Kamis, 23 Juli 2015

Pengalaman Menginap di Traveller@SG Hostel Singapura

Traveller@SG
Sepupu dan Adik saya di depan bangunan Traveller@SG
Dari halaman depan, bangunan hostel Traveller@SG ini tampak sederhana. Seperti ruko deret samping pada umumnya. Ditambah lagi cat bangunan ruko yang sudah memudar kusam dan terkesan tua. Saya jadi underestimate. Paling di dalamnya seperti hostel yang pernah saya datangi di kawasan Little India. Kotor, sumpek, apek, dan bau rokok. Baiklah kita buktikan sendiri seperti apa di dalamnya.

Oh ya sekalian baca deh Perjalanan Menemukan  Hostel di Singapura.

Fikiran negatif seketika sirna setelah menaiki tangga dan tiba di lantai dua. Pemandangan perlahan berubah cerah. Sebuah meja dan komputer di bagian resepsionis langsung terlihat begitu sampai di pintu masuk. Sendal dan sepatu berderet rapi di rak sepatu. Beberapa sofa yang empuk tampak di dinding sebelah kiri dan kanannya. 4 buah komputer yang berfungsi sebagai layanan internet gratis berjejer tak jauh dari ruangan resepsionis. Lebih dalam lagi tampak ruang makan yang dipenuhi oleh meja dan kursi berwarna putih. Atap ruang makan dibiarkan terbuka tanpa langit-langit. Sebelah ruang makan terdapat dapur yang bersih dan rapi.

Saya yang baru saja datang langsung menyerahkan voucher hotel beserta passport ke resepsionis. Dengan ramah dan sigap, cowok berwajah oriental yang menjaga meja resepsionis segera memproses reservasi saya. Beberapa menit saja sudah selesai. 4 buah tempat tidur dalam kamar 8 bed mixed dorm yang telah saya booking jauh-jauh hari telah siap ditempati. Walaupun nantinya yang terisi hanya 3 tempat tidur saja, saya tetap tidak membatalkan tempat tidur yang satunya lagi berhubung malas mengurusnya dan takut ribet. Biarlah hangus. Dan itu berarti uang melayang sia-sia. Sok horang kayah banget gue.

Baca juga tentang pengalaman saya menginap di  Hostel Central 65 Singapura.

Setelah mendapatkan kunci kamar dan meletakkan ransel, saya langsung cabut ke bandara Changi melalui stasiun MRT Lavender untuk menjemput adik dan sepupu. Awalnya mereka bertiga tapi satu orang sepupu lainnya membatalkan kepergiannya tanpa alasan yang jelas.

Tempat tidurnya. Foto dari tripadvisor.com

Ya, untuk tiga hari ke depan saya bertugas jadi guide dadakan menemani adik dan sepupu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Singapura. Sempat menunggu lama di bandara karena urusan kartu kedatangan yang habis sehingga mereka harus mencari dan mengisinya. Menjelang maghrib, saya yang cukup panik akhirnya bertemu mereka.

Hostel Traveller@SG terletak di Jalan King George's Avenue, Lavender. Tepat bersebrangan dengan King George Building. Saya memilih menginap di tempat ini karena akses yang mudah kemana-mana. Mau ke bandara pun tinggal jalan kaki kurang lebih lima menit ke stasiun MRT Lavender yang berada di jalur hijau dengan kode EW11 (East West 11). Dari Lavender turun di Tanah Merah dan lanjut naik layanan gratis sky train menuju Changi.

Mau cari makan tinggal ke stasiun MRT Lavender yang berderet kedai makan murah. Banyak yang menjual berbagai jenis makanan seperti roti, mie, laksa, dimsum, kwetiau dan nasi serta lauknya. Mau makan yang halal juga tinggal pilih. Ada Ananas Cafe yang berlabel halal yang menjual makan dengan model take away alias dibawa pulang. Selain itu ada kokoh dan Cici-cici yang menjual ayam dengan tulisan besar-besar "NO PORK". Nah berarti yang ini halal juga dong. Banyak ragam dan pilihan. Tinggal bijak-bijak memilih mana yang mengeyangkan perut tapi tetap sehat di dompet :D

Ananas Cafe
Suasana hostel yang hommy, membuat betah berlama-lama nongkrong di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang makan. Apalagi televisi bebas pakai, nggak rebutan. Bule-bule yang sedang duduk malah membiarkan remote control tergeletak begitu saja. Kalau komputer penuh banyak yang pakai, ada layanan  wifi yang lumayan kenceng. Tersedia di ruangan khusus dekat kamar. Yeay...kesempatan emas buat download game kesukaan Chila hehe.

Selain fasilitas televisi, komputer internet, dan wifi, di ruang tamu terdapat banyak buku bacaan terutama buku-buku traveling. Ada juga brosur dan pamflet tentang tempat-tempat menarik di Singapura. Semua disajikan dengan kertas, tulisan, dan foto-foto yang menarik. Promosi wisata yang total tidak setengah-setengah.

Ruang makan
Selain adik dan sepupu saya, teman sekamar lainnya adalah seorang laki-laki, Om-om yang sudah berumur. Ia seorang warga Singapura yang menurut pengakuannya akan dinas ke luar negeri. Namun saya amati beberapa malam berikutnya dia masih saja nginap di hostel. Pergi subuh-subuh jam 4an dan pulang larut malam. Kasurnya berantakan dengan sebuah kertas A4 berisi ancaman bagi siapa pun yang menyentuh kasurnya. "DO NOT THROW OR ELSE YOU'LL DIE YOUNG. ONLY GIGOLO GAY". Eh busyet ngancam dia nih. Iddiih siap juga yang mau ngacak-ngacak kasur dia :D *lirik kanan kiri siapa yang gigolo siapa pula yang jadi gay ya?


Selain si Om-Om ada dua orang perempuan muda dari Vietnam. Satu feminim dan satunya lagi tomboy alias maskulin. Si feminim lumayan ramah dan mau diajak ngobrol namun yang tomboy juteknya minta ampun. Ditanya ini itu cuma bengong dan cuek. Pura-pura nggak dengar. Dikira gue radio butut apa ya. Halaaah. Saya cuma berfikir mungkin dia begitu karena nggak bisa bahasa Inggris atau lagi sariawan. Atau dia tidak melihat saya ada. Makhlus halus mode on :D

Untuk privacy, yang namanya mixed room/shared room pasti kurang banget. Apalagi tempat tidurnya terbuka begitu saja tanpa penghalang. Yup, kurang sukanya kalau kamar rame-rame ya begini.Terpaksa bikin kerai sendiri dari kain pantai. Untuk bagian kepala dan kaki saya buat jemuran yang diisi baju, jaket, dan mukena. Jadilah kanan kiri depan belakang tertutup. Lumayan aman bisa buka kerudung dan bobo cantik. Biar rambut bisa bernafas lega dan nggak bau apek. Dalam hati sih buju-bujuk sabar, tau dong, kalau mau cari privacy ya pilih hotel aja jangan hostel. Ada harga ada kualitas. Dalam hal ini, mahal berbanding lurus dengan kenyamanan.


Microwave dan setumpuk roti serta selai di dapur.
Sarapan di hostel cukup beragam. Dari sereal, roti beserta selainya, susu, kopi dan teh. Panggangan roti pun tersedia jika para tamu ingin membuat roti bakar. Selai roti berjejer di meja dapur dengan empat rasa. Strawberry, kacang, coklat dan mentega. Selain itu terdapat microwave untuk menghangatkan makanan yang kita bawa dari luar. Menyaksikan microwave ini jadi kembali teringat punya keinginan untuk membeli. Keinginan yang tertunda-tunda. Padahal sehari-hari butuh banget buat menghangatkan lauk, kue-kue, atau sekedar bikin sarapan. Semoga bisa kebeli.

Dari keseluruhan ruangan yang ada, saya sangat suka dengan cat dinding toiletnya yang berwarna hijau dengan lukisan sekuntum bunga. Pintu toilet yang berwarna ungu juga menarik perhatian saya. Sempat berfikir ingin meniru dan mengecat pintu toilet di rumah menjadi seperti itu. Apalagi saya penggemar berat warna ungu.

Dengan harga per bed-nya yang lumayan murah sekitar 200 ribuan Traveller@SG Hostel merupakan pilihan dan alternatif memilih penginapan murah dan nyaman di Singapura. Jadi tak ada salahnya dicoba.


Traveller@SG Hostel
111 H King George's Avenue
Lavender Singapore
Telepon: +65 66832674

Suka dengan warna toiletnya


5 komentar:

  1. Oh, ternayata ada ya kamar yang campur gitu? Siap-siap dgn kondisi itu kalau backpacker-an ke luar Indonesia, ni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Koko. Ada banyak. Di negara-negara lain termasuk Malaysia juga ada.

      Hapus
  2. kalo digabung gitu ga takut ada yang hilang mba barang-barangnya ??

    BalasHapus
  3. Maaf saya mau tanya . kamarnya ber AC gak ya ? Trs wifi nyampe ke kamar gk ? Tq .

    BalasHapus
  4. wah keren banget nieh hotel murah nyaman di singapura

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...