Kamis, 28 Agustus 2014

Sunrise Bromo

Waktu masih menunjukkan jam 4 subuh manakala ratusan bahkan mungkin ribuan orang berdesak-desakan demi menyaksikan detik-detik kemunculan sang raja siang terbit di ufuk timur. Menit demi menit, detik demi detik terlalui begitu lama. Seolah jarum jam terhenti tergerus dingin yang menggigit. Di langit jelas terlihat bintang kejora mengambang berhampiran dengan bulan sabit.



Di ufuk sinar keemasan mulai tampak. Dan saat-saat yang ditunggu kini menjelang. Sang Raja telah keluar dari peraduannya. Memberi cahaya, memberi warna pada indahnya dunia.

Selamat datang mentari, hangatmu selalu kami nanti. 



Dan Keagungan ciptaan-Nya kini tampak  begitu nyata. Rangkaian gunung-gunung nun jauh di sebrang masih berselimut kabut. Perlahan tersibak hangat yang menjalar di alam raya.


Padu antara biru langit dan kumpulan gunung-gunung menjadikan Bromo selalu indah untuk dikenang.


Semoga kita selalu menjadi orang yang pandai mensyukuri segala nikmat-Nya.

Amiiin.

Selasa, 19 Agustus 2014

Antara Saya dan Air Asia



Saya dan Air Asia

Berada di ketinggian sebuah gunung yang berselimut gumpalan kabut, menyesap hawa dingin di antara hembusan angin, menikmati aroma khas daun pinus dan mencumbui kuncup-kuncup merah cantigi, atau berlari-lari kecil bak penari India di hamparan padang edelweis, adalah salah satu kerinduan yang kerap menyambangi benak saya. Kerinduan yang bertalu, berpadu, layaknya candu.

Maka, jika kerinduan itu singgah, selalu saja apa pun yang dilakukan serba salah. Segalanya menjadi payah. Makan tak enak tapi tidur sangatlah nyenyak. Sure! Tidur yang nyenyak karena mimpi berada di ketinggian sebuah gunung :D

Kerinci, Rinjani, Semeru, Kinabalu? Entahlah suara batin itu kerap menyambangi alam sadar saya. Kinabalu, kinabalu, kinabalu? Kini nama itu yang terus terngiang-ngiang dalam fikiran.

Bagaimana saya bisa ke sana? Bagaimana agar perjalanannya murah meriah? Bagaimana supaya mudah? Nah, pertanyaan-pertanyaan itulah yang mulai mengalahkan pertanyaan terberat dalam hidup saya saat itu. Kapan nikah?

Maka mulailah pencarian saya. Bukaaan, bukan pencarian jodoh. Tapi pencarian infromasi mengenai Gunung Kinabalu dan pesawat apa yang bisa mengantarkan saya ke Kota Kinabalu.

Saya terlonjak gembira ketika mendapati tiket promo Air Asia seharga nol ringgit alias nol rupiah. Sumpeh Lo? Iya, rasanya mendadak ingin koprol tujuh putaran, tujuh belokan, dan tujuh turunan. Dapat nol rupiah itu rasanya seperti ditraktir langsung oleh Tony Fernandes si bosnya Air Asia. Namun naas bagi saya. Ketika menghubungi Pihak Pengelola penginapan (hostel) di Taman nasional Kinabalu, pada minggu-minggu tersebut seluruh penginapan sedang full booked. Arrrgghh…gak jadi koprol.


Baiklah, saya terus mencari dan mencari tanggal terbaik. Ya gak apa-apa barangkali suatu saat ke depan situasi seperti ini dibutuhkan untuk mencari tanggal terbaik pernikahan. Kesannya jadi lebih berpengalaman. Dezig! Kenapa mikirin kawin mulu sih.


Juni 2005 adalah saat bersejarah bagi saya dengan menapakkan kaki di Gunung tertinggi di Malaysia. Melalui Johor saya terbang menggunakan Air Asia ke Kota Kinabalu. Karena saya tinggal di Batam, tidak ada penerbangan langsung dari Batam menuju Kota Kinabalu, maka saya menyebrang terlebih dahulu ke Johor dengan menaiki kapal ferry.

2005? Waaah itu sudah lama kali kakaaak. Betul memang sudah lama, bahkan Air Asia Indonesia saja baru berumur satu tahun. Masih bayi  dan masih lucu-lucunya. Namun momen perdana saya bersama Air Asia tersebut mampu mengubah hidup saya bahkan hingga sekarang.

Kenapa saya berani bilang kalau Air Asia punya peran dalam mengubah hidup saya? Ini bukan ascap atau alis apalagi ahok. Nah istilah apa pula itu? Maksudnya bukan asal ucap dan asal tulis. Kalau Ahok? semua sudah tau siapa dia :D

Sedikitnya ada 5 alasan kenapa Air Asia bisa mengubah hidup saya. Kenapa lima? Ya kalau saya ingat saya buat 10 alasan biar angkanya sama dengan Ulang Tahun Air Asia Indonesia :D

Saya di antara bule-bule :D
  1. Air Asia mengubah saya menjadi pemberani. Saya berangkat sendirian ke luar negeri tanpa ditemani siapa pun. Padahal saya aslinya orang udik yang jauh dari peradaban kota yang kadang kalau kemana-mana meski ajak teman. Merantau ke Batam pun rame-rame bertigapuluh orang dengan teman. Entah karena tampang unik eh udik itu pula saat melintas imigrasi di Johor, si petugas melihat saya agak-agak gimanaaa gitu. “Awak sendiri keh?” Tanyanya ragu. Berkali-kali pasport saya dibolak-balik. Mungkin dikiranya saya TKI ilegal. Tapi ketika saya menyerahkan kertas print out tiket penerbangan Air Asia, dia mengizinkan saya lewat. Aaah Leganya. Peluk-peluk pesawat Air Asia.


  1. Air Asia mengubah saya menjadi PeDe alias Percaya Diri level 10. Saya merasa sejajar dengan orang-orang bule. Aslinya saya memang inferior kalau menghadapi bule. Bahkan mungkin sama dengan kebanyakan orang Indonesia lainnya. Kalau ketemu bule suka banget manggil begini “mister, mister, ayo foto.” Nah saat di Kinabalu kebanyakan yang mendaki itu bule dan jadilah saya orang Indonesia satu-satunya diantara tim pendaki yang dibentuk dadakan. Dari delapan anggota tim, 7 orang diantaranya adalah bule –bule dari Australia, Inggris, Kanada, Swiss, dan Swedia. Saat itu dunia serasa terbalik. Bule-bule malah yang minta foto sama saya. Ciyeee. Pede saya pun naik ke level 15. Sudah begitu, dari kedelapan anggota tim tersebut ternyata saya yang lebih dahulu mencapai Puncak Kinabalu. Saat turun pun saya lebih dahulu tiba di Timpohon Gate, titik daki pertama. Karenanya bule-bule sepakat menjuluki saya The Champion. Aw..aw..awkward moment banget deh.
 
Suami saya di puncak Gunung Kinabalu
  1. Saat sudah menikah, ehmm…menikah juga akhirnya :D, Air Asia membuat saya lebih care dan romantis kepada suami. Ketika suami ulang tahun, saya ingin menghadiahi sesuatu yang takkan hilang dalam ingatannya. Sesuatu yang spesial di ulang tahunnya yang ke-32. Karena dia suka mendaki gunung juga, maka si dia saya hadiahi tiket Air Asia PP Johor-Kinabalu. Agar dia juga merasakan sensasi puncak Kinabalu seperti saya dahulu. Saya sendiri nggak ikut karena punya bayi. Senang rasanya melihat foto-foto dia berada di puncak Kinabalu plus bule-bule yang menyertainya :D

Adik saya di Marina, Singapura

  1. Air Asia membuat saya lebih sayang kepada adik. Adanya tiket Bandung - Singapura dan promo-promo yang murah membuat saya berfikir sayang sekali tiket murah begini tidak dimanfaatkan. Saya tawarkan kepada adik, maukah dia jalan-jalan ke Singapura? Dengan haqqul yakin adik saya menjawab mau. Jelas mau dong, gratiiiis. Dan pada November 2013 silam adik saya menikmati moment pertamanya berangkat ke luar negeri. Aaah… bahagianya melihat dia begitu antusias jalan-jalan di Singapura. Kami mengobrol, bercanda, makan, dan jalan-jalan bersama. Hal yang tidak pernah saya lakukan dengan dia sebelumnya. Semenjak itu, hubungan saya dan adik menjadi lebih baik lagi. Lebih dekat dan lebih bermakna.

  1. Air Asia membuat saya lebih perhatian kepada saudara lainnya. Masih di saat promo tiket Air Asia dari Bandung – Singapura tiba-tiba saya teringat dengan sepupu saya. Dia kerap berdiskusi tentang masalah kuliah dan masa depannya. Sepertinya dia sedang bosan dan monoton. Jadi ketika saya tawari tiket Air Asia ke Singapura untuk sekedar refreshing dia pun langsung mengiyakan. Saya bertemu dengannya di sana. Ah bahagia mendengar ide-idenya, semangatnya yang menyala-nyala, dan proyek-proyek masa depan yang akan dijalaninya. Dia mendadak begitu terinspirasi dengan kemajuan Singapura.
    Sepupu saya di depan Gedung Parlemen Singapura

Begitulah, bahagia itu sederhana. Menyaksikan orang-orang terdekat dapat mengecap kebahagiaan karena hadirnya saya. Terima kasih Air Asia, engkau telah mengubah saya dari seorang yang acuh, cuek, dan kurang perhatian menjadi sebaliknya.

Happy Anniversary ke-10 Air Asia Indonesia.

Jumat, 15 Agustus 2014

[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Ranu Pani Sang Tahta Mahameru

Indahnya Ranu Pani
Debu jalanan mengepul menyambut kedatangan kami. Sangat kontras dengan pemandangan bukit-bukit yang menghijau di kanan kiri desa yang sangat terkenal di kalangan para pendaki gunung ini. Ranu Pani. Desa terakhir yang dihuni penduduk di kaki Gunung Semeru.

Mobil jeep hijau yang kami tumpangi berhenti di lapangan parkir yang ramai oleh rombongan pendaki dari berbagai pelosok tanah air. Musim liburan panjang bulan Mei seperti ini membuat Semeru kebanjiran orang. Jumlahnya mencapai ribuan orang. Untung saja jumlah pendaki setiap harinya dibatasi hanya 500 orang saja sehingga tidak semua yang datang hari itu bisa mendaki saat itu juga. Meskipun masih saja ada yang main belakang dengan mendaki melalui jalur Ayek-Ayek yang sudah resmi ditutup pihak Taman Nasional.

Musim liburan ini memang membawa berkah bagi para sopir jeep dan truk yang mengangkut para pendaki hingga jauh ke desa terpencil seperti ini. Mereka mengangkut para pendaki naik turun ke Pasar Tumpang hingga berkali-kali. Tidak para sopir saja, penduduk Desa Ranu Pani dan sekitarnya pun ikut kecipratan rejeki dengan menjadi porter atau guide.
Penduduk Ranu Pani sedang Panen

Setelah membayar ongkos jeep kami dan rombongan satu jeep dari Bekasi berpisah. Mereka langsung menuju pos untuk mengurus perizinan mendaki, Bang Ical merapikan carrier dan daypack sementara saya mengantar Chila untuk buang air kecil. Namun setelah berputar-putar tak satu pun toilet yang ada airnya. Sempat shock juga apakah di kaki gunung seperti ini air sudah begitu sulit ditemui? Untung saja Chila mampu bersabar hingga kami berangkat menuju pos pendakian yang terletak di dekat Danau Ranu Pani. Dari lapangan parkir berjalan mengikuti jalan aspal yang agak menanjak dengan melintasi pinggiran Danau Ranu Pani yang tampak menghijau.

Di jalan sebelum mencapai pos, kami didatangi oleh seorang pria yang mengaku porter. setelah adu tawar kami sepakat dengan harga 150 ribu per hari. Porter yang mengaku namanya Yanto ini lantas membawa barang bawaan kami ke rumahnya. Sementara Bang Ical, mengurusi registrasi di Pos Taman Nasional.


Saya dan Chila sementara asyik duduk-duduk sambil menikmati pemandangan ke arah Danau Ranu Pani yang tenang.

Setelah proses registrasi siap, kami bertiga dijemput bergantian menaiki motor Mas Yanto untuk diajak ke rumahnya. Di sana telah banyak pendaki-pendaki gunung lainnya yang sedang beristirahat dan makan siang. Mereka baru saja turun dari Semeru. Dan di antaranya ada Mas Jarodi yang berasal dari Jogjakarta yang ternyata teman Bang Ical. Dunia pendakian memang sempit :D

Hilir Mudik Jeep Pendaki

Karena rumahnya tepat di pinggir jalan, maka hilir mudik jeep dan truk pendaki baik yang turun maupun yang naik menjadi pemandangan yang kerap kami jumpai.

Malamnya kami menginap di rumah adik ipar Mas Yanto yang bersampingan dengan rumahnya. Dingin teramat menggigit sampai-sampai Chila pun rewel saat menjelang tidur. Malam itu terasa begitu panjang dan lama. Mungkin masih jetlag. Hampir dua jam sekali saya terbangun. Namun malam tak jua beranjak pagi.


Bang Ical, Chila, Istri Mas Yanto, adik ipar Mas Yanto dan Mas Yanto. 
Keesokan harinya, setelah sarapan kami berangkat dengan dihantar motor Mas Yanto. Bang Ical terlebih dahulu mampir di pos untuk melapor. Sedangkan saya dan Chila dihantar langsung ke pintu rimba.Jarak dari pos hingga pintu rimba sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Jadi menurut Mas Yanto lebih baik kami dihantar langsung ke sana untuk menghemat waktu.

Saat saya dan Chila menunggu tiba-tiba ada petugas yang mendatangi. Lalu menanyakan tentang izin mendaki dan lain-lain. Dia juga mempertanyakan Chila yang masih kecil kenapa diajak mendaki gunung. Saya sempat takut namun saya yakin si Bapak tadi belum bertemu dengan suami saya di pos. Sepertinya begitu melihat saya melewati pos dan tidak mampir untuk izin dia langsung menyusul menggunakan sepeda motornya.

Karena semua kelengkapan persyaratan mendaki ada di Bang Ical termasuk KTP saya, maka ketika saya ditanyai dan diminta syarat ini itu saya hanya menjawab semuanya ada di suami. Termasuk surat keterangan sehat dari dokter dan lain-lainnya. Akhirnya si petugas kembali ke pos.


Saya sempat deg-degan takut tidak dibolehkan. Namun kami sudah punya plan A plan B. Jika memang tidak diizinkan maka hanya saya saja yang mendaki sedangkan Chila dan ayahnya kemping di Danau Ranu Pani hingga saya turun kembali.

Pintu Rimba
Satu jam lebih saya dan Chila menunggu di pintu rimba. Cemas dan khawatir. Namun begitu melihat Bang Ical datang membawa Carrier besarnya saya langsung berucap syukur.

Dari pintu rimba, kami mulai melangkah menuju ketinggian. Berbagai perasaan campur aduk jadi satu terlebih si imut Chila menyertai pendakian kami. Inilah pendakian perdananya. Dia tampak antusias dan gembira. Semoga tidak ada sesuatu apa pun yang menghalangi perjalanan ini.

Kami bertiga berdoa, semoga kami diselamatkan dalam perjalanan hingga kami turun gunung dan kembali ke Batam dengan selamat.

Perkebunan Masyarakat Desa Ranu Pani

Semeru sambutlah kami. Izinkan kami menjejakkan kaki menelusuri sisi-sisi keindahanmu.


Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini:

1. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Indahnya Savana Bromo
2. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Petir dan Badai di Gunung Bromo
3. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Tumpang, Kota Persinggahan Para Pendaki
4.[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Mengunjungi Singosari

Rabu, 06 Agustus 2014

[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Indahnya Savanna Bromo

Mobil Jeep yang kami tumpangi melaju kencang melintasi lautan pasir. Angin yang bergerak horizontal mengangkat pasir Bromo ke atas. Mengepul, mengambang, dan bergerak acak di udara. Seakan bersiap - siap untuk menyongsong kedatangan kami. 

Kami menanti dengan waswas. Menanti saatnya berada di dalam hembusan badai pasir Bromo yang terkenal itu. Semua menahan nafas. Agar pasir halus yang terbawa badai tidak memasuki hidung dan rongga paru-paru kami. 

Kacamata dikenakan, tali masker diikatkan. Semua siaga karena akan menyambut fenomena alam yang unik ini. Hanya sesaat....wusss.... mobil jeep hijau itu melaju di gelapnya hembusan badai Bromo.



Perlahan bukit-bukit dan savana yang kemarin sempat dilalui mulai terlihat lagi. Aaah betapa indahnya alam ciptaan Allah SWT. Betapa beruntungnya bisa menikmati setitik surga yang jatuh ke bumi ini.

Savana...savana...savana.....hati saya berbisik. Sungguh saya selalu takjub jika berada di hamparan padang rumput nan luas seperti ini. Keindahan yang senantiasa saya rindukan. Sebab itu tersematlah nama Savanna itu ke dalam rangkaian nama anak saya. Sierra Syadza Savanna. Dan semoga keindahan Savanna akan selalu terpancar di wajahnya.


Mobil Jeep perlahan berhenti. Sang sopir sangat mengerti bahwa kami harus mampir dan berfoto-foto di tempat ini. di Blok Savana dan Bukit Teletubbies.

Cuaca saat itu teramat bersahabat buat saya. Langit biru cerah, angin berhembus perlahan, dan matahari bersinar hangat. Hari yang sempurna untuk memulai petualangan yang lebih menantang lagi esok lusa. Petualangan menuju Gunung Semeru.


Seorang kakek tua berselendang sarung datang mendekati saya sambil menuntun seekor kuda. Ia menawarkan jasa kuda tunggangan. 10 ribu rupiah saja untuk berfoto di atas kuda dan 60 ribu rupiah untuk keliling berputar-putar menaiki bukit di sekitar savana.

Hampir setengah jam kami beristirahat dan menikmati Blok Savana. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Ranupani yang hanya berjarak beberapa kilometer saja dari Blok Savana Bromo. Namun uniknya walau terhubung dengan jalan yang relatif bagus kedua tempat ini sudah berlainan kabupaten. Bromo dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Probolinggo sedangkan Ranu Pani dan Gunung Semeru masuk ke dalam wilayah kabupaten Lumajang. Sementara kami memasuki kedua gunung ini dari Kabupaten Malang.
 

Untuk mengetahui perjalanan sebelumnya Sila dibaca:



Minggu, 03 Agustus 2014

[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Petir dan Badai di Gunung Bromo

View ke kawah Gunung  Bromo dan Gunung Batok dari Penanjakan
Sewaktu remaja, entah kenapa saya sangat menyukai lagu Doel Sumbang  yang berjudul Bulan Bromo. Lagu ini enak didengar, liriknya indah dan puitis apalagi menggunakan bahasa Sunda yang halus lembut. Begitu pun dengan alunan musiknya yang romantis dinamis ditambah backing vocal suara anak-anak yang ceria. Tambah deh romantis dan penuh rasa. Semenjak itu saya kerap berandai-andai kalau menikah kelak pengen bulan madu bareng suami ke Gunung Bromo.
Simak deh liriknya:




BULAN BROMO 


Kungsi urang duaan  (Pernah kita berdua)

Sabelas Rabiul Awal  (Sebelas Rabiul Awal)
Mapay tangkal kabagjaan (Menyusuri pohon kebahagiaan)
Gunung Bromo Tengah Jawa (Gunung Bromo Tengah Jawa)


Emut keur paduduaan (Ingat sedang berduaan)

Calik dina iyuh pinus (Duduk di bawah teduhnya pinus)
Sempal guyon cumarita (Bercanda bercerita)
Ngabedah rasa katresna (Membedah rasa cinta)


Ngumbar kasono (Mengumbar kerinduan)

Ngumbar kadeudeuh (Mengumbar sayang)
Ngumbar kanyaah (Mengumbar  sayang)
Urang duaan. ….. (Kita berdua...)


Lenglang lenglang langitna (Bersih-bersih langitnya)

Bodas-bodas megana (Putih-pitih awannya)
Buleud bulued bulanna (Bulat-bulat bulannya)
Kucap kicep bentangna (Kedap-kedip bintangnya)
Marakbak hejona (Membentang hijaunya)
Gunung Bromo Tengah Jawa  (Gunung Bromo Tengah Jawa)

View dari Pos pintu masuk Gunung Bromo

Sayang, saat menikah waktu yang kami punya hanya 2 minggu, tak cukup untuk pulang pergi Garut - Bromo - Depok yang diselingi syukuran di dua tempat serta bersilaturahim ke sana kemari. Akhirnya keinginan hanya tersimpan dalam dada.


6 tahun kemudian barulah niat itu muncul kembali. Yeeaayy.... Saya gak tahan pengen lihat savannanya. Bukit-bukitnya, pasir berbisiknya, badainya. Duuuh Bromo sambutlah daku. Dan Alhamdulillah ini dia penampakan pertama Bromo di mata saya. Woow deh, makin cinta gunung-gunung di Indonesia.

Jeep yang kami tumpangi
Kami menaiki jeep berwarna hijau yang memang garang di segala medan. Ditambah lagi dengan sopirnya mengemudi dengan lihai. Untungnya lagi jalan sepanjang Tumpang dan petigaan Bromo Semeru sudah teraspal bagus. Kabarnya dulu gak begitu, masih jelek dan bolong di sana sini, namun tahun lalu ketika Pak SBY mau liburan ke Bromo eh mendadak jalan ke sana di aspal. Walau ternyata pada akhirnya Pak SBY dan keluarga memilih naik helikopter. Hanya para menterinya saja yang lewat jalur darat.

Kalau begitu seharusnya sering-sering deh pejabat tinggi itu turun gunung eh naik gunung ya :D biar jalan-jalan menuju ke sana tetap mulus dan halus :D

Sepanjang jalan melintasi savanna hanya suasana damai dan tenang. Cuaca pun terbilang teduh. Setengah jam kemudian kami melintasi lautan pasir kemudian berhenti di dekat  Pura di bawah kaki gunung Batok dan Kawah Bromo.
Savana Bromo

Kuda-kuda berlarian mendatangi. Chila yang semenjak dari Batam sudah semangat ingin naik kuda begitu ketemu kuda langsung menjerit panik. Ia berlari menjauh. Chila shock melihat kuda yang tinggi besar dan mengeluarkan lendir. Ia menolak mentah-mentah untuk menaiki kuda. Alasannya kudanya jorok. Qiqiqi... dasar anak-anak. Kami asyik foto-foto sebelum nanti naik ke Penanjakan dan menginap di salah satu penginapan di sana.

Langit seketika mendadak mendung. Satu kilatan cahaya dari langit menyambar tanah tepat di belakang Chila. Disusul suara petir yang menggelegar. Semua kaget. Chila terlompat saking kagetnya. Lalu tangisnya pecah seketika. Saya langsung menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil jeep. Rombongan akhirnya memutuskan untuk segera menuju ke penginapan.

Hujan mulai menguyur dengan derasnya. Para pendaki yang berdiri di belakang jeep basah terkena tempias. Walau sudah bertudungkan terpal. Kasihan. saya dan Chila  aman tidak kehujanan karena duduk di depan.

Sekitar jam setengah tujuh malam, kami tiba di penginapan. Pak sopir berbaik hati mencarikan penginapan murah. Ia pun beradu tawar dengan pemilik penginapan. Alhamdulillah dapat harga satu kamar 150 ribu.

Sunrise Bromo dari Puncak Penanjakan
Jam dua malam kami dibangunkan oleh sopir jeep. Walau ngantuk berat kami tetap menurutinya. sekalian packing dan check out.

Saat tiba di sekitar puncak Penanjakan ternyata jalanan sudah penuh dengan mobil jeep lainnya yang beriringan. Sehingga kami tidak bisa mendekati lagi puncaknya. Kami harus berjalan kaki atau naik ojek.

Begitu tiba di puncak penanjakan...ya ampuuuun ratusan orang telah sesak memenuhi puncak yang luasnya tidak seberapa itu. Semua menanti saat-saat matahari terbit di ufuk sana.


Menjelang matahari naik, kami turun menuju Kawah Bromo dan Gunung Batok. Dan lagi-lagi dibuat tercengang dengan deretan mobil jeep yang terparkir rapi.

Barisan Mobil Jeep di Bromo

Syukur Alhamdulillah langit biru cerah sehingga menambah indah pemandangan yang memang sudah indah. Namun sesekali angin bertiup kencang membawa badai pasir yang membuat suasana menjadi mistis. 

Para penunggang kuda melintasi lautan pasir

Sementara rombongan lain naik menuju kawah Bromo, saya dan Chila hanya bermain-main pasir di dekat mobil-mobil jeep. 


Chila asyik bermain pasir dan saya asyik fotoin dia :D Saya suka dengan foto Chila yang satu ini. Saya melihat di wajahnya terdapat kekuatan, kesabaran, harapan, dan juga kelembutan. Ah semoga kamu menikmati perjalanan ini Nak. Perjalanan yang akan menempamu menjadi anak yang kuat, pintar dan solehah. 

Sebentar lagi kita akan bermain-main di tempat dimana namamu disematkan "Savanna".















Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...