Senin, 16 Maret 2015

Selfie di Puncak Gunung Sinabung

Menuju Puncak Timur Gunung Sinabung
Berada di puncak gunung itu selalu memberikan sensasi yang luar biasa. Terlebih bagi yang bisa berlama-lama menyaksikan seluruh peristiwa alam. Dari mulai matahari terbit hingga terbenam. Dari mulai fajar menyingsing hingga langit berpayung lembayung. 

Sayang, durasi keberadaan para pendaki di puncak gunung selalu terbilang singkat. Kebanyakan hanya beberapa jam saja. Bahkan ada yang kurang dari 1 jam. Sementara perjuangan menggapainya kadang memerlukan waktu berhari-hari. Bagi sebagian orang kadang hal ini tidak masuk akal sama sekali. sebagian lagi menganggapnya perbuatan iseng dan sia-sia. Bersusah-payah mendaki gunung lalu dalam waktu singkat sudah turun lagi. Iseng kaan? Apa sih yang dicari? capek-capekin badan aja!

Selain cuaca yang tidak memungkinkan bagi pendaki untuk berlama-lama di puncak gunung, kondisi kontur  yang curam dan sempit juga sangat riskan dan bahaya bagi mereka jika mendirikan tenda di sana.


Umumnya, camp site terakhir untuk camping/berkemah di sebagian besar gunung vulkanik di Indonesia berjarak lumayan jauh dari puncak gunung. Bisa berjam-jam jarak tempuhnya. Rata-rata 3 hingga 8 jam perjalanan. Contohnya seperti camp site Pos 3 di Gunung Kerinci, Kalimati di Gunung Semeru, dan Plawangan Sembalun di Gunung Rinjani. Namun ada juga beberapa yang camp site-nya dekat dengan puncak seperti Gunung Ciremay dan  Gunung Sinabung (sebelum meletus beberapa tahun terakhir).


Saat berada di Gunung Sinabung (2460 mdpl) saya merasa sangat beruntung dan cukup puas karena dapat menyaksikan seluruh kejadian dan persitiwa alam selama 24 jam di puncak gunung. Dan dengan penuh semangat membidikkan kamera pada setiap pemandangan yang terekam lensa mata.

Gunung Sinabung mempunyai dua puncak sebagai titik triangulasi. Yaitu puncak sebelah barat dan puncak sebelah timur. Sebagian teman saya menyebut puncak timur dengan sebutan Flash Gordon. Entah apa alasan penamaan tersebut. 


Titik tertinggi Puncak Timur Sinabung, Sempit dan Berbahaya
Umumnya para pendaki Sinabung naik hingga mencapai puncak  sebelah barat. Setelah itu turun beberapa meter ke sebuah dataran cukup luas untuk mendirikan tenda dan menginap satu malam. Keesokan harinya baru turun gunung. Sedangkan puncak sebelah timur jarang sekali didaki. Selain puncaknya berupa pilar-pilar vertikal 90 derajat juga jalur menuju ke puncak tersebut harus melalui gigiran kaldera  yang berkawah aktif dan mengeluarkan asap belerang.

Karena saya orangnya suka tantangan, mendadak pagi itu keidean gila untuk menggapai puncak timur. Jadi, ceritanya nekatlah saya diam-diam menyusuri gigiran kawah puncak Sinabung. Begitu tiba di bawah pilar-pilar itu mendadak bingung bagaimana cara agar sampai di puncak karena bebatuannya berbentuk tegak lurus. Tingginya kira-kira 40 meter dari titik saya berdiri. Butuh tali dan teknik memanjat yang lihai. 

Sambil melihat-lihat ke sekeliling saya terus mencari-cari ide. Teringat beberapa waktu sebelumnya Bang Harley Bayu Sastha teman di komunitas milis highcamp pernah mendaki puncak ini dengan tangan kosong. Nah berarti saya pun bisa mendakinya. Walau ketakutan akan jatuh mulai hinggap. 


Dalamnya jurang di sisi kiri begitu menyeramkan dan gemuruh kawah aktif yang mengepulkan asap belerang di sebelah kanan juga sangat menggentarkan. Keputusan pun dubuat, saya akan terus memanjat. Melawan semua rasa takut dan ngeri yang membayangi. Kebetulan saya masih ingat teknik-teknik pemanjatan tebing yang diajarkan oleh senior-senior FPTI Batam. Meskipun saya hanyalah anak bandel yang jarang latihan.

Laaahaula...akhirnya saya paksakan menaiki pilar puncak perlahan-lahan dengan cara menyelipkan tangan dan kaki ke celah-celah bebatuan. Satu meter...dua meter....tiga meter... dan jantung saya hampir copot karena  batu yang saya pegang dan batu yang saya injak ternyata rapuh.  Satu tangan terlepas dan saya dalam posisi menggantung. Masya Allah....Astagfirullah. Dalam beberapa detik saya kehilangan kendali, menjerit kaget. Lekas-lekas saya mencari pegangan kembali. Namun begitu susah. Duh Ya Allah seumur hidup bahkan hingga hari ini, saya belum pernah merasakan kematian begitu dekat melainkan saat itu. Saat kehilangan kendali akan badan saya. Saat saya menggantung dan hampir jatuh. Saat di puncak timur Gunung Sinabung.

Dengan gemetar saya  mencari celah untuk menyelipkan badan diantara pilar-pilar puncak yang rapat. Berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Jantung berpacu kencang karena kaget, panik dan takut. Peluh pun bercucuran karena pemanjatan tersebut sangat menguras energi. Kedua hal itu membuat badan saya terasa lemas. Kalau saya tadi jatuh tak kan ada seorang pun tahu bahwa saya berada di lokasi ini. Hiksss...


Setelah beberapa menit beristirahat, perlahan saya melanjutkan memanjat menuju titik tertinggi. semakin ke atas semakin mudah untuk berpegangan. Dan setelah pemanjatan yang epic ini tibalah saya di puncak timur, di atas pilar-pilar Gunung Sinabung. Bahagianya luar biasa. Bersujud syukur lalu terduduk menikmati keindahan yang begitu jelas terlihat di sekeliling. Nun jauh di bawah sana, Danau Lau Kawar meliuk-liuk, tampak seperti jari-jemari tangan.

Selfie di Puncak Timur Sinabung, setelah hampir jatuh

Sekitar sepuluh menit  saya berada di puncak pilar. Dan dengan susah payah meletakkan kamera saku di atas bebatuan lalu men-setting otomatis. Namun sayang si kamera kurang stabil dan tidak bisa ditegakkan. Habis semua cara kecuali satu. Yaitu dengan tetap memegang kamera dan mengarahkannya ke wajah sendiri. Ah hasilnya jelek pun sebodo amat yang penting ada kenang-kenangan bahwa saya punya cerita seru saat menginjakkan kaki di titik ini. 


Saat itu saya mikir coba ada alat yang bisa mengarahkan kamera ke diri sendiri alias selfie. Dulu mah mana tahu istilah ini. Nah sekarang jaman heboh-hebohnya menggunakan tongsis saya selalu kefikiran memori ini. Saat berjibaku mencapai puncak dan bingung gimana cara mem-foto diri sendiri di Puncak Gunung Sinabung :D Seandainya tongsis sudah eksis  dari jaman dulu mungkin pemandangan di belakang foto jadul ini akan lebih terlihat nyata tidak putih seperti ini.


Kefikiran sih pengen beli apalagi petualangan ke puncak-puncak gunung lainnya sebetulnya belum berakhir. Hanya mengalami fase jeda sejenak mengurusi anak dan suami.Hehe. Terkadang jeda itu bisa diinterupsi oleh satu dua pendakian ke gunung. Dan saat mendaki gunung sendirian alangkah lengkapnya jika ada Selfie Stick alias tongsis yang menyertai. Bukan buat pamer ke orang-orang sih secara aku paling nggak suka selfie. Tapi buat kenang-kenangan seperti ini saja. *laaah pan dari dulu juga udah pernah selfie? *Jedotin pala ke batu.


Sesaat setelah foto-foto selesai,  tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dari seberang kaldera kawah. Tempat dimana tenda kami dan pendaki lainnya berada. Saya lihat beberapa pendaki berjejer di gigiran kawah dan meneriaki saya. entah apa yang mereka teriakkan. Saya tidak mendengarnya dengan jelas  karena bersahut-sahutan dan menjadi bergema. Saya mendadak panik lagi. Duh ada apa dan kenapa?

Saat turun bertemu teman dan langsung minta foto

Setelah turun ternyata ada beberapa teman yang menyusul dan katanya melihat saya berdiri di puncak Timur. Sebagian ingin mencoba juga. Namun apakah berhasil atau tidaknya, entahlah saya tidak memperhatikannya, saya terus kembali ke tenda karena badan terasa lemas.


Saat Sinabung meletus tahun 2013 silam hingga sekarang, saya pun terkenang akan puncak timur ini. apakah ia masih berdiri tegak? Apakah pilar-pilarnya masih berdiri kokoh? 


Sinabung bahkan statusnya masih Siaga level III, masih ada guguran lava pijar dari puncak dan mengepulkan  asap yang membahayakan hingga sekarang.


Pendakian Gunung Sinabung 17-18 Agustus 2004
Note: Nemu catatan perjalanan ke Gunung Sinabung di lemari buku. 




WARNING:
Jika ada foto yang kurang jelas, blur, noise, hazy, smoggy dan modelnya jelek sama sekali maka kesalahan bukan pada mata anda tapi pada kualitas foto yang sudah uzur termakan usia :D


Ini kisahku, mana kisahmu?

25 komentar:

  1. Ya ampuuun, hebat bangeeeeeet. Bener-bener suka iri kalo sama orang yang gemar mendaki *lirik mbak Dee. Dan itu puncaknya gak seperti gunung-gunung kebanyakan ya mbak. Antara ngeri dan cakep gitu lokasinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Yan, pokoknya tempatnya cakeeep banget. Puas berada di sana. Bangun pagi dini hari pun sama cakepnya. Begitu buka tenda, di depan mata, di pintu tenda berkelap-kelip jutaan bintang. Duh apa nggak mendadak jadi romantis kalau suasana seperti itu. Semoga Sinabung lekas tenang, agar saya bisa ke sana lagi :D

      Hapus
  2. Keren mak, selalu kagum sama yg suka naek gunung * kasih jempol

    BalasHapus
  3. Saya takjub melihat lautan awan itu. Luar biasa mbak Lina bisa melihat langsung dengan mata telanjangnya. Pendaki wahid ini mah!

    Jangan lupa beli tongsis kalo mau naik lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mbak Rien, iya lautan awannya seujung-ujung mata memandang. Seperti kapas. Rasanya saya pengen lompat-lompatan di sana :D hihi...tongsis belinya kalau kantong tidak krisis :D

      Hapus
  4. Wow teh lina udah mendaki sinabung. Keren!

    BalasHapus
  5. jadul kali ya mbak,, gile,,, awak 2004 msih klas 2 SMP... smpek skrg belom pernah nympek k puncak sinabung.. salut dah ama mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah SMP? ckckck....berarti ankatan saya adalah generasi yang sudah hampir mendekati punah :D

      Hapus
  6. Mashaa Allah.... salut ama Mbak Lina. ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak sudah berkunjung Mbak Ira.

      Hapus
  7. uwaaaa...keren banget mbak,udah sampai sinabung^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Han, jaman lagi nekat-nekatnya ini :)

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  9. Deg deg an waktu baca. Ikut tegang. Alhamdullilah ahirnya sampai juga diatas sana. Rasanya pasti luar biasa. ditunggu ccerita "seru" lainnya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak bahkan mengingatnya suka bergidik. Takdir saya ternyata masih bisa bernafas hingga hari ini.

      Hapus
  10. Wih ikut keringetan pas baca yg mo jatuh eh tapi agak lucu juga klo inget jaman dulu g ada tongsis :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, repot banget kalo jalan sendiri terus pengen foto2 :D Apalagi kameranya jadul juga, nggak ada settingan otomatis :D

      Hapus
  11. subhanallohhh apikeee mbaaaaaaa linaaaaa.... semoga terus diberi kesehatan untuk bisa berbagi banyak tempat indah dari atas sana yaaa.. *kapan ke ranu kumbolo????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin....makasih Mbak. Ranu Kumbolo ya, mmm...masih pengen mengunjungi tempat lain dulu, belum tahu kapan ke sana lagi.

      Hapus
  12. Teteh masih lebih beruntung.., punya foto selfie di puncak gunung.. Foto-foto saya jaman masih naik gunung dulu kebanyakan ada di kamera sekretariatan PA. Jadi gak punya dokumentasi. Rasanya sedih, gak punya kenangan... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kadang klo Dee nulis tentang yang dulu-dulu penasaran pengen lihat foto jadulnya kayak apa :) tomboy katanya ya? :D

      Hapus
  13. Ih keren2 ... eh kalo sekarang sudah ngak bisa di daki yaaa ???
    Btw modelnya jelek itu asli yaaa, bukan karna blur kan ??? hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah hahaha...dezing...tembakin peluru kaliber 9 mm. Itu aku kak itu aku. Fotonya yang jelek bukan modelnya. *Ralat ralat :D

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...