Minggu, 27 September 2015

Manisan Carica Oleh-Oleh Khas dari Dieng


Buah Carica Tumbuh Subur di Dieng dan Sekitarnya
Saat pertama kali mendengar nama carica ingatan saya langsung menghubungkannya dengan sebuah lagu daerah yang berjudul “Anak Kambing Saya” dari Nusa Tenggara Timur. Di dalam liriknya ada menyinggung-nyinggung carica eh cacamarica :D  Sebelum benar-benar mengetahui carica seperti apa, dulu saya mengira antara keduanya pasti nggak jauh beda.  Masih ingat petikan liriknya nggak? Ini nih.



                                    Anak Kambing Saya

                                    Mana dimana, anak kambing saya
                                    Anak kambing tuan ada di pohon waru
                                    Mana dimana jantung hati saya
                                    Jantung hati tuan ada di kampung baru

                                    Caca marica hey hey
                                    Caca marica hey hey
                                    Caca marica ada di kampung baru

                                    Caca marica hey hey
                                    Caca marica hey hey
                                    Caca marica ada di kampung baru

Haha…ternyata hubungan perkerabatan keduanya, antara carica dan caca marica sangat jauh, jauh sekali. Carica adalah sejenis tumbuhan endemik yang hanya bisa tumbuh di kawasan Dataran Tinggi Dieng (Dieng plateu) saja. Dimana desa-desa yang termasuk ke dalamnya merupakan desa dengan pemukiman tertinggi di Pulau Jawa. Kalau caca marica kayaknya sih seorang gadis yang lagi dicari-cari tuan yang punya kambing itu :D

Pohon Carica Bercabang

Karena tumbuhan endemik, carica tumbuh unik. Batang, daun, dan buahnya sekilas mirip dengan pepaya. Bedanya, pohon carica tumbuh bercabang banyak, sedangkan pepaya tumbuh lurus saja tidak bercabang-cabang. Buah carica ukurannya sangat kecil bila dibandingkan pepaya. Kondisi biji-biji di dalam daging buah sangat mirip seperti konyal atau markisa. Biji-bijinya lengket oleh semacam lem yang kental yang mengikat biji-biji menjadi gumpalan. Dan yang paling membedakan adalah soal rasa. Saat dimakan daging buah carica rasanya asam.

Pohon Carica di Sepanjang Jalan Menuju Patak Banteng

Saat tiba di kawasan Patak Banteng  Wonosobo, saya dapat mengenali dengan baik pohon carica yang tumbuh subur di sepanjang jalan masuk menuju pemukiman penduduk. Patak Banteng ini adalah desa yang menjadi titik pendakian menuju Gunung Prau di kawasan Wonosobo dan Temanggung. Namun karena saat itu saya dan keluarga baru akan memulai pendakian, maka kami tidak berniat membelinya terlebih dahulu. Nanti saja beli saat turun di kawasan Dieng Plateu.

Keesokan harinya, saat turun ke kawasan Dieng, saya membeli manisan carica di sebuah warung dekat terminal. Satu kotaknya seharga Rp 20.000 isi 6. Sedangkan yang isi 12 seharga Rp. 35.000 lebih murah dibanding yang isi 6. Karena beli cukup banyak si ibu warung memberi bonus buahnya langsung sebanyak 3 buah. Karena kami masih menginap dan akan kemping di kaki gunung Sikunir, manisan carica kami titip dulu di warungnya karena kalau dibawa-bawa lumayan juga, berat euy.

Manisan Carica yang Dijual Penduduk Dieng 

Tapi, buah caricanya saya bawa ke tempat kemping karena penasaran seperti apa. Saat duduk santai di tenda saya pun mengupas dan mengamati begitu bayak keunikan pada buah carica ini. Buah yang secara fisik mempunyai kemiripan dengan berbagai buah lainnya. Terutama paduan antara pepaya dan markisa. Saat diicip, weeew…aseeeem. Carica pun teronggok begitu saja. Gak kuat makannya. Asemnya beda dengan asem mangga atau kedondong. Kalau asem yang itu sih doyan. Tapi kalau asemnya carica rada-rada aneh.

Beda dengan buahnya, manisan carica dalam kemasan yang sudah diolah rasanya manis. Yaiyalah namanya juga manisan ya harus manis. Kalau manisan nggak manis namanya bohong :D. Untuk manisannya jelas saya suka karena manis dan enak. Cocok dijadikan oleh-oleh untuk bos, rekan kerja, dan tetangga. 

Pohon Carica Tumbuh Dimana-mana, bahkan Dijadikan Pagar Kebun atau Pembatas

15 komentar:

  1. carica! buah khas dari dieng nih! enak kalau dijadiin manisan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya manisannya enak, tapi klo makan langsung asemnya nggak ketulungan :D

      Hapus
  2. pohonnyabaru lihat disini. Pertama kali makan aku di kasih sama Idah. Enak ya mbak rasanya sampai aku ketagihan. Di supermarket deket sini ada tapi harganya mahal banget

    BalasHapus
  3. we love indonesia memang yaaaaaaaa!! pelosoknya pun menghasilkan .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak, bahkan yang semula dinilai tak berharga malah bisa jadi menghasilkan uang dan menggerakkan perekonomian warga.

      Hapus
  4. Tahun lalu waktu ke Dieng aku beli manisannya 2 kotak. Kurang! ternyata enak banget. Aku suka. Nyesel banget cuma beli 2 doang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya beli banyak mbak buat oleh-oleh tapi ribet bawanya berat :D

      Hapus
  5. Balasan
    1. Eh purwaceng apaan sih? Sumpah gak tau.

      Hapus
  6. Hallo mbak salam kenal. Saya baru taunya pas ke jogja ponakan saya hoby banget beli minuman carica di warung, segar. Saya baru tau pohonnya spt di gambar di atas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kensl kembali :D iya saya pun baru tau sekali ini.

      Hapus
  7. Sukaaa.banget dengan manisan carica
    Kuahnya juga kayak bersoda.

    Dari dulu Penasaran dgn buah aslinya rasanya bagaimana terjawab dgn deskripsi diataa. Trima mbak

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...