Jumat, 31 Oktober 2014

Gunung Guntur, Pendakian Penuh Waswas dan Curiga

Bagi orang-orang perantauan seperti saya, momen Idul Adha, 5 October 2014 lalu adalah momen yang tepat untuk pulang kampung. Selain tiket pesawat terbang tidak semahal ketika Idul Fitri, juga lalu lintas di jalan raya tidaklah terlalu macet. Terlebih kampung saya berada di Garut, Jawa Barat, yang lalu lintasnya berada di jalur selatan. Jalur yang setiap kali musim mudik lebaran kerap macet parah.

Gunung Guntur
Sambil Menyelam Minum Air

Sambil menyelam minum air. Sambil pulang kampung, saya pun kerap mendaki gunung :D. Biasanya, saya mendaki Gunung Cikuray atau Papandayan. Namun liburan kali ini saya lebih memilih mendaki Gunung Guntur yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampung halaman. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan bermotor menuju SPBU Tanjung di Kecamatan Tarogong Kaler. SPBU ini yang menjadi entry point dan bahkan assembly point bagi para pendaki Gunung Guntur.

Tepat di Hari Raya Idul Adha, sekitar pukul 11.30 siang, selepas mengurusi daging domba garut yang dijadikan qurban, (Tak lupa kami membawa serta potongan daging domba segar untuk dimasak di atas gunung) saya bertiga dengan suami dan adik laki-laki saya berangkat menuju SPBU Tanjung dengan menyewa mobil angkutan  pedesaan (Angped). Sambil menunggu teman yang sudah biasa mendaki Gunung Guntur sebagai penunjuk jalur, kami beristirahat sejenak di mushola SPBU.

Jalan masuk menuju Gunung Guntur terletak di sebelah kiri SPBU. Tidak ada tanda dan tulisan apa pun di mulut jalan. Jadi jika ragu sebaiknya bertanya kepada penduduk sekitar. Pada hari biasa, jalan menuju Gunung Guntur ini ramai oleh lalu-lalang truk yang mengangkut pasir dan batu. Namun karena saat itu merupakah hari libur, maka tak satu pun truk yang lewat. Dengan terpaksa, kami berjalan kaki menyusuri jalanan yang berdebu. Kemarau panjang telah merubah jalanan aspal yang kami lalui seperti arena pacuan kuda.

Baru beberapa menit berjalan, rasanya tubuh langsung shock karena badan belum berkompromi dengan beban di punggung. Begitu pun dengan nafas yang belum menemukan ritmenya. Langsung ngos-ngosan. 15 menit kemudian, kami menyerah. Segera menuju sebuah warung yang menjual es campur. Hawa panas di tengah terik kemarau ini cukup membuat mental dan fisik kami down. Daaan, menemukan es campur di tengah terik seperti itu bagai menemukan oase di gurun sahara. Langsung pengen nyebur dan berendam seperti kuda nil :D

Saat duduk sambil menikmati es campur, Si Bapak penjual es campur yang ternyata adalah RT setempat, segera bercerita panjang lebar tanpa diminta. Ia berpesan agar kami berhati-hati karena kerap terjadi kehilangan benda-benda berharga di atas gunung sana. Incarannya selalu sama. Kamera, uang, hand phone atau tablet. Dan ini sungguh membuat para pendaki dan warga di sana menjadi resah karena pelakunya hingga kini belum tertangkap.

Pesan dari Base Camp Guntur

Setelah badan terasa segar, kami segera beranjak pergi. Namun baru beberapa meter berjalan, kami melihat sebuah rumah bertuliskan “Base Camp Guntur”. Sebuah rumah yang ternyata dijadikan pos pendaftaran ke Gunung Guntur. Kami pun mampir untuk melakukan registrasi. Rumah tersebut adalah rumah Bu Tati, RW setempat. Namun yang menerima kami saat itu adalah suaminya. Sebut saja Pak RW walaupun bukan beliau yang menjadi RW :D. Sama halnya dengan Pak RT yang menjual es campur tadi, Pak RW tidak lupa menasehati kami agar berhati-hati. Dan jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera menghubunginya. Ia pun menyarankan jika seseorang kedapatan mengambil barang-barang milik kami, maka segeralah difoto. Waduh boro-boro untuk foto Pak, rasa-rasanya kami tidak akan seberani itu kecuali dalam jarak yang aman. Sementara yang kami dengar dari Pak RW sendiri, pelakunya kerap memasuki tenda pendaki saat sedang terlelap tidur sekitar jam 3 hingga jam 5 subuh.

Saat sedang melakukan registrasi, sebuah truk mampir di base camp. Dan sopir truk bersedia memberikan tumpangan hingga kawasan tambang pasir. Syukur Alhamdulillah, dapat tumpangan juga. Tak terbayang di teriknya siang seperti ini kami masih harus berjalan berkilo-kilometer lagi menuju lokasi tambang pasir yang gersang. Saya khawatir kalau energi terkuras sebelum memasuki kawasan gunung sesungguhnya, fisik dan psikologis kami akan down duluan seperti tadi.


Para Penambang Pasir

Truk melaju perlahan di jalanan yang tidak lagi rata. Adik dan suami saya berdiri di bak truk belakang. Begitu juga dengan teman baru kami yang bernama Roni. Sementara saya duduk manis di samping Pak Sopir yang masih muda, 21 tahun. Namanya mudah diingat. Nama khas orang Sunda kebanyakan. Asep.
Darinya cerita para penambang pasir pun bergulir.Truk yang dibawa Asep adalah truk kepunyaan kakaknya dari Bandung. Ia kerap bolak-balik Garut – Bandung demi mengais rejeki dengan membeli pasir sebesar dua ratus ribu rupiah dari para penggali.
Gunung Guntur
Asep setiap harinya bolak-balik ke lokasi tambang pasir hampir 3 kali sehari, pagi siang sore. Seperti minum obat :D. Tiap trip ia akan membayar 30 ribu rupiah sebagai retribusi bagi warga dan desa sekitar. Selain itu ia juga menyetor uang sebesar 5000 rupiah ke Organda, sebagai jaminan keamanan kalau terjadi apa-apa dengan truknya. Setelah itu ia membawa pasirnya ke daerah Garut atau Bandung. Untuk wilayah Garut ia menjualnya 500 ribu rupiah per truk. Sedangkan untuk wilayah Bandung  800 ribu rupiah.
Jika penghasilan bersih sekitar 100 hingga 400 ribu rupiah saja per trip, usaha tambang pasir ini amatlah menjanjikan. Terlebih jika truk yang dimiliki adalah milik pribadi sopir truknya, maka keuntungan yang diterima akan berlipat.

Tak dipungkiri, dengan maraknya pertambangan pasir ini, ekosistem di kawasan Gunung Guntur terganggu. Keseimbangan alam mulai tak berimbang. Namun di sisi lain kekayaan alam, bumi, laut, dan yang terkandung di dalamnya diciptakan untuk memberi manfaat sebaik-baiknya bagi kehidupan manusia. Dengan itu pemanfaatan sumber-sumber kekayaan alam seperti di atas haruslah bijak dan berwawasan lingkungan. Tanpa mengesampingkan masa depan bumi di masa yang akan datang.
Di ujung jalan paling atas di lokasi pertambangan pasir, truk diparkir. Dengan petunjuk dari Asep, kami melanjutkan perjalanan dengan mengarah ke sisi kanan atas menuju Pos 1, Curug Citiis.Tidak ada papan petunjuk yang jelas. Jalan tempat truk-truk menaikkan galian pasir terlihat saling silang di sana-sini. Tambang pasir ini tampak luas sekali.

Kami berpapasan dengan tiga orang remaja laki-laki yang baru turun dari Curug Citiis. Saya menanyakan beberapa hal kepada mereka penuh selidik. Apakah mereka juga kehilangan sesuatu. Benar saja. Salah seorang dari mereka segera bercerita bahwa baru saja kehilangan dompet beserta uang dan hand phone. Saya tercekat kaget. Duh, apakah ini berarti gunung guntur mulai tidak aman bagi pendaki?
Saya menanyakan apakah mereka mencurigai seseorang atau sesuatu sehingga barang-barang tersebut bisa hilang. Sepertinya iya. Mereka mencurigai beberapa orang laki-laki yang sedang nongkrong di Curug Citiis. Kecurigaan ini timbul karena saat itu tidak ada siapa pun kecuali mereka. Got it. Saya mencatatnya baik-baik dalam hati.

Dari Pos ke Pos

Suara gemericik air mulai terdengar. Curug Citiis mulai tampak dari sela-sela pepohonan yang rindang. Air sungai mengalir jernih melalui ceruk-ceruk yang dalam. Tiga orang laki-laki berbaring di bale-bale bambu sebuah gubuk. Entah sedang apa mereka di sana. Saya amati mereka bukan pendaki yang akan naik maupun turun.

Kami terus melanjutkan perjalanan tanpa berhenti di Curug. Begitu kami mengorek keterangan dari Roni, dia juga punya pengalaman pahit di Curug Citiis. Beberapa tahun lalu saat ia sedang tidur-tiduran di bebatuan, tas kecil yang berisi uang dan hand phone-nya raib.

Usut punya usut, temannya yang sedang tidur-tiduran juga sempat menyaksikan tas Roni diambil seseorang. Seseorang itu adalah salah satu laki-laki yang kami temui tadi. Tidak ada bukti untuk menyeretnya ke pihak polisi. Yang jelas setelah cerita itu selesai kami jadi waswas. Apakah malam nanti kami pun akan menjadi sasaran?
Para Summiter
Setengah jam kemudian kami tiba di Pos dua. Beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Di sini masih terdapat sumber air karena pos 2 berada tepat di tepi sungai Citiis.

Sore mulai beranjak, dan jalur makin menanjak. Bebatuan terjal yang kami lalui tampak seperti tangga-tangga alami. 1 jam kemudian kami tiba di pos 3, pos yang dinamai Roni Pos Pangreureuhan. Rupanya ia sendiri yang memberi tanda jejak dan membuat petunjuk-petunjuk yang sangat berguna bagi para pendaki.
Di pos 3 juga masih terdapat air. Kira-kira 5 menit berjalan ke arah sebelah kanan jalur dengan petunjuk yang jelas menuju sumber air. Masih di aliran Sungai Citiis yang terletak di sebelah kanan jalur.

Maghrib mulai menjelang. Suara adzan dari perkampungan di bawah sana samar terdengar. Kami beristirahat dan makan malam. Sholat maghrib akan kami jama di waktu isya nanti saat kami tiba di puncak.
Menu lepet dan keripik tempe yang telah disiapkan ibu saya dari rumah ternyata sangat bermanfaat untuk dijadikan menu makan malam saat itu. Semula, saya tidak berniat untuk membawanya jika ibu tidak memaksa.

Hari mulai gelap. Kabut makin pekat menyelimuti jalur dan Puncak Guntur. Kami mulai mengeluarkan senter dan head lamp masing-masing. Satu per satu menapaki jalur yang mulai licin oleh kerikil. Bukan pasir seperti di Gunung Semeru atau Rinjani. Tapi kerikil-kerikil sebesar bola bekel. Kondisi ini membuat kami semakin sulit melangkah karena hampir setiap pijakan pada kerikil menyebabkan kaki tergelincir beberapa centi ke bawah. Sementara vegetasi hanya berupa semak-semak. Sangat jarang sekali pepohonan. Jika pun ada hanya satu-satu batang pinus yang gosong tersambar petir.

Agar tidak sering tergelincir kami berjalar di tepi jalur yang ditumbuhi semak sehingga masih bisa berpegangan pada batang-batangnya yang ternyata lumayan kuat menahan beban badan.
Rasanya gunung ini luar biasa. Luar biasa melelahkan bagi yang tidak biasa. Jalurnya terbilang berat, terlebih bagi para pemula. Menanjak terus dan tidak menemukan area datar sama sekali. Saat yang tepat menguji kesabaran, kekuatan, dan kegigihan. Beban yang berat di punggung masing-masing sungguh merupakan ujian tersendiri bagi kekuatan fisik dan mental. Mendaki gunung bukanlah hal yang mudah dalam kondisi seperti ini. Syukurnya kami tidak mendaki siang hari. Bisa-bisa terkena dehidrasi karena vegetasi dan paparan matahari sangat terbuka.

Gelap semakin pekat. Dan kabut tak juga beranjak pergi. Kami berempat berada pada jarak yang saling berjauhan. Namun karena jaur terbuka, satu sama lain masih bisa saling memantau dengan patokan sinar senter masing-masing.
“Chil…Chil…Ayah Bunda mah jauh-jauh pulang kampung malah nyari susah,” celetuk suami saya sambil terkekeh tertawa. Ah iya, untung saja anak kami Chila yang masih berusia 5 tahun, tidak kami ajak. Padahal ia sudah merengek-rengek meminta untuk ikut mendaki.

Menggapai Puncak 1

Roni, sudah jauh di atas sana. Cahaya senter yang ia nyalakan sebagai sinyal, tampak seperti bintang, berkelap-kelip. Membias, menembus pekatnya kabut. Sinyal cahaya yang dibalas sama oleh Adik saya yang berada di bawahnya. Sedangkan saya dan suami tertinggal cukup jauh di belakang. Saya mengalami keseleo di sendi lutut kiri sehingga berjalan terpincang-pincang. Saya menduga disebabkan kurangnya pemanasan sebelum mendaki.

Pukul 19.30 satu per satu kami tiba di gigiran puncak 1. Jalur mulai datar dan melandai. Kami segera menuju ke lembah di area puncak. Samar terdengar celoteh khas ibukota. Ber-Elu Gua. Sesekali diselingi pertanyaan “Mana Bapak, Mana Bapak?” lalu disambut jawaban lainnya “Di Jonggol,” candaan khas sinetron Emak Ingin Naik Haji.
Gunung Guntur
Berselimut Kabut

“Assalamualaikum”, Roni mengucap salam. Dijawab serempak oleh mereka. Para pendaki yang sempat terlihat di punggungan gunung di sebelah kiri jalur yang kami lalui sore tadi. Jalur yang ampun-ampun. Sangat terbuka dan tidak ada pohon termasuk rumput dan semak untuk sekedar berpegangan. Dan beratnya jalur yang mereka lalui ini tidak ada sumber air. Wajar saja jika mereka kehabisan air.

Para pendaki yang baru kami temui ini berasal dari Bekasi. Ketika saya tanya kenapa tidak melalui jalur sepanjang sungai Citiis, mereka menjawab bahwa laki-laki yang ada di Curug Citiis menunjukkan jalur ke sebelah kiri. Saya hanya geleng-geleng kepala. Apa maksudnya coba. Mungkinkah tindakan itu, menunjukkan arah yang salah, adalah sengaja?

Kami mendirikan tenda tidak jauh dari tenda pendaki dari Bekasi. Setelah tenda berdiri rapi kami mempersiapkan untuk memasak. Daging domba yang kami bawa dari rumah segera disiapkan untuk menjadi sate. Lumayan dapat 20 tusuk sate. Dengan menu sate domba, makan malam kali ini sungguh sangat nikmat.Alhamdulillah.

Setelah makan malam dan mengobrol apa saja, kami bersiap untuk tidur. Benda-benda berharga segera kami rapikan dan disimpan baik-baik. Dompet, kamera poket, dan hand phone saya selipkan di jaket yang saya kenakan. Lalu membungkus diri dalam sleeping bag. Saya merasa lumayan tenang. Dimana lagi menemukan tempat aman di dalam tenda kecuali dalam sleeping bag.

Mengingat beberapa cerita teman yang mengalami kejadian kemalingan di Gunung Guntur ini, kami berempat jadi waswas. Tidur tidak nyenyak. Terjaga pun tidak enak. Setiap ada suara-suara aneh segera saja terbangun penuh kecurigaan. Laa haula…saya pun berdoa lalu memejamkan mata. Sungguh malam yang terasa sangat panjang dan menegangkan. Rasanya saya ingin segera menyudahi malam ini. Namun di luar sana gelap masih menyelimuti.

Pagi telah menyingsing. Kabut masih setia menyelimuti area puncak. Awan menggumpal, bergulung-gulung di langit sebelah timur. Sinar matahari menerobos lembut. Saya yang menunggu detik-detik sunrise sedikit kecewa karena langit terhalang kabut. Namun kekecewaan itu terobati saat melempar pandang ke arah selatan.Gunung Cikuray mencuat begitu saja di antara genangan awan di langit. Tampak begitu anggun dan menggetarkan.

Hawa pagi tidak terlalu dingin. Entahlah. Saya tidak merasakan kedinginan yang sangat seperti di gunung-gunung lainnya. Mungkin tubuh saya sudah beradaptasi dengan suasana udara di Garut. Apalagi saya sudah beberapa hari berada di kampung halaman. Atau, karena memang efek dari global warming  atau mungkin juga karena karakteristik Gunung Guntur yang panas. Sehingga kadang terbakar sendiri saat kemarau seperti ini.
View Kota Garut


Setelah menyeruput teh manis hangat, berdua dengan adik, saya menaiki puncak 2. Setengah jam kemudian kami tiba di sana. Dari puncak 2 pemandangan tampak kontras. Tepat bersebelahan dengan Guntur tampak Gunung Hejo yang rimbun menghijau. Tajuk-tajuk pohonnya subur dan lebat. Sementara Guntur sendiri tampak gersang dan gundul. Arah menuju puncak 3 justru terlihat menghitam bekas kebakaran yang hampir setiap tahunnya terjadi.

Tak kurang dari setengah jam kami berada di Puncak 2 lalu memutuskan turun ke lokasi kemping. Saya tidak begitu berminat untuk menuju puncak 3 dan puncak 4 yang menjadi titik tertinggi Gunung Guntur yakni 2249 mdpl. Cukuplah menyaksikan keindahan hingga di puncak 2 saja. Setelah saya dan adik turun, gantian kini suami dan Roni yang naik ke puncak 2.
Saat mereka berdua turun saya sudah selesai packing. Sehingga tak lama berselang, sekitar jam 10 pagi, kami turun. Kini jumlah kami menjadi 8 orang karena ditambah dengan 4 orang pendaki dari Bekasi yang ingin turun bersama.


Turun Gunung

Pemandangan saat turun sungguh membuat saya berdecak kagum. Pemandangan ke arah Kota Garut dan sekitarnya seperti lukisan yang berbingkai awan. Walaupun langit memutih tetap saja keindahannya tak terbantahkan. Tambang pasir tampak berundak-undak berwarna merah tanah. Hamparan savanna yang menguning di punggungan gunung mengingatkan saya kepada film lawas Little House on the Paraire.

Sementara pada jalur turun, rekan-rekan sedang berjuang menuruni jalur kerikil yang licin.
“Pantesan kata temanku, kalau ke Guntur bawa wajan, biar bisa dipakai turun.” canda suami saya. Ia pun mencoba menuruni jalur dengan berbagai gaya. Mundur, menggelosor dan berjongkok. Ketika berjongkok, wuusss…..ia pun meluncur tak terhentikan. Adik saya tak mau kalah ia pun menuruni jalur dengan menggelosor. Meluruskan kedua kakinya  dan sreeeet….ia pun berhasil menuruni jalur dengan laju.
Jam 11.30 kami  tiba di Pos 3. Berisitirahat dan mempersiapkan makan siang dengan merebus mie instant.

Selepas sholat dzuhur yang dijama dengan ashar, kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di Curug Citiis. Di sana masih terdapat tiga orang laki-laki yang kemarin kami temui. Tak berhenti di situ kami melanjutkan perjalanan dengan menyebrang sungai citiis dan mengikuti jalur pipa air warga yang menuju kampung. Tiba di Base Camp Guntur sudah sore. Setelah melapor kami pulang dengan menumpang truk pasir menuju daerah Tarogong Garut.

Tulisan ini saya reblog dari tulisan saya sendiri di websitenya pendakigunung.org di sini

Kamis, 30 Oktober 2014

Bintan Trekking 2014, Arena Jelajah Pulau Bintan yang Sesungguhnya

Setiap tahunnya, tepatnya di bulan Agustus, Dinas Pariwisata Kabupaten Bintan Kepulauan Riau senantiasa mengadakan event lomba trekking dengan lokasi di Gunung Bintan. Mengambil start dan Finish di Desa Bintan Bekapur dan Bintan Buyu.

Biasanya lomba ini bertepatan dengan musim durian sehingga kerap digelar pesta durian. Siapa pun yang datang ke acara tersebut boleh mencicipi durian yang bertruk-truk dibagikan. Para peserta pun diberi oleh-oleh berupa bingkisan durian saat menjelang garis finish. Namun sayang tahun ini musim durian jatuhnya di bulan Juli, bertepatan dengan bulan puasa sehingga duriannya sudah tak bersisa lagi.

Event akbar ini memperebutkan total hadiah 50 juta dengan rincian juara satu 10 juta, juara dua 7,5 juta, juara tiga 6 juta dan sisanya dibagi untuk 8 tim juara harapan.
Kapal Roro Batam - Bintan

Tahun ini peserta dibatasi hanya 100 tim saja dengan masing-masing anggota tim sebanyak 3 orang. Namun pada kenyataannya peserta yang mendaftar membludak hingga panitia harus menyetopnya di angka 130 tim. Banyak lagi pendaftar yang ditolak karena tidak memenuhi syarat.Contohnya saya dan suami yang hendak mengajak anak kami yang berumur 5 tahun. Panitia menolak karena batas usia peserta minimal 14 tahun.

Saya berangkat dari Batam ramai-ramai dengan teman-teman dari Komunitas Pecinta alam Muka Kuning Cumfire. Ada 8 tim dari Cumfire yang ikut ambil bagian dalam lomba ini. Kebanyakan wajah-wajah lama yang hampir tiap tahun tidak pernah absen mengikuti acara ini.

Penyebrangan Batam - Bintan menggunakan kapal Roro memakan waktu 1 jam. Biasanya kapal berangkat jam 2 tepat. Sedangkan dengan kapal cepat hanya 10 menit saja. Kami semua memilih menggunakan kapal Roro karena lebih murah dan bisa menikmati pemandangan ke arah laut. Namun sayang suami saya ketinggalan karena baru keluar dari kantornya jam setengah dua siang. Saat itu kapal mengangkat sauh lebih cepat sehingga jadwal keberangkatan maju beberapa menit. 

Tiba di Tanjung Uban, rombongan dijemput panitia menggunakan bis. Sedangkan Saya dan Chila masih akan menunggu Bang Ical yang menyusul dengan menggunakan kapal cepat. Beruntung ada Babeh Sugiyono beserta keluarganya yang mau ikut serta menunggu.Beruntungnya lagi Istri Babeh dijemput oleh saudaranya.

Tak lama, kami sudah bertemu dengan Bang Ical. Dan segera melaju menuju lokasi acara. Sepanjang perjalanan, pemandangan didominasi oleh semak dan rawa. Sesekali terlihat rumah-rumah penduduk, itu pun saling berjauhan. Sedangkan jalanan yang dilalui masih terbilang mulus. Jembatan-jembatannya pun terlihat baru.
Poster Bintan Trekking di Lokasi

Satu jam kemudian, kami tiba di Desa Bintan Bekapur. Suara khas musik melayu menyambut kedatangan kami.Tarian sekapur sirih oleh anak-anak Pulau Bintan sedang dimainkan.

Kami diterima dengan baik oleh panitia. Dan walaupun gagal jadi peserta kami tetap mendapat fasilitas makan, bandana, dan pin bintan trekking. Horeee.

Malamnya seluruh peserta diwajibkan menginap di lapangan yang telah disediakan oleh panitia. Tenda-tenda berdiri berjejer rapi. Termasuk tenda-tenda rombongan kami dari Batam.

Malam acara diisi oleh dendangan dan tarian melayu yang gemulai memikat hati.

Keesokan harinya tepat jam 8 pagi acara Bintan trekking dilepas oleh Bupati Bintan. Saya dan keluarga hanya sibuk menonton saja :D membidikkan kamera kepada para peserta yang kami kenali.

Setelah seluruh peserta habis, kami meluncur menuju air terjun kecil yang ada di kaki gunung bintan. Tiba di sana saya dibuat terkejut, seujung-ujung kampung di sana ditanami buah-buahan semua. Duku, rambutan, dan durian. Saat itu bertepatan dengan musim duku sehingga sepanjang jalan pohon-pohon duku berbuah lebat sekali.
Metik langsung dari Mobil :D

Tangan-tangan jahil kemudian tak sadar menjulur keluar dari mobil daaaan....puluhan bahkan ratusan biji duku berpindah tempat  berada di kursi mobil. Hihi...pencuriiiii...teriak saya. Maling teriak maling. Eit asli saya tidak ngambil dan makan sebiji pun. Takut dosa. Walaupun melimpah ruah, belum tentu yang punya pohon ikhlas merelakan dukunya masuk ke dalam perut saya.

Setelah puas keliling dan main-main di air terjun, kami kemudian meluncur ke lokasi finish trekking di Bintan Buyu. Sebuah lintasan finish telah disiapkan panitia. Tak urung membuat kami jeprat-jepret numpang foto sebelum para peserta tiba.

Tak berapa lama berselang, para peserta Bintan Trekking mulai berdatangan. Mereka menjinjing sebuah bingkisan yang terbuat dari daun kelapa yang dijalin begitu cantik. Isinya ternyata duku.

Di lapangan tepat di sebelah garis finish digelar bazaar yang menjual aneka makanan khas bintan dan jajanan umum lainnya. Kami pun mencoba beberapa makanan yang unik khas bintan. Salah satunya buah Tampoi. Buah ini mirip duku namun lebih besar. Sedangkan tampilan isi dan bijinya lebih mirip manggis.
Bang Ical di Garis Finish

Acara puncak dari panitia adalah hiburan dengan menampilkan Band Nidji dari Bandung. Sontak saja para peserta yang kebanyakan anak-anak muda merangsek masuk ke dekat panggung. Kalau saya sih udah nggak masanya lagi. Jadi tetap saja melipir di pinggir lapangan :D

Buah Tampoi yang Langka
Acara penampilan Band selesai, dan pengumuman pemenang Trekking mulai dibacakan. Pembawa acara sepertinya terburu-buru membacakannya karena untuk juara satu dua tiga saja dia membacakannya mirip pembacaan UUD 45, tak ada jeda. Jadi para pemenang yang dipanggil malah banyak yang nggak ngeh kalau mereka menang.

Dari rombongan Cumfire ternyata ada juga yang menang. Lumayan mendapatkan uang tunai sebesar satu setengah juta belum dipotong pajak.

Karena sudah menjadi tradisi dan kebiasaan, teman-teman yang ikut acara ini tidak  terlalu berharap menang. Hanya ingin berpartisipasi saja. Jadi tidak terlalu kecewa saat mereka tidak juara.

Sorenya kami menaiki bis menuju Tanjung Pinang. Setelah itu menyebrang dengan menaiki kapal Fery menuju pelabuhan Telaga Punggur, dan kembali ke Batam menjelang malam.

Sampai jumpa di Bintan Trekking tahun depan.
Foto Bareng Bupati Bintan




Selasa, 28 Oktober 2014

Belajar Pada Kebijakan Alam

Nak...
Saat dirimu berdiri di tepi sana 
Seakan-akan segala keindahan spektrum warna 
Berpadu menjadi bintang yang paling bercahaya

Tetap...tetaplah berdiri di sana Nak! 
Amati dan pelajari semua gambaran yang terekam oleh jala retinamu.

Nak...
Belajarlah selalu pada kebijakan alam
Pada kabut yang selalu menyejukkan 
Pada sinar mentari yang selalu menghangatkan
Pada riak danau yang selalu menenangkan, dan
Pada udara yang selalu melegakan

Nak...
Renungkanlah pelajaran ini!





Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke-51 yang diselenggarakan oleh Dee An di sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...