Friday, May 29, 2015

Sasaku, Pusat Belanja Oleh-Oleh Khas Lombok

Toko Oleh-Oleh Khas Lombok Sasaku. Photo by: Marita
Teman-teman mungkin sudah sering atau setidaknya  pernah sekali saja main ke Lombok kaan? Nah rasanya nggak seru kalau jalan-jalan ke Lombok tapi nggak bawa pulang oleh-oleh khas Pulau Lombok. Iya nggak? Ya iya dong.

Biasanya kalau pulang kembali ke kota asal maka  saudara, teman kerja, dan tetangga suka banget nanyain oleh-oleh. Dilema sebenarnya. Antara beli oleh-oleh atau enggak. Penyebabnya bisa banyak faktor. Terutama masalah keuangan, over bagasi, dan ini nih yang sering kesebut, nggak mau ribet. Apalagi kudu jinjing-jinjing kanan-kiri karena ransel dan koper sudah nggak muat lagi. Pyuuuh males banget kan!

Mereka nggak tahu kondisi kita saat jalan-jalan. Orang selalu mengira kita banyak uang dan bisa beli oleh-oleh segudang. Padahal para pejalan itu nggak selalu bawa uang banyak. Malah seringnya pas-pasan bahkan cekak. Hihi…nunjuk diri sendiri. Namun pasti ada sebagian yang nggak tegaan dan merasa tidak nyaman kalau pulang tanpa bawa oleh-oleh. Saya salah satunya. Paling nggak enak banget kalau bawa oleh-oleh sedikit dibagikan cuma untuk teman satu department di tempat kerja. Dikasihkan beberapa orang saja sudah habis sementara teman-teman dari department lain ramai menanyakan oleh-oleh. Kadang suka menghindar dan dalam beberapa hari tidak mengunjungi ruangan department lain kalau sudah begini kasusnya. Qiqiqi.

Wiiih malah curhat. Tadi kan saya ngomongin oleh-oleh khas Lombok. Kenapa jadi curcol begini ya? Maafkan.

#KembaliKeLaptoooop!

Nah menurut versi saya seharusnya oleh-oleh yang ideal itu yang pasti murah tapi nggak murahan. Mudah dibawa, ringan dijinjing, muat diselip-selipin di tas dan ransel atau koper, tahan lama, awet, tidak mudah rusak, dan yang pasti khas dan ada tulisan made in mana-mananya. Terutama made in daerah yang kita kunjungi.
 
Souvenir Sasaku. Photo by: Marita
Apa saja sih yang khas dari Pulau Lombok itu? Semua pasti bilang ayam Taliwang. Iya. Nggak salah kok. Tapi Lombok bukan hanya ayam taliwang atau plecing kangkung saja. Masih banyak  hal lain yang menjadi khas Lombok. Tidak saja kuliner tapi cendera mata dan fashion. Seperti yang saya temui saat berburu oleh-oleh di Sasaku. Sebuah toko yang menjual berbagai benda souvenir dan oleh-oleh khas Lombok.

Secara segmentasi, Sasaku mengambil tema fashion yakni kaos sebagai produk utamanya. Namun saat tiba di tokonya, saya dibuat terbengong-bengong dengan berbagai macam benda yang dijual di sana. Begitu beraneka ragam dan variatif. Mulai dari kain pantai, batik, tas, dompet etnik, kerajinan tangan, ukiran, makanan ringandan lainnya. Saat diperiksa pada setiap kemasan dan bungkusannya semua mempunyai label buatan Lombok. Waaah senangnya.

Ketika berjalan berkeliling di toko yang luas, bersih dan nyaman ini saya dan teman saya, Marita dibuat kalap dengan seluruh benda-benda yang dijual di sana. Semua menarik mata dan yang pasti menarik uang saya untuk keluar dompet. Haha. Rasanya semua ingin saya beli dan bawa pulang. Apa daya takut over bagasi dan tentu saja kembali ke permasalahan pertama. Dompet sudah menipis. Namun lagi-lagi melirik dompet etnik, duuuh kok ya menarik dan unik-unik banget. Whaa...galau.

Saat melihat-lihat harga yang tertera pada label beberapa barang jualan, saya dibuat terkejut. Harga oleh-oleh setiap pack-nya masih terbilang murah. Padahal jika dilihat dari kemasan begitu menarik dan elegan. Waaah….saya bisa ngeborong nih kalau begini caranya. Salut untuk Mas Heru sebagai owner dari Sasaku yang terus mengembangkan usahanya dengan cara yang briliant.
  
Dan bagi pelaku-pelaku usaha produk oleh-oleh lainnya, yang menjadi hal penting sekarang adalah bagaimana memoles dan memberi brand pada produk-produk khas tersebut. Karena siapa pun akan senang dan bangga jika benda yang dibelinya ternyata merupakan produk khas yang hanya dapat dibeli di tempat dimana ia kunjungi.

Nah saat belanja oleh-oleh pastikan beberapa kriteria oleh-oleh ideal yang saya sebutkan di atas termasuk salah satunya. Selamat bersenang-senang di Lombok dan bawa pulang oleh-oleh yang banyak supaya tidak menyesal :D

Sasaku
Jalan TGH Lopan,
Kompleks Pertokoan Dasan Cermen No 31-32

Lombok Nusa Tenggara Barat

Menemukan Batu Akik di Dusun Sade yang Unik

Gerbang Masuk Dusun Sade
Seorang bapak-bapak mengenakan ikat kepala dan pakaian khas Lombok menyambut kedatangan kami. Ia mengenalkan diri dan kemudian mengajak kami berkeliling. Hari itu saya dan Marita, dihantar oleh  teman dari Mataram, Kang Asep dan keluarganya mengunjungi kampung wisata Dusun Sade yang termasuk ke dalam wilayah Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Dusun Sade ini terdiri dari 150 bangunan rumah dengan 150 kepala keluarga. Penduduknya kurang lebih mencapai 700 orang dan satu sama lain masih terikat tali kekerabatan. Karena letaknya tepat di tepi jalan raya dan dekat dengan bandara, maka Dusun Sade sangat ramai dikunjungi oleh turis. Baik lokal maupun asing.
Bersama Agha dan Chaca

Kami diajak berkeliling menyusuri gang-gang yang cukup bersih di diantara rumah-rumah adat. Menyaksikan langsung cara pembuatan kain tenun mulai dari pemintalan kapas hingga menjadi sebuah kain yang bernilai tinggi.

Berbagai souvenir cantik dan unik tersaji pada beberapa teras rumah dan meja-meja yang digelar terbuka di halaman dan samping-samping rumah. Beberapa ibu-ibu dengan antusias menawarkan dagangannya kepada kami. Yup, saatnya berburu oleh-oleh. Kebetulan harga yang ditawarkan lumayan murah.

"Jangan lupa oleh-olehnya ya. Nggak usah macam-macam. Cukup Batu Akik saja." Seorang rekan kerja berpesan di akun facebook saya. Pesannya sama dengan suami yang sebelum berangkat sempat bilang minta dibawakan batu akik juga. Duh bapak-bapak ini. Demam batu akiknya nggak hilang-hilang.

Menyusuri lorong-lorong Dusun Sade ternyata tidak susah menemukan batu akik. hampir di setiap pedagang apa pun rata-rata tersaji sebaskom batu akik yang direndam oleh air. warnanya cukup unik-unik dengan harga yang bervariatif. Saya tidak begitu mengerti ilmu perbatuakikan tapi mengingat pesan suami akhirnya saya memilihkannya beberapa bongkah. Cukup jika dijadikan 5 hingga 6 biji batu akik.

Sebaskom Batu Akik

Batu Akik telah diasah
Adapun Marita seperti menemukan surganya sendiri. Sibuk menawar dan mencoba berbagai souvenir yang tersedia. Semenjak awal keberangkatan dari Batam saja anak ini berfikir keras bagaimana dan dimana akan membeli oleh-oleh pesanan teman-temannya. Setelah hampir seminggu perjalanan kami menyusuri Provinsi Nusa Tenggara Barat ini belum satu pun oleh-oleh yang berhasil dibeli. Dan inilah saatnya berburu dan menghabiskan uang. Saking banyaknya souvenir yang dibeli, Marita sampai bingung menghitung berapa uang yang harus dibayarkan. Haha. Yang lucu lagi pedagangnya bingung. Pedagang lain yang membantu menghitung pun ikut bingung. Saudaranya pedagang yang ikut menyaksikan turut bingung. Saya yang bukan pedagang Alhamdulillah tidak ikut-ikutan bingung.Wkwkwk. Saatnya kalkulator bertindak. Mengeluarkan tablet kesayangan dan tuk..tuk..tuk...sekian kali sekian sama dengan sekian dibagi sekian.Tuk..tuk.. Selesai sudah kebingungan yang terjadi. Syah? Syaaah :D

Kain Tenun Suku Sasak di Dusun Sade

Sementara saya, yang memang sudah emak-emak dan banyak perhitungan, yang diingat ya cuma dua hal saja batu akik untuk suami dan oleh-oleh untuk Chila. Lainnya lihat-lihat dulu deh mana tahu masih ada sisa uang nyelip di dompet. Hehe. Meskipun hati meronta-ronta karena pandangan mata selalu saja menatap kain-kain cantik berwarna-warni khas Lombok yang sangat menarik perhatian.

Penjual Souvenir yang Masih Anak-Anak

Saya dan dua orang anaknya Kang Asep, Agha dan Chaca terus berjalan menyusuri gang-gang di Dusun Sade dengan semangat. kedua orang tuanya tidak ikut serta berkeliling. Kang Asep dan istri hanya duduk-duduk saja di Balai Tani yang ada di halaman depan Dusun Sade sambil beristirahat. Sedangkan Agha dan Chaca tidak bisa diam, berlari ke sana kemari, terus saja mencoba segala sesuatu, bertanya berbagai hal yang ditemui, dan memperhatikan hal-hal yang menarik bagi mereka. Rasa ingin tahu yang khas dijumpai pada sifat anak-anak. Seru, mengingatkan saya saat masa kecil dulu yang serba ingin tahu.

Nenek Pemintal Kapas

Hampir satu jam berkeliling bertanya dan menawar ini itu maka selesailah kunjungan ke Desa Sade ini. Hasilnya, saya hanya membawa sekeresek batu akik dan gelang-gelang cantik untuk Chila dan teman-teman sekolahnya. Sedangkan Marita membeli banyak sekali souvenir, seperti kalung, gelang, syal tenun, dan entah apalagi.


  

Thursday, May 28, 2015

Gowes di acara Car Free Day Batam

Karena hari minggu kemarin 25 Mei 2015 tidak ada rencana untuk melakukan kegiatan yang signifikan, menantang, dan nendang-nendang :) seperti jalan-jalan ke pulau atau naik gunung apalagi shopping keliling-keliling, maka saat ditawari ikut acara Car Free Day (CFD)oleh teman-teman Bike to Work Batam maka saya langsung mengiyakan. Kalau suami sih cukup bilang sekali saja dia mah sudah dukung banget.

Yang namanya Car Free Day itu ya selalu dilakukan pagi-pagi. Jadi meskipun hari minggu terpaksalah subuh-subuh bangun, mandi, sholat subuh, lalu mempersiapkan sepeda agar layak jalan. Memeriksa ban depan dan belakang khawatir kempes seperti minggu-minggu lalu. Betul, saat diperiksa ternyata ban depan agak kempes. Terpaksa warming up dengan memompa sepeda dulu. Subuh-subuh huh..hah..huh...hah..udah ngos-ngosan :D

Benda-benda lainnya seperti helm, hand glove, buff, tas sepeda, sepatu, sudah ready semua. Tinggal pakai. Sayang kacamata rusak, ada pun yang masih bagus ketinggalan pula di rumah teman di Sumbawa. Ngambilnya saja harus naik pesawat terbang :P

Ketika siap-siap berangkat baru teringat satu hal. Oh ya lupa tadi tidak menyiapkannya. Pantesan perasaan ada yang kurang. Ini nih yang tidak boleh dilupakan kalau bersepeda, harus memakai  celana sepeda agar duduk di sadel nyaman dan tidak sakit pada selangkangan serta area sekitarnya karena gesekan dengan sadel. Baru deh dirangkap dengan celana panjang. Celana sepeda mempunyai bagian yang mirip pembalut wanita yang empuk jika dibawa duduk. Untuk perjalanan jauh melebihi setengah jam maka mengenakan celana ini sangat disarankan.

Foto-Foto Kegiatan Kelas Inspirasi Batam
Pukul 5.20 pagi itu saya keluar rumah. Setelah berpamitan pada suami lalu menggenjot sepeda di jalanan kompleks. Duh masih gelap, apalagi sekitar jalan yang dilalui terdapat banyak pepohonan yang membuat bayangan hitam ke tengah jalan. Beberapa kali hampir jatuh karena melalui polisi tidur yang tidak terlihat sama sekali.

10 menit kemudian, saya sudah meluncur di jalan utama yang menghubungkan kawasan Batu Aji - Muka Kuning. Saya dan beberapa rekan pesepeda janji berkumpul di halte Panbil Mall Muka Kuning. Pukul 6 lewat 3 menit tiba di halte Panbil dan langsung mengabarkan kepada rekan-rekan pesepeda lainnya melalui whatsapp. Beberapa menit kemudian Andar dan Yuni datang. Mereka berdua adalah pesepeda wanita Batam yang kini menjadi Srikandi Inspirasi bagi kemajuan kegiatan bersepeda khususnya di komunitas Bike to Work Batam. Yang akan mengkampanyekan kegiatan bersepeda khususnya kegiatan Bike to Work kepada para perempuan di Kota Batam.

Ambulance dengan Spanduk Aksi Peduli Rohingya

Karena tidak ada yang mengabarkan akan ikut dan bergabung lagi bersama kami, maka kami langsung memulai perjalanan menuju Nagoya dengan melintasi Jalan Jendral Ahmad Yani. Melalui simpang Kabil kemudian menyusuri Jalan Jendral Sudirman. Sesaat setelah Kepri Mall kami berbarengan dengan beberapa orang bapak-apak yang bersepeda dan berniat sama menuju ke acara CFD.

"Pelan-pelan saja ya Dek, jangan buru-buru", kata seorang bapak mengingatkan kami karena takut tertinggal. Padahal mereka justru lebih senior di dunia sepeda dibanding kami. Siapalah kami ini Om :D?

Peserta CFD

Setelah melalui Jalan Jendral Sudirman kami lantas belok kiri melintasi Jalan Bunga Raya. Bertemu lampu merah kemudian menyebrang menuju Jalan Pembangunan hingga tiba di Jalan Imam Bonjol tempat acara CFD dilaksanakan.

Tiba di lokasi CFD sudah ramai dengan warga Batam yang melakukan berbagai aktifitas. Tepat di jalan mengarah pintu masuk ke Nagoya Hill Mall sekumpulan orang sedang melakukan aerobic. Di sisi kanan jalan berkumpul beberapa kelompok pesepeda. Sebuah ambulance dan para medis tampak di sisi sebelah kiri. Dan yang paling menarik adalah pemandangan ke salah satu sudut jalan dimana terdapat foto-foto berbagai kegiatan sebuah organisasi bernama Kelas Inspirasi. Beberapa diantara anggota Kelas Inspirasi ternyata saya kenali. Langsung deh minta foto-foto.

Bersama teman-teman Kelas Inspirasi Batam


Saat duduk-duduk mengamati acara CFD saya sempat bertemu teman kuliah yang hampir 8 tahun tidak pernah bertemu. Bercerita sejenak dan saling berbagi nomor kontak. Alhamdulillah selalu saja ada silaturahmi yang tak diduga-duga jika ikut kegiatan-kegiatan seperti ini. Jadi senantiasa menyenangkan.

Selepas acara CFD saya mampir terlebih dahulu ke Swill Bellhotel di Harbour Bay Jodoh karena ada sesuatu hal. Setelah itu berpisah dengan Andar dan Yuni di sana. Mereka pulang melalui rute yang sama dengan saat berangkat tadi. Sedangkan saya lurus mengikuti Jalan Duyung hinga melewati DC Mall dan persimpangan Tanjung Uma kemudian belok kanan menuju Universitas Internasional Batam menyusuri Jalan Gajah Mada menuju kawasan Tiban. Di jalan ini lumayan ngos-ngosan karena berjumpa dengan beberapa tanjakan.

Setelah Tiban berbelok kiri menuju Jalan Diponegoro melintasi Hutan Wisata Mata Kucing, pekuburan umum Sei Temiang, Simpang Aviari hingga tiba di rumah. Alhamdulillah selamat hingga kembali ke rumah. Total perjalanan bersepeda hari itu adalah 50 km. Lumayan menjadi rekor tertinggi dalam sejarah bersepeda seumur hidup saya. Hehehe.








Wednesday, May 27, 2015

Penyebrangan Sumbawa - Flores


Suasana Pelabuhan Sape
Saya dan teman saya, Marita, baru saja turun dari bis yang mengantarkan kami dari Kabupaten Dompu menuju Pelabuhan Sape di Kabupaten Bima Pulau Sumbawa. Hari itu kami berencana menyebrang menuju Labuan Bajo Pulau Flores. Pulau yang sudah lama ingin saja jejaki. Meski hanya sebatas ujung baratnya saja, tidak mengapa. Hanya sebagai pertanda bahwa perjalanan ke pulau impian tersebut baru akan dimulai.

Tujuan kami yang utama adalah menikmati panorama indahnya Taman Nasional Komodo yang bisa ditempuh dengan menaiki kapal dari Kota Labuan Bajo. Taman Nasional yang menjadi salah satu New Seven Wonder of Nature dan telah pula masuk ke dalam situs warisan dunia.

Monday, May 25, 2015

Menikmati Kemping Keluarga di Hutan Kota Batam

Sebagai kota kepulauan, Batam tak pernah kehabisan tempat untuk dijadikan objek wisata bahari. Sebagai mainland, Batam mempunyai puluhan lokasi pantai yang sedang menggeliat berbenah, mendandani dirinya untuk dijadikan objek wisata unggulan. Belum lagi pesona pulau-pulau di kawasan hinterland yang jumlahnya hingga ratusan. Baik pulau-pulau yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni. Oleh sebab itu Batam bisa saja menjadi pusat wisata bahari di Indonesia jika pengembangan dunia pariwisatanya berjalan maksimal.

Sungai Kecil dengan Bunga Pandan Liar

Namun bukan hal di atas yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Melainkan bercerita tentang sebuah lokasi wisata alam yang sebenarnya cukup unik. Yaitu Hutan Pancur Simpang Dam, Muka Kuning, Batam. Di tengah gerumul pulau-pulau dan lekukan selat-selat terdapat sepetak telaga di dalam rimba belantara yang 180 derajat berbeda dengan kondisi alam Batam secara umum. 

Ya, saya katakan unik karena lokasinya berada di tengah-tengah hutan. Sedangkan hutan itu sendiri berada di tengah-tengah gempuran pembangunan Batam yang kian membabi-buta. Hutan Kota. Pelan tapi pasti, hutan ini telah tergerogoti. Semakin menyempit dan mengecil seiring deal-deal bisnis tingkat tinggi antara para develover, bankir, dan para pemangku kekusasaan. Belum lagi para pendatang yang secara ilegal mendirikan rumah-rumah liar serta membuka ladang di tepi-tepi hutan. Hutan yang entah berapa tahun ke depan mungkin saja akan menghilang.

Lokasi wisata alam ini kerap disebut Hutan Pancur Simpang Dam. Dinamakan demikian karena di hutan tersebut terdapat sungai yang mengalirkan air terjun kecil yang mirip pancuran. Sungai yang tenang, teduh, dan indah. Dihiasi pepohonan rindang dan bunga pandan liar di kanan kirinya.

Melompat
Dikatakan Simpang Dam karena akses menuju lokasi berawal dari sebuah persimpangan menuju Dam (bendungan) Muka Kuning. Dam ini dibangun guna memenuhi kebutuhan air baku masyarakat Pulau Batam khususnya kawasan Kecamatan Sei Beduk dan Kecamatan Batu Aji. Sedangkan sumber utama air dam adalah air hujan dan air sungai dari hutan yang terdapat di sekitarnya. Hutan yang berfungsi sebagai penyangga bagi ketersediaan air tanah yang nantinya mengalir dan terkumpul ke dalam Dam Muka Kuning.

Pada weekend pertengahan Mei lalu, saya dan keluarga sengaja menyempatkan diri untuk trekking ke Hutan Pancur. Walau sudah berkali-kali ke hutan ini tetap saja tak pernah ada kata bosan. Kami sengaja berangkat sore hari karena sekalian ingin berkemah (kemping). Saat itu kami ditemani juga oleh seorang teman, Rina, dan keponakannya Rina, Nata yang berusia 6 tahun. Hampir sama dengan usia Chila, anak saya. Rina bilang ingin mengajari keponakannya agar tidak takut. Apalagi ada Chila sehingga Nata bisa belajar dan bermain bersama-sama dengan Chila.

Pos Jaga dan Parkiran Kendaraan
Perjalanan ditempuh dengan menaiki kendaraan roda dua hingga ke pos jaga. Di pos telah banyak kendaraan yang diparkir. Sebetulnya ini merupakan parkir ilegal, karena lokasi Hutan Pancur sendiri berada di wilayah hutan lindung dimana aktifitas yang bertujuan komersil adalah dilarang. Namun seperti peribahasa dimana ada gula di situ ada semut. Dimana banyak orang disitu ladang dan peluang mendapatkan uang. 


Para penduduk sekitar Simpang Dam yang melihat membludaknya pengunjung terutama setiap weekend menganggap sebagai satu kesempatan untuk mengais rejeki. Mungkin tak ada salahnya hingga kegiatan trekking dilarang oleh yang berwenang seperti pada beberapa belas tahun silam saat debit air dam mencapai level sangat mengkhawatirkan.

Setelah menitipkan motor di rumah penduduk (tidak di pos), dari parkiran kami menyusuri jalan setapak hingga tepian dam. Setelah itu menyebrangi jembatan kayu. Menanjak sedikit dan menemukan sebagian pepohonan di hutan telah terbakar. Sungguh sedih melihat bagian hutan ini begitu kering dan kerontang. Entah kebakaran yang sengaja atau tidak disengaja. Namun tak lama kemudian kami memasuki hutan yang cukup rindang dan suasana hutan pun teduh kembali. Menyebrangi beberapa jembatan kecil lagi sebanyak 3 kali hingga kami tiba di sebuah tepian sungai yang berair jernih. Waktu tempuh dengan langkah mengikuti kecepatan Chila dan Nata kurang lebih 50 menit. 


Setelah menyebrang sungai kami memilih lokasi untuk kemping di sebuah tanah lapang di tepi telaga kecil. Di atas telaga terdapat tebing batu setinggi kurang lebih 4 meter yang mengucurkan air sungai dari bagian atas seperti air terjun. Karena air terjunnya rendah, maka para pengunjung lebih suka menyebutnya dengan nama Pancur.

Di lokasi kemping telah berdiri tenda berwarna biru dengan deretan pancing berjejer di depannya. Saya jadi teringat obrolan dengan tukang parkir di pos jaga, bahwa ada sepasang suami istri yang tiap sabtu minggu menginap dan berkemping di hutan ini. Mereka berdua sungguh membuat saya tercengang. Bagaimana tidak, sementara di luar sana, orang-orang mencari hiburan di antara hingar bingarnya keramaian kota, mereka berdua malah selalu menyepi sambil memancing di tepi sungai. Mencari keheningan dari salah satu sudut hutan Batam yang masih tersisa.

Tenda Kami
3 buah tenda cantik dan colorful telah kami dirikan saling berhadap-hadapan. Berdekatan dengan tenda Bu Ami dan suaminya. Pasangan suami istri yang saya ceritakan barusan. Karena tenda saya dan suami hanya berkapasitas dua orang, maka tenda Chila pun kami bawa. Tenda model baru yang sekali pasang tidak sampai satu menit sudah berdiri. Praktis dan hemat waktu.

Menjelang sore saya mengajak Chila untuk mandi berendam di air sungai yang mengalir tenang. Awalnya ia menolak karena dingin, namun setelah pelan-pelan menurunkan kaki dan badan ke dalam air sungai, ia malah asyik bermain-main. Chila tampak heboh sendiri dengan panci trangia yang dia hanyutkan seperti kapal-kapalan. Lalu dikejar dan ditangkap. Dihanyutkan, dikejar kemudian ditangkap. Dihanyutkan, dikejar... halaaah capek sendiri saya melihatnya. 

Pancing-Pancing Bu Ami dan suaminya
Malam mulai menjelang. Gelap menelikung seluruh pemandangan. Lilin, lampu gantung, dan senter mulai dinyalakan. Beberapa anak muda sepantaran SMP dan SMA yang juga menginap di sana menyalakan api unggun. Dua orang dari mereka tampak asyik bergelayutan di hammock yang kami pasang di pohon-pohon di tepi sungai. Suami sedang asyik merebus singkong yang dibelinya di Simpang Dam tadi sore. Chila dan Nata tak kalah asyik mengikuti Bu Ami dan suaminya mancing di tepi telaga. Rina dan saya duduk-duduk mengobrol di luar tenda. Namun lama-lama ngantuk menyerang saya luar biasa. Dan saya pun terlelap dalam buaian malam. Lama-lama terasa ada yang aneh di mulut saya. Sediki manis dan...puaaah...puaaah....saya meniupkan sesuatu yang menempel di bibir. Ya ampuuun, dasar jail. Suami mencocolkan singkong rebus yang dibaluri gula pasir ke mulut saya. Mendadak melek.

Setelah ngobrol panjang kali lebar kali tinggi dengan Rina, terutama membahas rekan-rekan di grup Anak Pulau dan Batam Traveler yang sedang island hopping, sekitar jam setengah sepuluh kami beranjak ke tenda masing-masing. Saya tidur dengan Chila yang langsung pulas sesaat kemudian. Rina dan Nata di tenda sebelah. Sementara suami saya tidur sendiri di tendanya. Malam itu kami semua tidur damai di antara suara-suara hutan dan gemericik air sungai yang mengenai bebatuan.

Hand in frame
Pagi-pagi setelah sarapan mie dan meneguk kopi hangat, saya, Chila, dan Nata berenang bersama di tepi telaga. Nyebur-nyebur di tepinya saja karena belum pede untuk berenang ke tengah. Kalau di kolam renang saya masih bisa nyampe berenang hingga sepuluh meteran, tapi di sini nggak berani karena belum tahu seberapa kedalamannya. 

Chila dan Ayahnya

Kopi Pagi

Setelah beberapa jam menikmati suasana Hutan Pancur yang mulai ramai dengan pengunjung dari berbagai kalangan dan komunitas, siangnya sekitar jam 12 kami beranjak pulang. Namun tak lupa sebelum pulang membersihkan lokasi kemping dengan memungut dan mengumpulkan sampah. Mengajari Chila dan Nata secara langsung untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dengan semangat dan antusias dua anak ini memunguti sampah lalu membuangnya ke pembakaran api unggun yang masih menyala. 

Sebenarnya membakar sampah bukan merupakan solusi akhir. Karena membakar sampah tetap menimbulkan polusi lain yakni polusi udara meskipun dalam kadar kecil. Walaupun demikian kami memilih membakar sampah-sampah ini agar tidak bertebaran kemana-mana. Untuk membawa pulang rasanya tidak mungkin karena terlalu banyak sampah yang ditinggalkan pengunjung lain. Setelah api mengecil dan menitipkan pada Bu Ami untuk mematikannya, kami pun bergegas pulang.

Jauh ke dalam menemukan pemandangan lain lagi
Sepanjang perjalanan pulang, Chila dan Nata berjalan susul menyusul. Tak mau kalah. Melintas beberapa jembatan kayu tanpa bantuan. Lihatlah....mereka berdua kini menjadi pemberani. Alam membentuk dan mengajari mereka begitu cepat.

Chila Menyebrang Jembatan Kayu Sendiri
Tangga dari Akar



Wednesday, May 20, 2015

Para Pelintas Jalan di Pulau Sumbawa

Kendaraan kami melintas di Pasar Kadindi, Dompu
Mobil jenis APV dengan merk Suzuki Arena bernomor polisi DR 1576 DC melaju kencang menembus kegelapan malam. Lagu-lagu era tahun 90an mengalun bergerak rancak dari tape mobil yang sedang kami kendarai.

Perjalanan berjam-jam melintasi Kabupaten Sumbawa Barat kemudian Sumbawa Besar telah kami lalui. Kini mobil melaju dengan kecepatan menembus 100 kilometer per jam menyusuri pesisir barat Kabupaten Dompu. Menyusuri tepian Teluk Saleh yang tenang dan indah. Sayang kami melaju pada malam hari yang gelap gulita. Hanya tampak kelap-kelip lampu nelayan di kejauhan.

Di belakang kemudi, Bang Arief dengan rambut terurai panjang sepunggung begitu serius menatap jalan. Segelas kopi yang diteguknya saat kami makan siang di salah satu rumah makan di daerah Masbagik Lombok, bekerja dengan sangat baik. Membuat matanya tetap awas dan terjaga.

Kang Asep yang duduk di samping Bang Arief sudah tertidur pulas. Di jok kiri bagian tengah Bang Ming sudah menyandarkan kepalanya di tepi kaca. Marita yang duduk di tengah-tengah juga sudah tenggelam ke alam mimpi, wajahnya tak terlihat karena tertutup slayer. Sementara saya duduk menelungkup pada kaca sebelah kanan jendela mobil sambil memeluk buku Tambora Sampai ke Kita karya Nunik I. Taufan. (Sebenarnya ada kisah tragis yang menimpa suami penulis buku ini sebelum kami melakukan perjalanan ke Sumbawa. Nanti akan saya ceritakan). 

Duduk di jok paling belakang duo dokter muda Yuni dan Kiky. Keduanya  sudah tak bersuara lagi. Sama-sama pulas tertidur di antara himpitan keril yang berjejalan di bagasi yang tembus dengan jok mereka.

Laju mobil tiba-tiba seperti tertahan karena menggilas sesuatu. ..Ngik...ngik....suara anjing terkaing-kaing semakin jauh, jauh dan menjauh. Saya terbangun kaget.

"Apa tadi itu Bang?"
"Anjing ketabrak." Kata Bang Arief tetap terdengar tenang. Duh kasihan.

Belum genap satu jam, mobil yang kami kendarai terguncang kembali seperti menggilas sebuah batu besar. Saya terkaget-kaget lagi dan saat bertanya kepada Bang Arief, jawabnya sama dengan tadi, ia menabrak anjing lagi. Duuuh. Maafkan kami ya anjing. Mungkin itu pilihan yang tepat yang diambil Bang Arief daripada membanting setir saat mobil meluncur dengan kecepatan tinggi. Tentu akan membahayakan kami para penumpang mobil. 

Para pelintas jalan
Malam itu jalanan mulus sepi seakan milik kami. Hanya sesekali bis antar kota antar provinsi dan iring-iringan truk yang berpapasan. Meskipun sepi, lagi-lagi mobil kerap dibuat berhenti. Direm mendadak karena ada kuda, sapi, kambing yang nyelonong dan kelayapan malam-malam. Para pelintas jalan itu tentu tak pernah mengerti akan keselamatan nyawanya sendiri dan nyawa para pengendara.

Begitupun menjelang pulang, setelah selesai mendaki Gunung Tambora, saya baru jelas melihat suasana jalanan Pulau Sumbawa khususnya Kabupaten Dompu ini. Di kanan kiri hamparan savana luas sejauh mata memandang. Kerbau, sapi, kuda, kambing, merumput dengan damai. Bergerombol, berkelompok, namun semuanya terlihat akur dan berbaur. Rasanya inilah pemandangan sekeping surga bagi saya.

Tanda rambu sapi kerap ditemui di sepanjang jalan di Pulau Sumbawa
Dalam jarak beberapa ratus meter terdapat rambu-rambu yang bergambar sapi di tepi jalan. Menandakan kepada para pengendara untuk lebih berhati-hati karena kerap terdapat sapi dan ternak lainnya yang berkeliaran dan melintas jalan sembarangan.

Entah sudah berapa belas kali, Bang Arief mengerem mendadak laju mobilnya. Segerombolan kerbau dan sapi seringkali menyebrang tanpa permisi. Kami bukannya kesal justru takjub dan menjerit-jerit karena sibuk mau foto-foto sementara kamera dan tablet belum siap di tangan. Sialnya lagi begitu dinyalakan, tablet sudah lowbat dan sekarat. Untung saja Kiky bawa kabel USB yang bisa saya pinjam dan langsung dicolokin ke tape mobil hingga tablet saya bisa dicharge dengan segera.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Meskipun siang hari tetap saja saat sapi-sapi yang melintas mendadak harus sangat diwaspadai. Bang Ming bilang, di sini, ayam saja jika ketabrak maka nilai ganti rugi akan dihitung oleh si pemiliknya dengan menghitung berapa telur yang biasa dihasilkan dan kerugian anak-anak ayam yang ditinggalkan oleh emaknya. Wkwkwkwk.

Kalau sapi yang tertabrak? Alamakjaaan....satu ekornya saja seharga 9 jutaan. Kalau 7 ekor yang ketabrak bisa-bisa kami pulang jalan kaki karena mobil ini sudah ganti kepemilikannya :D

Sapi si pelintas jalan

Sapi, kerbau, kuda dan ternak lainnya yang dilihat liar serta hidup bebas di hamparan padang rumput Kabupaten Dompu ini semuanya ada pemiliknya. Jadi tidak liar begitu saja. Hanya kebiasaan masyarakat melepas dan membiarkannya mencari makan sendiri. Jadi jika akan beternak di sini cukup memberi tanda saja pada hewan ternaknya seperti gantungan kalung lalu dilepas.

Padang rumput yang rumputnya tak pernah tinggi

Padang rumput yang terhampar luas di sepanjang perjalanan tampak tak pernah menjadi semak dan tak sempat tumbuh tinggi. Ada pemotong rumput alami yang dengan siap sedia bekerja selama 12 jam sehari tanpa henti. Mesin potong rumput alami bernama kerbau, kuda dan sapi :D

Padang rumput - padang rumpur ini dari jauh maupun dekat tampak seperti hamparan permadani hijau yang menempel di lantai bumi. Bergelombang mengikuti kontur permukaan tanah dan menutupinya dengan indah.

Eksotisme Sumbawa sungguh luar biasa. Semoga suatu saat bisa kembali lagi ke sana.

Thursday, May 14, 2015

Mencicipi Sensasi Menjadi Srikandi Inspirasi Bagi Negeri




Sekilas Tentang Srikandi Inspirasi

Srikandi Inspirasi Bagi Negeri adalah sebuah gerakan kampanye untuk menggalakkan kegiatan bersepeda di kalangan perempuan Indonesia. Gerakan yang diprakarsai oleh beberapa perempuan dalam Komunitas Bike-to-Work Indonesia ini telah berlangsung selama 4 Jilid. Kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk touring dengan menempuh rute sebanyak ratusan kilometer menyusuri kota-kota di beberapa provinsi di Indonesia.

Selain mengkampanyekan gerakan bersepeda, misi perjalanan para Srikandi adalah membangun masyarakat Indonesia yang berkualitas secara fisik, psikis, dan moral. Memperingati semangat perjuangan kaum perempuan, mengkampanyekan gerakan "birukan langit" melalui aksi pembagian dan penanaman bibit pohon bersama masyarakat di wilayah yang terlewati. Mengeksplorasi kekayaan wisata alam, etnik, dan sejarah di provinsi yang dilewati dan mempromosikan Srikandi Indonesia sebagai image perempuan Indonesia yang menjunjung nilai-nilai tradisional sekaligus memahami perubahan nilai beserta modernitas yang terjadi.[1]

Berikut adalah kegiatan yang digelar dalam rangka Srikandi Inspirasi:
Jilid I pada tahun 2011 menempuh rute Jakarta - Jepara (Jawa Tengah)
Jilid 2 pada tahun 2012 menempuh rute Jepara (Jawa Tengah) - Bandung (Jawa Barat)
Jilid 3 pada tahun 2013 menempuh rute Banda Aceh (D.I. Aceh) - Padang (Sumatera Barat)
Jilid 4 pada tahun 2014 menempuh rute Mamuju (sulawesi Barat) - Makasar (Sulawesi Selatan)
dan untuk Jilid 5 tahun ini akan menempuh rute dari Bima (Nusa Tenggara Barat) - Den Pasar (Bali)

Pada tahun ini menginjak tahun kelima penyelenggaraan Srikandi Inspirasi Bagi Negeri. Bike To Work Indonesia kemudian menjaring para peserta dari seluruh pelosok tanah air dengan membuka pendaftaran hingga 28 Februari 2015 lalu. Bulan Maret adalah waktu penentuan siapa yang lulus adminstrasi sedangkan April – Mei adalah masa latihan bersama dan menentukan siapa yang berhak menjadi salah satu dari 21 Srikandi yang akan diberangkatkan dari Jakarta ke Bima guna mengikuti touring dan menjadi duta bagi para pesepeda wanita Indonesia.


Srikandi Provinsi Kepri

Tahun lalu untuk pertama kalinya Provinsi Kepulaua Riau (Kepri) mengirimkan peserta untuk mengikuti event Srikandi Inspirasi Bagi Negeri. Adalah Andar, seorang karyawan swasta di Kawasan Industri Batamindo Muka Kuning, Batam yang terpilih mewakili Provinsi Kepri. Jujur, saya baru tahu kegiatan ini saat diminta menuliskan catatan perjalanan Andar saat itu.
Ki-Ka: Andar dan Yuni. Foto diambil dari facebooknya Andar
Beberapa teman kemudian memanas-manasi dan menyemangati untuk ikut mendaftar. Nothing to loose saya pun ikut mencoba daftar. Herannya ternyata saya lulus seleksi administrasi dan harus mengikuti tahapan seleksi selanjutnya pada bulan April-Mei. 

Dari Kepri hanya Batam yang mengirimkan kandidat untuk event ini. Semuanya ada 6 calon Srikandi termasuk saya. Uniknya kami semua kebanyakan adalah pekerja di beberapa perusahaan yang berada di Kawasan Muka Kuning dan Tanjung Uncang. Keenam calon Srikandi ini adalah Kartika (Karyawan di PT. Flextronic), Madinah (Karyawan PT. Infineon), Yuni (Karyawan PT. Scheneider) dan Winda (wiraswasta). Keempatnya bekerja di Kawasan Industri Muka Kuning. Calon Srikandi kelima adalah Putri (Karyawan PT. Drydock) dan keenam saya sendiri. Kami berdua bekerja di Tanjung Uncang.

Latihan bersama mulai digelar saat saya sedang Mendaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Sewaktu jadwal latihan bersama diinformasikan oleh Bike to Work Pusat di Jakarta melalui email, saya sudah tidak berharap akan mewakili Batam/ Kepri karena sudah tertera jelas aturan kehadiran adalah masuk dalam poin penilaian. Sementara rencana saya mendaki Gunung Tambora sudah dari setahun lalu dipersiapkan. Dan untungnya lagi rute touring Srikandi tahun ini adalah rute yang sebagian besar akan saya lalui saat menuju Gunung Tambora. Jadi saya tidak kecewa sama sekali.

Andar, saya dan para calon Srikandi lainnya.
Meskipun lelah dan capek begitu mendera saat pulang dari Gunung Tambora dan Taman Nasional Komodo Flores, pada hari minggu tanggal 19 April 2015 lalu, saya tetap hadir untuk mengikuti latihan bersama. Berharap mendapat pengalaman, teman, dan setumpuk ilmu dalam dunia bersepeda. Karena tujuan sesungguhnya adalah bagaimana saya bisa belajar lebih banyak lagi tentang dunia sepeda. Walaupun badan  nge-drop dan cukup jauh tertinggal di belakang dibanding para calon srikandi lainnya. Hingga dua hari setelah latihan pertama ini saya sakit karena badan kelelahan ditambah kurang istirahat. Tidur terlalu malam karena suka lupa waktu kalau sudah menulis di blog.

Saya dan Yuni
Saya salut kepada para coach yang tetap memberi semangat dan perhatian berlebih kepada saya. Memberi tahu tentang teknik pedalling, shifting, dan pengaturan nafas saat di tanjakan. Dan dari semua itu yang paling saya banggakan adalah saya sudah bisa mengambil botol minum alias bidon sendiri saat sepeda sedang melaju. Hahaha. Betul. Ciyus. Itu merupakan sebuah prestasi yang membanggakan bagi saya yang selama satu tahun sepedaan kalau haus selalu menepi dulu ke pinggir jalan. Karena kebiasaan itu juga saat latihan mengambil botol air minum sambil mengayuh sepeda, saya hampir jatuh dan nabrak-nabrak.

Alhamdulillah tidak kapok dan semakin semangat bersepeda terutama Bike to Work yang mulai dilakukan. Karena jalan menuju tempat kerja sangat dekat, maka saya lebih suka memutar mengambil jarak sekitar 12 kilometer menuju Sei Temiang, Marina, hingga tiba di Tanjung Uncang. Padahal kalau saya melalui jalur biasa jaraknya tidak kurang dari 5 kilometer. 

Pada tanggal 10 Mei lalu, akhirnya terpilihlah Yuni (Tri Wahyuni) yang akan mewakili Kepri menuju event Srikandi Inspirasi Bagi Negeri yang akan mulai digelar Juni bulan depan. Selamat ya Yun. Semoga dapat membawa prestasi yang membanggakan bagi Batam dan Kepri. Selain itu dpat menularkan semangat bersepeda bagi perempuan-perempuan di Kota Batam khususnya.

Note:
[1] Materi briefing Srikandi Jilid 5 yang saya terima dalam bentuk email.

 



Pemandangan Laut Labuan Bajo dalam Hitam Putih

Menunggu adalah saat-saat yang paling menyebalkan dalam hidupku. Tapi tidak untuk "menungu" kali ini. Saat menunggu kapal Ferry MV. Marina penyebrangaan Sape (Pulau Sumbawa) - Labuan Bajo (Pulau Flores) bersandar di pelabuhan. 

Dari dek samping kapal ferry aku saksikan kapal-kapal yang sedang turun jangkar. Berbagai macam warna dan ukuran. Terlihat cantik, indah, dan gagah. Terdiam mematung walau terayun-ayun ombak yang tak begitu kuat.

Pemandangan itu seolah membawaku ke jaman nenek moyang dulu. Saat perdagangan antar pulau di nusantara begitu meraja. Berbagai rempah dan kekayaan bumi lainnya diangkut menggunakan kapal-kapal seperti ini. Ya, Aku tiba-tiba rindu ingin menyaksikan semua itu. Seperti apa penjelajahan nenek moyang kita dulu yang katanya seorang pelaut?


Pemandangan Laut Labuan Bajo

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan ke-61 yang diselenggarakan oleh Agung Gidion di sini

Wednesday, May 13, 2015

Menggapai Puncak Tambora [Catper Tambora Bagian 5 - Habis]

    Gunung Tambora
    Poster Tambora Menyapa Dunia di Dusun Pancasila

Ketika saya dan rekan-rekan satu tim pendakian beristirahat di Pos 5, Bang Ming dan Kang Asep bertemu dengan seorang pria yang ternyata teman baik mereka dari Mataram. Namanya Heru. Pria berwajah Tionghoa ini langsung larut dalam obrolan dengan keduanya.

Saturday, May 9, 2015

Pendakian Gunung Tambora [Bagian 4]

Pos 4 – Pos 5 ---> Toilet oh Toilet

Pagi itu, 11 April 2015, tepat 200 tahun kemudian dari peristiwa letusan gunung terdahsyat dalam sejarah kehidupan manusia, "Letusan Gunung Tambora", kami berenam - Saya, Marita, dokter Ayuni, dokter Kiky, Kang Asep, dan Bang Ming - masih berjuang sekuat badan menaiki ketinggian.

Pemandangan hutan masih rapat sesaat setelah Pos 4

Pagi yang remang, perlahan mulai menerang. Mengibarkan sepuhan cahaya putih keemasan. Memancar menyusupkan kehangatan hingga tubuh bergiat diri memproduksi vitamin D dan hormon serotonin. Walau otot pegal linu, jari kaki ngilu-ngilu, dan punggung terasa ditusuk paku, (iiih...lebay banget si Lina) namun badan terasa lebih segar dan suasana hati lebih tenang. Eh kok bisa? Iya yah saya juga heran :D

"Perasaan Lu aja kali, Gue enggak." Celetuk yang lain saat baca ini :D

Kami tetap bergerak perlahan. Saya berjalan lebih dulu. Melenggang membawa kotak P3K dan kompor. Sangat penting membawa obat-obatan P3K ini saat mendaki gunung. Karena hal-hal yang di luar kendali kerap terjadi. Jatuh, kepeleset, mual, pusing, dan muntah karena terkena mountain sickness atau gejala lainnya bisa saja terjadi di gunung ini. Sekedar berjaga-jaga dan tetap saja harus waspada.

Bersyukur perjalanan kali ini saya disertai dua orang dokter. Bisa konsultasi sepuasnya sepanjang jalur pendakian tanpa dipungut biaya sepeser pun hehe. Asal siap-siap ngos-ngosan karena mendaki sambil ngoceh bicara. Yang paling semangat tanya-tanya ternyata malah Marita. Mumpung gratis celetuknya. Ia pun bertanya ini itu hingga terdiam sendiri, barangkali bingung mau nanya apalagi :D

Menapaki Jalur Menanjak
Tim semakin semangat manakala berpapasan dengan pendaki yang turun dan mereka selalu mengatakan Pos 5 sudah dekat. Dari awal pendakian, baru kali ini ada yang bilang sudah dekat. Beda dengan pendaki-pendaki lainnya saat berpapasan sebelum pos 1 dan pos 2. Selalu bilang masih jauh. Masih jauh. Bikin ngedrop hilang semangat.

Kenapa sih mereka orangnya jujur banget jadi orang ya? Padahal kalau di gunung lain, pendaki-pendakinya sering bilang "sudah dekat mbak, paling dua belokan lagi." Atau "sudah dekat Mbak di sana ada yang jual gorengan, bakso, dan es campur." Waaah...wah... ngebayanginnya langsung semangat berlipat-lipat walau tau pasti itu bohong belaka :D

Sinar mentari sesekali menembus lebatnya dedaunan yang sama-sama mengeluarkan kesegaran dengan limpahan oksigen. Bau lumut dan tanah basah bercampur dengan bersihnya udara pagi. Berada dalam suasana hutan yang masih asri saya menjadi melow pengen nangis meski pertahanan diri hampir jebol karena menahan keinginan untuk pipis.

Nangis atau pipis? duh ngebet dua-duanya. Bayangkan!!! Eh jangan deh bahaya kalau ngebayangin saya pipis haha. Semenjak dari Pos 2 jam 8 malam hingga keesokan harinya jam 8 pagi, lebih dari 11 jam saya menahan kebelet pipis ini, asli sakitnya tuh di sini. Bukaaan...di sini nih!! Nunjuk perut sektor ginjal.   

Mendekati Pos 5, vegetasi perlahan berubah. Di kanan kiri jalur pendakian pepohonan mulai tumbuh jarang-jarang. Ukurannya semakin mengecil seiring ketinggian yang dicapainya. Semakin tinggi, semakin kecil dan pendek tumbuhannya. Dan mulai tampak berlumut.

Marita dan Yuni, Saat Tiba di Pos 5

Tiba di Pos 5, yang lain duduk beristirahat. Saya langsung menuju toilet darurat yang terletak tak jauh dari pos 5. Kebelet banget. Karena takut ada orang yang tiba-tiba masuk, saya mengajak Yuni untuk berjaga-jaga di depan toilet.

"Laah Yuni kok jaganya jauh banget sih." Saya bertanya pada Yuni yang masih berdiri di tebing.
"Nggak enak baunya Kak." Jawab Yuni. Dan ternyata apa yang Yuni cium mulai tercium juga oleh saya yang baru saja membuka sehelai terpal yang menjadi pintu toilet darurat. Namun saya tetap mencoba masuk.  Daaaan....jreng..jreng.... langsung 360 derajat balik badan. Lalu menahan dorongan perut yang menggelinjang untuk muntah.

Toiletnya mulai dari Pos 1 hingga Pos 5 sama seperti ini 
Seperti di pos-pos sebelumnya, saya memang rada under estimate mengenai toilet gunung ini. Saat masuk dan menyingkap terpal pintu toilet, saya selalu bergidik jijik. Makjaaaan.....sebentuk ee bergerumul di sana-sini mirip pulau-pulau. S

aya menjerit pelan dan langsung keluar. Megap-megap nahan nafas. Duh biarlah pipisnya saya tampung dulu. Semoga kantung doraemon dalam perut ini bisa melentur dan merenggang walau nantinya sangat sangat beresiko terkena infeksi saluran kencing dan batu ginjal. Habis bagaimana lagi? saya terlalu sungkan untuk buang air kecil dan buang air besar diantara tebaran ranjau darat seperti itu. Pyuuuh...Dan ini gunung, sesuatu yang sakral bagi saya. Sungguh tak tega mengotorinya.

Seandainya para pendaki sedikit berusaha untuk membuat lubang, menggali tanah dengan ranting atau pisaunya untuk mengubur hidup-hidup sisa metabolisme tubuhnya, tentu hal ini takkan terjadi. Namun rupanya rasa malas, kurang paham, tidak mengerti, atau rasa kebelet yang sangat membuat mereka begitu saja membuang kotorannya di permukaan tanah. Parahnya lagi, ada yang BAB di jalur pendakian. Malam tadi, saat memasuki pos 3, tepat di jalur yang saya lewati saya hampir menginjak kotoran manusia. Duh. Mengerikan.

Pengalaman menggunakan toilet bersih, tertutup, dan berlimpah air di Gunung Kinabalu Malaysia, dan Gunung Papandayan Garut Jawa Barat terus saja membayang. Betapa damai dan tenangnya pipis di gunung jika seperti itu. Seandainya semua gunung ada toiletnya seperti di kedua gunung tersebut, maka sedikitnya kebersihan gunung akan terjaga.

Toilet oh...toilet.



Monday, May 4, 2015

Pendakian Gunung Tambora Bagian 3

Pos 2 - Pos 4 Jalur Pancasila, Gunung Tambora

Di depan shelter Pos 2 Gunung Tambora
Sebelum tidur kami berenam sepakat akan bangun jam satu tengah malam. Apalah daya rasa lelah dan capek membuat kami terlelap hingga jam setengah dua. Katanya udah pada pasang alarm tapi entahlah nggak bunyi-bunyi. Alarmnya kecapekan barangkali. Ikut bobo manis bersama kami.

Bangun jam setengah dua itu pun karena tiba-tiba saya terbangun dan menanyakan jam berapa pada Marita. Gue gitu loh bangunnya emang tepat waktu. #Plaaak. Sombong banget.

"Bang Miiing, jadi nggak kita berangkaat?" Tanya saya pada Bang Ming yang nyempil tidur di teras tenda orang lain. Untung yang punya tenda sedang muncak ke atas sana. Jadi Bang Ming nggak perlu khawatir terinjak-injak penghuni tenda :D

Bang Ming dan dapur daruratnya di Pos 2 :D  Foto diambil keesokan harinya
“Iyaaaa...” Sahut  Bang Ming samar di balik kegelapan. Dari arahnya mulai terdengar suara prang...pring...prung... nesting, kompor, sendok, dan kawan-kawannya mulai bekerja. Bang Ming sigap langsung memasak. Ah ya, Bang Ming ini contoh pendaki teladan. Lihatlah kami masih sibuk dengan iler dan belek, dia sudah siap menghidangkan teh dan es te em je.

Sementara itu, rekan-rekan yang lain satu per satu mulai terbangun. Untung saja suasana gelap. Kalau terang, pasti kelihatan tuh belek dan iler masih menempel di mata dan pipi masing-masing. Haha. Karena itulah bangun tidur saya langsung sibuk  kucek-kucek mata, usap-usap mulut an pipi pakai ujung kerudung. Iiih...jooroook.

Setelah menghangatkan perut dengan minuman buatan Bang Ming, kami mulai mengemas barang-barang yang akan dibawa ke puncak. Hanya membawa yang penting-penting saja ke dalam daypack. Obat-obatan, air minum, mie instan, kompor dan nesting, coklat, snack, head lamp, mukena, dan rain coat.

Pukul 2 kurang beberapa menit, kami berenam telah beriringan meninggalkan Pos 2. Keril, tenda yang tidak sempat dipakai, matrass, dan barang lainnya kami tinggal di sana. Pak Midun, porter kami sengaja tidak ikut ke atas. Ia ditugaskan untuk menjaga barang-barang tersebut.
 
Para pendaki, gelimpangan di Pos 3
Kurang dari 2,5 jam perjalanan dari Pos 2, kami sudah tiba di Pos 3. Puluhan tenda memenuhi pemandangan sepanjang jalur Pos 3. Karena Pos ini sangat penuh sesak, beberapa orang tertidur di luar, hanya mengenakan sleeping bag dan sarung saja. Duh kasihan banget anak-anak orang ini. Jauh-jauh naik gunung tidurnya gelimpangan di luar begitu saja. Laah, kan Eloe juga sama begitu, nggak kebagian diriin tenda? Oh iya yah. *Sedikit amnesia.

Saya, Yuni, Marita dan Kiki langsung ambruk tertidur di tepi batang  pohon yang melintang di tengah jalur. Untung nggak ada yang lewat lagi. 15 menit lumayan dapat memejamkan mata. Tiba-tiba Kang Asep membangunkan dan menyuruh kami pindah menuju sebuah tenda. Di sana Bang Ming terlihat sedang mengobrol dengan seorang pendaki. Galih asal Makasar. Kata Bang Ming Galih mengaku lulusan PeSantRen. Pengangguran Santai tapi Keren. Jiaaah. Dan lagi katanya masih jomblo. Nah Rita, cocok nih! Saya langsung mencandai Marita.  

Galih menjamu kami dengan nutrijel buatannya yang masih hangat. Alhamdulillah nikmat di perut yang keroncongan. Setelah itu di dekat tendanya, kami menumpang sholat subuh, wudhunya bertayamum karena tidak ada sumber air bersih.
 
Menghangatkan diri di Pos 3, di tenda pendaki asal Makasar
Jam 5. 25 kami mulai berangkat menuju pos 4. Remang subuh mulai membayang. Jalur masih tetap sama seperti sebelumnya. Di kanan kiri hanya pepohonan tinggi dan semak belukar. Rapat, rimbun, dengan canopy yang tinggi menghalangi pemandangan langit.

Jalur yang terlewati sesekali diselingi batang-batang  tumbang yang menghalangi jalur pendakian. Kadang melompat, kadang kami merayap di bawahnya.

Di beberapa tempat terdapat tumbuhan jelatang. Namun untung saja sudah ditebas, tidak terlalu rapat ke jalur pendakian sehingga kami tidak terkena oleh duri-durinya yang menyebabkan sakit dan panas hingga berminggu-minggu.

Pos 4. Foto dulu sebelum berangkat
Sepanjang jalur menuju Pos 4, kami tidak banyak beristirahat sehingga hanya butuh waktu 1,5 jam saja saat tiba di sebuah dataran yang cukup luas. Kosong tak berpenghuni. Tak ada tenda, tak ada pendaki satu pun. Pos 4 lengang. Hanya pepohonan besar dengan daun yang saling bertautan.

Kami beristirahat sejenak. Sarapan seadanya dengan snack dan cemilan lainnya. Tak lupa mengabadikan momen kebersamaan di Pos 4 sambil foto-foto sunrise yang muncul dibalik pepohonan.


Tinggal 1 pos lagi  sebelum tiba di bibir kaldera luas, puncak Gunung Tambora. Dan aroma puncak pun telah membayang-bayang di benak.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...