Jumat, 02 Oktober 2015

Bertemu Suku Laut di Pulau Rano Batam



Pulau Rano (Ranu)
Kapal yang kami tumpangi merapat tepat di pantai berpasir putih. Deretan pohon kelapa di tengah pulau melambai-lambai seakan memberi ucapan selamat datang di Pulau Rano (Ranu). Pulau ketiga yang kami datangi hari itu setelah sebelumnya mengunjungi Pulau Abang dan Pulau Dedap untuk snorkeling. Ceritanya bisa dibaca di sini dan di sini.

Semua penumpang kapal segera beranjak, melompat dan melonjak gembira saat menyentuh pantai yang landai. Tak sabar meraih kamera atau beraksi di depan kamera. Satu, dua, tiga, cekrek! Cekrek! Senyum merekah sumringah dari wajah-wajah yang semula telah lelah.

Chibi - Chibi :D

Saya turun dari kapal sambil menyeret kasur pelampung berwarna kuning milik Dimas, salah seorang teman dalam rombongan kami. Saya berniat untuk sekedar berfoto di atasnya. Mengabadikan momen tanning sambil merasakan sensasi bersantai mengambang di atas lautan. Tapi sayang, gagal keren. Saya mengambil tempat tepat di samping kapal. Jadi background-nya terkesan tidak natural. Liza yang memfoto saya pun tidak menyerankan agar saya berpindah tempat. Saya sendiri malas untuk mencoba lagi. Sementara rekan yang lainnya tengah bergantian menjajal kasur pelampung warna kuning punya Dimas dengan berlatar laut dan pulau.

Gagal Keren :D

Tiba-tiba mata saya tertuju pada beberapa perahu yang sedang berhenti di tengah laut. Perahu yang beratap rumbia dengan dua kayuh bersilang di kanan kiri lambung bagian depannya. Perahu ini dinamakan kajang. Saya mengenali ciri-cirinya karena sudah beberapa kali bertemu dan berpapasan langsung.

Saat mengamati deretan kajang dan langsung berteriak gembira. “Itu kapal suku laut.Ya ampuuun…ya ampuuun…”  Sungguh suatu kebetulan yang diharapkan. Sudah lama saya ingin mengetahui kehidupan suku laut lebih dalam lagi. Adat kebiasaan, cara hidup, sistem kekerabatan, serta berbagai hal yang menyangkut kehidupan mereka. Intinya saya ingin berinteraksi dengan mereka. Bahkan dulu pernah berencana untuk mengikuti Suku Laut beberapa hari untuk merasakan seperti apa dan bagaimana kehidupan mereka terombang-ambing di laut lepas lalu berhenti dari perairan satu pulau ke pulau lainnya seperti sekarang ini. Namun keinginan tersebut tak pernah terlaksana.

Saya dengan latar Kajang, perahu Suku Laut

Saya menitipkan kamera kepada Liza, mengenakan kembali live vest (pelampung) dan berenang secepat mungkin menuju perahu-perahu suku laut. Entah berapa puluh meter saya berenang, namun rasanya jauh sekali. Hingga seorang ibu dari kapal yang paling depan melongokkan kepalanya karena penasaran dengan suara kecipak air saat saya berenang mendekatinya.

“Bu maaf, boleh tanya-tanya Bu,” saya menyapanya penuh harap sambil berpegangan ke bibir perahu. “Iya boleh boleh saja,” jawabnya ramah penuh senyuman. Saya pun memperkenalkan diri dan langsung menanyainya dengan berbagai macam pertanyaan. Namun karena ledakan kegembiraan bertemu dengan Suku Laut ini justru saya malah kehilangan beberapa pertanyaan penting yang sebenarnya mudah untuk ditanyakan. Bahkan saya sampai kebingungan hendak bertanya apalagi kepada mereka.

Suku Laut sehabis mengambil air dari salah satu pulau

Si Ibu memperkenalkan namanya sebagai Bu Ana. Dia dan suaminya berada di perahu paling depan. Sedangkan rombongan perahu lainnya berturut-turut di belakang adalah adik dan saudara lainnya. Mereka berhenti di sana untuk beristirahat dan sekalian mengambil persediaan air bersih di pulau sebrang.

Bu Ana berasal dari Tanjung Biru, di sekitar Pulau Lingga atau Senayang (saya lupa). Anak-anaknya ditinggal di rumah, tidak diajaknya. Saya sedikit terkejut mendengar bahwa mereka telah mempunyai rumah di darat. Syukurlah. Meskipun kajang dan lautan tetap menjadi rumah serta halaman utama mereka, minimal jika berada di daratan anak-anak mungkin dapat bersekolah. 

Saat bertanya kepada Bu Ana bagaimana saya dapat menghubunginya di kemudian hari, dengan sangat mengejutkan ia berkata bisa menghubunginya via telpon. What? Ternyata mereka sudah lebih maju juga. Ia mengucapkan sederet angka yang kemudian saya hafal baik-baik. Saya ucapkan dan ulang-ulang berkali-kali. Sesaat kembali nanti ke pantai Pulau Rano akan saya salin ke dalam handphone.

Saya berpamitan pada Bu Ana. Lalu kembali berenang kembali menuju Pulau Rano. Renang yang membuat saya mendadak sakit pinggang keesokan harinya. Dari jauh tampak rekan-rekan saya tengah asyik berfoto-foto. Mencoba beberapa spot menarik antara pantai, pohon kelapa dan kasur pelampung.

Lompatan Terakhir

Saya kembali menyentuh daratan Pulau Rano dan mengambil beberapa foto rombongan Suku Laut dari kejauhan. Hati dan fikiran masih tertuju kepada mereka. Mengingat seperti apa hari-hari yang mereka lalui, sungguh saya bersyukur dengan kehidupan saya sekarang ini. Jauh lebih nyaman jika dibandingkan dengan kehidupan mereka yang sangat keras. Dihantam badai, hujan, dan terik matahari setiap saat setiap waktu. Hanya demi mencari gamat (teripang), menombak ikan dengan tempuling lalu menukarkannya dengan beberapa lembar rupiah. Lantas kembali beriringan melipir pinggiran pulau-pulau untuk menghindari arus dan gelombang kuat. Berkeliling dari satu selat ke selat lainnya. Berpindah-pindah dari perairan satu ke perairan lainnya. Mencari penghidupan dari kekayaan lautan yang tak pernah kehabisan.






14 komentar:

  1. Wuih asiknya, pengenlah ke mari 😊
    Yg tiduran itu cakep kali Mbak, hehehe.

    BalasHapus
  2. wahh keren ya mba. walaupun lelah tapi asyik banget perjalananya

    BalasHapus
  3. akhirnya setiap suku move on ya kak..

    BalasHapus
  4. Sudah lama sebenarnya teh Suku Laut punya rumah di darat, tapi kebanyakan mereka gak mau ninggalin.. Takut katanya, soalnya atapnya tinggi, gak kayak atap rumah kajang mereka :) Dulu pernah kujadiin cerpen, rencana mau dibukuin ama Mozaik tapi sampe sekarang belum ada kabarnya :D Aku juga pengen rasanya ikut beberapa hari ama mereka, ngerasain kehidupan Suku Laut

    BalasHapus
  5. suku laut itu jadi orang yang berprofesi di laut ya mba, aku sih baru denger suku laut, jadi anak dan istri mereka juga di ajak ke laut ?

    BalasHapus
  6. Aku kira sukunya masih jadul gitu mak ngayal"sebelum liat postnya, ternyata udah maju jg sukunya hehe ^^

    Xoxo,
    http://www.leeviahan.com

    BalasHapus
  7. kehidupan suku laut unik banget ya, rasanya ingin juga ngerasain bermalam disana heheh. kalau di daerah asalku pulau bangka, dulu ada juga sih yang tingal diatas laut begini. tapi sekarang mereka sudah banyak pindah ke daratan.

    BalasHapus
  8. Capai lah mbak, berenang lumayan jauh, tapi asik ya bisa ketemu suku laut gitu.

    BalasHapus
  9. Cukup banyak juga suku bangsa Nusantara yang hidup di laut ya, Mbak Lina. Gak nyangka. Kirain Suku Bajo saja :)

    BalasHapus
  10. capek nggak apa, asal perjalanannya super seru :D

    BalasHapus
  11. Serasa pulau sendiri yah, ga ada wisatawan lain :D

    BalasHapus
  12. Ya Allah... keren banget yak.
    Kayaknya asik banget gitu.
    Keren banget negara gue ini...

    BalasHapus
  13. ngga kebayang tinggal di laut terus hiks...but thats their lifestyle ya...

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...