Kamis, 14 Mei 2015

Menggapai Puncak Tambora [Catper Tambora Bagian 5 - Habis]

    Poster Tambora Menyapa Dunia di Dusun Pancasila


Ketika saya dan rekan-rekan satu tim pendakian beristirahat di Pos 5, Bang Ming dan Kang Asep bertemu dengan seorang pria yang ternyata teman baik mereka dari Mataram. Namanya Heru. Pria berwajah Tionghoa ini langsung larut dalam obrolan dengan keduanya.

Entah apa yang mereka obrolkan karena tiba-tiba saja Heru menuju tendanya dan kembali kepada kami dengan membawa 3 buah kaos. Saya yang tidak menyimak obrolan mereka sedari awal, jadi kurang tertarik sehingga luput dari peristiwa yang membuat saya menyesal setelahnya.

Kurang konsentrasi bukan gara-gara kurang minum aqua, mungkin otak agak soak karena sibuk memikirkan peristiwa menyebalkan beberapa menit tadi. Saat toilet yang berpagar terpal biru meneror saya dengan pemandangan yang bikin perut mual, kepingin muntah dan kepala pusing cenat-cenut. Eh itu bukannya gejala hamil muda ya? wkwkwk...*Ngarep.

Nah oleh sebab itu, bagi para pendaki gunung yang kebetulan membaca tulisan ini, "Camkan anak muda. Kamu bisa saja membuang hajat dimana pun. Tapi ingat kita tercipta bukan dari golongan makhluk jin, setan, apalagi sebangsa hewan yang BAB sembarangan. Setidaknya malulah sama kucing meong meong meong...” makhluk sebangsa kucing saja kalau buang hajat suka ditimbun sendiri tuh kotorannya dengan pasir. Please jangan bikin malu sebangsa kami bangsa manusia."

Larut menyesali apa yang telah saya lihat tadi, saya segera tersadar saat Bang Ming dan Marita sibuk foto-foto memamerkan kaos batik bermotif khas lombok yang ternyata dikasihkan Heru gratis pada mereka.

"Dapat kaos dari siapa Bang Ming sama Rita?" Tanya saya pada Kang Asep.
"Dikasih Heru. Dia kan bosnya kaos di Lombok. Orang banyak pesan sama dia. Itu Yuni dikasih kaos Gunung Rinjani." affaaah? Duh gue kemana aja tadi? Mau ikut-ikutan minta juga malu hati. Lagian Herunya udah nggak kelihatan lagi. Tidak apalah bukan rejeki. Sambil moyongin bibir seksi :D

Bang Ming mulai pamer. Kaosnya langsung dipakai. Lanjut foto-foto tampak depan dan belakang. Padahal sekalian saja tampak samping :D

Heru tidak begitu menampakkan diri kalau dia adalah bos sebuah merk kaos dan toko oleh-oleh terkenal di Lombok. Saya saja nggak percaya. Gayanya santai, ramah, dan cepat akrab dengan orang lain. Tidak bossy sama sekali.  Muda, rajin bekerja, pengusaha, dan bisa saja dia kaya raya. Nah tipe-tipe pria idaman wanita ini sih. Makanya pilih pria Tionghoa. Wkwkwk...mulai rasis nih. Alamat dikeplak cowok se- Indonesia.

Ternyata puncak masih jauh. Itu di tepi langit sana....

Jam 08.30 pagi waktu Indonesia Bagian Tengah, saya dan rekan-rekan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Harapan mendapatkan sunrise di puncak Tambora sudah menguap sejak tadi malam. Saat kami bangun tidur telat. Sebelum berangkat tak lupa menanyakan perkiraan waktu kepada para pendaki yang sudah turun dari puncak. Serempak mereka menjawb jauh. Jauh banget kira-kira 4 hingga 5 jaman lagi kalau untuk perempuan. What? Mendadak lemes. Baiklah kita buktikan seberapa kuat dan cepat para perempuan di tim ini. Lumayan berguna untuk memacu semangat agar kami bisa melangkah lagi lebih cepat.

Karena beban barang-barang masih tampak terlalu banyak dan kemungkinan menghambat pergerakan menuju puncak, Bang Ming berinisiatif untuk menyimpan barang-barang yang tidak terlalu urgent di semak-semak mendekati sungai di Pos 5.

Beberapa puluh meter ke depan, kami menyebrangi sungai dengan struktur batu-batu yang mengagumkan. Saya mengamati batu-batu besar menyatu seperti adukan semen yang keras. Barangkali, saat Tambora meletus, sungai ini merupakan aliran lava. Lalu saat terjadi proses pendinginan, lava membeku dan membentuk seperti adukan semen yang telah diplester.

Jalur di bibir kaldera Tambora
Selepas sungai, jalur menanjak mulai membuat dada sesak. Vegetasi perlahan semakin berubah. Jalur hanya ditumbuhi pohon-pohon kecil serta semak dan perdu. Sesekali di kejauhan tampak pohon-pohon pinus yang muncul satu satu. Kadang di lembah. Kadang di punggungan gunung. Pohon yang saya rindukan keberadaannya. Pohon yang menghiasi gunung dengan keindahan bentuk dan daun-daunnya.

Pemandangan ke sekeliling mulai terang benderang dan  tidak terhalangi pepohonan tinggi. Kami berjalan seiring kecepatan masing-masing. Kadang merayap, kadang tegak. Kadang berhenti lantas berjalan lagi. Berhenti, berjalan. Berhenti, berjalan lagi. Mirip mobil tua, mogok terus atau kehabisan bensin. Maklum dengkul sudah tak selentur dulu lagi. Nafas sudah tak sekuat dulu lagi. Dan usia yang sudah tidak muda lagi.

Dengan membungkuk-bungkuk,menyesuaikan dengan kondisi jalur yang mulai curam, berkerikil dan berpasir, kami terus menaiki jalur menuju puncak. Semakin tinggi, kontur semakin berbukit dan berlembah. Batu-batu hangus dapat jelas terlihat. Gambaran hebat peristiwa dua abad yang telah lewat. Sulit dibayangkan, dari rahim gunung ini telah lahir bermega-mega ton material yang meluluhlantakkan Pulau Sumbawa dan berakibat fatal bagi iklim dunia. Dan sulit dipercaya bahwa takdir memberikan peruntungannya kepada saya untuk bisa hadir di badan gunung ini. Merayapi lekuk punggungannya. Menelisik kisah dan perjalanannya.

Saya dan Yuni berjalan beriringan. Kadang saya di depan. Kadang Yuni yang duluan. Tergantung siapa yang berinisiatif  mulai melangkahkan kaki setelah beristirahat sejenak. Kaki sudah terasa berat untuk melangkah lagi karena melawan gravitasi. Namun selangkah dua langkah walau tertatih tetap berharga demi mendekati titik tertinggi gunung ini. Setelah berjalan beberapa punggungan, ada dua orang remaja yang menyalip mendahului kami. Namun beberapa saat kemudian tersusul dan mereka berjalan beriringan bersama Yuni. Sementara saya agak lebih dulu beberapa puluh meter dari mereka bertiga.

Tiba di Bibir Kawah Tambora

Cuaca teduh berawan. Pukul 11 lewat 42 menit saya tiba di bibir kawah Gunung Tambora. Berdiri menyendiri di sebuah tepi. Terpukau menyaksikan fenomena alam yang sungguh spektakuler. Deras kabut mengalir dari dalam kawah Tambora menuju langit dengan kecepatan luar biasa. Seperti aliran air terjun yang terbalik. Mengalir dari bawah ke atas. Seperti terdorong oleh suatu kekuatan alam. Kabut-kabut membumbung deras dan kencang menuju langit yang terang. Saya hanya melongo sambil mengucap kalimah-kalimah tayyibah.

Setelah aliran kabut dari dalam kawah mereda, pemandangan ke tengah-tengah kawah mulai tersingkap jelas. Sebuah cawan raksasa yang tak pernah terisi penuh oleh air hujan selama 200 tahun ini, kini menganga di depan mata. Berdinding tebing-tebing curam yang ditumbuhi rumpur-rumput hijau mulai dari bibir kawah hingga ke dasarnya. Layaknya karpet permadani yang terpasang di dinding rumah.

Penampakan Kawah Tambora
Nun jauh di bawah kedalaman cawan raksasa itu terhampar sebuah danau dengan air berwarna hijau serta hamparan tanah kawah yang kecoklatan. Gunung kecil Doro Api Toi yang ada di dasar kaldera tampak seperti segunduk tanah hitam saja. Mulai berdetak mengepul dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga letusan 200 tahun yang silam.

Kawah Gunung Tambora memiliki diameter sekitar 7 hingga 8 kilometer. Sedangkan kedalaman kawah mencapai 1,2 kilometer. Ini menjadikannya sebagai kawah terdalam di dunia.

Selepas berfoto-foto di bibir kawah, saya dan Yuni berangkat menuju puncak yang terletak di sebelah kanan kawah Tambora. Jalur mulai mendatar menyusuri sisi sebelah kanan kawah. Satu per satu kawan satu tim mulai terlihat. Bang Ming dan Kang Asep datang bergantian.

Puncak Gunung Tambora 2851 mdpl
Pukul 12 lewat 30 menit, saya tiba di Puncak Gunung Tambora pada ketinggian 2.851 meter di atas permukaan laut. Suasana cukup ramai dengan pendaki yang sedang selebrasi. Merayakan pencapaian di Puncak tertinggi tanah Sumbawa. Di puncak bibir kaldera yang menghebohkan dunia.

Dengan bergantian, semua bergilir memegang plakat bertuliskan Gunung Tambora 2851 mdpl. Ada juga yang mencium bendera, ada yang mengeluarkan berbagai tulisan tanda kasih sayang bagi pasangan, sahabat, dan saudara-saudaranya, ada juga yang asyik merenung menatap jauh ke hamparan awan-awan.

"Pendaki, jika sudah tiba di sini. Di puncak ini. apa yang sudah kamu dapatkan? Syukur yang tak berkesudahan? Kebanggaan diri akan pencapaian? Penemuan akan jati diri yang hilang? atau bahkan kamu tidak tahu sama sekali kenapa kamu berada di puncak ini? Sungguh semua patut kamu renungkan."



Hampir 15 menit kemudian, seluruh anggota tim genap menggapai puncak. Selebrasi pencapaian kami rayakan dengan berfoto-foto lagi. Melompat lebih tinggi atau main tendang-tendangan layaknya punya ilmu bela diri. Padahal cuma punya jurus tendangan si Madun, yaitu tendangan asal-asalan :D


Perjalanan Turun Gunung

Sekitar Pukul 13.25 kami mulai menuruni puncak. Beriringan bersama dengan penuh luapan kebahagiaan. Satu puncak telah tergapai. Dan sebuah tanya mulai merayapi fikiran. Apa yang kamu capai?

Namun karena kondisi tubuh dan kaki masing-masing dari kami berbeda-beda maka kecepatan turun pun berbeda-beda. Sambil menunggu rekan-rekan di belakang, saya mulai belajar menggunakan kamera. Sayang sudah jauh-jauh dan berat dibawa ke puncak cuma buat digantungin di leher doang.
Haidar dan Lee

Pada perjalanan turun saya berjumpa dengan rekan-rekan pendaki dari Malaysia. Haidar dan Lee, yang langsung mengajak foto bersama. Kemudian Bang Mohamad, disusul selanjutnya Meija, terakhir Bang Man dan Bang Han.

Pukul 16.00 saya dan Bang Ming yang lebih dulu tiba di sungai dekat pos 5 mengambil beberapa botol air mentah untuk dimasak. Setelah itu menuju tempat persembunyian barang-barang yang tadi pagi kami tinggalkan. Alhamdulillah semuanya masih utuh. Terutama kompor, gas, dan makanan yang akan dimasak.

Selang waktu 15 menit kemudian, anggota tim yang tercecer datang satu per satu. Yuni, Kiky, dan Marita. Sementara itu Kang Asep datang dengan kondisi kaki keseleo yang tambah parah. Cedera sewaktu main basket di Mataram belum pulih sudah dihantam dengan mendaki gunung.

Setelah berkumpul semua, Bang Ming dan saya yang telah selesai memasak kemudian menghidangkan masakan kepada rekan-rekan yang lainnya. Hanya memasak mie instan dan menghangatkan nutri sari. Namun tetap saja nikmat tak terkira karena lapar mendera-dera. Selepas makan lalu sholat jamak ashar dan dzuhur.

Di sini, rasa yang pernah ada datang kembali. Rasa apa? Hehe...apalagi selain kebelet pipis. Kali ini bukan saya saja tapi Kiky dan Marita juga merasakan hal yang sama. Hanya Yuni yang sepertinya kebal, belum merasakan desakan yang teramat sangat. Untung saja semak-semak tempat persembunyian barang-barang bisa kami jadikan toilet dadakan. Secara bergantian kami saling menunggui supaya tidak ada orang yang lewat lalu melihat.

Misi pertama, Kiky. Dengan perbekalan tissue basah, sukses kembali ke tempat kami berkumpul. Giliran kedua, Marita. Ia pun kembali dengan ceria. Jelas ceria karena ia dapat mengatasi masalah tanpa masalah seperti  iklan pegadaian itu. Dan pada antrian ketiga giliran saya.  Namun betapa apesnya saya saat itu.

Karena saya fikir Kiky dan Marita tadi jongkoknya di tempat saya berdiri saat itu, maka saya menggeser kaki agak ke sebelahnya lagi. Ladalaaaah....tiba-tiba saja satu injakan terasa empuk di sepatu. Apa ini? Alamak ranjau darat. Saya berteriak histeris. lalu menanyakan penuh selidik pada Kiky dan Marita.  Wkwkwk....mereka jadi tersangka utama. Laaah siapa lagi yang jongkok dari tadi di sana selain mereka berdua.

"Enggak...aku nggak pup kok Teh."  Kiki menjelaskan. Terang saja menyangkal karena dia bukan pelakunya. Mata saya langsung beralih ke Marita yang sedang sholat.  Mata yang penuh dengan tuduhan. Kalau penyanyi dangdut Marita sudah menjawab begini "tuduhlah akuuuu...sepuas hatiiiiimu...." haha.

"Iiih enggak kok Teh. Eh jangan-jangan aku juga nginjak." Kata Marita setelah sholat sambil memeriksa sepatunya. Dan ternyata di ujung sepatunya ada sedikit ranjau yang menempel. Dia pun histeris sibuk membersihkan ujung sepatu dengan menggores-goreskannya ke rumput. Wkwkwk....

"Teteh, nanti jalannya di belakang ya. Soalnya nanti kalau duluan berarti bekas injakannya akan kena injak sepatu kami juga" Kata Kiky. Hahaha...nggak apa-apa saya tetap di depan hitung-hitung bagi-bagi rejeki.

Saat berangkat, kami telah memasang headlamp di kepala. Sebentar lagi malam menjelang itu berarti kami butuh lampu senter sebagai penerang jalan. Sepanjang jalur yang dibahas adalah peristiwa ranjau darat tadi. Dan saat kami ceritakan pada Bang Ming, dia mengiyakan bahwa saat ia meletakkan barang-barang untuk disembunyikan ia juga hampir menginjaknya. Nah tuh. Berarti benar bukan Kiky bukan pula Marita pelakunya.

Pos 4 terlewati. Kekuatan yang ada semakin terkuras hingga Pos 3. Dan titik lelah fisik dan mental terakumulasi saat perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 2. Rasanya kok tidak sampai-sampai. Tidak saya saja, bahkan semua anggota tim merasakan hal yang sama. Padahal jalur yang dilalui adalah jalur yang sama seperti saat kami naik dini hari tadi. Saking lamanya kami menyangka bahwa kami telah nyasar atau disasarkan
Ceria di Pos 2 setelah malamnya hampir putus asa

"Sudah dengar suara air sungai belum Lin?" Kata Kang Asep yang berjalan di belakang Marita. "Belum." Jawab saya. Iya kenapa suara air sungai di dekat Pos 2 belum terdengar juga ya? Duh kenapa lama sekali. Saya hanya berbicara dalam hati. Tak ingin membuat resah rekan-rekan yang lainnya. Perasaan yang sebenarnya dirasakan oleh semua anggota tim.
Perjalanan panjang pun tetap ada akhirnya. Begitu pun dengan perjalanan ini. Suara gemericik air, membuat harapan baru. Pos dua di sebrang saja. Itu artinya kami sudah bisa beristirahat sejenak sebelum esok tiba. Malam itu kami tidur dengan nyenyak di tenda. Tidak merasa dingin malah justru kegerahan karena berkemul dengan sleeping bag


Pos 1, Jalur Dusun Pancasila
Dari jauh, begitu melihat kami datang, Bang Arief yang kami tinggal di Pos 1 sejak dua hari yang lalu merentangkan tangan penuh bahagia. Tampaknya dua malam menjadi penjaga Pos 1 dia baik-baik saja. Saya sempat mengkhawatirkannya. Namun kekhawatiran itu langsung ditepis Kang Asep. Dia bilang Arief itu orangnya supel, pandai bergaul jadi pasti dia baik-baik saja. Dan betul saja. Lihat dia masih bisa ketawa-ketiwi melihat kami datang.
Foto dulu sebelum tiba di Pos 1
Dan perjalanan turun dari Pos 1 menuju Pintu Rimba kebun kopi serta Dusun Pancasila, kini tak terasa melelahkan lagi. Kami bahagia sudah dapat berkumpul kembali bersama tim. Dan yang pasti walaupun kaki pegal linu ngilu-ngilu, kami tetap selamat tanpa cedera hingga turun dan melaju di jalanan Sumbawa.
Sekian
 

17 komentar:

  1. Naik bareng kang Asep ya mbak? Semoga suatu saat entah kapan sy sempat muncak, paling gak Rinjani yang keliatan puncaknya dari rumah.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayookkk naikk bareng toliqqqqqq...

      Hapus
  2. Tip kali lihat blog ini jadi pingin nanjak, pingin nutup muka, tapi ceritanya terlalu kece jika tidak dibaca.

    trus kaos batik gratisku mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita bisa nanjak bareng mbak :)

      Hapus
  3. Tempatnya keren dan seru. Jadi pengen kesana bersama teman kuliah.

    BalasHapus
  4. Pengalaman yang luar biasa, mbak Lina. Aku kagum. ^_^

    BalasHapus
  5. Toliq Anshari .....kita tetangga tapi gak pernah naik bareng hihihihihi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti kalo ada waktu boleh bareng ya. Sebagai pemula saya perlu bgt bimbingn dari yg sudah biasa naik gunung.. :)

      Hapus
  6. Cuma bisa bilang wow, Mbak Lina... ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aiih...Mbak Ira. Makasih banyak :)

      Hapus
  7. Uhyeeee.. Akhirnya sampai di puncak :D Pengalaman yang mendebarkan, Mbak :D

    BalasHapus
  8. Daku masih blm sanggup naik gunung lagi, masih trauma ama capek nya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan passionnya Kak Cum. Nggak usah dipaksa. Kan sukanya ke pantai bukan ke gunung :)

      Hapus
  9. Cakepnya gunung Tambora. Moga akan selalu cakep ga ada tangan jahil yang merusak yaaa

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...