Minggu, 28 Desember 2014

Island Hopping ke Pulau Panjang



Jembatan Satu Barelang 

Sewaktu ribut demo buruh tentang kenaikan UMK kemarin-kemarin, kebetulan (eh kok kebetulan sih, kesannya mengharap banget gitu :D) iya kebetulan, tempat kerja saya di sweeping para pendemo. Karyawan disuruh pulang semua. Nah daripada pulang ke rumah bengong cuma nonton TV mendingan jalan-jalan ke pulau sendirian.

Untung saja dari rumah udah disiapin pakaian buat pergi. Hehe. Kabar sweeping kan udah merebak sejak seminggu sebelumnya, tapi tetep saja si bos keukeuh nyuruh semua orang masuk kerja sementara perusahaan lain di Kawasan Bintang Industri Batam tutup semua. Jadi ini malah memancing pendemo marah. Kenapa juga masih pada kerja. Naaah, karena sudah tahu akan di sweeping  saya udah siapin baju ganti untuk langsung cabut ke pulau.

Jembatan Dua Barelang
Saat sweeping terjadi saya mah nyantai ganti baju. Orang-orang kocar-kacir berlarian keluar kita sih selow aja. Begitu ganti baju teman-teman  terkejut melihat penampilan saya yang mendadak anggun. Dengan rok menjuntai dan kerudung lebar. Si bos Jepang pun mendelik bengong, kaget sambil berkata "Lina San kah? I can not recognize you."  Hehe Bos, tidak apa-apa bukan dikau saja yang kaget.

Sebenarnya sebel juga sweeping hari itu terlalu pagi, coba agak siangan dikit gitu biar gak di-replace. Nah ini sweeping-nya jam 9 pagi, jadilah manajemen memutuskan hari itu akan di-replace ke hari sabtu di minggu berikutnya. Hadeuuh....ngabis-ngabisin resourch ini mah. Pemborosan banget. Coba bayangkan hanya demi satu jam kerja itu saja berapa liter air dihabiskan untuk mandi. Berapa liter bensin yang dikeluarkan karyawan untuk berangkat kerja,  dan yang pasti rugi sehari karena harus di-replace. Minggu sebelumnya juga demo tapi gak ada replace. Ah sudahlah gondok emang gak ada habisnya. Marilah saatnya bersenang-senang sendirian.

Pulau Bali Barelang yang Terlewati
Dari tempat kerja saya dihantar mobil jemputan hingga Simpang Tembesi. Jam 10 lewat 38 menit saya mencegat Damri yang cuma satu-satunya melalui rute Barelang. Tidak sampai sepuluh menit kemudian minta diturunkan di Jembatan Dua Barelang. Padahal saya nunggu Damrinya saja hampir satu jam. Dari ujung jembatan lalu turun ke sebelah kanan jalan menuju pelabuhan tadisional. Di sana beberapa perahu nelayan yang biasa kami sebut pompong atau pancung berjejer rapi menunggu penumpang.

Pulau Panjang
Setelah adu tawar dengan seorang tekong, saya segera menaiki pompong. Begitu mesin dinyalakan, dan pompong mulai beranjak menjauh dari dermaga, rasa rindu pada laut mulai memekat pada kata cinta. Bau amis laut yang menguar di udara, gundukan-gundukan pulau yang muncul di tengah-tengah lautan, warna biru laut dan langit yang berpadu di batas cakrawala, serta buih ombak yang terhempas oleh laju pompong, mulai menambah kadar rindu itu menjadi getar-getar halus yang mampu mengantarkan hati berbicara "Betapa kini aku jatuh cinta pada laut."

Laju pompong yang tenang memutar kembali memori bertahun-tahun dahulu. Saat berempat bersama Erni, Melan, dan Ipung. Ketiga teman jalan yang kerap menyertai perjalanan Island Hopping ini. Kini, saya sendiri (abaikan tekong yang berada di buritan :D) menelusuri perairan yang biasa kami lalui. Melow sendiri. Sedih sendiri. Hikss… I miss you Ladies.

Kambing pun Ikut Sekolah
Tak sampai 15 menit pompong sudah menepi. Deru angin menyambut kedatangan saya. Rumah-rumah di tepi pulau dengan nyiur melambai di belakangnya tampak mewarnai pemandangan pertama Pulau Panjang, pulau yang saya tuju. Sebuah pelantar kayu dengan lebar lima papan menghubungkan dermaga dengan pulau. Saat membalikkan badan, pemandangan Jembatan Satu Barelang terlihat anggun di balik Pulau Tonton di sebrang sana.

Saya ingat 15 tahun lalu teman-teman dari komunitas Pecinta Alam Cumfire, Muka Kuning Batam pernah kemping dan bakti sosial di pulau ini. Namun saya tidak ikut karena belum punya cuti. Padahal acaranya seru banget. Jadi, kunjungan ke pulau ini seperti aksi balas demdam atau aksi bayar hutang yang terkatung-katung selama 15 tahun terakhir :D

Pak Daud, Sang tekong  pompong bersedia menunggui saya kembali. Namun karena ia pun tak punya kegiatan lain selain menunggu maka ia segera menyusul dan menemani saya menyusuri jalan di Pulau Panjang. Jangan tanya seperti apa jalannya, hanya kecil layaknya gang-gang sempit di perkotaan. Dan tidak ada satu pun kendaraan yang lewat karena memang tidak ada.

Jalanan pulau yang disemen selebar dua meter yang saya lalui tampak masih baru. Ini terlihat dari papan proyek yang masih berdiri tegak di muka jalan. Beberapa ekor kambing berkeliaran di jalanan. Tampak hidup liar seperti halnya kucing atau anjing di Pulau Batam. Padahal semua kambing-kambing itu ada tuannya namun karena pulaunya kecil dan tidak memungkinkan kawanan kambing melarikan diri, jadi mereka pun dilepas dan berkeliaran begitu saja. Lucunya lagi kambing pun bebas berkeliaran di  halaman sekolah. Mereka memenuhi teras sekolah SMP Negeri 14 Batam yang sudah lengang ditinggalkan siswanya.

Rengkam yang sedang dijemur
Di beberapa halaman rumah penduduk tergelar tumpukan rengkam, sejenis rumput laut yang berdaun panjang dan berwarna  hijau yang sedang dikeringkan. Kata Pak Daud rengkam ini akan dijadikan pupuk dan dijual per kilogramnya seharga 1.300 rupiah. Dijualnya ke luar negeri dan ada penampungnya sendiri.

Pulau Panjang terbagi menjadi dua bagian yaitu Pulau Panjang bagian barat dan timur. Saat laut pasang keduanya terpisah oleh air laut. Sedangkan saat laut surut kedua bagian pulau ini menyatu dan dapat dilalui dengan berjalan kaki melalui pasir dan lumpur. Namun saat itu laut sedang pasang dan kami pun berjalan menyusuri pelantar yang menghubungkan kedua bagian pulau.

Para ibu yang sedang duduk-duduk di teras rumah menyambut saya dengan senyuman. Dengan ramah mereka bertanya apa maksud kedatangan saya ke sana. Saya jawab hanya jalan-jalan biasa saja. Hanya rasa penasaran ingin tahu seperti apa Pulau Panjang yang 15 tahun lalu pernah dikunjungi oleh teman-teman saya.

Rumah dengan Panel Surya
Rumah-rumah di Pulau Panjang kini sudah memiliki panel surya sendiri. Listrik kini bukan lagi masalah bagi penduduk. Kabarnya pemerintah yang punya peranan dalam hal ini. Kini hanya tinggal satu permasalah besar lagi yang dikeluhkan penduduk pulau. Air bersih. Kemarau lalu saya sempat membaca di Batam Pos kalau warga Pulau  Panjang sempat kekurangan air.

Obrolan dengan Pak Daud menerangkan bahwa telah ada survey-survey yang akan membuat proyek pengaliran air bersih dari Batam ke Pulau Panjang. Semoga saja akan segera terlaksana. Mungkin konsepnya seperti ke Pulau Buluh dimana air dari Pulau Batam dialirkan melalui pipa-pipa bawah laut dan ditampung di sebuah reservoir lalu dialirkan ke rumah-rumah penduduk.

Di sudut-sudut pulau tampak anak-anak sedang asyik bermain. Dunia mereka tetap indah dan seru. Dua orang anak laki-laki tertawa malu-malu saat saya  membidikkan kamera ke arah mereka yang bermain sepeda sambil berbasah-basahan air laut.

Di dekat pelantar yang menghubungkan Pulau Panjang bagian barat dan timur saya berjumpa dan mengobrol banyak dengan Pak Ahmad. Pemilik dapur arang. Ada satu tungku arang yang kini sedang ditungguinya. Kalau arang tidak ditungguinya maka bisa hancur karena terlalu matang dan  ia akan gagal panen. Dalam 20 hari ia bisa menghasilkan berton-ton arang hanya dari satu dapur arang ini saja. Keuntungannya juga lumayan. 1 ton ia bisa jual seharga 3 juta rupiah untuk kualitas arang yang paling bagus.
Pemandangan ke luar pulau

Tak terasa adzan zuhur sudah berkumandang. 1 jam lebih saya berkeliling Pulau Panjang. Waktunya pulang sebelum hujan kembali mengguyur wilayah Batam dan sekitarnya.

Angin pun masih berhembus walau tak sekencang saat saya tiba tadi. Udara bersih dan langit semakin membiru. Jembatan dua barelang sudah tampak di depan mata.Laut tampak tenang walau sedikit bergelombang. Anak-anak kecil berlarian di dermaga, mereka melompat dan menceburkan diri ke air laut. Lagi-lagi dunia bermain sungguh indah bagi mereka.

Setelah sholat dzuhur di mesjid dekat jembatan dua, saya menunggu tumpangan apa saja yang lewat sambil membaca buku. Kurang lebih setengah jam kemudian sebuah taksi berhenti dan menawari. Karena asyik membaca buku, tanpa bertanya ini itu saya langsung masuk. Baru sadar setelah beberapa menit taksi berjalan. Ya ampuuun… saya lupa menanyakan berapa ongkosnya. Duh alamat kena tembak nih. Dan betul saja saat turun di Simpang Tembesi saya diminta ongkos 15 ribu rupiah.  Padahal naik damri saja hanya membayar 5 ribu rupiah.Oya taksi di Batam memang seperti angkutan umum lainnya bisa nego harga saat kita akan menaikinya.

Waktunya Pulang

Berikut rincian biaya ke Pulau Panjang:

Simpang Tembesi - Jembatan dua Barelang, naik damri : Rp. 5.000
Jembatan Dua - Pulau Panjang, naik pompong PP : Rp. 60.000
Jembatan Dua - Simpang Tembesi, naik taksi : Rp 15.000
Simpang Tembesi - Pasar Sagulung, naik Angkutan umum minibus (Bimbar)  : Rp. 4000
Pasar Sagulung - Rumah,  naik ojek: Rp. 6.000
Total biaya keseluruhan Rp. 90.000

Kamis, 11 Desember 2014

Hari Gunung Internasional 2014

Tanggal 11 Desember 2014 yang bertepatan dengan hari ini adalah hari yang diperingati sebagai International Mountain Day atau Hari Gunung Internasional. Tiap tahun tema International Mountain Day (IMD) selalu berbeda-beda. Untuk tahun ini IMD bertema "Farming" atau dalam google terjemahan berarti "Pertanian".

Menurut badan PBB yang menangani masalah pangan dan pertanian, FAO (Food and Agricultural Organization) IMD adalah kesempatan untuk menciptakan kesadaran tentang pentingnya pegunungan bagi kehidupan, untuk menyoroti peluang dan kendala dalam pengembangan pegunungan dan untuk membangun kemitraan yang akan membawa perubahan positif pada pegunungan-pegunungan dan dataran-dataran tinggi di dunia.

Luas pegunungan mencakup seperempat permukaan dunia dan merupakan rumah bagi 12% populasi manusia. Gunung adalah menara air dunia dimana ia menyediakan air tawar untuk setidaknya setengah dari penduduk dunia.
Gunung dan Pertanian (foto dok. pribadi)

Namun, walaupun demikian gunung juga merupakan wilayah yang beresiko tinggi. Berbagai bencana alam kerap terjadi di sini. Longsoran, letusan gunung berapi, banjir, gempa bumi, dan kebakaran hutan. Semua itu tentu saja akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitar pegunungan.

Setelah sebelumnya pada tahun 2013 IMD bertema Key to a Suistainable Future atau Kunci untuk Masa Depan yang Berkelanjutan, maka tahun 2014 ini FAO menyoroti masalah Mountain Farming. Bagaimana pertanian di daerah-daerah pegunungan mengalami tranformasi yang cepat karena pertumbuhan penduduk, globalisasi ekonomi, dan urbanisasi kaum laki-laki ke daerah perkotaan.

Namun globalisasi memberikan kesempatan bagi para produsen produk-produk pertanian untuk memasarkan barang-barang pertanian gunung yang berkualitas tinggi. Seperti kopi, kakau, madu, tumbuhan herbal, palawija, dan kerajinan-kerajinan tangan.
Pertanian di Lereng Gunung Semeru (foto Dok.Pribadi)

Selain itu sambil mengelola pertaniannya, masyarakat di pegunungan juga bisa mendapatkan penghasilan lebih dengan adanya kegiatan pariwisata yang kini semakin digalakkan. Menjadi pemandu wisata, pembawa barang (porter), menyediakan jasa transportasi, atau menjual makanan dan buah tangan bagi para pendatang, turis, dan pendaki gunung.

Sama halnya dengan di negara-negara lainnya di dunia, masyarakat pegunungan cenderung termarjinalkan baik dalam masalah politik, ekonomi, kesehatan, maupun sosial kemasyarakatan. Untuk itulah penting bagi kita menjadikan hari ini sebagai titik awal kepedulian kita kepada masyarakat  pegunungan.
Pertanian di Desa sekitar Gunung Guntur (Foto Dok. Pribadi)

Salah satu contoh kongkrit kecil yang bisa kita lakukan sebagai pendaki gunung adalah dengan membeli sayur atau buah-buahan yang ditanam oleh penduduk gunung yang kita singgahi. Atau membeli kerajinan tangan yang dibuat oleh mereka. Hal lainnya yang amat berpengaruh adalah ikut bersama-sama organisasi-organisasi non profit atau NGO dalam mengembangkan dan memajukan desa-desa di sekitar pegunungan. Bergabung dengan oraganisasi yang menyoroti masalah kesehatan lingkungan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat gunung bagaimana hidup sehat. Organisasi-organisasi pencinta lingkungan yang menggalakkan pemeliharaan hutan agar menjadi sumber daya yang berkelanjutan dan tidak rusak oleh ilegal logging, atau organisasi yang peduli terhadap nasib anak-anak gunung yang putus sekolah dengan mengajari mereka supaya melek baca dan tulis.

Anak Suku Tengger Berjualan Boneka Bunga (foto: dok.Pri)
Banyak ha-hal kecil yang kita anggap remeh-temeh yang sebenarnya berpengaruh besar bagi orang lain atau bahkan bagi kehidupan masyarakat banyak. Contohnya saja anda memberitahu dan menanamkan pemahaman kepada seorang anak-anak di daerah gunung bahwa menjaga kelestarian hutan adalah hal yang penting bagi keberlangsungan kehidupan di wilayahnya. Kelestarian hutan berkontribusi bagi menjaga perubahan iklim di muka bumi. Dan seterusnya dan seterusnya. Maka si anak akan memberitahu teman-temannya atau saudaranya atau setidaknya dia sendiri yang akan tersadar dan melakukan hal-hal kecil seperti mulai menanam pohon. Ingat dengan sebatang pohon saja ia menghasilkan 1/2 kg oksigen per hari dan menyerap karbondioksida 14 kg per tahun. Bagaimana jika dua pohon? tiga pohon? sepuluh pohon? dan seratus pohon?

Selamat Hari Gunung Internasional Para Pendaki! Salam 20 jari :D 10 jari untuk menyertai pendakian dan 10 jari lagi untuk mengangkat beban. Beban di punggung dan juga beban di pundak. Namun alangkah lebih bijak lagi jika 20 jari tadi diigunakan untuk bertindak. Demi masyarakat banyak, demi gunung-gunung yang kita daki, dan demi bumi yang kita cintai.



Referensi:

1. http://www.fao.org/forestry/internationalmountainday/en/
2. http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2013/09/badan-badan-khusus-pbb.html
3. http://www.mountainpartnership.org/our-work/focusareas/mountain-products/en/
4. http://informasiterlengkap.blogspot.com/2011/12/manfaat-satu-pohon-untuk-kehidupan-dan.html

Senin, 08 Desember 2014

Menyepi di Taman Buru Masigit Kareumbi



Rumah Pohon di Taman Buru Masigit Kareumbi
Bis Primajasa jurusan bandara Sukarno Hatta – Bandung perlahan memasuki kawasan Batu Nunggal. Kawasan yang semenjak Mei 2012 silam, menjadi lokasi untuk menurunkan dan menaikkan penumpang dari dan ke Bandara Sukarno Hatta. Meskipun Bandung sudah mempunyai bandara sendiri, tetap saja jumlah calon penumpang pesawat dari Bandung menuju Jakarta sangat tinggi. Begitu pun arah sebaliknya, yang menuju Bandung dari bandara Sukarno Hatta tak kalah banyak. Ini bisa dilihat dari interval keberangkatan bis Primajasa setiap setengah jam sekali yang selalu penuh dengan penumpang.

Sms dari Bapak yang sudah menunggu di depan Kompleks Batu Nunggal berkali-kali datang. Beliau menanyakan posisi saya dimana. Katanya tidak bisa masuk ke dalam karena jalannya cukup jauh. Ia akan menunggu mobil yang akan saya carter yang sebentar lagi datang.

Rabu, 03 Desember 2014

Kampung Naga, Keseimbangan Alam yang Terjaga

Kampung Naga
Pagi-pagi buta, tepat jam 4 dini hari saya dan keluarga telah berkendaraan menuju Bandara Husen Sastra Negara, Bandung. A Ahmad, sepupu saya yang mengemudikan kendaraan, memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Ngebutnya minta ampun. Ngeri-ngeri sedap deh. Bikin sport jantung.  Untung saja kanan kiri jalan belum terlihat apa-apa. Hanya gelap-gulita. Sesekali bayangan pohon-pohon tinggi berkelebatan seperti lesatan ninja. Syukurnya lagi jalan yang dilalui begitu mulus sehingga tidak begitu banyak guncangan yang terasa. Namun rasa-rasanya jalan yang kami lalui bukan jalan biasa yang ditempuh kebanyakan orang kalau hendak bepergian ke Bandung. Saya sempat terheran-heran karena tidak hafal dengan jalan tersebut.

Satu jam kemudian, saat fajar di ufuk mulai terlihat, dan kehidupan mulai berdetak, perlahan saya mulai mengenali lokasi yang kami lintasi. Ternyata kami menempuh jalur alternatif Garut - Bandung melalui pegunungan di sekitar Kawah Kamojang. Jalan yang tembus hingga Kecamatan Majalaya lanjut ke Kecamatan Ibun,  lalu Kecamatan Bale Endah, Bandung. Dari Bale Endah saya tidak menghafal lagi jalan. Hati sudah tenang karena tiba di Bandung masih pagi-pagi sekali. Berarti waktu untuk check in belum dibuka.

Setelah berpisah di Bandara dengan suami dan anak tercinta, saya berniat  mengunjungi Kampung Naga di Tasikmalaya. Kebetulan suami juga sudah mengizinkan. Sedangkan A Ahmad sudah cabut kembali ke Garut sejak kami tiba di bandara tadi. Jadi, saya ke Bandung ini hanya mengantar Bang Ical dan Chila saja ke bandara, karena kalau saya sendiri masih punya cuti beberapa hari lagi dan pesawat yang akan saya naiki pun bukan dari Bandung tapi dari Jakarta. Begini enaknya gak enaknya dapat tiket pesawat gratis. Enak bisa jalan-jalan dan pulang kampung gratis, nggak enaknya cuma dapat gratis sendirian gak sekeluarga :D *Kemaruk.
Dua warga Kampung Naga

Sudah hampir setengah jam saya berdiri di tepi jalan di dekat Terminal Cicaheum Bandung demi menunggu bis jurusan Tasikmalaya, tapi tak satu pun yang lewat. Kebanyakan bis jurusan Bungbulang dan Pameungpeuk Garut. Padahal hari sudah terik dan perut mulai keroncongan minta diisi. Sambil menunggu bis, mata saya melirik kanan-kiri mana tau ada rumah makan atau warteg di sekitar situ. Namun sayang yang ada hanyalah penjual buah-buahan. Duuuh...mana panas minta ampun. Kemarau bulan Oktober yang seharusnya sudah memasuki musim penghujan masih saja garang.


    "Kamana Bu?" seorang kondektur turun dari sebuah bis.
    "Ka Tasik." Jawab saya.
    "Ka Garut yuk!"
    "Alim ah, ka Tasik wae,"
    "Ka Garut wae atuh,"
    "Laah saya kan dari Garut, masa balik lagi ke Garut," idiiih maksa banget sih. Saya cemberut. Belum tau dia kalau saya ini juteknya minta ampun kalau lagi bete gitu.

15 menit kemudian muncullah bis jurusan Tasikmalaya.

"Tasik ya? Lewat ke Kampung Naga nggak?" agak ragu saya bertanya. Ragu karena jalur ke Tasik dari Bandung ada dua, nah saya tidak tahu jalur yang dipakai  menuju Kampung Naga yang sebelah mana. Lagian lupa googling sebelum berangkat tadi.

Si kondektur bis langsung mengiyakan dan memaksa saya naik. Saat di dalam bis saya mendekati sopir lalu bertanya apa betul bis tersebut melewati Kampung Naga. Ia menjawab tidak dan menyarankan saya naik bis yang jurusan Singaparna. Laaah? Tadi si kondekturnya bilang.... Arghrrrr....tega banget ya dia bohongin orang demi uang yang nggak seberapa.

Saya minta diturunkan di situ juga. Si kondektur ngotot menahan saya.Urusan turun mah gampang katanya. Dia nanya lagi saya mau kemana. Padahal udah jelas mau ke Kampung Naga. Eh dia malah menyarankan saya ikut ke Tasik dulu lalu dari Tasik balik lagi ke kampung Naga. Ih...enak di elo gak enak di gua dong. Rugi waktu. Setelah bersitegang akhirnya si kondektur memberi jalan yang sedari tadi ia halangi. Saya pun melompat keluar bis. Syukurlah belum jauh-jauh amat. 

Plang Penunjuk Kampung Naga
Bis Diana menuju Singaparna  datang. Setelah memastikan bis tersebut melewati Kampung Naga, saya duduk di salah satu bangkunya dan mencoba untuk tidur. Namun tetap tidak bisa. Kondektur bis mendekat dan menagih ongkos sebesar 35 ribu rupiah. Kepadanya saya berpesan untuk diturunkan di Kampung Naga. 

Bis melaju dan memasuki daerah Garut, bukan menuju Tasikmalaya. Laaah..kok bisa? Walau sedikit bingung saya tetap berprasangka baik. Tetap tenang dan memilih untuk membaca buku. Bis pun melaju memasuki kawasan Terminal Guntur Garut. Berhenti sekitar satu jam setengah menunggu tambahan penumpang. Ya ampuuun, bisa kering di dalam bis saya. Namun tetap mencoba bersabar walau lapar. SMS dari Bapak berdatangan menanyakan dimana posisi sekarang. Duh bingung jawabnya. Masa harus jawab di Terminal Guntur Garut. Ngapain? Ngetem? Mending pulang aja ke rumah sekalian. Ah saya balas saja sedang di jalan menuju Tasikmalaya.


Saat menunggu bis penuh,  tukang batagor di pinggir jalan menawarkan jualannya. Saya langsung pesan satu porsi. Lumayan buat ganjal perut. Hilir-mudik pedagang asongan dan peminta-minta menghiasi pemandangan dalam bis. Gambaran khas kehidupan ekonomi masyarakat garis bawah sekilas terekam di sini. Bagaimana seorang bapak bertahan berjualan air mineral dan tissue demi keluarganya. Bagaimana seorang pengamen dengan suara pas-pasan meraup koin dan recehan demi mendapat penghasilan. Bagaimana si pincang dan si buta menengadah meminta sedekah. Rupa-rupa wajah yang terus tercerna dalam benak dan ingatan.

Jam setengah empat sore bis mulai melaju. Memasuki  kecamatan Cilawu, masih di Kabupaten Garut. Jalan ini searah dengan jalur transportasi menuju pendakian ke Gunung Cikuray menggunakan jalur Dayeuh Manggung. Selepas Cilawu bis memasuki Kecamatan Salawu, Tasikmalaya. Pemandangan di sebelah kiri jalan semakin memanjakan mata. Aliran sungai Ciwulan begitu tenang menyusuri kelokan lembah-lembah di antara perbukitan yang dihiasi pesawahan.

Gerbang Masuk ke Kampung Naga

Kampung Naga

Sekitar jam setengah lima sore itu, saya diturunkan di sebuah gerbang tanpa tulisan apa pun.Kata kondektur bis, kami sudah sampai di perhentian menuju Kampung Naga. Tinggal jalan kaki ke bawah sekitar 15 menit maka sudah tiba di kampung adat tersebut. Sebuah tiang bertuliskan "Kampung Naga" terlihat di sebrang jalan. Plang yang sama yang saya lihat 15 tahun lalu saat bolak-balik interview dan medical check up di Tasikmalaya untuk keberangkatan perdana saya ke Batam.

Saya memasuki area lapangan parkir. Suasana sepi dan lengang begitu terasa. Hanya ada beberapa orang yang sedang berjalan menuju ke arah berlawanan dengan saya. Di tepi parkiran terdapat tugu Kujang, senjata khas suku sunda, setinggi kurang lebih 5 meter. Di dekat tugu tampak seorang bule sedang bersalaman dengan seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan iket, topi khas orang sunda. Sambil menyalami lelaki tadi, bule tersebut menyelipkan sejumlah uang ke telapak tangannya. Saat berpamitan, ia mengucapkan kata terima kasih dalam bahasa Indonesia yang nyaring dan jelas.

Saya mendekati laki-laki paruh baya tadi. Menanyakan apakah ia warga kampung Naga atau bukan, karena saya akan memintanya untuk menemani berkeliling. Ia pun memperkenalkan diri sebagai pemandu tamu. Namanya Mang Ajen. Ia dan beberapa warga Kampung Naga memang telah ditunjuk dan disiapkan untuk menjadi pemandu. Jadi tak heran jika ia langsung cair kepada setiap tamunya.
Mesjid di kampung Naga

Setelah perkenalan singkat kami, Mang Ajen mengajak saya menyusuri jalan kecil yang sudah conblok. Menyebrangi selokan kecil yang berair jernih namun deras, lalu menuruni sengked, tangga batu kali yang meliuk-liuk unik mengikuti kontur jalan. Dari jalanan yang bertangga ini Kampung Naga sudah mulai tampak. Hati saya langsung jatuh cinta. Melihat atap-atap rumah dari ijuk yang berbaris rapi. Pemandangan yang padu dengan undakan pesawahan dan liukan sungai Ciwulan. Memandangnya di kejauhan saja membuat saya sangat antusias.

Kampung Naga terletak di sebuah lembah. Berada tepat di daerah aliran Sungai Ciwulan yang hulunya berada di Gunung Cikuray. Wilayah Kampung Naga dibatasi oleh hutan larangan, sungai, sawah dan selokan kecil. Jadi tidak boleh mendirikan lagi bangunan di luar garis wilayah yang sudah ditentukan. Pamali katanya.

Jalan antara rumah penduduk
Kampung Naga terdapat 113 bangunan berupa rumah, mesjid, balai adat, lumbung, lisung (tempat menumbuk padi). Penduduknya terdiri dari 108 kepala keluarga dan atau 314 jiwa. Kampung Naga dipimpin oleh seorang ketua adat yang disebut Puhun. Dalam menjalankan aktifitas kemasyarakatannya Puhun dibantu oleh dua orang. Satu orang yang bertanggung jawab mengurusi masalah administrasi pemerintahan, seperti dalam hal pembuatan KTP atau lainnya sedangkan satu lagi, Lebe, berfungsi sebagai tokoh agama, peminpin upacara-upacara keagamaan dan doa-doa yang digelar oleh penduduk.

Sesekali saya berhenti untuk mengambil foto. Pemandangan barisan rumah-rumah beratap ijuk diantara hamparan pesawahan membuat hati terasa damai dan nyaman. Ingatan saya kembali menerawang ke masa kecil dulu, saat masyarakat di kampung saya di Garut masih memiliki rumah panggung seperti ini. Rumah  khas sunda, peninggalan adat istiadat yang kini telah tergantikan dengan rumah-rumah gedong berdinding semen dan batu bata.

Perlahan namun pasti rumah-rumah panggung telah berganti. Tembang dan kesenian degung malah telah lebih awal menghilang dari budaya kami. Yang tersisa dari adat peninggalan karuhun hanyalah bahasa sunda itu sendiri. Bahasa yang juga mulai terancam kelestariannya karena semakin sedikit digunakan. Sedih.

Saya dan Mang Ajen berbicara akrab dalam bahasa sunda. Rasanya seperti sudah kenal lama saja dengannya. Begitu pun saat saya diajak berkeliling menyusuri sudut-sudut Kampung Naga saya bertemu dan berkali-kali berbincang dengan warga.

Di sebuah rumah, yang beralas palupuh saya disambut dengan sajian rengginang dan teh pahit hangat. Si ibu pemilik rumah yang ternyata kakak kandung Mang Ajen menyambut saya dengan segala ramah-tamahnya.

Dilihat dari kebersihan kampungnya, saya menilai bahwa penduduk Kampung Naga sudah sadar betul akan potensi yang dimiliki oleh kampung mereka. Terlihat dari halaman setiap rumah yang bersih dan terawat. Tidak tampak sampah sedikit pun.

Berbagai Kerajinan Penduduk
Di golodog (teras rumah dari bambu) beberapa rumah terdapat berbagai macam kerajinan tangan untuk dijual. Seperti cobek, ulekan, hiasan gantungan, lonceng, yang terbuat dari kayu. Ada juga peralatan dapur seperti bakul, hihid (kipas), dan lainnya.

Tak lupa saya juga menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh khas Kampung Naga yaitu Gula merah yang dibungkus daun aren. Harganya 20 ribu rupiah per bungkus. Selain itu saya juga membeli mainan untuk Chila berupa perlengkapan dapur mini yang terbuat dari anyaman bambu. Seperti bakul-bakulan dan kipas-kipasan. Sayang mainannya ketingal di Garut, tidak terbawa ke Batam.

Anak-anak bermain badminton
Senja mulai tiba. Anak-anak Kampung Naga asyik bermain badminton di halaman mesjid. Sebagian anak lagi duduk-duduk di tepi sungai Ciwulan. Bermain rumput dan wayang-wayangan. Masa kecil yang murni, indah, dan bermakna. Tidak terganggu oleh arus zaman dan modernisasi. Tidak ada gadget atau televisi yang akan memalingkan wajah mereka dari alam. Terlebih di sini tidak ada listrik. Bukannya pemerintah tidak peduli, namun sebagian besar masyarakatnya menolak untuk dialiri listrik. Mang Ajen bilang takut kebakaran karena seluruh bangunan terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar.

 Setelah mengisi daftartamu saya kemudian berpamitan kepada Mang Ajen. Semoga suatu waktu nanti saya dapat berkunjung kembali ke sini. Karena sepertinya saya begitu berat meninggalkan kampung Naga. Ada separuh raga yang terasa tertinggal di sana. Lebay :D













Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...