Jumat, 18 April 2014

Berlibur ke Salah Satu Pantai Tersembunyi di Pulau Galang - Batam

Hidden Beach


Minggu 13 April 2014 saya sekeluarga beserta rombongan teman-teman arisan berangkat menuju Pulau Galang. Acara jalan-jalan ini dalam rangka penutupan arisan bulanan yang selalu kami gelar bergilir setiap bulan pada tahun 2013 lalu.

Di Dalam Bis, Menunggu Berangkat
Tujuan kami adalah sebuah pantai yang tidak bernama yang terletak di sebelah kiri Pantai Melur. Sebut saja Hidden Beach.

Dengan mengendarai bis besar yang bertuliskan KOPEJASHI yang kami sewa 1 juta rupiah pulang pergi, kami berdelapan keluarga dengan 13 orang bocah tiba di Pantai Melur. Musik dangdut koplo yang terdengar dari pengeras suara pengunjung menghentak-hentak menyambut kami. Syukurlah saya masih punya rasa malu untuk tidak mendadak joget di tempat :D

Salah Satu Pemandangan Sepanjang Jalan
Sebetulnya ada sekitar 14 keluarga yang seharusnya ikut serta, namun banyak yang memutuskan tidak ikut karena berbagai alasan seperti kuliah atau anaknya sakit. Sedangkan satu keluarga lagi yaitu Kang Soleh and Family menyusul setengah jam kemudian.

Karena rute masuk menuju pantai yang dituju belum ada yang tahu kecuali Kang Soleh, maka kami pun menunggu kedatangannya. Karena bocah-bocah sudah tidak tahan lagi melihat pantai landai melambai-lambai, maka sebagian mereka segera menceburkan diri ke laut. Untung saja Chila masih bisa dibilangin emaknya agar tidak mandi dulu karena pantai yang dituju sebenarnya bukan Pantai Melur.

Gerbang Pantai Melur, Pulau Galang
Setengah jam kemudian, Kang Soleh datang. Tidak ditunda-tunda lagi kami segera berjalan beriringan menyusuri jalan tanah, menyebrangi sebuah jembatan kayu, dan melewati semak belukar serta kebun-kebun sayur. Pemandangan ke arah bukit di hadapan serta langit biru bersih sungguh mengobati hawa panas dari sinar mentari yang mulai terik. 15 menit kemudian tampak laut membiru. Saya berlari mengejar Chila yang sudah terlebih dahulu berjalan di depan. Melihat saya berlari menuju ke arahnya Chila malah ikut-ikutan berlari menjauh.

Sebuah rumah berplester semen dengan bale-bale beralaskan tikar tampak dari kejauhan. Lapangan rumput di halamannya terlihat kontras berhadapan dengan pasir putih yang membentang. Di halaman rumput terdapat tiga gazebo atau saung untuk bersantai menikmati pemandangan ke arah laut. Satu diantaranya sudah tidak beratap dan dibiarkan rusak terkena hujan dan panas.

Pantai Melur
Pak Ujang, Sang pemilik rumah menyambut kami dengan ramah. 4 anaknya terlihat malu-malu. Si sulung sudah sekolah di MAN Batu Aji. Anak yang kedua sepertinya masih SD. Yang ketiga belum sekolah dan tampak pemalu karena setiap saya mengarahkan kamera gadis kecil itu langsung menyembunyikan mukanya. Anak keempatnya berusia sekitar 2 tahun dan selalu manja pada Pak Ujang.

Chila dan Teman

Seperti biasa, bocah-bocah memang paling tidak tahan kalau melihat pantai. Belum pun para orang tuanya duduk beristirahat mereka sudah nyebur dan berendam di air laut yang hangat. Begitu pun Chila. Merengek-rengek minta ganti baju dengan baju renangnya yang bergambar barbie.


Acara dibuka dengan mengeluarkan rujak. Wow…deh rasanya. Panas-panas makan rujak itu sesuatu bingit :D Setelah itu para bapak dan ibu saling tukar kado. Kami beli kado masing-masing yang dibungkus koran lalu diundi kembali. Alhamdulillah saya dapat daster manis warna pink. Ah cocok banget deh. Nah kalau Ayahnya Chila dapat celana tidur yang langsung dicobanya. Berlenggak-lenggok bak foto model. Idiiih centil banget deh.


Tukar Kado

Jam 12 menjelang. Hidangan laut berupa sup kepiting, ikan sambal, ikan bakar, gulai sotong, plus lalapan serta sambal segera dihidangkan. Makanan-makanan tersebut dimasak oleh istri Pak Ujang dan sebagian lalap serta sambal kami bawa dari rumah masing-masing.

Makan Siang
Tanpa dikomando satu per satu antri untuk menyantap hidangan makan siang. Alhamdulillah nikmat. Saya sampai nambah namun baru dua piring sudah menyerah padahal sup kepiting masih satu wadah lagi.

Anak-anak yang sedang berenang pun dipanggil untuk makan siang. Namun setelah makan selesai, ladalaah mereka nyebur lagi ke air laut. Bener-bener deh. Tapi nggak apa-apa deh, mumpung-mumpung. Apalagi tidak ada orang lain selain kami yang berkunjung ke pantai ini. Betul-betul serasa pantai pribadi.

Pantai di tempat ini terbilang landai . Ombak pun tidak terlalu kencang sehingga kami pun tidak terlalu khawatir anak-anak berenang sendiri. Cukup mengawasi dari kejauhan saja.

Bocah-Bocah pada Berenang
Lama-lama ibu-ibu dan bapak-bapaknya pun pada ikut nyebur. Saya pun tergoda juga. Eh betul pantainya ternyata landai hingga jauh ke tengah. Hanya pasir putih yang terinjak. Tinggi airnya pun hanya selutut saya.

Setelah puas berenang kami bersih-bersih di toilet yang airnya mengalir terus-terusan. Kata Pak Ujang air ini dia alirkan melalui selang dari mata air di balik bukit. Airnya pun jernih dan bersih.



Sore menjelang ashar kami pamitan pada Pak Ujang dan istrinya. Alhamdulillah acara ini sangat menyenangkan. Rasanya ingin kembali ke tempat ini. Begitu tenang dan damai. Chila malah ketagihan untuk main kembali ke pantai ini. Ia bahkan minta kemping 5 hari katanya. Hihi…

Kamis, 17 April 2014

[CERPEN] Cinta yang Berbalas


        Bulan tinggal separuh, mengambang, merenangi langit malam yang tenang. Debur ombak yang terhempas ke tepi pantai seakan mengiringi isak tangisku yang tertahan. Lampu-lampu nelayan di kejauhan berkelipan bagai sinar bintang-gemintang yang luput datang. Suasana sendu itu sungguh membiusku untuk tetap bergeming dalam hening. Terdiam dalam remang malam. Merenungi arti hadirku di sini,  di   The Bay Bali ini.
Suasana TheBayBali. Sumber foto dari the baybali.com
            Sungguh Aku tak meragukan rasa yang selama ini kusimpan dan kupendam. Meski beribu tanya kerap berkelindan. Haruskah kupertahankan? Layakkah kuperjuangkan? Sementara dia, seseorang yang kumimpikan siang dan malam, seseorang yang menjadi harapan akan masa depan, seseorang yang semenjak pertama kali kumelihatnya di tempat ini satu tahun lalu, enggan untuk sekedar menemuiku di sini. Di The Bay Bali ini. Tempat dimana pertama kali rasa itu bersemi dalam diam.Berpendar dan menjalar memenuhi petala alam sadar.
            “Hai apa kabar…” seseorang menyapaku dari belakang.
            “Vanya ya?” tanyanya langsung terucap ketika aku membalikkan badan. Dug, seakan ini terakhir kalinya jantungku berdegub kencang.
            “Glenn?” tanyaku ragu. Ia mengangguk perlahan sambil mengulum senyuman. Aaaah senyumnya itu, mirip sekali. Bayangan seseorang segera datang dalam benakku.    
 “Maaf, Sammy nggak bisa datang katanya, padahal aku telah mengabarinya kalau kamu menginap di sini.” Ucap Glenn sambil menyisir rambut cepaknya dengan jemari.
“Iya gak apa-apa.” Aku menengadahkan kepala, berharap air mata ini tidak jatuh lagi. Lalu memaksakan diri untuk tersenyum ke arahnya. Senyum getir menahan irisan sembilu di hati. Senyum yang mengiringi sebuah kalimat bahwa aku telah dikhianati.
            Aku terus memaksa Glenn bercerita apa yang sesungguhnya terjadi pada Sammy sehingga ia terus-terusan menghindariku akhir-akhir ini. Kutelpon ia selalu saja tidak ada. Hand phone-nya telah lama ganti nomor, Face book dan twitternya juga deaktif. Namun yang kutahu dari Glenn, bahwa telah ada perempuan lain yang kini mengisi hari-harinya.
            “Sudah makan?” Glenn bertanya lagi. Aku menggeleng. Ya, aku mendadak kehilangan rasa lapar ketika tiba di Bandara Ngurah Rai Bali siang tadi. Sebelum Glenn segera datang dan mengantarkanku ke sebuah hotel cantik di tepi laut Nusa Dua, The Bay Bali.
           
Restoran Bebek Bengil. Sumber foto dari sini
Glenn menggiringku ke Bebek Bengil.
“Ayo makan dulu. Ini makanan yang kamu idamkan semenjak tahun lalu. Jauh-jauh dari Jakarta katanya mau nyicip makanan lezat ini.” Sambil tertawa Glenn menuangkan nasi ke piringku. Derai tawanya tetap menyihirku seperti semula. Ia memiliki derai tawa yang sama seperti Sammy. Suara batin menegurku. Glenn bukanlah Sammy.

***

            Senja merambat petang. Ini hari terakhirku di sini. Sengaja Aku memajukan jadwal penerbanganku esok hari agar secepatnya meningggalkan tempat ini. Sungguh tak ada lagi yang perlu kulakukan. Selain melewatkan satu malam di sini menunggunya untuk terakhir kalinya. Cukup sudah aku takkan pernah melakukan hal konyol apa pun, dan berkorban apa pun demi seorang laki-laki kecuali ia adalah ayahku sendiri. 
Sehelai daun dadap laut jatuh ke pangkuan. Sebuah kenangan sekejap membayang dalam ingatan. Ah, dedaunan ini mengantarkanku pada petemuan itu. Di saat aku dan dia duduk berdua menyaksikan matahari tenggelam ke dalam lautan.
“Apa pun yang terjadi kamu mau kan menemuiku di sini lagi.Kalau bisa pas tanggal 5 Juli di hari ulang tahunku.” Ucapnya. Aku hanya menganggukkan kepala.
“Kalau ada apa-apa dengan hubungan kita bagaimana?” Tanyaku ragu.
“Aku takkan pernah meninggalkanmu. Tak sedikit pun terbersit dalam benakku untuk berhenti menyayangimu.” Ucapnya perlahan.
“Kalau kamu tidak datang bagaimana?”
“Aku akan menuliskan surat untukmu di sini.”
Seketika aku terhenyak. Iya, dia pasti meninggalkan sesuatu untukku di pohon ini. Perlahan aku telusuri. Aku ingat di cerukan antara dahan-dahan yang rendah dia akan meningggalkan pesan untukku. Bukan email, tidak pula inbox face book atau twitter. Melainkan sebuah pesan yang akan ditulis oleh tangannya sendiri.
Jika cintaku tak bertepi, maka bangunkanlah sebuah dinding agar ia tetap terbendung dalam hatimu. Di antara dahan, ranting, dan daun-daun yang kerap menemaniku di sini, selalu ada pilu yang membawaku mengingatmu. Aku tetap ingin bertemu denganmu walau sekejap saja. Walau lelaki itu telah menjadi bagian dari hidupmu. Tunggu aku di sini, 5 Juli 2013 saat pasang menjelang. Saat purnama menampakkan sinarnya.”
Aku gemetar memegang surat yang terbungkus plastik bening itu. Plastik yang terselip di cerukan dahan pohon sehingga tak seorang pun tahu ia ada di situ.
“Hmmm….” Suara deheman suara itu menyentak lamunanku.
“Sammy, eh Glenn?” Aku terkejut bukan main dan segera menyembunyikan surat itu ke balik saku bajuku.
“Nanti malam aku akan menjemputmu untuk berkeliling Kuta. Mau kan?” Aku menggeleng perlahan. Aku terpaksa berbohong lagi tidak enak badan. Sungguh aku penasaran apa yang tengah terjadi antara Sammy dan Glenn. Sehingga Sammy berfikiran Aku telah menjalin hubungan dengan Glenn.

***

Purnama semakin cemerlang. Deru angin mulai mengencang. Perlahan Aku menuju pohon dadap laut di tepi pantai. Sebuah bayangan membeku dalam keremangan. Berat langkahku semakin tak beraturan. Dan belum pun sampai di tujuan Aku sudah roboh terjatuh di pasir. Energiku terkuras habis setelah hampir dua hari tidak makan. Hanya minum itu pun sesekali.
Bayangan itu segera mendekat.
“Vanya?” Jeritnya memanggil namaku. Lalu ia memapahku untuk menuju pohon dadap laut tempat semula ia berdiri menanti.
“Selamat Ulang tahun ya. Kamu nggak sama Nita?” Tanyaku sambil terduduk. Nita? Enggak, dia itu kan teman kantorku. Memangnya kenapa?
“Bukannya dia itu kekasihmu yang baru, kemarin dia menelponku agar tidak mengganggumu. Glenn pun cerita demikian. Kabarnya bulan depan kalian akan menikah.” Ucapku perlahan.
Sammy terkejut. Vanya Aku tidak pernah dekat perempuan manapun kecuali kamu. Bukannya kamu juga sudah jadian sama Glenn?
            “Jadian sama Glenn, kata siapa?” Aku tersentak kaget.
            “Jadi… ini pasti terjadi kesalahan.Aku tidak pernah berhenti untuuuk…ah sudahlah ternyata begitu banyak orang yang tidak setuju dengan hubungan kita.” Suara Sammy tertahan. Aku pun sudah lelah dengan berbagai hal dan kejadian belakangan ini. Aku hanya ingin mendengar suaranya saja.
            “Aku takkan berhenti mencintaimu, aku takut kehilanganmu lagi. Maukah kamu menikah denganku?” Sammy menatapku.
            Tangisku pecah seketika. Tangis bahagia. Setelah semua simpang siur yang selama ini terjadi aku hanya butuh kepastian bahwa dia masih mencintaiku dan…dan bahkan mengajakku untuk menikah.

Aku bahagia. Sesederhana dan secepat itu. Ya bahagia itu sederhana, ketika cintamu berbalas dan semesta mulai memberikan restunya. Seperti angin yang mulai terhenti berhembus. Seperti bulan yang mulai terang menyinari dan seperti ombak yang selalu membasuhi pesisir pantai. 

  “Blog  post  ini  dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali& Get discovered! 

Sabtu, 12 April 2014

Danau Kawah Gunung Galunggung


Seperti kebanyakan gunung berapi lainnya di Indonesia, Gunung Galunggung di Tasik Malaya - Jawa Barat mempunyai danau yang terbentuk oleh aktivitas vulkaniknya di masa lampau. Danau ini berada tepat di dalam kaldera. Di tengah-tengah danau terdapat sebuah pulau kecil yang menyembul ke permukaan sehingga menambah indah penampakan danau.

Dengan dinding-dinding kawah yang menjulang tinggi serta pepohonan hutan yang menghijau membuat suasana tenang dan damai jika berkunjung ke tempat ini. 

Di sekitar kaldera yang tidak berair, lokasinya kerap dijadikan tempat untuk kemping para pendaki gunung.

Danau Kawah Galunggung

Pulau di Tengah Danau
Lebih Dekat Lagi
Salah satu dari foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan ke-40 yang bertema danau di sini





Jumat, 11 April 2014

Bermain ke Hutan Wisata Mata Kucing, Batam

Jalan Diponegoro, Jalan Menuju Hutan Wisata Mata Kucing
Minggu 6 April yang lalu saya dan suami mengajak Chila, anak sematang wayang kami bermain ke Hutan Wisata Mata Kucing, Batam. Mata Kucing? Nama yang aneh ya, tapi ya begitulah daerah ini dikenal oleh masyarakat Pulau Batam. Saya belum mencari tahu dari mana asal-usul nama tersebut. Kalau bayangan saya sih mungkin para pendahulu petugas pembuka hutan bertemu kucing hutan dan tidak bisa melupakan tatapan matanya. Hehe asal.

Lokasi hutan wisata ini berada di pinggir Jalan Raya Diponegoro yang menghubungkan Kawasan Batu Aji dengan Sekupang. Dan ternyata letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Hanya sekitar 10 menit dengan menaiki kendaraan bermotor. Hanya saja bertahun-tahun belakangan ini kami tidak pernah menyegajakan untuk bermain ke sana. Dan di usia menjelang 5 tahun ini, Chila baru sempat kami ajak untuk menjelajahinya.

Sisa-Sisa Kebakaran Hutan
Sepanjang perjalanan menuju Mata Kucing, terutama setelah wilayah Temiang, di kanan kiri terlihat pepohonan mengering. Daun-daunnya berwarna coklat dan hitam. Imbas kebakaran hutan bulan lalu. Saya tidak percaya bahwa ini kebakaran hutan karena faktor alam. Pasti ada ulah tangan-tangan jahil manusia yang sengaja membakarnya. Orang-orang yang ingin membuka lahan di sekitar hutan yang terlewati di sepanjang jalan ini.

Pintu Masuk Hutan Wisata Mata Kucing
Sudah menjadi rahasia umum, bagi mereka yang tidak mau membeli atau menyewa rumah, simpel saja tinggal mendirikan gubuk atau rumah liar di kawasan yang diinginkan. Jadi deh. Ya segampang itu memang. Terlebih pengawasan terhadap hal ini sangat kurang. Hampir seluruh tanah di kawasan Batam adalah milik pemerintah jadi terkadang masyarakat bisa seenaknya membuka lahan tanpa izin terlebih dahulu. Kalau kena gusur pun mereka tentu dapat uang gusuran.

Kembali ke Mata Kucing. Dengan membayar tiket masuk seharga 10 ribu rupiah bagi orang dewasa, 5000 rupiah bagi anak-anak serta 1000 rupiah untuk sepeda motor kami sudah memasuki kawasan Hutan Wisata Mata Kucing. Dengan tiket tersebut pengunjung sudah dapat mengunjungi seluruh wahana dan atraksi yang ada di lokasi ini.

Suasana hijau, teduh, dan rimbun langsung menyejukkan mata begitu kami tiba di pintu gerbang. Di bagian sebelah kiri pintu gerbang terdapat kolam yang dihuni oleh beberapa ekor kura-kura dan ikan lele yang besar-besar. Chila langsung antusias dan berteriak-teriak kegirangan.

Kolam Arwana dengan Jembatan Gantung
Jauh ke dalam lagi terdapat kolam ikan arwana yang seliweran sebesar-besar paha Chila. Malah menurut berita di koran lokal terdapat ikan arwana sepanjang 2 meter. Namun saat kami tiba si arwana tersebut tidak mau menampakkan diri kepada kami. Hanya sekilas saja saat penjaga kolam menberi makan. Itu pun hanya riak dan bayang-bayang saja. Ditambah air kolam yang keruh sehingga tidak kelihatan.

Kolam Kura-Kura
Beberapa tempat menarik lainnya yaitu kebun binatang mini dimana terdapat monyet ekor panjang, beruang, buaya, Burung elang, dan ular piton. Di kandang monyet, kaca mata gaya Chila jatuh dan langsung dipungut oleh si monkey. Saya kira mau dipakai, udah siap-siap nodongin kamera. Eh taunya kaca matanya dipatah-patahin. Sontak saja Chila menjerit dan ngambek. Lalu dia ngomel-ngomel nggak jelas.
“Dasar kongkong monyetnya” gerutu Chila. Entah dapat kosa kata dari mana kalau kesal Chila kerap menyebut kata kongkong :D Kalau bangkong atau Kingkong baru saya ngerti laaah ini Kongkong? Baru setelah saya bilang akan beli yang baru Chila berhenti ngambek dan ngomel-ngomelnya.
Edisi Keluarga Lengkap :D

Saya sangat antusias ketika tiba di depan kandang beruang. Jujur ini sepasang beruang pertama yang saya lihat secara langsung. Walau pernah ke Kebun Binatang Ragunan saya belum pernah menyaksikan beruang dan bertemu langsung. Sayang Chila malah ketakutan melihat beruang menaiki jeruji besi. Lalu menarik-narik lengan saya untuk segera pergi dari sana.

Hutan Wisata Mata Kucing ini memang menawarkan suasana wisata yang berbeda dari tempat wisata lainnya di Batam. Pada umumnya masyarakat Batam menghabiskan waktu liburan ke pantai sebagaimana hampir terdapat di seluruh penjuru Batam.

Jadi tak ada salahnya jika sekali-kali mengunjungi hutan ini sebagai variasi berlibur selain ke pantai.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...