layaknya seorang crosser. Menurutku dialah sebenarnya yang layak menyandang gelar crosser atau off roader. Jalur kawah ini amat berbahaya. Curam dan terjal. Namun mampu ia lewati. Mungkin perjalanan menegangkan tersebut dilakoninya karena terpaksa demi mencari penghidupan. Jalan terjal berliku dan berbatu adalah salah satu tantangan setiap hari yang harus ia hadapi. Pemandangan ini pun segera kuabadikan. Dengan hati-hati kuarahkan kamera kepadanya.Klik.

Setengah jam kemudian aku tiba di perbatasan menuju hutan mati. Jika belok kanan aku akan menyusuri jalur lebar menuju Pondok Saladah yang kini diberi nama jalur menuju Hubber hoet. Ah apa pula itu? Nama yang terdengar aneh bagi orang sunda sepertiku. Kenapa tidak memberi nama yang berbau-bau sunda saja ya? Ah pada siapa aku bertanya. Jalur ke kanan ini adalah jalur lama yang biasa ditempuh untuk menuju Pondok Saladah. Sebagian jalurnya terpotong di tengah-tengah terkena longsoran sewaktu Papandayan meletus terakhir kalinya. Sedangkan penduduk lokal menggunakan jalur ini sebagai lalu lintas menuju kebun teh Cileuleuy di Pangalengan – Bandung.

Aku tergoda untuk menaiki jalur baru. Jalur tebing cadas di hadapan. Tebingnya langsung menghubungkan kawah dengan hutan mati. Setelah berkutat di jalur yang lumayan licin karena banyak kerikil, 15 menit kemudian aku tiba di hutan mati. Pemandangan di hutan mati sungguh menakjubkan. Sangat eksotis. Batang pohon-pohon cantigi yang menghitam dan abu-abu tegak berdiri antara hidup dan mati. Sudah belasan tahun pohon-pohon ini tidak lapuk tidak pula tumbuh bertunas.

Hutan ini seperti musium pengawetan karena menyimpan ratusan dan mungkin ribuan pohon sebagai saksi sejarah. Aku terpukau, menatap takjub pada para saksi sejarah ini. Saksi yang menjadi korban dan tidak pernah bisa menyelamatkan diri dari gempuran aliran lava pada letusan tahun 2002 silam. Hampir setengah jam aku berada di hutan mati. Mengamati, menikmati, dan menghayati arti semua ini. Arti kecintaan ini. Arti kerinduan ini. Arti kehidupan dan arti kehadiran aku di muka bumi ini.

Aku terus bersyukur kepada-Nya atas kesempatan ini. Kesempatan menikmati indahnya bumi pertiwi dalam keadaan sehat dan damai. “Papandayan, aku di sini, aku di sini…” Bisikku lirih. Ada haru membuncah. Ah, getar dan rasa itu selalu sama dari masa ke masa. Dan aku selalu menganggapmu kekasih pertama. Kekasih yang selalu setia menanti aku kembali. Toilet Pondok Saladah Dari hutan mati, aku mengikuti jalur yang mengarah ke Pondok Saladah. Rumpun-rumpun edelweis yang dilalui sedang mekar dengan indahnya. Dari jauh tampak Pondok Saladah mulai berubah. Pondok-pondok yang entah untuk apa mulai bermunculan di sekeliling. Menjadikan pemandangan alami di sini sedikit terganggu.

Beberapa orang laki-laki tampak sedang memaku kayu pada beberapa tiang pondokan itu. Di Pondok Saladah terdapat tanaman Saladah yang biasa dijadikan lalapan oleh kami orang Sunda. Di daerah Garut, Saladah ini tumbuh liar di sumber mata air Jamban di Bayongong, dan dibudidayakan. Biasa dijual segar di pasar-pasar. Mungkin karena itu pulalah tempat ini disebut Pondok Saladah.

Sewaktu kemping bersama sepupu-sepupu di Pondok Saladah, kami sengaja membawa sambal dan memetik saladah langsung dari tepian sungai kecil di sekitar lokasi kemping. Rasanya krenyes dan segar. Beberapa tenda terlihat di sela-sela batang pohon cantigi yang mengitari lapangan Pondok Saladah. Sebagian penghuninya kebanyakan sedang berada di Tegal Alun, Sebuah tegal atau lapangan berupa hamparan savana edelweis yang begitu luas yang berjarak satu jam perjalanan dari Pondok Saladah. Saat kulangkahkan kaki menuju area bertuliskan toilet, aku terkejut, surprise.

Di sana telah terdapat tiga toilet yang dicat hitam berbentuk drum ukuran besar. Didalamnya telah dilengkapi oleh kloset jongkok, gayung, dan bak air yang mengalir tanpa henti. Sungguh, ini merupakan ide brilian untuk menjaga kebersihan gunung dari para pendatang yang jahil. Jahil karena buang kotoran sembarangan. Ide menjaga kebersihan gunung dengan membangun toilet seperti ini patut diapresiasi.

Ide cemerlang yang direalisasikan oleh para mahasiswa ITB. Dengan adanya toilet tersebut aku menyaksikan sendiri, di sekitar Pondok Saladah tidak terdapat sampah kotoran manusia yang tercecer di semak-semak seperti yang pernah kutemui di Gunung Semeru dan Gunung lainnya di Indonesia. Berhampiran dengan toilet terdapat pancuran untuk mengambil air wudhu dan keperluan mencuci atau membersihkan wadah-wadah kotor. Di sebelahnya lagi ada pondok yang difungsikan sebagai mushola.
Sedangkan air bersih mengalir melalui selang-selang yang dialirkan dari sumber mata air di sekitar perbukitan yang mengitari Pondok Saladah. Menuju Tegal Alun Saat ragu berdiri di jalur menuju Tegal Alun, Aku bertemu dua orang pendaki dari Tasikmalaya. Ketika aku mengajak mereka untuk naik bersama mereka mengangguk setuju. Sebelum berangkat ke Tegal Alun kami makan siang terlebih dahulu.

Segelas pop mie, sebatang coklat dan secangkir kopi cukup mencairkan suasana canggung diantara kami karena baru saling mengenal. Selesai makan siang, kami mengemasi semua barang. Termasuk sampah-sampah yang ditemui di sekitar tempat duduk kami. Sampah-sampah dimasukkan ke dalam kantong untuk dibawa turun. Hutan mati kembali terlewati. Rekahan cadas yang sesekali membelah jaur kami lompati.

Vegetasi berubah menjadi hutan cantigi. Kuncup-kuncupnya sedang merah berseri. Kurang dari satu jam, kami memasuki canopi hutan cantigi yang rapat. Daaan…beberapa saat kemudian hamparan padang edelweis tampak di hadapan. “Aaaaah….” Ruli, pendaki dari Tasikmalaya berteriak kencang.

Salah satu keinginan yang ia pendam sejak beberapa tahun silam, yakni mengunjungi Tegal Alun, tercapai sudah. Tinggal satu lagi harapan yang belum dilaksanakannya, berfoto saat duduk di hamparan rumput sambil minum kopi Sunyi sepi menyelimuti. Hembus angin seakan terhenti. Pohon-pohon cantigi di hutan larangan berbaris rapi seakan membuat formasi.

Dan damai pun bersemi dalam hati. Aku larut dalam alunan sunyi Tegal Alun. Belaian lembut kesunyian yang melenakan. Hanya ingin berbaring terlentang menatap awan-awan yang beriringan. Memberi noktah-noktah putih pada langit yang biru tenang.

Jam setengah tiga siang, kami turun ke Pondok Saladah dan pulang melalui jalur Pos Hubber Hoet. Begitu jalur berakhir dan menemui jalan lebar, di ujung jalur terdapat sebuah warung yang menjual beberapa makanan ringan. Sebuah pos lapor & Jaga berdiri di sebrangnya. Entah berita baik atau tidak. Namun aku kurang setuju ketika terlalu banyak bangunan-bangunan permanen yang berdiri di kawasan ini.

Setelap Ruli dan temannya melapor, kami meneruskan perjalanan dan melintas jalur kawah. Saat kami berada di jalur yang melintasi kawah-kawah aktif. sebuah sepeda motor terdengar di belakang. Seorang warga kembali melintas menggunakan sepeda motornya. Ia menempuh jarak belasan kilometer dari Bandung melalui hutan rapat, savanna Tegal Panjang, dan kawah Papandayan yang terjal dan berbahaya. Meleng sedikit sepeda motor bisa terjungkal ke dalam kawah atau jurang dan sungai-sungai kecil yang dilintasinya.

Aku kerap dibuat takjub oleh penduduk lokal di sini. Aku menyebut mereka para pelintas batas. Terkadang juga mereka berjalan kaki dengan membawa hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan dan barang kebutuhan pokok seperti beras. 3 tahun lalu aku bertemu rombongan pelintas batas di lokasi ini dari kakek hingga cucunya. Dari yang tua hingga bayi.

Kami tiba di Lapangan parkir Camp David sekitar jam setengah lima sore. Aku langsung berpamitan kepada Ruli dan temannya. Mereka berdua tidak langsung pulang tapi menuju sebuah kolam air panas di sekitar Camp David. Kolam yang baru dibangun sekitar 5 bulan yang lalu. Alhamdulillah walaupun sudah sore, aku masih bisa mendapatkan ojek yang sedang menunggu penumpang di Camp David.
Dengan menawar ongkos sebesar 20 ribu rupiah, 20 menit kemudian aku sampai di Cisurupan. Selanjutnya naik angkot menuju pasar simpang dan pulang ke rumah dengan naik ojek kembali.

***

Di sebuah ujung kampung, aku menatap lekat pada sosok anggun itu. Mangintip, membidik melalui jepretan kamera. Seperti de javu. Aku pernah seperti ini dulu. Tiba-tiba bayangan gadis kecil yang duduk termenung di tepi kebun berkelebat dalam benak. Ia seakan tersenyum menatapku. Kami sama-sama menatap sosok sama. Yakni gunung indah, tempat bernaungnya kawah-kawah, tempat memantulnya cahaya lembayung senja.

Sosok itu, dialah Gunung Papandayan.

Biaya-Biaya: 

– Ojek dari rumah – Pasar Simpang PP: 20.000
– Angkot Pasar Simpang – Cisurupan : 10.000
– Ojek dari Cisurupan – Camp David: 50.000
– Karcis Masuk: Rp. 5000
Total biaya yang aku keluarkan sebesar: Rp. 85.000

Rute Kendaraan:

1. Dari Jakarta, Bekasi, Cianjur: Naik bis menuju Terminal Guntur. Dari Terminal Guntur naik angkot warna biru jurusan Cikajang. Minta diturunkan di Cisurupan tepat di sebrang gapura yang akan memasuki kawasan Wisata Kawah Papandayan. Dari sana dilanjutkan naik ojek menuju Kawah Papandayan.

2. Dari Bandung: Naiklah Elf atau minibis (biasa disebut mikrolet) jurusan Bandung – Bungbulang, atau Bandung-Pameungpeuk. Minta diturunkan di Cisurupan.

3. Dari Jawa Tengah, seperti Madiun, naik kereta menuju Cibatu, dari Cibatu naik angkot menuju Terminal Guntur. Dari terminal Guntur naik angkot jurusan Cikajang,
 

 
Tulisan ini juga pernah dimuat di website Pendaki

Jumat, 31 Oktober 2014

Gunung Guntur, Pendakian Penuh Waswas dan Curiga

Bagi orang-orang perantauan seperti saya, momen Idul Adha, 5 October 2014 lalu adalah momen yang tepat untuk pulang kampung. Selain tiket pesawat terbang tidak semahal ketika Idul Fitri, juga lalu lintas di jalan raya tidaklah terlalu macet. Terlebih kampung saya berada di Garut, Jawa Barat, yang lalu lintasnya berada di jalur selatan. Jalur yang setiap kali musim mudik lebaran kerap macet parah.

Gunung Guntur
Sambil Menyelam Minum Air

Sambil menyelam minum air. Sambil pulang kampung, saya pun kerap mendaki gunung :D. Biasanya, saya mendaki Gunung Cikuray atau Papandayan. Namun liburan kali ini saya lebih memilih mendaki Gunung Guntur yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampung halaman. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan bermotor menuju SPBU Tanjung di Kecamatan Tarogong Kaler. SPBU ini yang menjadi entry point dan bahkan assembly point bagi para pendaki Gunung Guntur.

Tepat di Hari Raya Idul Adha, sekitar pukul 11.30 siang, selepas mengurusi daging domba garut yang dijadikan qurban, (Tak lupa kami membawa serta potongan daging domba segar untuk dimasak di atas gunung) saya bertiga dengan suami dan adik laki-laki saya berangkat menuju SPBU Tanjung dengan menyewa mobil angkutan  pedesaan (Angped). Sambil menunggu teman yang sudah biasa mendaki Gunung Guntur sebagai penunjuk jalur, kami beristirahat sejenak di mushola SPBU.

Jalan masuk menuju Gunung Guntur terletak di sebelah kiri SPBU. Tidak ada tanda dan tulisan apa pun di mulut jalan. Jadi jika ragu sebaiknya bertanya kepada penduduk sekitar. Pada hari biasa, jalan menuju Gunung Guntur ini ramai oleh lalu-lalang truk yang mengangkut pasir dan batu. Namun karena saat itu merupakah hari libur, maka tak satu pun truk yang lewat. Dengan terpaksa, kami berjalan kaki menyusuri jalanan yang berdebu. Kemarau panjang telah merubah jalanan aspal yang kami lalui seperti arena pacuan kuda.

Baru beberapa menit berjalan, rasanya tubuh langsung shock karena badan belum berkompromi dengan beban di punggung. Begitu pun dengan nafas yang belum menemukan ritmenya. Langsung ngos-ngosan. 15 menit kemudian, kami menyerah. Segera menuju sebuah warung yang menjual es campur. Hawa panas di tengah terik kemarau ini cukup membuat mental dan fisik kami down. Daaan, menemukan es campur di tengah terik seperti itu bagai menemukan oase di gurun sahara. Langsung pengen nyebur dan berendam seperti kuda nil :D

Saat duduk sambil menikmati es campur, Si Bapak penjual es campur yang ternyata adalah RT setempat, segera bercerita panjang lebar tanpa diminta. Ia berpesan agar kami berhati-hati karena kerap terjadi kehilangan benda-benda berharga di atas gunung sana. Incarannya selalu sama. Kamera, uang, hand phone atau tablet. Dan ini sungguh membuat para pendaki dan warga di sana menjadi resah karena pelakunya hingga kini belum tertangkap.

Pesan dari Base Camp Guntur

Setelah badan terasa segar, kami segera beranjak pergi. Namun baru beberapa meter berjalan, kami melihat sebuah rumah bertuliskan “Base Camp Guntur”. Sebuah rumah yang ternyata dijadikan pos pendaftaran ke Gunung Guntur. Kami pun mampir untuk melakukan registrasi. Rumah tersebut adalah rumah Bu Tati, RW setempat. Namun yang menerima kami saat itu adalah suaminya. Sebut saja Pak RW walaupun bukan beliau yang menjadi RW :D. Sama halnya dengan Pak RT yang menjual es campur tadi, Pak RW tidak lupa menasehati kami agar berhati-hati. Dan jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera menghubunginya. Ia pun menyarankan jika seseorang kedapatan mengambil barang-barang milik kami, maka segeralah difoto. Waduh boro-boro untuk foto Pak, rasa-rasanya kami tidak akan seberani itu kecuali dalam jarak yang aman. Sementara yang kami dengar dari Pak RW sendiri, pelakunya kerap memasuki tenda pendaki saat sedang terlelap tidur sekitar jam 3 hingga jam 5 subuh.

Saat sedang melakukan registrasi, sebuah truk mampir di base camp. Dan sopir truk bersedia memberikan tumpangan hingga kawasan tambang pasir. Syukur Alhamdulillah, dapat tumpangan juga. Tak terbayang di teriknya siang seperti ini kami masih harus berjalan berkilo-kilometer lagi menuju lokasi tambang pasir yang gersang. Saya khawatir kalau energi terkuras sebelum memasuki kawasan gunung sesungguhnya, fisik dan psikologis kami akan down duluan seperti tadi.


Para Penambang Pasir

Truk melaju perlahan di jalanan yang tidak lagi rata. Adik dan suami saya berdiri di bak truk belakang. Begitu juga dengan teman baru kami yang bernama Roni. Sementara saya duduk manis di samping Pak Sopir yang masih muda, 21 tahun. Namanya mudah diingat. Nama khas orang Sunda kebanyakan. Asep.
Darinya cerita para penambang pasir pun bergulir.Truk yang dibawa Asep adalah truk kepunyaan kakaknya dari Bandung. Ia kerap bolak-balik Garut – Bandung demi mengais rejeki dengan membeli pasir sebesar dua ratus ribu rupiah dari para penggali.
Gunung Guntur
Asep setiap harinya bolak-balik ke lokasi tambang pasir hampir 3 kali sehari, pagi siang sore. Seperti minum obat :D. Tiap trip ia akan membayar 30 ribu rupiah sebagai retribusi bagi warga dan desa sekitar. Selain itu ia juga menyetor uang sebesar 5000 rupiah ke Organda, sebagai jaminan keamanan kalau terjadi apa-apa dengan truknya. Setelah itu ia membawa pasirnya ke daerah Garut atau Bandung. Untuk wilayah Garut ia menjualnya 500 ribu rupiah per truk. Sedangkan untuk wilayah Bandung  800 ribu rupiah.
Jika penghasilan bersih sekitar 100 hingga 400 ribu rupiah saja per trip, usaha tambang pasir ini amatlah menjanjikan. Terlebih jika truk yang dimiliki adalah milik pribadi sopir truknya, maka keuntungan yang diterima akan berlipat.

Tak dipungkiri, dengan maraknya pertambangan pasir ini, ekosistem di kawasan Gunung Guntur terganggu. Keseimbangan alam mulai tak berimbang. Namun di sisi lain kekayaan alam, bumi, laut, dan yang terkandung di dalamnya diciptakan untuk memberi manfaat sebaik-baiknya bagi kehidupan manusia. Dengan itu pemanfaatan sumber-sumber kekayaan alam seperti di atas haruslah bijak dan berwawasan lingkungan. Tanpa mengesampingkan masa depan bumi di masa yang akan datang.
Di ujung jalan paling atas di lokasi pertambangan pasir, truk diparkir. Dengan petunjuk dari Asep, kami melanjutkan perjalanan dengan mengarah ke sisi kanan atas menuju Pos 1, Curug Citiis.Tidak ada papan petunjuk yang jelas. Jalan tempat truk-truk menaikkan galian pasir terlihat saling silang di sana-sini. Tambang pasir ini tampak luas sekali.

Kami berpapasan dengan tiga orang remaja laki-laki yang baru turun dari Curug Citiis. Saya menanyakan beberapa hal kepada mereka penuh selidik. Apakah mereka juga kehilangan sesuatu. Benar saja. Salah seorang dari mereka segera bercerita bahwa baru saja kehilangan dompet beserta uang dan hand phone. Saya tercekat kaget. Duh, apakah ini berarti gunung guntur mulai tidak aman bagi pendaki?
Saya menanyakan apakah mereka mencurigai seseorang atau sesuatu sehingga barang-barang tersebut bisa hilang. Sepertinya iya. Mereka mencurigai beberapa orang laki-laki yang sedang nongkrong di Curug Citiis. Kecurigaan ini timbul karena saat itu tidak ada siapa pun kecuali mereka. Got it. Saya mencatatnya baik-baik dalam hati.

Dari Pos ke Pos

Suara gemericik air mulai terdengar. Curug Citiis mulai tampak dari sela-sela pepohonan yang rindang. Air sungai mengalir jernih melalui ceruk-ceruk yang dalam. Tiga orang laki-laki berbaring di bale-bale bambu sebuah gubuk. Entah sedang apa mereka di sana. Saya amati mereka bukan pendaki yang akan naik maupun turun.

Kami terus melanjutkan perjalanan tanpa berhenti di Curug. Begitu kami mengorek keterangan dari Roni, dia juga punya pengalaman pahit di Curug Citiis. Beberapa tahun lalu saat ia sedang tidur-tiduran di bebatuan, tas kecil yang berisi uang dan hand phone-nya raib.

Usut punya usut, temannya yang sedang tidur-tiduran juga sempat menyaksikan tas Roni diambil seseorang. Seseorang itu adalah salah satu laki-laki yang kami temui tadi. Tidak ada bukti untuk menyeretnya ke pihak polisi. Yang jelas setelah cerita itu selesai kami jadi waswas. Apakah malam nanti kami pun akan menjadi sasaran?
Para Summiter
Setengah jam kemudian kami tiba di Pos dua. Beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Di sini masih terdapat sumber air karena pos 2 berada tepat di tepi sungai Citiis.

Sore mulai beranjak, dan jalur makin menanjak. Bebatuan terjal yang kami lalui tampak seperti tangga-tangga alami. 1 jam kemudian kami tiba di pos 3, pos yang dinamai Roni Pos Pangreureuhan. Rupanya ia sendiri yang memberi tanda jejak dan membuat petunjuk-petunjuk yang sangat berguna bagi para pendaki.
Di pos 3 juga masih terdapat air. Kira-kira 5 menit berjalan ke arah sebelah kanan jalur dengan petunjuk yang jelas menuju sumber air. Masih di aliran Sungai Citiis yang terletak di sebelah kanan jalur.

Maghrib mulai menjelang. Suara adzan dari perkampungan di bawah sana samar terdengar. Kami beristirahat dan makan malam. Sholat maghrib akan kami jama di waktu isya nanti saat kami tiba di puncak.
Menu lepet dan keripik tempe yang telah disiapkan ibu saya dari rumah ternyata sangat bermanfaat untuk dijadikan menu makan malam saat itu. Semula, saya tidak berniat untuk membawanya jika ibu tidak memaksa.

Hari mulai gelap. Kabut makin pekat menyelimuti jalur dan Puncak Guntur. Kami mulai mengeluarkan senter dan head lamp masing-masing. Satu per satu menapaki jalur yang mulai licin oleh kerikil. Bukan pasir seperti di Gunung Semeru atau Rinjani. Tapi kerikil-kerikil sebesar bola bekel. Kondisi ini membuat kami semakin sulit melangkah karena hampir setiap pijakan pada kerikil menyebabkan kaki tergelincir beberapa centi ke bawah. Sementara vegetasi hanya berupa semak-semak. Sangat jarang sekali pepohonan. Jika pun ada hanya satu-satu batang pinus yang gosong tersambar petir.

Agar tidak sering tergelincir kami berjalar di tepi jalur yang ditumbuhi semak sehingga masih bisa berpegangan pada batang-batangnya yang ternyata lumayan kuat menahan beban badan.
Rasanya gunung ini luar biasa. Luar biasa melelahkan bagi yang tidak biasa. Jalurnya terbilang berat, terlebih bagi para pemula. Menanjak terus dan tidak menemukan area datar sama sekali. Saat yang tepat menguji kesabaran, kekuatan, dan kegigihan. Beban yang berat di punggung masing-masing sungguh merupakan ujian tersendiri bagi kekuatan fisik dan mental. Mendaki gunung bukanlah hal yang mudah dalam kondisi seperti ini. Syukurnya kami tidak mendaki siang hari. Bisa-bisa terkena dehidrasi karena vegetasi dan paparan matahari sangat terbuka.

Gelap semakin pekat. Dan kabut tak juga beranjak pergi. Kami berempat berada pada jarak yang saling berjauhan. Namun karena jaur terbuka, satu sama lain masih bisa saling memantau dengan patokan sinar senter masing-masing.
“Chil…Chil…Ayah Bunda mah jauh-jauh pulang kampung malah nyari susah,” celetuk suami saya sambil terkekeh tertawa. Ah iya, untung saja anak kami Chila yang masih berusia 5 tahun, tidak kami ajak. Padahal ia sudah merengek-rengek meminta untuk ikut mendaki.

Menggapai Puncak 1

Roni, sudah jauh di atas sana. Cahaya senter yang ia nyalakan sebagai sinyal, tampak seperti bintang, berkelap-kelip. Membias, menembus pekatnya kabut. Sinyal cahaya yang dibalas sama oleh Adik saya yang berada di bawahnya. Sedangkan saya dan suami tertinggal cukup jauh di belakang. Saya mengalami keseleo di sendi lutut kiri sehingga berjalan terpincang-pincang. Saya menduga disebabkan kurangnya pemanasan sebelum mendaki.

Pukul 19.30 satu per satu kami tiba di gigiran puncak 1. Jalur mulai datar dan melandai. Kami segera menuju ke lembah di area puncak. Samar terdengar celoteh khas ibukota. Ber-Elu Gua. Sesekali diselingi pertanyaan “Mana Bapak, Mana Bapak?” lalu disambut jawaban lainnya “Di Jonggol,” candaan khas sinetron Emak Ingin Naik Haji.
Gunung Guntur
Berselimut Kabut

“Assalamualaikum”, Roni mengucap salam. Dijawab serempak oleh mereka. Para pendaki yang sempat terlihat di punggungan gunung di sebelah kiri jalur yang kami lalui sore tadi. Jalur yang ampun-ampun. Sangat terbuka dan tidak ada pohon termasuk rumput dan semak untuk sekedar berpegangan. Dan beratnya jalur yang mereka lalui ini tidak ada sumber air. Wajar saja jika mereka kehabisan air.

Para pendaki yang baru kami temui ini berasal dari Bekasi. Ketika saya tanya kenapa tidak melalui jalur sepanjang sungai Citiis, mereka menjawab bahwa laki-laki yang ada di Curug Citiis menunjukkan jalur ke sebelah kiri. Saya hanya geleng-geleng kepala. Apa maksudnya coba. Mungkinkah tindakan itu, menunjukkan arah yang salah, adalah sengaja?

Kami mendirikan tenda tidak jauh dari tenda pendaki dari Bekasi. Setelah tenda berdiri rapi kami mempersiapkan untuk memasak. Daging domba yang kami bawa dari rumah segera disiapkan untuk menjadi sate. Lumayan dapat 20 tusuk sate. Dengan menu sate domba, makan malam kali ini sungguh sangat nikmat.Alhamdulillah.

Setelah makan malam dan mengobrol apa saja, kami bersiap untuk tidur. Benda-benda berharga segera kami rapikan dan disimpan baik-baik. Dompet, kamera poket, dan hand phone saya selipkan di jaket yang saya kenakan. Lalu membungkus diri dalam sleeping bag. Saya merasa lumayan tenang. Dimana lagi menemukan tempat aman di dalam tenda kecuali dalam sleeping bag.

Mengingat beberapa cerita teman yang mengalami kejadian kemalingan di Gunung Guntur ini, kami berempat jadi waswas. Tidur tidak nyenyak. Terjaga pun tidak enak. Setiap ada suara-suara aneh segera saja terbangun penuh kecurigaan. Laa haula…saya pun berdoa lalu memejamkan mata. Sungguh malam yang terasa sangat panjang dan menegangkan. Rasanya saya ingin segera menyudahi malam ini. Namun di luar sana gelap masih menyelimuti.

Pagi telah menyingsing. Kabut masih setia menyelimuti area puncak. Awan menggumpal, bergulung-gulung di langit sebelah timur. Sinar matahari menerobos lembut. Saya yang menunggu detik-detik sunrise sedikit kecewa karena langit terhalang kabut. Namun kekecewaan itu terobati saat melempar pandang ke arah selatan.Gunung Cikuray mencuat begitu saja di antara genangan awan di langit. Tampak begitu anggun dan menggetarkan.

Hawa pagi tidak terlalu dingin. Entahlah. Saya tidak merasakan kedinginan yang sangat seperti di gunung-gunung lainnya. Mungkin tubuh saya sudah beradaptasi dengan suasana udara di Garut. Apalagi saya sudah beberapa hari berada di kampung halaman. Atau, karena memang efek dari global warming  atau mungkin juga karena karakteristik Gunung Guntur yang panas. Sehingga kadang terbakar sendiri saat kemarau seperti ini.
View Kota Garut


Setelah menyeruput teh manis hangat, berdua dengan adik, saya menaiki puncak 2. Setengah jam kemudian kami tiba di sana. Dari puncak 2 pemandangan tampak kontras. Tepat bersebelahan dengan Guntur tampak Gunung Hejo yang rimbun menghijau. Tajuk-tajuk pohonnya subur dan lebat. Sementara Guntur sendiri tampak gersang dan gundul. Arah menuju puncak 3 justru terlihat menghitam bekas kebakaran yang hampir setiap tahunnya terjadi.

Tak kurang dari setengah jam kami berada di Puncak 2 lalu memutuskan turun ke lokasi kemping. Saya tidak begitu berminat untuk menuju puncak 3 dan puncak 4 yang menjadi titik tertinggi Gunung Guntur yakni 2249 mdpl. Cukuplah menyaksikan keindahan hingga di puncak 2 saja. Setelah saya dan adik turun, gantian kini suami dan Roni yang naik ke puncak 2.
Saat mereka berdua turun saya sudah selesai packing. Sehingga tak lama berselang, sekitar jam 10 pagi, kami turun. Kini jumlah kami menjadi 8 orang karena ditambah dengan 4 orang pendaki dari Bekasi yang ingin turun bersama.


Turun Gunung

Pemandangan saat turun sungguh membuat saya berdecak kagum. Pemandangan ke arah Kota Garut dan sekitarnya seperti lukisan yang berbingkai awan. Walaupun langit memutih tetap saja keindahannya tak terbantahkan. Tambang pasir tampak berundak-undak berwarna merah tanah. Hamparan savanna yang menguning di punggungan gunung mengingatkan saya kepada film lawas Little House on the Paraire.

Sementara pada jalur turun, rekan-rekan sedang berjuang menuruni jalur kerikil yang licin.
“Pantesan kata temanku, kalau ke Guntur bawa wajan, biar bisa dipakai turun.” canda suami saya. Ia pun mencoba menuruni jalur dengan berbagai gaya. Mundur, menggelosor dan berjongkok. Ketika berjongkok, wuusss…..ia pun meluncur tak terhentikan. Adik saya tak mau kalah ia pun menuruni jalur dengan menggelosor. Meluruskan kedua kakinya  dan sreeeet….ia pun berhasil menuruni jalur dengan laju.
Jam 11.30 kami  tiba di Pos 3. Berisitirahat dan mempersiapkan makan siang dengan merebus mie instant.

Selepas sholat dzuhur yang dijama dengan ashar, kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di Curug Citiis. Di sana masih terdapat tiga orang laki-laki yang kemarin kami temui. Tak berhenti di situ kami melanjutkan perjalanan dengan menyebrang sungai citiis dan mengikuti jalur pipa air warga yang menuju kampung. Tiba di Base Camp Guntur sudah sore. Setelah melapor kami pulang dengan menumpang truk pasir menuju daerah Tarogong Garut.

Tulisan ini saya reblog dari tulisan saya sendiri di websitenya pendakigunung.org di sini

Kamis, 30 Oktober 2014

Bintan Trekking 2014, Arena Jelajah Pulau Bintan yang Sesungguhnya

Setiap tahunnya, tepatnya di bulan Agustus, Dinas Pariwisata Kabupaten Bintan Kepulauan Riau senantiasa mengadakan event lomba trekking dengan lokasi di Gunung Bintan. Mengambil start dan Finish di Desa Bintan Bekapur dan Bintan Buyu.

Biasanya lomba ini bertepatan dengan musim durian sehingga kerap digelar pesta durian. Siapa pun yang datang ke acara tersebut boleh mencicipi durian yang bertruk-truk dibagikan. Para peserta pun diberi oleh-oleh berupa bingkisan durian saat menjelang garis finish. Namun sayang tahun ini musim durian jatuhnya di bulan Juli, bertepatan dengan bulan puasa sehingga duriannya sudah tak bersisa lagi.

Event akbar ini memperebutkan total hadiah 50 juta dengan rincian juara satu 10 juta, juara dua 7,5 juta, juara tiga 6 juta dan sisanya dibagi untuk 8 tim juara harapan.
Kapal Roro Batam - Bintan

Tahun ini peserta dibatasi hanya 100 tim saja dengan masing-masing anggota tim sebanyak 3 orang. Namun pada kenyataannya peserta yang mendaftar membludak hingga panitia harus menyetopnya di angka 130 tim. Banyak lagi pendaftar yang ditolak karena tidak memenuhi syarat.Contohnya saya dan suami yang hendak mengajak anak kami yang berumur 5 tahun. Panitia menolak karena batas usia peserta minimal 14 tahun.

Saya berangkat dari Batam ramai-ramai dengan teman-teman dari Komunitas Pecinta alam Muka Kuning Cumfire. Ada 8 tim dari Cumfire yang ikut ambil bagian dalam lomba ini. Kebanyakan wajah-wajah lama yang hampir tiap tahun tidak pernah absen mengikuti acara ini.

Penyebrangan Batam - Bintan menggunakan kapal Roro memakan waktu 1 jam. Biasanya kapal berangkat jam 2 tepat. Sedangkan dengan kapal cepat hanya 10 menit saja. Kami semua memilih menggunakan kapal Roro karena lebih murah dan bisa menikmati pemandangan ke arah laut. Namun sayang suami saya ketinggalan karena baru keluar dari kantornya jam setengah dua siang. Saat itu kapal mengangkat sauh lebih cepat sehingga jadwal keberangkatan maju beberapa menit. 

Tiba di Tanjung Uban, rombongan dijemput panitia menggunakan bis. Sedangkan Saya dan Chila masih akan menunggu Bang Ical yang menyusul dengan menggunakan kapal cepat. Beruntung ada Babeh Sugiyono beserta keluarganya yang mau ikut serta menunggu.Beruntungnya lagi Istri Babeh dijemput oleh saudaranya.

Tak lama, kami sudah bertemu dengan Bang Ical. Dan segera melaju menuju lokasi acara. Sepanjang perjalanan, pemandangan didominasi oleh semak dan rawa. Sesekali terlihat rumah-rumah penduduk, itu pun saling berjauhan. Sedangkan jalanan yang dilalui masih terbilang mulus. Jembatan-jembatannya pun terlihat baru.
Poster Bintan Trekking di Lokasi

Satu jam kemudian, kami tiba di Desa Bintan Bekapur. Suara khas musik melayu menyambut kedatangan kami.Tarian sekapur sirih oleh anak-anak Pulau Bintan sedang dimainkan.

Kami diterima dengan baik oleh panitia. Dan walaupun gagal jadi peserta kami tetap mendapat fasilitas makan, bandana, dan pin bintan trekking. Horeee.

Malamnya seluruh peserta diwajibkan menginap di lapangan yang telah disediakan oleh panitia. Tenda-tenda berdiri berjejer rapi. Termasuk tenda-tenda rombongan kami dari Batam.

Malam acara diisi oleh dendangan dan tarian melayu yang gemulai memikat hati.

Keesokan harinya tepat jam 8 pagi acara Bintan trekking dilepas oleh Bupati Bintan. Saya dan keluarga hanya sibuk menonton saja :D membidikkan kamera kepada para peserta yang kami kenali.

Setelah seluruh peserta habis, kami meluncur menuju air terjun kecil yang ada di kaki gunung bintan. Tiba di sana saya dibuat terkejut, seujung-ujung kampung di sana ditanami buah-buahan semua. Duku, rambutan, dan durian. Saat itu bertepatan dengan musim duku sehingga sepanjang jalan pohon-pohon duku berbuah lebat sekali.
Metik langsung dari Mobil :D

Tangan-tangan jahil kemudian tak sadar menjulur keluar dari mobil daaaan....puluhan bahkan ratusan biji duku berpindah tempat  berada di kursi mobil. Hihi...pencuriiiii...teriak saya. Maling teriak maling. Eit asli saya tidak ngambil dan makan sebiji pun. Takut dosa. Walaupun melimpah ruah, belum tentu yang punya pohon ikhlas merelakan dukunya masuk ke dalam perut saya.

Setelah puas keliling dan main-main di air terjun, kami kemudian meluncur ke lokasi finish trekking di Bintan Buyu. Sebuah lintasan finish telah disiapkan panitia. Tak urung membuat kami jeprat-jepret numpang foto sebelum para peserta tiba.

Tak berapa lama berselang, para peserta Bintan Trekking mulai berdatangan. Mereka menjinjing sebuah bingkisan yang terbuat dari daun kelapa yang dijalin begitu cantik. Isinya ternyata duku.

Di lapangan tepat di sebelah garis finish digelar bazaar yang menjual aneka makanan khas bintan dan jajanan umum lainnya. Kami pun mencoba beberapa makanan yang unik khas bintan. Salah satunya buah Tampoi. Buah ini mirip duku namun lebih besar. Sedangkan tampilan isi dan bijinya lebih mirip manggis.
Bang Ical di Garis Finish

Acara puncak dari panitia adalah hiburan dengan menampilkan Band Nidji dari Bandung. Sontak saja para peserta yang kebanyakan anak-anak muda merangsek masuk ke dekat panggung. Kalau saya sih udah nggak masanya lagi. Jadi tetap saja melipir di pinggir lapangan :D

Buah Tampoi yang Langka
Acara penampilan Band selesai, dan pengumuman pemenang Trekking mulai dibacakan. Pembawa acara sepertinya terburu-buru membacakannya karena untuk juara satu dua tiga saja dia membacakannya mirip pembacaan UUD 45, tak ada jeda. Jadi para pemenang yang dipanggil malah banyak yang nggak ngeh kalau mereka menang.

Dari rombongan Cumfire ternyata ada juga yang menang. Lumayan mendapatkan uang tunai sebesar satu setengah juta belum dipotong pajak.

Karena sudah menjadi tradisi dan kebiasaan, teman-teman yang ikut acara ini tidak  terlalu berharap menang. Hanya ingin berpartisipasi saja. Jadi tidak terlalu kecewa saat mereka tidak juara.

Sorenya kami menaiki bis menuju Tanjung Pinang. Setelah itu menyebrang dengan menaiki kapal Fery menuju pelabuhan Telaga Punggur, dan kembali ke Batam menjelang malam.

Sampai jumpa di Bintan Trekking tahun depan.
Foto Bareng Bupati Bintan




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...