Rabu, 24 Juni 2015

Belajar Snorkeling di Pulau Labun, Batam


Pulau Labun
Para ayah dan krucilnya :D
Pulau Labun adalah pulau yang kini menjadi destinasi wisata baru di Batam. Menjadi pilihan disaat kami sudah bosan dengan tempat wisata yang hanya itu-itu saja. Setidaknya bagi saya sendiri yang sudah cukup lama tinggal di Batam. Bosan mau kemana lagi. Sudah hampir semua sisi pulau Batam saya kunjungi ( jiaaah sombongnyaaa :D) dan sepertinya kaki ini perlu melebarkan sayap eh langkah ke pulau-pulau sekitarnya. Yuk island hopping.  

Sebelum-sebelumnya saya sering island hopping salah duanya ke pulau Mubut dan Pulau Mencaras.

Bersyukur seorang rekan blogger Batam yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung, disayang suami, haha...Dian dan keluarganya mengajak dan memberi tumpangan kendaraan kepada saya and family. Selain kami ada juga 3 orang teman dari komunitas Batam Traveler yang ikut serta. Rina, Asih, dan Sarah.

Tepatnya sebelum bulan puasa ini kami bertujuh plus dua krucil Chila dan Lala berangkat menuju Pulau Labun. Setelah hampir 2 jam perjalanan disertai mampir-mampir untuk sarapan dan membeli bekal makan siang, kami tiba di gerbang masuk pelabuhan yang bersebrangan dengan Pulau Labun.

Chila berlari-lari di parkiran
Dari Jalan Raya Lintas Barelang, tepatnya di Pulau Galang Baru, kami menemukan petunjuk arah yang jelas yakni signboard bertuliskan Labun Island. Tinggal belok kanan dan mengikuti jalan ke arah dalam. Namun saat akan masuk ternyata gerbangnya dikunci. Untung saja kami sudah diberitahu oleh Mbak Firna, orang yang bertanggung jawab menerima tamu ke Pulau Labun. Setelah menelponnya, tak lama menunggu, gerbang dibuka oleh penjaga. Mobil pun melaju melalui jalan menurun hingga tiba di sebuah parkiran yang terletak tepat di tepi pelabuhan. 
  
Pulau Labun yang mendung
Dengan menaiki perahu motor (pompong), tak sampai 5 menit penyebrangan kami sudah tiba di Pulau Labun. Cuaca masih mendung, langit tampak memutih, namun Alhamdulillah hujan telah mereda. Sementara itu pemandangan ke arah Pulau Galang Baru pun masih gelap. Sebuah bukit yang runcing mirip gunung menari-nari dalam benak saya. Itu bukit yang sejak jaman pertama ke Barelang dulu ingin saya daki namun belum kesampaian juga. Haha...biasa deh nggak boleh lihat tempat yang tinggi-tinggi yang mirip gunung langsung bawaannya pengen nanjak terus.

Kami segera mencari lokasi untuk beristirahat. Menyusuri pelantar dan beberapa jembatan kayu yang membuat degdegan saat menyebrang. Maklum rumah-rumah dan bangunan ada di tengah laut. Salah-salah langkah bisa tercebur.

Jembatan kayu 
Tiba di tepi pantai yang dihiasi pepohonan teduh, bangku-bangku panjang, dan ayunan, semua langsung meletakkan barang-barang dan menyebar ke berbagai tempat. Anak-anak langsung main pasir. Rina dan Asih bermain ayunan. Dian mulai beraksi foto-foto. Mas Anang duduk-duduk mengawasi para bocah. Sedangkan Bang Ical tampak berjalan menjauh menyusuri pantai hingga ke ujung pulau. Saat saya dan Sarah menyusul, dia sudah tidak terlihat lagi. Karena nanggung kami berdua akhirnya sekalian mengelilingi pulau. Nggak lama, kurang lebih setengah jam saya dan Sarah sudah kembali ke tempat semula.  

Para bocah asyik main pasir
Selesai makan siang, segera rapi-rapi dan menuju tempat penyewaan alat snorkeling. Semoga pemandangan di bawah sana secantik apa yang diharapkan. Demi melihat langit mulai membiru dan air laut mulai tampak menghijau, batin saya yakin tergoda untuk ikut turun ke laut. Yes, saatnya belajar snorkeling. Excited. Soalnya seumur-umur belum pernah snorkeling meskipun wara-wiri main ke pulau. Sedikit pun nggak pernah ada niatan belajar snorkeling. Hehehe. Maklum anak gunung.

Para ayah sibuk mendandani anak-anaknya. Mas Anang dan Bang Ical tampak memakaikan pelampung pada Lala dan Chila. Sementara saya dan Dian, emaknya anak-anak, sibuk foto-foto. Haha istri macam apa kami ini? Begitulah enaknya jalan bareng suami, bisa menyerahkan anak sepenuhnya pada mereka. Dan para istri tinggal enjoy menikmati liburannya. *Plaaak :D

Duh, apalagi para suami ini sudah mengerti kalau foto-foto merupakan kebutuhan penting bagi orang-orang seperti kami ini loh :D. Who know dari foto-foto tersebut kami bisa mendapatkan job review atau postingan blog yang bisa mendatangkan uang. Haha...dasar blogger matrek :D


Muka Lala lucu banget, lidahnya melet-melet keasinan karena kemasukan air laut :D

Dari dermaga Mas Anang, Bang Ical dan anak-anak mulai melompat ke dalam laut. berenang-renang mengasuh para bocah yang senang main air. Lala berenang dengan lincah. Turunnya saja saya lempar ke laut. Disuruh Mas Anang itu juga. Walau takut melemparnya tapi saya percaya saja. Laaah bapaknya sendiri yang nyuruh. Begitu saya lempar, byuuur.... saya terpana. Itu bocah nggak nangis nggak apa. Cuma ngusap-ngusap muka dan melet-melet saja karena keasinan.Hahaha.

Tak lebih dari setengah jam mereka berenang, sudah naik. Kini giliran para emak yang turun. Saya pun mulai mengenakan alat snorkeling . Memakai life jacket berwarna merah menyala, mengenakan  fin yang serupa kaki bebek, mengalungkan masker dan snorkel di leher dan mulai turun merayapi tangga pelantar menuju permukaan air laut. Duh perasaan begitu campur aduk. Pendaki gunung turun ke laut itu ya seperti ini kali ya rasanya. Mmmm.....rasanya seperti awal-awal mau menikah gitu. deg deg ser.

Pulau Labun
Saya dan Rina
Saya pun nyebur ke laut, berenang tidak jauh-jauh dari tangga pelantar. Masih takut-takut. Karena melihat terumbu karang yang cantik-cantik, saya mencoba mengenakan masker dan mengulum snorkel. Tapi kok kenapa air laut masuk terus ke mulut ya? apa snorkelnya nggak pas di mulut saya? apa mulut saya yang kelebaran atau snorkelnya yang kekecilan? Duh pusing pala berbi. Saya pun keheranan sendiri. Saat Rina meminjam masker dan snorkel saya langsung saja kasihkan. Laah nggak bisa pakai ngapain juga saya kenakan terus.


Saya memperhatikan Rina pakai snorkel. Loh ternyata dimasukin semua ya ke mulut? Hahaha norak banget sih saya. Pantas saja air laut masuk terus ke mulut. Ternyata dari tadi alat snorkel itu cuma dijepit bibir saja nggak dimasukin ke dalam mulut. Oalaaah ternyata begitu toh caranya.

Beberapa menit kemudian saya mencoba lagi. Memasukan snorkel ke dalam mulut, menarik nafas lewat mulut dan melepaskannya di hidung. Aha rasanya baik-baik saja. Waktunya turun nih melihat-lihat keindahan bawah laut beserta isinya.


Pulau Labun
View ke sisi kiri pulau
Plung....saya pun nyebur ke dalam laut. Mencelupkan kepala ke dalam air. Dan Subhanalloh ternyata begini ya cantiknya terumbu karang itu. Pantas saja orang-orang begitu suka snorkeling dan diving. Duuuh saya jadi nggak mau naik, terus bolak-balik mondar-mandir di spot sekitar terumbu karang.

Satu jam sudah cukup untuk berlatih snorkeling perdana saya. Dan saya sumpah ketagihan. Mulai deh berniat pengen menyicil punya alat snorkeling sendiri dan berniat snorkeling lagi di pulau-pulau lainnya. Walaupun begitu, tetap saja naik gunung adalah jiwa saya.

Bertemu teman-teman dari Batam Free Dive. Foto oleh Asih dari tabletnya Rina
Pulau Labun
Sambil bersantai mencari kutu :D




Note: 
Pulau Labun bisa dihubungi di nomor 085278139579
Tarif Penginapan: Rp 750.000 - Rp 1.000.000
Tarif menyebrang (kapal): Rp 150.000 per orang
Sewa alat snorkeling: Rp 100.000


13 komentar:

  1. Seru baca ceritanya Mbak Lina. Jadi bawah laut memang memikat ya, sekali mencoba langsung ketagihan. Terima kasih infonya, bisa jadi destinasi alternatif bila ke Batam. Cuma tempat menginapnya agak mahal ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Semula kami berencana menginap tapi kalau semihil itu mikir-mikir juga haha.

      Hapus
  2. aku belum pernah snorkling mbak, kapan-kapan aku ditemani ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk. Makanya ikutan GA ku. Kalau juara kutemani snorkeling deh :D

      Hapus
  3. Hahahaha.. pengen belajar berenang ahhh.. Biar bisa nyebur-nyebur cantik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus dong Dee. Buat pecinta pantai dan laut seperti dikau masa nggak bisa berenang. Habis puasa ini kursus renang di Sukajadi yuk!

      Hapus
  4. Sayang saya nggak bisa renang jadi nggak bisa snorkling. Salut buat Chila dan Lala yang berani nyebur ke laut, emang turunan backpacker sejatih sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari dulu saya ngebet pengen bisa renang. Alhamdulillah bisa walau dibantu pelampung :D

      Hapus
  5. Sambil bersantai cari kutu? hahaha mbak Lina nih.... :))

    Lala dan Chila asyik banget main pasiiiiiiir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini Chila kurang perhatian emaknya, Ada kutuan haha.

      Hapus
  6. saya tertarik snorkeling di labuan. Kebetulan akhir november mau backpackeran ke singapura, baliknya menuju batam. Untuk menuju tempat snorkeling, dari pelabuhan singapura ke pelabuhan mana yang di Batam, kalau ga salah ada 3 pelabuhan di batam. setelah itu naik apa menuju labuan. adakah angkutan umum di sana? kami rencana berdua.

    terima kasih atas infonya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Novi, maaf balasnya lama. Dari Singapura kamu bisa naik ferry ke Pelabuhan Batam Center atau Pelabuhan Sekupang. (Waktu tempuh 45 menit). Dari pelabuhan Batam Center/Sekupang ke Pulau Labun gak ada angkutan umum, kamu disarankan sewa motor atau mobil. Harga Mobil sekitar 350 ribu per hari kalau sama sopirnya bisa 500 - 600 ribu rupiah sudah termasuk bensin. Pulau Labun belum banyak dikenal warga Batam jadi cukup bilang sewa mobil untuk ke Barelang Jembatan Enam. Jika butuh info selanjutnya boleh email saya di mozank3roet@gmail.com

      Semoga membantu

      Hapus
  7. Sayangnya saya ga bisa berenang jd kl nyelem ga deh.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...