Selasa, 25 Agustus 2015

Semangat Kemerdekaan dari Para Pendaki Gunung Prau


Puncak-Puncak Gunung di Pagi Hari
Segaris warna merah di ufuk timur mulai tampak membayang. Suara percakapan dari tenda-tenda yang dini hari tadi samar, lirih, berbisik-bisik, kini mulai nyaring terdengar. Teriakan membangunkan rekan seperjalanan yang masih bergelung dalam sleeping bag lantang disuarakan. Saatnya semua kepala takzim menghadap ke timur. Menyambut harapan baru pada indahnya sunrise di Gunung Prau.

Saat Fajar Menyingsing
Setelah bertayamum dan sholat subuh, saya berjalan tersaruk di sela-sela padatnya hamparan tenda. Kadang terantuk tali yang terentang melintang menghalangi jalan. Bersama ribuan orang lainnya saya sepakat untuk mengabadikan momen detik-detik munculnya sinar matahari ke penjuru bumi.

Semakin lama lereng timur dan sekitarnya semakin terisi penuh oleh para pendaki yang duduk dan berdiri. Kilatan blitz kamera, uluran tongsis, lembaran kertas HVS yang terangkai barisan kata, serta kibaran bendera laksana apel upacara mewarnai sambutan pagi yang masih remang.

Detik demi detik terasa begitu lama. Menanti matahari terbit laksana menanti detik-detik hari pernikahan. Tak sabar dan ingin segera terlaksana.

Langit timur perlahan mulai membiru. Dan setengah lingkaran dari bulatan sang surya mulai muncul di garis cakrawala. Suasana mendadak gaduh dan riuh. Pekikan “merdeka, merdeka, merdeka” mulai menggema  penuh semangat. Meski hari kemerdekaan masih menunggu esok hari, namun suasananya sudah terasa di pagi itu. Pekikan  dan nyanyian lagu-lagu wajib mulai dikumandangkan. Walau tidak tuntas, tetap membuat hati bergetar. Menyentil rasa nasionalisme yang terdiam di sudut hati.

Biasanya saya tidak terlalu suka dengan ucapan-ucapan dalam kertas-kertas yang di pajang para pendaki di dadanya saat berfoto-foto.  Namun kali itu saya tertarik untuk ikut mengabadikan barisan kata di kertas mereka. “Dirgahayu NKRI” Pyuuuh….saya menarik nafas panjang, itu tulisan teremosional yang saya baca yang melibatkan rasa dari salah satu anak bangsa untukmu, Indonesia. Bukan untuk siapa-siapa. Mata saya pun berkaca-kaca. Sembari berucap dalam hati, “Iya...Dirgahayu untukmu Indonesia.”

Ucapan Dirgahayu NKRI dari salah seorang Pendaki
Matahari telah sempurna keluar dari peraduannya. Keanggunan Gunung Sindoro Sumbing tampak mempesona. Di sisi kiri terlihat Gunung Merapi dan Merbabu yang hanya tampak puncaknya saja. Keduanya mengambang melayang di atas awan.

Pagi itu para pendaki masih sibuk berfoto diri berlatarkan Sindoro Sumbing. Mengangkat tongsis tinggi-tinggi untuk Selfie, wefie, dan groupie. Sebagian bergantian seraya memamerkan kertas di tangannya #kekinian. Sebagian lagi mengibarkan bendera merah putih tinggi-tinggi.

Area puncak telah terang benderang. Ribuan tenda bergerumul di dataran dan lereng-lereng gunung. Warna-warni bergradasi laksana percikan lukisan naturalisme. Sesak, namun semua tampak indah.  Berserak, namun justru memancarkan keteraturan. Mungkin karena berada di gunung sehingga semua tampak indah adanya. Atau karena begitulah gunung dalam pandanganku. Selalu saja tampak mempesona apapun adanya.


Lukisan Alam

Dua Puncak Gunung yang Berbeda

Bahkan hingga ke lereng yang miring pun penuh 

Kompleks Pemukiman Pendaki :D

Tenda Kami Nyempil di Pojokan :D

Berkibarlah Selalu Merah Putihku

Baca juga cerita tentang aktifitas pendaki di gunung Prau dan catatan perjalanan pulang melalui jalur Dieng.

16 komentar:

  1. Aku belum pernah merayakan 17an di puncak-puncak gunung seperti mbak Lina dan pencinta alam lainnya. Apalagi di tempat yang ga semua orang bisa dengan mudah ke sana. Pasti ada rasa yang berbeda. Rasa yang lebih...lebih...dan lebih. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya jadi.... Nasionalisme dan cinta negeri mulai tumbuh dan terasa di sini mbak.

      Hapus
  2. Karena aku belum pernah naik gunung, aku selalu bertanya-tanya kepuasan macam apa ya yang didapatkan begitu sampai puncak gunung. Sementara suka liat di acara TV aja. Salut sama mb Lina yang udah jadi anak gunung sejati :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kepuasan sesaat :D karena mendaki gunung itu addicted. Akan terus menagih dan menagih untuk kembali. Seperti candu.

      Hapus
  3. Jadi pengen merasakan 17 Agustus-an di atas gunung...

    BalasHapus
  4. Warna langitnya sumpah bersiiihh bangett

    BalasHapus
  5. Buset itu udah kaya perkampungan..Semoga tidak meninggalkan sampah yang merusak ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampah di sepanjang jalur bersih banget. Tapi di kawasan puncak memang kotor walau nggak terlalu parah. Perlu dikelola dengan profesional.

      Hapus
  6. rasanay seperti apa sholat di gunung mbak? btw tendanya sudah disediakan atau bawa sendiri sih mbak kalau naik gunung gitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya sangat istimewa mbak. Klo tenda bawa sendiri dari rumah.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...