Rabu, 29 Juli 2015

Gunting Lagadan Hut, Penginapan tertinggi di Asia Tenggara


Gunung Kinabalu dilihat dari Kinabalu Park
Pertama kali mengetahui bahwa ada penginapan di Gunung Kinabalu, saya langsung pesimis dan kurang setuju. Dimana pun, sebaiknya gunung dibiarkan alami begitu saja tanpa campur tangan manusia. Apalagi dimanfaatan secara komersil oleh pihak swasta.

Namun anggapan dan asumsi-asumsi saya langsung terpatahkan tatkala berkunjung langsung dan mendaki Gunung Kinabalu. Merasakan dan menyaksikan secara langsung pengelolaan gunung tertinggi di Pulau Borneo ini yang diampu oleh pihak pemerintah dan swasta Malaysia.

Pengelolaan Gunung Kinabalu sudah digarap secara maksimal dan profesional. Baik dari segi akomodasi, transportasi, konsumsi, guide dan perizinan. Izin mendaki tentu ada pada pihak Sabah Park,  namun untuk urusan akomodasi dan konsumsi selama di gunung ada pada pundak Sutera Sanctuary Lodge (SSL), perusahaan swasta yang ditunjuk sebagai pengelola seluruh penginapan yang ada di bawah naungan Sabah Park.

Gunting Lagadan Hut
Di Gunung Kinabalu terdapat beberapa penginapan dengan perlengkapan standar. Penginapan yang paling besar adalah Laban Rata Resthouse, terletak pada  ketinggian 3.270 meter dan merupakan penginapan pertama yang dijumpai saat mendaki sebelum penginapan-penginapan lainnya. Selain itu terdapat Gunting Lagadan Hut, Waras Hut, dan Panar Laban Hut. Jaraknya kurang lebih 30-50 meter di atas Laban Rata.

Saat berkunjung ke sana, saya menginap di Gunting Lagadan Hut yang berada di ketinggian 3.300 meter di atas permukaal laut. Penginapan ini diberi nama demikian sebagai bentuk penghargaan bagi seorang pendaki dari suku Kadazan (Suku asli penghuni kaki Gunung Kinabalu), sebagai orang Malaysia pertama yang mencapai puncak Kinabalu. Dalam pendakiannya ia menemani pria berkebangsan Inggris, Sir Hugh Low, yang menjadi orang pertama yang mencapai puncak Kinabalu pada tahun 1851. 

3300 meter tingginya
Di Penginapan Gunting Lagadan terdapat beranda (teras) dengan pemandangan yang sangat luar biasa. Jika sore hari, awan-awan tampak melintas di bawah penginapan membuat kita seakan-akan berada di negeri dongeng, negeri khayalan yang terletak di atas awan. Bagian beranda ini adalah bagian dari penginapan yang sangat saya sukai selain tempat tidur tentunya :D

Penginapan Gunting Lagadan Hut mempunyai kamar-makar yang berderet dengan empat tempat tidur di dalamnya. Kasur, serta selimut tebal yang tersedia, membuat tidur cukup nyaman di suhu 10  derajat ke bawah. Meskipun tetap saja udara dingin menelusup menembus pori-pori, selimut ini cukup membantu menjaga suhu tubuh agar tidak drop.

Di Gunting Lagadan juga disediakan dapur lengkap dengan gas dan peralatan memasak. Jika para pendaki ingin membuat teh, kopi atau mie instan tinggal pergi ke dapur dan menyalakan kompor kapan saja. Namun untuk urusan makan siang dan makan makan malam, seluruh pendaki di penginapan atas, harus rela berjalan turun dan ikut antri di Laban Rata Resthouse. Karena hanya di sanalah konsumsi disediakan.

Untuk ukuran di gunung, toilet-toilet di seluruh penginapan Gunung Kinabalu termasuk mewah. Closet duduk dengan air dari kran mengalir tanpa gangguan. 

Jalan turun menuju Laban Rata


Selain letaknya paling tinggi di antara yang lainnya, sewa kamarnya (per bed) terbilang murah jika dibandingkan dengan Laban Rata. Untuk pengeluaran dengan budget pas-pasan penginapan ini selalu menjadi pilihan bila dibandingkan dengan Laban Rata. 


Laban Rata Rest House
Setelah menyaksikan pengelolaan penginapan serta berbagai hal lainnya yang profesional saya kira tak ada salahnya gunung dipegang oleh pihak swasta seperti di Kinabalu. Jika hal tersebut dapat membuat gunung tetap bersih, lestari, dan pendaki lebih tertib.

Setelah gempa yang mengguncang Gunung Kinabalu bulan Juni 2015 kemarin, untuk sementara Gunung Kinabalu ditutup dan kabarnya jatah pendaki yang akan naik akan dikurangi dari biasanya 192 orang menjadi 90 orang.

Baca juga tentang gunung lainnya di Malaysia Gunung Ledang.

10 komentar:

  1. Wah jadi pengen ke Kinabalu setelah tahu bagus gitu infrastrukturnya.. Kalau boleh tahu rate menginapnya kisaran berapa Mba? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sistemnya paket Mbak. Total 2 hari 1 malam sekitar 538 Ringgit belum termasuk climbing permit, guide, dan transportasi ke Timpohon Gate.

      Hapus
  2. toiletnya bersih juga gak mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersih banget Mbak Lidya. Bikin ngiri.

      Hapus
  3. kayaknya kalau di Malaysia mereka aware banget mengenai alam, peraturan bangun membangun property pasti ketat banget juga...
    what an experience tuh ya nginep di atas ketinggian kek gitu..

    * * *

    Jalan2Liburan → Weekend Well Spent in Disneyland Paris

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Kak. Pengalaman tak terlupakan. Makin penasaran ingin menginap di tempat yang lebih tinggi lagi dari ini. ABC atau EBC misalnya haha :D

      Hapus
  4. duh mupeng banget ngebayangin lagi di balkon ngeliat awan di bawah kitaa.. lebih enak lagi kalo sambil nyeruput hot chocolate yaa.. heaven banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Saya nyeruput teh saja udah heaven apalagi hot chocolate :D

      Hapus
  5. tapi kak, buang air di toilet duduk dan di daerah dingin kayak gitu?? waaah susah kak keluarnya :((

    BalasHapus
  6. Ya Allah... Komen terakhir.... :D
    Btw, asyik banget tuh Mbak ngebayangin di atas awan gitu. Mupeng.... :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...