Senin, 08 September 2014

[Catper Semeru] Perjalanan Menuju Ranu Kumbolo

Memasuki Pintu Rimba Semeru
Sambil menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung, saya dan anak saya, Chila berjalan menyusuri jalur pendakian Gunung Semeru. Sedangkan Bang Ical, suami saya berjalan di belakang kami sambil menggemblok carrier yang diperkirakan beratnya mencapai 15 kilogram. Dalam jarak jauh beban seberat itu lumayan bikin punggung dan pinggang pegel linu. Padahal beban tersebut sudah dikurangi banyak karena perlengkapan dan logistik lainnya dibawa oleh Mas Yanto porter kami.yang mendaki melalui jalur lain. Jalur Ayek-Ayek yang ditutup untuk umum.

Kami melalui jalan setapak yang di beberapa bagian telah disemen. Sepanjang jalur, di kanan kiri hanya semak dan pohon-pohon yang rindang. Sesekali semak-semak tersebut bertautan di atas membentuk canopy yang indah. Saya menyebutnya sarang burung. Dan Chila suka dengan istilah itu. Jadi setiap menemukan canopy, Chila akan berteriak menyuruh kami berhenti di sarang burung.
Canopy

Di sepanjang jalur pendakian, hanya berselang beberapa menit saja, sudah ada yang menyusul dan melewati kami. Sebentar-sebentar kami berhenti untuk memberi jalan bagi mereka yang ingin mendahului. Tak lupa mereka selalu menyapa Chila. Bertanya ini itu dan tampak takjub melihat anak kecil ikut naik gunung. Begitu ditanya usianya berapa saya memilih diam dan mengalihkan pembicaraan. Ini masalah sensitif dan akan mengganggu kenyamanan kami selama pendakian jika saja ada petugas yang patroli.

Kami sudah diwanti-wanti oleh petugas di pos pendaftaran mengenai resiko membawa anak kecil dan harus menanggung akibat apa pun yang akan menimpanya. KTP Bang Ical saja ikut ditahan sebagai jaminan. Sebenarnya petugas melarang kami membawa naik Chila, namun entah kasihan karena kami datang dari jauh akhirnya dia membolehkan.
Pose dulu :D

Setiap ada pertanyaan berapa usia Chila, Bang Ical dengan hati-hati menjawabnya. Dan lucunya lagi saat Chila sendiri yang ditanya sedangkan saya dan Bang Ical diam, dengan tegas dan jelas Chila menjawabnya 10 tahun. Saya ngikik ketawa. Anak-anak kalo dicontohin cepat belajarnya ya :D. Saya bertanya kenapa Chila menjawab 10 tahun. Kata Chila kalau 10 tahun dibolehkan naik gunung kalau 5 tahun nggak boleh naik gunung, jadi Chila sekarang usianya 10 tahun. Halaah ide darimana pula itu. Pasti mencontoh ayahnya.

Kami berjalan santai mengikuti irama jalannya Chila. Pelan tapi terus maju. Beberapa kali berhenti dan mengeluarkan mainan serta buku menggambar. Jadi gelosoran di pinggir jalur sambil mewarnai Buku Dora the Explorer.
Belajar di Jalan biar gak bosan

Setelah 2 jam perjalanan, Chila masih saja berjalan sendiri. Tidak mau digendong. Ia malah asyik mengamati lingkungan sekitar yang dilaluinya. Setiap ada tanaman dan bunga-bunga yang tidak dikenali, dia berhenti dan mengamatinya. "Bunda ini tanamannya unik," katanya. Sepertinya Chila menikmati setiap langkahnya. Tidak sedikit pun mengeluh capek. Saya dan suami berkali-kali menawarinya menggendong namun selalu ditolak.

Menjelang tengah hari, akhirnya saya paksa untuk menggendong Chila menggunakan baby carrier. Sepertinya Chila sudah mengantuk. Dan benar saja tidak berapa lama dia pun pulas dalam gendongan.

Bertemu Bang Ichin
g pos Watu Rejeng, tiba-tiba kami berpapasan dengan seorang bapak-bapak dan anaknya. Suami saya langsung mengenalinya. Si Bapak tersebut ternyata Om Ichin, Mapala UI angkatan tahun 86. bang Ical dan Om Ichin ini pernah satu pendakian di Gunung Gede beberapa tahun silam. Saya langsung excited ketemu senior di dunia mountaineering Indonesia ini. Setelah ngobrol sebentar kami masing-masing melanjutkan perjalanan.
View menuju puncak dari jalur pendakian

Jalur masih mendatar dan terlihat jelas. Melipir bukit-bukit dan punggungan gunung. Ada beberapa perhentian atau shelter yang dibangun sepanjang jalur. Namun setiap shelter selalu dipenuhi oleh pendaki yang sedang beristirahat. Jadi kami terus saja melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 3 sore kami mulai melihat Danau Ranu Kumbolo di kejauhan. Alhamdulillah. Akhirnya Chila kuat berjalan kaki sampai sejauh ini. Danau indah yang berada di ketinggian 2400 meter di atas permukaan laut. Tak lupa selalu narsis foto-foto. Kapan lagi bisa merekam dan menikmati keindahannya selain saat itu. Inilah pemandangan pertama menuju Ranu Kumbolo. Woow...Breathtaking Journey!

View pertama menuju Ranu Kumbolo

Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini:


1. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Ranu Pani Sang Tahta Mahameru  
2. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Indahnya Savana Bromo
3. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Petir dan Badai di Gunung Bromo
4. [Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Tumpang, Kota Persinggahan Para Pendaki
5.[Catatan Perjalanan Bromo Semeru] Mengunjungi Singosari


Jumat, 05 September 2014

[7 Wonders] Petualangan Mengungkap 7 Keajaiban Nusantara

Petualangan adalah sebuah proses pencarian. Proses melihat, mengamati, serta menyerap beragam makna kehidupan di sepanjang perjalanan. Petualangan adalah masa dimana para pelakunya belajar langsung di luasnya universitas kehidupan. Jeda manakala seseorang telah terbelenggu oleh ambigu rutinitas.

Sudah sejak zaman dahulu kala, semenjak Adam terusir dari surga, petualangan telah bermula. Menyusuri hutan, mendaki gunung, melintas savana dan gurun bahkan mengarungi lautan. Petualangan tersebut mempunyai tujuannya masing-masing. Dengan berjalan kaki, mengendarai hewan tunggangan, atau berlayar dengan perahu-perahu sederhana. Petualangan telah menemukan caranya tersendiri.

Selayaknya Adam bertemu Hawa, maka petualangannya telah purna. Suatu purna yang sempurna. Begitu pun sebuah proses petualangan, ia akan menemukan akhir untuk memulai sesuatu yang baru lahir. Yakni sebuah perspektif baru tentang dunia luar yang telah dilalui. Tentang tempat-tempat yang terlewati, tentang orang-orang yang ditemui, atau tentang alam yang indah menawan hati.

Para petualang laksana kupu-kupu yang telah bertransformasi menjadi wujud cantik nan menarik. Ia terbang, hinggap, berpindah-pindah, untuk menyesap sari bunga-bunga sambil mengepakkan sayapnya. Kepakan yang menjatuhkan serbuk sari bunga hingga bertemu putiknya. Kepakan yang memberi harapan kepada pohon untuk tumbuh lebat berbuah.

Kepakan sayap kupu-kupu bagaikan kisah, cerita, ilmu, dan pengetahuan yang dibagi sang petualang. Ia akan menyebar dan menempel layaknya serbuk sari yang berjatuhan. Yang akan menumbuhkan tunas-tunas petualangan baru bagi siapa saja yang mendengar dan menyimak kisah-kisahnya.

Para Sahabat Petualang Menuju Desa Kinahrejo (Foto oleh: Luci)
Seperti itu pulalah petualangan yang dilakukan oleh Daihatsu pada Awal Oktober 2013 silam. Petualangan panjang selama dua pekan dengan tajuk “Terios Seven Wonder, Hidden Paradise menempuh jarak lebih dari 2500 kilometer dari tepi barat Pulau Jawa hingga ujung barat Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang mampu menebar semangat petualangan baru bagi siapa pun yang mendengar dan membaca kisah-kisahnya. Kisah yang dituturkan oleh para jurnalis dan narablog yang menjadi peserta petualangan tersebut. Petualangan menyibak sisi-sisi tersembunyi dari sejumput surga yang terserak di bumi nusantara. Seperti putaran roda Terios yang bergulir di jalanan beraspal, kisah-kisah itu pun bergulir dari satu rumah ke rumah maya lainnya. Layaknya jala ia ditebar dan layaknya virus ia menyebar.




Petualangan Mengunjungi 7 Wonders, Hidden Paradise of Indonesia

Petualangan Daihatsu Terios ke Taman Nasional Baluran (Foto by Wira N)
Petualangan Daihatsu Terios dengan menggunakan 7 armadanya dimulai dari hidden paradise yang terdapat di Provinsi Banten yaitu Pantai Sawarna. Dilanjutkan ke Desa Kinahrejo di kaki Gunung Merapi Yogyakarta, kemudian Suku Tengger di Desa Ranu Pani Jawa Timur. Ke timur lagi Terios berpacu di jalanan menuju Taman Nasional Baluran di Banyuwangi Jawa Timur. Selanjutnya rombongan petualang menyebrang menuju Desa Sade yang terdapat di Pulau Lombok dan Dompu di Pulau Sumba NTB, lalu menyebrang menuju Labuan Bajo di Flores hingga Terios mencapai akhir perjalanannya dengan menggapai wilayah  perairan di Pulau Komodo.

Berada dalam perjalanan selama dua pekan, terguncang di balik kemudi, menyesuaikan dengan ritme laju kendaraan di setiap belokan, tanjakan, turunan, jalanan berlubang, berpasir, bahkan berlumpur sungguh akan terasa sangat melelahkan bagi siapa pun yang mengikutinya. Namun performa Terios yang tangguh melalui segala medan mampu meredam rasa lelah yang sedemikian rupa. Salah satunya dikemukakan oleh narablog Luci yang menjadi salah satu peserta roadtrip.

“Yang bikin tambah seneng, tidur di kursi belakang nyenyak banget karena guncangannya nggak terasa. Kalau kata Om Toni, jurnalis majalah Auto Bild (Kompas Gramedia) yang juga berperan sebagai team leader dalam perjalanan ini, suspensinya Terios disetting empuk. Pantesan, saya nggak bangun aja dong padahal sudah melewati banyak jalanan rusak. :’)”    

Terios didukung oleh sistem suspensi McPherson strut per keong & stabilizer membuat berkendaraan terasa sangat nyaman. Begitu pun dengan sistem kemudi yang menggunakan Rack & Finion dengan Electric Power Steering membuat aktifitas mengemudi terasa ringan dan menyenangkan. Terios juga dilengkapi oleh Disc Brake sehingga kualitas pengereman lebih mantap dan sempurna. Selain itu TAF Body memberikan keamanan maksimal karena memiliki fungi menyerap benturan.

Sesuai dengan tagline-nya sebagai “Sahabat Petualang”, Terios telah membuktikan diri mampu menjadi sahabat terbaik para petualang dalam rangkaian roadtrip Sawarna – Kinahrejo – Tengger – Baluran – Desa Sade – Dompu – dan Pulau Komodo. Dengan kapasitas penumpang 7 orang, mobil SUV dengan Ground Clearance yang tinggi ini mampu melewati medan yang tidak rata dan trek off-road.



Petualangan adalah Sarana untuk Berbagi

Roda zaman terus berputar. Kian hari petualangan di alam terbuka semakin mengalami berbagai perubahan dan kemudahan. Baik dari segi cara maupun tujuannya. Dari berjalan kaki, hingga kini mengendarai berbagai jenis kendaraan. Dari petualangan mencari tempat yang nyaman dan perlindungan dari hewan buas menjadi tempat untuk bersenang-senang. Dari yang hanya sekedar iseng menjadi ajang membawa misi kemanusiaan. Petualangan semakin hari semakin menemukan jati dirinya.

Petualangan Terios berserta timnya tidak hanya sekedar menumpang lewat dan menikmati setiap keindahan lokasi-lokasi yang dituju, namun di sana juga mereka memberikan bantuan kepada masyarakat setempat melalui program CSR (Corporate Social Responsibility).

Dan dalam petualangan tim Daihatsu Terios 7 Wonders kali ini tak ketinggalan membawa salah satu misi sosial kemanusiaan. Yakni dengan berbagi dengan masyarakat yang dikunjungi. Misalnya saat tim mengunjungi Desa Ranu Pani para petualang membagi-bagikan alat kebersihan agar dipergunakan oleh masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan sekitar dari sampah dan debu-debu. Kegiatan ini merupakan bagian CSR dari PT. Astra  Daihatsu Motor melalui programnya Sehat Bersama Daihatsu.  Hal ini telah disadari oleh Daihatsu bahwa kesehatan masyarakat adalah kebutuhan dasar untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Selain itu tim sahabat petualang memberikan bantuan buku untuk perpustakaan sekolah di Pondok Pesantren Almasyhudien Nahdlatulwathan yang mengelola beberapa sekolah di Pulau Lombok. Program CSR ini diberi tajuk Pintar Bersama Daihatsu.

Di Labuan Bajo, tim lagi-lagi berbagi dengan menyumbangkan 7 ekor kambing untuk dikurbankan di Mesjid Labuan Bajo. Program ini mengusung tema Sejahtera Bersama Daihatsu.


Epilog

Petualangan menempuh jarak ribuan kilometer sepanjang Pantai Sawarna – Pulau Komodo yang zaman dahulu kala harus ditempuh dengan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, kini dengan semakin canggihnya kemajuan yang diraih anak manusia, jarak ribuan kilometer tersebut seperti terlipat dalam sekejap. Tahun menjadi bulan, bulan menjadi minggu, dan minggu menjadi hari. Kini, petualangan terasa semakin lebih bermakna dan berwarna karena teknologi memaksimalkan nilai petualangan itu sendiri.

Saat petualangan Terios 7 wonders berakhir maka makna petualangan itu sendiri mulai terasa hadir. Mengisi setiap relung hati pembaca dengan berbagai sudut pandang. Indahnya negeri sendiri tampak mempesona setelah selesai dikunjungi dan tersaji dalam imaji. Tim Terios 7 Wonders telah berhasil mengangkat ke permukaan tujuh lokasi tersembunyi di negeri ini yang layak dijadikan destinasi.

Pada akhirnya petualangan akan mencipta kenangan. Kenangan mencipta ketenangan. Ketenangan mencipta nilai dan perbuatan yang bijak. Bijak dalam bertindak, bijak dalam bermasyarakat. Semoga petualangan Terios mengunjungi 7 keajaiban nusantara akan mencipta kenangan indah akan negeri tanah tumpah darah. Kenangan yang akan menyublim menjadi semangat nasionalisme untuk tetap mencintai negeri sehingga tatanan nilai dan budaya masih tetap terjaga. Dan nilai-nilai kearifan lokal akan bersinergi dengan nilai-nilai global dengan lebih bijak.




Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Terios7Wonders yang diselenggarakan oleh Vivalog dan Daihatsu.

Sumber Referensi:
1. www.daihatsu.co.id
2.  www.indohoy.com
3.  www.lucianancy.com
4.  www.wiranurmansyah.com
5.  www.backpackology.me
6.  www.simplyindonesia.wordpress.com
7.  www.girisatrio.wordpress.com



 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...