Jumat, 11 April 2014

Bermain ke Hutan Wisata Mata Kucing, Batam

Jalan Diponegoro, Jalan Menuju Hutan Wisata Mata Kucing
Minggu 6 April yang lalu saya dan suami mengajak Chila, anak sematang wayang kami bermain ke Hutan Wisata Mata Kucing, Batam. Mata Kucing? Nama yang aneh ya, tapi ya begitulah daerah ini dikenal oleh masyarakat Pulau Batam. Saya belum mencari tahu dari mana asal-usul nama tersebut. Kalau bayangan saya sih mungkin para pendahulu petugas pembuka hutan bertemu kucing hutan dan tidak bisa melupakan tatapan matanya. Hehe asal.

Lokasi hutan wisata ini berada di pinggir Jalan Raya Diponegoro yang menghubungkan Kawasan Batu Aji dengan Sekupang. Dan ternyata letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Hanya sekitar 10 menit dengan menaiki kendaraan bermotor. Hanya saja bertahun-tahun belakangan ini kami tidak pernah menyegajakan untuk bermain ke sana. Dan di usia menjelang 5 tahun ini, Chila baru sempat kami ajak untuk menjelajahinya.

Sisa-Sisa Kebakaran Hutan
Sepanjang perjalanan menuju Mata Kucing, terutama setelah wilayah Temiang, di kanan kiri terlihat pepohonan mengering. Daun-daunnya berwarna coklat dan hitam. Imbas kebakaran hutan bulan lalu. Saya tidak percaya bahwa ini kebakaran hutan karena faktor alam. Pasti ada ulah tangan-tangan jahil manusia yang sengaja membakarnya. Orang-orang yang ingin membuka lahan di sekitar hutan yang terlewati di sepanjang jalan ini.

Pintu Masuk Hutan Wisata Mata Kucing
Sudah menjadi rahasia umum, bagi mereka yang tidak mau membeli atau menyewa rumah, simpel saja tinggal mendirikan gubuk atau rumah liar di kawasan yang diinginkan. Jadi deh. Ya segampang itu memang. Terlebih pengawasan terhadap hal ini sangat kurang. Hampir seluruh tanah di kawasan Batam adalah milik pemerintah jadi terkadang masyarakat bisa seenaknya membuka lahan tanpa izin terlebih dahulu. Kalau kena gusur pun mereka tentu dapat uang gusuran.

Kembali ke Mata Kucing. Dengan membayar tiket masuk seharga 10 ribu rupiah bagi orang dewasa, 5000 rupiah bagi anak-anak serta 1000 rupiah untuk sepeda motor kami sudah memasuki kawasan Hutan Wisata Mata Kucing. Dengan tiket tersebut pengunjung sudah dapat mengunjungi seluruh wahana dan atraksi yang ada di lokasi ini.

Suasana hijau, teduh, dan rimbun langsung menyejukkan mata begitu kami tiba di pintu gerbang. Di bagian sebelah kiri pintu gerbang terdapat kolam yang dihuni oleh beberapa ekor kura-kura dan ikan lele yang besar-besar. Chila langsung antusias dan berteriak-teriak kegirangan.

Kolam Arwana dengan Jembatan Gantung
Jauh ke dalam lagi terdapat kolam ikan arwana yang seliweran sebesar-besar paha Chila. Malah menurut berita di koran lokal terdapat ikan arwana sepanjang 2 meter. Namun saat kami tiba si arwana tersebut tidak mau menampakkan diri kepada kami. Hanya sekilas saja saat penjaga kolam menberi makan. Itu pun hanya riak dan bayang-bayang saja. Ditambah air kolam yang keruh sehingga tidak kelihatan.

Kolam Kura-Kura
Beberapa tempat menarik lainnya yaitu kebun binatang mini dimana terdapat monyet ekor panjang, beruang, buaya, Burung elang, dan ular piton. Di kandang monyet, kaca mata gaya Chila jatuh dan langsung dipungut oleh si monkey. Saya kira mau dipakai, udah siap-siap nodongin kamera. Eh taunya kaca matanya dipatah-patahin. Sontak saja Chila menjerit dan ngambek. Lalu dia ngomel-ngomel nggak jelas.
“Dasar kongkong monyetnya” gerutu Chila. Entah dapat kosa kata dari mana kalau kesal Chila kerap menyebut kata kongkong :D Kalau bangkong atau Kingkong baru saya ngerti laaah ini Kongkong? Baru setelah saya bilang akan beli yang baru Chila berhenti ngambek dan ngomel-ngomelnya.
Edisi Keluarga Lengkap :D

Saya sangat antusias ketika tiba di depan kandang beruang. Jujur ini sepasang beruang pertama yang saya lihat secara langsung. Walau pernah ke Kebun Binatang Ragunan saya belum pernah menyaksikan beruang dan bertemu langsung. Sayang Chila malah ketakutan melihat beruang menaiki jeruji besi. Lalu menarik-narik lengan saya untuk segera pergi dari sana.

Hutan Wisata Mata Kucing ini memang menawarkan suasana wisata yang berbeda dari tempat wisata lainnya di Batam. Pada umumnya masyarakat Batam menghabiskan waktu liburan ke pantai sebagaimana hampir terdapat di seluruh penjuru Batam.

Jadi tak ada salahnya jika sekali-kali mengunjungi hutan ini sebagai variasi berlibur selain ke pantai.

5 komentar:

  1. Bebetapa kali cuma lewat aja mbk..tp hbs baca ini harud kessna deh...seru kyknya hehe

    BalasHapus
  2. Tempatnya adem banget namanya juga :D kalo dikelola dengan lebih baik lagi sebetulnya berpotensi menjadi objek wisata unggulan di Batam.

    BalasHapus
  3. Kalo dari yang saya dengar teh, dinamain mata kucing soalnya dulu daerah sini kalo malem gelap banget, trus cahaya bulan yang menerobos keluar dari dedaunan itu selintas mirip mata kucing... :D

    Dulu Dian sempat juga ngobrol ama pengelolanya, ibu², pecinta binatang... beliau cerita, kalo pengunjung suka jahat ama binatang² yg ada di sana.. suka dicucuk pake kayu, dijahilin, dilemparin, kesian binatangnya...
    Dian lupa nama ibu itu. Dulu padahal sempat nyimpen nomer HPnya, enak buat ngobrol², apalagi kalo ngobrolin binatang, beliau antusias banget :)

    BalasHapus
  4. Mungkin Bu Neti Herawati ya Dee? Setau teteh dia pengelolanya. Dia juga dosen Bahasa Inggris saya sewaktu di Unrika. Sekarang kalau nggak salah di KPU

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...