Jumat, 28 Agustus 2015

Bocah Gimbal Menggemaskan yang Hobby Merokok

Area Kemping dengan Latar Gunung Pakuwaja
17 Agustus 2015 - Saat sedang menunggu ojek yang akan membawa kami keliling Dieng, tiba-tiba melintas seorang bocah berambut gimbal dan  berpipi gembil kemerah-merahan. Suami saya langsung mengingatkan,  “Bun, foto Bun, anak yang lari barusan rambutnya gimbal loh.” Ah iya ya foto. Saya pun langsung mengikuti bocah itu dari belakang. 


Dengan riang gembira si bocah gimbal tadi berlarian, berkejaran dengan temannya. Tawanya lepas, khas anak-anak. Ia lantas mendekati seorang bapak-bapak yang sedang merapikan tenda. Bermain petak umpet dengan bersembunyi di balik tenda yang sedang dirobohkan.

Semakin mendekat, semakin jelas siapa bapak itu. Ternyata dia bapak ojek yang akan mengantarkan kami keliling Dieng, yang tadi pamit sebentar karena hendak merapikan tenda yang disewakannya kepada para pengunjung.

“Loh, ini anak bapak ya?” Saya bertanya pada si Bapak sambil menunjuk bocah gimbal itu.

“Iya Bu.” Jawabnya.

“Namanya siapa Pak?” Si Bapak langsung menyebutkan nama lengkap anaknya. Sekejap saja saya sudah lupa siapa nama bocah itu, termasuk nama bapaknya juga. Haha, duuh. Memanglah, semakin hari daya ingat semakin memudar dengan cepat. Faktor U sepertinya.

“Panggilannya siapa Dek?” Saya berjongkok menghadap bocah gimbal.

“Aris,’ Jawabnya malu-malu. Pipinya yang tembem mengembang mengempis, menggemaskan.


Nggak mau difoto

Cilukba..


“Tante foto ya?” Saya lantas membidikkan kamera ke arahnya. Ceklek, ceklek. Yang tampak di layar hanya rambut gimbalnya saja. Aris mendadak membuang muka saat difoto.

“Nggak mau, nggak mau.” Katanya sambil sembunyi masuk ke dalam tenda. Namun ternyata ia penasaran kepada saya, ia mengintip dari balik pintu tenda. Saya lantas mengajaknya mengobrol. Baiknya, Aris mulai berani dan tidak malu seperti awal-awal tadi. Sekarang mau diajak berkomunikasi. Mungkin karena terbiasa banyak pendatang ke kampungnya, bahasa Indonesianya pun sangat lancar.

Membantu melipat tenda

Selesai merapikan tenda, kami segera beranjak ke parkiran depan mushola. Suami saya dan seorang pengojek lainnya sudah menunggu di sana. Tak menunggu lama dua sepeda motor yang kami tumpangi telah melaju menyusuri jalanan Dieng yang tampak ramai. Bersyukur Aris diajak serta oleh bapaknya. Jadi kami bisa mendapatkan foto dia sebanyak-banyaknya. 

Sepanjang perjalanan  Bapaknya Aris bercerita, kalau ia harus menuruti semua kemauan anaknya. Apa pun itu. Kalau tidak, akan ada saja hal-hal aneh yang tidak dikehendaki menimpa Aris. Seperti mendadak sakit dan lainnya. Keinginan-keinginan Aris itu termasuk salah satunya keinginan untuk merokok.

“Dalam satu jam saja bisa habis satu bungkus rokok Bu!” Kata Bapaknya Aris. Saya mendadak bengong. Ya ampuuun. 

"Kalau dilarang Pak?" 

"Ya nggak bisa dilarang, menuruti kemauan yang mengikutinya."

"Yang mengikuti?" saya mengernyitkan dahi.

Menurut legenda masyarakat Dieng, ada dua versi tentang asal muasal rambut gimbal ini. Yang pertama karena sumpah yang diucapkan Pangeran Kidang Garungan yang ditimbun dalam sumur oleh pengawal-pengawal Putri Sinta Dewi  yang menyumpahi bahwa keturunan Sinta Dewi akan berambut gimbal. 


Nggak mau difoto lagi :(


Versi kedua menyebutkan bahwa pada jaman dahulu hiduplah seorang bernama Kyai Kolodete yang berambut gimbal yang bersumpah bahwa tidak akan mencukur rambutnya sebelum wilayahnya, Dataran Tinggi Dieng, makmur. Jika tidak, ia akan menitiskan ruhnya kepada anak-anak di wilayah Dieng. 

Hingga kini, secara acak kerap ditemui anak berambut gimbal di wilayah Dieng. 

10 komentar:

  1. rambutnya unik ya mbak, tapi sayang sekali ya sekecil itu harus merokok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang orang tua juga susah melarang. Apalagi terbentur dengan adat dan kebiasaan untuk menuruti apa saja keinginan dan kehendak anak berambut gimbal. Jadi susah untuk dicegah.

      Hapus
  2. teh, jadi mereka itu gimbalnya bukan karena turunan??hmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keturunan iya juga sih. Tapi yang kubaca di beberapa blog katanya random juga, gak semua keturunan kyai Kolodete atau Putri Sinta Dewi yang berambut gimbal.

      Hapus
  3. Jadi harus di turuti meskipun itu ngak baik yaaa ??? macam anak kecil merokok gitu, kan ngak OK banget. Masak sial juga ??? #MasihBingung

    BalasHapus
  4. aduh nyesek jg ya ngelihat anak kecil begitu diijinin ngerokok, antara kurangnya pendidikan dan faktor kepercayaan setempat juga ya ini....


    Jalan2Liburan → Stasiun Kereta Cantik Milik Antwerpen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku aja sampe bengong lihat Aris dengan Santai merokok layaknya orang dewasa :(

      Hapus
  5. waaaaaksss satu jam sebungkus :((((

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...