Wednesday, July 23, 2014

[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Tumpang, Kota Persinggahan Para Pendaki

Sewa Jeep

Mobil yang kami kendarai perlahan memasuki kota kecil bernama Tumpang. Waktu masih menunjukkan jam 10 pagi, namun kesibukan sudah tampak di sana-sini. Suasana di tepi jalan utama, di sebrang Pasar Tumpang tampak ramai sekali. Pemandangan khas yang selalu mewarnai hari-hari masyarakat kota ini adalah gerombolan muda-mudi dengan ransel besar di punggungnya. Sesekali tampak orang dewasa atau anak kecil menyertainya. Merekalah para pendaki gunung yang akan menuju Gunung Semeru. Para pencari arti. Para pecinta keheningan. Para pejuang di ketinggian yang entah untuk apa rela menghabiskan waktu, tenaga,dan uang untuk merayapi jalur-jalur di gunung yang terjal.

Gunung Semeru, salah satu magnet utama para pendaki gunung di Indonesia.Tanah tertinggi di Pulau Jawa itu mampu menyedot perhatian pendaki gunung termasuk saya dan suami. Semua seakan sejalan sepemikiran. Walau tidak ada janji temu atau pun jalinan pertemanan. Semua berkumpul di kota ini untuk memulai perjalanan menggapai tantangan di ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut.
Menunggu Jeep sambil Belajar

Kami dihantar  oleh Yaya, teman sehobby, sesama pemanjat tebing sewaktu ia tinggal di Batam 15 tahun lalu. Sambil bekerja ia juga kerap mengantar para turis atau wisatawan yang datang ke Malang. karena teringat begitu saja, saya pun menghubunginya untuk mengantarkan kami dari Malang ke Tumpang. Syukur Alhamdulillah ia bersedia mengantar. Mungkin karena rasa nggak enak ia tidak memasang tarif. Ia bilang ongkos sewa mobil seikhlasnya, terserah saya. Haduuuh gak bisa begitu, teman ya teman kerja ya kerja. Setelah berdiskusi dengan suami saya sepakat untuk memberinya uang sejumlah tertentu. Mudah-mudahan memang pantas segitu ya Yaya :D

Yaya lalu menurunkan kami di depan sebuah kedai bakery di amping Alfamart. Aroma khas bakery langsung menuntun saya dan Chila untuk mendekat. Setelah melihat-lihat kami membeli beberapa potong. Lumayan untuk mengganjal perut. Sedangkan suami membeli beberapa keperluan untuk Chila ke Alfamart, setelah itu ia berkeliling untuk melakukan penjajakan mengenai biaya sewa jeep. 
Tingginya harga sewa jeep membuat para pendaki harus pintar-pintar menyiasati. Salah satunya dengan mencari kawan seperjalanan. Semakin banyak maka semakin murah biaya sewanya. Semakin sedikit jumlah orang maka semakin mahal harga yang harus dibayar. Tarif normal sewa jeep berkisar 1,2 hingga 1,8 juta rupiah.

Alhamdulillah ada rombongan dari Bekasi yang jadwal mendakinya sama dengan kami yakni tanggal 28 Mei. Dan ketika ditawari opsi mengunjungi Gunung Bromo terlebih dahulu mereka langsung setuju. Syukurlah ini berarti ongkos sewa jeep akan lebih ringan karena dibagi 10 orang. Setelah sepakat antara rombongan Bekasi, suami saya, dan supir jeep, maka kami sepakati menyewa  satu juta empat ratus ribu rupiah untuk Gunung Bromo hingga ke Desa Ranupani. Tiap orang berarti hanya membayar 140 ribu rupiah. Ini harga yang lumayan murah untuk dua gunung sekaligus.

Pemeriksaan Kesehatan

Sekitar jam 1 siang kami dihantar terlebih dahulu oleh sebuah angkot lokal. Kabarnya ada razia polisi di arah menuju Ponco Kusumo, jalan menuju Semeru Bromo. Maka para sopir jeep yang takut tertangkap polisi menitipkan kami ke mobil angkutan tersebut.

Sebelum berangkat kami terlebih dahulu mampir ke sebuah klinik di Tumpang untuk meminta surat keterangan kesehatan bagi rombongan pendaki dari Bekasi. Peraturan  mendaki Gunung Semeru memang harus menyertakan surat kesehatan dari dokter. Untung saja saya sekeluarga sudah mempersiapkannya semenjak di Batam.

Di klinik tersebut saya dan suami sekalian menumpang untuk sholat dzuhur dengan dijamak dengan ashar. Perkiraan kami sampai di penginapan di Gunung Bromo sekitar maghrib jadi lebih baik antisipasi. 

Sekitar jam 2 siang kami dihantar oleh Angkot menuju Rest Area di Gubuk Klakah Ponco Kusumo. Di sana mobil jeep warna hijau yang akan kami tumpangi sudah menunggu.

Di sekitar rest area banyak petugas DLLAJ yang sedang berjaga di pos. Saya fikir mereka sedang merazia tapi ternyata bukan. 
Sejenak kami beristirahat. Pemandangan di sekitar rest area sangat memanjakan mata. Sementara udara dingin perlahan mulai merasuki kulit. Sensasi yang kerap saya rindukan setiap kali berada di Batam yang berudara panas. Pemandangan ke arah puncak Semeru samar terlihat karena tertutup kabut. Membuat hati berharap-harap cemas tentang perjalanan ke depan. Semoga si hijau ini berjalan tanpa kendala apa pun.



Thursday, July 17, 2014

[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Mengunjungi Singosari

Si cantik Semeru, View dari  Singosari

Sudah lebih dari dua bulan selama Mei hingga Juli ini saya tidak menulis apa pun di blog ini. Padahal kangennya minta ampun apalagi Mei lalu mendaki gunung bareng keluarga. Banyak cerita dan pengalaman berharga yang seharusnya segera saya tulis agar tidak lupa. Namun kesibukan di tempat kerja dan Pekerjaan Rumah Tangga tidak sedikit pun memberi ruang untuk menulis. Sekalinya bisa online di depan laptop eh koneksinya lemot pisan. Beuh. Pengen cakar-cakar muka deh rasanya.

Dan inilah awal kisah perjalanan saya mengunjungi Gunung Semeru dan Bromo.










Gunung Arjuno, View dari Singosari Malang

The Planning

Musim liburan akhir Bulan Mei 2014 lalu, kami sekeluarga sengaja memilih untuk mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau biasa disingkat TNBTS. Rencana awal adalah mengunjungi Gunung Semeru terlebih dahulu baru dilanjutkan ke Gunung Bromo. Namun rencana tinggal rencana, sehari menjelang keberangkatan, pendaftaran yang diajukan semenjak awal Mei bersama 100 orang lainnya oleh teman di Jakarta ditolak oleh pihak TNBTS. Ternyata Pendakian untuk tanggal 23 hingga 28 Mei full booked. Begitu saya cek di website resmi TNBTS di sini memang benar ada pengumuman tersebut.

Menyusuri Pematang sawah
Saya kaget dan kecewa padahal sejak bulan Januari dan Februari kami rajin menelpon untuk mendaftar pendakian pada Bulan Mei. Namun selalu dijawab masih banyak kuota. Sebagaimana diketahui, jatah pendakian menuju Gunung Semeru kini dibatasi hanya sebanyak 500 orang per hari demi menjaga ekosistem Semeru agar tidak terlalu terganggu dengan begitu membludaknya para pendaki gunung.


Walau dongkol akhirnya pasrah, saya yakin tetap berangkat karena tiket pesawat terbang Batam Surabaya sudah lama dibeli. Kalaupun tidak jadi tanggal 23 saya masih punya waktu mendaki di tanggal lainnya hingga batas kepulangan kembali ke Batam tanggal 1 Juni.

Pagi di Singosari
Kabar baiknya, suami saya melakukan pendaftaran ulang untuk tanggal 28 hingga 30 Mei. Alhamdulillah mendapat kuota. Dan rencana menjadi terbalik. Kami mengunjungi Gunung Bromo dahulu baru selanjutnya Gunung Semeru.

Singosari

Candi Singosari
Kami  tiba di Bandara Juanda Surabaya  (Sebenarnya letaknya di Sidoarjo deh) siang hari lalu menunggu mobil travel yang akan mengantarkan kami ke rumah adik angkat saya yang tinggal di Singosari Malang. Lokasi rumahnya ternyata dekat dengan candi singosari. Jadi bisa sekalian mampir.

Bandara Juanda - Singosari ditempuh dengan waktu kurang lebih 3 jam. Hanya kena macet sebentar saja karena berbarengan dengan jam pulang kerja. Alhamdulillah menjelang maghrib kami sudah tiba di Singosari.


Saya sekeluarga mendadak betah berada di Singosari. Serasa di kampung sendiri. Namun bedanya di Singosari hawanya tidak sedingin di Garut. Mungkin karena sudah berada di area perkotaan sehingga udaranya cenderung hangat. Apalagi lokasinya terletak di jalur utama antara Surabaya - Malang.

Rumah adik saya pun tempatnya sangat strategis. Pemandangan di depan rumah berupa hamparan sawah yang luas dihiasi tingginya Gunung Arjuno dan Bukit Panderman. Sesekali kereta api lewat membelah hamparan sawah tersebut. Aahh...beruntung bisa mampir ke sini. Malah suami saya berseloroh kalau suatu saat nanti pengen beli rumah di daerah sini. Ia juga malah berangan-angan ingin menyekolahkan Chila di Malang. Amiiin....mudah-mudahan deh dicatat sama malaikat :D

Semoga bisa ke Gunung Arjuno juga :D
Adapun Chila, setibanya di rumah tantenya ini langsung  akrab dengan Naafi. Sepupunya yang hampir sebaya dengannya.  Asyik main bola, main kejar-kejaran dan yang paling seru main ke sawah. Walau beberapa kali ia terjerembab ke parit bahkan kepalanya benjol terkena ujung tablet yang saya bawa, ia tetap tetap antusias bermain. Senang melihat ia ceria setelah menempuh perjalanan jauh.

Keesokan harinya kami mendatangi candi Singosari. Kebetulan lagi sepi pengunjung jadi bisa narsis foto-foto tanpa takut orang lain menghalangi pemandangan :D

Cukup dua hari di Singosari kami pun menuju Tumpang, Kota kecil yang amat terkenal di kalangan pendaki gunung. Yup, dari kota Tumpang inilah pendakian ke Gunung Semeru bermula.

Chila Centil

Kami sekeluarga plus Naafi

Arca Dwarapala di Kompleks Candi








Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...