Minggu, 22 Maret 2015

Belajar Memelihara Gunung dari Negeri Tetangga

Gunung Ledang
Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami melakukan perjalanan dan pendakian ke Gunung Ledang yang terletak di Negara bagian Johor Malaysia. Dalam sejarah dan legenda masyarakatnya ternyata gunung ini mempunyai keterikatan batin dengan kerajaan Majapahit, bahkan Putri Gunung Ledang yang dipercaya masyarakat sebagai penguasa Gunung ini disebut-sebut berasal dari Pulau Jawa.

Pada awalnya kami tidak terlalu antusias untuk mendaki gunung tersebut karena ketinggiannya yang hanya 1276 meter di atas permukaan laut (mdpl) berada  jauh di bawah gunung-gunung yang ada di Indonesia yang ketinggian rata-rata di atas 2000 mdpl. Bahkan dengan Gunung Daik Pulau Lingga Kepri sekalipun masih kalah tinggi.

Namun betapa terkejutnya kami setelah tiba di lokasi pendakian, tepatnya di Taman Negara Johor Gunung  Ledang atau dikenal juga dengan sebutan Taman Hutan Lagenda. Betapa tidak, gunung yang hanya setinggi 1276 mdpl ini ternyata memiliki berbagai fasilitas lengkap mulai dari Pusat pengunjung, penginapan, pondokan, mushola, toilet, bahkan tapak-tapak kemah, dan areal memasak yang terawat, rapi dan bersih. Dengan gunung yang hanya setinggi itu pemerintah Negara Bagian Johor  mampu memaksimalkan keberadaannya sehingga menjadi aset yang mampu menghasilkan pendapatan bagi negara.

Ada hal yang cukup menarik untuk diambil pelajaran dari pendakian ke Gunung Ledang. Salah satunya mengenai penanganan masalah sampah. Manajemen Taman Negara menerapkan aturan yang ketat kepada para pendaki yang akan mendaki gunung ini. Sebelum mendaki kita diwajibkan mengisi formulir yang mendata seluruh barang yang akan dibawa ke atas yang akan berpotensi menjadi sampah, baik bungkus makanan & minuman, baterai kamera, obat-obatan P3K, sepatu, sandal, pakaian, bahkan pakaian dalam sekalipun dihitung dan dijumlahkan berapa potong. Selain itu dikenakan deposit sampah sebesar 50 Ringgit bagi setiap kelompok pendaki. Cukup mahal namun benar-benar efektif untuk membuat takut para pendaki jika membuang sampah sembarangan di dalam kawasan gunung. Jika ada sampah 1 potong saja tertinggal di gunung dan kita tidak dapat  membuktikan sampah tersebut dibawa turun maka uang 50 ringgit atau setara dengan Rp. 135.000  akan hangus tak kembali.

Hasilnya, jangan ditanya. Di sepanjang jalur pendakian menuju puncak gunung  ini tidak terlihat sampah sedikit pun. Bersih dan menyejukkan mata. Seandainya saja di negara kita bisa seketat itu penanganan kebersihan gunungnya, mungkin ekosistem gunung-gunung di Indonesia akan tetap terjaga sampai saat ini.
 
Bersama suami
Berbeda dengan pengelolaan sampah di Gunung Kinabalu yang terletak di Negara Bagian Sabah, pengelolaan sampah di Gunung Ledang lebih kepada pendekatan preventif sehingga tidak ada sampah yang singgah terlebih dahulu di gunung namun langsung dibawa turun kembali oleh para pendaki. Selain dapat menghemat biaya angkut sampah, tindakan pencegahan ini juga akan memberi pelajaran berharga bagi para pendaki untuk lebih menghargai dan mencintai kebersihan gunung.

Adapun pengelolaan sampah di Gunung Kinabalu cenderung lebih maju, di sepanjang jalur pendakian dan pondokan gunung disediakan tempat-tempat sampah yang diberi polybag. Sampah-sampah tersebut dibawa turun oleh para porter setiap hari yang kemudian diangkut oleh truk-truk sampah setiap 2 atau 3 hari sekali. Begitu juga sampah yang diproduksi langsung oleh tubuh manusia tidak terbuang sembarangan di sepanjang jalur pendakian namun telah disediakan toilet yang bersih di setiap shelter lengkap dengan fasilitas air bersih dan tissue gulung. Rupanya Negara bagian Sabah pun tidak mau tanggung-tanggung dalam mengurus Gunung yang telah dinobatkan oleh UNESCO sebagai salah satu dari Tapak Warisan Dunia (World Heritage Site) yang harus dijaga kelestarian dan keberadaannya dari kepunahan dan kerusakan.

Memang dalam urusan urus mengurus gunung saja rupanya kita perlu banyak belajar dari negeri jiran Malaysia. Jangan dulu dibandingkan dengan gunung kebanggaan Malaysia Gunung Kinabalu  (4095 mdpl) yang pernah diklaim negeri ini sebagai gunung tertinggi di Asia Tenggara (padahal yang tertinggi adalah Gunung Cartendz Pyramid  4884 mdpl yang terletak di Papua Indonesia). Dari Gunung Ledang saja, manajemen pengelolaan gunung kita jauh tertinggal. Marilah kita perhatikan kondisi gunung-gunung yang ada di Pulau Sumatera dan Jawa betapa sampah yang berserakan telah menjadi pemandangan yang biasa bagi setiap pendaki. Bahkan setiap pendaki yang datang ke gunung adalah salah seorang penyumbang sampah untuk gunung yang dikunjunginya.

Seorang teman saya pernah berkomentar pedas mengenai kondisi Gunung Gede di Bogor Jawa Barat yang merupakan gunung paling sering didaki di Indonesia. Ia bilang Gunung Gede sudah seperti Bantar Gebang, sampah berserakan dimana-mana. Walaupun banyak volunteer yang kerap kali mengadakan acara Bersih Gunung, namun permasalahannya tetap sama sampah kembali hadir di gunung untuk waktu-waktu seterusnya. Lain lagi dengan GunungCiremai, masih di Jawa Barat, di sepanjang jalur pendakian  terutama jalur Linggar Jati, maaf, air kencing yang dibungkus plastik dan  botol minuman bergelantungan di pohon-pohon seperti halnya kelelawar.

Di Gunung Rinjani Pulau Lombok yang terkenal dengan keindahan Danau Segara Anak, sampah terus bertambah bagai rerumputan yang tumbuh di savana. Tidak adanya tempat pembuangan sampah menjadikan para pendaki seenaknya saja membuang sampah di sepanjang jalur pendakian.  Walau tentu tidak semua karena masih saja ada para pendaki yang secara sadar membawa turun kembali sampah-sampah yang ia bawa.

Tak jauh bedanya Gunung Kerinci di Jambi, Gunung Sibayak & Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Slamet, Sindoro & Sumbing di Jawa Tengah, Gunung Bromo, Semeru, Arjuno & Welirang di Jawa Timur, semua mempunyai catatan yang memilukan tentang sampah. Bahkan Gunung Daik yang ada di Pulau Lingga Kepri pun menanggung permasalahan yang sama. Di sepanjang jalur pendakian masih saja ditemukan sampah-sampah plastik makanan ringan, permen, dan plastik mie instant.

Di Kepulauan Riau sendiri terdapat beberapa gunung yang sebenarnya berpotensi besar dijadikan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Gunung Daik di Pulau Lingga (1776 mdpl) dan Gunung Ranai di Natuna (1035 mdpl). Namun hingga saat ini masih belum terkonsep dengan jelas bagaimana manajemen dan pengelolaan gunung-gunung tersebut.  Padahal kedua-duanya mempunyai daya tarik dan karakteristik sendiri yang unik.  Tahukah Anda dengan sebuah pantun berikut?

”Pulau Pandan Jauh di tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang jua”

Dari pantun melayu yang penuh makna ini saja, Gunung Daik sudah sangat dikenal oleh masyarakat Malaysia dan Singapura. Saya pernah membaca sebuah blog pendaki dari Kuala Lumpur yang  berencana mendaki Gunung Daik. Di dalam blognya ia mengutip pantun di atas dan menceritakan bahwa pantun tersebut sudah dikenalnya sejak lama, sejak ia dalam buaian, sejak ia kanak-kanak. Betapa lama keinginannya terpendam untuk bisa berkunjung ke Gunung Daik yang melegenda, Gunung Daik yang bercabang tiga.

Lain halnya dengan Gunung Ranai Natuna. Keberadaannya sangat strategis, yakni menjadi salah satu titik tertinggi untuk memandang gugusan pulau-pulau di sekitar Laut Cina Selatan sungguh akan menjadi daya tarik luar biasa bagi para backpacker, pendaki, wisatawan, dan para penjelajah alam bebas.

Dengan diberkahinya negeri ini dengan rangkaian gunung-gunung yang bertaburan dari ujung Aceh hingga ujung Papua, tentu saja tidak menjadikan kita menganggap hal itu biasa saja lalu menyia-nyiakan keberadaannya. Pemanfaatan dan pelestarian alam yang maksimal seperti halnya pengelolaan gunung-gunung  di negara tetangga kita Malaysia, tidak saja akan menghasilkan keuntungan yang besar bagi daerah namun juga bagi negara, dan tentunya  akan menjadi warisan alam tak ternilai bagi generasi anak cucu kita kelak. Walau ada pepatah mengatakan ” takkan lari gunung dikejar”  namun jika kita tidak bisa menjaga kelestariannya dari sekarang masih bisakah generasi mendatang menyaksikan keanggunan dan kemegahan gunung-gunung yang ada sekarang? Bukankah bencana longsor di lereng-lereng gunung sedang marak terjadi akhir-akhir ini?

Nemu tulisan lama ini. Sayang dibiarkan mengendap, sekedar buat mengingat-ingat saya posting saja deh.
Tulisan ini juga pernah dipublikasikan di Harian Batam Pos pada tahun 2008.

6 komentar:

  1. Subhanallah. Pada hal itu gunung tak seberapa bagi pendaki tapi luar biasa penanganannya dan menjaga kelestariannya. Nggak ada sampaghyang sangat mengganggu mata. Semoga Indonesia bisa mencontoh kebaikan negara tetangga :)

    BalasHapus
  2. Iya Mbak, gunungnya nggak seberapa tinggi tapi pengelolaannya maksimal. Kita harus banyak belajar dari mereka

    BalasHapus
  3. Luar biasa memang negara tetangga dalam hal menangani sampah, pernah mendaki ke Kinabalu dan benar-benar terpesona sama serentetan peraturan ketat namun membuat gunung dan alamnya benar-benar bersih dan alami. semoga pengelola di Indonesia bisa belajar, bukan hanya sekedar menarik bayaran mahal tanpa kelola yang layak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, kadang heran kenapa hal yang baik begitu kita tidak bisa menirunya. Contoh dan teladan sudah banyak diajarkan negara-negara lain tapi kenyataannya kita tetap berkutat pada permasalahan yang sama. Pembuangan sampah di gunung yang menjadi-jadi dan tidak terkelola.

      Hapus
  4. Kadangggg kita memang harus belajar dari negeri tetangga yah mbak.
    aku pengen deh ngedaki gunung disana. namun apa daya, pasangan yang pas diajak kesana belum nemu **ehh curhat***

    BalasHapus
  5. Aku yang pingin naik gunung belum keturutan. Apalagi sampai ke gunung negeri tetangga.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...