Jumat, 27 November 2015

Taman KLCC, Sebuah Paduan Karya Mesra antara Alam dan Manusia

Mentari merangkak naik, memanggang garang dalam bayangnya yang terik. Mengundang peluh, membuat luluh, mengayun langkah-langkah untuk segera berteduh. Sementara itu di bawah anggunnya dua menara, manusia-manusia bercengkrama dengan kamera. Menyungging tawa semu agar tampak  bahagia saat wajah berpindah di media. Pada laman facebook, timeline twitter, atau instagram. Ketika wujud bahagia akan eksistensi diri menjelma menjadi sebuah agama dalam dunia maya.  



Anak-anak berlarian, berkejaran. Bermain lepas di taman yang lengang dan rindang. Mencumbui ayunan, meluncuri perosotan atau berdua-duaan menaiki jungkit-jungkitan. Dunia mereka adalah aneka tanya, tangis, dan tawa. Eksplorasi, percobaan dan petualangan. Karena semua yang dilihat dan didengar adalah sarana untuk belajar. Mengenal diri, memahami arti-arti.

Seperti angin yang berlalu dengan lembut di bawah rindangnya taman. Seperti itulah kasih ibu yang mengawasi mereka dalam permainan. Seperti tak hirau namun tetap berjaga penuh waspada. Karena angin kerap memindahkan serbuk-serbuk sari untuk berkembang. Dan karena kasih ibu mentransfer energi-energi kebaikan untuk bekal berperang menghadapi masa depan. 






  

Tak jauh dari taman, puncak-puncak menara semakin berkilau oleh silau. Pertanda siang telah sempurna melingkupi seluruh isi kota. Pertanda telah tiba manusia mengambil masa untuk rehat dan menghadap takzim pada yang Maha Kuasa. Dalam sujud dan doa-doa.


Di taman seluas 69.000 meter persegi ini, kolam-kolam tenang terbentang. Bertabur air mancur yang mempertontonkan permainan cahaya. Memicu alunan simfoni alam antara gemericik air, hembusan angin, dan desauan dedaunan yang bergesekan.

Di taman, tepat di birunya kolam renang, wajah-wajah  imut dan lucu tampak begitu senang. Mengusung pelampung dan bebek-bebekan berbentuk lingkaran. Menjerit, melompat, dan tertawa riang. Tetap larut berenang berbasah-basahan.




Pohon-pohon yang bercabang rindang diantara lorong-lorong joging yang berliukan, jembatan penyebrangan di atas kolam-kolam yang tenang, dan rumput-rumput yang menghijau menutupi permukaan adalah paduan simfoni dalam harmoni siang ini. Paduan mesra antara alam dan buatan manusia. Begitu jua taman bermain anak-anak, sejenak membuat lena dan betah berlama-lama. 

1900an pepohonan yang tumbuh di taman cukuplah mewakili keanekaragaman. Ditanam agar burung-burung datang dan terbang bertandang. Seperti burung lokal maupun migran. Saling mengisi untuk dipersuntingkan alam. 

Water drinking fountain. Airnya tentu  bisa diminum langsung :)

Seperti di negara-negara maju, keberadaan sebuah taman adalah suatu keharusan. Taman yang multifungsi, sebagai penyedia air baku, pelestari lingkungan dengan limpahan oksigennya, tempat bermain, berolahraga, dan melakukan aktifitas kesenian. Taman selayaknya adalah keharusan. Terutama bagi kota-kota metro dan megapolitan. 






3 komentar:

  1. aih tamannya bersih banget ya mbak bisa tidur-tiduran di rumput itu

    BalasHapus
  2. Jadi ingat anak-anak pernah main ke taman ini lima tahun lalu. Mandi di kolam yg ada air mengalirnya ( sekarang masih ada gak ya) padahal nggak bawa baju. Akhirnya ya naked cuman pakai kaos dalam aja..hihi.Untung masih kecil-kecil dulu.

    BalasHapus
  3. Udah paling bener ngadem di taman Suria kalo ke KLCC. Kalo akhir pekan banyak TKInya :))

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...