Minggu, 27 Desember 2015

Harmoni yang Terjaga di Kampung Naga Terbit di Majalah Ummi

Hutan dan lembahnya masih lestari. Sebab, penduduk hanya mengambil keperluan dari alam secukupnya. Warisan budaya karuhun (leluhur) termasuk larangan dan pantangan, tetap teguh dipegang penduduknya..

Senja nampak indah dan bersahaja kala saya melangkah melewati gapura bercat putih dan beratap ijuk. Tak ada tulisan yang menjadi petunjuk di atas gapura itu. Memasuki pelataran, suasana begitu lengang. Saya menyapa seorang lelaki paruh baya yang berbaju batik dan mengenakan iket (penutup kepala dai kain yang dililit melingkari kepala)



Laki-laki kurus itu tampak baru saja melepas tamunya pulang. Saya langsung menerka dia adalah warga Kampung Naga yang bisa menjadi pemandu bagi tamu yang datang ke sana. Ya, tujuan saya adalah Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat.

"Tiasa ngajajap ka Kampung Naga, Mang? Saya bertanya menggunakan bahasa Sunda kepada lelaki itu, apakah ia bersedia mengantarkan saya ke Kampung Naga. Ia mengangguk sambil tersenyum lantas memperkenalkan dirinya.

Mang Ajen lalu mengajak saya menyusuri gang berplester semen diantara rumah-rumah panggung berdinding bilik bambu. Kemudian kami melintas kebun, selokan, dan kolam-kolam ikan yang di atasnya terdapat pemandian umum. Beberapa ibu tampak asyik mencuci piring dan peralatan masak lainnya.

Dari kolam ikan inilah pemandangan Kampung Naga mulai jelas terlihat. Atap-atap rumah berwarna hitam yang terbuat dari ijuk berjejer rapi menghadap ke satu arah mata angin. Saya menghela nafas panjang. Hati seolah sesak oleh rasa syukur karena dapat menyaksikan secara langsung sebuah kampung yang masih meyimpan adat karuhun Sunda di tengah gempuran arus globalisasi masa kini.

Selengkapnya bisa dibaca di majalah Ummi No.12 XXVII Desember 2015 atau 1437 H.








Alhamdulillah tulisan tersebut tayang di rubrik perjalanan majalah Ummi edisi Desember 2015. Sebenarnya sudah lama punya keinginan mengirim tulisan ke media namun selalu terkendala berbagai hal, diantaranya "kurang pede." 

Suatu hari saya membaca postingan Mbak Zulfa (www.emakmbolang.com) yang berjudul Daftar Majalah dan Koran Yang Menerima Tulisan Jalan-Jalan. Wuaa ini dia yang dicari-cari. Langsung tertarik ingin mencoba. Saya copy paste tulisan tersebut lalu saya print. Berharap semua media yang tercantum di print out tersebut bisa saya kirimi tulisan. 

Dan tulisan tentang Kampung Naga inilah yang terbit pertama kali di majalah. Sungguh ini semua karena modal keberanian mengirim. Ternyata setelah mengirim justru saya malah ketagihan. Alhamdulillah baru pertama mengirim sudah langsung tayang. Seandainya tidak, bisa-bisa saya down tidak mau mengirim tulisan lagi hehe.
  


10 komentar:

  1. keren mbak tulisannya masuk majalah Ummi, semog amakin banyak tulisan jalan-jalan yang mengispirasi masuk meda cetak. Berhasil bikin aku mupeng hehehe pengen jalan-jalan juga kaya Mbak Lina

    BalasHapus
  2. keren banget nih mba Lina, aku blm bisa nembus mediaaa.. ajariin hiks

    BalasHapus
  3. Wah keren kak samsmita,,, semoga kedepannya ada yang terbit lagi di majalah lainnya,,, Mantabe'

    BalasHapus
  4. Selamat ya, Mba! Pasti bagus tulisannya. Kalo sempat ke Gramedia, saya mau beli. Saya udah lama ga kirim tulisan ke media cetak. Kadang kangen juga. :D

    BalasHapus
  5. Selamat ya mbk, aku keliling Padang belum nemu Majalah Ummi hiks pengen punya edisi ini.

    BalasHapus
  6. Aku udah baca tulisannya, mbak, suka foto-fotonya, kece :D

    BalasHapus
  7. ihhh mantap kali tehhhh....
    pinginnlaaa....

    BalasHapus
  8. Kirain dipost semua artikelnya rupanya sedikit aja hehe. Pembukanya udah mirip fiksi. Keren deh lina bisa muat di ummi :)

    BalasHapus
  9. Selamat Teh Lina atas dumuat tulisannya.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...