Sabtu, 07 Maret 2015

Tegal Alun, Surganya Edelweis di Gunung Papandayan

Salah satu sudut Pondok Saladah
Di antara rumpun-rumpun bunga edelweis yang sedang bermekaran di Pondok Saladah Gunung Papandayan, saya berdiri kebingungan. Apakah akan tetap melanjutkan perjalanan sendirian menuju Tegal Alun atau tidak. Rasanya nyali agak sedikit ciut mengingat suasana yang sepi dan cuaca yang agak mendung. Sedikit khawatir hari akan hujan karena saya tidak membawa rain coat maupun DSLR waterproof case untuk melindungi kamera DSLR saya dari air hujan. Padahal kalau sedang naik gunung begini baru deh terfikirkan betapa pentingnya bawa barang-barang tersebut. Cuaca memang kurang bersahabat akhir-akhir ini dan sudah memasuki musim penghujan.

Alasan lainnya kenapa hati sedikit ciut, karena saya sudah lupa jalur menuju Tegal Alun. Terakhir ke sana tahun 1999. Jaman masih centil sebagai gadis tingting :D  gimana nggak lupa coba udah belasan tahun begitu.


Rumpun Edelweis di Pondok Saladah
Pondok Saladah pun telah banyak berubah. Kolam dan sungai kecil tempat saladah tumbuh, kini sudah tidak ada lagi. Padahal jika kemping di tempat ini kami cukup bawa nasi, ikan asin, dan sambal. Lalapnya, ya saladah, metik sendiri di sini.

Pondok-pondok berdinding kayu yang entah untuk apa mungkin dibangun untuk berjualan  mulai mengotori pemandangan. Toilet yang bangunannya seperti drum berwarna hitam telah dibangun agar para pendaki tidak buang air sembarangan. BAB atau BAK. Tempat wudhu, cuci piring, cuci tangan juga dibuat dengan mengalirkan air pancuran dari selang-selang. Lantainya dialasi oleh batang-batang bambu yang disusun rapi. Sebuah pondok yang berfungsi sebagai mushola berdiri di dekatnya.

Diantara perubahan-perubahan itu tentu ada sisi baik dan buruknya. Silahkan pilih sendiri.

Saat kebingungan begitu, tiba-tiba ada dua orang pendaki yang melewati saya. Iseng saya tanya mau kemana. Mereka menjawab mau ke Tegal Alun. Alhamdulillah, akhirnya ada teman naik. Saya pun bergabung dengan mereka. Salah satunya bernama Ruli, ia mengaku bekerja di Bank BJB Tasikmalaya. Dari logat bicaranya jelas banget mereka itu orang Sunda. Maka mengalirlah bahasa sunda dari mulut saya. Asyiiik. Sudah rindu menggunakan bahasa sunda.



Tegal Alun

Setelah hampir satu jam perjalanan mendaki dari Pondok Saladah, melewati hutan mati, menaiki tanjakan curam (dikenal dengan sebutan Tanjakan Mamang), menerobos jalur di antara pepohonan cantigi yang berdahan rendah dan berdaun rindang, tibalah kami di Tegal Alun. Sebuah dataran luas yang terhampar bunga edelweis berhektar-hektar kini hadir di depan mata. Di sana, di sini, di sono, di situ. Aaah...pokoknya di sekeliling hanyalah rumpun-rumpun edelweis yang bunganya sudah bermekaran. Sebagian telah mengering untuk memulai siklus kehidupan dari awal lagi.

Tegal Alun
Tegal Alun, Surga Edelweis

Saat di Pondok Saladah saja, saya dan dua teman baru dari Tasikmalaya tadi dibuat kalap oleh mekar dan rimbunnya edelweis. Dan ternyata di Tegal Alun ini berkali-kali lipat banyaknya dibanding dengan yang di Pondok Saladah. Ruli sampai berteriak-teriak kencang sekali. Ia terlihat sangat bahagia. Menurutnya ia telah bertahun-tahun memendam keinginan untuk mengunjungi Tegal Alun, dan baru tahun ini terlaksana. Padahal Garut - Tasik hanya beberapa puluh kilometer saja.


Kuncup pakis belum mengembang

"Aaaaah....." teriak Ruli lagi. Saya dan teman Ruli hanya senyum-senyum saja. Biarlah ia meluapkan rasa senang itu dengan caranya.

Waktu menunjukkan jam satu siang. Cuaca terlihat sedikit mendung. Namun di bagian sisi yang lainnya matahari bersinar cukup terang. Ya seperti inilah cuaca di gunung. Tidak pernah menentu. Kadang terang kadang mendung. Kadang berkabut kadang benderang. Bahkan di Kawah Papandayan yang saya lewati pagi tadi langit tampak begitu biru jernih.

Edelweis kini Ligar dan Liar

Ruli dan temannya duduk-duduk di bawah rindangnya bunga edelweis. Mereka sedang menghangatkan air untuk membuat kopi. Teman Ruli lalu meletakkan tripod di tengah-tengah lapangan dan mensetting kamera sehingga menyala otomatis. Ruli duduk bersila sambil mengangkat mug kopinya. Dan itulah inti kedatangannya ke sini. Sebuah kejadian yang ia telah bayangkan dan idam-idamkan sebelumnya. Duduk berfoto sambil minum kopi di tengah -tengan Tegal Alun.


Tegal Alun
Men-setting otomatis untuk foto bersama



Saat musim penghujan rumput-rumput di sini hijau menggoda bak lapangan sepak bola. Namun kemarau yang baru saja terlewati membuatnya kering kerontang. Namun tetap saja keindahannya tetap terasa.

Setelah Ruli selesai dengan pose idamannya. Kami bertiga berfoto bersama. Ketawa-ketiwi seperti yang sudah kenal lama. Hari itu Tegal Alun milik kami. Seluas-luas ini cuma ada kami bertiga.

Jam dua siang, dengan berat hati  kami  meninggalkan Tegal Alun. Belum puas rasanya menghirup aroma edelweis dan mengamati merahnya pucuk-pucuk cantigi di sini. Namun apa daya waktu jua yang bergulir menuju senja. 
Tegal Alun
Ruli dan temannya


Note:

1. Dilarang menginap, mendirikan tenda, atau kemping di Tegal Alun. Menginap hanya diperbolehkan di Pondok Saladah.


2. Menuju Tegal Alun: Dari Terminal Guntur Garut naiklah angkot jurusan Cikajang atau bis jurusan Pamengungpeuk/Bungbulang atau menuju Garut Selatan lainnya. Turun di Cisurupan dekat lapangan bola. Di sebrang jalan langsung terbaca plang menuju kawasan Gunung Papandayan. Pada pintu masuk banyak ojek atau mobil colt bak sewaan. Ojek seharga 20.000 rupiah sekali jalan. Kalau colt bak 200.000 rupiah per mobil. Kalau rame-rame misal ber-20 orang bisa bayar 10.000 rupiah per orang.

3. Dari lapangan parkir (Camp David) Gunung Papandayan, terus naik ke Pondok Saladah kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan jalan santai melalui kawah yang luas. Pakai masker untuk menghindari mencium aroma belerang yang menyengat. Dari Pondok Saladah naik lagi mengikuti jalur dan petunjuk yang sudah ada menuju Tegal Alun. Lama tempuh 1-2 jam tergantung kecepatan jalan anda.

4. Tiket masuk kawasan Gunung Papandayan Rp. 5.000 hari biasa dan Rp. 7.500 pada hari sabtu dan minggu. Saat memasuki jalur menuju Pondok Saladah juga dipungut biaya kebersihan seikhlasnya.

40 komentar:

  1. Wuiih cakep beneeer. Mau banget ke sini >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segera masukan ke dalam wish list Cek Yan haha..

      Hapus
  2. kalo dilihat dari jauh, Edelwesi kok kayak semak ya kakak, hahaa
    tapi pas di-shoot dari jarak dekat, nah itu cakep banget kak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Eqi, sebenarnya edelweis ini nggak cantik-cantik amat sih masih kalah sama kecantikan mawar anggrek melati dan bunga2 lainnya. Tapi kharisma dan julukannya sebagai bunga abadi inilah yang bikin orang penasaran.

      Hapus
  3. Pengen ke Pondok Saladaaaah.....

    BalasHapus
  4. Duh, Racun nanjak Nih. Bikin gatel kaki untuk mendaki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Garukin kaki mbak Zulfa pakai skop :D

      Hapus
  5. uwaaa....bener2 lautan edelwis ya mbak^^

    BalasHapus
  6. walah edelweiss, bunga keabadian :)
    udah lama buanget mengidolakan bunga yang satu ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. edelweis tidak boleh dipetik dan dibawa pulang ya :D cukup difoto-foto aja

      Hapus
  7. Saluuut pake bingiiit pada keberanian Mbak Lina mendaki gunung sendirian. Mbak memang benar-benar pecinta alam sejati? *kasih jempol empat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. jauh dari kata sejati Mas, mendaki gunung saja masih takut-takut kok :D

      Hapus
  8. cakep yaa pemandangannya...tapi ngga kuat lagi deh nanjak-nanjak hihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga sebenarnya udah nggak kuat Mbak. Ke gunung ini aja udah pincang-pincang jalannya karena sebelumnya sudah mendaki Gunung Guntur dan ada urat di lutut yang ketarik :( Alhasil sakitnya hingga sekarang. Bahkan sudah berlalu berbulan-bulan.

      Hapus
  9. Cakep banget padnag edelsweisnya, Mbak. Duh... dah lama gak mendaki seru kayak gini. ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak dulu pernah mendaki juga ya? Waaah kalau saya belum mau berhenti ini. Nggak tau kenapa. Kata orang sih mungkin sudah menjadi passion saya dan bukan lagi sekedar hobby :D

      Hapus
  10. Benar-benar surga edelweis *takjub* *speechless*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto-fotonya kurang merepresentasikan kondisi sesungguhnya Mbak. Sungguh beda dan serasa berada di negeri antah berantah.

      Hapus
  11. Meski tinggal di Jabar, aku belum pernah sama sekali ke papandayan *tear*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat mendaki ringan-ringan saja bolehlah ke sini Neng. Nggak berat kok jalurnya. Bandung - Garut cuma 3 jam kan ( klo nggak macet :D)

      Hapus
  12. Superwoman nih mbak Lina. Mendaki gunung sendirian butuh nyali gedeeee. Bener-bener nggak kebayang deh. Bunga edelwies menurut mitos nggak boleh dipetik ya mbak? Cantik banget view-nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan menurut mitos, tapi memang edelweis termasuk tumbuhan yang dilindungi oleh negara sehingga tidak boleh dipetik dan dibawa pulang.

      Hapus
  13. Bos kantor barusan ndaki gunung ini bbrp minggu lalu.. I will soon :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh kenalin dong sama bosnya Mas biar kita bisa daki gunung bareng :D

      Hapus
  14. satu kataaaaaaa : Subhanalloooohh

    apikkkk bangetttttttt....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Seandainya fotoku bisa lebih profesional, pemandangannya akan lebih spektakuler lagi. Sayang saya cuma amatiran :(

      Hapus
  15. ya ampuun edelweis nya...... kereeen :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan rasanya saya pengen guling-guling nari India di sana qiqiqi...

      Hapus
  16. Betul sekali, tegal alun memang kereen.!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan harus tetap dijaga selamanya. Tetap menjadi wilayah konservasi. Jangan biarkan ada yang nge-camp di Tegal Alun.

      Hapus
  17. Pemandangannya luar biasa, perjuangannya ke tegal alun juga ekstra.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Tapi perjuangan yang ekstra terbayar sudah saat tiba di sana.

      Hapus
  18. Itu tiket masuk sehari atau mau beberapa hari juga tetep bayar nya segitu ???

    BalasHapus
  19. Sekarang sudah dikelola swasta, untuk izin camp 1 malam harus bayar 65.000/orang

    BalasHapus
  20. Cuakep juga ya... belum pernah nih ke papandayan..

    BalasHapus
  21. terimakasih bos buat infonya dan semoga bermanfaat

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...