Rabu, 11 Maret 2015

5 Manfaat Mendaki Gunung Bagi Anak-Anak



Chila dan Ayahnya  melewati jalur yang ber-canopy
Kegiatan mendaki gunung kian hari kian diminati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya mereka para anggota Komunitas Pecinta Alam maupun Mapala saja yang kerap wara-wiri mengunjungi gunung. Namun orang biasa yang bahkan tidak punya keahlian dan pengalaman bertahan hidup di alam bebas pun kini mulai membanjiri gunung-gunung. Tidak terkecuali anak-anak yang diajak oleh para orang tuanya. 



Banyak hal positif yang akan diperoleh anak-anak  dari kegiatan mendaki ini. Walaupun termasuk kegiatan olahraga berat dan menantang, mendaki gunung akan terasa sangat menyenangkan bagi mereka jika saja para orang tua mampu menyiasatinya dengan baik, bijak dan benar.



Berikut 5 manfaat yang pernah saya dan suami rasakan langsung saat mengajak putri semata wayang kami, Chila, mendaki Gunung Semeru tahun lalu:




1.   Menanamkan kepercayaan diri kepada anak
Karena setiap hampir lima menit berpapasan dengan pendaki yang turun, dan mereka selalu menyapa Chila dengan kata-kata pujian seperti “Waaah hebat Si Ade kuat banget”, Atau membandingkan beberapa pendaki yang kecapekan dengan Chila. “Tuh masa kalah sama anak kecil." Kata-kata itu sepertinya menjadi pelecut bagi Chila untuk terus berjalan sendiri tanpa dituntun atau digendong. Berkali-kali kami tawari untuk menggendongnya, ia selalu menolak. Dengan pujian dan motivasi yang kerap didengarnya dari para pendaki, Chila semakin percaya diri bahwa ia memang kuat sesuai dengan yang mereka sangkakan. Alhasil, selama 7 jam perjalanan dari Desa Ranupani menuju Danau Ranu Kumbolo, selama 6,5 jam Chila jalan kaki sendiri. Hanya setengah jam saja ia berada dalam baby carrier karena tidur siang.




2.    Melatih dan membentuk kekuatan serta kesabaran

Perjalanan mendaki gunung bukanlah perjalanan yang mudah dan singkat. Butuh kekuatan fisik serta waktu berjam-jam untuk mencapai pos demi pos. Bagi anak-anak, waktu yang lama dalam melakukan segala sesuatu adalah hal yang sangat membosankan sehingga kerap membuat mereka kurang bersabar. Dengan mendaki gunung, menempa anak memiliki tubuh kuat dan sehat. Selain itu memberi pemahaman langsung kepada mereka bahwa untuk mencapai sesuatu tidaklah selalu dengan cara instan. Anak-anak akan dilatih untuk bersabar hingga tiba di lokasi selanjutnya.




3.    Memperkenalkan kepada anak tentang kekayaan alam dan keanekaragaman hayati.

Mengamati bunga semak
Gunung adalah tempat dimana keanekaragaman hayati baik flora maupun faunanya masih terjaga dan dapat kita temui dengan mudahnya. Sepanjang perjalanan Chila kerap berhenti dan berteriak penuh semangat kepada kami. Ayah bunda lihat ini bunganya aneh eh unik. Katanya. Lalu berbagai pertanyaan lainnya muncul setelah kami menyahutnya. Beberapa langkah ke depan ia lantas berseru lagi karena bertemu kepiting hutan, semut besar atau capung. Berjalan beberapa meter ke depan ia berhenti lagi. Lalu menghidu bunga-bunga di sepanjang jalur yang ditemuinya. Saya dan suami membiarkannya sambil mengingatkan bahwa tanaman-tanaman itu tidak boleh dirusak atau dipetik. Biarkan saja agar tetap alami.



4    Membiasakan anak belajar mandiri

Saat kemping di Ranu Kumbolo, kami memasak untuk sarapan. Chila begitu bersemangat membantu saya. Mulai dari memotong bawang merah dan bawang putih. Bahkan ia memaksa untuk menggoreng sosis sendiri. Saya pun membiarkan ia melakukannya sambil terus mengawasi. Chila terlihat tenang dan asyik dengan kompor dan penggorengan Trangianya. Pun saat memasuki tenda, Chila merapikan dan membenahi tendanya sendiri. Melipat sleeping bag, melipat jaket dan merapikan perlengkapan yang berserak di lantai tenda. Saat saya hendak masuk, saya malah diusirnya :D "Bunda jangan masuk, ini tenda Chila. Tenda bunda yang itu!" serunya sambil menunjuk tenda biru disebrang tendanya.



5.  Mengajarinya berempati

Bund, kasihan ikannya matiii...
Saat berjalan-jalan menyusuri tepian Ranu Kumbolo, kami menyaksikan begitu banyak ikan kecil yang terkapar mati di tepi danau. Entah karena apa. Chila lalu mengambil dan mengelus-elus ikannya. Raut wajahnya tampak begitu sedih. Ia lantas mengajak saya untuk menguburkan ikan-ikannya. "Bunda kasihan ikannya pada mati. Kenapa ikannya mati? Chila jadi sedih." Katanya. Ah saya juga sedih menyaksikan ikan-ikan lucu itu mati begitu saja.


Sekian, semoga bermanfa'at.





29 komentar:

  1. Asyik mbak anaknya mau diajak nanjak. Aku dulu pinginnya gitu. bisa nanjak sama suami dan anak. Eh, suami sibuk, si kecil lebih suka main game di laptop. Paling mentok suka jalan jalan :) Bermanfaat juga ya nanjak buat si kecil. nggak capek?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau suami dan anak kurang minat sepertinya harus punya rayuan jitu Mbak. Qiqiqi...ih gpp juga mereka nggak tertarik nanjak karena mendaki itu kan panggilan hati. Jadi nggak bisa dipaksa-paksa.

      Nggak capek?
      Karena jalannya santai mengikuti mood-nya Chila jadi Alhamdulillah capeknya sedikit :)

      Hapus
  2. Salut!
    Terima kasih untuk tulisannya yang bermanfaat mbak. Inspiratif :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh Mbak Rien, da saya mah apa atuh. Sekedar cerita masa lalu aja. Masih jauh dari inspiratif

      Hapus
  3. Menyenangkan sekali... Inspiratif!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mbak, betul menyenangkan. Terutama menyenangkan bagi saya bisa ngajak nanjak gunung dua-duanya :)

      Hapus
  4. Setuju banget! Aku juga mencoba mengenalkan alam ke anak-anakku sejak kecil, teh... :)
    Insya Allah kerasa manfaatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Contohnya Lala, pas ke Pulau Putri kemaren, doi kalem banget menghadapi ombak. Nggak panik nggak nangis nggak histeris padahal bagi saya ombak laut segitu mengerikan.

      Hapus
  5. saya juga pengeen banget ngajak anak2 mendaki gunung, tapi blm kesampean aja hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah diniatkan Mbak Insya Allah bisa terwujud

      Hapus
  6. Wow amazing, inspirasi buat saia mbak :)

    BalasHapus
  7. waah seru yaa... krucils saya sih suka kayaknya diajak beginian meski sy haru siap banyak makanan n minuman kesukaan mrk. tp klo smp menginap n camping kayaknya mrk blm siap deh.
    Hmm kebayang serunya sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak biasanya seneng banget kalau diajak kemping mbak. Coba yang dekat-dekat saja dulu. Lumayan mengasah sisi petualangan mereka.

      Hapus
  8. Chila kereeen, calon pendaki tanggguh Indonesia neh.
    Om jadi malu deh sama Chila :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Tapi sepertinya Chila lebih minat seperti Mbak Rien Mas Ihwan. Dia suka sekali ke pantai dan berenang :D

      Hapus
  9. pengalaman camping cuma di SD dan SMA, itupun di tanah datar alias bumi perkemahan.. pinginnn banget abis nonton 5cm ke ranu kumbolo.. semoga kesampaian yaaa kapan2 ada yang ngajakin.. makasih sharenya mbaaa... *_*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Ranu Kumbolo jalurnya datar kok nggak nanjak banget. Jadi siapa pun bisa ke sana. Ranu Kumbolo menantimu Mbak :D

      Hapus
  10. yang ingin kudaki adalah gunung semeru nih..hihihi, tapi ga tau kapan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bulan April depan sudah mulai dibuka

      Hapus
  11. Asyikkk banget, Mbak.. Anak-anak kami sudah sudah belajar trekking. Kami cari rute-rute dan pendek dulu. ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini Chila awalnya juga dilatih rute-rute pendek di trek hutan di Batam Mbak.

      Hapus
  12. Woww keren mbak...enaknya kalo ortu seiya sekata bisa ngajak anak mendaki gunung... Ada juga loh sebagian ortu yg terlalu kuatir mengajak anak berpetualang ke alam bebas.. Smoga chila ttp sehat dan makin kuat ya mbak... Salam hangat dari bandung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih nuhun pisan sudah berkunjung kemari :D Amiin semoga Chila tetap sehat dan kuat

      Hapus
  13. aduh kok ikan nya mati, aku jadi ikutan sedih nih bos :)

    BalasHapus
  14. inspiratif ...
    saya berusaha ngajak anak kegiatan outdoor ...
    susah .. he he ... anak zaman sekarang lebih senang gadget, game dan ngemall

    BalasHapus
  15. Wah tipsnya sangat bermanfaat mau saya terapin ke anak

    Mulai umur berapa ya sebaiknya diajarkan?

    BalasHapus
  16. Wah seru banget anaknya diajak daki gunung :))

    VONNYDU

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...