Wednesday, December 30, 2015

Menangkap Momen di Cahaya Minim dengan Kamera Ponsel Huawei G8

Menjelang akhir tahun, pasti banyak acara party dan BBQ dinner bareng temen-temen kantor, temen-temen deket, atau keluarga. Nah, biasanyakan banyak momen seru tuh di party, paling sebel kan kalo momen-momen itu gak bisa kamu abadikan gara-gara kamera ponsel kamu lelet, atau lebih sedih lagi, momennya dapet tapi hasilnya gelap gara-gara pencahayaan ruangan temaram. Hiks, momen keren kan nggak bisa diulang!

“Makanya pake flash, dong!”

Buat saya sih, motret pakai flash itu bikin hasil foto jadi ‘palsu’. Flash kamera bikin objek foto jadi keliatan unreal. Jadi, gimana dong? Ini tips jitu dari saya!

  • Daripada pakai flash internal kamera, mending kasih cahaya tambahan seperti dari senter atau cahaya flash dari ponsel teman kamu. Light stick juga bisa bikin efek yang keren buat foto. Hasil foto mungkin tidak terlalu terang, tapi pasti keliatan cool!

  • Ganti ponsel kamu sama Huawei G8. Yes, akhiri tahun dengan ponsel baru dong! Kamera ponsel Huawei G8 ini punya outstanding low light performance. Kualitas close-up shot-nya lebih baik walaupun berada dalam cahaya yang minim thanks to RGBw Sensor.



Cobain deh tips saya di atas, berani jamin hasil foto dari momen-momen pesta kamu bakal jadi dapet 1000 Likes di medsos! Lebay sih, tapi siapa tau? Kalau masih belum yakin, google Huawei G8 sekarang juga ya!

Tuesday, December 29, 2015

Kaleidoskop Perjalanan Blog Sepanjang Tahun 2015



Setahun yang lalu tepatnya pada tanggal 17 Desember 2014 saya memutuskan untuk lebih serius ngeblog dengan membeli domain dan mengganti nama blog saya yang sebelumnya www.sierrasavanna.blogspot.com menjadi www.linasasmita.com.

Kedua nama blog di atas bukan blog yang pertama karena sebelumnya pada tahun 2005 saya sudah mengenal multiply. Lalu pada tahun 2009 saya pernah juga membeli domain dan hosting sekaligus dengan nama www.linawiati.com. Karena harus memulai semuanya dari awal, saya bingung tidak mengetahui cara-cara membangun sebuah website. Meskipun sudah belajar dreamweaver dan beberapa software yang berhubungan dengan blog. Aslinya emang gaptek. Alhasil, setahun blog tersebut saya anggurin dan sama sekali tidak diisi. Boro-boro mau ngisi cara memasukan tulisannya pun belum bisa. Lalu pada saat perpanjangan usia website, saya melewatkannya karena merasa gagal dan tidak berhasil belajar otodidak. Sedih.


Pencapaian Ngeblog:

Nah di bulan Desember 2014 itulah niat kembali membangun blog semakin membara. Alhamdulillah meskipun niat awal ganti domain ini murni karena hobby dan keinginan mendokumentasikan perjalanan mendaki gunung, ternyata pada bulan januari 2015 seorang teman blogger yang baik hati menawari saya untuk ikut bergabung menjalin kerjasama dengan sebuah situs e-commerce. Karena saat itu saya kurang pede maka tawaran tersebut belum disambut baik mengingat Domain Authority (DA) masih di bawah 10 serta Alexa yang genduuut banget di angka sebelas jutaan. Setelah mengikuti sarannya, Alhamdulillah Alexa dari 11 juta mendadak ramping singset bak perawan desa hanya dalam waktu satu bulan menjadi 582.208. Wooow, Alhamdulillah banget.

Berangkat dari situ, Februari 2015  saya pun memberanikan diri untuk mengajukan kerja sama. Ternyata nggak menunggu lama, email dibalas dan langsung diterima. Alhamdulillah. Awalnya masih belum percaya sepenuhnya, tapi ternyata tidak ada penilaian apapun langsung sudah bisa nulis sesuai kehendak, passion, dan niche blog kita. Ini kerja sama yang asyik banget karena nggak nyampah dan suka-suka kita mau nulis apa.

Karena termotivasi dengan kerja sama itu saya pun menargetkan untuk bisa posting minimal 10 postingan tiap bulannya. Alhamdulillah sepanjang Februari hingga Desember 2015 ini sudah konsisten minimal menulis blog 10 postingan kecuali pada bulan April hanya bisa publish 7 postingan.  Itupun dikarenakan pada bulan tersebut saya nge-trip lebih dari 10 hari ke Lombok, Sumbawa dan Pulau Komodo.

Sepanjang tahun 2015 inilah semangat dan dorongan ngeblog semakin menemukan jalannya. Undangan-undangan sebagai blogger, job review dari beberapa brand ternama, pertemanan dengan blogger yang semakin akrab, hadiah-hadiah mengikuti giveaway blogger hingga berhasil membuat giveaway perdana yang disponsori oleh salah satu tour and travel ternama di kota Batam. 

Bila mengingat pencapaian di atas  sungguh dikarenakan saya dikelilingi oleh teman-teman blogger yang baik hati dan mendukung satu sama lain. Yang pada akhirnya kebaikan membuahkan kebaikan secara viral dan berantai kepada yang lainnya juga. Dan saya percaya kebaikan-kebaikan itu tetap tercatat di atas sana. Jadi jangan sungkan-sungkan membagi kebaikan kepada yang lain karena itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Catat!

Saya ngeblog karena passion, namun jika belakangan mendapatkan materi berupa barang dan uang, maka saya anggap itu adalah bonus yang semakin men-trigger semangat ngeblog saya ke titik tertinggi.

Pencapaian Lainnya:

Saya dasarnya emang suka kompetisi, jadi paling suka ikut quis-quis di facebook, twitter, dan Instagram. Nah di awal tahun 2015 dibuka dengan manis oleh kemenangan lomba dari Astralife.  Setelah itu menang quis indosat, menang quis voucher hotel Swissbel, menang quis anlene, menang lomba menulis catatan perjalanan #Amazincjourney dan lainnya. Emang masih mujurnya di quis dan lomba-lomba yang diadakan di luar blog.

Salah satu hadiah di Bulan Januari 2015
Di tahun ini semangat menulis untuk buku rada kendur dibanding tahun sebelumnya, jadi tahun ini cuma bisa menelorkan buku antologi satu saja, padahal pengennya ngeluarin buku solo entah itu dalam bentuk kumpulan cerpen, novel, atau buku panduan tentang traveling. Duh semoga tahun depan bisa konsisten nulis buku.
Buku Antologi Backpacker Wannabe

Tahun ini pula saya mulai memberanikan diri menulis untuk media. Termotivasi oleh Mbak Katerina travelerien, Mbak Zulfa Emakmbolang, Dian Adventurose dan Kang Ali Muakhir yang tulisan di medianya tayang tiap minggu tiap bulan. Duh kadang sering bertanya-tanya dalam hati lah gue kapan ya? 

Pengaruhnya adalah ketika berteman dengan para penulis media kita pun jadi termotivasi untuk ikut menulis di media. Dan di bulan November lalu saya memberanikan diri mengirim tulisan ke majalah Ummi. Kaget emailnya langsung dibalas dan esoknya lagi dibilang tulisan saya diterima. Duh bahagianya luar biasa. Ternyata saya bisa? Sedih campur bahagia. Bukan nilai materi dari honor yang diterima tapi bangga bahwa tulisan kita diapresiasi. Tulisan pertama itu berjudul Harmoni yang terjaga di Kampung Naga. Semoga tahun depan saya semakin rajin menulis untuk media kalau bisa tiap bulan tayang. 




Jalan-Jalan Pengisi Tulisan di Blog Selama Tahun 2015:

  1. April 2015 saya mendaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pendakian ini guna berpartisipasi memperingati 200 tahun meletusnya Gunung Tambora. Karena tidak ada direct flight dari Batam ke Sumbawa maka saya berangkat dari Johor menuju Lombok. Dari Lombok bersama teman-teman menaiki kendaraan roda empat. 22 jam kemudian kami baru tiba di Desa Pancasila yang terletak di kaki gunung Tambora. Turun dari Tambora saya melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Komodo. Saat itu saya menyesal belum bisa snorkeling juga diving. Suatu saat saya akan mengulang lagi untuk pergi ke Komodo.  Tulisan tentang Tambora, Sumbawa, dan Taman Nasional Komodo menjadi penyumbang terbanyak di tahun ini dan itu pun masih menyimpan stock jalan-jalan di Lombok untuk tulisan bulan berikutnya. 
  2. Puncak Gunung Tambora
  3. Agustus 2015 saya bersama keluarga mengunjungi Jogjakarta dan Dieng. Tujuan utama yakni mendaki gunung Prau dan gunung Sikunir. Perjalanan singkat namun padat merayap karena terganjal cuti saya yang sudah menipis. 
    Saya di Gunung Prau
    Jogja di Malam Hari
  4. November 2015 saya dan Chila piknik asyik ke Kuala Lumpur dan Krabi Thailand. Sekali-kali jadi turis asing di negeri orang.  Style-nya emang turis banget karena pakai travel bag, ber- high heel ria, dan kemana-kemana kayak #horangkayah naik taksi terus (itu pun karena dibayarin teman yang sama-sama nge-trip haha). Biasanya style traveling saya backpacker kere. Apa-apa mau murah meriah. Tidur di hostel, makan di kaki lima atau pujasera, transport kadang mencegat truk atau mobil pick up, dan kadang nggak mandi berhari-hari. Hehe. Laaah kalau di gunung gimana mau mandi coba? Air aja seringnya nggak nemu. 
    Aonang Beach, Krabi, Thailand
  5. Selain ketiga hal di atas saya tetap keliling ke beberapa pulau di sekitar Batam. Pengennya sih bisa mengunjungi semua pulau yang ada di Batam dan Kepri namun lihat situasi dan isi atm pastinya. Syukur-syukur ada yang bayarin kalau nggak ada juga gak apa-apa  udah biasa bayarin diri sendiri :D 
    Snorkeling di Pulau Dedap
Jadi harapan ke depan di 2016 saya ingin mengelola blog ini lebih profesional lagi. Pengen ikut lomba-lomba blog dan give away lebih banyak lagi, pengen naikin traffic,  pengen menggendutkan DA tapi juga merampingkan Alexa seperti rampingnya Alexa Kei :D

Tolong diaminkan ya. Amiiin!  Terima kasih yang sebanyak-banyaknya yaaa kamu sudah membaca blog saya! 

Salam Damai dari Batam.

Sunday, December 27, 2015

Harmoni yang Terjaga di Kampung Naga Terbit di Majalah Ummi

Hutan dan lembahnya masih lestari. Sebab, penduduk hanya mengambil keperluan dari alam secukupnya. Warisan budaya karuhun (leluhur) termasuk larangan dan pantangan, tetap teguh dipegang penduduknya..

Senja nampak indah dan bersahaja kala saya melangkah melewati gapura bercat putih dan beratap ijuk. Tak ada tulisan yang menjadi petunjuk di atas gapura itu. Memasuki pelataran, suasana begitu lengang. Saya menyapa seorang lelaki paruh baya yang berbaju batik dan mengenakan iket (penutup kepala dai kain yang dililit melingkari kepala)



Laki-laki kurus itu tampak baru saja melepas tamunya pulang. Saya langsung menerka dia adalah warga Kampung Naga yang bisa menjadi pemandu bagi tamu yang datang ke sana. Ya, tujuan saya adalah Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat.

"Tiasa ngajajap ka Kampung Naga, Mang? Saya bertanya menggunakan bahasa Sunda kepada lelaki itu, apakah ia bersedia mengantarkan saya ke Kampung Naga. Ia mengangguk sambil tersenyum lantas memperkenalkan dirinya.

Mang Ajen lalu mengajak saya menyusuri gang berplester semen diantara rumah-rumah panggung berdinding bilik bambu. Kemudian kami melintas kebun, selokan, dan kolam-kolam ikan yang di atasnya terdapat pemandian umum. Beberapa ibu tampak asyik mencuci piring dan peralatan masak lainnya.

Dari kolam ikan inilah pemandangan Kampung Naga mulai jelas terlihat. Atap-atap rumah berwarna hitam yang terbuat dari ijuk berjejer rapi menghadap ke satu arah mata angin. Saya menghela nafas panjang. Hati seolah sesak oleh rasa syukur karena dapat menyaksikan secara langsung sebuah kampung yang masih meyimpan adat karuhun Sunda di tengah gempuran arus globalisasi masa kini.

Selengkapnya bisa dibaca di majalah Ummi No.12 XXVII Desember 2015 atau 1437 H.








Alhamdulillah tulisan tersebut tayang di rubrik perjalanan majalah Ummi edisi Desember 2015. Sebenarnya sudah lama punya keinginan mengirim tulisan ke media namun selalu terkendala berbagai hal, diantaranya "kurang pede." 

Suatu hari saya membaca postingan Mbak Zulfa (www.emakmbolang.com) yang berjudul Daftar Majalah dan Koran Yang Menerima Tulisan Jalan-Jalan. Wuaa ini dia yang dicari-cari. Langsung tertarik ingin mencoba. Saya copy paste tulisan tersebut lalu saya print. Berharap semua media yang tercantum di print out tersebut bisa saya kirimi tulisan. 

Dan tulisan tentang Kampung Naga inilah yang terbit pertama kali di majalah. Sungguh ini semua karena modal keberanian mengirim. Ternyata setelah mengirim justru saya malah ketagihan. Alhamdulillah baru pertama mengirim sudah langsung tayang. Seandainya tidak, bisa-bisa saya down tidak mau mengirim tulisan lagi hehe.
  


Saturday, December 26, 2015

Ketika Cinta Bersemi di Gunung Ciremai


Pendakian Gunung Ciremai
Vegetasi Teratas Hutan Ciremai
    
   Sabtu di bulan Desember 2015 ini, ketika sedang online memegang smartphone dan menyimak berbagai perbincangan di beberapa grup WhatsApp, tiba-tiba ada pesan masuk dari seseorang yang selama ini bersama-sama mengarungi hidup bersama dalam bingkai rumah tangga.

Wednesday, December 23, 2015

Jalan-Jalan dan Belanja Konyol di Kota Krabi Thailand



Bagi shopaholic, berjalan-jalan ke luar negeri memang nggak seru jika tidak belanja membeli-belah. Seperti halnya Reny, teman baik saya semasa SMA yang kini jadi teman jalan-jalan ke Krabi , Thailand Selatan. Selain karena hobby belanja, mamih-mamih cantik yang satu ini memang dikenal sebagai penyayang dan perhatian kepada keluarga. Jadi kalau pergi kemana saja dia akan menyempatkan belanja oleh-oleh untuk keluarga. 

Setelah jalan-jalan ke Wat Tham Sua atau Tiger Cave kami pun meluncur menuju Tesco Lotus sebuah mal di Krabi yang menurut kami sih biasa saja. Tujuan utama mencari oleh-oleh. Namun nihil, mal ini tak jauh beda dengan mal-mal biasa di Indonesia. Penuh dengan barang-barang yang sudah umum dijual dimana pun. Jadi kami pun bertanya kepada penduduk lokal apakah ada pasar tradisional yang menjual oleh-oleh khas thailand. Kebanyakan mereka bingung sendiri mau jawab apa. Haha.

Sunday, December 20, 2015

Wahana Pengetahuan Tentang Minyak Bumi di Petrosains Discovery Center

Selain berkunjung ke Sky Bridge dan lantai teratas bangunan Menara Kembar (Twin Towers) Petronas Kuala Lumpur, rasanya belum lengkap jika belum mengunjungi Petrosains. Petrosains bertempat di lantai 4 dan 5 dari kedua Tower 1 dan Tower 2. Mencakup area pameran dengan luas total lebih dari 7.000 meter persegi. Pintu masuk  ke Petrosains dapat dicapai melalui lantai 4 Mall Suria KLCC yang terletak tepat di bawah kedua tower Petronas.

Petrosains merupakan sebuah wahana pameran & musium yang sekaligus menjadi pusat penemuan ilmu pengetahuan terutama yang berhubungan dengan perminyakan. Didirikan berdasarkan komitmen Petronas sebagai perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan bertujuan untuk meningkatkan literasi sains yang merangsang gairah untuk memperoleh pengetahuan ilmiah di Malaysia.

Peraga Gunung Berapi

Dirancang sebagai pusat modern dan kontemporer yang memungkinkan pengunjung untuk menyentuh, merasakan dan memanipulasi fitur interaktif pada layar. Fitur interaktif  ini dikombinasikan dengan sentuhan unsur teater dan futuristik yang dapat menawarkan kepada pengunjung berbagai pengalaman belajar yang lebih konstruktif. Beberapa lokasi pameran dilengkapi dengan alat peraga tematik, gambar tiga dimensi, efek simulasi dan rekreasi spektakuler dengan efek visual dan suara yang nyata.

Penggunakan pendekatan interaktif yang menyenangkan dalam menceritakan kisah ilmu pengetahuan dan teknologi dari industri energi dapat diperoleh di Petrosains. Urutan pameran di Petrosains dimulai dari jejak evolusi dan relevansi ilmiah industri energi. Setelah itu ada pameran-pameran dengan pendekatan ilmu pengetahuan umum dan aplikasi untuk kehidupan sehari-hari. Pendekatan pada praktek langsung menempatkan penekanan pada “belajar itu sangat menyenangkan” bukan dengan cara menghafal fakta-fakta ilmiah.

Area pameran yang kami kunjungi adalah sebagai berikut:

Dark Ride
Dengan membayar tiket masing-masing sebesar 26.50 Ringgit untuk Saya & Reny dan 21.20 Ringgit untuk Shera, Desti, dan Chila, kami melalui pintu masuk menuju ruang pameran Petrosains. Setelah melewati pemeriksaan tiket kami diarahkan untuk menaiki kendaraan melalui rute Dark Ride di atas gondola yang dapat berputar 180 derajat. Gondola berjalan di rel seperti kereta api dan  memasuki lorong yang gelap. Lorong-lorong gelap menampilkan layar besar yang menayangkan hutan hujan Malaysia, pegunungan, dan pemandangan bawah laut secara audio visual. Presentasi berakhir dengan penggambaran berbagai pencapaian ilmu pengetahuan modern di Malaysia.


Saya jadi astronout :D
Space
Di ruangan ini kita dibawa menjelajah teknologi luar angkasa terbaru. Mengamati bagaimana astronout hidup dan bekerja di luar angkasa melalui video dari awak Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station) atau ISS. Di sini pengunjung dapat mencoba sebuah program NASA menjelajah Planet Mars menggunakan robot  Rover tiruan yang berkeliaran di permukaan planet Mars untuk mencari tanda-tanda kehidupan. Selain itu merasakan bagaimana badai terjadi di Planet Jupiter dengan memasuki sebuah tabung yang menghembuskan angin berkecepatan tinggi. Reny dan anak-anak mencoba wahana ini. Saking kencangnya kecepatan badai ini, kerudung Chila sampai terlepas dan terbang.


Geotime Diorama
Pada ruang pameran ini terdapat landscape vulkanik yang menggambarkan peristiwa pada zaman purba. Dimana T-Rex, Dinosaurus, dan hewan purba lainnya masih hidup. Di sini juga menerangkan kepada kita bagaimana awal mula terbentuknya minyak bumi. Berada di ruangan ini kami seakan dibawa ke 200 juta tahun yang lalu. Saat memperkenalkan T-Rex kepada Chila, dia agak ketakutan dan bahkan kabur sebelum saya foto. T-Rexnya didesain sesuai ukuran asli dilengkapi dengan suara dan nyanyiannya yang khas.

Reny dan Desti Bermain dengan T-Rex 

Geotime Diorama 

Sparkz
Wahana selanjutnya adalah SPARKZ sebuah wahana yang cocok untuk anak-anak bersenang-senang. Memainkan pesawat terbang dari kertas dan menyaksikan layar lebar yang menampilkan seni interaktif.
 
Layar-Layar yang Menayangkan Seni Interaktif

Oil Platform
Yang paling menyenangkan bagi anak-anak adalah saat berada di Platform Minya Bumi atau Oil Platform. Wahana ini merupakan tiruan sebenarnya dari kilang minyak di lepas pantai. Semua alat dibangun berdasarkan skala sebenarnya. Beberapa alat diantaranya benar-benar asli. Saya, anak-anak dan pengunjung lainnya mencoba wahana ini bersama-sama. Ada yang menimba, memutar conveyor, atau mengisi wadah dengan kerikil.

Simulasi Tambang Minyak Bumi




Speed
Selanjutnya wahana Speed yang dibangun untuk para penggemar otomotif Formula 1. Pengunjung dapat mencoba menaiki F1 dengan mencoba simulator yang bergerak di sirkuit Sepang. Selain itu ada uji reaksi. Saya dan Desti bertanding mencoba memasukan bola ke gawang dengan telekinetis.

Formula 1

Mencoba Bermain bola secara Telekinetis



Molecule Nano World
Dunia Nano Molekul ini berada di lantai atas dengan menaiki tangga yang memutar. Berada di area ini kita seakan menjelajah dunia atom yang sangat kecil. Kita digiring menuju dunia atom.

Nano World


3D Theatre
Wahana selanjutnya adalah 3D Theatre. Sebuah teater yang mampu menampung 32 orang untuk menonton pemutaran film 3D dan presentasi lainnya. Bertualang dengan The Little Prince atau bertemu sekelompok dinosaurus di sebuah pulau prasejarah di The Lost World. Sayang meskipun sudah terburu-buru dengan berlari-lari menuju lokasi ini ternyata sudah tutup karena diputar berdasarkan jam-jam tertentu.

Music, Art, Science
Area ini adalah bagian terkahir dari ruangan pameran di Petrosains. Di Gallery ini memamerkan berbagai wahana yang memungkinkan pengunjung berkreatif menciptakan music dan seni. Anak-anak bermain musik, sementara saya dan Reny mencoba main tebak-tebakan angka dengan salah seorang petugas menggunakan nomor-nomor binary. Yang membuat kami terkejut berapa pun angka yang kami rahasiakan di dalam hati tetap akan tertebak oleh si mbak-mbak petugas. Semula kami mengira ada unsur magicnya ternyata ini adalah bagian dari matematika dan berlogika.



Setelah semua itu kami selesai dan mengakhiri kunjungan dengan kembali menaiki kendaraan gondola melalui area Dark Ride.

 

Jam Buka:
Selasa – Jum’at : 9:30 pagi – 5:30 petang
Sabtu – Minggu : 9:30 pagi – 6:30 petang
Hari Senin tutup kecuali jika jatuh di libur nasional buka.

Biaya Masuk:
Pemegang Kartu MyKad (Malaysia)
Orang Tua 8.50 Ringgit (Usia 56 tahun ke atas)
Dewasa 15.90 Ringgit (Usia 18 – 55 tahun)
Remaja 10.60 Ringgit (Usia13-17 tahun)
Anak-Anak 5.30 Ringgit  (Usia 5-12 tahun)
Bayi di bawah 2 tahun Gratis
Keluarga 31.80 Ringgit (2 Dewasa dua anak-anak)

Luar Malaysia (Non MyKad) :
Orang Tua 19.10 Ringgit (Usia 56 tahun ke atas)
Dewasa 26.50 Ringgit (Usia 18 – 55 tahun)
Remaja 21.20 Ringgit (Usia13-17 tahun)
Anak-Anak 15.90 Ringgit  (Usia 5-12 tahun)
Bayi di bawah 2 tahun Gratis
Keluarga 53.00 Ringgit (2 Dewasa dua anak-anak)

Bagaimana caranya menuju ke Tempat ini:

Menara Petronas dengan jelas dapat terlihat dari mana saja. Jadi mudah untuk mengikutinya. Jika menaiki LRT (kereta api) pilih jurusan yang menuju ke KLCC, jika dengan monorail turun di stasiun terdekat yakni di Bukit Nanas dan berjalan kaki kurang lebih 5 menit ke Menara Petronas. Dengan menaiki bis juga mudah sekali. Hampir semua bis di pusat kota Kuala Lumpur akan melalui Menara Petronas. Namun jika memilih naik taksi berhati-hatilah karena terlalu banyak jebakan yang akan menipu. Sebisa mungkin bernegosiasi dengan harga yang rendah. Namun itu pun tidak cukup karena jika ada celah maka anda akan dibawa berputar-putar terlalu lama dan tetap dikenakan biaya tinggi. Pilihan aman, murah dan sangat saya sarankan justru menaiki bis.

Thursday, December 17, 2015

5 Lagu Kenangan saat Mendaki Gunung

Ketika mendaki gunung, adaaa…saja lagu dan musik yang mengiringi saat dalam perjalanan. Hingga akhirnya lagu-lagu tersebut menjadi lagu kenangan yang sulit dilupakan. Sebenarnya saya tidak terlalu fanatik dengan musik, hanya saja selalu ada moment “kebetulan” yang membuat musik tersebut mampir ke gendang telinga. 

Entah kenapa ketika berada di gunung kemudian mendengarkan bait-bait lagu, maka di kemudian hari, saat dimanapun, dalam kondisi dan keadaan apapun, jika lagu-lagu tersebut terdengar lagi oleh telinga, dengan cepat ingatan saya merespon. Merunut kejadian demi kejadian. Memory otak pun langsung bekerja menyambungkan bait dan lirik lagu menjadi sebuah rangkaian kisah perjalanan pendakian gunung yang utuh.

“Ya ampuuun ini lagu sewaktu aku lagi di Kerinci,”

“Oh iya ya, lagu itu pas aku lagi di Rinjani.”

“Duh, ini lagu sewaktu lagi gitaran di Sinabung!”

Suara-suara bisikan hati mulai bermonolog. Membuka lebar-lebar pintu kenangan untuk kembali bernostalgia. Pendek kata, lagu-lagu tersebut menjadi jembatan penghubung ke masa-masa pendakian gunung. Ada begitu banyak lagu yang pernah saya dengar. Namun hanya beberapa diantaranya yang sangat kuat mengikat dalam sebentuk kata “kenangan”  yang mampu mengungkap detail peristiwa yang bahkan sudah terhempas jauh ke alam bawah sadar. Iya mungkin begitulah cara otak saya bekerja. Hanya butuh sebait lagu untuk membuka salah satu cerita perjalanan pendakian gunung.  Bagaikan password yang akan membuka satu isi file kehidupan.

Berikut 5 lagu kenangan saya saat mendaki gunung:

1.      Asereje dari Last Ketchup

Lagu ini mengingatkan saya saat pendakian ke gunung Rinjani Lombok di penghujung tahun 2002 dan awal tahun 2003. Ketika itu saya dan rekan-rekan pendaki sedang berada di Camp Plawangan Sembalun. Tatkala matahari pagi bersinar hangat dan para pendaki mulai berjejer berjemur diri untuk menghangatkan badan. Entah dari tenda mana lagu Asereje mulai terdengar kencang. Dan tanpa dikomandoi para pendaki yang berdiri di gigiran tebing yang menghadap ke arah danau Segara Anak dengan kompak menggerak-gerakan tangannya meniru gerakan penari-penari dalam videoklip Asereje. Terlihat kompak dan kocak. Hampir semua orang yang ada di sana pun terhibur dan tertawa-tawa.


Mira lo que se avecina
a la vuelta de la esquina
viene Diego rumbeando.
Con la luna en las pupilas
y su traje agua marina
parece de contrabando.

Y donde mas no cabe un alma
alli se mete a darse caña
poseido por el ritmo ragatanga.
Y el dj que lo conoce
toca el himno de las doce
para Diego la cancion mas deseada
Y la baila,y la goza y la canta...

Aserejé, ja deje tejebe tude jebere
sebiunouba majabi an de bugui an de buididipí

……….…..

Kabarnya lagu ini adalah lagu pemujaan terhadap setan. Entahlah nggak faham artinya. Saya pun berusaha untuk tidak terlalu menyukai lagu ini. Namun tetap saja tatkala lagu ini diperdengarkan, ada alarm yang selalu menyala dan membawa saya terbang kembali ke gunung Rinjani.


2.      Kompilasi Nasyid oleh The Brothers

Saya tidak terlalu suka dengan nasyid. Namun teman seperjalanan mendaki gunung Kerinci di Jambi pada tahun 2002, sangat menyukai nasyid-nasyid dari grup vocal yang berasal dari Malaysia ini. Dengan menggunakan walkman ia memutar terus-menerus kaset kompilasi The Brothers tanpa henti sepanjang perjalanan menuju Puncak Kerinci. Dari side A hingga side B, lalu kembali lagi ke side A dan dibalik lagi ke side B. Bosan. Meskipun sebal saya tetap menjadi pendengar yang baik. Tidak menegur dan menyampaikan perasaan terganggu. Dan, tanpa disuruh menghafalkan, setelah itu saya jadi ingat seluruh lirik lagu-lagunya. Satu yang paling saya ingat dari album kompilasinya adalah nasyid yang berjudul Teman Sejati.
                                                           
                                                             
Selama ini ku mencari-cari
Teman yang sejati
Buat menemani
Perjuangan suci

Bersyukur kini pada-Mu Ilahi
Teman yang di cari selama ini
Telah ku temui

Dengannya disisi
Perjuangan ini
Tenang di harungi
Bertambah murni kasih Ilahi

KepadaMu Allah
Ku panjatkan doa
Agar berkekalan kasih sayang kita

KepadaMu teman
Ku pohon sokongan
Pengorbanan dan pengertian

Telah ku ungkapkan segala-galanya

KepadaMu Allah
Ku pohon restu Mu
Agar kita kekal bersatu

Kepadamu teman
Teruskan perjuangan
Pengorbanan dan kesetiaan

Telah ku ungkapkan segala-galanya

Itulah tandanya
Kejujuran kita
a...a...a...
Ku mencari-cari teman yang sejati
Buat menemani perjuangan suci
o...o...a...a....

Dan setelah turun dari Kerinci, lalu si teman ini melamar saya. Uhuuk...uhuk... alasannya saya adalah perempuan yang begitu tepat untuk dijadikan istri. Tentu saja saya galau. Apakah harus menerima atau menolaknya. Kalau menerima saya tidak ada rasa condong terhadapnya. Kalau menolak, teringat akan hadist ini:

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi).

Saya tahu betul bahwa si teman ini adalah lelaki baik-baik namun entah kenapa saya tidak bisa menerima dia sebagai calon suami. Dengan meyakinkan tekad saya pun menolak halus lamarannya. Setelah itu dia mendadak menghilang dari kehidupan saya. Menjauh dan semakin menjauh. Padahal saya tetap menganggapnya sebagai seorang sahabat. Jika hati seseorang terluka, persahabatan belum tentu membuatnya sembuh dari luka tersebut.

Lagu Kenangan saat mendaki gunung
Puncak Gunung Sinabung Agustus 2004
3.  Jika itu yang Terbaik oleh Ungu

Agustus tahun 2004, Sewaktu mendaki gunungSinabung di Sumatera Utara, saya bertemu beberapa anak SMA yang sedang gandrung-gandrungnya mendaki gunung. Namun sayang cara dan style mendaki mereka sangat mengkhawatirkan. Hanya beralaskan sendal jepit, mengenakan kaos oblong, dan sebagian besar tidak membawa makan dan minum sebagai bekal masing-masing. Benar-benar pendaki yang nekat.

Dengan cara halus/pelan-pelan saya dan rekan saya Lastri memberitahu bahwa hal tersebut tidak safety bagi diri mereka. Semula kami takut dikira sok tahu dan sok ngajarin, ternyata sebaliknya anak-anak remaja ini dengan terbuka mau berdiskusi dan berdialog dengan kami hingga menjadi sangat akrab. Saling berkunjung ke tenda masing-masing dan berbagi makanan yang ada.

Malamnya ketika sendirian dalam tenda, dalam kantuk yang hampir melelapkan, tidur saya diiringi sebuah lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak SMA itu. Alunan suara gitar bergema di antara hampanya udara malam di gunung Sinabung. Lagu dari grup band Ungu berjudul “Jika itu yang Terbaik.” Saya yang saat itu lagi patah hati mendadak melow dan tiba-tiba saja menangis.

…….
Sebab engkau tlah pergi
Sambil menangis kau katakan
Kau takkan pernah kembali
Dan dapat kupahami
Satu alasan yang kau beri
Apa yang mereka ingini
Segala yang terbaik untukmu

 Jika itu memang terbaik
  Untuk dirimu
Walau berat untukku
Berpisah denganmu

Hapus sudah air matamu,
Aku mengerti
Ini bukan maumu,
Ini bukan inginmu

Sendiri aku dalam gelapku
Tiada satupun menemaniku

......
Huhuhu bercucuran air mata.
Saya dan Lastri di Lau Kawar

Hingga sekarang jika mendengar lagu itu, otak saya selalu menghubungkannya dengan pendakian gunung Sinabung. Ingatan yang hampir lengkap. Saya teringat awal pendakian di tepi danau Lau Kawar, bertemu nenek-nenek yang mengais sampah-sampah pendaki, merayapi Tanjakan Patah Hati gunung Sinabung, menikmati panorama dan keindahan Tanah Karo dari ketinggian puncak Sinabung hingga perjalanan turun kembali ke Lau Kawar yang disambut oleh dua orang teman dari komunitas Highcamp.


4.      Kembang Padang Ilalang oleh Mukti Mukti


Juli 2007, beberapa hari setelah pernikahan saya dengan seorang pendaki gunung asal Depok, kami berdua mendaki Gunung Pangrango di Bogor Jawa Barat. Kata orang ini adalah pendakian honeymoon. Baiklah, anggap saja begitu. Kalau orang lain honeymoon ke Bali, Lombok, Maldives dan Paris cukuplah bagi kami merayakan awal pernikahan ini dengan mendaki Pangrango. Bermalam di tenda kecil dalam hamparan padang edelweis lembah Mandalawangi.

Senja di hari pertama keberadaan kami di Pangrango, saya terduduk di hamparan rumput yang dikelilingi padang edelweis. Lembah Mandalawangi tempat dimana kami berada saat itu, sangat sepi dan teramat sunyi. Hanya hening yang menggantung di udara. Tiada rintik hujan, tiada hembus angin, dan tiada hangat mentari. Di sana hanya ada saya, dia, dan tak lebih dari 7 orang pendaki lainnya.

Senja telah jatuh di Mandalawangi. Namun langit tetap membiru. Lembayung mulai tampak di sisi barat. Awan-awan bergerak perlahan seperti putaran film yang diperlambat. Dan, sayup-sayup dari dalam tenda kami terdengar alunan lagu Kembang Padang Ilalang.


Kembang pada ilalang
Berayun lembut kemayu
Kembang padang ilalang
Kau rayu daku sore itu

Diantara lembayung mega
Perlahan terseduh rintik hujan
Namun tiada hitam kelabu 
Hanya kalbu membias malu

Kembang padang ilalang
Kau rayu daku sore itu

.....................


Lagu yang indah yang terdengar di waktu yang tepat. Tidak hanya saya yang seakan terwakili dengan lagu itu. Para pendaki yang lain yang ikut mendengarkan tampak penasaran dan bertanya kepada si dia tentang lagu tersebut.
  

5.   Pendaki Gunung oleh Rita Ruby Hartland

Taman Hutan Lagenda, Gunung Ledang, Johor
Sewaktu SD entah kelas berapa, saya menyaksikan lagu Pendaki Gunung ini dinyanyikan oleh Uli Sigar Rusady di TVRI. Dan saya langsung jatuh cinta sekali dengan lagu ini. Menghafalnya dengan cepat dan terus teringat hingga beranjak remaja. Pada perjalanan waktu hingga saatnya menikah saya baru menemukan versi aslinya dari mp3 suami yang sama-sama suka mendaki dan bertualang ke gunung.

Sempat diputar beberapa kali di rumah namun justru yang terkenang dan menghubungkannya adalah saat mendaki Gunung Ledang di Johor Malaysia bersamanya.

Berikut petikan dari lagu Pendaki gunung:


Pendaki gunung sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
Memproklamirkan dirimu pecinta alam
Sementara maknanya belum kaumiliki

Ketika aku daki dari gunung ke gunung
Di sana kutemui kejanggalan makna
Banyak pepohonan merintih kepedihan
Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam

Batu-batu cadas merintih kesakitan
Ditikam belatimu yang bermata ayal
Hanya untuk mengumumkan pada khalayak
Bahwa di sana ada kibar benderamu

Ooh alam, korban keangkuhan 
Maafkan mereka yang tak mau mengerti arti kehidupan


Nah itu dia 5 lagu yang sering mengingatkan saya akan pendakian gunung. Kalau kamu mendengarkan sebuah lagu apa yang kamu ingat?

Wednesday, December 16, 2015

One Day Tour ke Phi Phi Islands Krabi Thailand


Phi Phi Islands (Kepulauan Phi Phi) yang dalam bahasa Thailand disebut Ko Phi Phi Don adalah gugusan pulau-pulau yang terletak di Provinsi Krabi Thailand Selatan. Posisi geografisnya berada di Laut Andaman atau di sebelah timur Phuket dan sebelah barat daratan Thailand Selatan. Pulau Phi Phi adalah pulau terbesar dan memiliki penduduk yang mayoritas beragama islam.

Untuk mengunjungi Phi Phi Island, ada begitu banyak Tour Operator yang beroperasi baik dari Phuket maupun dari Krabi. Namun jika kamu tertarik untuk ke sana lebih baik memulai perjalanan dari Krabi karena jarak tempuh yang lebih dekat. Dan itu pula yang saya lakukan beberapa waktu yang silam.

Seperti yang sudah saya sebutkan di postingan sebelumnya mengenai Pantai Aonang, hampir semua Tour Operator di Krabi memulai titik perjalanan ke Phi Phi Islands dari Aonang. 


Briefing sebelum berangkat


Ada banyak paket tour yang ditawarkan dengan variasi harga yang berbeda-beda.   
Ada paket one day tour, 2 days 1 night, dan 3 days 2 nights. Karena lokasi jelajah yang luas dan tersebar, paket one day tour pun dibagi lagi menjadi beberapa. Ada 4 Islands Tour, Phi Phi Islands Tour, Hong Island Tour dan paket kayaking. Umumnya wisatawan mengambil paket one day tour dengan Phi Phi Island sebagai tujuan utama.

Semenjak tahun 2000 hingga sekarang, Kepopuleran Phi Phi Islands melejit setelah dirilisnya  film The Beach yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio. Pernah juga disinggung di postingan berjudul Antara Liburan Emak-Emak, Leonardo Dicaprio dan Sopir Taksi.

 Saat itu dari pihak hotel saya dihubungkan dengan Sea Eagle Tour.  Paket kami semula seharga 1400 Bath namun namanya emak-emak nggak dimana pun tetap tukang nawar. Lumayan dapat diskon jadi 1200 bath untuk dewasa dan 1000 bath untuk anak-anak.  Dibayarkan langsung ke pihak hotel. Paket sudah termasuk transportasi dari hotel pulang pergi Aonang Beach, ongkos boat, makan siang, buah-buahan, air mineral, life jacket, peralatan snorkeling, tour guide, tiket masuk taman nasional, dan asuransi. Jadi jika anda bingung mencari operator tour mana yang bisa dihubungi, cukup bilang ke pihak hotel saja nanti mereka yang akan mencarikan.

Sekitar jam 8 pagi saya, Reny, dan anak-anak sudah berada di Aonang. Sengaja datang awal agar tidak terburu-buru. Peserta tour umumnya akan diberangkatkan pada pukul 9 pagi dan kembali pada pukul 4 sore.

Tepat jam 9 peserta tour yang kebanyakan berasal dari luar Thailand dibriefing dan diberi pengarahan oleh seorang guide.  Setelah briefing selesai kami lantas memasuki speedboat yang cukup besar. 

Peserta tour dari berbagai negara

Tour yang ditawarkan kepada kami akan mengunjungi beberapa spot seperti  Bamboo Island, Viking Cave, Lohsamah Bay, Pileh Bay (Pileh Lagoon), Monkey Beach, Maya Bay, dan Phi Phi Don. Semua menawarkan pesona keindahan laut  yang umumnya berair biru tosca, pasir putih, laguna yang menghijau dan pemandangan gundukan pulau-pulau karang bertebing tinggi dan terjal. Sangat cocok untuk wisata panjat tebing.


Sebuah resort yang terlewati

Tebingnya menggoda


Menyaksikan tebing-tebing tinggi di hamparan laut yang bergradasi,  naluri saya yang mantan pemanjat pun langsung seperti tersengat. Entah mengapa sepertinya saya perlu balik lagi ke tempat ini untuk menjajal tebing-tebingnya. Aaah kacau. Racun adrenalin saya malah terpacu untuk memanjat daripada untuk berenang. Apalagi baru-baru ini saya menemukan ada paket tour untuk memanjat tebing-tebing di sekitar Phi Phi Islands. God. Apakah saya suatu hari kudu balik lagi ke tempat ini? Well see.

Tebing-tebing di sekitaran 

Berenang bareng anak-anak

Pantai di Phi Phi Don

Sea Eagle Tours
45/5 Krabi Road Tumbon Paknum Amphoe Krabi 81000
Tel: 075-612248, 084-1545455
email: seaeagletour@hotmail.com
website: www.seaeagletour.com

Monday, December 14, 2015

Wat Tham Sua, Tiger Temple Krabi Thailand

Dengan menyewa mobil hotel seharga 800 Bath atau setara dengan 400 ribu rupiah, pagi itu dengan agak malas-malasan kami berangkat ke Wat Tham Sua atau para turis mengenalnya dengan sebutan Tiger Temple. Selain Phi Phi Island dan pulau-pulau cantik di sekitarnya, Tiger Cave adalah salah satu destinasi wisata utama para turis di Provinsi Krabi, Thailand.

Pagoda Wat Tham Sua
Karena berangkat telat, maka jam setengah dua belas kami baru tiba di Tiger Temple. Ini gara-gara anak-anak nggak mau naik dari kolam renang hotel. Masih betah dan pengen berlama-lama. Malah sempat pula mereka ngasih ide agar mereka ditinggal di hotel terus para mama kece, saya dan Reny saja yang pergi keliling kota. Tentu saja kami menolak mentah-mentah usul itu. Anak-anak tetap harus pergi bersama kami. Entah apa yang terjadi jika mereka ditinggal di hotel.

Mungkin karena ada yang perlu dijemput lagi, Pak Le sopir kami memberi waktu satu jam saja untuk saya dan anak-anak mendaki bukit Tiger Temple. Karena kami mengira mobil tersebut kami booking seharian dan juga karena kendala bahasa yang roamingnya minta ampun, terjadilah miskomunikasi. Pak Le tidak bilang juga kalau dia harus jemput tamu hotel atau ada perlu lainnya. Lagian seharian itu kan mobil kami carter, berarti dia harus menunggu kami. Ah sudahlah. Pokoknya gara-gara ini seturunnya dari bukit saya dimarahin habis-habisan sama si Pak Le. Hikss.

Pintu Lainnya Masuk ke Pagoda

Turun dari mobil kami langsung tertarik berfoto di depan patung harimau yang berada di halaman sebuah pagoda. Pagoda ini tampak masih belum sempurna dibangun. Dinding bangunannya baru selesai diaci semen dan belum dicat.

Selain kami, ada beberapa pengunjung yang ikut berfoto. Kebanyakan berwajah bule dan satu diantara bule-bule itu seorang pria muda berkulit sawo matang. Saya menduga-duga dia berasal dari Asia Tenggara. Mungkin Malaysia, Philipina, Singapura, atau mungkin saja dari Indonesia.


Ketika mereka sedang membahas perubahan kulit pada dua bule Prancis, mereka tersenyum pada saya. Dan senyuman tersebut menjadi momen perkenalan kami selanjutnya. Salah satunya gadis beliau berumur 21 tahun bernama Lilou.  Seperti yang saya duga, pria muda yang bernama Anto itu ternyata berasal dari Indonesia. Tepatnya berasal dari Palu Sulawesi Tengah.  

Entah nyambung darimana saya dan Anto tiba-tiba membahas komunitas para pejalan di Facebook yaitu Backpacker Dunia (BD) dimana kami berdua sama-sama menjadi anggotanya. Anto pun mengenali beberapa teman BD Batam seperti Mukhlis, Hanna dan Choty.  Walaupun baru pertama kali berjumpa, kami jadi seperti bertemu teman lama, terlibat percakapan yang seru. Sesekali diinterupsi Chila yang sebel dan  kesel bundanya bicara terus sama orang asing. Haha.


Gilanya, semenjak pertemuan kami tanggal 4 November 2015 hingga tulisan ini dibuat hari ini, Anto masih berkelana menjelajah negara-negara ASEAN. Kabar terakhir yang saya lihat di facebooknya ia masih berada di Laos. Sebulan lebih menjelajah Asia Tenggara. Ya salam. Entah harus berkata apa. Kalau sebulan di negeri orang buat jalan-jalan doang bisa-bisa saya mah miskin mendadak. Hihi.

Di kaki bukit, terdapat pagoda/kuil lainnya yang terlihat sudah berdiri sejak lama. Kuil inilah yang disebut Kuil Tiger karena ada anak macan yang dipelihara di belakang kuil. Kami lantas beramai-ramai beriringan memasukinya. Kuil ini letaknya bersebrangan dengan pagoda yang baru dibangun tadi.

Biarawan Memasangkan Gelang
Seorang biarawan menunjuk kotak sumbangan di meja di depannya untuk kami isi seikhlasnya. Sebagai imbalan, ia akan mengikatkan sebuah gelang kepada pengunjung sambil membacakan doa-doa. Saya tidak antri untuk diberi gelang tapi menanyakan apakah di dalam sana boleh foto-foto. Dan ia pun mengangguk tanda membolehkan.

Di tengah-tengah kuil, tampak seorang perempuan mengenakan celanan jeans pendek memulai ritual berdoa dengan menyalakan lilin dan dupa. Di sudut lainnya dua orang biarawan sedang menyantap makan siangnya dengan duduk bersila seraya bertopang dagu.


Worshipper

Monks (Biarawan)
Seusai dari Kuil Tiger, kami menuju ke jalan menuju bukit dengan melewati sebuah gerbang bernuansa China. Rumbai-rumbai Lampion berwarna merah tampak bergelantungan di pintu gerbang.

Tak jauh dari situ kami mulai meniti menaiki anak tangga menuju puncak bukit. Reny tidak ikut naik melainkan menunggu kami di bawah. Anak-anak antusias ikut mendaki. Namun baru beberapa puluh anak tangga, Desti dan Shera minta turun. Dan di tangga kedua ratus, Chila juga minta turun.


Langkah Pertama Mulai dari Sini!

Anto

Tangga yang Harus Dinaiki
Setelah mengantarkan Chila turun, saya naik kembali. Huhu rasanya nggak nyampe-nyampe. Untung setiap sekitar 50-60 anak tangga atau setiap perhentian ada tulisan anak tangga nomor berapa. Berdasarkan papan signboard di dekat tangga pertama, total yang harus didaki untuk sampai di puncak bukit adalah 1.237 anak tangga. Dan meskipun tidak setinggi gunung, bukit kapur yang terjal ini sangat menguras energi. Rasanya seperti mendaki gunung berkali-kali lipat.

Di beberapa anak tangga ada bagian yang  kanan kirinya langsung berhadapan dengan jurang. Jadi langkah kaki benar-benar harus hati-hati agar tidak terpeleset. Meskipun di tepi-tepi tangga sudah diberi pegangan tetap saja rasa ngeri terjatuh tetap ada.


Actualnya 1260 Anak Tangga

Selangkah demi selangkah, puluhan, ratusan, hingga seribu tangga saya lewati. Selang setengah jam saya tiba di tangga ke 1.260 di dekat puncak bukit. Di dekat tangga ke 1.260 terdapat air minum yang dapat dikonsumi oleh seluruh pengunjung. Kenyataannya terdapat perbedaan sekitar 23 anak tangga.

Saya terus melangkahkan kaki ke bagian atas lagi. Di sana terdapat sebuah kuil dengan langit-langit yang terbuka. Di tengah-tengahnya terdapat patung Budha keemasan setinggi kurang lebih 5 meter sedang terduduk di atas bunga teratai. Seperti pendatang lainnya lantas saya pun membuka sendal dan masuk ke dalam pagoda hanya sekedar untuk melihat dan berfoto-foto.

Pemandangan dari puncak bukit dapat disaksikan dengan jelas ke semua arah secara 360 derajat. Hamparan hijau tampak subur terbentang. Bukit dan tebing-tebing batuan kapur yang mencuat di kejauhan semakin menambah indah pemandangan.


 
Foto juga dong nanti dibilang hoax :D

Lilou sedang Bermeditasi

Monks Prostrate
Di dalam kuil, saya bertemu  kembali dengan Anto, Lilou dan pasangannya. Anto sedang bercerita dengan seorang rekan bulenya sedangkan Lilou tampak khusuk bermeditasi. Meresapi angin yang berhembus perlahan ke arah puncak.

Tak hanya Lilou saja, beberapa wanita bule lainnya pun tampak duduk bersila menyilangkan kedua kaki untuk bermeditasi juga. Tak ingin mengganggu mereka, saya pun berlalu sambil berjingkat-jingkat. 

Seorang biarawan datang mendekati patung Budha. Lantas ia menyembahnya dengan cara bersujud berulang kali.

Setelah puas memfoto pemandangan, saya pun segera meluncur turun. Di tengah jalan saat berpapasan dengan penduduk yang hendak naik saya menanyakan jam. Dia jawab jam satu. Ya ampuuun. Saya pun ngebut turun setengah berlari. Sementara si Pak Le sopir kami di bawah uring-uringan marah karena menurutnya saya harus turun jam setengah satu. Weew. Naiknya aja jam dua belas, nggak mungkin banget setengah jam saya bolak-balik dari bawah puncak ke bawah lagi. Duuh.

The Budha
Benar saja, tiba di bawah si Pak Le menyongsong saya dan bilang "*&%#@$#@ #$%& *^% ....." entahlah. Saya hanya terdiam membisu sambil mengikutinya ke mobil. Sesekali melirik ke pipinya yang merah menahan amarah. Entah harus berkata apa. Hanya saja kenapa si Pak Le ini nggak punya perhitungan banget. Harusnya dia tau kalau naik bukit itu paling cepet satu jam setengah. Sudahlah! Saya pun terdiam kesal. Lebih kesal lagi saat masuk mobil Chila nangis kencang karena menyangka saya nggak bakal kembali.


How to get There?

Kuil Tiger cave berada kurang lebih 3 kilometer dari pusat Kota Krabi dan mudah dijangkau dengan menaiki mini bus, taksi, tuktuk, atau sepeda motor sewaan. Ada juga bis umum yang disebut songthaew yang dapat diperoleh dari Krabi atau Aonang. Bis ini berhenti di jalan sebelah Wat Tham Sua (Tiger Cave). Kemudian anda dapat berjalan kaki kurang lebih 20 menit ke arah kuil. Namun jika dirasa sangat menghabiskan waktu, lebih baik menyewa sepeda motor. Tarif sekitar 200 hingga 250 Bath atau sekitar  100 sampai 125 ribu rupiah.

Setelah dari Tiger Temple kami pun belanja oleh-oleh di pusat Kota Krabi.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...