Thursday, April 30, 2015

Pendakian Memperingati 200 Tahun Meletusnya Gunung Tambora [Part 2]

Pos 1 Jalur Pendakian Dusun Pancasila, Gunung Tambora

Pos 1
Waktu beranjak sore. Dan gerimis yang rintik-rintik mulai menebar galau di hati para pendaki yang sedang beristirahat di Pos 1. Sebagian besar bingung mencari tempat berteduh sementara shelter (pondok perhentian) sudah penuh dengan keril dan orang-orang yang terlebih dahulu tiba di sana. Beruntung saat tiba, kami mengenali dua orang diantara beberapa yang berteduh itu. Bang Man dan Bang Han. Dua orang pendaki dari Kuala Lumpur Malaysia yang kami kenal saat sama-sama menunggu jemputan di Bandara Lombok. 

Melihat mereka ada di antara deretan keril, saya langsung SKSD. Sok Kenal Sok Dekat. Dan langsung mempraktekkan Bahasa Melayu yang saya pelajari tiap kali nonton Film Upin-Ipin :D Bang Man dengan mudah mengenali kami. Tapi Bang Han yang saat itu sedang duduk agak jauh dari Bang Man belum ngeh juga siapa kami. Hiksss... Bang Han loading-nya lama. Dia menatap saya dan Marita penuh heran. Ooooh come on Bang Han. We are beautiful women from Batam Island.

"Halo Bang Han!" Saya menyapanya penuh senyuman. Bang Han mengerutkan kening. Mencoba mengingat-ingat siapa saya. Dalam hatinya mungkin ia berkata Siapa Lo? Janda bukan perawan bukan. *Plaak. Eh dia kan nggak bisa Bahasa Betawi. Oooh mungkin begini nih kata dia. Macam mane awak kenal ay? Pyuuh...tatapannya itu, sepertinya ingatan dia belum berhasil menarik balik memory kemarin siang. Mungkin harus dikasih Ayam Taliwang dulu nih baru bisa mengingat kami.

Monday, April 27, 2015

Pendakian Memperingati 200 Tahun Meletusnya Gunung Tambora

Lapangan Dusun Pancasila
Hujan deras mengguyur Dusun Pancasila di kaki Gunung Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kami berkumpul di sebuah booth (stand) yang tidak digunakan untuk repacking. Menyusun kembali barang-barang bawaan dan mengambil raincoat masing-masing. 

Sudah satu jam berlalu tapi hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Karena khawatir kesorean, kami pun memutuskan untuk tetap berangkat ke pintu rimba (pos kebun kopi) dengan menggunakan jasa ojek dengan membayar ongkos sebesar 50 ribu rupiah per motor.

Adapun jalur pendakian Gunung Tambora dari Dusun Pancasila yang akan kami lalui adalah sebagai berikut:

Dusun Pancasila  – Pintu Rimba/Pos kebun Kopi (673 mdpl) – Pos 1 (1200 mdpl) – Pos 2 (1280 mdpl) – Pos 3 (1600 mdpl) – Pos 4 (1900 mdpl) – Pos 5 (2080 mdpl) – Puncak (2851 mdpl).


Jarak tempuh dari masing-masing perhentian (shelter) mengikuti kecepatan tim kami adalah:
Dusun Pancasila – Pintu Rimba 20 menit (menggunakan ojek)
Pintu Rimba – Pos 1 = 3 jam
Pos 1 – Pos 2 =  2,5 jam
Pos 2 – Pos 3 =  2,5 jam
Pos 3 – Pos 4 =  2 jam
Pos 4 – Pos 5 =  1,5 jam
Pos 5 – Puncak =  3 jam (kecepatan saya dan Yuni)

Jalan Becek menuju Pintu Rimba

8 unit sepeda motor yang digunakan sebagai ojek, berkonvoi beriringan membawa 7 pendaki dan 1 orang porter. Dengan lihai ojek-ojek itu melaju menyusuri jalan tanah yang licin dan becek di antara area perkebunan kopi yang rimbun. Sepanjang jalan tak henti-hentinya saya mengarahkan kamera tablet ke kanan-kiri jalan. Terpesona dengan butir-butir biji kopi yang bergerumul di sepanjang ranting-rantingnya.

Pada beberapa lokasi, kebun kopi diselingi batang-batang pohon tinggi dengan bunga berwarna kuning. Cantik dan menarik. Saat saya tanyakan kepada si Bapak tukang ojek, beliau menjawab tidak tahu. Duuuh sedikit kecewa.

20 menit kemudian kami tiba di pintu rimba. Titik yang menjadi start memasuki kawasan hutan Gunung Tambora. Beberapa warga tampak membuka warung dadakan dengan menjual mie rebus, makanan dan minuman ringan. Warungnya ramai oleh para pendaki yang akan naik maupun turun.

Kami berkumpul dan memanjatkan doa bersama-sama. Agar perjalanan kami dilindungi oleh Allah SWT. Berharap semoga tidak ada sesuatu hal yang menghambat dalam pendakian ini. Naik dengan selamat dan turun juga dengan selamat.

Saya excited. Selalu saja seperti itu setiap kali akan mendaki gunung. Namun kali ini perasaan itu lebih membuncah lagi. Inilah gunung yang letusannya paling dahsyat yang pernah tercatat oleh sejarah manusia. Berada pada skala 7 dari 8 VEI (Volcanic Explosivity Index). Dan memakan korban jiwa sedikitnya 71.000 jiwa. Sebagian lagi menyebutkan mencapai 91.000 jiwa. [1]

Tim Pendaki Tambora dengan Para Pengojek di Pintu Rimba
Saya membayangkan tanah yang saya pijak ini, 3 hingga 5 meter ke bawah adalah sebuah kuburan massal dari dua buah kerajaan yang hilang karena letusan dahsyat Gunung Tambora pada 10 - 11 April tahun 1815. Kerajaan Pekat dan Kerajaan Tambora. Tepat 200 tahun yang lalu. Letusan yang mengubah iklim dunia. Yang menyebabkan tahun tanpa musim panas di Eropa setahun setelahnya. Menyebabkan gagal panen dan kelaparan merajalela. Epidemi tipus juga mewabah di Eropa tenggara dan mediterania. Sehingga menewaskan sedikitnya 100.000 jiwa.

Dengan beriringan kami berjalan satu per satu menyusuri jalur setapak yang membelah kebun kopi yang kemudian tersambung dengan hutan dengan pepohonan tinggi dan canopy yang rapat. Semakin jauh satu per satu tim tercerai –berai mengikuti ritme dan irama berjalan masing-masing. Beberapa kali beristirahat dengan menselonjorkan kaki, menarik nafas dalam-dalam atau membungkukkan badan dengan memegang lutut.

Waktu sudah beranjak pukul 2 siang. Dan kami semua belum makan siang. Pantas saja tenaga agak loyo dan mata kunang-kunang. Beruntung belum muncul bintang-bintang :D Bisa berabe kalau begitu. Kami pun break makan siang. Apa yang ada  kita makan. Kebetulan Kang Asep membawa Pie buatan istrinya dengan rasa coklat durian. Langsung dibagikan satu per satu. Enak dan bikin nambah lagi. Alhamdulillah segitu saja telah menjadi cadangan tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Pos 1.

Tim bergerak lagi. Dalam pergerakan naik, mulai terpencar dengan jarak yang tak terlalu jauh. Namun tanda-tanda tim tidak akan utuh lagi sudah mulai terlihat. Bang Arief dan Kang Asep mulai tertinggal jauh. Porter kami Pak Midun tetap setia menyertai mereka.

Bang Ming pun khawatir dan menyusul ke belakang. Bang Arief  kemungkinan besar kecapekan setelah lebih dari 12 jam mengendarai mobil. Sedangkan Kang Asep mengalami kram di kaki dimana sebelumnya pernah mengalami kecelakaan saat bermain basket. Dan kini kram itu mulai mengganggu pergerakannya.

Pos 1 Tambora 

Karena waktu beranjak sore, saya, Yuni, Kiki, Marita dan Bang Ming tetap melanjutkan perjalanan pelan-pelan hingga tiba di Pos 1. Beberapa belas menit kemudian tim menjadi lengkap. Di Pos 1 kami beristirahat sejenak untuk sholat dan makan sebelum melanjutkan ke pos berikutnya..

Baca juga cerita menggapai puncak Tambora

Note:
[1] Kompas Media Nusantara. 2015. Tambora Mengguncang Dunia. Jakarta. hal.30

Saturday, April 25, 2015

Teammate Gunung Tambora

Saat nunggu antrian di counter check in Senai Airport Johor, mata saya mendadak tertuju pada 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan yang menggemblok keril (carrier). Mereka memakai pakain casual dengan keril dan daypack digemblok depan belakang. Mereka memang beda. Pokoknya beda banget sama gaya calon penumpang lain yang bawaannya travel bag, tas jinjing, dan kardus-kardus berlapiskan karung juga lakban. Fikir kami pasti nggak jauh-jauh mereka ini kalau nggak naik ke Gunung Rinjani paling-paling mau ke Gunung Tambora. Wuaaa.... sama dong kayak kami. Mau naik ke Tambora juga.

Pandang-pandang saling memandang. Diantara kami dan mereka hanya saling memperhatikan. Tak ada satu pun yang berani bertegur sapa. Ditambah lagi saya sibuk, mendadak disuruh wara-wiri untuk web check in di mesin dekat pintu masuk. Jadi balik lagi keluar, dan melewati pemeriksaan x-ray. Halaaah. Hingga calon penumpang satu pesawat ludes selesai check in semua, saya masih grasak-grusuk sendirian. Marita teman jalan saya dari Batam, sudah duluan naik ke waiting room sekalian sholat subuh.

Penyebab saya susah web check in adalah karena semenjak 25 Februari 2015 Passenger Service Charge (PSC) alias Airport Tax untuk bandara-bandara di Indonesia dimasukkan ke dalam tiket. Nah karena tiket pesawat ini saya beli hampir setahun lawas jadi airport tax-nya belum masuk ke dalam tiket. Saya dikenakan  surcharge sebesar 150 ringgit. Karena Chila dan ayahnya batal ikut maka yang saya bayar hanya 50 ringgit saja.

Pilot Air Asia mengumumkan bahwa penerbangan Johor Lombok akan ditempuh dalam waktu 2 jam 40 menit. Lumayan bisa bobo-bobo cantik sebentar dalam pesawat. (ih bawaannya molor mulu nih. Jitak kepala sendiri :D)

Pukul 09.40 pesawat landing di Bandara Internasional Lombok. Kali ini saya benar-benar memperhatikan cara landing pesawat. Gara-gara oktober tahun lalu saat naik Garuda landingnya muluuuuus....banget. Nggak terasa ada perpindahan dari udara ke darat. Tau-tau pesawat sudah ngerayap perlahan di landasan. Nah saking terkenangnya jadi mulai suka banding-bandingkan :) Tapi ternyata pesawat Air Asia ini landing agak kasar dan terasa ada hentakan dengan landasan. Sama dengan pilot pesawat lainnya selain Garuda. Kesimpulannya, pilot Garuda memang masih yang terbaik lah.

Menunggu di Bandara Lombok. Foto nyolong dari Facebooknya Haidar :D 
Setelah mengambil bagasi, tiba-tiba ada WhatsApp masuk dari Kang Asep Norman, teman dari Mataram yang akan menjemput dan menyertai kami mendaki Tambora. Kami disuruh menunggu karena ia mendadak harus mengantar temannya ke UGD. Hah ada apa ini? Saya jadi khawatir. Apalagi saat menelponnya berkali-kali pun tidak diangkat. Duuh.


Ketika akan mampir ke toilet kami berpapasan dengan salah seorang cowok yang bawa keril saat check in di bandara Johor tadi. Ia langsung menyapa kami dengan ramah. Namanya Haidar asal Johor. Cerita punya cerita ternyata ia dan rombongannya akan mendaki ke Gunung Tambora juga. Waaaah....senangnyaaaaa. Ia pun menyuruh kami bergabung dengan timnya yang sedang menunggu satu orang lagi dari Surabaya. Saya dan Marita segera menuju hall bandara sedangkan ia lanjut ke toilet. Katanya mau mandi. Duh jadi malu hati. Kami pun belum mandi karena berangkat dari hotel subuh dini hari. Barangkali penumpang satu pesawat tadi kebanyakan pada nggak mandi. Terbukti saya sukses mual-mual saat melewati beberapa cowok di kompartmen pesawat. Mereka mandi nggak sih?

Kami langsung menuju tempat yang ditunjuk oleh Haidar. Bergabung dan berkenalan dengan teman-temannya sambil menunggu jemputan masing-masing. Duduk-duduk nggelosoran di lantai sembari ngobrol dan foto-foto. Tetap dong berselfie dan berwefie bersama belum habis masanya. Narsis di bandara tidak diharamkan kaaan? Puas foto-foto mulai deh sibuk dengan koneksi wi-fi bandara yang hanya satu bar. Upload foto di sosmed sambil ngemil-ngemil gembul.

Karena masih agak jetlag, saya rasanya pengen yang hangat-hangat di perut gitu untuk ngilangin laper dan mual. Untung saja dengan rajin, Marita segera membeli roti O dan hot chocolate di salah satu kedai roti dekat pintu keluar. Duh rasanya enak banget ke perut. Apalagi waktu menunjukkan pukul 12.10 waktunya makan siang untuk Indonesia Bagian Tengah :D Makan siang mendadak terlupakan setelah nyeruput hot chocolate.

Jam setengah dua, handphone berbunyi. Kang Asep menelpon dan mengabarkan sudah berada di parkiran. Setelah pamitan pada rombongan dari Malaysia, saya dan Marita segera cabut menuju pintu keluar. Sempat celingukan dan ragu apakah saya masih mengenali wajahnya setelah hampir 13 tahun nggak ketemu. Namun baru saja keluar dari pintu bandara saya langsung melihat seseorang bergerak mendekat dan tadaaaa....saya masih mengenalinya. Alhamdulillah.

Tiba di mobil saya sempat heran.Ternyata sudah ada 3 orang lainnya yang menunggu. Mereka teman-teman Kang Asep yang akan ikut kami bersama mendaki Gunung Tambora. Horeee....jadi rame. 1 orang lagi naik dari daerah Lombok Timur. Genap kami bertujuh dalam pendakian ini. Nah sodara-sodara sebelum cerita ini berlanjut ke perjalanan mendaki Tambora, ada baiknya kita mengenal satu per satu rekan setim dalam perjalanan ini yuk:


1. Saya sendiri. Lina W. sasmita. Nggak mau kelewat dong mengenalkan diri. Nah saya ini orangnya jatuh cinta banget sama gunung. Sejauh apa pun saya pergi, sepanjang apapun jalan yang saya lalui, sebanyak apa pun lokasi yang saya kunjungi dan seberapa luas laut yang saya sebrangi, gunung adalah sesuatu yang menjadi tumpuan dan tujuan utama. Gununglah yang selalu membayangi mimpi-mimpi. Yang rajin menyambangi setiap imagi. Yang datang dan pergi silih berganti namun terpatri rapi dalam hati. Yang terus menjadi kerinduan pada terang siang dan gelapnya malam. Nah kaan kalau bicara tentang gunung, saya suka mendadak puitis gitu deh. *usap ingus.

2. Marita. Adik angkatan di komunitas Pecinta Alam Cumfire Batam. Asal dari Jogjakarta. Umurnya terpaut 10 tahun lebih muda dibanding saya. Sering kejedot kayu yang melintang di jalur pendakian, pintu mobil, pintu rumah atau sejenisnya. Saya hitung-hitung tak kurang dari tujuh kali ia kejedot terus. Untung jidatnya tahan banting dan antri pecah :D Pulang dari mendaki dan island hopping ini ia mempunyai program perawatan wajah ke salon. Karena e karena wajahnya gosong terbakar sinar UV A dan UV B. udah gitu kasihan, punggung tangannya terkena tumbuhan berduri "jelatang" yang gatal dan sakitnya nggak hilang hingga dua bulan ke depan. *pukpuk Marita. Yang sabar ya :D

3. Asep Norman Tanjung. Nick name di facebooknya Ncep Tanjung. Dan kini diembel-embelin Shelter Adventure di tengah-tengah namanya. Ini dikarenakan ia membuka tempat penyewaan alat-alat mendaki gunung di Mataram. Jadi yang mau mendaki ke Rinjani dan nggak mau ribet bawa barang dari tempat asal silahkan saja menghubunginya di WhatsApp dengan nomor 08175743284. Beliau ini teman lama saya dan jadi host saya dan Marita selama perjalanan ke Tambora. Orangnya baik. Baiiiik banget hingga kami bisa menekan budget seminim mungkin gara-gara ia selalu bayarin. Hahah teman kayak gini nih yang asyik buat diajak backpackeran. Bisa hemat kantong dan gemukin badan. Sering-sering aja ya Kang Asep :D



4. Arief Firmansyah. Teman kuliahnya Kang Asep Norman jaman dulu kala. Seorang seniman Lombok. Orangnya rame, kocak dan supel. Telah mengunjungi sebagian besar wilayah di Indonesia. Ia yang menyetir mobil dari Lombok hingga Desa Pancasila di kaki Gunung Tambora. Mungkin karena kecapekan nyetir, Bang Arief hanya kuat sampai pos 1. Sehingga kami suka tidak suka meninggalkannya di sana selama dua hari. Kayaknya Bang Arief harus ke Tambora lagi dengan menggunakan jalur Doropeti yang menggunakan jeep. Dari pos 3 pemberhentian jeep hanya butuh waktu 1 jam hingga mencapai puncak.

5. Ming Lombok. Adik angkatan Kang Asep di Universitas Mataram. Saya lupa nggak nanya nama aslinya. Tapi Bang Ming ini bahkan di kartu namanya saja tetap menyebut namanya Ming Lombok Rinjani Trekker. Ia kerap menjadi guide untuk pendakian Gunung Rinjani.  Rajin memasak dan cekatan. Selalu  menyiapkan makanan untuk kami tanpa diminta. Banyak ide dan penuh semangat. Meminjamkan saya jas hujan sementara ia sendiri basah kuyup kehujanan. Pendaki emang kudu begitu ya. Penuh rasa empati pada kaum perempuan. Ciyeee....

6. Ayuni Putri Utami. Panggilannya Yuni. Dokter muda lulusan Universitas Andalas Padang yang sedang ikut program internship di sebuah Rumah Sakit di Lombok. Ia yang paling kuat dan jarang ada masalah cedera atau sakit-sakit dalam pendakian. Jarang minum walaupun sudah ditawari berkali-kali. Tiba di Puncak Tambora bersamaan dengan saya.

7. Rizky Rahmaniyah. Pangilannya Kiky. Sama dengan Yuni. Ia juga dokter muda dari Unand yang sedang internship di Lombok. Asalnya dari Jakarta. Saya suka dengan gaya bicaranya yang manja. Kiky sempat kehabisan baju saat hari terakhir pendakian. Jadi mendadak beli baju baru ke supermarket di Dompu :D



Nah itu dia rekan setim dalam pendakian menuju Gunung Tambora. Alhamdulillah dapat rekan setim yang asyik-asyik banget.

Berangkat dari Bandara Lombok hampir jam dua siang dan tiba di Dompu pukul tiga dini hari. Tiga kali nabrak anjing. satu mati dua masih hidup tapi pasti terluka. Berkali-kali mau nabrak kerbau, sapi, kambing, kuda, yang malam-malam masih kelayapan di jalan raya. Hampir 12 jam perjalanan menyusuri Lombok Sumbawa ditambah beberapa puluh menit mampir makan siang yang dijama dengan makan malam di rumah makan Mae Cheng Go di daerah Masbagik, Lombok Timur.

Kami sempat menginap beberapa jam di rumahnya Mas Anto temannya Kang Asep di Kecamatan Kempo, Dompu. Pagi jam delapanan telah cabut ke Desa Pancasila. Melintasi daerah Doro Ncanga yang akan dijadikan tempat peresmian Taman Nasional Gunung Tambora oleh Presiden Jokowi keesokan harinya, yakni 11 April 2015. Tepat di 200 tahun meletusnya Gunung Tambora yang menggemparkan dunia. Letusan yang paling dahsyat dalam sejarah umat manusia di muka bumi. Yang membuat bencana laksana berantai di berbagai belahan benua.

Tiba di Dusun Pancasila suasana terbilang ramai dengan pendaki dari berbagai pelosok tanah air. Sebuah spanduk besar bertuliskan Tambora Menyapa Dunia terpampang jelas di tepi lapangan parkir. Bang Arief menepikan kendaraannya di parkiran. Dan, baru saja keluar dari kendaraan, kami disambut dengan guyuran hujan yang cukup deras. Alhamdulillah.









Thursday, April 23, 2015

[Review] Hotel Skudai Baru Johor Malaysia

Hotel Skudai Baru
Saya mengetahui hotel ini saat memesan online via Agoda. Memilih menginap di sana dengan pertimbangan karena murah dan lokasinya (menurut peta) dekat dengan Senai Airport Johor dibanding hotel lainnya. Namun sayangnya, hotel ini jauh dari jangkauan bis umum.


Kesan pertama memasuki bangunan hotel ini adem dan tenang. Bangunannya seperti bangunan ruko 3 lantai yang disulap menjadi deretan kamar. Pada bagian resepsionis dilapisi teralis besi. Saya melihatnya malah mirip dengan jeruji penjara.

Resepsionis
Seorang pria Tionghoa menyambut kami dengan wajah serius dan keheranan. Namun air mukanya mencair ramah setelah saya menyerahkan print out  voucher hotel serta passport. Ia pun tampak sibuk mencatat di sebuah buku lalu menyerahkan kunci kamar kepada saya. 

Lobby Hotel
Kamar hotel kami berada di lantai dua. Di dalamnya terdapat satu tempat tidur yang cukup lebar (ya iyalah ada tempat tidurnya :p), sebuah televisi, meja loker dan terpenting ada AC alias Air Conditioner. Lumayan sangat murah. Hanya 190 ribu rupiah untuk sekelas hotel dengan semua fasilitas gratis. Di Singapura harga segitu hanya dapat 1 tempat tidur kecil. Itu pun shared room model dormitory, di hostel lagi.

Semula saya berniat menginap di Tune Hotel. Tapi saat booking ternyata ribet banget dengan masalah add ons. Handuk sekian ringgit, Air Conditioner sekian ringgit, dst dst. Halaaah bukannya hemat malah jadi bengkak. Daripada ribet jadi pilih yang sekali klik langsung confirm.


Nah  yang nambah senang lagi di kamar hotel  terdapat cermin yang lebar. Jadi kalau lagi mencetin jerawat pakai kerudung bisa ngaca berdua sekaligus, nggak pakai rebutan sama Marita hehe.

Restoran India Buka 24 Jam

Karena capek melanda, selesai sholat langsung nyungsep tidur. Lumayan dapat istirahat sejenak. Bangun agak sore lanjut mandi. Karena malas ngeluarin peralatan jadi pakai handuk yang disediain hotel. Ini jelas tidak harus bayar sekian ringgit lagi. 

Selesai mandi dan dandan yang cantik, kami keluar cari makan. Makan siang yang dijama' dengan makan malam :D. Kebetulan tak jauh dari hotel, tepat di sampingnya terdapat sebuah restoran India yang buka 24 jam. 

Melihat menunya sempat bingung mau makan apa. Tapi tidak sekali pun bingung untuk minumannya. Sedari pagi, sejak di Batam,  sudah berniat memilih minuman yang satu ini. Yup, makannya boleh apa saja tapi yang pasti minum harus teh tarik. Nggak resmi rasanya berkunjung ke Malaysia kalau belum merasakan teh tarik langsung dari sumbernya :D

Nasi Lemak Ayam
Awalnya saya memesan Nasi Briyani. Namun pelayannya bilang sudah habis. Ya sudahlah beralih ke  nasi lemak ayam. Dihidangkan dengan campuran kacang tanah, telur setengah matang, goreng teri dan irisan mentimun. Saya hanya membayar 6 ringgit 70 sen untuk satu porsi nasi lemak ayam dan satu gelas teh tarik. Lumayan bersahabat untuk kantong backpacker. Masih kurang dari 25 ribu rupiah.

Setelah makan kami mendatangi resepsionis untuk minta di bookingkan taksi. Dan memberitahunya pesawat kami berangkat pukul 6.50. Ia pun mengontak seorang temannya yang berprofesi sebagai sopir taksi. Karena minta berangkat pukul 4 subuh, maka terhitungnya sama dengan tengah malam. Menurutnya sopir taksi meminta ongkos 70 ringgit. Widiiih mihiiil. Setelah kami tawar hanya mentok di angka 60 ringgit. Ya sudahlah kami terima daripada ketinggalan pesawat.

Selesai urusan dengan booking taksi, kami online sebentar di lobby hotel. Setelah itu beranjak tidur.

Pukul 4 subuh pintu kamar  diketuk. Saya dan Marita kebetulan sedang bersiap-siap. Tak menunggu waktu lama, setelah mengembalikan kunci kamar ke resepsionis, kami meluncur ke arah Bandara Senai. Hanya 20 menit saja, kami sudah tiba di bandara. Degdegan dengan petualangan yang akan dimulai. 

Tamboraaa..... We're coming!


Tuesday, April 21, 2015

Penyebrangan Ferry Batam - Johor

Dari sini kisah perjalanan selama 10 hari mengunjungi kawasan Indonesia Bagian Tengah dan Timur bermula. Perjalanan yang sudah dirancang setahun lalu ini hampir batal saat suami menyatakan tidak bisa berangkat karena urusan pekerjaan. Ini berarti tiga tiket pesawat terbang Air Asia pulang pergi Johor - Lombok untuk saya, suami, dan Chila akan hangus begitu saja. Hikssss.

Namun sesuai dugaan dan prakiraan :) suami tetap mengizinkan saya berangkat, sedangkan Chila anak semata wayang kami, menurutnya tidak perlu ikut dengan saya. Biarlah tetap bersamanya di Batam. Padahal sudah semangat mengajak Chila ikut serta. Duh mendadak galau. Soalnya ini pengalaman pertama ninggalin suami dan anak selama hampir dua minggu. Dan percaya deh, kalau sudah berkeluarga, jalan-jalan kelayapan sendirian itu berasa kosong dan hampa banget. Ingaaat... terus sama keluarga. So gimana mau happy ya kalau sebentar-sebentar khawatir mereka kenapa-kenapa. 

Sepertinya saya harus tetap mencari teman jalan. Dan Alhamdulillah, satu bulan menjelang keberangkatan, Marita, adik angkatan di komunitas Pecinta Alam, Cumfire Batam bersedia ikut. Ah nggak bengong banget gue. Ada teman yang bisa diajak ngobrol ngalor ngidul. Ada partner buat diskusi saat memutuskan sesuatu dalam perjalanan nanti. Horeee.

Atas nama penghematan, untuk mengunjungi beberapa sisi Indonesia ini kami berdua malah justru harus ke luar negeri dulu, numpang lewat untuk naik pesawat terbang dari Johor Malaysia menuju Lombok :)


8 April 2015 jam 8 pagi kami janji bertemu langsung di Pelabuhan Batam Center. Saya telat beberapa menit karena terjebak lampu merah di Simpang Jam sebanyak dua kali. Nunggu lampu merah padam itu rasanya kok lama banget. Saat ditanya ke suami katanya lampu merah di sini lamanya 5 menit. Ya ampuuun pantes saja. Tinggal dikalikan dua, berarti nongkrongin lampu merah saja sudah 10 menit.

Tiket Ferry Citra Indomas
Sesaat setelah tiba di pelabuhan langsung check in dan mendapat ferry yang berangkat jam 09.45. Sebelumnya kami membeli tiket ferry Citra Indomas dengan harga tiket 290.000 rupiah. Saya dibelikan tiket oleh suami dari agen di daerah Windsor. Sedangkan Marita beli di Anshun Travel di samping kantor pos Batam Center. Kalau beli di pelabuhan harus sehari sebelum keberangkatan dan langsung check in. Biasanya tiket yang dijual di pelabuhan lebih mahal bila dibandingkan dengan di agen. Selisih hingga 50 ribu rupiah. Lumayan besar bedanya. Kalau waktu luang sebenarnya lebih baik beli tiket di agen saja. Untuk tax Pelabuhan Batam Center kami membayar 60 ribu rupiah.

Beberapa nomor agen Ferry Citra Indomas bisa dihubungi di sini:

Simpang Anshun 0778-473999
First City 0778-466636
Puri Legenda 0778-8096096
Windsor 0778-459492
(ingat saya bukan agen dan tidak sedang iklan tiket ferry loh :D)


Tanpa halangan apa pun, beberapa puluh menit kemudian kami sudah duduk manis di kapal ferry. Udara yang dihembuskan AC dari atap ferry sempat membuat saya kedinginan. Namun untung saja sudah bersiap-siap mengenakan jaket. Sambil merasakan laju kapal yang membelah selat di perbatasan tiga negara, saya telah sibuk meminjam buku Rindu karangan Tere Liye dari Marita. Selain itu juga mempersiapkan cemilan seperti KitKat agar membaca bukunya lebih terasa afdol :D Lumayan buat pengganjal perut apalagi tadi paginya hanya sarapan susu. Kurang nendang ke perut :)



Dua jam perjalanan tanpa halangan apa pun kami tiba di Pelabuhan Stulang Laut, Johor Baru. Melewati pemeriksaan  imigrasi dan kastam (bea cukai) dengan lancar lalu keluar menunggu bis menuju JB Central. Sempat dirayu sopir taksi supaya menggunakan taksinya dengan ongkos 30 ringgit. Tapi setelah kami hitung-hitung sepertinya sayang banget ngeluarin uang sebesar itu. Harus ngirit dong. Baru saja perjalanan dimulai masa harus boros. Nggak apa-apa berberat-berat ria menggemblok keril mindahin dari satu bis ke bis lainnya, hitung-hitung warming up bagi tulang pinggang dan tulang punggung.


Hampir 15 menit menunggu, datanglah bis yang ditunggu-tunggu. Di kacanya tertulis salah satu tempat yang saya tuju, JB central. Setelah bertanya kepada sopirnya  untuk lebih meyakinkan diri sendiri, kami pun menaiki bis lalu membayar ongkos sebesar 1 ringgit 60 sen per orang.

Sessat keluar Pelabuhan ada land mark Berjaya Waterfront
Turun di JB sentral kami bertanya-tanya adakah bis menuju Skudai. Kawasan yang akan menjadi tempat kami menginap satu malam sebelum esok paginya terbang ke Lombok. Seorang laki-laki melayu memberitahu kami bahwa di sana tidak ada bis menuju Skudai. Tapi dari City Square yang letaknya disebrang  Bangunan JB Sentral. Menurutnya hanya satu menit saja berjalan kaki. Ternyata hampir 10 menit mutar- mutar akhirnya tiba di City Square.

Dari sebrang City Square kami menaiki bis yang melewati kawasan Skudai. seorang bapak-bapak bilang tidak ada bis yang melewati Jalan Ronggeng tempat dimana hotel kami berada. Kami perlu berjalan beberapa ratus meter dari pemberhentian bis. Setelah berdiskusi kami tetap naik bis tersebut dan mewanti-wanti sopir bis agar diturunkan di Kawasan Skudai dekat dengan Jalan Ronggeng.

Hampir setengah jam berlalu. Bis melaju melewati jalan mulus mirip tol. Tak ada bilboard, spanduk, banner, pamflet dan iklan apa pun di sepanjang jalan. Hanya foto Yang Mulia Sultan  Johor beserta istri saja yang beberapa kali terlihat di beberapa titik. Berkali-kali melaju hanya tulisan "Daulat Tuanku" yang ditemui di sepanjang jalan.  Lumayan menyejukkan mata. Tidak seperti jalanan di Batam yang setiap jengkal berjejalan iklan.

Kami diturunkan di sebuah halte. Dari beberapa nama jalan dan bangunan memang benar wilayah yang kami turuni tersebut adalah Skudai. Tapi dimanakah hotel tempat kami akan menginap?

Hari begitu terik dan tak ada seorang pun yang dapat kami tanyai. Setelah meletakkan keril dan menitipkan pada Marita, saya berjalan menyusuri jalan lengang di Kawasan Skudai. Beruntung seorang ibu-ibu memberitahu kami bahwa Jalan Ronggeng terletak di bangunan tingkat yang sudah tampak dari tempat kami bercakap-cakap. Ia menyarankan kami naik taksi.

Tidak apa-apa deh, naik taksi dari sini berarti tarifnya lebih murah. Kami pun mencegat taksi dan meminta sopir taksi yang sudah sepuh mengantarkan ke Jalan Ronggeng 2. Tepat di belokan Jalan Ronggeng saya melihat bangunan yang mirip dengan Hotel Skudai Baru yang saya booking di internet. Setelah memberitahukan sopir taksi ia segera menghentikan laju taksinya. Argo menunjukkan angka 10 Ringgit. Alhamdulillah nggak mahal-mahal banget.


Begitu mendekat di kaca bangunan hotel baru jelas terlihat tulisan Hotel Skudai Baru. Alhamdulillah bisa istirahat sebentar sebelum esok pagi terbang menuju Lombok.

Tuesday, April 7, 2015

Mencicipi Kue Gulung di Pulau Seraya, Batam, Kepri


Mencetak kue 
Pada pagi yang hangat, Chila dan Mardiyah, putri dari teman saya, berjalan bergandengan tangan melintasi pelantar kayu menuju dermaga ujung di Pulau Seraya, Batam. Meski awalnya Chila agak takut-takut, perlahan ia jadi berani melangkahkan kaki di kayu pelantar yang rapuh dan bolong-bolong.

Di dermaga, beberapa teman dan anak-anaknya sedang bermain-main. Ada yang bolak-balik melompat dan menceburkan diri ke laut, ada yang hanya action foto-foto, ada yang mendorong temannya untuk nyebur, ada yang memancing, dan ada juga yang hanya menonton keseruan mereka.

Karena khawatir Chila terjatuh, saya pun menyusul Chila ke dermaga. Belum pun jauh melangkah sudah tercium aroma  wangi kue yang membangkitkan selera. Terhirup begitu saja ke dalam hidung mengalahkan aroma laut yang berbau langu. Penciuman saya itu kemudian menuntun langkah ke halaman sebuah rumah di tepi pelantar.

Tiga orang ibu-ibu dan satu orang nenek tampak sedang sibuk mengolah adonan kue, mencetaknya dengan cetakan kue tradisional lalu memanggangnya dalam bara. Tak sampai satu menit kue sudah matang lalu diangkat. Kue yang baru saja matang  selanjutnya dikeluarkan dari cetakan, dibuang bagian tepi yang gosong dan langsung digulung menggunakan kayu silinder sehingga kue berubah bentuk menjadi gulungan. Saat saya tanya apa nama kue tersebut, si ibu yang sedang memegang kayu silinder menjawab kue gulung. Wujudnya mirip kue semprong  makanan kesukaan saya sewaktu kecil.

Panggangan kue

Karena ingin tahu lebih detail lagi proses pembuatannya saya langsung duduk manis di samping mereka. Sambil sesekali membantu menyusun kue ke dalam kaleng. Nantinya kue ini akan dijual ke Singapura. Satu kalengnya saja bisa dihargai ratusan ribu rupiah. Terlebih saat imlek atau perayaan hari besar Cina lainnya pesanan datang terus-menerus.

Si ibu yang duduk di samping saya kemudian memberikan kue yang baru saja digulungnya kepada saya. Dengan sedikit malu-malu, akhirnya mengiyakan tawaran untuk mencicipi kue gulung itu. Ah, siapa yang nolak dapat makanan gratis begini. 

Kue digulung di atas talenan

Saat membidikkan kamera secara auto ke arah panggangan, nenek yang sedang memanggang kue tiba-tiba melompat dan berteriak. Tangannya menyenggol beberapa cetakan kue sehingga terjatuh dari panggangan. Sinar blitz kamera rupanya membuat ia kaget. Saya mendadak tak enak hati lalu meminta maaf.  Namun ibu-ibu yang lainnya malah tertawa-tawa dan menjelaskan kepada saya kalau si nenek memang latah. Benar saja, berkali-kali saya memfoto kue, si nenek terus saja kaget dan berteriak-teriak. 

Ini hasilnya :D

Hampir setengah jam saya nongkrong bersama ibu-ibu pembuat kue gulung. Dari jauh Chila tampak asyik bermain-main dengan temannya. Jadi saya masih punya waktu untuk bertanya lebih banyak lagi. Kebetulan suami lewat dan ia juga tertarik untuk mampir melihat-lihat.

Selain usaha kue gulung, si ibu yang punya rumah ternyata menjual ikan dan hasil tangkapan para nelayan setempat. Saya dan suami memang telah berniat untuk membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Dan setelah si ibu bercerita kalau ia menjual hasil laut kami langsung menanyakan apakah ia punya rajungan atau tidak. Rajungan adalah sejenis kepiting yang hidup di laut namun memiliki kaki yang pipih untuk berenang.    

Kami  diajak ke samping rumahnya. Di sana terdapat beberapa bak penampung yang isinya berbagai jenis hasil laut. Ikan, sotong, udang, dan rajungan. Ikan pun begitu warna-warni dengan berbagai macam ukuran. semuanya  masih segar dan banyak yang masih hidup. Termasuk sejenis hiu kecil yang menarik perhatian kami. Hiu dengan kepala lebih mirip seperti ular. Hiu ini dimitoskan dapat mengobati anak yang masih suka ngompol.

Setelah adu tawar dan sepakat dengan harga tertentu kami pun membayarnya. Lumayan untuk dimasak saat tiba di rumah nanti. Sedangkan Chila masih saja bermain asyik dengan temannya. Waktunya kami menyusul dan mengajaknya turun ke laut yang sudah surut.

Baca jupa petualangan saya ke Pulau Panjang dan Pulau Bulan


Saturday, April 4, 2015

Pendakian Gunung Daik, Pulau Lingga, Kepri


Gunung Daik  Pulau Lingga
Pegunungan di Pulau Lingga

Pantun yang Melegenda



  Pulau Pandan jauh di tengah,
  Gunung Daik bercabang tiga
  Hancur badan dikandung tanah,
  Budi baik dikenang  juga

       Pantun melayu di atas tidak semata pantun yang berima dengan larik menarik dan bersajak. Secara tekstual dan faktual, sampiran pada larik pertama dan kedua pantun tersebut adalah benar adanya. Bahwa nun jauh di pedalaman perairan Kepulauan Riau, di Bumi Segantang Lada, terdapat Pulau Pandan dan Gunung Daik yang puncaknya bercabang tiga.


       Tak heran, masyarakat suku Melayu terutama yang bermukim di Malaysia, Singapura, dan Brunei banyak yang tertarik untuk membuktikan sendiri kebenaran pantun yang melegenda ini. Terlebih lagi Pulau Lingga, pulau penyangga dimana Gunung Daik bertahta, adalah tanah leluhur suku Melayu yang patut diziarahi. Sebab itu pula Pulau Lingga dijuluki sebagai Tanah Bunda Melayu. Julukan yang pantas disandang karena Daik Lingga pernah menjadi pusat Kerajaan Riau Lingga selama kurang lebih 120 tahun.


       Keterikatan akan masa lampau, persamaan akar budaya dan adat resam bangsa Melayu Nusantara, ternyata tak lekang oleh perceraian politik dalam sekat teritori dan batas lintas negara. Di tanah ini, para wisatawan negeri jiran begitu takzim menelusuri dan menyimak sisa-sisa kejayaan kerajaan yang masih melekat pada bukti sejarah berupa benda-benda cagar budaya seperti istana, makam raja-raja, perkakas, dan naskah-naskah kuno yang secara turun-temurun telah diwariskan dari generasi ke generasi.


       Walau tidak begitu dikenal oleh kalangan pendaki gunung di Indonesia laiknya Gunung Semeru atau Rinjani, Gunung Daik dengan ketinggiannya yang hanya 1.165 meter di atas permukaan laut (mdpl) justru banyak dikunjungi oleh para pendaki dari negeri-negeri jiran. Terkenalnya pantun tentang Gunung Daik tadi rupanya menjadi pemicu utama rombongan para pendaki untuk tetap datang bertandang.

Musium Linggam Cahaya

       Saya dan rekan-rekan yang bermukin di Pulau Batam pun tak mau ketinggalan untuk menjejakkan kaki di tanah leluhur suku Melayu ini. Sepertinya teramat merugi jika kami yang dekat dan berhampiran saja belum pernah berkunjung ke sana, sementara para pendaki luar negeri berdatangan silih berganti. Namun tentu  bukan itu alasan satu-satunya bagi kami mendaki Gunung Daik ini. Setitik asa terbetik di lubuk hati bahwa dengan mengenal lebih dekat wajah Daik Lingga sesungguhnya, maka kami akan semakin mengenal khazanah kekayaan alam dan budaya negeri,  semakin memupuk kecintaan kami kepada negara kepulauan bernama yang Republik Indonesia ini.





Perjalanan Laut Menuju Daik - Lingga

Mampir Pulau Singkep untuk ganti kapal

     Saya, Erni, Melan, dan Ipung dengan gaya masing-masing adalah paduan pertemanan yang unik bin aneh. Berantem terus tapi saling merindukan. Berdebat terus tapi saling mengiyakan. Memiliki kebiasaan, cara berpakaian dan gaya traveling masing-masing. Saya dan Melan cenderung casual, Ipung yang sangat tomboy, dan Erni lebih feminim alim dengan jilbab segi empat lebar. Namun semua itu tetap menyatukan kami dalam bingkai perjalanan menuju Gunung Daik. 



      Dengan menaiki kapal ferry dari Pelabuhan Telaga Punggur Batam, kami menuju ke Kota Tanjung Pinang di Pulau Bintan. Dari Batam, akses menuju Gunung Daik hanya dapat dicapai melalui kota ini dengan menaiki kapal cepat (speed boat) menuju Pulau Lingga. Dan itu pun tidak setiap saat ada. Kapal menuju Pulau Lingga dan sekitarnya hanya beroperasi pagi hingga siang hari saja. Begitu pun arah sebaliknya.




     Perjalanan menuju Pulau Lingga ditempuh  sekitar 4 jam dengan menggunakan speed boat.  Meskipun guncangan ombak agak kuat namun mata kami tak bosan-bosannya menatap ke arah luar. Mata kami selalu dimanjakan oleh pemandangan indah khas pesisir. Gerumbul gugusan pulau-pulau di kejauhan, pantai-pantai yang berpasir putih, hutan-hutan bakau yang rimbun, rumah-rumah khas penduduk, serta lambaian nyiur yang tertiup angin.



        Ada haru yang membuncah ketika pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Bunda Melayu ini. Mata terus saja jelalatan mencari menerka-nerka dimanakah Gunung Daik berada. Namun pemandangan di sekitaran membuat semakin penasaran. Gunung-gunung tegap berdiri seperti saling melindungi. Merambatkan getar-getar aneh yang menegakkan bulu roma. Sementara kabut perlahan menutupi puncak-puncaknya, seakan tak ingin menyingkap tabir kisah yang ada di dalamnya.


Pelabuhan Tanjung Buton, Pulau Lingga

       Tiba di Pelabuhan Tanjung Buton, Daik, kami disambut oleh beberapa kenalan yang akan memandu kami menuju Gunung Daik. Namun sebelum mendaki mereka menyempatkan mengajak kami untuk mengunjungi musium Linggam Cahaya dimana di sana terdapat benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Riau Lingga. 


       Diantara semua koleksi musium, yang paling menarik hati saya adalah kerangka Gajah Mina yang panjangnya mencapai belasan meter dengan kepingan tulang-tulang pipih yang masih utuh.


       Tak hanya mengunjungi musium, saya dan rekan-rekan disambut baik oleh salah seorang tokoh masyarakat Daik, Pakcik Sulaiman. Kami pun duduk bersama di teras rumahnya menyimak dan memperhatikan beliau mengajari murid-muridnya bermain kompang.


       Pendakian Menuju Gunung Daik


Gunung Daik
Titik Pendakian


       Setelah beristirahat dan belanja logistik di pasar terdekat, saya dan rekan-rekan berangkat menuju titik pendakian. Saat tiba di sebuah gapura bertuliskan  “Objek Wisata Pendakian Gunung Daik” semangat kami seakan membuncah. Adrenalin mendadak terpompa dan menyebar ke seluruh penjuru tubuh. Mengalirkan energi yang meletup-letup. Yup, saatnya memulai pendakian. Langkah pertama pun kami iringi dengan doa bersama. Semoga saja perjalanan ini dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.


       Jalur yang dilalui berupa jalan setapak di antara pepohonan tinggi yang rimbun dengan canopy hutan yang lebat. Sesekali melewati sungai kecil yang mengalirkan air jernih nan tenang diselingi batu-batu besar di sana-sini. Di satu sungai, kami menjumpai sebuah kolam mandi yang dinamakan Lubuk Fatimah. Konon tempat ini adalah lokasi untuk mandinya para permasyuri dan putri-putri raja dahulu kala.


       Selang 3 jam perjalanan, kami beristirahat. Lalu mempersiapkan makan dan mendirikan tenda di tepian sungai yang bertaburan batu-batu raksasa. Hingga malam menjelang kami melanjutkan kegiatan dengan berburu ikan dan udang yang bersembunyi di balik batu. Ya, ungkapan “ada udang dibalik batu”  ternyata tidak sekedar peribahasa saja. Kami memburu udang-udang di balik batu itu untuk disantap makan malam :D


Pepohonan menjelang Kandang Babi
       
       Sebagian binatang lainnya mulai  banyak yang tertarik dengan sorotan lampu senter yang kami gunakan untuk berburu. Namun ternyata ada satu binatang yang luput dari penglihatan kami semua. Pacet! Saya dikagetkan oleh darah yang menodai baju salah seorang rekan. Namun tak lama kemudian sayalah yang berdarah-darah. Karena takut dan syok kami segera mengakhiri perburuan udang. Kami pun memilih beristirahat untuk persiapan pendakian esok hari.


       Pukul 4 subuh kami bersiap untuk mendaki kembali. Dengan lampu senter kami menyusuri lebatnya hutan yang lembab sisa hujan semalam. Jalur pun mulai menanjak dengan kemiringan 30 hingga 45 derajat. Di antara remang fajar, kami bergantian mendirikan sholat subuh di jalur yang agak datar. Hawa sejuk dan segar mulai menguar mengisi ruang penciuman kami. Ya pagi telah menjelang. Embun pun perlahan berkilauan lalu berjatuhan, meneteskan sebening kelembutan pada lumut yang menutupi tanah dan bebatang pepohonan.

Puncak yang samar oleh kabut

       Kami berniat menyambut mentari pagi di ketinggian. Menyaksikan fajar menyingsing di batas cakrawala, di antara langit dan laut. Namun pagi itu langit seakan terus bermuram dengan berselimut kabut. Alhasil sepanjang perjalanan kami tidak dapat menyaksikan sang surya beranjak meninggi. Namun meskipun begitu pemandangan ke arah kanan kiri gigiran gunung mulai jelas terlihat. Jurang-jurang yang curam ditumbuhi pepohonan yang lebat menjadi pemandangan yang menggetarkan dan mengasyikan.


       Saya dan rekan-rekan tiba di sebuah area yang oleh guide kami disebut sebagai Kandang Babi. Tepat di hadapan berdiri tegak sebuah tebing puncak dengan kemiringan vertikal hampir 90 derajat. Tak mungkin dapat kami panjat. Terlebih kabut semakin pekat kian menyelubungi kawasan puncak. Rupanya hanya sampai di situ saja titik tertinggi yang bisa kami gapai. 


      

Meskipun ada setitik kecewa, kami tetap berlapang dada. Diperlukan peralatan panjat yang lengkap serta waktu lebih lama lagi untuk mencapai puncak tertinggi Gunung Daik. Biarlah esok lusa kami kan kembali. Puncak bukanlah segalanya. Kami cukup berpuas hati telah menggapai tempat ini. Berdiri di salah satu titik ketinggian di tanah Bunda Melayu.


       Tak sampai satu jam kami berada di gigiran tebing (Kandang Babi). Hujan yang mulai rintik-rintik memaksa kami segera turun ke bawah. Tepat satu jam 30 menit kami telah tiba kembali tenda. Menyeduh teh, kopi, dan merebus mie instan. Setelah itu berisitrahat sejenak lalu mengepak barang bawaan untuk segera turun gunung, pulang.


Gunung Daik
Sunset yang jatuh di gunung Daik

       Sore itu suasana cerah. Lembayung membias di puncak Gunung Daik yang serupa gigi naga. Menyiratkan warna jingga keemasan. Memantulkan warna kemerahan pada awan-awan yang beriringan. Di sebuah bumi perkemahan yang dialiri sungai berair jernih, kami menyaksikan keindahan ini, merekam  dengan mengabadikannya melalui jepretan kamera sebelum esok kembali pulang ke Kota Batam.

***


Pengalaman yang  sama pernah dikisahkan di Adira FOI
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...