Jumat, 29 Mei 2015

Sasaku, Pusat Belanja Oleh-Oleh Khas Lombok

Toko Oleh-Oleh Khas Lombok Sasaku. Photo by: Marita
Teman-teman mungkin sudah sering atau setidaknya  pernah sekali saja main ke Lombok kaan? Nah rasanya nggak seru kalau jalan-jalan ke Lombok tapi nggak bawa pulang oleh-oleh khas Pulau Lombok. Iya nggak? Ya iya dong.

Biasanya kalau pulang kembali ke kota asal maka  saudara, teman kerja, dan tetangga suka banget nanyain oleh-oleh. Dilema sebenarnya. Antara beli oleh-oleh atau enggak. Penyebabnya bisa banyak faktor. Terutama masalah keuangan, over bagasi, dan ini nih yang sering kesebut, nggak mau ribet. Apalagi kudu jinjing-jinjing kanan-kiri karena ransel dan koper sudah nggak muat lagi. Pyuuuh males banget kan!

Mereka nggak tahu kondisi kita saat jalan-jalan. Orang selalu mengira kita banyak uang dan bisa beli oleh-oleh segudang. Padahal para pejalan itu nggak selalu bawa uang banyak. Malah seringnya pas-pasan bahkan cekak. Hihi…nunjuk diri sendiri. Namun pasti ada sebagian yang nggak tegaan dan merasa tidak nyaman kalau pulang tanpa bawa oleh-oleh. Saya salah satunya. Paling nggak enak banget kalau bawa oleh-oleh sedikit dibagikan cuma untuk teman satu department di tempat kerja. Dikasihkan beberapa orang saja sudah habis sementara teman-teman dari department lain ramai menanyakan oleh-oleh. Kadang suka menghindar dan dalam beberapa hari tidak mengunjungi ruangan department lain kalau sudah begini kasusnya. Qiqiqi.

Wiiih malah curhat. Tadi kan saya ngomongin oleh-oleh khas Lombok. Kenapa jadi curcol begini ya? Maafkan.

#KembaliKeLaptoooop!

Nah menurut versi saya seharusnya oleh-oleh yang ideal itu yang pasti murah tapi nggak murahan. Mudah dibawa, ringan dijinjing, muat diselip-selipin di tas dan ransel atau koper, tahan lama, awet, tidak mudah rusak, dan yang pasti khas dan ada tulisan made in mana-mananya. Terutama made in daerah yang kita kunjungi.
 
Souvenir Sasaku. Photo by: Marita
Apa saja sih yang khas dari Pulau Lombok itu? Semua pasti bilang ayam Taliwang. Iya. Nggak salah kok. Tapi Lombok bukan hanya ayam taliwang atau plecing kangkung saja. Masih banyak  hal lain yang menjadi khas Lombok. Tidak saja kuliner tapi cendera mata dan fashion. Seperti yang saya temui saat berburu oleh-oleh di Sasaku. Sebuah toko yang menjual berbagai benda souvenir dan oleh-oleh khas Lombok.

Secara segmentasi, Sasaku mengambil tema fashion yakni kaos sebagai produk utamanya. Namun saat tiba di tokonya, saya dibuat terbengong-bengong dengan berbagai macam benda yang dijual di sana. Begitu beraneka ragam dan variatif. Mulai dari kain pantai, batik, tas, dompet etnik, kerajinan tangan, ukiran, makanan ringandan lainnya. Saat diperiksa pada setiap kemasan dan bungkusannya semua mempunyai label buatan Lombok. Waaah senangnya.

Ketika berjalan berkeliling di toko yang luas, bersih dan nyaman ini saya dan teman saya, Marita dibuat kalap dengan seluruh benda-benda yang dijual di sana. Semua menarik mata dan yang pasti menarik uang saya untuk keluar dompet. Haha. Rasanya semua ingin saya beli dan bawa pulang. Apa daya takut over bagasi dan tentu saja kembali ke permasalahan pertama. Dompet sudah menipis. Namun lagi-lagi melirik dompet etnik, duuuh kok ya menarik dan unik-unik banget. Whaa...galau.

Saat melihat-lihat harga yang tertera pada label beberapa barang jualan, saya dibuat terkejut. Harga oleh-oleh setiap pack-nya masih terbilang murah. Padahal jika dilihat dari kemasan begitu menarik dan elegan. Waaah….saya bisa ngeborong nih kalau begini caranya. Salut untuk Mas Heru sebagai owner dari Sasaku yang terus mengembangkan usahanya dengan cara yang briliant.
  
Dan bagi pelaku-pelaku usaha produk oleh-oleh lainnya, yang menjadi hal penting sekarang adalah bagaimana memoles dan memberi brand pada produk-produk khas tersebut. Karena siapa pun akan senang dan bangga jika benda yang dibelinya ternyata merupakan produk khas yang hanya dapat dibeli di tempat dimana ia kunjungi.

Nah saat belanja oleh-oleh pastikan beberapa kriteria oleh-oleh ideal yang saya sebutkan di atas termasuk salah satunya. Selamat bersenang-senang di Lombok dan bawa pulang oleh-oleh yang banyak supaya tidak menyesal :D

Sasaku
Jalan TGH Lopan,
Kompleks Pertokoan Dasan Cermen No 31-32

Lombok Nusa Tenggara Barat

Menemukan Batu Akik di Dusun Sade yang Unik

Gerbang Masuk Dusun Sade
Seorang bapak-bapak mengenakan ikat kepala dan pakaian khas Lombok menyambut kedatangan kami. Ia mengenalkan diri dan kemudian mengajak kami berkeliling. Hari itu saya dan Marita, dihantar oleh  teman dari Mataram, Kang Asep dan keluarganya mengunjungi kampung wisata Dusun Sade yang termasuk ke dalam wilayah Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Dusun Sade ini terdiri dari 150 bangunan rumah dengan 150 kepala keluarga. Penduduknya kurang lebih mencapai 700 orang dan satu sama lain masih terikat tali kekerabatan. Karena letaknya tepat di tepi jalan raya dan dekat dengan bandara, maka Dusun Sade sangat ramai dikunjungi oleh turis. Baik lokal maupun asing.
Bersama Agha dan Chaca

Kami diajak berkeliling menyusuri gang-gang yang cukup bersih di diantara rumah-rumah adat. Menyaksikan langsung cara pembuatan kain tenun mulai dari pemintalan kapas hingga menjadi sebuah kain yang bernilai tinggi.

Berbagai souvenir cantik dan unik tersaji pada beberapa teras rumah dan meja-meja yang digelar terbuka di halaman dan samping-samping rumah. Beberapa ibu-ibu dengan antusias menawarkan dagangannya kepada kami. Yup, saatnya berburu oleh-oleh. Kebetulan harga yang ditawarkan lumayan murah.

"Jangan lupa oleh-olehnya ya. Nggak usah macam-macam. Cukup Batu Akik saja." Seorang rekan kerja berpesan di akun facebook saya. Pesannya sama dengan suami yang sebelum berangkat sempat bilang minta dibawakan batu akik juga. Duh bapak-bapak ini. Demam batu akiknya nggak hilang-hilang.

Menyusuri lorong-lorong Dusun Sade ternyata tidak susah menemukan batu akik. hampir di setiap pedagang apa pun rata-rata tersaji sebaskom batu akik yang direndam oleh air. warnanya cukup unik-unik dengan harga yang bervariatif. Saya tidak begitu mengerti ilmu perbatuakikan tapi mengingat pesan suami akhirnya saya memilihkannya beberapa bongkah. Cukup jika dijadikan 5 hingga 6 biji batu akik.

Sebaskom Batu Akik

Batu Akik telah diasah
Adapun Marita seperti menemukan surganya sendiri. Sibuk menawar dan mencoba berbagai souvenir yang tersedia. Semenjak awal keberangkatan dari Batam saja anak ini berfikir keras bagaimana dan dimana akan membeli oleh-oleh pesanan teman-temannya. Setelah hampir seminggu perjalanan kami menyusuri Provinsi Nusa Tenggara Barat ini belum satu pun oleh-oleh yang berhasil dibeli. Dan inilah saatnya berburu dan menghabiskan uang. Saking banyaknya souvenir yang dibeli, Marita sampai bingung menghitung berapa uang yang harus dibayarkan. Haha. Yang lucu lagi pedagangnya bingung. Pedagang lain yang membantu menghitung pun ikut bingung. Saudaranya pedagang yang ikut menyaksikan turut bingung. Saya yang bukan pedagang Alhamdulillah tidak ikut-ikutan bingung.Wkwkwk. Saatnya kalkulator bertindak. Mengeluarkan tablet kesayangan dan tuk..tuk..tuk...sekian kali sekian sama dengan sekian dibagi sekian.Tuk..tuk.. Selesai sudah kebingungan yang terjadi. Syah? Syaaah :D

Kain Tenun Suku Sasak di Dusun Sade

Sementara saya, yang memang sudah emak-emak dan banyak perhitungan, yang diingat ya cuma dua hal saja batu akik untuk suami dan oleh-oleh untuk Chila. Lainnya lihat-lihat dulu deh mana tahu masih ada sisa uang nyelip di dompet. Hehe. Meskipun hati meronta-ronta karena pandangan mata selalu saja menatap kain-kain cantik berwarna-warni khas Lombok yang sangat menarik perhatian.

Penjual Souvenir yang Masih Anak-Anak

Saya dan dua orang anaknya Kang Asep, Agha dan Chaca terus berjalan menyusuri gang-gang di Dusun Sade dengan semangat. kedua orang tuanya tidak ikut serta berkeliling. Kang Asep dan istri hanya duduk-duduk saja di Balai Tani yang ada di halaman depan Dusun Sade sambil beristirahat. Sedangkan Agha dan Chaca tidak bisa diam, berlari ke sana kemari, terus saja mencoba segala sesuatu, bertanya berbagai hal yang ditemui, dan memperhatikan hal-hal yang menarik bagi mereka. Rasa ingin tahu yang khas dijumpai pada sifat anak-anak. Seru, mengingatkan saya saat masa kecil dulu yang serba ingin tahu.

Nenek Pemintal Kapas

Hampir satu jam berkeliling bertanya dan menawar ini itu maka selesailah kunjungan ke Desa Sade ini. Hasilnya, saya hanya membawa sekeresek batu akik dan gelang-gelang cantik untuk Chila dan teman-teman sekolahnya. Sedangkan Marita membeli banyak sekali souvenir, seperti kalung, gelang, syal tenun, dan entah apalagi.


  

Gowes di acara Car Free Day Batam

Karena hari minggu kemarin 25 Mei 2015 tidak ada rencana untuk melakukan kegiatan yang signifikan, menantang, dan nendang-nendang :) seperti jalan-jalan ke pulau atau naik gunung apalagi shopping keliling-keliling, maka saat ditawari ikut acara Car Free Day (CFD)oleh teman-teman Bike to Work Batam maka saya langsung mengiyakan. Kalau suami sih cukup bilang sekali saja dia mah sudah dukung banget.

Yang namanya Car Free Day itu ya selalu dilakukan pagi-pagi. Jadi meskipun hari minggu terpaksalah subuh-subuh bangun, mandi, sholat subuh, lalu mempersiapkan sepeda agar layak jalan. Memeriksa ban depan dan belakang khawatir kempes seperti minggu-minggu lalu. Betul, saat diperiksa ternyata ban depan agak kempes. Terpaksa warming up dengan memompa sepeda dulu. Subuh-subuh huh..hah..huh...hah..udah ngos-ngosan :D

Benda-benda lainnya seperti helm, hand glove, buff, tas sepeda, sepatu, sudah ready semua. Tinggal pakai. Sayang kacamata rusak, ada pun yang masih bagus ketinggalan pula di rumah teman di Sumbawa. Ngambilnya saja harus naik pesawat terbang :P

Ketika siap-siap berangkat baru teringat satu hal. Oh ya lupa tadi tidak menyiapkannya. Pantesan perasaan ada yang kurang. Ini nih yang tidak boleh dilupakan kalau bersepeda, harus memakai  celana sepeda agar duduk di sadel nyaman dan tidak sakit pada selangkangan serta area sekitarnya karena gesekan dengan sadel. Baru deh dirangkap dengan celana panjang. Celana sepeda mempunyai bagian yang mirip pembalut wanita yang empuk jika dibawa duduk. Untuk perjalanan jauh melebihi setengah jam maka mengenakan celana ini sangat disarankan.

Foto-Foto Kegiatan Kelas Inspirasi Batam
Pukul 5.20 pagi itu saya keluar rumah. Setelah berpamitan pada suami lalu menggenjot sepeda di jalanan kompleks. Duh masih gelap, apalagi sekitar jalan yang dilalui terdapat banyak pepohonan yang membuat bayangan hitam ke tengah jalan. Beberapa kali hampir jatuh karena melalui polisi tidur yang tidak terlihat sama sekali.

10 menit kemudian, saya sudah meluncur di jalan utama yang menghubungkan kawasan Batu Aji - Muka Kuning. Saya dan beberapa rekan pesepeda janji berkumpul di halte Panbil Mall Muka Kuning. Pukul 6 lewat 3 menit tiba di halte Panbil dan langsung mengabarkan kepada rekan-rekan pesepeda lainnya melalui whatsapp. Beberapa menit kemudian Andar dan Yuni datang. Mereka berdua adalah pesepeda wanita Batam yang kini menjadi Srikandi Inspirasi bagi kemajuan kegiatan bersepeda khususnya di komunitas Bike to Work Batam. Yang akan mengkampanyekan kegiatan bersepeda khususnya kegiatan Bike to Work kepada para perempuan di Kota Batam.

Ambulance dengan Spanduk Aksi Peduli Rohingya

Karena tidak ada yang mengabarkan akan ikut dan bergabung lagi bersama kami, maka kami langsung memulai perjalanan menuju Nagoya dengan melintasi Jalan Jendral Ahmad Yani. Melalui simpang Kabil kemudian menyusuri Jalan Jendral Sudirman. Sesaat setelah Kepri Mall kami berbarengan dengan beberapa orang bapak-apak yang bersepeda dan berniat sama menuju ke acara CFD.

"Pelan-pelan saja ya Dek, jangan buru-buru", kata seorang bapak mengingatkan kami karena takut tertinggal. Padahal mereka justru lebih senior di dunia sepeda dibanding kami. Siapalah kami ini Om :D?

Peserta CFD

Setelah melalui Jalan Jendral Sudirman kami lantas belok kiri melintasi Jalan Bunga Raya. Bertemu lampu merah kemudian menyebrang menuju Jalan Pembangunan hingga tiba di Jalan Imam Bonjol tempat acara CFD dilaksanakan.

Tiba di lokasi CFD sudah ramai dengan warga Batam yang melakukan berbagai aktifitas. Tepat di jalan mengarah pintu masuk ke Nagoya Hill Mall sekumpulan orang sedang melakukan aerobic. Di sisi kanan jalan berkumpul beberapa kelompok pesepeda. Sebuah ambulance dan para medis tampak di sisi sebelah kiri. Dan yang paling menarik adalah pemandangan ke salah satu sudut jalan dimana terdapat foto-foto berbagai kegiatan sebuah organisasi bernama Kelas Inspirasi. Beberapa diantara anggota Kelas Inspirasi ternyata saya kenali. Langsung deh minta foto-foto.

Bersama teman-teman Kelas Inspirasi Batam


Saat duduk-duduk mengamati acara CFD saya sempat bertemu teman kuliah yang hampir 8 tahun tidak pernah bertemu. Bercerita sejenak dan saling berbagi nomor kontak. Alhamdulillah selalu saja ada silaturahmi yang tak diduga-duga jika ikut kegiatan-kegiatan seperti ini. Jadi senantiasa menyenangkan.

Selepas acara CFD saya mampir terlebih dahulu ke Swill Bellhotel di Harbour Bay Jodoh karena ada sesuatu hal. Setelah itu berpisah dengan Andar dan Yuni di sana. Mereka pulang melalui rute yang sama dengan saat berangkat tadi. Sedangkan saya lurus mengikuti Jalan Duyung hinga melewati DC Mall dan persimpangan Tanjung Uma kemudian belok kanan menuju Universitas Internasional Batam menyusuri Jalan Gajah Mada menuju kawasan Tiban. Di jalan ini lumayan ngos-ngosan karena berjumpa dengan beberapa tanjakan.

Setelah Tiban berbelok kiri menuju Jalan Diponegoro melintasi Hutan Wisata Mata Kucing, pekuburan umum Sei Temiang, Simpang Aviari hingga tiba di rumah. Alhamdulillah selamat hingga kembali ke rumah. Total perjalanan bersepeda hari itu adalah 50 km. Lumayan menjadi rekor tertinggi dalam sejarah bersepeda seumur hidup saya. Hehehe.








Rabu, 27 Mei 2015

Penyebrangan Sumbawa - Flores


Suasana Pelabuhan Sape
Saya dan teman saya, Marita, baru saja turun dari bis yang mengantarkan kami dari Kabupaten Dompu menuju Pelabuhan Sape di Kabupaten Bima Pulau Sumbawa. Hari itu kami berencana menyebrang menuju Labuan Bajo Pulau Flores. Pulau yang sudah lama ingin saja jejaki. Meski hanya sebatas ujung baratnya saja, tidak mengapa. Hanya sebagai pertanda bahwa perjalanan ke pulau impian tersebut baru akan dimulai.

Tujuan kami yang utama adalah menikmati panorama indahnya Taman Nasional Komodo yang bisa ditempuh dengan menaiki kapal dari Kota Labuan Bajo. Taman Nasional yang menjadi salah satu New Seven Wonder of Nature dan telah pula masuk ke dalam situs warisan dunia.

Selasa, 26 Mei 2015

Menikmati Kemping Keluarga di Hutan Kota Batam

Sebagai kota kepulauan, Batam tak pernah kehabisan tempat untuk dijadikan objek wisata bahari. Sebagai mainland, Batam mempunyai puluhan lokasi pantai yang sedang menggeliat berbenah, mendandani dirinya untuk dijadikan objek wisata unggulan. Belum lagi pesona pulau-pulau di kawasan hinterland yang jumlahnya hingga ratusan. Baik pulau-pulau yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni. Oleh sebab itu Batam bisa saja menjadi pusat wisata bahari di Indonesia jika pengembangan dunia pariwisatanya berjalan maksimal.

Sungai Kecil dengan Bunga Pandan Liar

Namun bukan hal di atas yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Melainkan bercerita tentang sebuah lokasi wisata alam yang sebenarnya cukup unik. Yaitu Hutan Pancur Simpang Dam, Muka Kuning, Batam. Di tengah gerumul pulau-pulau dan lekukan selat-selat terdapat sepetak telaga di dalam rimba belantara yang 180 derajat berbeda dengan kondisi alam Batam secara umum. 

Ya, saya katakan unik karena lokasinya berada di tengah-tengah hutan. Sedangkan hutan itu sendiri berada di tengah-tengah gempuran pembangunan Batam yang kian membabi-buta. Hutan Kota. Pelan tapi pasti, hutan ini telah tergerogoti. Semakin menyempit dan mengecil seiring deal-deal bisnis tingkat tinggi antara para develover, bankir, dan para pemangku kekusasaan. Belum lagi para pendatang yang secara ilegal mendirikan rumah-rumah liar serta membuka ladang di tepi-tepi hutan. Hutan yang entah berapa tahun ke depan mungkin saja akan menghilang.

Lokasi wisata alam ini kerap disebut Hutan Pancur Simpang Dam. Dinamakan demikian karena di hutan tersebut terdapat sungai yang mengalirkan air terjun kecil yang mirip pancuran. Sungai yang tenang, teduh, dan indah. Dihiasi pepohonan rindang dan bunga pandan liar di kanan kirinya.

Melompat
Dikatakan Simpang Dam karena akses menuju lokasi berawal dari sebuah persimpangan menuju Dam (bendungan) Muka Kuning. Dam ini dibangun guna memenuhi kebutuhan air baku masyarakat Pulau Batam khususnya kawasan Kecamatan Sei Beduk dan Kecamatan Batu Aji. Sedangkan sumber utama air dam adalah air hujan dan air sungai dari hutan yang terdapat di sekitarnya. Hutan yang berfungsi sebagai penyangga bagi ketersediaan air tanah yang nantinya mengalir dan terkumpul ke dalam Dam Muka Kuning.

Pada weekend pertengahan Mei lalu, saya dan keluarga sengaja menyempatkan diri untuk trekking ke Hutan Pancur. Walau sudah berkali-kali ke hutan ini tetap saja tak pernah ada kata bosan. Kami sengaja berangkat sore hari karena sekalian ingin berkemah (kemping). Saat itu kami ditemani juga oleh seorang teman, Rina, dan keponakannya Rina, Nata yang berusia 6 tahun. Hampir sama dengan usia Chila, anak saya. Rina bilang ingin mengajari keponakannya agar tidak takut. Apalagi ada Chila sehingga Nata bisa belajar dan bermain bersama-sama dengan Chila.

Pos Jaga dan Parkiran Kendaraan
Perjalanan ditempuh dengan menaiki kendaraan roda dua hingga ke pos jaga. Di pos telah banyak kendaraan yang diparkir. Sebetulnya ini merupakan parkir ilegal, karena lokasi Hutan Pancur sendiri berada di wilayah hutan lindung dimana aktifitas yang bertujuan komersil adalah dilarang. Namun seperti peribahasa dimana ada gula di situ ada semut. Dimana banyak orang disitu ladang dan peluang mendapatkan uang. 


Para penduduk sekitar Simpang Dam yang melihat membludaknya pengunjung terutama setiap weekend menganggap sebagai satu kesempatan untuk mengais rejeki. Mungkin tak ada salahnya hingga kegiatan trekking dilarang oleh yang berwenang seperti pada beberapa belas tahun silam saat debit air dam mencapai level sangat mengkhawatirkan.

Setelah menitipkan motor di rumah penduduk (tidak di pos), dari parkiran kami menyusuri jalan setapak hingga tepian dam. Setelah itu menyebrangi jembatan kayu. Menanjak sedikit dan menemukan sebagian pepohonan di hutan telah terbakar. Sungguh sedih melihat bagian hutan ini begitu kering dan kerontang. Entah kebakaran yang sengaja atau tidak disengaja. Namun tak lama kemudian kami memasuki hutan yang cukup rindang dan suasana hutan pun teduh kembali. Menyebrangi beberapa jembatan kecil lagi sebanyak 3 kali hingga kami tiba di sebuah tepian sungai yang berair jernih. Waktu tempuh dengan langkah mengikuti kecepatan Chila dan Nata kurang lebih 50 menit. 


Setelah menyebrang sungai kami memilih lokasi untuk kemping di sebuah tanah lapang di tepi telaga kecil. Di atas telaga terdapat tebing batu setinggi kurang lebih 4 meter yang mengucurkan air sungai dari bagian atas seperti air terjun. Karena air terjunnya rendah, maka para pengunjung lebih suka menyebutnya dengan nama Pancur.

Di lokasi kemping telah berdiri tenda berwarna biru dengan deretan pancing berjejer di depannya. Saya jadi teringat obrolan dengan tukang parkir di pos jaga, bahwa ada sepasang suami istri yang tiap sabtu minggu menginap dan berkemping di hutan ini. Mereka berdua sungguh membuat saya tercengang. Bagaimana tidak, sementara di luar sana, orang-orang mencari hiburan di antara hingar bingarnya keramaian kota, mereka berdua malah selalu menyepi sambil memancing di tepi sungai. Mencari keheningan dari salah satu sudut hutan Batam yang masih tersisa.

Tenda Kami
3 buah tenda cantik dan colorful telah kami dirikan saling berhadap-hadapan. Berdekatan dengan tenda Bu Ami dan suaminya. Pasangan suami istri yang saya ceritakan barusan. Karena tenda saya dan suami hanya berkapasitas dua orang, maka tenda Chila pun kami bawa. Tenda model baru yang sekali pasang tidak sampai satu menit sudah berdiri. Praktis dan hemat waktu.

Menjelang sore saya mengajak Chila untuk mandi berendam di air sungai yang mengalir tenang. Awalnya ia menolak karena dingin, namun setelah pelan-pelan menurunkan kaki dan badan ke dalam air sungai, ia malah asyik bermain-main. Chila tampak heboh sendiri dengan panci trangia yang dia hanyutkan seperti kapal-kapalan. Lalu dikejar dan ditangkap. Dihanyutkan, dikejar kemudian ditangkap. Dihanyutkan, dikejar... halaaah capek sendiri saya melihatnya. 

Pancing-Pancing Bu Ami dan suaminya
Malam mulai menjelang. Gelap menelikung seluruh pemandangan. Lilin, lampu gantung, dan senter mulai dinyalakan. Beberapa anak muda sepantaran SMP dan SMA yang juga menginap di sana menyalakan api unggun. Dua orang dari mereka tampak asyik bergelayutan di hammock yang kami pasang di pohon-pohon di tepi sungai. Suami sedang asyik merebus singkong yang dibelinya di Simpang Dam tadi sore. Chila dan Nata tak kalah asyik mengikuti Bu Ami dan suaminya mancing di tepi telaga. Rina dan saya duduk-duduk mengobrol di luar tenda. Namun lama-lama ngantuk menyerang saya luar biasa. Dan saya pun terlelap dalam buaian malam. Lama-lama terasa ada yang aneh di mulut saya. Sediki manis dan...puaaah...puaaah....saya meniupkan sesuatu yang menempel di bibir. Ya ampuuun, dasar jail. Suami mencocolkan singkong rebus yang dibaluri gula pasir ke mulut saya. Mendadak melek.

Setelah ngobrol panjang kali lebar kali tinggi dengan Rina, terutama membahas rekan-rekan di grup Anak Pulau dan Batam Traveler yang sedang island hopping, sekitar jam setengah sepuluh kami beranjak ke tenda masing-masing. Saya tidur dengan Chila yang langsung pulas sesaat kemudian. Rina dan Nata di tenda sebelah. Sementara suami saya tidur sendiri di tendanya. Malam itu kami semua tidur damai di antara suara-suara hutan dan gemericik air sungai yang mengenai bebatuan.

Hand in frame
Pagi-pagi setelah sarapan mie dan meneguk kopi hangat, saya, Chila, dan Nata berenang bersama di tepi telaga. Nyebur-nyebur di tepinya saja karena belum pede untuk berenang ke tengah. Kalau di kolam renang saya masih bisa nyampe berenang hingga sepuluh meteran, tapi di sini nggak berani karena belum tahu seberapa kedalamannya. 

Chila dan Ayahnya

Kopi Pagi

Setelah beberapa jam menikmati suasana Hutan Pancur yang mulai ramai dengan pengunjung dari berbagai kalangan dan komunitas, siangnya sekitar jam 12 kami beranjak pulang. Namun tak lupa sebelum pulang membersihkan lokasi kemping dengan memungut dan mengumpulkan sampah. Mengajari Chila dan Nata secara langsung untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dengan semangat dan antusias dua anak ini memunguti sampah lalu membuangnya ke pembakaran api unggun yang masih menyala. 

Sebenarnya membakar sampah bukan merupakan solusi akhir. Karena membakar sampah tetap menimbulkan polusi lain yakni polusi udara meskipun dalam kadar kecil. Walaupun demikian kami memilih membakar sampah-sampah ini agar tidak bertebaran kemana-mana. Untuk membawa pulang rasanya tidak mungkin karena terlalu banyak sampah yang ditinggalkan pengunjung lain. Setelah api mengecil dan menitipkan pada Bu Ami untuk mematikannya, kami pun bergegas pulang.

Jauh ke dalam menemukan pemandangan lain lagi
Sepanjang perjalanan pulang, Chila dan Nata berjalan susul menyusul. Tak mau kalah. Melintas beberapa jembatan kayu tanpa bantuan. Lihatlah....mereka berdua kini menjadi pemberani. Alam membentuk dan mengajari mereka begitu cepat.

Chila Menyebrang Jembatan Kayu Sendiri
Tangga dari Akar



Kamis, 21 Mei 2015

Para Pelintas Jalan di Pulau Sumbawa

Kendaraan kami melintas di Pasar Kadindi, Dompu
Mobil jenis APV dengan merk Suzuki Arena bernomor polisi DR 1576 DC melaju kencang menembus kegelapan malam. Lagu-lagu era tahun 90an mengalun bergerak rancak dari tape mobil yang sedang kami kendarai.

Perjalanan berjam-jam melintasi Kabupaten Sumbawa Barat kemudian Sumbawa Besar telah kami lalui. Kini mobil melaju dengan kecepatan menembus 100 kilometer per jam menyusuri pesisir barat Kabupaten Dompu. Menyusuri tepian Teluk Saleh yang tenang dan indah. Sayang kami melaju pada malam hari yang gelap gulita. Hanya tampak kelap-kelip lampu nelayan di kejauhan.

Di belakang kemudi, Bang Arief dengan rambut terurai panjang sepunggung begitu serius menatap jalan. Segelas kopi yang diteguknya saat kami makan siang di salah satu rumah makan di daerah Masbagik Lombok, bekerja dengan sangat baik. Membuat matanya tetap awas dan terjaga.

Kang Asep yang duduk di samping Bang Arief sudah tertidur pulas. Di jok kiri bagian tengah Bang Ming sudah menyandarkan kepalanya di tepi kaca. Marita yang duduk di tengah-tengah juga sudah tenggelam ke alam mimpi, wajahnya tak terlihat karena tertutup slayer. Sementara saya duduk menelungkup pada kaca sebelah kanan jendela mobil sambil memeluk buku Tambora Sampai ke Kita karya Nunik I. Taufan. (Sebenarnya ada kisah tragis yang menimpa suami penulis buku ini sebelum kami melakukan perjalanan ke Sumbawa. Nanti akan saya ceritakan). 

Duduk di jok paling belakang duo dokter muda Yuni dan Kiky. Keduanya  sudah tak bersuara lagi. Sama-sama pulas tertidur di antara himpitan keril yang berjejalan di bagasi yang tembus dengan jok mereka.

Laju mobil tiba-tiba seperti tertahan karena menggilas sesuatu. ..Ngik...ngik....suara anjing terkaing-kaing semakin jauh, jauh dan menjauh. Saya terbangun kaget.

"Apa tadi itu Bang?"
"Anjing ketabrak." Kata Bang Arief tetap terdengar tenang. Duh kasihan.

Belum genap satu jam, mobil yang kami kendarai terguncang kembali seperti menggilas sebuah batu besar. Saya terkaget-kaget lagi dan saat bertanya kepada Bang Arief, jawabnya sama dengan tadi, ia menabrak anjing lagi. Duuuh. Maafkan kami ya anjing. Mungkin itu pilihan yang tepat yang diambil Bang Arief daripada membanting setir saat mobil meluncur dengan kecepatan tinggi. Tentu akan membahayakan kami para penumpang mobil. 

Para pelintas jalan
Malam itu jalanan mulus sepi seakan milik kami. Hanya sesekali bis antar kota antar provinsi dan iring-iringan truk yang berpapasan. Meskipun sepi, lagi-lagi mobil kerap dibuat berhenti. Direm mendadak karena ada kuda, sapi, kambing yang nyelonong dan kelayapan malam-malam. Para pelintas jalan itu tentu tak pernah mengerti akan keselamatan nyawanya sendiri dan nyawa para pengendara.

Begitupun menjelang pulang, setelah selesai mendaki Gunung Tambora, saya baru jelas melihat suasana jalanan Pulau Sumbawa khususnya Kabupaten Dompu ini. Di kanan kiri hamparan savana luas sejauh mata memandang. Kerbau, sapi, kuda, kambing, merumput dengan damai. Bergerombol, berkelompok, namun semuanya terlihat akur dan berbaur. Rasanya inilah pemandangan sekeping surga bagi saya.

Tanda rambu sapi kerap ditemui di sepanjang jalan di Pulau Sumbawa
Dalam jarak beberapa ratus meter terdapat rambu-rambu yang bergambar sapi di tepi jalan. Menandakan kepada para pengendara untuk lebih berhati-hati karena kerap terdapat sapi dan ternak lainnya yang berkeliaran dan melintas jalan sembarangan.

Entah sudah berapa belas kali, Bang Arief mengerem mendadak laju mobilnya. Segerombolan kerbau dan sapi seringkali menyebrang tanpa permisi. Kami bukannya kesal justru takjub dan menjerit-jerit karena sibuk mau foto-foto sementara kamera dan tablet belum siap di tangan. Sialnya lagi begitu dinyalakan, tablet sudah lowbat dan sekarat. Untung saja Kiky bawa kabel USB yang bisa saya pinjam dan langsung dicolokin ke tape mobil hingga tablet saya bisa dicharge dengan segera.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Meskipun siang hari tetap saja saat sapi-sapi yang melintas mendadak harus sangat diwaspadai. Bang Ming bilang, di sini, ayam saja jika ketabrak maka nilai ganti rugi akan dihitung oleh si pemiliknya dengan menghitung berapa telur yang biasa dihasilkan dan kerugian anak-anak ayam yang ditinggalkan oleh emaknya. Wkwkwkwk.

Kalau sapi yang tertabrak? Alamakjaaan....satu ekornya saja seharga 9 jutaan. Kalau 7 ekor yang ketabrak bisa-bisa kami pulang jalan kaki karena mobil ini sudah ganti kepemilikannya :D

Sapi si pelintas jalan

Sapi, kerbau, kuda dan ternak lainnya yang dilihat liar serta hidup bebas di hamparan padang rumput Kabupaten Dompu ini semuanya ada pemiliknya. Jadi tidak liar begitu saja. Hanya kebiasaan masyarakat melepas dan membiarkannya mencari makan sendiri. Jadi jika akan beternak di sini cukup memberi tanda saja pada hewan ternaknya seperti gantungan kalung lalu dilepas.

Padang rumput yang rumputnya tak pernah tinggi

Padang rumput yang terhampar luas di sepanjang perjalanan tampak tak pernah menjadi semak dan tak sempat tumbuh tinggi. Ada pemotong rumput alami yang dengan siap sedia bekerja selama 12 jam sehari tanpa henti. Mesin potong rumput alami bernama kerbau, kuda dan sapi :D

Padang rumput - padang rumpur ini dari jauh maupun dekat tampak seperti hamparan permadani hijau yang menempel di lantai bumi. Bergelombang mengikuti kontur permukaan tanah dan menutupinya dengan indah.

Eksotisme Sumbawa sungguh luar biasa. Semoga suatu saat bisa kembali lagi ke sana.

Jumat, 15 Mei 2015

Mencicipi Sensasi Menjadi Srikandi Inspirasi Bagi Negeri




Sekilas Tentang Srikandi Inspirasi

Srikandi Inspirasi Bagi Negeri adalah sebuah gerakan kampanye untuk menggalakkan kegiatan bersepeda di kalangan perempuan Indonesia. Gerakan yang diprakarsai oleh beberapa perempuan dalam Komunitas Bike-to-Work Indonesia ini telah berlangsung selama 4 Jilid. Kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk touring dengan menempuh rute sebanyak ratusan kilometer menyusuri kota-kota di beberapa provinsi di Indonesia.

Selain mengkampanyekan gerakan bersepeda, misi perjalanan para Srikandi adalah membangun masyarakat Indonesia yang berkualitas secara fisik, psikis, dan moral. Memperingati semangat perjuangan kaum perempuan, mengkampanyekan gerakan "birukan langit" melalui aksi pembagian dan penanaman bibit pohon bersama masyarakat di wilayah yang terlewati. Mengeksplorasi kekayaan wisata alam, etnik, dan sejarah di provinsi yang dilewati dan mempromosikan Srikandi Indonesia sebagai image perempuan Indonesia yang menjunjung nilai-nilai tradisional sekaligus memahami perubahan nilai beserta modernitas yang terjadi.[1]

Berikut adalah kegiatan yang digelar dalam rangka Srikandi Inspirasi:
Jilid I pada tahun 2011 menempuh rute Jakarta - Jepara (Jawa Tengah)
Jilid 2 pada tahun 2012 menempuh rute Jepara (Jawa Tengah) - Bandung (Jawa Barat)
Jilid 3 pada tahun 2013 menempuh rute Banda Aceh (D.I. Aceh) - Padang (Sumatera Barat)
Jilid 4 pada tahun 2014 menempuh rute Mamuju (sulawesi Barat) - Makasar (Sulawesi Selatan)
dan untuk Jilid 5 tahun ini akan menempuh rute dari Bima (Nusa Tenggara Barat) - Den Pasar (Bali)

Pada tahun ini menginjak tahun kelima penyelenggaraan Srikandi Inspirasi Bagi Negeri. Bike To Work Indonesia kemudian menjaring para peserta dari seluruh pelosok tanah air dengan membuka pendaftaran hingga 28 Februari 2015 lalu. Bulan Maret adalah waktu penentuan siapa yang lulus adminstrasi sedangkan April – Mei adalah masa latihan bersama dan menentukan siapa yang berhak menjadi salah satu dari 21 Srikandi yang akan diberangkatkan dari Jakarta ke Bima guna mengikuti touring dan menjadi duta bagi para pesepeda wanita Indonesia.


Srikandi Provinsi Kepri

Tahun lalu untuk pertama kalinya Provinsi Kepulaua Riau (Kepri) mengirimkan peserta untuk mengikuti event Srikandi Inspirasi Bagi Negeri. Adalah Andar, seorang karyawan swasta di Kawasan Industri Batamindo Muka Kuning, Batam yang terpilih mewakili Provinsi Kepri. Jujur, saya baru tahu kegiatan ini saat diminta menuliskan catatan perjalanan Andar saat itu.
Ki-Ka: Andar dan Yuni. Foto diambil dari facebooknya Andar
Beberapa teman kemudian memanas-manasi dan menyemangati untuk ikut mendaftar. Nothing to loose saya pun ikut mencoba daftar. Herannya ternyata saya lulus seleksi administrasi dan harus mengikuti tahapan seleksi selanjutnya pada bulan April-Mei. 

Dari Kepri hanya Batam yang mengirimkan kandidat untuk event ini. Semuanya ada 6 calon Srikandi termasuk saya. Uniknya kami semua kebanyakan adalah pekerja di beberapa perusahaan yang berada di Kawasan Muka Kuning dan Tanjung Uncang. Keenam calon Srikandi ini adalah Kartika (Karyawan di PT. Flextronic), Madinah (Karyawan PT. Infineon), Yuni (Karyawan PT. Scheneider) dan Winda (wiraswasta). Keempatnya bekerja di Kawasan Industri Muka Kuning. Calon Srikandi kelima adalah Putri (Karyawan PT. Drydock) dan keenam saya sendiri. Kami berdua bekerja di Tanjung Uncang.

Latihan bersama mulai digelar saat saya sedang Mendaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Sewaktu jadwal latihan bersama diinformasikan oleh Bike to Work Pusat di Jakarta melalui email, saya sudah tidak berharap akan mewakili Batam/ Kepri karena sudah tertera jelas aturan kehadiran adalah masuk dalam poin penilaian. Sementara rencana saya mendaki Gunung Tambora sudah dari setahun lalu dipersiapkan. Dan untungnya lagi rute touring Srikandi tahun ini adalah rute yang sebagian besar akan saya lalui saat menuju Gunung Tambora. Jadi saya tidak kecewa sama sekali.

Andar, saya dan para calon Srikandi lainnya.
Meskipun lelah dan capek begitu mendera saat pulang dari Gunung Tambora dan Taman Nasional Komodo Flores, pada hari minggu tanggal 19 April 2015 lalu, saya tetap hadir untuk mengikuti latihan bersama. Berharap mendapat pengalaman, teman, dan setumpuk ilmu dalam dunia bersepeda. Karena tujuan sesungguhnya adalah bagaimana saya bisa belajar lebih banyak lagi tentang dunia sepeda. Walaupun badan  nge-drop dan cukup jauh tertinggal di belakang dibanding para calon srikandi lainnya. Hingga dua hari setelah latihan pertama ini saya sakit karena badan kelelahan ditambah kurang istirahat. Tidur terlalu malam karena suka lupa waktu kalau sudah menulis di blog.

Saya dan Yuni
Saya salut kepada para coach yang tetap memberi semangat dan perhatian berlebih kepada saya. Memberi tahu tentang teknik pedalling, shifting, dan pengaturan nafas saat di tanjakan. Dan dari semua itu yang paling saya banggakan adalah saya sudah bisa mengambil botol minum alias bidon sendiri saat sepeda sedang melaju. Hahaha. Betul. Ciyus. Itu merupakan sebuah prestasi yang membanggakan bagi saya yang selama satu tahun sepedaan kalau haus selalu menepi dulu ke pinggir jalan. Karena kebiasaan itu juga saat latihan mengambil botol air minum sambil mengayuh sepeda, saya hampir jatuh dan nabrak-nabrak.

Alhamdulillah tidak kapok dan semakin semangat bersepeda terutama Bike to Work yang mulai dilakukan. Karena jalan menuju tempat kerja sangat dekat, maka saya lebih suka memutar mengambil jarak sekitar 12 kilometer menuju Sei Temiang, Marina, hingga tiba di Tanjung Uncang. Padahal kalau saya melalui jalur biasa jaraknya tidak kurang dari 5 kilometer. 

Pada tanggal 10 Mei lalu, akhirnya terpilihlah Yuni (Tri Wahyuni) yang akan mewakili Kepri menuju event Srikandi Inspirasi Bagi Negeri yang akan mulai digelar Juni bulan depan. Selamat ya Yun. Semoga dapat membawa prestasi yang membanggakan bagi Batam dan Kepri. Selain itu dpat menularkan semangat bersepeda bagi perempuan-perempuan di Kota Batam khususnya.

Note:
[1] Materi briefing Srikandi Jilid 5 yang saya terima dalam bentuk email.

 



Pemandangan Laut Labuan Bajo dalam Hitam Putih

Menunggu adalah saat-saat yang paling menyebalkan dalam hidupku. Tapi tidak untuk "menungu" kali ini. Saat menunggu kapal Ferry MV. Marina penyebrangaan Sape (Pulau Sumbawa) - Labuan Bajo (Pulau Flores) bersandar di pelabuhan. 

Dari dek samping kapal ferry aku saksikan kapal-kapal yang sedang turun jangkar. Berbagai macam warna dan ukuran. Terlihat cantik, indah, dan gagah. Terdiam mematung walau terayun-ayun ombak yang tak begitu kuat.

Pemandangan itu seolah membawaku ke jaman nenek moyang dulu. Saat perdagangan antar pulau di nusantara begitu meraja. Berbagai rempah dan kekayaan bumi lainnya diangkut menggunakan kapal-kapal seperti ini. Ya, Aku tiba-tiba rindu ingin menyaksikan semua itu. Seperti apa penjelajahan nenek moyang kita dulu yang katanya seorang pelaut?


Pemandangan Laut Labuan Bajo

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan ke-61 yang diselenggarakan oleh Agung Gidion di sini

Kamis, 14 Mei 2015

Menggapai Puncak Tambora [Catper Tambora Bagian 5 - Habis]

    Poster Tambora Menyapa Dunia di Dusun Pancasila


Ketika saya dan rekan-rekan satu tim pendakian beristirahat di Pos 5, Bang Ming dan Kang Asep bertemu dengan seorang pria yang ternyata teman baik mereka dari Mataram. Namanya Heru. Pria berwajah Tionghoa ini langsung larut dalam obrolan dengan keduanya.

Entah apa yang mereka obrolkan karena tiba-tiba saja Heru menuju tendanya dan kembali kepada kami dengan membawa 3 buah kaos. Saya yang tidak menyimak obrolan mereka sedari awal, jadi kurang tertarik sehingga luput dari peristiwa yang membuat saya menyesal setelahnya.

Kurang konsentrasi bukan gara-gara kurang minum aqua, mungkin otak agak soak karena sibuk memikirkan peristiwa menyebalkan beberapa menit tadi. Saat toilet yang berpagar terpal biru meneror saya dengan pemandangan yang bikin perut mual, kepingin muntah dan kepala pusing cenat-cenut. Eh itu bukannya gejala hamil muda ya? wkwkwk...*Ngarep.

Nah oleh sebab itu, bagi para pendaki gunung yang kebetulan membaca tulisan ini, "Camkan anak muda. Kamu bisa saja membuang hajat dimana pun. Tapi ingat kita tercipta bukan dari golongan makhluk jin, setan, apalagi sebangsa hewan yang BAB sembarangan. Setidaknya malulah sama kucing meong meong meong...” makhluk sebangsa kucing saja kalau buang hajat suka ditimbun sendiri tuh kotorannya dengan pasir. Please jangan bikin malu sebangsa kami bangsa manusia."

Larut menyesali apa yang telah saya lihat tadi, saya segera tersadar saat Bang Ming dan Marita sibuk foto-foto memamerkan kaos batik bermotif khas lombok yang ternyata dikasihkan Heru gratis pada mereka.

"Dapat kaos dari siapa Bang Ming sama Rita?" Tanya saya pada Kang Asep.
"Dikasih Heru. Dia kan bosnya kaos di Lombok. Orang banyak pesan sama dia. Itu Yuni dikasih kaos Gunung Rinjani." affaaah? Duh gue kemana aja tadi? Mau ikut-ikutan minta juga malu hati. Lagian Herunya udah nggak kelihatan lagi. Tidak apalah bukan rejeki. Sambil moyongin bibir seksi :D

Bang Ming mulai pamer. Kaosnya langsung dipakai. Lanjut foto-foto tampak depan dan belakang. Padahal sekalian saja tampak samping :D

Heru tidak begitu menampakkan diri kalau dia adalah bos sebuah merk kaos dan toko oleh-oleh terkenal di Lombok. Saya saja nggak percaya. Gayanya santai, ramah, dan cepat akrab dengan orang lain. Tidak bossy sama sekali.  Muda, rajin bekerja, pengusaha, dan bisa saja dia kaya raya. Nah tipe-tipe pria idaman wanita ini sih. Makanya pilih pria Tionghoa. Wkwkwk...mulai rasis nih. Alamat dikeplak cowok se- Indonesia.

Ternyata puncak masih jauh. Itu di tepi langit sana....

Jam 08.30 pagi waktu Indonesia Bagian Tengah, saya dan rekan-rekan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Harapan mendapatkan sunrise di puncak Tambora sudah menguap sejak tadi malam. Saat kami bangun tidur telat. Sebelum berangkat tak lupa menanyakan perkiraan waktu kepada para pendaki yang sudah turun dari puncak. Serempak mereka menjawb jauh. Jauh banget kira-kira 4 hingga 5 jaman lagi kalau untuk perempuan. What? Mendadak lemes. Baiklah kita buktikan seberapa kuat dan cepat para perempuan di tim ini. Lumayan berguna untuk memacu semangat agar kami bisa melangkah lagi lebih cepat.

Karena beban barang-barang masih tampak terlalu banyak dan kemungkinan menghambat pergerakan menuju puncak, Bang Ming berinisiatif untuk menyimpan barang-barang yang tidak terlalu urgent di semak-semak mendekati sungai di Pos 5.

Beberapa puluh meter ke depan, kami menyebrangi sungai dengan struktur batu-batu yang mengagumkan. Saya mengamati batu-batu besar menyatu seperti adukan semen yang keras. Barangkali, saat Tambora meletus, sungai ini merupakan aliran lava. Lalu saat terjadi proses pendinginan, lava membeku dan membentuk seperti adukan semen yang telah diplester.

Jalur di bibir kaldera Tambora
Selepas sungai, jalur menanjak mulai membuat dada sesak. Vegetasi perlahan semakin berubah. Jalur hanya ditumbuhi pohon-pohon kecil serta semak dan perdu. Sesekali di kejauhan tampak pohon-pohon pinus yang muncul satu satu. Kadang di lembah. Kadang di punggungan gunung. Pohon yang saya rindukan keberadaannya. Pohon yang menghiasi gunung dengan keindahan bentuk dan daun-daunnya.

Pemandangan ke sekeliling mulai terang benderang dan  tidak terhalangi pepohonan tinggi. Kami berjalan seiring kecepatan masing-masing. Kadang merayap, kadang tegak. Kadang berhenti lantas berjalan lagi. Berhenti, berjalan. Berhenti, berjalan lagi. Mirip mobil tua, mogok terus atau kehabisan bensin. Maklum dengkul sudah tak selentur dulu lagi. Nafas sudah tak sekuat dulu lagi. Dan usia yang sudah tidak muda lagi.

Dengan membungkuk-bungkuk,menyesuaikan dengan kondisi jalur yang mulai curam, berkerikil dan berpasir, kami terus menaiki jalur menuju puncak. Semakin tinggi, kontur semakin berbukit dan berlembah. Batu-batu hangus dapat jelas terlihat. Gambaran hebat peristiwa dua abad yang telah lewat. Sulit dibayangkan, dari rahim gunung ini telah lahir bermega-mega ton material yang meluluhlantakkan Pulau Sumbawa dan berakibat fatal bagi iklim dunia. Dan sulit dipercaya bahwa takdir memberikan peruntungannya kepada saya untuk bisa hadir di badan gunung ini. Merayapi lekuk punggungannya. Menelisik kisah dan perjalanannya.

Saya dan Yuni berjalan beriringan. Kadang saya di depan. Kadang Yuni yang duluan. Tergantung siapa yang berinisiatif  mulai melangkahkan kaki setelah beristirahat sejenak. Kaki sudah terasa berat untuk melangkah lagi karena melawan gravitasi. Namun selangkah dua langkah walau tertatih tetap berharga demi mendekati titik tertinggi gunung ini. Setelah berjalan beberapa punggungan, ada dua orang remaja yang menyalip mendahului kami. Namun beberapa saat kemudian tersusul dan mereka berjalan beriringan bersama Yuni. Sementara saya agak lebih dulu beberapa puluh meter dari mereka bertiga.

Tiba di Bibir Kawah Tambora

Cuaca teduh berawan. Pukul 11 lewat 42 menit saya tiba di bibir kawah Gunung Tambora. Berdiri menyendiri di sebuah tepi. Terpukau menyaksikan fenomena alam yang sungguh spektakuler. Deras kabut mengalir dari dalam kawah Tambora menuju langit dengan kecepatan luar biasa. Seperti aliran air terjun yang terbalik. Mengalir dari bawah ke atas. Seperti terdorong oleh suatu kekuatan alam. Kabut-kabut membumbung deras dan kencang menuju langit yang terang. Saya hanya melongo sambil mengucap kalimah-kalimah tayyibah.

Setelah aliran kabut dari dalam kawah mereda, pemandangan ke tengah-tengah kawah mulai tersingkap jelas. Sebuah cawan raksasa yang tak pernah terisi penuh oleh air hujan selama 200 tahun ini, kini menganga di depan mata. Berdinding tebing-tebing curam yang ditumbuhi rumpur-rumput hijau mulai dari bibir kawah hingga ke dasarnya. Layaknya karpet permadani yang terpasang di dinding rumah.

Penampakan Kawah Tambora
Nun jauh di bawah kedalaman cawan raksasa itu terhampar sebuah danau dengan air berwarna hijau serta hamparan tanah kawah yang kecoklatan. Gunung kecil Doro Api Toi yang ada di dasar kaldera tampak seperti segunduk tanah hitam saja. Mulai berdetak mengepul dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga letusan 200 tahun yang silam.

Kawah Gunung Tambora memiliki diameter sekitar 7 hingga 8 kilometer. Sedangkan kedalaman kawah mencapai 1,2 kilometer. Ini menjadikannya sebagai kawah terdalam di dunia.

Selepas berfoto-foto di bibir kawah, saya dan Yuni berangkat menuju puncak yang terletak di sebelah kanan kawah Tambora. Jalur mulai mendatar menyusuri sisi sebelah kanan kawah. Satu per satu kawan satu tim mulai terlihat. Bang Ming dan Kang Asep datang bergantian.

Puncak Gunung Tambora 2851 mdpl
Pukul 12 lewat 30 menit, saya tiba di Puncak Gunung Tambora pada ketinggian 2.851 meter di atas permukaan laut. Suasana cukup ramai dengan pendaki yang sedang selebrasi. Merayakan pencapaian di Puncak tertinggi tanah Sumbawa. Di puncak bibir kaldera yang menghebohkan dunia.

Dengan bergantian, semua bergilir memegang plakat bertuliskan Gunung Tambora 2851 mdpl. Ada juga yang mencium bendera, ada yang mengeluarkan berbagai tulisan tanda kasih sayang bagi pasangan, sahabat, dan saudara-saudaranya, ada juga yang asyik merenung menatap jauh ke hamparan awan-awan.

"Pendaki, jika sudah tiba di sini. Di puncak ini. apa yang sudah kamu dapatkan? Syukur yang tak berkesudahan? Kebanggaan diri akan pencapaian? Penemuan akan jati diri yang hilang? atau bahkan kamu tidak tahu sama sekali kenapa kamu berada di puncak ini? Sungguh semua patut kamu renungkan."



Hampir 15 menit kemudian, seluruh anggota tim genap menggapai puncak. Selebrasi pencapaian kami rayakan dengan berfoto-foto lagi. Melompat lebih tinggi atau main tendang-tendangan layaknya punya ilmu bela diri. Padahal cuma punya jurus tendangan si Madun, yaitu tendangan asal-asalan :D


Perjalanan Turun Gunung

Sekitar Pukul 13.25 kami mulai menuruni puncak. Beriringan bersama dengan penuh luapan kebahagiaan. Satu puncak telah tergapai. Dan sebuah tanya mulai merayapi fikiran. Apa yang kamu capai?

Namun karena kondisi tubuh dan kaki masing-masing dari kami berbeda-beda maka kecepatan turun pun berbeda-beda. Sambil menunggu rekan-rekan di belakang, saya mulai belajar menggunakan kamera. Sayang sudah jauh-jauh dan berat dibawa ke puncak cuma buat digantungin di leher doang.
Haidar dan Lee

Pada perjalanan turun saya berjumpa dengan rekan-rekan pendaki dari Malaysia. Haidar dan Lee, yang langsung mengajak foto bersama. Kemudian Bang Mohamad, disusul selanjutnya Meija, terakhir Bang Man dan Bang Han.

Pukul 16.00 saya dan Bang Ming yang lebih dulu tiba di sungai dekat pos 5 mengambil beberapa botol air mentah untuk dimasak. Setelah itu menuju tempat persembunyian barang-barang yang tadi pagi kami tinggalkan. Alhamdulillah semuanya masih utuh. Terutama kompor, gas, dan makanan yang akan dimasak.

Selang waktu 15 menit kemudian, anggota tim yang tercecer datang satu per satu. Yuni, Kiky, dan Marita. Sementara itu Kang Asep datang dengan kondisi kaki keseleo yang tambah parah. Cedera sewaktu main basket di Mataram belum pulih sudah dihantam dengan mendaki gunung.

Setelah berkumpul semua, Bang Ming dan saya yang telah selesai memasak kemudian menghidangkan masakan kepada rekan-rekan yang lainnya. Hanya memasak mie instan dan menghangatkan nutri sari. Namun tetap saja nikmat tak terkira karena lapar mendera-dera. Selepas makan lalu sholat jamak ashar dan dzuhur.

Di sini, rasa yang pernah ada datang kembali. Rasa apa? Hehe...apalagi selain kebelet pipis. Kali ini bukan saya saja tapi Kiky dan Marita juga merasakan hal yang sama. Hanya Yuni yang sepertinya kebal, belum merasakan desakan yang teramat sangat. Untung saja semak-semak tempat persembunyian barang-barang bisa kami jadikan toilet dadakan. Secara bergantian kami saling menunggui supaya tidak ada orang yang lewat lalu melihat.

Misi pertama, Kiky. Dengan perbekalan tissue basah, sukses kembali ke tempat kami berkumpul. Giliran kedua, Marita. Ia pun kembali dengan ceria. Jelas ceria karena ia dapat mengatasi masalah tanpa masalah seperti  iklan pegadaian itu. Dan pada antrian ketiga giliran saya.  Namun betapa apesnya saya saat itu.

Karena saya fikir Kiky dan Marita tadi jongkoknya di tempat saya berdiri saat itu, maka saya menggeser kaki agak ke sebelahnya lagi. Ladalaaaah....tiba-tiba saja satu injakan terasa empuk di sepatu. Apa ini? Alamak ranjau darat. Saya berteriak histeris. lalu menanyakan penuh selidik pada Kiky dan Marita.  Wkwkwk....mereka jadi tersangka utama. Laaah siapa lagi yang jongkok dari tadi di sana selain mereka berdua.

"Enggak...aku nggak pup kok Teh."  Kiki menjelaskan. Terang saja menyangkal karena dia bukan pelakunya. Mata saya langsung beralih ke Marita yang sedang sholat.  Mata yang penuh dengan tuduhan. Kalau penyanyi dangdut Marita sudah menjawab begini "tuduhlah akuuuu...sepuas hatiiiiimu...." haha.

"Iiih enggak kok Teh. Eh jangan-jangan aku juga nginjak." Kata Marita setelah sholat sambil memeriksa sepatunya. Dan ternyata di ujung sepatunya ada sedikit ranjau yang menempel. Dia pun histeris sibuk membersihkan ujung sepatu dengan menggores-goreskannya ke rumput. Wkwkwk....

"Teteh, nanti jalannya di belakang ya. Soalnya nanti kalau duluan berarti bekas injakannya akan kena injak sepatu kami juga" Kata Kiky. Hahaha...nggak apa-apa saya tetap di depan hitung-hitung bagi-bagi rejeki.

Saat berangkat, kami telah memasang headlamp di kepala. Sebentar lagi malam menjelang itu berarti kami butuh lampu senter sebagai penerang jalan. Sepanjang jalur yang dibahas adalah peristiwa ranjau darat tadi. Dan saat kami ceritakan pada Bang Ming, dia mengiyakan bahwa saat ia meletakkan barang-barang untuk disembunyikan ia juga hampir menginjaknya. Nah tuh. Berarti benar bukan Kiky bukan pula Marita pelakunya.

Pos 4 terlewati. Kekuatan yang ada semakin terkuras hingga Pos 3. Dan titik lelah fisik dan mental terakumulasi saat perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 2. Rasanya kok tidak sampai-sampai. Tidak saya saja, bahkan semua anggota tim merasakan hal yang sama. Padahal jalur yang dilalui adalah jalur yang sama seperti saat kami naik dini hari tadi. Saking lamanya kami menyangka bahwa kami telah nyasar atau disasarkan
Ceria di Pos 2 setelah malamnya hampir putus asa

"Sudah dengar suara air sungai belum Lin?" Kata Kang Asep yang berjalan di belakang Marita. "Belum." Jawab saya. Iya kenapa suara air sungai di dekat Pos 2 belum terdengar juga ya? Duh kenapa lama sekali. Saya hanya berbicara dalam hati. Tak ingin membuat resah rekan-rekan yang lainnya. Perasaan yang sebenarnya dirasakan oleh semua anggota tim.
Perjalanan panjang pun tetap ada akhirnya. Begitu pun dengan perjalanan ini. Suara gemericik air, membuat harapan baru. Pos dua di sebrang saja. Itu artinya kami sudah bisa beristirahat sejenak sebelum esok tiba. Malam itu kami tidur dengan nyenyak di tenda. Tidak merasa dingin malah justru kegerahan karena berkemul dengan sleeping bag


Pos 1, Jalur Dusun Pancasila
Dari jauh, begitu melihat kami datang, Bang Arief yang kami tinggal di Pos 1 sejak dua hari yang lalu merentangkan tangan penuh bahagia. Tampaknya dua malam menjadi penjaga Pos 1 dia baik-baik saja. Saya sempat mengkhawatirkannya. Namun kekhawatiran itu langsung ditepis Kang Asep. Dia bilang Arief itu orangnya supel, pandai bergaul jadi pasti dia baik-baik saja. Dan betul saja. Lihat dia masih bisa ketawa-ketiwi melihat kami datang.
Foto dulu sebelum tiba di Pos 1
Dan perjalanan turun dari Pos 1 menuju Pintu Rimba kebun kopi serta Dusun Pancasila, kini tak terasa melelahkan lagi. Kami bahagia sudah dapat berkumpul kembali bersama tim. Dan yang pasti walaupun kaki pegal linu ngilu-ngilu, kami tetap selamat tanpa cedera hingga turun dan melaju di jalanan Sumbawa.
Sekian
 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...